[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT -CH. 3 : Destiny

PicsArt_06-30-08.49.41

`SADISTIC NIGHT`

A fanfiction by AYUSHAFIRAA |

Starring Baekhyun, Kim Yoojung as Kim Yoora, Chanyeol, Sehun, Suho | Supported by D.O, Tao, Xiumin, Kai, Chen, Lay, Lee Pace |

AU, Drama, Fantasy, Romance, Violence |

PG-17/M | Chaptered |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari Diabolik Lovers dan berbagai film serta anime yang bergenre fantasy. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

AYUSHAFIRAA©2015. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Prev. Night : WAY? | MS

| BAB I ▶ CH. 3 : Destiny |

Appa, kenapa kau mengirimku ke tempat seperti ini? Tolong aku…. aku ingin pulang….

.

.

.

“Apa kau sudah merasa baikan?” tanya Lay. Lelaki itu baru saja memasuki kamar Yoora dengan membawa secangkir teh hangat di tangannya.

“Aku sudah merasa lebih baik, hanya saja, ketakutan itu masih menghantuiku, Oppa.” Jawab Yoora.

Gadis itu berusaha menyandarkan tubuhnya pada tumpukan bantal sebelum akhirnya mendapat bantuan dari lelaki berlesung pipi itu yang terlebih dulu sudah menaruh cangkir tehnya di atas laci di pinggir kasur Yoora.

“Aku mengerti, tidak usah dipikirkan lagi. Chanyeol mungkin akan segera meminta maaf padamu nanti.”

“Eh? Sejak kapan kau mulai memanggil kami ‘Oppa’?” tanya Lay yang baru tersadar akan panggilan Yoora padanya.

Gadis itu tersenyum, “Semalam, Kai Oppa dan Sehun Oppa yang menyuruhku.”

“Ah, baguslah. Lagipula kami memang sudah sepantasnya mendengar panggilan itu darimu.”

“Sekarang, buatlah dirimu senyaman mungkin berada di keluarga ini. Teruslah berusaha untuk memahami keluarga kami, apalagi sekarang kau sudah tahu kalau kami bukan manusia. Jangan merasa lelah untuk menghadapi sikap kami yang mungkin akan berubah sewaktu-waktu. Kau harus bisa bertahan, oke?

Yoora mengangguk mengerti, membuat lelaki itu semakin terlihat manis dengan menunjukkan lesung pipinya.

Lay membantu Yoora meminum teh hangat yang tadi dibawanya. Pria itu sungguh menunjukkan sikap yang hangat, Yoora sampai merasa kalau dirinya benar-benar seperti sedang bersama dengan kakak laki-lakinya.

“Yoora…” Suho berdiri tepat di ambang pintu kamar gadis itu.

“Ada apa, Oppa?

“Kau tidak lupa akan kesalahanmu, bukan?”

Gadis itu mengerutkan keningnya. Kesalahan? Kesalahan apa?

“Memangnya aku melakukan apa?”

Anak kedua keluarga Lee itu menatap Yoora tajam, lalu berjalan menghampiri gadis itu dan menyentil dahinya keras-keras sampai menimbulkan bunyi seperti tulang yang retak.

“Ah! Sakit, Oppa! Bagaimana bisa sentilanmu terasa sesakit ini?!”

Hyung! Dia baru saja merasa baikan, jangan membuatnya sakit lagi!” protes Lay.

“Aiii, benar-benar! Apa manusia seringkali melupakan kesalahannya sendiri?! Aku menyentilmu dengan keras agar kau bisa ingat.” Suho memandang Yoora dengan tatapan kesal yang dibuat-buatnya.

“Karena kau menyentilku aku jadi tidak bisa berpikir sama sekali!” wajah Yoora kini terlihat mengkhawatirkan, ia terus mengusap-usap bekas sentilan Suho di dahinya yang menyisakan tanda merah.

“Lay-ah, antar dia ke dapur.” Titah Suho.

“Untuk apa?”

“Yak! Tidak bisakah kau langsung mengantarnya saja?!” Suho sepertinya mulai darah tinggi.

“Oke, oke! Aku akan mengantarnya!”

Lay menarik kasar lengan Yoora sampai-sampai gadis itu terpaksa bangkit dari posisinya semula. Yoora menghembuskan nafasnya berat, sepertinya ia memang harus berusaha memahami perubahan sikap yang seolah selalu ‘tiba-tiba’ dari ke-10 lelaki anggota keluarga Lee itu.

Lay membawa Yoora keluar dari kamarnya, menuruni begitu banyak anak tangga dan berakhir di sebuah ruangan besar di belakang rumah mereka, tak jauh dari ruang makan, ya, ruangan dapur.

“Xiumin Oppa?” panggil Yoora sedikit menebak-nebak saat melihat seorang lelaki yang berdiri membelakangi mereka, sibuk memotong sesuatu. Apa lelaki itu sedang memasak makan siang?

Lay melepaskan tangan Yoora dari genggamannya, lensa matanya yang berwarna hijau terang itu terlihat semakin bercahaya.

“Oppa, kau kenapa?” tanya gadis itu setelah melihat keanehan di diri Lay.

Lelaki yang tadi membelakangi mereka akhirnya membalikkan tubuhnya, memperlihatkan dirinya yang sedang asik menjilati darah di bagian kaki bangkai ayam yang dipegangnya. Lelaki itu ternyata memang benar Xiumin. Xiumin menggunakan taringnya untuk merobek bagian perut bangkai ayam tersebut, sementara itu matanya yang berwarna biru kehijauan tak kalah terangnya dengan mata Lay yang saat ini bergerak menghampirinya dan mengambil beberapa potongan dari bangkai yang sama.

Mual, Yoora benar-benar mual. Yoora tak bisa menahan dirinya untuk tidak muntah saat melihat hal itu terjadi di depan kedua matanya. Xiumin dan Lay, meminum darah dari bangkai hewan?

Xiumin memandangnya sinis, lalu melempar bagian kaki bangkai yang tadi dipegangnya tepat masuk ke dalam tempat sampah. Mulutnya yang terlihat belepotan dengan darah saat itu tak ia bersihkan, sengaja.

“Apa kau sedang mencoba membuat kami tersinggung?” tanyanya. Lelaki itu kemudian berjalan mendekati Yoora yang masih terlihat begitu mual. Gadis itu terpojokkan ke dinding.

“Maafkan aku, Oppa.” Mata gadis itu berair, mungkin efek dari mualnya.

Xiumin terus mendekatkan wajahnya ke wajah Yoora, yang secara tak langsung memaksa gadis itu untuk melihat sisa-sisa darah di sekitar mulutnya.

“Hentikan, Oppa! Itu sangat menjijikan!”

PLAK!

Tangan Xiumin berhasil menampar keras pipi Yoora. Dalam sekali tamparan, dapat terlihat jelas lukisan tangan Xiumin di pipi gadis itu. Merah, benar-benar merah.

“Coba katakan itu sekali lagi?”

“Itu… menjijikan, Oppa.” ucap Yoora dengan bibir gemetar, rasa sakit di pipinya membuatnya tak mampu untuk menahan airmata. Ucapannya itu justru malah semakin membuat amarah Xiumin meledak-ledak, tak hanya Xiumin, Lay pun merasa terhina mendengar ucapannya.

BRUK!

Tangan kekar Xiumin mendorong kasar tubuh Yoora hingga terjatuh, hingga gadis itu merintih kesakitan dibuatnya.

