[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT -CH. 1 : Who Are You?

PicsArt_06-30-08.49.41

`SADISTIC NIGHT`

A fanfiction by AYUSHAFIRAA |

Starring Baekhyun, Kim Yoojung as Kim Yoora, Chanyeol, Sehun, Suho | Supported by D.O, Tao, Xiumin, Kai, Chen, Lay, Lee Pace |

AU, Drama, Fantasy, Romance, Violence |

PG-17/M | Chaptered |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari Diabolik Lovers dan berbagai film serta anime yang bergenre fantasy. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

AYUSHAFIRAA©2015. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

| BAB I ▶ CH. 1 : Who Are You? |

​Sekarang, kau sudah mengetahui siapa kami sebenarnya. Jadi, siapa kami?

.

.

.

Langit gelap menyelimuti kota Seoul hari itu, langit sepertinya sudah tak tahan lagi untuk menurunkan hujannya. Hujan deras disertai petir yang bergemuruh akhirnya mengguyur kota itu dan membuat jalanan yang tadinya kering menjadi basah sempurna.

Seorang gadis memandangi derasnya hujan dari balik kaca mobil yang akan membawanya ke suatu tempat, tempat yang sama sekali tidak ia ketahui. Gadis itu mengamati foto yang sedari tadi ia pegang. Dalam foto itu terlihat seorang gadis kecil yang sedang tertawa di pangkuan lelaki berambut dan berkumis putih, dalam sekali lihat pun kita dapat menebak bahwa itu adalah foto dirinya semasa kecil bersama ayahnya. Ya, benar. Memang seperti itu.

Appa, aku pasti akan merindukanmu.” Gumamnya dalam hati.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya sang sopir yang mengemudikan mobil itu pun memberhentikan mobilnya di halaman sebuah rumah mewah yang tampak luas. Rumah mewah itu berjarak sekitar 3 kilometer dari gerbang utamanya. Gadis itu bingung, kenapa rumah semewah dan sebagus itu harus disembunyikan sejauh itu dari jalan raya?

“Silakan, Agassi.” Ucap si sopir setelah membukakan pintu untuk dirinya.

“Terimakasih, Ahjussi.”

“Kalau begitu saya mohon pamit.”

“Ya, Ahjussi. Hati-hati di jalan.” Balas gadis itu.

Setelah mobil yang tadi membawanya ke tempat ini hilang dari pandangannya, kedatangannya disambut dengan angin kencang dan kilatan petir di langit yang gelap itu. Tanpa pikir panjang lagi, ia bergegas membawa kopernya dan melangkahkan kakinya di teras depan rumah mewah tersebut. Bangunan itu dilapisi dinding tebal dengan pilar-pilar di sisi-sisinya yang menjulang tinggi, dengan warna pastel, rumah itu semakin terlihat mengagumkan di mata orang-orang yang melihatnya.

Teng, teng, teng, teng…. teng, teng, teng, teng… suara yang terdengar seperti bunyi lonceng gereja itu bergema di seluruh penjuru rumah saat gadis itu menekan tombol bel yang tersedia. Lama menunggu, tak ada satupun orang yang membukakan pintu untuknya. Apa pemilik rumah itu sedang tidak ada?, pikirnya.

Dengan ragu, ia menyentuh pintu yang sangat tinggi itu, dan ajaibnya, pintu itu terbuka begitu saja.

“Permisi? Apa ada orang di rumah ini? Permisi?”

Gadis itu memberanikan dirinya untuk melangkah masuk ke dalam rumah itu sambil menyeret kopernya. Rumah itu terlihat begitu sepi, dingin, dan hanya ada seberkas cahaya yang masuk melalui setiap jendela kaca yang ada, seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di sana.

Gadis berambut hitam pekat terurai itu akhirnya tersenyum, setelah matanya mendapati seorang lelaki yang sedang tertidur di atas sofa dengan headphone yang menempel di kepalanya.

“Permi-” ia terpaku. apa ia tidak salah lihat? Lelaki itu, ia tahu lelaki itu, pikirnya.

“Permisi…”

Lelaki itu bergeming, ia masih saja tertidur pulas dengan wajah tampannya. Gadis itu merasa serba salah, ia juga tak tega kalau harus membangunkan tidur lelaki itu yang sepertinya sangat kelelahan.

Ia menyentuh tangan lelaki itu, bermaksud untuk membuatnya terbangun sebentar saja. Tapi betapa terkejutnya gadis itu setelah merasakan suhu tubuh lelaki itu sangatlah dingin. Lelaki itu tak bergerak, tubuhnya dingin, apa ia mati?

“Bagaimana ini?! aish, apa yang harus kulakukan?!”

Ia meniup-niup tangannya, lalu mengusap-usap tangan lelaki itu agar lelaki itu merasakan kehangatan tangannya. Ia terus melakukan itu, mentransfer suhu tubuhnya ke tubuh lelaki yang baru ia lihat secara langsung untuk pertama kalinya.

Mata lelaki itu akhirnya terbuka, lensa matanya merah seperti darah, sekilas matanya terlihat bercahaya. Bangunnya lelaki itu membuat lilin-lilin yang ada di sekitar mereka seketika menyala. Tubuh gadis itu gemetar karena tatapan lelaki itu yang begitu tajam, sedangkan tangannya masih menyentuh tangan lelaki itu.

“Yak! Apa yang kau lakukan?!” lelaki itu dengan kasar menepis tangan gadis itu yang menyentuh tangannya.

“Kau? Siapa kau? Siapa kau sampai berani-beraninya menyentuhku?! Apa yang dilakukan seorang manusia di tempat ini huh?!”

Seorang manusia? Kenapa rasanya, pertanyaan itu sangat mengganjal? Aneh sekali, pikir gadis itu.

“Maaf, Aku benar-benar minta maaf.” Gadis itu membungkukkan badannya berulang kali.

“Aish, benar-benar! Ada ribut-ribut apa ini?” seluruh lampu yang ada di ruangan itu tiba-tiba menyala, membuat ruangan yang awalnya hanya mengandalkan seberkas cahaya dari jendela itu akhirnya terang benderang.

“Yak, Chanyeol-ah! Kenapa kau tidak sopan sekali pada tamu kita yang satu ini?”

“Aku mencium sesuatu yang menyegarkan di sini.”

8 orang lelaki tiba-tiba saja muncul mengelilingi mereka berdua. Ke-8 lelaki itu terlihat memiliki lensa mata dengan warna berbeda.

“Kau siapa? Kenapa kau bisa ada di tempat ini?” tanya salah seorang lelaki berwajah tampan dan berlensa mata merah namun terlihat memiliki tubuh yang lebih pendek dari yang lainnya.

“Maaf. Sepertinya aku salah alamat. Aku akan pergi.” ucap gadis itu kemudian mengambil kopernya.

“Tunggu!” cegah lelaki berlensa mata kuning dan memiliki kantung mata yang terlihat jelas itu.

“Ada apa, Tao-ya? Apa kau tahu siapa dia?” tanya lelaki yang tadi bertanya pada gadis itu.

“Aku pikir, aku mengetahuinya. Dia mungkin gadis yang pernah dibicarakan ayah waktu itu. Dan seingatku, aku pernah berusaha untuk mengingat wajahnya.” Jelas lelaki yang ternyata bernama Tao itu.

“Nah, itu berarti kau tidak salah alamat, Cantik. Kau memang ditakdirkan untuk tinggal di tempat ini bersama kami semua.” Ucap lelaki lain yang memiliki lensa mata berwarna hijau gelap sembari merangkul gadis itu.

Kenapa tangan mereka dingin sekali?, pikir gadis itu sedikit tak mengerti.

“Sekarang, coba kau perkenalkan dirimu pada kami. Agar kami tak kesulitan untuk memanggilmu.” Ucap lelaki yang berlensa mata merah tadi dengan ramah.

“Namaku Yoora, Kim Yoora. Aku datang kemari atas permintaan ayahku yang memintaku untuk tinggal di sini bersama keluarga Lee.”

