[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 2

[Fanfiction] SADISTIC NIGHT

Untitled-1copyChapter 1, Click Here 🙂

― Sadistic Night : Chapter 2 ―

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Main Cast :

Kim Yoojung as Kim Yoora & Baek Soomin

Byun Baekhyun as Baekhyun Lee

Park Chanyeol as Chanyeol Lee

Oh Sehun as Sehun Lee

Supported Cast :

Kim Jongin as Kai Lee || Huang Zitao as Tao Lee || Kim Joonmyun as Suho Lee || Kim Minseok as Xiumin Lee || Kim Jongdae as Chen Lee || Do Kyungsoo as Dio Lee || Zhang Yixing as Lay Lee || Lee Pace as Pace Lee

Genre : AU, Brothership, Drama, Fantasy, Gore, Little bit comedy(?), Romance, Sad, Vampire

Rated : R

Length : Chaptered/Series

Disclaimer : Semua cast adalah bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya untuk kepentingan cerita. Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari berbagai film dan anime yang bergenre fantasy. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

Sekarang, kau sudah mengetahui siapa kami sebenarnya. Jadi, bisakah kau mengatakan padaku siapa kami sebenarnya?

 

♥♥♥

Keheningan menyelimuti rumah mewah keluarga Lee ketika hari mulai menjelang sore, sebagian besar di antara penghuni rumah tersebut biasanya menggunakan saat-saat seperti ini untuk sekedar merebahkan diri mereka di atas kasur super empuk dengan ditemani lilin-lilin aromaterapi yang bisa menenangkan pikiran mereka setelah seharian disuguhi berbagai macam jadwal pekerjaan yang padat dan melelahkan.

Tapi hari ini, hal itu tidak berlaku di kamar Dio. Kamar yang ukurannya sama luasnya dengan kamar-kamar lain di rumah itu terlihat diisi oleh dua orang lelaki, satu di antaranya adalah Dio sendiri. Lelaki dingin yang siang tadi terlibat adu mulut dengan Chanyeol itu kini terlihat menundukkan kepalanya. Bukan menyadari kesalahannya, melainkan merasa tak rela dan tak terima atas perlakuan lelaki yang saat ini berdiri di hadapannya yang ia rasa membela Chanyeol dan terus menyalahkannya.

Lelaki itu melangkah ke arah jendela, seberkas cahaya dari jendela itu akhirnya menyinari wajahnya yang putih. Suho. Dia terus memandang keluar jendela, entah apa yang dilihatnya, ia hanya merasa….. bersalah.

“Pergilah ke kelas etika.” Ucap Suho.

Dio menatap ke arah lelaki itu dengan tatapan tak percaya.

“Kenapa aku harus?”

“Kau masih belum menyadari?”

“Menyadari apa? Bahwa aku salah? Bahwa Chanyeol lah yang benar? Aku memang selalu salah di matamu, Hyung!” suara Dio meninggi.

Suho memandang ke arah Dio, namun adiknya itu berpaling, tak mau melihat wajah kakaknya lagi.

“Apa sekarang kau berpikir aku tidak adil? Aku sudah mengatakan apa yang seharusnya ku katakan. Kau memang harus pergi ke kelas etika, sebagai vampire kelas B kelakuanmu sudah keterlaluan. Bukankah ayah pernah berkata….”

“Berkata apa?!” lelaki itu memotong kata-kata kakaknya. Matanya terlihat berair.

“Ayah, ayah, ayah, selalu saja perkataan ayah yang kau dengarkan! Kau tidak pernah mendengarkan kata-kataku. Aku melakukan itu bukan tanpa alasan, aku melakukan itu agar aku bisa mencegah pertengkaran di dalam keluarga kita tapi si anak sialan itu malah memancing amarahku!”

“Anak sialan?” Suho menahan kekesalannya. Tangannya hampir saja mendarat di pipi putih mulus Dio.

“Dio-ya, Chanyeol masih kakakmu juga.” Lanjut lelaki itu menatap mata Dio yang mulai basah.

“Dengarkan aku dulu!” pinta Dio yang sudah tak sanggup menahan airmatanya.

“Kalau saja Chanyeol Hyung tidak memancing amarahku dengan omong kosongnya itu, mungkin keluarga kita akan baik-baik saja sekarang. Kau harusnya berterimakasih padaku. Kalau saat itu aku tidak mengusir gadis itu, mungkin saja Baekhyun Hyung dan Chanyeol Hyung akan terlibat pertengkaran hebat karena memperebutkannya! Aku tidak mau hal itu terjadi hanya karena seorang gadis manusia yang baru mereka temui!”

“Aku sangat menyayangi mereka… aku… sangat menyayangi keluarga ini….” jelas Dio akhirnya.

Suho menarik tubuh Dio ke dalam pelukannya, ia memeluk adiknya itu begitu erat. Ia merasa sangat bersalah telah memandang masalah itu dari sudut pandang yang berbeda dengan Dio, seandainya saja adiknya itu memberitahu alasannya sejak awal, mungkin hal ini tidak akan terjadi.

Sayangnya, Dio memang seperti itu, ia lebih suka memendam semuanya sendirian. Maka tak jarang kesalahpahaman seperti ini terjadi, kebanyakan dari kakak-kakaknya tak mengetahui apa maksud dan tujuan sebenarnya dari setiap sikap dan perilaku yang Dio lakukan. Memang benar apa yang Suho katakan tentang adiknya yang satu ini, adiknya yang satu ini sebenarnya anak yang baik, hanya saja kebaikannya selalu salah dimengerti oleh anggota keluarga yang lainnya.

Hyung… jangan berbuat seperti itu lagi padaku.” Ucap Dio terisak.

Suho mengelus punggung adiknya itu lembut,

Ne. Maafkan aku, Dio-ya. Aku seharusnya bisa lebih memahamimu lagi.”

♥♥♥

Mworago?! Kau tidak akan menyuruhnya ke kelas etika?!”

Chanyeol berdiri dari tempat duduknya dengan emosi yang tak tertahankan. Saat ini Yoora dan ke-10 lelaki yang ada di rumah itu sedang bersiap untuk menikmati makan malam mereka seperti biasa, namun saat Suho mengawali pembicaraan dengan mengatakan bahwa masalah antara Chanyeol dan Dio telah terselesaikan, emosi anak ke-6 keluarga Lee itu mulai menyesakkan dadanya sendiri.

“Duduklah, Chanyeol-ah.” Ucap Suho yang berusaha menghadapi Chanyeol dengan kepala dingin.

Chakkaman!” lelaki yang masih berdiri itu terlihat menepuk-nepuk dadanya.

“Jangan buat aku semakin salah paham akan dirimu, Hyung. Bukankah setiap aku melakukan kesalahan, sekecil apapun itu, kau akan tetap bersikeras menyuruhku pergi ke kelas etika?”,

“Lalu kenapa sekarang? Ketika dia melakukan sesuatu yang seharusnya tak dia lakukan pada tamu kita, bukankah seharusnya kau juga menyuruhnya untuk pergi ke kelas etika? Kenapa aku harus, sedangkan dia tidak?! Apa yang membuatnya begitu berbeda di matamu, Hyung?!” Chanyeol meninggikan volume suaranya, dari tatapannya saja, Yoora dan ke-8 saudaranya yang lain dapat melihat kalau Chanyeol benar-benar merasa kecewa.

“Chanyeol-ah, dengarkan aku dulu. Aku belum menjelaskan semuanya padamu, kan?”

“Persetan dengan penjelasanmu, Hyung!” Lelaki itu membanting kursi yang semula ia duduki dan berlalu pergi dari ruang makan.

“Chanyeol-ah!” panggil Xiumin.

“Biarkan saja dia. Semuanya akan percuma bila dia sedang dalam suasana hati yang buruk.” Ucap Suho.

Ke-9 bersaudara itu akhirnya hanya saling diam, Sehun dan Kai tidak berani membuka mulutnya, Chen gemetar memeluk bonekanya, sementara yang lainnya hanya terlihat menundukkan kepalanya kecuali Suho dan Xiumin.

“Tapi, Suho-ya. Aku yakin semua yang ada di sini juga penasaran sama sepertiku, kenapa kau tidak menyuruh Dio pergi ke kelas etika? Itu terdengar seperti, bukan kau yang biasanya.”

Suho memandangi Dio yang masih menundukkan kepalanya, lalu sedetik kemudian beralih memandang Yoora yang menatapnya juga.

“Itu hanya akan menjadi tidak adil bagi Dio, Hyung.

“Hhh, apanya yang tidak adil…” cetus Baekhyun.