“Sebelumnya, tidak pernah ada yang berani menghina vampir kelas A seperti kami.” Lay menuangkan darah hewan yang tadi ke dalam sebuah gelas besar, ia terlihat sangat haus akan darah itu. Hal itu dapat ditebak hanya dengan melihat ekspresi wajahnya dan lidahnya yang terus menjilat-jilati taringnya sendiri.

“Kau, kaulah yang pertama yang berani menghina kami. Kau sangat berani menghina minuman utama kami.” Xiumin mencengkeram dagu Yoora, taring tajam miliknya dapat terlihat jelas saat ia berbicara.

“Dengar, minuman utama kami sama sekali tidak menjijikan, Yoora. Kau mau mencobanya?” lelaki yang sudah selesai menuangkan darah hewan ke gelasnya itu lalu berjalan mendekati Yoora dan Xiumin. Rasa haus mereka memang sudah tak tertahankan, tapi pikiran mereka seketika terhubung untuk bermain-main sebentar dengan gadis itu.

“Tidak, Oppa! Aku tidak mau!” tolak Yoora. Ia tidak bisa apa-apa lagi sekarang, Xiumin menjenggut rambutnya kasar, memaksa kepalanya untuk menengadah ke atas dan tetap mencengkeram dagunya.

Lay setengah berdiri, bertumpu pada lutut kakinya, lalu mengedipkan mata kirinya sebagai kode pada kakak tertuanya itu. Xiumin menyeringai, mengerti.

“Kalau kau tidak mau, maka biarkanlah kami menunjukkan padamu bagaimana cara menikmatinya. Ini akan sangat mengasyikan, dan membuatnya terasa lebih nikmat lagi.” bisik Xiumin.

Oppa, apa yang akan kalian lakukan?!” mata Yoora terbelalak setelah melihat Lay mengangkat gelas berisi darah itu di atas tubuhnya. Perlahan tapi pasti, lelaki itu menumpahkan cairan kental berwarna merah pekat itu ke tubuh Yoora yang berada di bawahnya, tak hanya tubuh Yoora, wajah Yoora pun ikut terkena cipratan cairan merah tersebut.

Gadis itu menatap nanar tubuhnya yang kini sudah bermandikan cairan merah berbau anyir tersebut, selain menangis, ia tak bisa membuka mulutnya lagi. Bibirnya terlalu kelu, hanya untuk memohon belas kasihan dari kedua lelaki itu pun tak bisa, apalagi untuk berteriak meminta tolong pada yang lainnya.

Appa, kenapa kau mengirimku ke tempat seperti ini? Tolong aku…. aku ingin pulang….

Xiumin dan Lay mulai menggila, rasa haus mereka tak lagi bisa ditahan. Mereka menjilati darah yang membasahi baju dan rok pendek yang dipakai Yoora dengan penuh nafsu, memberikan sensasi yang menggelikan sekaligus menyakitkan bagi gadis itu mengingat lidah mereka yang tak kalah tajam dari taring yang mereka miliki.

Setetes demi setetes airmata Yoora jatuh dari pelupuk matanya, berhasil lolos tanpa tertahan sedikitpun. Meskipun kedua lelaki itu tak menancapkan taringnya seperti yang dilakukan Baekhyun padanya dini hari tadi, dengan menjilati tubuhnya seperti ini, ia merasa seperti dirinya benar-benar menjadi gadis rendahan sekarang. Sakit, hatinya lagi-lagi terluka oleh para lelaki yang ada di keluarga ini.

PRANG!

Kedua lelaki itu seketika menghentikan aktifitas yang sedang mereka lakukan. Rasa takut Yoora pun menghilang entah ke mana saat dirinya mendapati Baekhyun sedang berdiri di ambang pintu dapur itu sambil menyunggingkan senyum, ya, walaupun senyuman itu terlihat sedikit dipaksakan.

“Maaf, Hyung. Aku tak sengaja menjatuhkan gelasnya.” Ucap Baekhyun dengan ekspresi wajah tak berdosa.

“Cih, mengganggu suasana saja.”

Xiumin dan Lay yang merasa sudah tak nafsu lagi untuk menjilati darah di tubuh Yoora itu pun pergi setelah membersihkan mulut mereka, meninggalkan Yoora yang masih terlentang di lantai dan menitikkan airmata.

Baekhyun meraih tubuh Yoora, membantu gadis itu untuk bangkit dari posisinya. Kedua matanya memandangi tubuh kotor gadis itu tanpa merasa jijik. Tangan Baekhyun perlahan mengusap wajah Yoora, lembut. Wajahnya yang terkena cipratan darah, pipinya yang memperlihatkan bekas tampar tangan yang menyakitkan, serta dagu yang terlihat membiru bekas cengkeraman tangan yang begitu kuat, Yoora pasti sangat menderita.

“Kau harus segera membersihkan dirimu, setidaknya agar dirimu bisa merasa nyaman jika dipandang oleh saudara-saudaraku.”

Lelaki itu membalikkan tubuhnya, hendak berlalu meninggalkan gadis yang saat ini masih terus menatapnya dengan mata berair.

“Jangan menangis. Jangan pernah berpikir untuk pergi, karena aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukannya lagi.”

♥♥♥

♫ … Binnaneun geotdeureun manha
Geu ane jinjjareul bwabwa
Call me baby, Call me baby
Call me baby, Call me baby
(You know my name girl)
Neol hyanghae keojyeogan maeuma
Neo malgon geu muneul dada
(You know I’m here girl)
Call me baby, Call me baby
Call me baby, Call me baby
Myeot beonirado Call me girl … ♫

Lagu ke-10 lelaki itu diputar sebagai backsound saat mereka melakukan pemotretan di sebuah studio foto untuk majalah ternama di Korea. Mereka melakukannya dengan sangat profesional. Bau-bau monster penghisap darah tak tercium dari mereka, saat ini mereka hanya terlihat sebagai mega bintang pada umumnya.

Yoora duduk di sebuah kursi sambil mengamati jalannya pemotretan yang ke-10 member EXO itu lakukan. Setelah beristirahat di rumah selama 3 hari dan tak mau diganggu oleh siapapun, akhirnya gadis itu bisa kembali membiasakan diri dengan seluruh anggota keluarga Lee. Dengan memandang mereka di saat seperti ini, rasanya sangat berbeda. Chen tak lagi terlihat memegang boneka bebek ungu kesayangannya, Chanyeol juga tak lagi mengalungkan headphone di lehernya, dan Dio, terlihat tersenyum manis tak seperti biasanya.

Sementara itu, Baekhyun terlihat serius selama sesi pemotretannya berlangsung. Keseriusannya itu membuat hasil fotonya terlihat lebih bagus dari yang lain, menciptakan imej ‘pria dingin’ di antara member lainnya. Foto-foto Baekhyun saat itu memperlihatkan dirinya yang tak menatap ke arah kamera, beberapa pose yang sebenarnya memang sudah sering digunakan oleh artis-artis lain. Tapi yang ini berbeda, Baekhyun tidak benar-benar menggunakan pose itu. Dirinya sedang memandang gadis yang menduduki kursi di sudut ruangan. Ya, Yoora.

Apa yang kau lihat? Kenapa kedua matamu yang indah itu tak henti-hentinya melihat ke arah Dio dan tak melihat ke arahku?, gundah Baekhyun dalam hatinya saat mendapati pandangan Yoora hanya tertuju pada Dio untuk beberapa lama.