“Tepat sekali! Kami-lah keluarga Lee yang ayahmu maksud itu.” Balas lelaki yang saat ini masih merangkulnya.

“Kalau begitu, ijinkan kami untuk memperkenalkan diri kami sebagai anggota keluarga Lee yang dimaksud ayahmu. Di mulai dari kau, Hyung.” Lelaki berlensa mata merah itu benar-benar memiliki tutur kata yang lembut saat berbicara dengannya, tidak seperti lelaki berlensa mata merah yang ia temui pertama kali, kasar sekali.

“Aku Xiumin Lee. Anak tertua di keluarga Lee.” Ucap lelaki berlensa mata biru kehijauan itu diakhiri dengan senyuman yang manis.

“Aku Suho Lee, aku anak kedua.” Lelaki yang lembut dan ramah itu memperkenalkan dirinya.

“Aku Lay Lee!” ucap lelaki yang masih merangkulnya sedari tadi.

Lelaki yang ditatap Xiumin, Suho dan Lay itu hanya diam tak memperkenalkan dirinya. Ia terus menatap ke arah Yoora tanpa berkedip sedikitpun, membuat gadis itu kikuk dan merasa tak nyaman karena ditatap sangat tajam oleh lensa matanya yang berwarna kuning terang.

“Ah, maaf. Dia, Baekhyun. Baekhyun Lee. Anak ke-4.” Ucap Suho.

“Aku Chen Lee.” Ucap lelaki yang sejak awal membawa boneka bebek berwarna ungu bersamanya dan memiliki lensa mata paling indah berwarna ungu terang.

Lelaki yang ditemui Yoora pertama kali itu tidak membuka mulutnya, dan menatap Yoora seperti penuh kebencian.

“Ah, dia lelaki yang pertama kali kau temui, bukan? Dia, Chanyeol Lee. Maafkan dia yang tadi sempat bersikap kasar padamu, biasanya dia tidak seperti itu.” Jelas Suho.

“Yang selanjutnya adalah Dio, Dio Lee. Dia tak pernah banyak bicara, tapi sebenarnya dia anak yang baik. jadi jangan berpikiran yang aneh-aneh tentangnya.” Lanjut Suho memperkenalkan adiknya yang mempunyai lensa mata berwarna seperti air laut yang sedang membeku.

Hyung-ku tadi sempat menyebut namaku, kau masih ingat?” tanya lelaki yang beberapa waktu lalu berkata bahwa dirinya mengetahui Yoora.

Ye? Maaf, aku tadi tidak terlalu memperhatikan.” Ucap Yoora menyesal.

“Aiii, benar-benar! Mengecewakan sekali. Haha, aku hanya bercanda. Aku Tao, Tao Lee.” Ucap lelaki itu.

“Selanjutnya,” Suho dan yang lainnya menatap ke arah lelaki selanjutnya yang akan memperkenalkan dirinya pada Yoora.

“Cih, tubuhnya benar-benar tidak menarik.” Gumam lelaki itu pelan, namun masih tetap bisa terdengar oleh telinga yang lainnya termasuk telinga Yoora.

“Yak, Kai! Jaga ucapanmu!” ucap Suho sedikit membentak lelaki yang ternyata bernama Kai itu. Sementara yang lainnya hanya menahan tawa mereka.

“Hm, Maaf. Namaku Kai.”

“Dan yang terakhir, eh? Di mana dia?”

“Aku di sini, hehe.” Ucap lelaki yang memiliki wajah sangat tampan dan berlensa mata biru pekat yang muncul dengan tiba-tiba di belakang Yoora dan berhasil membuat gadis itu terkejut.

“Dasar bocah!” cibir Chanyeol.

“Yak, Hyung! Aku memang anggota termuda di keluarga ini eoh!” ucap lelaki yang merasa terkena cibiran Chanyeol itu, membela diri.

“Sudah, sudah!” lerai Suho.

“Sekarang perkenalkan dirimu padanya, Sehun-ah!”

“Aku pikir tidak perlu, gadis cantik ini sudah tahu siapa namaku saat kau menyebutkannya, Hyung. Bukan begitu, Cantik? Ah, wangi tubuhmu benar-benar menggodaku.” Balas Sehun sambil menghirup wangi rambut Yoora sembari menggigiti bibirnya sendiri.

“Yak, Sehun-ah! Seleramu rendahan sekali. Lihatlah! Dia sama sekali tidak seksi.” Ucap Kai yang membalas perkataan Sehun.

Lay melangkah menghampiri Kai dan menjewer telinga adik ke-6 nya itu, spontan yang merasa telinganya dijewer itu menjerit meminta ampun kakaknya.

“Ah, Hyung! Cukup! Aish, Sakit!”

“Kurasa kau masih harus mengikuti kelas etika, Kai-ya.”

“A-Tidak bisa, Hyung! Jangan kelas etika, kumohon! A-ah, iya, iya, aku akan meminta maaf padanya! Sungguh! Tapi jangan kelas etika, a-ah…” ucap Kai memohon seperti anak kecil.

Lay melepaskan jewerannya, “Kalau begitu, minta maaf padanya sekarang.”

“Iya. Hey, Kau! Maaf ya!” ucap Kai meminta maaf untuk kedua kalinya pada Yoora. Yoora hanya tersenyum kikuk melihatnya.

“Nah, sekarang kau sudah mengenal kami semua, bukan? Selamat datang di keluarga kami, Yoora-ssi.” Ucap Suho tersenyum bersamaan dengan senyuman yang lainnya, kecuali Baekhyun, Chanyeol, dan Dio.

“Maafkan aku, sebenarnya… aku sudah mengetahui nama kalian sejak awal. Tapi aku ragu untuk mengatakannya.” Balas Yoora yang membuat keadaan seketika hening.

PRANG! Kaca jendela di belakang sofa yang diduduki Xiumin, Chanyeol dan Kai tiba-tiba saja pecah, kejadian itu berhasil membuat Yoora terkejut dan menutup telinganya. Hujan yang begitu deras dengan angin kencang di luar sana akhirnya dapat masuk begitu saja dan membuat Yoora memeluk tubuhnya sendiri.

“Chanyeol-ah…” Lay memandangi Chanyeol yang terlihat berapi-api.

Hyung…” Sehun tampak tak percaya dengan apa yang dilakukan kakaknya itu.

“Kau seharusnya mengatakan itu sejak awal, sehingga kami tidak perlu membuang-buang waktu kami hanya untuk membicarakan hal yang tidak berguna dengan makhluk yang sama tidak bergunanya seperti dirimu!”

Baekhyun berdiri dari posisi duduknya, lalu menghampiri Yoora yang masih terlihat ketakutan dengan tubuh gemetar setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Chanyeol.

Lelaki itu menatap kedua mata Yoora, lalu dengan tenang, ia menarik tangan Yoora untuk pergi dari ruangan yang penuh dengan suasana tegang itu.

“Semuanya, kembalilah ke kamar kalian! Kecuali, kau!” Ucap Suho dengan pandangan yang menatap Chanyeol tajam.

“Bereskan semua ini, dan pergilah ke kelas etika bersama Kai nanti malam.” Lanjut anak kedua keluarga Lee itu.

“Ai, ai, Kenapa aku?! Kenapa aku harus ke kelas etika juga?!” protes Kai yang merasa diperlakukan tidak adil oleh Suho. Sementara Chanyeol yang merupakan penyebab dari masalah ini hanya dapat menahan amarahnya yang bisa dengan mudah ditebak dari sorot mata merahnya yang bercahaya.

 

♥♥♥

 

“Ini kamarmu.”

Baekhyun membukakan pintu kamar yang akan menjadi tempat untuk Yoora beristirahat hari ini, esok, dan seterusnya. Sebuah kamar yang terletak di lantai 3 rumah keluarga Lee. Saat matanya menatap gadis itu, terlihat jelas bahwa gadis itu masih memikirkan kejadian di ruang tamu tadi.

“Aneh sekali.”