Mianhae, Hyung. Malam ini aku tidak lapar.” Lanjut lelaki berlensa kuning terang itu meninggalkan tempat duduknya dan menarik lengan Yoora. Sementara itu, Yoora yang tidak tahu maksud Baekhyun hanya menahan tubuhnya untuk tidak beranjak.

“Aiii, wae?! Kajja!

Lelaki itu lagi-lagi menarik lengannya, tapi kali ini, ia terpaksa beranjak.

Jhweoseonghamnida! Jhweoseonghamnida!” Yoora meminta maaf kepada ke-8 lelaki yang masih duduk di kursi mereka masing-masing.

“Kau tidak lapar, lalu bagaimana dengan Yoora? Kenapa harus mengajaknya bersamamu?”

Baekhyun menatap Lay, malas menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu.

Gadis itu memegang bagian belakang jas yang dikenakan Baekhyun,

Jhweoseonghaeyo. Aku rasa aku tidak lapar, jadi bolehkah aku ikut dengan Baekhyun saja?”

Jinjjayo? Tapi, bukankah kau belum makan apa-apa sejak sore tadi?”

“Aku sudah makan buah-buahan, itu saja sudah cukup.” Jelas Yoora.

Baekhyun menyunggingkan senyumnya,

Eottokhe, Hyung? Kalau begitu kami berdua permisi. Selamat menikmati makan malam kalian.” Lelaki itu akhirnya bisa pergi meninggalkan ruang makan bersama Yoora yang berjalan di belakangnya.

Walaupun dua insan ini tidak berjalan berdampingan, namun senyuman dari bibir mereka tidak dapat mereka sembunyikan. Entah kenapa, gadis itu merasa sangat nyaman berada di dekat Baekhyun. Ia bisa melupakan fakta bahwa lelaki itu adalah salah satu monster penghisap darah di keluarga Lee yang mungkin sudah membunuh banyak orang. Ia, sangat menyukai waktunya bersama Baekhyun walau hanya dengan berjalan di belakangnya seperti sekarang ini.

“Kau mau jalan-jalan keluar?”

“Ye?” gadis itu terperangah.

Lelaki itu tersenyum, senyuman yang berbeda, dan terasa aneh bagi Yoora.

“Kau tetap sama.”

Ne? Baekhyun-ssi?” tanya Yoora tak mengerti.

Anio. Aku bertanya, apa kau mau jalan-jalan keluar?”

Gadis itu melihat arlojinya sekilas,

“Sudah lebih dari jam 8 malam, apa tidak apa-apa kalau kita pergi keluar? bukankah sebaiknya kita di rumah saja?” tanya gadis itu selanjutnya.

“Jangan bertanya padaku, aku tidak suka itu.”,

“Lagipula, aku yang lebih dulu bertanya padamu. Kau, cukup menjawabnya saja, Yoora.”

“Ah? Ne, jhweoseonghaeyo.”

Keadaan seketika menjadi terasa canggung, baik Yoora maupun Baekhyun, keduanya malah membuat suasana yang semula memang hening menjadi semakin hening.

“Kau tidak akan menjawabnya?”

“Ye?”

“Pertanyaanku, yang tadi…” Baekhyun menggesek-gesekan sepatu yang dipakainya ke lantai sambil menunggu jawaban gadis di hadapannya itu.

Baru saja bibir gadis itu akan terbuka untuk menjawab pertanyaan Baekhyun, tapi kemudian lelaki itu ternyata sedetik lebih cepat untuk menyela jawaban Yoora.

“Anggap saja ini, sebagai tawaran kencan…”

Kencan? Siapa? Baekhyun? Dengan Yoora? Mereka? Kencan?

Yoora terus mencerna kata-kata yang baru saja dikatakan lelaki yang saat ini menatap kedua matanya itu. Gadis itu senang, ia merasa senang, tapi entah kenapa ia tak bisa tersenyum sama sekali. Bibirnya kelu, tak sanggup berkata-kata lagi.

Eotte?

Gadis yang ditatap Baekhyun itu sekarang malah membalikkan tubuhnya, membelakangi lelaki itu, ya, lelaki yang baru saja mengajaknya berkencan, Baekhyun Lee.

“Aaah… kalian seperti pasangan yang ada di drama-drama saja, membuatku gemas.” Gumam anak tertua keluarga Lee yang sedang asik mengintip Baekhyun dan Yoora yang sedang berada di lorong itu dari balik gorden berwarna krem.

“Apa yang sedang kau lihat, Hyung?” tanya kedua adiknya yang juga ikut-ikutan bersembunyi di balik gorden dan bertumpu pada punggungnya, Tao dan Sehun.

“Wah! Bukankah itu Baekhyun Hyung? Dengan Yoora?” tanya Sehun antusias.

“Apa yang mereka lakukan?! Mungkinkah, mereka sedang berkencan, Hyung?” tanya Tao yang juga tak kalah antusias dan sangat penasaran.

“Aku tidak yakin. Tapi dari lensa pengamatanku, aku pikir Baekhyun benar-benar menyukai gadis itu.” Jelas Xiumin sedikit memelankan suaranya.

“Ahhhh, jinjja! Eottokhe? Haruskah ada perang saudara antara aku dengan Baekhyun Hyung?

Xiumin dan Tao sontak menatap ke arah Sehun,

Wae? Kau tertarik untuk memainkannya juga? Bukankah mainanmu sudah banyak eoh?”

“Aiii, pertanyaan yang bagus sekali. Terdengar seperti aku benar-benar seorang playboy.” Sehun memanyunkan bibirnya.

Kedua kakaknya itu memandangnya aneh,

“Kau memang begitu.”

♥♥♥

Tok… tok… tok.

Tok… tok… tok.

Tok… tok… tok.

Suara ketukan pintu yang tak santai itu berhasil menyadarkan lamunan gadis yang sampai saat ini belum mengistirahatkan matanya. Jarum jam di kamarnya ternyata sudah menunjukkan pukul 2.05 dini hari. Tak terasa, selama 4 jam terakhir, ia belum tidur sama sekali.

“Yak! apa kau masih tidur di dalam sana?! Cepat buka pintunya!” seru suara di balik pintu sana.

Waeyo, Sehun-ssi?” tanya gadis itu setelah membukakan pintu kamarnya dan melihat Sehun yang sedang berdiri memegang seragam sekolah perempuan berwarna abu-abu, hampir serupa dengan seragam yang dikenakan Sehun saat ini, hanya berbeda celana dan roknya saja.

“Cepat mandi dan pakailah ini!” anak bungsu keluarga Lee itu lagi-lagi memberinya pakaian dengan cara melempar tepat ke wajahnya, sepertinya ia akan semakin terbiasa dengan hal itu.

“Kau punya waktu 26 menit dari sekarang untuk bersiap-siap. Selama itu, kami akan menunggumu di bawah.”

Chakkaman, Sehun-ssi!” Yoora menahan lengan Sehun yang hendak berlalu.

Wae?

“Dini hari seperti ini kita mau ke mana?”

Sehun memutar bola matanya dan mendengus, sementara jari tangannya ia gunakan untuk menyentil dahi gadis di hadapannya yang saat ini terlihat sangat bodoh menurutnya.

“Kau sudah memegang seragamnya bukan? Kita akan sekolah malam! Mulai malam ini kau akan bersekolah di sekolah malam keluarga kami. Jadi, jika kau tidak mau mendapat hukuman dari Suho Hyung, kau harus menemui kami di bawah tepat waktu! Arraseo?

Sekolah malam? Sekolah seperti apa itu?

“Yak! Jangan bilang kau menatapku seperti itu karena kau ingin aku yang memandikanmu?!”

“Ye?! Tidak mungkin!”

♥♥♥

“Apa saja yang kau lakukan di dalam sana?” tanya Suho yang melipat tangannya di dada dan menyandarkan tubuhnya di badan mobil limousine yang akan mengantarkan mereka ke sekolah. Matanya menatap Yoora tajam. Suho tidak suka dengan orang yang tidak patuh akan perintahnya, karena semua perintah yang Suho berikan pastilah sesuai dengan aturan yang ayah mereka buat yang tentunya harus dituruti oleh anggota keluarga Lee, termasuk Yoora.

Jhweoseonghamnida, Suho-ssi. Aku tahu aku terlambat, tapi tadi aku sudah bersiap-siap secepat yang ku bisa.” Jelas Yoora.

“Kau terlambat 9 menit dari waktu yang telah kami berikan, Yoora.” ucap Xiumin yang tak pernah bosan melihat ke arah sebuah arloji, entah itu jam dinding, ataupun jam tangan yang ia pakai di pergelangan tangan kirinya.