“Ya! Kerja Bagus, Baekhyun-ssi! Bagianmu sudah cukup sampai di sini, foto-foto yang luar biasa!” puji sang juru potret.

“Terimakasih. Anda juga sudah bekerja keras.” Balas Baekhyun dengan senyuman khas di bibirnya.

Lelaki itu membungkukkan badan sebagai wujud terimakasihnya dan menebar senyum pada semua kru yang sudah bekerja seharian dan membantunya itu. Namun, saat ia kembali memandang ke sudut ruangan, gadis itu sudah tak lagi duduk sendirian.

“Chanyeol…” senyuman Baekhyun memudar, Chanyeol lah yang kini duduk menemani Yoora.

“Maafkan aku, Yoora. Aku sudah keterlaluan padamu.” Ucap Chanyeol dengan raut wajah menyesal. Kata-kata itu terdengar sangat tulus dari dalam hatinya, Yoora yakin itu.

“Apa kau mau memaafkanku?”

Yoora menatap mata Chanyeol dalam-dalam. Lelaki pertama yang ia temui di rumah keluarga Lee itu, Lelaki tampan berkulit pucat dan dingin yang memakai headphone saat tertidur, berlensa mata merah seperti darah, lelaki yang bersikap kasar namun sedetik kemudian bisa menjadi lelaki yang sangat lembut dan menggemaskan, lelaki yang jika marah dapat menghancurkan segalanya, dan juga, lelaki yang pernah benar-benar menyiksanya sampai rasanya ia akan mati saat itu juga, ya, itulah Chanyeol.

Bisakah aku memaafkan lelaki ini?, batin Yoora kebingungan, tapi ia sangat yakin, Chanyeol benar-benar tulus.

“Kenapa rasanya begitu sulit bagi manusia untuk memberikan maaf kepada orang yang pernah melakukan kesalahan pada mereka? Mereka ingin dimaafkan, tapi mereka sendiri tidak mau memaafkan orang lain. Bukankah itu benar-benar tidak adil?” Chanyeol menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, ia sedikit putus asa, mungkin gadis itu memang tidak mau memaafkannya.

“Aku memaafkanmu.”

“SUNGGUH?!” lelaki itu tampak senang saat mendengar Yoora memaafkannya.

“Hanya saja,” Yoora menggantungkan kata-katanya. Ia menunduk.

“Aku takut, takut kau akan kembali menjadi jahat dan menakutkan.”

“HA!” teriak anak ke-8 keluarga Lee itu di depan Yoora dan Chanyeol yang berhasil membuat keduanya terkejut bukan main. Anak nakal yang sudah bukan anak kecil lagi itu hanya tertawa melihat reaksi Yoora dan kakaknya yang sangat mengocok perut.

“Yak! Apa yang kau lakukan?!” tanya Chanyeol dengan volume suaranya yang keras. Dengan mendengarnya saja, semua bisa menebak kalau Chanyeol pasti sudah dibuat kesal oleh sang adik.

“Kalian berdua kelihatannya terlalu serius, jadi aku datang untuk mencairkan suasana. Haha.”

“Apa yang sedang kalian lakukan?” lanjut Tao memasang wajah penasaran sambil mengunyah permen karet.

“Tidak ada.” Jawab dua orang yang sedaritadi duduk bersebelahan itu bersamaan. Hal itu membuat mereka saling bertatap aneh satu sama lain.

“Aiii, lucunya. Kalian terlihat cocok sekali.”

“Cih, apanya yang cocok?” cibir Baekhyun serasa dalam hati tapi tanpa ia sadari terucap juga di bibirnya. Perhatian Tao, Yoora, dan Chanyeol otomatis tertuju pada Baekhyun, mereka menatap lelaki itu dengan tatapan bingung, namun sedetik kemudian Tao tertawa geli.

“Apa maksudmu, Hyung? Apa kau keberatan dengan kata-kataku?”

“Kenapa? Memangnya aku bicara apa? Aku tidak bicara apapun.” Ucap lelaki itu yang masih belum sadar akan cibirannya yang tak sengaja terucap itu.

“Haha, sudahlah.”

“Apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya seru sekali.” Tanya Xiumin yang menghampiri mereka, disusul sang leader dibelakangnya, Suho.

“Tidak ada.” Jawab ke-4 orang ―Chanyeol, Yoora, Baekhyun, dan Tao― itu dengan kompak. Mereka berempat akhirnya tertawa menyadari hal itu.

“Hm, kalau memang tidak ada yang kalian bicarakan, bagaimana kalau kita membicarakan sesuatu hal seperti…. Jalan-jalan? Belanja? Sesuatu hal seperti itu.” Ucap Suho sambil mencoba menyembunyikan senyumnya.

“Ah, Hyung! Apa kau akan mengajak kami untuk melakukan semua itu? Jalan-jalan? Belanja? Makan? Huwaaaaa~ Ayo kita pergi, Hyung! Ayo!” Tao menarik-narik tangan Suho, manja.

Hyung, apa benar begitu? Kita akan belanja?!” tanya Chanyeol antusias.

“Ayo kita makan! perutku sudah memanggil~” ucap Baekhyun sambil mengusap-usap perutnya.

Pembicaraan mereka terus berlanjut. Sehun, Kai, Lay, Dio, dan Chen datang bersamaan dan langsung ikut larut dalam pembicaraan seru yang lainnya. Yoora tersenyum menyadari sikap ke-10 lelaki bersaudara itu yang lain dari biasanya. Mereka terlihat begitu akrab, tidak seperti yang Yoora kira kalau mereka adalah saudara yang tidak akrab satu sama lain. Mereka semua terlihat bahagia.

“Yoora, kau ikut juga kan?” tanya Lay, ke-9 saudaranya yang lain ikut menatap gadis itu.

“Ye? Uhm…” gadis itu terlihat berpikir, apa tidak apa-apa kalau ia ikut masuk dalam ‘waktu bahagia’ ke-10 lelaki itu?

Chanyeol merangkul Yoora dan tersenyum. Senyumannya itu mampu membuat Yoora kehilangan akal untuk beberapa saat sebelum akhirnya tersadarkan oleh siulan dari Chen yang bermaksud menggoda mereka berdua.

“Apa salahnya untuk ikut? Kau juga tidak akan mau kan kalau kami tinggalkan sendirian di rumah?”

“Ah, iya. Suho Hyung! Yoora tidak punya dress lagi untuk dipakai saat makan malam bersama kita, selain itu pakaian yang memenuhi lemarinya juga sudah pasti tidak akan kau sukai jika kau melihatnya, Hyung.” Ucap Sehun blak-blakan tanpa memikirkan apapun.

“Benarkah begitu, Yoora? kalau memang benar seperti itu, masing-masing dari kami harus membelikan beberapa pakaian yang pantas untukmu.”

Yoora terdiam dalam senyuman kakunya. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya. Apa pakaian yang dipakainya pun harus selalu menuruti selera Suho? Apa yang akan terjadi kalau dirinya memakai pakaian yang tidak disukai Suho? Apa Suho akan menghukumnya? Entahlah. Ia tidak akan pernah mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, karena pertanyaan-pertanyaan itu tidak berani untuk ia ungkapkan.

Hyung~~~ kapan kita akan berangkat?” tanya Baekhyun tak sabaran.