“Hm?” gadis itu tersadar dari lamunannya.

“A-Tidak. Mulai saat ini, kamar ini adalah kamarmu.” Ucap Baekhyun.

“Ah, baiklah. Terimakasih.” Yoora membungkukkan badannya, berterimakasih dengan sopan.

Untuk beberapa saat, keduanya tak bersuara. Baekhyun terus memandangi gadis di hadapannya dan berhasil membuat gadis itu canggung setengah mati.

“Aku akan kembali ke kamarku.”

“Permisi, Baekhyun-ssi.”

Baekhyun berbalik, “Ya?”

“Maaf jika pertanyaanku ini tidak sopan, tapi kenapa kau terus memandang ke arahku? Bahkan saat perkenalan tadi, kau hanya memandangiku tanpa mau memperkenalkan dirimu sendiri. Apa… ada yang salah denganku?”

“Jangan bertanya apapun padaku, aku tidak akan menyukainya.” Lelaki itu mengakhiri pembicaraannya dengan senyuman dan berlalu. Sementara Yoora hanya bisa memandang punggung Baekhyun yang semakin lama semakin menjauh tanpa bisa berkata apa-apa lagi.

 

♥♥♥

 

Jam yang tertempel di dinding kamar Yoora menunjukkan pukul 7 malam. Tepat pada saat itu juga, terdengar bunyi lonceng yang begitu merdu, tak seperti bunyi lonceng pada umumnya yang biasanya terdengar bising dan nyaring.

Tok… tok… tok. Seseorang mengetuk pintu kamar gadis itu. Yoora yang saat itu sedang mengganti pakaian, kemudian mempercepat gerakannya dan berlari membukakan pintu.

“Yak! Kenapa lama sek-” ternyata seseorang yang mengetuk pintu itu adalah Sehun. anak bungsu keluarga Lee itu tidak menyelesaikan kata-katanya setelah melihat Yoora yang sudah mengenakan piyama tidur berwarna merah muda.

“Yak, apa kau akan segera tidur tanpa makan malam terlebih dahulu eoh?!”

“Maksudmu?”

“Ah, benar-benar! Cepatlah ganti pakaianmu, Suho Hyung tidak akan suka melihat seseorang mengenakan piyama saat makan malam. Cepatlah! Mereka semua sedang menunggumu!” jelas Sehun.

“Baiklah, baiklah. Tunggu sebentar!” Yoora hendak menutup pintu kamarnya untuk berganti pakaian sesuai perintah Sehun, tapi, tangan dingin lelaki itu menahannya.

“Tidak perlu menutup pintu, kau hanya akan membuang-buang waktu. Cepat!”

“Tapi-”

Sehun mendorong-dorong tubuh gadis itu untuk masuk ke kamarnya dan duduk di ranjangnya, ia juga membantu gadis itu untuk menemukan pakaian yang cocok untuk dipakainya malam ini dengan mengacak-acak isi lemari gadis itu.

“Ini! pakai ini!” Sehun melemparkan dress hitam selutut yang bagian tangannya tertutup bahan brukat berwarna senada pada Yoora.

“Ini?” Yoora bertanya untuk memastikan. Ia heran, kenapa Sehun menyarankannya untuk mengenakan satu-satunya dress miliknya hanya untuk makan malam keluarga? Padahal biasanya, dress hitam miliknya itu hanya akan ia pakai jika ada acara yang benar-benar spesial.

“Sekali lagi kau bertanya, aku yang akan memakaikannya ke tubuhmu.”

“Ah? Iya, iya, baiklah. Tidak bisakah kau membalikkan tubuhmu dulu? Aku tidak biasa mengganti pakaian di hadapan lelaki.”

“Yoora….” Sehun menatapnya.

“Iya, iya! Ya ampun!”

Gadis itu akhirnya terpaksa mengganti pakaiannya di hadapan Sehun, karena kalau tidak, mungkin Sehun yang benar-benar akan memakaikan pakaian itu ke tubuhnya. Di akhir, Sehun membantu Yoora menyeletingkan bagian belakang pakaiannya dan mereka pun langsung bergegas pergi ke ruang makan keluarga Lee yang letaknya tepat di tengah-tengah bangunan luas itu. Ruang makan itu dilengkapi meja makan yang panjang dan 12 kursi berformasi 1-5-5-1 tersedia disana lengkap dengan berbagai macam makanan melebihi kelas hotel bintang lima.

Yoora terpaku, akhirnya rasa herannya itu terjawab juga setelah melihat pakaian yang dikenakan ke-10 lelaki ―termasuk Sehun― yang ada di ruangan itu. Masing-masing dari mereka mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan dasi yang juga berwarna sama. Sepadan dengan yang dikenakan Yoora malam ini.

“07:27, kalian terlambat.” Ucap Xiumin yang matanya terus melihat ke arah jam dinding besar ber-angka-kan romawi yang ada di ruang makan itu.

“Maaf, Hyung.” Sehun meminta maaf, tangannya masih menggenggam tangan Yoora.

“Ekhem,” Kai berdehem.

“Apa yang kau lakukan selama 27 menit bersamanya, Sehun-ah?” goda Kai sambil memandang keduanya dengan tatapan menyelidik, ucapan Kai itu otomatis membuat Sehun melepaskan genggaman tangannya pada Yoora.

“Yak, Hyung! Aku hanya membantunya mengganti pakaian.” Penjelasan Sehun itu malah semakin membuat dirinya terpojok dengan ucapan Kai, Chen, Tao, Lay, dan Chanyeol yang terus menggodanya. Sedangkan Suho dan Xiumin hanya menahan tawa mereka, dan sebaliknya, Baekhyun dan Dio tak menunjukkan reaksi apapun.

Hyung, apa malam ini kita tidak akan makan?” tanya Baekhyun pada Suho dengan raut wajah datar.

“Ah, iya. Maafkan aku, Baekhyun-ah.” Balas Suho yang menyadari ketidaknyamanan yang dirasakan Baekhyun dan Dio.

“Sudah, sudah. Duduklah di kursimu, Sehun.” ucap Suho, Sehun pun menurut. Lelaki itu duduk di kursi paling ujung yang berhadapan dengan kursi yang diduduki Kai, menandakan bahwa dirinya anak terakhir.

“Dan kau, Yoora, kau bisa duduk di sana.” Suho menunjuk ke arah kursi paling ujung yang berada di antara Kai dan Sehun.

“Ah iya, Terimakasih.” Yoora berjalan menuju tempat duduk yang dimaksud Suho.

Dari sana, gadis itu dapat melihat sebuah kursi kosong yang berada jauh di depannya, menimbulkan tanda tanya di benaknya. Dari sana juga, ia bisa melihat Suho duduk berhadapan dengan Xiumin, Baekhyun dengan Lay, Chanyeol dengan Chen, Tao dengan Dio, dan yang paling dekat dengannya ialah Sehun yang duduk berhadapan dengan Kai.

“Chen-ah, simpan dulu bonekamu ketika sedang makan. Chanyeol, tidak ada mp3 dan headphone saat kau sudah duduk di ruang makan. Tao, letakkan ponselmu, dan jangan memainkannya selama di ruang makan. Dan kalian, Sehun, Kai, tidak ada percakapan yang tidak penting ketika sedang makan. Bukankah sudah ku katakan berulang kali?” Suho memandang ke arah adik-adiknya yang ia sebut namanya tadi secara bergantian.

“Kau dengar Chloe? Duduklah yang tenang di sini, jangan berisik saat makan jika kau tidak mau kena marah Suho Hyung. Mengerti?” Chen berbicara pada boneka bebeknya yang bernama Chloe, persis seperti anak kecil berumur 5 tahun.

“Tunggu, Hyung! Aku belum mengupdate status SNS-ku tentang kedatangan Yoora di keluarga kita. Sebentar lagiiii saja.” Ucap Tao dengan jarinya yang masih terlihat sibuk mengotak-atik ponselnya.