Sehun menutup mulutnya menahan tawa sebelum akhirnya berkata,

“Seharusnya tadi aku benar-benar membantumu mandi. Kau pasti tidak akan terlambat jika aku yang membantumu.”

“Yak! Kalau kau yang memandikannya, bisa-bisa dia terlambat satu setengah jam! Kau kan tidak pernah bisa bermain dengan cepat, Sehun-ah.

Ucapan Kai itu langsung mendapat respon dari ke-8 saudaranya yang lain yang tertawa terbahak-bahak. Sementara itu, wajah Yoora memerah karena menahan malu.

“Apa yang kalian bicarakan?”

“Gadis yang polos.” Tao menggelengkan kepalanya, salut.

“Entah polos, atau memang pura-pura polos. Tidak ada perbedaan yang spesifik mengenai hal itu. Keduanya akan terlihat sama saja.” Ucap Dio menanggapi perkataan Tao.

“Kali ini aku setuju denganmu, Hyung!

Sehun berjalan menghampiri Yoora dan merangkulnya.

“Yak, kau pasti pernah melakukannya bukan? Tidak mungkin kau tidak pernah melakukannya. Setidaknya kau pernah merasakannya sekali selama hidupmu ini, benarkan?!” lelaki itu mencolek-colek dagu Yoora.

“Apa maksudmu, Sehun-ssi?

“Gadis 17 tahun di jaman sekarang rata-rata memang pernah melakukan hal itu, bukan begitu, Chloe? Aku sangat sering mendengarnya, di mana-mana.” ucap Chen yang seolah-olah sedang berbicara dengan boneka bebeknya saja.

“Ah,” Yoora baru mengerti.

“Ternyata itu yang kalian bicarakan sedari tadi. Kalau begitu kalian salah mengira. Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang seperti itu, aku tidak termasuk gadis yang dibicarakan Chen-ssi, aku hanya gadis biasa yang tidak pernah memikirkan tentang hal itu. Aku masih terlalu muda, masih banyak urusan yang lebih penting yang harus ku urus daripada harus mengurusi hal seperti itu.”

“Ooow….” ke-10 lelaki itu terkejut mendengar kata-kata Yoora, tak percaya gadis itu akan berkata seperti itu.

“Dari mana kau mendapatkan kata-kata itu?” tanya Lay.

“Kai sepertinya merasa tersindir dengan ucapanmu, Yoora.” Xiumin tidak berhenti tertawa setiap kali memandang wajah Kai yang auranya mulai terlihat berbeda setelah mendengar kata-kata Yoora tadi.

“Aiii, wae, Hyung?! Lagipula aku tidak peduli dengan apa yang dia katakan.” Ucap Kai membalas perkataan Xiumin tidak terima, karena menurutnya, ia tidak merasa tersindir sama sekali.

“Kalau kau memang belum pernah melakukannya, pasti kau maukan melakukan yang pertama bersamaku?” goda Sehun. Wajah Yoora semakin memerah.

“Yaha! Lihatlah! Wajahnya benar-benar seperti kepiting rebus sekarang!”

“Cukup, Sehun-ah.

Anak nakal itu langsung diam ketika Suho menyuruhnya diam.

“Sekarang kita berangkat, pelajaran akan dimulai sebentar lagi. Jika kita semua terlambat, ayah akan marah dan kita pasti berakhir di kelas etika.”

“Oh ya, Yoora.”

“Ye, Suho-ssi?

“Untuk hari ini dan seterusnya, kau akan semobil dengan Chanyeol, Dio, Tao, Kai, dan Sehun. Baik-baiklah dengan mereka.” Ucap Suho yang langsung disambut sorak seru Kai dan Sehun.

“Ah? Ne.

“Heee, ada apa dengan ekspresi wajahmu?!”

“Kau tidak senang bisa semobil dengan lelaki setampan kami eoh?” Tanya Kai dan Sehun berturut-turut.

Yoora memandang malas kedua saudara yang selalu terlihat kompak dalam mengganggunya itu, ia menghela nafasnya dan mendengus.

“Entahlah…”

“Yak, Suho-ya!” Xiumin mengingatkan Suho akan waktu yang mereka punya.

“Sudah, sudah! Cepat masuk ke mobil!”

Yoora dan ke-9 lelaki itu menurut, satu persatu dari mereka mulai masuk ke 2 mobil limousine yang sudah terparkir di halaman samping rumah mereka sedaritadi. Xiumin, Suho, Lay, Baekhyun, dan Chen masuk ke mobil limousine yang pertama. Sedangkan sisanya, Chanyeol, Dio, Tao, Kai, Sehun, dan Yoora masuk ke mobil limousine yang kedua.

Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah malam mereka itu, suasana di mobil pertama tampak hening, tak ada yang berbicara sama sekali. Xiumin dan Suho terlihat rajin membaca buku-buku yang mereka bawa dari rumah mereka, Lay terlihat sangat menikmati lagu yang ia putar di mp3-nya, sedangkan Chen, seperti biasa, asik bermain dengan Chloe tanpa membuat keributan.

Berbeda dari saudaranya yang lain, Baekhyun tampak melamun. Pandangannya lurus dan kosong. Jika Baekhyun sudah seperti itu, kakak-kakaknya termasuk adiknya, Chen, sudah sangat paham, Baekhyun pasti sedang menggunakan kekuatannya.

Yak, Yoora… bukankah kau seharusnya memanggil kami ‘Oppa’ eoh?

Aku setuju, Hyung! Mulai sekarang kau harus memanggil kami ‘Oppa’, arraseo?

Wah, pasti sangat menyenangkan bagimu! Kau tidak perlu lagi sungkan ataupun malu-malu dan sejenisnya dengan kami, kau kan sudah menjadi bagian dari keluarga kami, hehe.

Sehun oppa, oppa, sehun oppa, sehun oppa… hahah! Aku jadi geli sendiri.

Suara ketiga adiknya, Kai, Tao, dan Sehun terdengar begitu jelas di telinga Baekhyun, kecuali suara Chanyeol dan Dio yang sepertinya tidak membuka mulut mereka sama sekali saat ini. Yoora sudah jelas, ia tidak bisa mendengarnya. Kekuatan spesialnya itu tidak mampu menembus gadis itu. Membuatnya terkadang begitu frustasi.

Cih, ada apa dengan mereka? Apa mereka belum mengerti juga? Dia milikku!

Suara hati Chanyeol tiba-tiba terdengar oleh Baekhyun, membuat lensa kuning lelaki itu tiba-tiba menyala karenanya.

Hyung, saat ini kau pasti sedang berusaha mendengar suara kami, bukan? Kau juga pasti sudah mendengar suara Sehun dan Kai yang terus menggoda gadis yang kau sukai itu, kan? Hhh, Chanyeol sepertinya mulai merasa terganggu juga. Apa kau mendengar kata hatinya saat ini, Hyung? Ku harap kau tidak akan terluka bila mendengarnya…

Ucapan Dio yang memanas-manasi Baekhyun dalam hatinya itu sudah pasti terdengar jelas oleh lelaki yang dimaksudnya. Walaupun adiknya yang satu itu tidak mempunyai kekuatan yang sama untuk mendengar tanggapannya, ia yakin adiknya itu sudah mendapatkan jawabannya sendiri.

Hyung, apa yang kau sukai dari gadis manusia seperti Yoora? aku tidak habis pikir kau bisa jatuh cinta dengan gadis itu dengan mudahnya. Ayolah, Hyung! Dia hanya gadis biasa. Kau bisa mendapat seratus gadis yang lebih baik daripada gadis itu…

“Kau tidak berhak mengatur hidupku!”

“Tenangkan dirimu, Baekhyun-ah…” Lay menepuk-nepuk pundak Baekhyun.

“Siapapun yang sedang kau coba dengar itu tidak akan bisa mendengarmu kembali.”

Suho menyimpan buku yang tadi ia baca, lalu menatap Baekhyun yang terlihat mengepalkan tangannya.

“Jangan terlalu sering menggunakan kekuatanmu untuk hal yang tidak penting.”

“Suho benar, Baekhyun-ah.”,

“Dengan mengetahui isi hati dan pikiran seseorang, itu hanya akan membuatmu semakin lelah. Karena terkadang, apa yang mereka katakan tidak sesuai dengan apa yang ada di hati mereka. Itu sesuatu yang rumit, bukan?” ucap Xiumin yang masih membaca bukunya.