Suho tertawa, “Ayo kita pergi sekarang!~

♥♥♥

Ke-10 lelaki anggota keluarga Lee beserta seorang gadis yang baru masuk ke keluarga mereka itu pun mulai berpencar menjelajahi setiap toko yang ada setibanya mereka di suatu pusat perbelanjaan ternama di Korea Selatan. Mereka semua terlihat sibuk memilih barang-barang yang menarik perhatian mereka. Tak lupa, masing-masing dari ke-10 lelaki itu pun harus ikut membelikan beberapa pakaian untuk Yoora, gadis yang kini sedang bersama mereka, sesuai perintah Suho sebelumnya.

Hyung, bukankah ini terlihat bagus untuk Yoora?” tanya Tao pada Lay yang berada di sampingnya, ia menunjukkan sebuah dress selutut berwarna krem polos yang dilengkapi ikat pinggang.

“Pilih saja sesuai keinginanmu. Jika kau suka, tinggal kau beli.” Jawab Lay yang sama sekali tidak melihat ke arah dress yang dipegang Tao. Anak ketiga keluarga Lee ini sibuk dengan dirinya sendiri, ia kebingungan memilih dress mana yang cocok dipakai oleh gadis seperti Yoora.

“Yak, Hyung! Aku kan tidak membeli dress ini untukku sendiri. Ini untuk Yoora! Bagaimana aku bisa tahu kalau gadis itu akan menyukai pilihanku?!”

“Kau pikir aku tahu? Aku juga tidak tahu, Tao-ya.

“Baiklah! Baiklah!” ucap Tao lalu memanyunkan bibirnya.

….

Hyung, apa topi ini cocok untukku?” tanya Chanyeol pada Suho sambil memandang pantulan dirinya di cermin panjang yang tersedia di sebuah toko pakaian dan aksesoris.

Suho tidak menjawab. Lelaki itu terlihat sedang bercanda tawa bersama Baekhyun saat memilih-milih kacamata dengan berbagai macam bentuk yang sangat unik.

Hyung?

Chanyeol menundukkan kepalanya, sedikit cemburu dengan kedekatan Suho dan Baekhyun. Dirinya merasa seperti tidak lagi dipedulikan oleh kakaknya yang satu itu. Ia melepas topi yang tadi dicobanya dan keluar dari toko itu sendirian.

Dengan perasaan yang masih bergelut, lelaki itu berjalan sendirian mencari saudaranya yang lain. Setelah beberapa lama berjalan sendirian, akhirnya langkah kaki panjangnya membawa lelaki itu masuk ke salah satu toko pakaian dan aksesoris lainnya yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Ia tersenyum, perasaannya sedikit membaik setelah melihat Yoora dan Sehun sedang asik belanja di toko yang sama.

Hyung, kau di sini juga?” tanya Sehun yang menyadari kehadiran Chanyeol. Sapaan Sehun pada Chanyeol itu juga membuat Yoora membalikkan tubuhnya dan tersenyum pada lelaki yang baru saja datang itu.

“Kau di sini bersama Yoora?”

“Iya.” Jawab Sehun sedikit canggung.

“Hanya berdua?”

“A-ah…”

“Ah, kami tadi bersama Chen Oppa. Tapi akhirnya, dia memilih untuk pergi ke toko boneka dan meninggalkan kami berdua di sini.” Jelas Yoora yang juga terlihat canggung.

Kecanggungan itu berhasil ditangkap oleh Chanyeol. Sesaat sebelum Sehun menyadari kehadirannya, ia tidak melihat ada kecanggungan sedikitpun antara Yoora dan Sehun. Mereka terlihat tertawa bersama seperti tak ada jarak di antara mereka. Tapi kenapa suasana di antara mereka mendadak terasa berbeda?

“Apa kalian tidak keberatan kalau aku di sini bersama kalian?” tanya Chanyeol akhirnya.

“Kenapa bertanya seperti itu, Hyung? Tentu saja kami tidak keberatan.” Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tertawa garing.

“Ah, Hyung. Apa kau sudah membelikan dress untuk Yoora?”

“Masih belum. Aku sibuk memilih untuk diriku sendiri.” Jawab Chanyeol.

Sehun menahan tawanya,

“Maksudmu, kau sibuk memilih dress untuk dirimu sendiri, Hyung?

“Aiii, kau ini benar-benar! Tidak mungkin aku seperti itu.”

Sedikit candaan Sehun itu akhirnya bisa merubah suasana yang tadinya canggung menjadi santai. Yoora tersenyum sambil bersyukur dalam hatinya, kalau bukan Sehun, pasti dirinya sudah mati kutu dan salah tingkah menghadapi Chanyeol.

“Bagaimana, Hyung? Dress-dress ini sangat cocok untuk Yoora bukan?”

Sehun memperlihatkan beberapa dress yang sudah ia pilih untuk Yoora pada Chanyeol, beberapa dress itu terlihat memiliki motif yang sama, yaitu motif bunga-bunga dengan warna berbeda.

“Apa kau juga berpikir begitu, Oppa? Sehun Oppa tetap bersikeras akan membelikan dress ini untukku dengan alasan dress ini pasti akan disukai oleh Suho Oppa, padahal aku sama sekali tidak menyukainya. Itu bukan gayaku.” Celoteh Yoora sambil memanyunkan bibirnya.

Oppa? Panggilan itu terdengar sangat aneh di telinga Chanyeol. Walaupun ia sudah banyak mendengar panggilan itu dari beberapa penggemar dan beberapa wanita yang dekat dengannya, tapi mendengar panggilan itu langsung dari mulut gadis di hadapannya entah kenapa terasa begitu lucu baginya.

“Yak, kau! Aku yang paling mengetahui selera Suho Hyung! Suho Hyung pasti akan menyukainya jika kau mau memakainya! Suho Hyung hanya menyukai gadis yang feminim, kau tahu!”

Chanyeol meninggalkan dua orang yang sedang berdebat ringan itu untuk mencari dress yang cocok untuk Yoora. Sebuah dress selutut berwarna putih dengan bordiran dan ornamen-ornamen cantik berwarna hitam yang menghiasi dress itu pun menarik perhatian Chanyeol. Pertama kali melihatnya, ia langsung membayangkan betapa cantiknya Yoora jika memakai dress itu dan menemani dirinya setiap kali ia bermain piano.

unnamed (23)

Ah! Pikiran apa itu!, celetuknya dalam hati.

Aku hanya perlu membelikan setidaknya sebuah dress untuk Yoora, itu saja. Kenapa pikiranku jadi ke mana-mana?

Chanyeol memanggil seorang gadis yang bekerja di toko itu untuk membungkuskan dress yang akan ia beli ke dalam sebuah kotak dan tas plastik. Chanyeol membeli dress itu menggunakan uangnya sendiri, sama sekali tidak terpikirkan olehnya untuk membeli dress itu di bawah black card atas nama kakaknya, Suho, seperti yang biasa ia lakukan sebelum-sebelumnya.

Selesai melakukan pembayaran dengan kartu kredit miliknya, ia terus tersenyum geli, jika orang-orang tidak tahu kalau ia adalah member EXO, mungkin ia akan disangka gila karena senyuman-senyuman gelinya itu.

Ia memberhentikan langkahnya, pemandangan di depannyalah yang memaksanya untuk tidak bergerak lebih dekat lagi. Ia meremas tas plastik berisi kotak dress yang baru saja dibelinya, sungguh suatu pemandangan yang sangat menyakitkan untuk ia lihat saat ini.