“Tidak ada. Simpan ponselmu, atau kau takkan mendapatkannya lagi.” ucap Suho tegas.

“Simpan saja, Tao-ya. Kau tidak mau kan ponsel kesayanganmu itu hancur dalam sekejap mata seperti apa yang pernah dilakukan Suho Hyung pada headphone-ku yang dulu?” Chanyeol mengambil ponsel Tao dan menyimpannya di atas meja makan.

“Kai, Sehun.” Suho memandang intens keduanya yang sedaritadi masih terlihat saling berbisik seru.

“Iya, Hyung. Maaf.” Ucap Kai dan Sehun bersamaan menyadari kesalahan mereka.

Setelah melewati momen-momen yang sangat menghabiskan waktu itu, akhirnya mereka pun menyantap makan malam mereka dengan tenang tanpa suara apapun kecuali suara sendok dan garpu mereka ketika menyentuh piring. Yoora pun ikut larut ke dalam keheningan makan malam mereka seperti halnya sikap gadis bangsawan saat menikmati makan malam, walaupun makan malam ala hotel bintang lima seperti ini merupakan makan malam yang pertama kali baginya selama ia hidup.

“Terimakasih untuk makan malamnya.” Ucap mereka bersamaan, satu persatu dari mereka ada yang langsung beranjak dari meja makan, ada juga yang masih santai duduk di kursinya hanya untuk melakukan aktifitas lain seperti Tao dan Chanyeol yang mulai merasa bebas menggunakan ponsel dan headphone mereka.

“Permisi…”

Semua mata sontak mengarah pada Yoora.

“Ada apa, Yoora?” tanya Lay.

“Maafkan aku jika aku banyak bertanya tentang kalian untuk ke depannya, aku hanya sedang berusaha memahami dan beradaptasi dengan keluarga kalian.” Ucap Yoora.

“Ya, tidak masalah. Lalu?” Xiumin melipat kedua tangannya di dada.

“Apa kalian semua benar-benar member EXO? Setahuku memang begitu, tapi setahuku juga, kalian tidak berasal dari satu keluarga, kalian mempunyai keluarga masing-masing dengan marga berbeda. Aku bingung, kenapa saat aku bertemu secara langsung dengan kalian, kalian mengatakan bahwa kalian merupakan satu keluarga?” tanya Yoora akhirnya.

Ke-9 laki-laki itu otomatis merubah arah pandangannya ke arah Suho, karena jujur, mereka tidak tahu harus bagaimana menjelaskan semuanya pada Yoora.

“Jadi begini, Yoora. Kami memang member EXO, dan kami memang berasal dari satu keluarga, keluarga Lee. Apa yang kau lihat di acara-acara televisi tentang kami, itu semua hanyalah setingan belaka. Karena menurut kami, jika publik mengetahui bahwa kami adalah boyband yang berasal dari satu keluarga, itu tidak akan lucu. Jadi, kami membuatnya menjadi sedemikian rupa agar hal itu dapat membawa dampak yang baik bagi kami ke depannya.” Jelas Suho.

“Ah, aku mengerti.” Yoora berpura-pura mengerti, walaupun sebenarnya ia tidak mengerti sama sekali kenapa mereka semua harus melakukan sesuatu sampai sejauh itu.

“Ini pertanyaan terakhirku untuk malam ini, dan ini adalah apa yang paling membuatku penasaran sejak pertama kali datang ke rumah ini.” ucap Yoora.

“Apa itu?” tanya Tao mendelik.

“Apa kalian semua menggunakan lensa kontak?”

Keadaan seketika hening, ke-10 lelaki itu saling bertatapan satu sama lain, kemudian tertawa sekeras-kerasnya.

“Kau yakin penasaran tentang hal sekecil itu?” tanya Chen sambil berusaha menahan tawanya.

“Ya, kami memang memakai lensa kontak. Semua orang tahu itu. Kenapa kau harus memusingkannya eoh?” Xiumin tertawa terbahak-bahak.

“Tapi kenapa kalian memakainya saat berada di rumah saja? Saat aku beberapa kali melihat kalian di acara televisi, mata kalian tidak seperti itu.” Yoora semakin penasaran.

Dio menatap Yoora tajam, “Cih, jika kau terus bertanya seperti itu, seharusnya kau tidak mengatakan kalau kau akan memberikan pertanyaanmu yang terakhir. Kau tahu? Kau sudah membuat waktu istirahat kami berkurang.”

Untuk pertama kalinya, Dio membuka mulutnya dan berbicara di hadapan Yoora. Tapi kata-kata yang pertama diucapkannya malah terasa sangat sakit bagi gadis itu.

“Kalau begitu aku minta maaf, kalian tidak perlu menjawab pertanyaanku yang itu. Terimakasih sudah mau menjawab pertanyaanku, setidaknya aku bisa sedikit lebih memahami kalian.”

“Manusia sepertimu tidak akan mampu memahami sedikitpun tentang keluarga kami.” tambah Dio.

Lagi-lagi, perkataan mereka membuat Yoora bingung. Saat ia sedang sibuk bergelut dengan pikirannya, Baekhyun datang menghampirinya dan menyadarkannya dari lamunan serius itu.

“Sebaiknya, kau tidak perlu berusaha untuk memahami keluarga kami sampai sejauh itu. Semakin banyak kau bertanya, akan semakin banyak pula luka yang kami buat di hatimu. Maka dari itu, berhentilah sekarang juga, Yoora.”

Yoora menatap mata Baekhyun, lensa kuning lelaki itu nampak terang beberapa saat dan kembali lagi seperti semula.

Suhu tubuh mereka yang begitu dingin, lensa mata mereka yang terkadang bercahaya, perkataan mereka yang terkadang terdengar aneh, dan juga kejadian pecahnya kaca jendela di ruang tamu secara tiba-tiba sore tadi, semua itu menambah kuat pemikiran Yoora tentang jati diri ke-10 lelaki tampan itu yang sebenarnya. Mereka semua, bukan manusia?

“HENTIKAN! HENTIKAN! HENTIKAN!” bentak Baekhyun seketika seperti orang frustasi. Dengan sigap, Tao dan Kai menjauhkan Baekhyun dari Yoora, sementara Suho menjauhkan Yoora dari Baekhyun.

“KALIAN, CEPAT BAWA DIA KE KAMARNYA! Aku akan menyusul.” Ucap Suho.

“Apa yang terjadi?” gadis itu terkejut bukan main.

“Kembalilah ke kamarmu, Yoora.” titah Suho tanpa menjawab pertanyaan Yoora.

“Ayo pergi!” Sehun menarik tangan gadis itu, membawanya pergi jauh-jauh dari ruang makan.

“Apa yang terjadi pada Baekhyun, Sehun-ssi?”

“Diamlah!” lelaki itu tak memperdulikan rintihan kecil Yoora yang merasa kesakitan karena dirinya menggenggam tangan gadis itu terlalu kuat.

“Hei, Bocah! Kau mau membawa gadis itu ke mana?”

Sehun berhenti melangkah, lalu berbalik menatap lelaki yang tengah berdiri bersandar ke dinding sambil melipat kedua tangannya itu.

Hyung, tidak bisakah kau berhenti memanggilku ‘Bocah’? aku sudah bukan anak kecil lagi!”

Lelaki itu berjalan mendekat, “Di mataku, kau tidak pernah berubah, Sehun-ah.”

“Chanyeol Hyung!” Sehun bereaksi saat tangan dingin kakaknya itu mengambil alih genggaman tangan Yoora darinya.

“Chanyeol-ssi…”

“Diamlah, kau hanya perlu ikut denganku. Tak usah banyak bicara. Mengerti?”

“Tapi, Hyung. Dia bersamaku.” Cegah Sehun.

“Ssst! Sekarang dia bersamaku. Kau, pergilah ke kamarmu dan lakukan apapun yang kau mau. Suho tidak akan marah, dia sedang sibuk mengurusi Baekhyun. Pergi! Cepat pergi!” ucap Chanyeol mengusir Sehun secara halus dan berlari pergi bersama Yoora yang terpaksa mengikutinya.