“Kau seharusnya mengirim anak itu ke kelas etika, Hyung! Dia benar-benar sudah kurang ajar padaku!” Baekhyun membalas tatapan Suho, lensa matanya lagi-lagi terlihat bercahaya.

Nugu? Dio?”

Lelaki yang sudah berusaha mengontrol emosinya itu tertawa paksa mendapati kakaknya yang seolah tak tahu siapa yang dimaksudnya itu,

“Siapa lagi kalau bukan dia, Hyung?! Apakah kau mau menunggu sampai aku yang menghajar wajahnya lebih dulu huh?!”

“Memangnya apa yang dia katakan?” Suho menegakkan posisi duduknya, tangannya mengisyaratkan Chen untuk mengambil sebotol red wine beserta cangkir kecilnya yang sudah tersedia di mobil limousine ini. Chen yang paham dengan isyarat kakaknya itu pun mau tidak mau menurutinya.

“Tidak bisakah kau langsung saja menyuruhnya mengikuti kelas etika?!”

“Tidak bisa.”

Anak kedua keluarga Lee itu pun menuangkan red wine pemberian Chen ke dalam cangkirnya dan meneguknya dalam satu teguk.

“Dengar, Baekhyun-ah. Meskipun aku tidak tahu apa yang dikatakan Dio padamu, yang pasti itu semua tidak lebih karena dia menyayangimu, bukan bermaksud kurang ajar atau semacamnya.”

“Tapi…”

“Dia menyayangi keluarga ini. Tapi terkadang keluarga ini lebih sering salah paham akan dirinya hanya karena dia memiliki sikap yang seperti itu. Dia hanya tak bisa mengungkapkan segalanya pada kita seperti orang lain, dia memiliki caranya sendiri yang seringkali tak bisa dipahami dengan baik oleh kita, Baekhyun-ah. Dia menyayangi kita.” Jelas Suho yang membuat Baekhyun terdiam seribu bahasa.

“Yup! Kita sudah sampai!” Xiumin memasukkan buku yang sudah ia baca setengahnya itu ke dalam tas sesaat setelah mobil yang mereka tumpangi itu berhenti di halaman depan sekolah mereka.

“Bersikap baiklah padanya, Baekhyun-ah.” Ucap Suho mengingatkan.

Ke-5 lelaki di dalam mobil limousine yang pertama itu pun keluar bersamaan dengan keluarnya seorang gadis dan ke-5 lelaki lainnya yeng keluar dari mobil limousine yang kedua. Lensa kuning Baekhyun yang menyala bertemu dengan mata dingin milik Dio, adiknya itu tersenyum, tapi ia tak membalasnya selain dengan tatapan tajam yang menusuk.

Aku memang selalu salah di mata mereka….

Gadis itu memandang takjub bangunan besar di depan matanya. Sebuah bangunan besar yang menjulang tinggi bernuansakan eropa tersebut seperti berhasil menghipnotisnya.

“Selamat datang di sekolah malam milik keluarga kami!” ucap Lay yang langsung merangkul Yoora.

“Yak, Hyung! Apa kau memiliki kekuatan yang sama seperti Baekhyun Hyung eoh?! Seharusnya aku yang mengatakan itu padanya!” Sehun tidak terima kata-kata yang sudah dipersiapkannya itu lebih dulu diucapkan kakaknya.

“Yak, Sehun-ah! Itu salahmu sendiri karena tidak langsung mengatakan itu padanya!”

Daebak!” ucap Yoora yang masih terkagum-kagum dengan bangunan yang mulai saat ini akan menjadi tempatnya untuk belajar ―meskipun tidak tahu belajar apa―, sekolah malam.

“Kau menyukainya?” tanya Xiumin sambil menyunggingkan senyum.

Yoora menatapnya dan mengangguk.

Teng… teng… teng… lonceng yang berbunyi seperti yang ada di film Cinderella itu menandakan jam pelajaran di sekolah itu akan dimulai. Mereka semua pun bergegas masuk ke dalam bangunan sekolah mereka untuk mengikuti pelajaran sebelum terlambat.

Sekolah malam itu adalah milik Pace Lee, vampire western yang tak lain adalah ayah dari ke-10 lelaki itu, yang telah hidup selama beberapa abad dan suka berkelana keliling dunia termasuk wilayah Asia.

Sekolah malam itu memiliki 3 lantai dengan 1 ruang bawah tanah, memiliki 24 ruangan kelas yang masing-masingnya memiliki ukuran sangat luas dengan langit-langit yang sangat tinggi. 24 ruangan kelas itu terdiri dari 3 ruangan untuk vampire kelas A yang letaknya di lantai paling atas, 7 ruangan untuk vampire kelas B yang 4 ruangannya terletak di lantai 2 dan 3 ruangan lainnya di lantai 1―bisa disebut juga lantai dasar―, 5 ruangan untuk kelas etika di lantai 1, dan sisanya untuk vampire kelas C yang terletak di ruang bawah tanah.

Selain ruang kelas, sekolah malam itu juga mempunyai banyak fasilitas yang lebih dari sekolah-sekolah pada umumnya. Sekolah malam itu menyediakan fasilitas ruang makan extra luas yang tingkat kenyamanannya melebihi hotel bintang lima dengan berbagai macam menu spesial, para vampire yang bersekolah di sana tidak perlu membayar apa-apa lagi karena semuanya sudah termasuk biaya yang mereka keluarkan saat pertama masuk ke sekolah itu. Memiliki ruangan olahraga dan ruangan gym yang bersebelahan, memiliki ruangan musik yang lengkap dengan peralatannya, memiliki ruang seni yang bersebelahan dengan ruang latihan kegiatan ekstrakurikuler, memiliki ruangan pub dan karaoke yang biasa dijadikan tempat hiburan para vampire sebelum dan sesudah jam pelajaran. Tak lupa, sekolah itu juga memiliki 4 kolam renang indoor dan 6 kolam renang outdoor yang luasnya tak diragukan lagi.

Yoora terpaku untuk beberapa saat, melihat ke-10 lelaki itu berlarian ke kelas mereka masing-masing. Sementara dirinya? Ke kelas mana dia harus berlari? Dia sama sekali tidak tahu.

BREG!

Seseorang menarik lengannya hingga dirinya masuk ke dalam sebuah ruangan kelas dengan papan nama bertuliskan “B Class – 2”. Baekhyun, lelaki itulah yang menariknya masuk ke ruang kelas itu.

Lagi-lagi ia terpaku saat semua orang termasuk guru yang ada di ruang kelas itu seketika berdiri membungkuk memberi hormat pada mereka sesaat setelah mereka berdua memasuki ruangan itu. Tidak, bukan pada mereka, pada Baekhyun saja lebih tepatnya.

“Apa yang membuat Anda dan Saudara Anda yang lainnya terlambat, Baekhyun-ssi?” tanya guru itu.

‘Saudara anda yang lainnya’? Yoora mengedarkan pandangannya dan mendapati Chanyeol dan Dio yang duduk di barisan bagian belakang. Ah, ternyata mereka yang dimaksud guru itu.

“Kau tidak akan mendapatkan jawaban yang kau inginkan dari saudara kami yang itu, Seonsaengnim.” Ujar Chanyeol dengan mata yang terus memandang ke arah Baekhyun dan Yoora.

Benar juga, pikir Yoora. Lelaki yang saat ini berdiri di sampingnya itu paling tidak suka berumit-rumit menjawab pertanyaan dari orang lain.

“Ye? Kalau begitu saya mohon maaf. Anda boleh duduk, Baekhyun-ssi.” Ucap guru itu dengan sangat sopan, padahal usia guru itu sudah jelas jauh di atas Baekhyun.

Yoora tak beranjak dari tempatnya berdiri saat mendengar guru itu hanya mempersilakan Baekhyun untuk duduk, tapi lagi-lagi lelaki itu menarik lengannya secara paksa.

Wae?! Apa yang kau tunggu?!”

Jhweoseonghamnida!

♥♥♥

Tak ada yang berbeda saat pelajaran berlangsung, suasananya terasa sama saja seperti di sekolah-sekolah biasa. Siswa/i terlihat begitu serius mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung, tak terkecuali ke-10 lelaki dari keluarga Lee. Meskipun terkadang beberapa dari mereka bersikap seenaknya saja dan malas-malasan saat belajar. Seperti kedua lelaki yang duduk di sebelah kanan kiri Yoora saat ini, ya, Baekhyun dan Chanyeol. Kedua lelaki itu terlihat menidurkan kepala mereka di atas meja dan terlelap.

Yoora mengamati lekuk wajah kedua lelaki itu yang sedang tertidur dengan lelapnya, meskipun dalam keadaan tertidur seperti ini, keduanya tetap memperlihatkan aura ketampanan mereka masing-masing.