Di depan kedua mata Chanyeol yang membulat, Sehun tampak mencium bibir gadis yang sejak tadi bersamanya. Ya, Yoora. Yoora pun tak kalah terkejut, karena lelaki itu hanya menciumnya secara tiba-tiba, tanpa aba-aba apapun yang memungkinkan dirinya untuk menghindar. Ya, ia tidak bisa menghindar sekarang. Bibir lembut lelaki itu sudah terlanjur menepi di bibirnya.

“Maaf.” ucap Sehun sesaat setelah ia melepaskan ciumannya di bibir Yoora. Sehun benar-benar terlihat kikuk karena ulahnya sendiri.

“Kenapa Oppa tiba-tiba-”

“Chanyeol Hyung…

Yoora mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan Sehun, dan ia hanya mendapati punggung yang berlalu pergi keluar dari toko.

Yoora menunduk, kembali bertanya-tanya dalam hatinya. Apa maksud dari semua ini? apa perasaannya berkata benar? Apa pikirannya tentang Chanyeol benar? Apa seperti ini rasanya jika takut melihat orang yang kita cintai kecewa?

“Chanyeol Oppa… Apa perasaan ini berkata benar?”

Sehun berpaling.

♥♥♥

“Apa saja yang sudah kalian beli hari ini?” tanya Suho seraya merebahkan tubuhnya di atas sofa dan membiarkan barang belanjaannya tersimpan sembarang di lantai.

Hari ini merupakan hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan bagi mereka semua. Setelah berlelah-lelah dengan pekerjaan mereka, mereka pun bersenang-senang dengan pergi berkeliling pusat perbelanjaan untuk berbelanja.

Namun Yoora dan ke-9 lelaki itu beruntung, karena semua barang belanjaan mereka itu tak melelahkan dompet mereka juga. Karena semua barang belanjaan mereka itu mereka beli di bawah black card atas nama Suho, leader sekaligus kakak bagi ke-8 lelaki itu dan adik bagi Xiumin.

Black card sendiri tak lain adalah sebuah kartu yang hanya dimiliki oleh orang-orang kelas atas. Suho memiliki kartu itu karena Suho adalah anak kepercayaan sang ayah, anak yang paling patuh pada ayahnya, sehingga ayahnya percaya kalau Suho bisa mengatur semuanya dengan baik, dan Suho sangat bangga akan kepercayaan yang telah diberikan ayahnya itu.

“Ah, banyak sekali yang ku beli, Hyung! Sampai-sampai, aku saja malas untuk menghitungnya. Haha.” Ucap Tao yang terlihat mengelap keringatnya dengan tisu.

“Sepertinya, jika aku yang diberi black card itu oleh ayah, aku akan selalu membeli barang-barang sebanyak ini setiap harinya, sendirian! HAHA.” Kai meng-caps lock tawanya, sepertinya ia puas sekali setelah berbelanja hingga barang belanjaannya itu memakan tempat setengah dari ruang bagasi mobil mereka.

“Aiii, bagaimana bisa belanjaanmu lebih banyak dariku, Kai-ya?!  Tidak bisa! Ini tidak bisa terjadi!” protes Tao.

“Ini sudah terjadi.” Balas Kai dengan nada meledek. Ia juga menjulurkan lidahnya untuk membuat Tao semakin kesal.

“Kau benar-benar!”

“Aiii, sudah-sudah! Hentikan!” lerai Suho.

“Sekarang aku ingin tahu, seperti apa dress yang sudah kalian beli untuk Yoora. kalian tidak lupa membelinya, kan?” lanjut Suho, ia bangkit dari posisinya semula dan duduk dengan nyaman di sofa tersebut.

“Siapa saja yang mau lebih dulu, jangan menyuruhku untuk menjadi yang pertama lagi hanya karena aku yang tertua di sini.” Ucap Xiumin sambil melihat ke arah adik-adiknya satu persatu.

“Kalau begitu aku saja yang duluan! Hehe.”

Sehun berdiri dari duduknya, menenteng 4 buah kantong belanjaan dari 9 kantong yang ia miliki. Dengan raut wajah yang sok-sokan, ia dengan bangga mengeluarkan satu persatu dress yang ia beli untuk Yoora. 4 buah dress bermotif bunga-bunga yang hanya berbeda dari segi warnanya saja, yaitu merah muda-ungu, hijau-biru, merah-oranye, dan kuning-hitam.

“Lucu bukan? Sudah pasti dress ini cocok sekali untuk Yoora. Aku membelinya karena aku tahu, Suho Hyung pasti setuju dengan pilihanku! Benar ‘kan Hyung?” Sehun mengedip-ngedipkan matanya genit pada Suho. Sementara yang diberi kedipan genit itu hanya bisa menahan tawanya.

“Ya, ya. Cepat berikan saja dress itu pada Yoora dan pastikan dia memakainya nanti.” Ucapan Suho itu otomatis membuat Sehun jingkrak-jingkrak bahagia dan menjulurkan lidahnya pada Yoora yang sedaritadi memandangnya ilfeel karena sebelumnya lelaki itu sempat bertaruh dengan Yoora kalau Suho akan menyukai pilihannya, entah apa yang mereka berdua pertaruhkan. Baiklah, Yoora yang kalah dalam pertaruhan itu.

Chen memperlihatkan dress yang dibelinya itu tanpa bangkit dari duduknya. Sebuah dress berwarna ungu yang di bagian lehernya dipenuhi oleh manik-manik berwarna sama yang membuat dress itu semakin terlihat berkilauan.

Melihat Chen yang tidak bangkit dari posisinya saat menunjukkan dress yang ia beli, saudara-saudaranya yang lain pun menjadi ikut-ikutan seperti itu. Xiumin, Lay, dan Dio tanpa janjian terlebih dahulu ternyata membeli dress hitam yang benar-benar serupa.

“Hahah, bagaimana bisa kalian memberikan 3 dress yang sama seperti itu pada Yoora? sepertinya kalian benar-benar berjodoh satu sama lain.” Ucap Suho memberi sedikit candaan, namun sayangnya candaan itu hanya ditanggapi oleh sebagian adiknya, tidak dengan Xiumin, Baekhyun, Chanyeol, dan Dio.

Hyung, kapan kau akan memperlihatkan dress yang kau beli untuk Yoora eoh?” tanya Sehun seperti tak sabar.

“Aku yang terakhir saja, kalian duluan.” Jawab Suho yang membuat Sehun mengerenyitkan mata dan mengembangkempiskan hidungnya.

Tao dan Kai terlihat mengambil kantong belanjaan mereka bersamaan, mereka saling bertatap, sama-sama ingin menjadi yang lebih dulu.

“Yak! Apa-apaan! Aku yang lahir lebih dulu jadi jangan mendahuluiku!” ucap Tao seperti anak kecil. Tak mau mengalah pada adiknya sendiri.

“Ayo kita bermain gunting batu kertas! Yang menang berarti menjadi yang lebih dulu. Bagaimana?” tawar Kai menantang.

“Cih, dasar bocah.” Cibir Chanyeol. Sementara yang terkena cibiran itu tak bereaksi apa-apa, mereka tetap melanjutkan ‘pertarungan’ mereka dengan gunting batu kertas.

“Gunting, Batu, Kertas!” keduanya sama-sama memilih batu.