Hyung…”

 

♥♥♥

 

Langit yang dipenuhi bintang bertaburan malam itu seakan menjadi pemandangan indah yang tak bisa dua insan ini tinggalkan begitu saja. Chanyeol baru saja membawa Yoora ke taman belakang rumahnya yang sangat luas beralaskan rumput hijau di mana sepanjang sisi-sisinya terdapat banyak pepohonan terawat.

Chanyeol duduk di atas rumput itu dan menengadahkan kepalanya, menatap langit yang diterangi cahaya bulan purnama. Perlahan tapi pasti, ia membaringkan tubuhnya di rerumputan itu tanpa merasa khawatir akan mengotori setelan jas yang dipakainya.

“Kau hanya akan berdiam diri di sana?”

“Hm?” Yoora memandang ke arah Chanyeol. Jika memandang lelaki itu di saat seperti ini, bayangan Chanyeol saat marah padanya tadi sore seakan menghilang begitu saja dari pikirannya.

“Kemarilah.” Chanyeol menepuk-nepuk rumput di sebelahnya, memberi ‘kode’ pada Yoora untuk berbaring di sampingnya.

Gadis itu menuruti kata-kata Chanyeol, tapi tidak menerima ‘sinyal’ yang di’kode’kan lelaki itu dengan baik, sehingga ia hanya duduk di samping Chanyeol yang sedang berbaring.

Tak ada percakapan yang terjadi di antara mereka selama beberapa saat. Chanyeol menunggu Yoora memulai pembicaraan, begitupun sebaliknya. Mereka hanya saling menunggu hal yang tak pasti.

“Kenapa kau diam saja?” tanya Chanyeol akhirnya.

“Bukankah kau yang menyuruhku untuk tidak banyak bicara, Chanyeol-ssi?”

“Benar juga.” Lelaki itu lupa dengan apa yang dikatakannya sendiri beberapa saat lalu.

“Lalu, apa kau dan aku hanya akan terus saling diam seperti ini? membosankan sekali.” lanjut Chanyeol menggerutu.

Gadis itu menatap Chanyeol dengan tatapan aneh, “Kau dan aku tidak sedang saling diam, Chanyeol-ssi. Buktinya saat ini, kau dan aku sedang saling bicara.”

“Ah, iya juga! Kau benar. Tapi bukan seperti itu yang ku maksud.” Raut wajah Chanyeol mulai terlihat frustasi. Ia bangkit dari posisi tidurnya.

“Lalu apa? Kau ingin aku bicara apa? Topik apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

“Apa saja! Kau mengerti?”

Yoora menggerakan tangannya seolah mengunci mulut Chanyeol, sementara itu Chanyeol hanya terlihat kebingungan dengan apa yang Yoora lakukan.

“Kalau begitu, aku mengerti. Kata-katamu sudah ku kunci, dan kau tidak bisa menariknya kembali, Chanyeol-ssi.”

“Kau harus jujur padaku!” ucap Yoora selanjutnya.

“Tentang apa?” dahi lelaki itu mengkerut.

“Apa saja! Kau mengerti?” gadis itu mengulang kata-kata yang Chanyeol katakan sebelumnya.

“Iya, iya!”

“Kenapa kau tiba-tiba menjadi baik padaku eoh? Padahal sebelumnya, kau terlihat sangat membenciku. Ada hujan petir seperti apa yang mampu merubah sikapmu dalam sekejap seperti itu, huh?”

“Siapa? Aku? Tidak ah! Aku tidak menjadi baik seperti apa yang kau katakan barusan.” Elak Chanyeol dengan tingkah mencurigakan.

“Benarkah begitu?” Yoora terus mendelik ke arah Chanyeol, sedangkan Chanyeol sibuk menyembunyikan tawanya yang sengaja ia tahan agar tetap terlihat jual mahal di depan gadis itu.

“Kalau begitu, tatap aku!”

“Kenapa aku harus?” tanya Chanyeol masih dengan sikap jual mahalnya.

“Karena mata merupakan pintu hati yang tidak akan pernah bisa berbohong.”

Chanyeol akhirnya menatap kedua mata Yoora begitu dalam setelah mendengar apa yang gadis itu katakan. Gadis itu tak lagi menemukan tanda amarah di mata Chanyeol, saat ini, lensa mata Chanyeol yang berwarna merah itu nampak tenang, begitu tenang, hingga tanpa ia sadari Chanyeol perlahan mendekatkan wajah tampannya ke wajahnya. Semakin dekat, dekat, dan sangat dekat, hingga…..

“Yoora! Chanyeol!” Lay melambaikan tangannya dari jendela yang berada di lantai atas rumah itu.

Chanyeol mengacak-acak rambutnya sedikit kesal, lalu bersikap seperti tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Yoora.

“Lay-ssi, apa yang kau lakukan di sana?” tanya Yoora sedikit berteriak mengingat jarak antara taman itu dengan tempat Lay berdiri sekarang yang cukup jauh.

“Harusnya aku yang bertanya pada kalian. Sedang apa kalian di sana? Hari sudah larut, kalian harus segera beristirahat. Lagipula, kau, Chanyeol! Bukankah kau harus mengikuti kelas etika bersama Kai eoh? Suho Hyung memintaku untuk mengingatkanmu tentang hal itu. Kau tidak ingin melihat Suho Hyung menyita semua barang kesayanganmu lagi seperti waktu itu, bukan?” ucap Lay panjang lebar tanpa henti.

“Iya, Hyung. Terimakasih!” balas Chanyeol seperti dipaksakan.

“Apa kelas etika itu seperti hukuman?” tanya Yoora. Chanyeol tak menggubris.

“Maafkan aku, Chanyeol-ssi.”

“Kenapa meminta maaf?”

“Karena aku, kau harus mengikuti kelas etika yang kedengarannya sangat menyeramkan itu.”

Chanyeol tertawa.

“Bagaimana bisa kau mengatakan itu semua karenamu? Apa kau sudah merasa sangat hebat eoh? Apa kau pikir keluargaku sudah membuat dirimu begitu spesial hingga kau bisa mengatakannya dengan semudah itu?” lelaki itu tersenyum merendahkan.

“Kenapa kau tiba-tiba menjadi seperti ini?” Yoora memandang Chanyeol, tak percaya dengan perubahan sikap lelaki itu yang berubah drastis dalam sekejap mata.

Lay memandangi mereka dari atas sana, tak bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas sehingga membuatnya sedikit bingung dengan situasi yang ada antara Chanyeol dan Yoora.

“Anak itu lagi-lagi menyakiti hati Yoora.” ucap lelaki berlensa kuning terang yang sedang duduk di tepi ranjangnya. Tatapannya kosong. Sesekali lelaki itu terlihat meremas sprei yang membalut tempat tidurnya.

“Baekhyun-ah, apa kau benar-benar tidak bisa mendengar apa yang gadis itu katakan eoh?” tanya Lay pada lelaki itu yang ternyata adalah Baekhyun.

“Sungguh, Hyung. Yoora begitu gelap, seperti buku yang ditutupi kain tebal yang tak mungkin bisa ku singkirkan hanya untuk bisa membacanya.”

“Anak itu meninggalkannya….” ucap Baekhyun selanjutnya, sama persis dengan apa yang sedang terjadi antara Yoora dan Chanyeol di bawah sana.

“Chanyeol-ssi!” panggil Yoora sambil mengikuti langkah kaki lelaki yang saat ini mengacuhkannya.

“Kau tidak perlu khawatir, kelas etika sudah lama menjadi langgananku.” Jelas Chanyeol tanpa menatap gadis itu sedikitpun dan terus berjalan tanpa memperdulikan Yoora yang kelelahan mengejarnya di belakang.

 

♥♥♥

 

Suara gaduh berhasil mengusik nyenyaknya tidur gadis itu di malam pertamanya berada di rumah mewah keluarga Lee. Saat matanya melihat ke arah jarum jam yang ada di kamarnya, jarum jam itu baru menunjukkan pukul 02.35 dini hari.