Gadis itu menidurkan kepalanya di mejanya dan memandang lelaki yang ada di sebelah kirinya seraya tersenyum. Chanyeol yang tertidur dengan memakai headphone itu sama sekali tak terlihat menakutkan, wajah tampannya terlihat sangat damai. Yoora merubah posisi kepalanya menghadap ke sebelah kanan dan memandangi setiap inchi wajah Baekhyun. Sama seperti Chanyeol, lelaki itu tak lagi terlihat seperti monster berdarah dingin yang ia lihat siang kemarin. Saat sedang asik memandangi wajah tampan Baekhyun, ia seketika teringat sesuatu, wajahnya yang putih saat itu juga langsung memerah.

“Anggap saja ini, sebagai tawaran kencan…”

….

“Eotte?”

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!! Ingin rasanya ia berteriak saat itu juga. Kenapa ia bisa begitu bodoh dengan tidak menjawab ajakan Baekhyun saat lelaki itu mengajaknya untuk berkencan?! Aaaaaaaaa, gadis ini pasti akan menjadi gila karenanya.

Pabboya! Pabbo! Yoora Pabbo! Pabbo!” gadis itu kini menepuk-nepuk kepalanya sendiri.

“Ada apa, Yoora-ssi?” tanya guru itu yang menghentikan penjelasannya, otomatis semua mata menatap ke arah gadis itu, tak terkecuali mata dingin Dio.

“Ye? Tidak ada apa-apa, Seonsaengnim! Jhweoseonghamnida!

“Cih, trouble maker.” Cibir Dio pada Yoora yang seketika membuat pandangan gadis itu tertuju padanya.

Jhweoseonghaeyo, Dio-ssi.

Kringgg!.. Kringg!.. Kring!.. akhirnya lonceng yang nyaring itu berbunyi 3 kali, menandakan berakhirnya pelajaran pertama dan tanda dimulainya jam istirahat.

“Kelas dicukupkan sampai di sini.”

“Ye! Ghamsahamnida!” ucap seluruh siswa/i yang ada di kelas itu secara serempak pada guru mereka sebelum akhirnya bubar keluar kelas, meninggalkan anggota keluarga Lee yang tidak selevel dengan mereka.

Bunyi lonceng itu membangunkan Baekhyun dari tidurnya, namun tidak dengan Chanyeol. Lelaki itu masih tetap terlelap dalam tidurnya, entah sangat lelah atau bagaimana, mengingat dirinya sudah menghadapi banyak masalah sejak awal Yoora datang ke keluarganya.

“Apa kau sudah memanggil Sehun, Kai, dan Tao dengan panggilan ‘Oppa’?” tanya Baekhyun yang gagal menyembunyikan kecemburuannya.

Gadis itu tersenyum geli,

Wae? Apa kau juga ingin ku panggil ‘Oppa’ eoh? Baekhyun-ssi?”

Aniya!” Lelaki itu langsung menyembunyikan wajahnya, menghadap ke arah lain. Tingkahnya sungguh membuat Yoora gemas dan tak bisa berhenti tertawa.

“Ah…” Yoora memegangi perutnya yang terasa perih, mungkin karena semalam ia memilih untuk tidak ikut makan malam dan malah ikut pergi bersama Baekhyun.

“Baekhyun-ssi…

Wae?” Lelaki yang dipanggil namanya itu menyahut, namun tidak memalingkan wajahnya ke arah gadis yang memanggilnya.

“Bisakah kau mengantarku ke kantin yang ada di sini? Cacing yang ada di perutku sepertinya mulai mengamuk karena tidak ku beri makan sampai saat ini.” ucap Yoora sembari menggigiti bibirnya menahan perih perutnya.

Shireo!” tolak Baekhyun cepat, sepertinya ia tidak terlalu serius menanggapi permintaan Yoora.

“Aiii, waeyo?! Aku seperti ini juga tidak lain karena dirimu!”

“Tidak ada yang seperti itu! Itu salahmu sendiri kenapa malah menolak untuk makan malam bersama yang lainnya.”

“Huh? Kau benar-benar!”

Baekhyun memasukkan kepalanya ke dalam tas tanpa melirik ke arah Yoora sedikitpun dan malah cengengesan di dalam sana.

“Pergilah bersama Dio dan mintalah dia untuk memasakkan sesuatu untukmu di sana, masakannya lebih enak daripada masakan koki di kantin sekolah ini.”

Dio yang merasa namanya disebut-sebut itu pun menoleh ke arah dua orang itu dengan tatapan aneh,

“Kenapa harus aku?”

“Bukankah sudah seharusnya sebagai seorang adik yang baik kau menuruti perintah kakakmu? Kau juga tidak mau kan kalau selamanya aku memandangmu sebelah mata?”

Dio terlihat menundukkan kepalanya sesaat, matanya berubah sendu. Sedetik kemudian, ia bangkit dari duduknya dan menarik Yoora keluar kelas menuju pantry kecil yang sepi tanpa seorangpun di sana.

“Kenapa kita tidak ke kantin saja?” tanya Yoora.

“Terlalu banyak orang di sana, aku juga tidak akan bisa memasak apapun untukmu jika di dapur kantin.”

Yoora mengangguk mengerti. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat senang bisa sedekat ini dengan Dio. Walaupun masih belum sepenuhnya dekat. Rasanya seperti mustahil saja kalau ia bisa dekat dengan lelaki dingin yang satu ini.

“Duduklah, jika kau terus berdiri seperti itu, itu hanya akan membuatku risih!” titah Dio.

Gadis itu menurut, ia duduk di meja makan kecil yang ada di pantry itu sambil terus memperhatikan Dio yang mulai serius memasakkan sesuatu untuknya. 1 menit, 2 menit, 3 menit, hingga 10 menit pun berlalu. Akhirnya masakan Dio pun selesai dibuat, lelaki itu lalu memberikannya pada Yoora.

“Cepatlah makan! Selagi kau makan, aku akan membereskan dapur yang berantakan ini.”

“Kau tidak akan ikut makan bersamaku?” tanya Yoora dengan nada menawarkan. Senyumnya mengembang.

“Jangan bodoh, aku membuatnya untukmu.”

Lelaki itu membiarkan Yoora menyantap makanannya sendirian sementara ia sibuk membersihkan kembali dapur yang sudah ia pakai untuk memasak itu. Aneh, Dio merasakan keanehan di dalam dirinya saat melihat senyum gadis itu. Ada apa? Apa yang terjadi?

“Yoora…” panggil Dio.

Ne?” gadis itu menyahut, namun masih tetap menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

“Apa aku juga salah di matamu?”

“Ye?”

Hening sejenak, untuk sementara hanya terdengar suara air dari keran yang terbuka.

Ani, lupakan saja.”

“Apa kau sudah selesai?” tanya Dio mengalihkan pembicaraan. Lelaki itu masih tetap pada posisinya, membelakangi Yoora.

Chakkaman!” 1 suap, 2 suap, 3 suap. Yoora akhirnya dapat menghabiskan sisa makannya dalam 3 suap ukuran besar, meskipun harus sedikit memaksakan mulutnya yang kecil itu.

Gwenchana, Dio-ssi. Biar aku saja yang mencucinya.” Ucap Yoora dengan mulut yang masih dipenuhi makanan saat Dio hendak mengambil piring bekas makannya.

“Terimakasih sudah memasakkan sesuatu untukku. Mungkin jika dirimu tak ada, aku akan mati kelaparan di kelas.” Yoora tersenyum polos sambil membawa piring kotor itu ke tempat cucian piring.

Sambil bersenandung tak jelas, Yoora mencuci piring dan alat-alat masak lain yang tadi digunakan Dio. Jemari lentiknya ia biarkan terkena air sabun yang sebenarnya mampu merusak kulit halusnya. Gadis itu seketika terkejut saat menyadari ada beberapa tetes darah di tempat Dio memasak tadi yang berujung di tempat lelaki itu berdiri saat ini.

“Dio-ssi…

Lelaki itu menoleh,

“Ada apa?”,

“Jangan bilang kau mengkhawatirkan ini.” ia menunjukkan jari telunjuknya yang berdarah, sementara itu darahnya terlihat terus menetes tanpa henti.

“Kemarilah!” Yoora menarik tangan Dio, raut wajahnya menunjukkan bahwa dirinya benar-benar mengkhawatirkan lelaki itu.

“Ah jinjja! Tak ku sangka ternyata seorang vampire juga bisa terluka seperti ini.”