“Gunting, Batu, Kertas!” keduanya sama-sama memilih kertas.

“Gunting, Batu, Kertas!”

“Aku yang menang, weeeek!” Kai memelet-meletkan lidahnya, terlihat begitu senang karena berhasil mengalahkan Tao. Sedangkan Tao hanya bisa memandang Kai dengan wajah yang terlihat pasrah.

Kai berusaha keras menahan tawanya sebelum akhirnya menunjukkan dress yang sudah ia beli untuk gadis yang saat ini terlihat duduk di antara Baekhyun dan Dio di sofa. Sebuah mini dress ketat dengan warna kulit yang ia pastikan akan membuat Yoora terlihat sangat seksi jika memakainya. Yoora menyembunyikan wajahnya di balik punggung Dio, menyembunyikan wajahnya yang saat ini mungkin sudah memerah seperti kepiting rebus.

Yehet! Aku tak sabar melihat Yoora memakai mini dress pemberian Kai. Haha.” Ucap Sehun yang mengundang gelak tawa dari kakak-kakaknya.

“Yak, Sehun Oppa! Hentikan!”

“Cium aku dulu seperti saat di toko tadi, baru aku akan berhenti.” Balas Sehun dengan nada menggoda, memperbalikkan fakta. Ucapan Sehun itu berhasil membuat kakak-kakaknya bertanya-tanya tak percaya. Terlebih lagi reaksi Baekhyun, lelaki itu tampak memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia sedang berusaha menahan emosinya, hal itu dapat dilihat dari lensa kuningnya yang terang-redup terang-redup di balik lensa kontak berwarna hitamnya.

“Apa?! Kalian sudah berciuman eoh?” tanya Xiumin tak menyangka.

“Tidak kok!” Yoora menggeleng cepat, ia tak habis pikir kenapa Sehun harus mengungkit-ungkit tentang hal itu. Bukan berdasarkan fakta pula.

“Yak, Sehun-ah! Apa dia yang menggodamu lebih dulu? bagaimana rasa bibirnya? Ceritakan-ceritakan!” Kai terlihat sangat bersemangat.

“Sehun-ah, dia yang menciummu atau kau yang menyosor duluan?” tanya Chen tanpa melihat ke arah Sehun, ia hanya terlihat asik menekan-nekan bagian dada Chloe.

“Sebenarnya…”

“Cukup!” ucapan Suho itu langsung membuat semuanya terdiam. Yang terdengar hanyalah hembusan nafas Baekhyun yang kasar. Diam-diam ternyata Suho memperhatikan Baekhyun sedaritadi. Tubuh adiknya itu berkeringat hebat, lensa matanya terus berubah-ubah, dan tampak begitu tak tenang. Mungkinkah karena Yoora dan Sehun?

“Jangan membuang-buang waktu, kita harus istirahat secepatnya. Lanjutkan, Tao.”

“Baik, Hyung.” Tao mengeluarkan dress selutut berwarna krem polos yang sejak di toko tadi sangat ia bingungkan. Akhir dari kebingungan itu adalah ini, ia tidak mau kebingungan lebih lama lagi hanya karena memilih sebuah dress untuk gadis yang bukan kekasihnya itu.

“Baekhyun-ah, giliranmu.”

Baekhyun masih tetap pada posisinya, tak mengubah arah pandangannya atau apapun. Ia hanya memberikan kantong belanjaannya langsung pada gadis yang sejak tadi duduk di sebelahnya tanpa memandang gadis itu sedikitpun.

Yoora menerima kantong tersebut, namun merasa aneh dengan sikap Baekhyun padanya.

“Wah! Hanbok!” seru Xiumin, Lay, dan Chen.

“Indah sekali!” puji Tao, Kai, dan Sehun yang terhipnotis akan keindahan baju tradisional perempuan korea berwarna kuning pucat yang dipadukan dengan warna merah muda menyala sebagai dominannya.

Yoora seperti kehabisan kata-kata. Pakaian yang dipegangnya saat ini memang bukanlah dress cantik yang ada dalam bayangannya, tapi sungguh, pemberian dari Baekhyun inilah yang paling membuatnya merasa begitu bahagia, entah kenapa.

“Akan ku anggap itu sebagai dress.” Ucap Suho.

Chanyeol terus memandang ke arah Yoora, menangkap ekspresi kebahagiaan di wajah gadis itu saat menerima pemberian dari Baekhyun. Saat melihatnya seperti itu, Chanyeol justru merasa sakit. Apa mungkin Yoora akan sebahagia itu jika menerima pemberian dari dirinya? Apa mata Yoora yang bening itu akan terlihat berbinar jika melihat dress yang ia berikan dengan setulus hati itu?

“Chanyeol…”

“Aku tidak membeli apapun untuk gadis itu. Aku berbelanja sebanyak ini hanya untuk diriku sendiri.”

“Cih,” Xiumin memalingkan wajahnya, merasa muak setelah mendengar kata-kata Chanyeol. Adik ke-5 nya itu sudah semakin berani untuk melawan perintah Suho sekarang.

“Rupanya kau ingin memberontak. Kenapa? Kau tak suka Suho terus memerintah dirimu untuk melakukan ini dan ini?” lanjut Xiumin bertanya tanpa memandang wajah Chanyeol.

“Bukan begitu, Hyung. Aku hanya tidak suka kalau Suho Hyung memberi perhatian yang berlebihan pada gadis manusia itu. Jangan membuat dirinya seakan benar-benar spesial dalam keluarga kita, Hyung. Dia harus tahu diri, kalau dia hanya gadis manusia yang lemah.” Jelas Chanyeol.

Yoora menunduk, hatinya benar-benar sakit. Kenapa Chanyeol suka sekali mempermainkan perasaannya? Mengobrak-abrik seluruh isi hatinya dengan cara seperti itu?

Chanyeol Oppa, jangan terus mencoba untuk menghancurkan perasaanku yang sudah retak ini. Kalau kau memang membenciku, jangan mencoba untuk menyatukan kembali perasaanku yang sudah menjadi serpihan ini. Karena tetap saja, semua itu akan meninggalkan bekas yang menyakitkan.

Moodku sedang tidak bagus, kalian boleh pergi ke kamar kalian. Beristirahatlah yang banyak, karena jadwal kita kedepannya sangatlah padat.” Ucap Suho sembari terlihat memegangi kepalanya. Ia benar-benar terlihat seperti orang yang kelelahan.

“Baik, Hyung. Terimakasih untuk hari ini.”

Ke-9 lelaki itu pun bubar, pergi menuju kamar mereka masing-masing untuk beristirahat sesuai perintah Suho. Terkecuali Yoora yang hanya berdiam diri di tempatnya dan memandangi Suho yang sedang duduk berseberangan di depannya. Lelaki itu masih saja tak beranjak, padahal ia juga harus beristirahat. Yoora memandang Suho kasihan, menjadi seorang leader yang baik pasti sangatlah sulit.

Sehun berjalan menuju kamarnya yang terletak di paling ujung di lantai 4, bersebelahan dengan kamar kakak ke-4 nya, Baekhyun.

“Sehun-ah, kau tidak lupa akan kekuatanku kan?” tanya Baekhyun yang membuat Sehun seketika memberhentikan langkahnya. Bayangan kejadian pagi buta tadi yang menyesakkan dada itu sekilas melintas kembali di pikirannya.