“Apa yang mereka lakukan?” gumam Yoora masih setengah sadar.

Gadis itu mencoba bangkit dari posisi tidurnya walaupun rasa kantuknya seakan tak bisa terkalahkan. Langkah kakinya membawanya ke sebuah jendela besar yang ada di kamarnya, mencoba mengintip keadaan di bawah sana.

“Huh?! Apa mereka akan berangkat sekolah sekarang? Yang benar saja!” gadis itu terkejut setelah melihat ke-10 lelaki yang sedang asik bercanda gurau di bawah sana itu sudah rapi mengenakan seragam sekolah mereka.

“Apa jam dinding di kamar mereka rusak? Atau, jam dinding di kamarku ini yang rusak?”

“Hebat!” ucap gadis itu spontan setelah melihat 2 buah mobil limousine yang tak perlu dijelaskan lagi betapa kerennya mobil itu sudah terparkir dan siap mengantar ke-10 lelaki itu ke sekolah mereka.

Saat gadis itu kembali memandangi mereka, matanya berpapasan dengan mata dingin Dio yang sedang mengamatinya dari bawah sana. Yoora mengalihkan pandangannya, menghindari kontak mata dengan lelaki dingin yang satu itu. Namun saat dirinya kembali memandang ke-10 lelaki bersaudara itu, mereka semua sudah memasuki mobil dan pergi meninggalkan lingkungan rumah mereka yang luas ini.

 

♥♥♥

 

♫ (Call me baby) i georineun wanjeon nalliya

(Call me baby) saramdeul saineun namiya

(Call me baby) hamkkehaneun mae sungani

Like boom, boom, boom, boom, boom (What up)

Hey girl! yeongwon gatdeon challa (unmyeong gateun sungan)

nareul han sungan ttulkoga (beongaecheoreom i segyereul)

neon nae ireum bulleojumyeo naegero dagawa…. ♫

Yoora tersenyum menikmati penampilan ke-10 member EXO di atas panggung indoor sebuah acara musik yang tayang secara langsung di televisi. Saat ini, dirinya sedang berada di tengah kerumunan para penggemar yang terlihat sangat menikmati acara tersebut dengan ikut bernyanyi dan menggoyangkan lightstick mereka.

Dari tempat itu, Yoora dapat melihat betapa profesionalnya ke-10 lelaki itu ketika sedang tampil di atas panggung. Ia kagum, kagum mendengar suara mereka, kagum melihat koreografi mereka, juga, ketampanan mereka tentunya. Ia merasa sangat berterimakasih pada Suho yang telah mengajaknya untuk melihat aktifitas mereka di dunia hiburan, sehingga ia terbebas dari rasa kesepian dan rasa bosan ketika ia sedang sendiri di rumah besar itu.

Gadis itu memberi tepuk tangan untuk penampilan mereka bersamaan dengan tepuk tangan dari ratusan penggemar yang hadir saat itu. Ia segera bergegas keluar dari kerumunan tersebut untuk menghampiri mereka di belakang panggung. Namun ketatnya penjagaan yang ada di acara tersebut membuat Yoora sedikit tertahan.

“Suho-ssi!” panggil Yoora saat melihat Suho di area belakang panggung.

“Yoora?”

Suho menghampiri gadis yang sedang dihadang 2 penjaga dari pihak penyelenggara acara itu dengan senyuman polos.

“Tidak apa-apa, gadis ini bersama kami.” Ucap Suho pada 2 orang penjaga yang menghadang Yoora.

“Ayo!” Suho dengan cepat menarik tangan Yoora dan membawanya ke area belakang panggung sebelum para penggemarnya melihatnya dan menjadi gila seketika.

“Suho-ssi, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya gadis itu yang masih melangkahkan kakinya mengikuti Suho menuju ruangan yang telah disediakan khusus untuk member EXO.

“Tanya saja.”

“Kenapa tanganmu begitu dingin? Apa kau sedang sakit?”

Suho berhenti melangkah, namun sedetik kemudian melanjutkan langkah kakinya.

“Tidak, aku memang seperti ini.”

“Huh?”

“Ini ruangan yang mereka sediakan untuk kami. Kami biasa menunggu jadwal tampil kami sambil melakukan segala sesuatu yang menyenangkan di ruangan ini.”

Suho membukakan pintu ruangan mereka, dan…..

PRANG!

“Apa kau sudah bosan hidup eoh?! Kami baru saja tampil menghibur penonton acara yang membosankan ini, dan kau? Tidak menyiapkan apapun untuk menghilangkan rasa haus dan lapar kami?! BAGUS SEKALI!”

PRANG! Baekhyun membanting semua barang yang ada di ruangan itu, membuat orang-orang di sekitar ruangan itu terkejut dan berkerumun melihat apa yang sedang terjadi di sana.

“Maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf, Baekhyun-ssi!”

“Kau…” Baekhyun menarik kerah baju staf yang baru saja membuatnya kehilangan akal itu.

“..harus merasakan bagaimana rasanya aku menahan rasa haus ini begitu lama.”

Lensa mata kuningnya yang tertutup lensa kontak berwarna hitam itu terlihat sedikit memancarkan cahaya. Seringai khasnya memperlihatkan taring yang sempurna. Taring itu akhirnya menancap seluruhnya di leher staf acara tersebut, menusuk kulit hingga menembus ke pembuluh darahnya.

“Aaaakh!”

Baekhyun yang sudah menjadi monster penghisap darah itu benar-benar sudah lepas kendali akan dirinya, ia menghisap darah korbannya tanpa merasa kasihan sedikitpun.

“Baekhyun-ssi…” Yoora dan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu tampak tak percaya dengan apa yang terjadi saat itu.

Dengan cepat, Tao menunjukkan kekuatan tersembunyinya sebagai pengendali waktu. Ia menghentikan waktu saat itu juga, membuat aktifitas di seluruh dunia terhenti seketika. Jarum jam berhenti berputar, orang-orang tetap di tempatnya dan tak bergerak sama sekali, pesawat-pesawat yang sedang berada di atas awan hingga semuanya yang ada di alam jagat raya ini benar-benar berhenti dalam sekali tepukan tangan Tao. Lelaki itu menjaga kedua tangannya tetap saling menggenggam seakan ia sedang menangkap waktu dan tidak akan melepaskannya begitu saja.

Saat itu juga, Kai bergegas menyeret staf yang sudah tak bernyawa itu dan menghilang dalam sekejap mata.

Sementara Suho terlihat serius memejamkan matanya, berusaha menguasai pikiran orang-orang di seluruh dunia termasuk pikiran gadis yang ada di sebelahnya, ya, Yoora. Setelah lelaki itu berhasil menguasai pikiran orang-orang, ia langsung berusaha untuk menghapus segala ingatan orang-orang itu yang berhubungan dengan staf yang menjadi korban kehausan Baekhyun tadi. Ia berusaha membuat orang-orang tersebut tidak bisa mengingat apapun tentang korban, dan membuat korban itu seakan tak pernah hadir dalam hidup mereka.

Hyung, kekuatan kalian tidak berpengaruh pada gadis itu. Dia masih dalam keadaan sadar.” Ucap Sehun yang seketika membuat kakak-kakaknya itu terkejut.

“Yoora-ssi…” Baekhyun memandangi gadis yang terlihat sangat ketakutan itu dengan raut wajah menyesal.

“Ini semua salahmu, Hyung. Kau seharusnya tidak perlu membawanya bersama kita.” Ucap Chanyeol yang jelas-jelas menyalahkan Suho dalam masalah ini.

“Kalian semua… apa yang kalian lakukan? Kalian-”

Dengan kaki gemetar, gadis itu berusaha untuk melarikan diri dari mereka. Gadis itu berlari di antara manusia-manusia lain yang tak bergerak sama sekali, ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Benar dugaannya, ke-10 lelaki tampan yang terkadang berkata aneh, ke-10 lelaki yang memiliki suhu tubuh begitu dingin, mereka semua, benar-benar bukan manusia.