Yoora membantu Dio membersihkan lukanya dengan air keran, luka di telunjuk Dio itu seperti luka tersayat pisau. Lelaki ini pasti tidak hati-hati saat memotong bahan makanan tadi.

“Apa mungkin seorang vampire bisa kekurangan vitamin K?”

Saat gadis itu tak henti-hentinya mengoceh sambil membersihkan luka Dio, sang empunya jari malah terlihat memandangi wajah gadis itu lagi-lagi dengan tatapan sendu. Apa perasaan seperti ini yang dirasakan Chanyeol dan Baekhyun saat sedang bersama Yoora? Perasaan aneh yang rasanya tak mampu jika hanya dijelaskan dengan kata-kata. Rasanya seperti, kau ingin memiliki barang limited edition yang ada di toko namun tak punya cukup uang untuk benar-benar memilikinya. Ya, kira-kira seperti itu.

Gwenchana…

“Ssstt… chakkaman.” Gadis itu melepaskan ikatan dasi kupu-kupunya dan membiarkan kerah seragamnya itu terbuka sedikit lebih longgar. Ia kemudian menggunakan dasinya itu untuk mengikat jari Dio yang terluka agar pendarahannya berhenti.

“Kau siswi baru di sekolah ini, tapi sudah melanggar peraturan karena tidak disiplin dalam berseragam. Sebaiknya kau pakai lagi dasimu ini.”

Aniya! Gwenchana! Jeongmalyeo.” Ucap Yoora berusaha meyakinkan Dio.

Dio membalikkan tubuhnya membelakangi gadis itu,

“Cepatlah bersihkan semuanya. Pelajaran terakhir sebentar lagi akan dimulai.” Ujar Dio dengan nada bersahabat, tidak dengan nada pencari gara-gara lagi.

Gadis itu tersenyum senang, lalu tanpa menjawab, ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Ya, tentu saja mencuci piring, apa lagi?

Tubuh dua orang itu kini terlihat saling membelakangi meski sesekali mencoba untuk saling melirik satu sama lain. Di tengah suasana seperti itu, seorang lelaki bertubuh tinggi dengan lensa mata merah menyala berjalan masuk ke ruangan itu tanpa menimbulkan suara. Dengan tatapannya yang tajam, lelaki itu menyuruh Dio untuk keluar dari ruangan pantry, meninggalkannya berdua saja dengan gadis itu. Dio pun terpaksa menurut, dengan berat hati, ia meninggalkan Yoora untuk lelaki itu.

“Dio-ssi, bisakah kau membantuku mengeringkan piring-piring ini?” tanya Yoora pada Dio. Tak menyadari kalau lelaki yang dimaksudnya itu sudah tak lagi bersamanya.

“Haruskah aku yang membantumu?”

Gadis itu membulatkan matanya, menyadari kalau suara itu bukanlah suara Dio. Suara itu terdengar seperti suara…..

“Chanyeol-ssi… apa yang akan kau lakukan?!” tanya gadis itu ketakutan setelah mendapati lelaki yang sedang berdiri di belakangnya itu adalah Chanyeol, bukan Dio.

Chanyeol yang saat ini sedang berdiri di hadapannya itu adalah Chanyeol yang menatapnya dengan tatapan yang sama seperti saat pertama kali mereka bertemu, bukan Chanyeol yang bersikap baik padanya beberapa jam kemudian setelah itu.

Yoora terus mencoba untuk menghindar dari lelaki yang sepertinya sedang haus darah itu, ia mengambil langkah mundur namun Chanyeol terus memojokkannya. Lelaki itu akhirnya menghimpit tubuhnya ke dinding, mengunci tubuh kecilnya, dan menyeringai memperlihatkan taring tajam khas seorang vampire.

“Jangan lakukan itu padaku, Chanyeol-ssi! Jebal!” Yoora menangis saat itu juga, demi apapun, ia benar-benar sangat ketakutan. Bola mata Chanyeol yang terlihat merah seperti darah itu semakin membuat bulu kuduknya berdiri.

Jebalyo!” tes! Setetes airmata Yoora jatuh mengenai punggung tangan Chanyeol. Lelaki itu menjilatnya dengan penuh gairah.

“Diamlah… aku tidak akan bersikap kasar. Kau hanya perlu menyimpan teriakanmu yang mengganggu itu.”

Lelaki itu membuka kancing seragam Yoora satu persatu, mencoba memperlihatkan daerah leher dan pundak Yoora yang putih dan seksi, membuat nafsu di dalam dirinya semakin bergejolak. Ia menyingkapkan helaian rambut Yoora yang menghalangi pemandangan indah itu dengan tangan dinginnya.

“Jangan! Jangan! Chanyeol-ssi!

PLAK! Tangan dingin Chanyeol berhasil mendarat dengan keras di pipi putih mulus Yoora, membuat sang empunya terlihat meringis kesakitan.

“Bukankah sudah ku bilang untuk menyimpan teriakanmu?! Itu sangat menggangguku!” bentaknya.

Mata yang sudah basah sempurna itu menatap mata Chanyeol meski Chanyeol tak membalas tatapannya dan terus melanjutkan aksinya. Kenapa lelaki itu bisa berubah jadi sekejam ini? ke mana hilangnya lelaki yang pertama kali mengajaknya ke taman belakang rumahnya? Lelaki yang menatap matanya dalam-dalam dan hampir menjadi first kiss-nya itu, ke mana dia sekarang?

“YAK! CHANYEOL LEE!” Lelaki yang tubuhnya sedikit lebih kecil daripada Chanyeol itu berhasil menarik bagian belakang seragam Chanyeol dengan kasar, mencegah Chanyeol menancapkan taringnya di leher Yoora. Lensa kuning terangnya menyala menandingi terangnya lensa merah milik Chanyeol.

“B-b-baekhyun…ssi.” panggil Yoora dengan bibir gemetar.

“Pergilah!”

“Kalau kau melangkahkan kakimu selangkah saja, itu berarti kau tidak patuh padaku!” ucap Chanyeol dengan nada mengancam.

“Diam kau!” bentak Baekhyun pada Chanyeol, lelaki itu masih menarik kerah adiknya kuat-kuat.

“APA YANG KAU TUNGGU?! CEPAT KELUAR!” teriak Baekhyun saat melihat Yoora masih berdiri dengan tubuh gemetar ketakutan. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, gadis itu berlari keluar menjauh dari mereka.

“KAU BENAR-BENAR MEMALUKAN!”

PLAK! PLAK!

Baekhyun menampar pipi Chanyeol sekeras-kerasnya, mencoba membalas sakit yang Yoora rasakan saat Chanyeol menamparnya tadi.

“APA URUSANMU, HYUNG?! DIA MILIKKU! AKU BERHAK MELAKUKAN APAPUN ATAS DIRINYA!” balas Chanyeol dengan suara yang tak kalah kerasnya. Urat-urat di leher mereka sepertinya mulai menegang.

“DIA BUKAN MILIKMU, DAN TIDAK AKAN PERNAH MENJADI MILIKMU!”

Chanyeol tertawa kecil, meremehkan.

“Lalu dia milik siapa? Milikmu? Kau berharap dia menjadi milikmu? Hah! Yang benar saja!”

Tangan Baekhyun meremas kuat kerah Chanyeol, lalu melepaskannya beberapa detik kemudian.

“Jangan lakukan hal seperti ini lagi. Jangan buat dia jauh semakin jauh lagi.”

Hyung…” panggilan Chanyeol itu membuat langkah Baekhyun yang hendak keluar dari pantry terhenti sesaat. Lelaki itu hanya bisa menatap punggung kakaknya.

“Bukankah pada akhirnya kau akan menjadi gila sepertiku juga saat bersamanya?”

“…..”

“Jangan mencoba melindunginya sejak awal kalau pada akhirnya kau pun akan melakukan hal yang sama, menyakitinya, dengan lebih sakit lagi.” ucap Chanyeol yang seketika membuat Baekhyun membisu.

♥♥♥

 

“Jangan mencoba melindunginya sejak awal kalau pada akhirnya kau pun akan melakukan hal yang sama, menyakitinya, dengan lebih sakit lagi.”

Baekhyun berjalan di koridor sekolahnya, hendak kembali ke kelas setelah menghabiskan tenaga menghadapi Chanyeol yang haus akan darah Yoora. Siswa/i lain terus memandangnya tanpa berkata apapun, baik di mulut maupun di dalam hati mereka. Tak lain karena mereka sudah tahu akan kekuatan spesial yang dimiliki anak ke-4 keluarga Lee itu yang bisa mendengar kata hati dan pikiran orang di sekitarnya.