“Maafkan aku, Yoora. Aku sudah tak tahan lagi…”

“Sakit… sakit sekali, Baekhyun-ssi…”

“Maafkan aku, Yoora. Lain kali kau bisa menggigit bahuku jika rasanya begitu menyiksamu.”

“Baiklah…”

“A-apa maksudmu, Hyung? Tentu saja, aku tidak mungkin lupa.” Jawab Sehun, berkeringat dingin. Baekhyun pasti sudah tahu kalau Sehun mengintip apa yang terjadi antara dirinya dengan Yoora dan merasa sakit setelah melihat hal itu.

“Kuharap kata-katamu memang benar adanya, sehingga kau tidak sembarangan berkata apapun di dalam hatimu. Karena aku pasti bisa mendengarnya, dengan sangat jelas.”

♥♥♥

Oppa, apa kau baik-baik saja?” Tanya Yoora pada Suho. Gadis itu benar-benar merasa khawatir akan lelaki yang kini berada di sampingnya itu, karena untuk berjalan ke kamarnya saja gadis itu harus menuntunnya seperti sekarang ini.

“Aku tidak apa-apa. Terimakasih, Yoora-ya.

Yoora terus menuntun Suho dengan hati-hati, karena lelaki itu bisa saja terjatuh jika ia tiba-tiba melepaskan tubuh lelaki itu dari pegangan tangannya. Untung saja, kamar Suho berada tak jauh dari ruang tamu, sehingga lelaki itu tak perlu berlelah-lelah menaiki banyaknya anak tangga seperti Yoora dan adik-adiknya. Sesampainya di kamar, Yoora membantu Suho untuk berbaring di ranjangnya dan menyelimutinya.

“Mau ku bawakan sesuatu? Seperti teh hangat? Atau semacamnya?” tawar gadis itu dengan senyuman yang manis. Tapi Suho menggelengkan kepalanya, tentu dengan sisa tenaga yang ia punya.

Yoora tertawa kecil,

“Ternyata vampir sekalipun bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi orang sakit. Aku baru tahu itu.”

“Tentu saja. Kami adalah vampir, kami tidak hidup, tidak juga mati. Kami bisa merasakan semua yang biasa dirasakan oleh manusia, tapi kami tidak mempunyai denyut nadi seperti halnya manusia yang sudah mati.” Balas Suho. Lelaki itu terlihat begitu lemah, bahkan untuk menatap langit-langit kamarnya saja sepertinya ia tidak bisa.

Gadis itu tersenyum, Suho benar-benar lelaki yang baik. Suho selalu menghargai dirinya. Seperti sekarang, lelaki itu mau bercerita sedikit tentang kehidupannya menjadi seorang vampir keturunan keluarga Lee.

“Biarkan aku mengompresmu. Walaupun tubuhmu dingin, tapi aku yakin, suhu tubuhmu yang sekarang ini adalah suhu tubuh yang terhangat bagi seorang vampir. Aku tidak bisa melihatmu sakit seperti ini, Oppa.

“Aku tidak sakit, Yoora-ya.

“Baiklah, baiklah. Oppa tidak sakit, dan biarkan aku mengompresmu yang sedang tidak sakit ini.”

Yoora mengambil air dan handuk kecil dari kamar mandi yang ada di kamar Suho. Gadis itu memakai wadah yang ada untuk menampung airnya agar tidak perlu meninggalkan Suho sendirian dengan mengambil wadah di dapur.

Dengan telaten, Yoora merawat Suho yang ‘tidak sakit’ itu. Yoora sudah seperti ibu-ibu yang sabar merawat anaknya yang sedang sakit.

“Oppa, kau kan ‘tidak sakit’, maukah kau menceritakan lagi padaku bagaimana rasanya hidup sebagai seorang vampir?”

“Bodoh.” Suho berusaha tertawa, Yoora terkadang memang terlihat bodoh.

“Aiii, Oppa tertawa? Baguslah. Jika memang dengan memanggilku ‘bodoh’ bisa membuat Oppa senang, aku tidak apa-apa. Hehe.” Ucap Yoora yang sangat senang melihat tawa Suho di tengah kesakitannya itu.

“Dulu aku juga seorang manusia, sama seperti dirimu. Aku hidup bahagia bersama ayahku, tapi suatu ketika, kematian berhasil merenggut kebahagiaan itu.”

“Ayahku meninggal, dan aku hidup seorang diri. Aku benar-benar putus asa tanpa ayah di sisiku. Hingga di suatu malam yang dingin, seorang vampir berwajah asing menawarkan pertolongan padaku… dan dia adalah ayahku yang sekarang. Pace Lee.”

―Kilas balik, Sudut pandang Suho―

“Hei, anak muda. Aku tahu akan kemalangan yang sedang menimpamu hingga kau menderita seperti ini. Tapi aku tidak suka, melihat orang yang mudah putus asa begitu saja.”

Lelaki itu muncul tiba-tiba seperti angin, entah dari mana datangnya. Mataku yang sembab karena telah berhari-hari menangisi kepergian ayahku itu masih bisa melihat jelas wajahnya yang seperti orang barat dengan kulit yang putih pucat, matanya yang berwarna coklat juga terkadang terlihat menyala-nyala.

“Maaf, anda siapa?” tanyaku.

Apa lelaki ini adalah malaikat pencabut nyawa yang berniat mencabut nyawaku? Ataukah dia adalah dewa kematian yang selama ini orang-orang bicarakan? Apapun itu, aku ingin dia membunuhku, agar aku bisa merasakan kematian yang dengan tega-teganya merebut ayah dari sisiku.

“Aku Pace, Pace Lee. Aku tahu, kau ingin aku untuk membawamu ke kematian. Aku bersedia untuk itu, aku akan membawamu ke kematian yang sama sekali tak menyakitkan dan juga memberimu kehidupan yang abadi setelah kematian itu.” Ucap lelaki berjenggot rapi yang mengaku bernama Pace Lee itu.

“Aku tidak ingin hidup, dengan kau membunuhku saja, itu sudah cukup.”

Angin malam itu berhembus kencang menusuk kulitku, tanpa rasa takut sedikitpun aku mendekatinya, menyerahkan diriku pada dewa kematianku. Lelaki itu mencengkeram bahuku kuat-kuat, dan langsung menancapkan taringnya ke pembuluh darah yang ada di leherku. Walaupun lelaki itu sempat berkata kalau ia akan membawaku ke kematian yang tak menyakitkan, tetap saja rasanya benar-benar sakit. Ku tahan, terus ku tahan rasa sakitnya, namun semakin lama kesakitan itu semakin menyiksaku. Darah yang ia hisap dari leherku menetes setetes demi setetes, mewarnai pakaian yang ku kenakan saat itu.

“Aaaakhhh!!” aku berteriak saat tubuhku merasakan panas yang luar biasa, seluruh organ dalam tubuhku terasa terbakar oleh api yang membara, ternyata lelaki itu sudah menyebarkan cairan yang akan membuatku sama seperti dirinya ke dalam aliran darahku.

Inikah kematian yang dirasakan oleh ayahku?

Apa seperti ini rasanya sakit menghadapi kematian?

Mataku terpejam. Dapat ku rasakan rasa panas yang membakar itu perlahan menghilang dan tergantikan oleh rasa dingin yang mematikan yang terasa seperti ribuan benda tajam menusuk-nusuk tubuhmu. Jantungku berhenti berdetak, telingaku tak bisa lagi menangkap suara-suara yang ada, aku benar-benar merasakan kedinginan dan sulit untuk bernafas. Bayang-bayang masa laluku dengan kedua orang tuaku, bayangan masa laluku dengan adik kecilku, semuanya tiba-tiba saja melintas di pikiranku.