“Semuanya benar-benar terhenti.” Ucap Yoora setelah melihat keadaan di area depan panggung indoor acara tadi benar-benar tak ada satupun yang bergerak selain dirinya. Saat ia mengamati arloji berwarna coklat yang ia pakai di pergelangan tangan kirinya, jarum jam di arlojinya pun sama sekali tak berputar.

“Bagaimana bisa? Bagaimana ini semua bisa terjadi?”

“Tidak ada yang tidak bisa terjadi di dunia ini, Yoora-ssi.” Lelaki berkulit eksotis itu tiba-tiba saja muncul di hadapannya entah dari mana setelah matanya jelas-jelas melihat lelaki itu menghilang secara tiba-tiba juga di ruangan tadi.

“Kai-ssi…”

Yoora mengambil langkah mundur, namun di belakangnya sudah ada ke-9 lelaki tampan yang sudah mulai berani memperlihatkan sisi lain yang selama ini mereka sembunyikan darinya.

Kai membalikkan tubuh Yoora menghadap ke-9 saudaranya,

“Apa yang harus kulakukan? Sebenarnya aku benar-benar lelah setelah mengirim staf tak berguna itu ke tempat yang sangat jauh, tapi mungkin, sedikit bermain denganmu akan menghilangkan rasa lelah itu.”

“Apa maksudmu?” gadis itu tampak berkeringat dingin.

“Sekarang, kau sudah mengetahui siapa kami sebenarnya. Jadi, bisakah kau mengatakan padaku siapa kami sebenarnya?” Lensa mata anak kedua keluarga Lee itu terlihat bercahaya sekilas.

“Kalian semua… Vam… vampir.”

Ke-10 lelaki itu menyeringai, memperlihatkan taring tajam yang dimiliki mereka masing-masing.

Hyung, bagaimana ini? dia sudah mengetahui sedikitnya tentang kita, haruskah kita bermain-main dengannya sebentar?” tanya Kai sambil mengelus-elus pipi gadis itu.

“Aii, yang benar saja! Bukankah kau pernah berkata dia sama sekali tidak seksi?” Sehun menggerutu.

“Ah, Sehun-ah. Kau masih ingat ternyata.” Lelaki itu tertawa.

“Haruskah kita mencicipinya sedikit? Hidungku tidak pernah salah mencium bau darahnya. Kalian tahu? Darahnya pasti sangat menyegarkan.” ucap Xiumin.

Chen bergerak cepat ke belakang Yoora dan menjilat leher putihnya, membuat gadis itu seketika merasakan ketajaman lidah Chen.

“Kau memang tidak salah, Hyung. Bolehkah aku yang memulainya? Aku sudah tak tahan.” Chen menjilat bibirnya sendiri. Membuat yang lain juga ikut terprovokasi.

“Hei! Hei! Hei! Aku yang pertama kali bertemu dengannya eoh! Kalian dilarang menyentuhnya sebelum aku menyentuhnya! Dia milikku!” ucap Chanyeol tak terima.

“Apa aku tidak boleh seperti ini, Hyung?” Kai menghirup wangi tubuh Yoora dengan wajah sensual.

“Hei!”

“Aku tidak boleh seperti ini?” lelaki itu menjilati leher Yoora. sedangkan yang dijilati lehernya itu hanya bisa diam tak melakukan apa-apa karena lelaki itu menahan tubuhnya begitu kuat.

“Hei! Kau!”

“Aku tidak boleh seperti ini juga?” Kai menyiapkan taringnya.

Baekhyun terlihat mengepalkan tangannya, geram melihat sikap Kai.

”Kai, cukup!” tapi ternyata Suho selangkah lebih dulu dalam mencegah adiknya dan melindungi Yoora daripada Baekhyun.

“Maaf, Hyung.”

“Ku mohon, jangan memperlakukanku seperti ini. Tidak bisakah kalian bersikap seperti biasanya saja?” Yoora memohon sambil menitikkan airmatanya.

“Kau hanya perlu menutup mulutmu dan hidup seperti tidak pernah ada yang kau ketahui tentang hal ini, maka kami tidak akan menyakitimu.” Ucap Suho.

“Loh? Loh? Kenapa jadi begitu, Hyung?” semuanya terlihat kecewa mendengar apa yang dikatakan Suho, kecuali Baekhyun dan Dio yang tetap tak bereaksi apa-apa selain memasang wajah datar.

“Apa aku bisa mempercayai kata-katamu?”

“Jawabannya ada di dirimu sendiri.”

“Baiklah, aku akan menutup mulutku akan hal ini, dan tepati janjimu.” Yoora terisak.

Suho kembali menyeringai,

“Kai, lepaskan dia. Dan kalian semua, minta maaflah padanya karena sudah membuatnya ketakutan.”

“Maafkan kami ya, Yoora!” ucap mereka bersamaan dengan wajah malas dan dipaksakan.

Hyung, haruskah aku menyudahinya sekarang?” tanya Tao yang masih terlihat menggenggam tangannya sendiri.

“Lay-ah, apa kau sudah membersihkan ruangan kita dari hal-hal yang mencurigakan?” tanya Suho pada Lay sebelum menjawab pertanyaan Tao.

“Sudah. Kita hanya perlu kembali ke ruangan kita sebelum mereka yang ada di sana mulai kebingungan dengan apa yang telah terjadi.”

“Kai, bawa kami semua ke ruangan tadi.” Titah Suho.

Kai terlihat mulai fokus, tapi kefokusannya itu buyar setelah melihat Yoora yang kebingungan.

“Hei! Kau harus menatap mataku!”

“Aku? Kenapa harus?” Yoora menatap mata Kai. Dalam sekejap, ia mendapati dirinya sudah berada di ruang tunggu EXO bersama ke-10 lelaki yang sudah menghilangkan taring tajam mereka dan mulai bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

“Lain kali, jangan banyak bertanya! Mengerti?” ucap Kai mengingatkan.

“Ah, iya. Maaf.”

Tao melepaskan genggaman tangannya yang seketika membuat keadaan di seluruh dunia kembali normal. Para staf yang tadinya berkerumun di depan ruangan EXO mulai merasa kebingungan, kenapa mereka semua berkerumun di sana dan mengganggu kenyamanan para member EXO?

“Ada apa?” tanya Suho pada mereka yang masih berkerumun dan menampakkan wajah bingung.

“Ah, tidak, tidak. Maafkan kami!” jawab mereka serentak.

“Semuanya kembali bekerja!”

Yoora memandangi ke-10 lelaki itu secara bergantian, kenapa mereka bisa bersikap seperti itu? Bersikap seperti tidak ada sesuatu yang telah terjadi di antara mereka? Kenapa mereka bisa bersikap biasa-biasa saja seperti tanpa dosa?, pikir gadis itu.

“Yoora, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Baekhyun.

“Ah? Tidak ada.”

“Jangan membuatku frustasi.”

“Maksudmu?”

Lay mendekati Yoora dan merangkulnya,

“Jawab saja, Cantik. Apa kau tidak merasa kasihan padanya?”

“Aiii, Hyung!” Sehun bangkit dari duduknya dan memandangi wajah Baekhyun dari dekat sambil menahan tawanya. “Apa kau tidak bisa membaca pikirannya eoh?”

“Diamlah!”

“Eoh? Kau benar-benar tidak bisa?” Sehun terus memojokkan Baekhyun, membuat kakak-kakaknya yang lain juga ikut menahan tawa mereka.

“Yaha! Yehet! Ohorat!” lelaki itu bergerak menghampiri Yoora, menyingkirkan rangkulan tangan Lay dari pundak gadis itu dan menggantinya dengan rangkulan tangannya.

“Hei, Oh Sehun! Kenapa kau terus melakukan hal itu ―menyingkirkan tangan Lay saat merangkul Yoora―?” protes Lay.

“Hehe, maaf, Hyung.” Ucap Sehun nyengir.