Gwenchana… Chanyeol hanya hilang kendali untuk sesaat, ku pikir dia tidak bermaksud menyakitimu. Gwenchana….” ucap Suho menenangkan Yoora.

Saat ini, sepasang mata Baekhyun dapat melihat jelas pemandangan menyakitkan apa yang ada di hadapannya. Suho sedang berusaha menenangkan Yoora yang masih terlihat ketakutan dalam sebuah pelukan hangat. Gadis itu terlihat menangis di dada Suho dengan tangan gemetar yang memegangi ujung baju seragam lelaki itu.

Hyung, Neo gwenchana?

Tao menyadarkan Baekhyun dari kesakitan itu.

“Ye? Ah, gwenchana.

“Yoora, Neo gwenchana?” tanya Baekhyun, pertanyaan itu sepertinya berasal dari dalam lubuk hatinya.

Gadis itu terlihat semakin menenggelamkan wajahnya di dada Suho, tak menjawab pertanyaan lelaki yang menolongnya, Baekhyun.

“Dia sepertinya masih merasa ketakutan, Baekhyun-ah. Pahamilah.” Ucap anak kedua keluarga Lee itu yang masih terlihat memeluk Yoora.

Hyung… Neo jinjja gwenchana? Apa tidak apa-apa bagimu melihat gadis yang kau cintai menangis, berusaha menenangkan dirinya di pelukan lelaki lain? Mianhae, Hyung. Seharusnya aku tidak meninggalkannya saat Chanyeol Hyung menyuruhku meninggalkannya. Tidak, seharusnya bukan aku yang menemaninya ke tempat itu. Jika bukan aku, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Mian, jeongmal mianhae, Hyung.

Suara batin Dio terdengar oleh telinga Baekhyun, lelaki itu lalu mendapati mata dingin adiknya yang menatapnya dengan begitu sendu. Dio, seperti benar-benar menyesal atas kejadian ini.

“Sehun-ah, bisakah kau mengantar Yoora pulang ke rumah? Dia sepertinya tidak akan bisa mengikuti pelajaran terakhir dengan baik dalam keadaan seperti ini.”

“Aku? Kenapa harus aku? Kau mau membiarkan adikmu yang tampan ini ketinggalan pelajaran, eoh Hyung?” ucap Sehun berbasa-basi yang secara tidak langsung ingin menolak perintah yang Suho berikan padanya.

“Sehun-ah, aku tahu. Kau tidak pernah benar-benar serius belajar bukan? Haruskah aku mengadukan hal itu pada ayah?” Suho mengancam adik bungsunya itu dengan nada lembut dan dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.

“Yak! Chakkaman, Hyung! Siapa yang mengatakan hal itu padamu?”

Kai tersenyum, menahan tawanya,

Mianhae, Sehun-ah.

“Ah, Hyung! Aku tidak mau berkompromi lagi denganmu.” Sehun mengerucutkan bibirnya, menunjukkan kekesalannya pada Kai dengan sedikit aegyo.

“Yak, Sehun-ah! Jadi, kau mau mengantarnya pulang ke rumah atau membiarkan aku mengantarmu kepada ayah?”

“Yaaaaa, kenapa kau melakukan ini padaku, Hyung?

“Sekali lagi kau berbasa-basi, aku akan benar-benar mengadukan hal itu pada ayah.” Ancam Suho masih dengan penuh kesabaran.

Hyung…” panggil Baekhyun yang menyela jawaban Sehun.

“Ada apa, Baekhyun-ah?

“Bisakah aku saja yang mengantarnya pulang?” tanya lelaki yang masih berdiri, menahan kesakitannya itu.

“Tidak bisa, kau masih harus banyak belajar untuk masuk kelas A. Kau tidak mau kan Chen naik tingkat lebih dulu daripada dirimu? Dia sudah ada di B Class – 1, selangkah lagi untuk menjadikan dirinya vampire kelas A.” Ujar Suho yang menolak permintaan Baekhyun dengan cepat, membuat adik ke-2 nya itu menundukkan kepalanya, kecewa.

Eotte, Sehun-ah?

Sehun mendengus kesal, namun tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima perintah kakak yang paling dihormatinya itu.

♥♥♥

“Jangan lakukan itu padaku, Chanyeol-ssi! Jebal!”

“Jebalyo!”

“Diamlah… aku tidak akan bersikap kasar. Kau hanya perlu menyimpan teriakanmu yang mengganggu itu.”

…..

“Jangan! Jangan! Chanyeol-ssi!”

PLAK!

“Bukankah sudah ku bilang untuk menyimpan teriakanmu?! Itu sangat menggangguku!”

Yoora mendekap erat tubuh Sehun yang berada di sampingnya, bayang-bayang kejadian di pantry tadi seperti benar-benar menghantuinya. Sehun yang awalnya merasa sedikit risih harus melayani gadis manusia itu, perlahan-lahan mulai merasa iba saat kedua matanya melihat tangan gadis itu yang bergemetar hebat saat memegangi seragam yang ia kenakan.

Saat ini, Sehun sedang menemani Yoora di dalam mobil limousine yang akan mengantarkan mereka pulang ke rumah mereka. Kejadian di pantry tadi membuat kakak-kakaknya sibuk mengkhawatirkan gadis itu. Kini, ia pun merasakan kekhawatiran yang sama, ya, ia mengkhawatirkan gadis yang hingga detik ini masih memeluknya erat dari samping, ya, Yoora.

“Melihatmu tak berdaya seperti ini agak sedikit membuatku kecewa. Entah kenapa.” Sehun mulai mengoceh sendiri.

“Mungkin karena aku tidak bisa menggodamu lagi jika keadaanmu se-mengkhawatirkan ini.”

Sehun mendengus,

“Huh… padahal, menggoda gadis sepertimu itu sangat mengasyikan untukku. Semacam hiburan utama, atau apalah itu.”

“Yoora-ya… kau tenang saja, ‘Oppa’ akan menggodamu lagi jika kau sudah baikan. Hahaha.” Ucap Sehun merasa geli dengan apa yang ia katakan sendiri.

Setelah sampai di rumah mereka, Sehun dengan sabar menuntun Yoora ke kamarnya yang ada di lantai 3. Baru kali ini Sehun bisa sangat perhatian pada orang lain selain kakak-kakaknya. Gadis itu, adalah yang pertama yang mampu memusatkan seluruh perhatiannya.

“Istirahatlah.” Ucap Sehun pada Yoora sesaat setelah dirinya menyelimuti tubuh kecil gadis itu.

OUKKH!

Tenggorokan lelaki itu tiba-tiba terasa tercekat, rasanya seperti sesuatu yang kuat mencekik lehermu. Lensa matanya yang berwarna biru gelap itu seketika terlihat seperti lampu yang dimatikan lalu beberapa detik kemudian dinyalakan kembali. Terang-gelap, terang-gelap, mati-nyala, mati-nyala, seperti itu.

Sehun menyentuh lehernya sendiri, haus, tenggorokannya terasa sangat kering. Dengan sekuat tenaga, ia menjauhkan dirinya dari Yoora yang terlelap. Langkah kakinya yang terkadang terlihat oleng itu membawanya ke sebuah ruangan yang biasa digunakan keluarganya sebagai dapur mereka.

Lelaki itu mengambil toples dari freezer lemari pendingin yang ada di ruangan itu, membukanya dan mengambil sebutir pil berwarna merah seperti darah. Ia lalu menuangkan air ke dalam gelasnya dan memasukkan pil merah tersebut hingga larut, merubah warna air yang semula terlihat bening menjadi merah gelap, persis seperti darah asli.

OUKKH! OUKKH!

Rasa haus itu semakin mencekiknya. Sebelum matanya berubah menjadi terang sempurna, ia harus menghilangkan dahaga yang menyiksanya. Tanpa ba-bi-bu lagi, ia meneguk larutan berwarna merah tersebut sampai tak tersisa setetespun.

Pil merah itu dibuat oleh Xiumin dari hasil eksperimennya seperempat abad yang lalu. Larutan yang dihasilkannya memang terlihat seperti darah, namun rasanya tentu sangatlah berbeda. Larutan itu bisa menghilangkan rasa haus, namun tidak pernah bisa benar-benar menghilangkannya. Mungkin hanya bisa semacam menunda rasa haus itu sedikit lebih lama.

PERGI! MENJAUHLAH DARIKU!

LEPASKAN! LEPASKAN AKU!

APA YANG AKAN KAU LAKUKAN?!

Teriakan seorang gadis dari jauh itu terdengar sampai ke setiap sudut ruangan di rumah yang sepi itu. Teriakan seorang gadis? Tidak salah lagi! Itu adalah teriakan gadis yang Sehun tinggalkan sendirian di kamarnya, Yoora. Sehun yang sedikit terlambat menyadari hal itu kemudian berlari secepat mungkin menuju kamar Yoora di lantai 3, namun saat kakinya memasuki kamar gadis itu, gadis itu tak lagi ada di kamarnya.

“Yak! Yak! Ke mana dia?!”

♥♥♥

Di tempat lain, Chanyeol terlihat mengangkat tubuh Yoora yang terus berontak dan membawanya ke tepi sebuah kolam renang besar yang ada di samping kanan rumah mereka.

“Chanyeol-ssi… kenapa kau melakukan ini padaku?” tanya Yoora yang berlinang airmata.

“Apa lagi? sebagai gadis milikku, kau sama sekali tidak patuh padaku!”,

“Dan ini, adalah hukuman yang pantas bagi gadis yang tidak patuh.” Ucap Chanyeol sebelum akhirnya melempar tubuh gadis ‘miliknya’ itu ke kolam renang yang penuh berisi air.

Dingin. Rasanya seperti air es sedang menusuk pori-pori kulitmu.

“Chanyeol-ssi!

BLURP!

“Tolong ak…”

BLURP!

“Aku tidak bisa…”

BLURP!

“…berenang.”

Gadis itu merasakan seluruh tubuhnya membeku seketika saat tubuh kecilnya tenggelam di air yang sangat dingin itu. Ia tak bisa lagi merasakan detak jantungnya ataupun gerakan kaki dan tangannya tatkala ia tenggelam semakin dalam. Ia mulai, mati rasa.

Sepasang tangan lembut nan dingin berhasil meraihnya, merangkulnya ke dalam pelukan yang menenangkan menuju kematian. Seberkas cahaya terang akhirnya membuatnya memejamkan mata dalam ketidaksadaran.

“Kenapa kau tiba-tiba menjadi seperti ini?”

“Chanyeol-ssi!”

“Yoora! bisa kau dengar aku? Jawab aku!”

“Katakan sesuatu agar diriku bisa sedikit tenang!” lelaki yang menyelamatkan Yoora dari kematian itu terus berusaha untuk membuatnya sadar. Lelaki itu sudah mengerahkan usahanya dengan melakukan CPR untuk membantu jantung gadis itu agar kembali berdetak dan kembali memompa darah ke seluruh tubuhnya.

“B-Baek…hyun-ssi.

Lelaki yang merasa namanya disebut itu memperlihatkan senyuman bahagianya setelah benar-benar merasa hampir mati karena mengkhawatirkan gadis yang ada dalam lingkaran tangannya itu. Ya, Baekhyun lah yang menyelamatkan dan memberikan Yoora kehangatan dari dinginnya air kolam renang mereka.

Mian… mianhae… jeongmal mianhae, Yoora. Aku seharusnya bisa lebih menjagamu. Mian.” Lelaki itu menitikkan airmatanya, membasahi pipi Yoora yang berada dibawahnya.

Mianhae… untuk meninggalkanmu sendirian, untuk tidak pernah mengkhawatirkanmu, untuk membawamu ke dalam kesulitan seperti ini. Jeongmal mianhae.

Baekhyun menggenggam tangan gadis itu dan mengecupnya beberapa kali dengan airmata yang tak henti-hentinya keluar dari pelupuk matanya.

“Kenapa kau selalu menyelamatkanku?” tanya Yoora yang baru benar-benar sadar dengan suara serak dan lirih. Matanya yang terlihat begitu lelah mencoba menatap mata Baekhyun.

Lelaki yang ditatapnya itu tak menjawab. Dalam kebisuan, lelaki itu mengangkat tubuh lemah Yoora, membawanya ke kamar untuk membiarkannya beristirahat, tanpa mengatakan apapun. Ia membaringkan tubuh Yoora di atas kasur dan menyelimutinya.

BRUK!

“Baekhyun-ssi! Gwenchanayo?!

Baekhyun terduduk lemas di pinggir kasur gadis itu. Tangannya yang gemetar terlihat meremas selimut yang menutupi tubuh Yoora kuat-kuat. Tubuh Yoora terasa terlalu lemah untuk membantu Baekhyun bangkit hingga dirinya hanya bisa memandang lelaki itu khawatir.

“Hhh….hhh… Baekhyun-ssi…. apa yang akan kau lakukan?” mata Yoora membesar seketika saat menyadari Baekhyun mulai menaiki kasurnya dengan tubuh gemetar dan menindih tubuhnya. Terang, lensa mata lelaki itu terlihat begitu terang. Bibirnya yang gemetar memperlihatkan gigi taringnya yang sangat tajam, yang siap menembus pembuluh darah di leher gadis yang saat ini tengah berbaring di bawahnya itu.

Lelaki itu mengunci tubuh Yoora dengan kedua tangannya. Perlahan tapi pasti, kepala lelaki itu bergerak mendekati wajah dan sedetik kemudian beralih ke leher putih gadis itu.

Mianhae, Yoora. Aku sudah tak tahan lagi…”

Mata Yoora membulat sempurna tatkala taring tajam milik Baekhyun berhasil menusuk kulit lehernya dan merobek pembuluh darahnya. Tangannya yang gemetar mencoba melampiaskan rasa sakit yang luar bisa itu dengan meremas kuat seragam Baekhyun yang basah karena menolongnya tadi. Tapi itu saja tidak cukup untuk mengalihkan rasa sakitnya.

“Sakit… sakit sekali, Baekhyun-ssi…” rintih gadis itu pelan. Airmatanya diam-diam lolos dari sudut matanya.

Lelaki itu terus meneguk darah Yoora seperti lelaki yang ketagihan meneguk red wine, tak ada yang bisa menandingi kenikmatan darah gadis itu. Di akhir tegukannya, Baekhyun memberikan kecupan ringan di bekas gigitannya dan memberikan ciuman lembut di bibir yang berhasil menenangkan gadis itu.

Mianhae, Yoora. Lain kali kau bisa menggigit bahuku jika rasanya begitu menyiksamu.”

Ne…

Sehun menyandarkan tubuhnya di balik dinding kamar Yoora.

Kenapa begitu sakit rasanya?

♥♥♥

Preview Chapter berikutnya….

“Sehun-ah… kau tidak lupa akan kekuatanku, kan?” tanya Baekhyun yang membuat Sehun seketika memberhentikan langkahnya.

Sesampainya di kamar, Yoora membantu Suho untuk berbaring di ranjangnya dan menyelimutinya.

Oppa, kenapa tidak ada angka 2 dan 3 di jam dindingmu?”

Kecanggungan itu berhasil ditangkap oleh Chanyeol. Sesaat sebelum Sehun menyadari kehadirannya, ia tidak melihat ada kecanggungan sedikitpun antara Yoora dan Sehun.

“Chanyeol Oppa… Apa perasaan ini berkata benar?”

Sehun berpaling.

Gadis itu menatap nanar tubuhnya yang kini sudah bermandikan cairan merah berbau anyir tersebut, selain menangis, ia tak bisa membuka mulutnya lagi.

Appa, kenapa kau mengirimku ke tempat seperti ini? Tolong aku…. aku ingin pulang….

― Sadistic Night : Chapter 2 END ―

Aaaaaaaa, akhirnya chapter 2 ke post juga :v *prokprok *hening ._.

Makasih yang pada udah kasih semangat ke aku buat ngelanjutin FF ini, lapyusomac dah kkkk~ :* 😀

Aku tunggu respon dari kalian lagi yaa, kalo emang suka sama FF ini ayo semangatin aku lagi, biar aku ga berenti di tengah jalan dan bikin SADISTIC NIGHT ini ngegantung gitu aja 😀 saranghaeyooo readers-kuuu({})♥:*

Iklan

10 pemikiran pada “[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 2

  1. ihh da ayuu kurang panjang kamu tehh ihhhh 😦 tapi rame dehh. tapi akugeli euy ngebayangin itu baekhyun ngegigit lehernya yoora >_<

    Suka

  2. Ihhh ihhh ko baekhyun ngigit leher nya Yoora sih/? wah udh mulai main gigit2an XD Bangkai ama Sehun nakal ihhh>……< lanjutin yaa thorrr semangat^-^

    Suka

  3. Ping balik: [EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 3 | ANSFanfiction

  4. Ping balik: [EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 4 | ANSFanfiction

  5. Ping balik: [EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 5 | ANSFanfiction

  6. Ping balik: [EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 6 | ANSFanfiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s