“Aiii, bagaimana ini? ternyata kau benar-benar gadis yang spesial, Yoora. Bahkan ke-4 hyung-ku yang mempunyai kekuatan spesial saja tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan dirimu. Haha, apa maksudnya ini? apa rahasiamu, hm?” Sehun mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajah Yoora, sementara itu Yoora hanya menatap kedua mata anak bungsu keluarga Lee itu dengan mata yang benar-benar polos.

PLETAK! PLETAK! PLETAK!

Tiga botol minum yang dilemparkan Chanyeol berhasil mendarat dengan mulus di kepala Sehun, membuat si empunya kepala spontan memasang raut wajah mengkhawatirkan. Lelaki itu berdiri melangkah mendekati Sehun dan menarik kerah leher bagian belakang adiknya, memaksa adik nakalnya itu untuk duduk tenang dan tak mengganggu gadis yang sudah ia cap menjadi miliknya.

“Aiii, benar-benar! Kau ini kenapa, Hyung?” anak bungsu keluarga Lee itu cemberut, menunjukkan sikap manjanya.

“Dia milikku, kau mengerti?”

Baekhyun menatap mata Chanyeol tajam, membaca apa yang adiknya itu sedang pikirkan, mendengar apa yang adiknya itu katakan dalam hatinya. Baekhyun melepas jas biru yang sejak tampil di panggung tadi ia kenakan, menampakkan kaos hitam lengan pendek berhurufkan ‘C’ yang dipakainya.

“Kau kepanasan, Hyung?” tanya Chen yang memperhatikan gerak-gerik Baekhyun sambil memeluk Chloe erat.

“Kenapa? Padahal pendingin udara di ruangan ini sudah menyala.” Tao langsung mengarahkan pandangannya ke pendingin ruangan yang ada di ruangan itu dengan heran.

“Yoora.” panggil Dio.

“Hm?”

“Keluarlah! Ini bukan tempatmu!” perintah lelaki dingin itu dengan ekspresi wajah datarnya.

Semua mata otomatis tertuju pada lelaki dingin yang berani menunjukkan sikap sangat tidak sukanya akan kehadiran Yoora di sana.

Lelaki itu terus menatap mata Yoora tanpa ekspresi, membuat bulu kuduk gadis itu seketika berdiri. Dio adalah satu-satunya anggota keluarga Lee yang sampai saat ini seperti belum mau menerima kehadirannya di keluarga itu, seperti sangat benci, seperti, memiliki dendam tersendiri padanya, tapi kenapa?, pikir gadis itu.

“Kau tidak akan keluar?” tanya lelaki dingin itu masih dengan tatapan yang sama.

Pikiran Yoora buyar, matanya menatap mata Suho seolah bertanya ‘haruskah aku menuruti kata-katanya?’. Suho yang mengerti arti tatapannya pun menjawabnya dengan anggukan kecil.

“Kalau begitu aku minta maaf, aku akan keluar sekarang juga.”

Gadis itu keluar dengan membawa sedikit luka di hatinya, lagi-lagi lelaki dingin itu berhasil menyayat hatinya dengan kata-katanya yang sangat tajam. Perih, luka kecil itu sangat sakit.

“Kau tidak seharusnya mengusir Yoora seperti itu.” Ucap Xiumin.

“Kenapa kau kasar sekali padanya?! Tidak bisakah kau bersikap sedikit lebih lembut? Kata-katamu juga, tak bisakah sekali saja tidak melukainya?” Chanyeol menatap Dio sambil menahan kekesalannya.

Dio tersenyum meremehkan. Ia lantas mengambil sebuah cermin berukuran sedang dari tasnya dan memberikan benda itu pada Chanyeol.

“Kau harus memiliki benda ini, agar kau bisa lebih sering BERKACA sebelum mengatakan sesuatu. Sadarlah, bahwa kau juga pernah menyakitinya lebih dari apa yang kulakukan.” Ucap Dio berbisik tepat di telinga Chanyeol.

Dio berlalu meninggalkan Chanyeol yang benar-benar sudah tak bisa menahan kekesalannya lagi. Lelaki itu menggenggam kuat cermin yang Dio berikan.

“Aaaaaaaaaargh!” Chanyeol berteriak dan melampiaskan amarahnya dengan membanting benda berukuran sedang itu ke arah cermin yang ada di meja rias, membuat cermin di meja rias tersebut hancur dan pecahan kacanya berjatuhan ke lantai.

Hyung….”

“Chanyeol-ah….”

PicsArt_07-07-11.41.30

 

♥♥♥

 

[Preview Chapter Berikutnya]


“Pergilah ke kelas etika.” Ucap Suho.

Yoora memandang takjub bangunan yang sangat besar dan bernuansakan eropa tersebut.

“Selamat datang di sekolah malam milik keluarga kami!”

Gadis itu merasakan seluruh tubuhnya membeku seketika saat tubuh kecilnya tenggelam di air yang sangat dingin itu. Sepasang tangan lembut nan dingin berhasil meraihnya, merangkulnya ke dalam pelukan yang menenangkan menuju kematian.

“Maafkan aku, Yoora. Aku sudah tak tahan lagi…”

― Sadistic Night : Chapter 1 END ―

Hello! Hello! Akhirnya, keposting juga ni FF 😀 sebagai first post aku lagi, hahah xD oke, ini adalah pertama kalinya aku posting FF di wordpress setelah sekian lama cuti(?) dari dunia per-FF-an di fanpage facebook 😀 semoga hasil dari sekian lama cuti(?) ini memuaskan, hehe. Amiin.

Yang udah baca FF aku, aku tunggu komentarnya yaa :* jangan jadi silent reader loh! 😀 karena komentar kalian itu sama dengan support buat aku untuk keep writing, hehe 😀

Iklan

26 thoughts on “[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT -CH. 1 : Who Are You?

  1. aahhh sumveh aku suka nih ff >…< di bikin gereget sendiri XD sehun cute banget, ahh dia nakal yaa/? Wah wahh merinding jga karakter Baek dia dingin banget. ahh sumveh kata2 d.o simple tapi menusuk. Makin penasaran ajaa kelanjutan nya Thorr pengen tauu kedekatan Baek ama Yoota gmna/? wahh Chan keliatan nya makin ambisi tuhh pgn dpetin Yoora. di tunggu yaa thorr kelanjutan nyaa^-^ Semangat ^^

    Suka

  2. Wahhh..ayuuuu..daebakkk bgt…gla dionya dingin amat daaa…baekhyun yg biasanya kocak jdi pemarah gtu…wihhh..chanyeol diam”trnyata hahahaah…et..dah itu sehun knp otaknya masa ngliatin org ganti bjuuu…hahaha gk papalah..hihihi…next chapter…i will be a true reader…fighting ayuu chan…

    Suka

  3. wihhh..daebak yuu…gla keren bgt…tpi itu dio mni dingin gtu..tpi gk pplah…hahaha…itu ih pas chen apaan thu…trnyata chanyeol diam”…hahahah…baekhyun gtu” jga keren yaaa..hahaha…i will be a true reader…fighting ayuu chan…

    Suka

    1. Yup betul sekali 🙂 karena memang terinspirasi dari anime itu, tapi ga terpatok ke diabolik lovers aja kok ^^ kalo nemu yg mirip berarti terinspirasi, kalo yg beda berarti tambahan dari khayalanku sendiri hehe 😀 terimakasih sudah baca 🙂

      Suka

  4. Baca lagi dari yg chapter awal 😄 tetep aja nggak ngebosenin hihiii 😆 (tetap baek-yoo shipper detected 😅) baru ngehh kenapa ya disetiap ff chanyeol selalu aja jadi orang yg emosional wkwkk 😅

    Suka

    1. Niat banget ya allah 😂 alhamdulillah kalo emang menurut kamu ff ini gak ngebosenin hehe😆👍 tetep mendukung baekyoo ya wkwk😂 wakakak emang cucok sih kalo chanyeol dapet peran gitu, mukamuka antagonis /plak😂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s