“Mulai sekarang, kau adalah anakku. Keturunanku. Kau harus patuh padaku sama seperti saat kau patuh pada ayahmu yang dulu. Aku tidak akan memaksamu untuk melupakan masa lalumu. Dengan kekuatan yang ku berikan, kau akan bisa mengatur pikiran dan ingatan manusia, seperti menghapusnya ataupun mengembalikan ingatannya, itu juga berlaku untuk dirimu sendiri tapi tidak berlaku untuk sesamamu. Kau ingat itu.”

Haus, tenggorokanku terasa sangat kering, sesuatu yang kuat itu berhasil mencekik tenggorokanku.

―Kilas balik selesai―

“Lalu setelah itu?” tanya Yoora yang sepertinya sangat penasaran dengan kelanjutan kisah hidup Suho.

“Aku bukan lagi diriku yang dulu, aku merasa seperti ada sosok lain di dalam diriku setelah aku bangun dari kematian yang sangat menyakitkan itu. Aku bukan lagi seorang manusia, aku adalah seorang vampir keturunan Pace, dan mulai tinggal di beberapa rumah mewah yang ia miliki bersama… seorang… lelaki muda lain yang juga sudah menjadi keturunan Pace lebih dulu daripada aku.”

“Xiumin Oppa?” tebak gadis itu.

“Ya, Xiumin Hyung. Dulu aku sangatlah pendiam, tapi Xiumin Hyung tak pernah lelah untuk mengajakku mengobrol, mengajakku bermain, hingga mengajakku mencari mangsa untuk menghilangkan rasa hausku yang begitu menyiksa.”

“Dia benar-benar kakak yang baik untukku, sampai-sampai aku pernah merasa sangat bersalah padanya ketika Ayah lebih mempercayakan anggota keluarga baru kami kepadaku, bukan kepada dirinya yang jelas-jelas lebih dewasa daripada aku. Tapi, mereka… tidak, tapi dia tidak pernah membenciku sedikitpun bahkan sampai saat ini.” jelas Suho panjang lebar. Gadis itu lagi-lagi menyunggingkan senyum, sepertinya Suho benar, dirinya sama sekali tidak sakit.

Sekarang ia setidaknya sedikit mengetahui fakta bahwa ke-10 lelaki yang ada di keluarga ini tidak benar-benar berasal dari satu keluarga, mereka semua hanyalah ke-10 mangsa Pace Lee yang Pace Lee jadikan keturunannya. Mungkin, semacam penerus.

Oppa, kenapa tidak ada angka 2 dan 3 di jam dindingmu?” tanya Yoora saat menyadari tidak adanya angka 2 dan 3 di jam dinding yang tertempel di kamar Suho.

Jam dinding itu memiliki angka-angka yang timbul yang sepertinya mudah untuk dilepas-pasang, dan saat ini, angka yang ada hanyalah angka 1, 4 dan 5 sampai 12. Dan hal itu cukup untuk membuat Yoora merasa bingung.

“Ah, itu.” Mimik wajah Suho seketika berubah, rasanya berat sekali baginya untuk menjelaskan tentang hal ini pada Yoora.

“Angka 2 dan 3 yang tidak ada itu, hanya mewakili mereka yang telah pergi meninggalkanku, meninggalkan keluarga ini. Aku tidak benar-benar menjadi anak kedua di keluarga ini, dan Sehun pun, dia tidak benar-benar menjadi anak ke-10 di keluarga ini.” jelas Suho dengan suara yang terdengar berat, tatapannya tak secerah yang sebelumnya, sekarang ia kembali terlihat seperti orang yang sedang sakit.

“Apa maksudmu, Oppa? Maksudmu ada anggota lain lagi yang…” gadis itu menggantungkan perkataannya.

“Mungkinkah, yang kau maksud itu… Luhan dan Kris?”

Suho terlihat memaksakan senyumnya, senyumannya terasa begitu hambar.

“Benar juga, kau sudah tahu itu. Tidak mungkin kau tidak tahu jika kau saja mengenali kami sebagai member EXO sejak awal menginjakkan kakimu di tempat ini.”

“Maaf, Oppa. Aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu kembali mengingat mereka.” Ucap Yoora terlihat sangat menyesali kebodohannya. Seandainya saja ia bisa berpikir sendiri tanpa bertanya terlebih dahulu, mungkin luka Suho tidak akan kembali menganga dan terasa sangat perih.

“Kau tenang saja, ayah sudah memberiku kekuatan yang luar biasa. Jika aku ingin melupakan mereka, aku hanya tinggal menghapus mereka dari pikiranku. Jika aku ingin mengingat masa-masa indahku bersama mereka, aku hanya tinggal mengembalikan ingatanku tentang masa-masa indah bersama mereka tanpa mengingat kesakitan itu. Aku bisa mengatasi kesakitanku tanpa bisa mengatasi kesakitan Xiumin Hyung, Lay, Baekhyun, Chen, Chanyeol, Dio, Tao, Kai, ataupun Sehun. Kekuatanku tidak berpengaruh sama sekali pada mereka.” Sebulir cairan bening berhasil lolos dari sudut mata Suho.

Dasar Yoora bodoh! Lihatlah, karenamu, senyuman Suho kini berganti menjadi airmata!

“Maafkan aku, aku sungguh minta maaf, Oppa.

PicsArt_07-07-11.41.30

♥♥♥

[Preview Chapter berikutnya]

“Kenapa, hanya aku yang tidak bisa mencintaimu?”

Gadis itu menatap lelaki yang berdiri di hadapannya, mata lelaki itu terlihat begitu sendu.

Kai mendorong Yoora hingga gadis itu jatuh terlentang di atas ranjangnya,

“Jangan salahkan aku, kau yang lebih dulu menggodaku!”

Baekhyun Oppa, tolong aku! siapapun tolong aku!

Yoora tak berani melangkah terlalu dekat, tapi ia juga tak bisa membiarkan lelaki itu bertindak bodoh.

“Selamat tinggal, Yoora…”

― Sadistic Night : Chapter 3 END ―

Hueeeeee T_T maafkan daku readers 😥 ngaret sehari dari jadwal(?) tayang(?) yang sudah ditentukan 😥 saya terlalu disibukkan oleh berbagai aktifitas di sekolah akhir-akhir ini, dan mungkin ke depannya pun akan lebih parah dari ini 😥 jadi mohon pengertiannya yaa readerskuuu :’* semoga kalian tetap mau menanti kelanjutan dari FF ini heheh :’D

buat yang udah baca nih chapter, kalau emang mau baca chapter selanjutnya, dimohon sisakan komentarnya yaa :* lapyusomac, ders 😀

Iklan

20 thoughts on “[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT -CH. 3 : Destiny

  1. ihhhh Chanyeol bkin gereget bnget sih>…< ihhh daa dia knpa munafik banget sihhh. dia mh nunjukin rasa suka ama Yoora dgan cara nyakitin perasaan s Yoora nya-,- d next chapter d bkin adegan so sweef chanyeol ama Yooranya dong Thoorr ^^ ihhh sehun nyosor2 aja ihhhh-____- chanyeol jga dong thoor s bjin scene kissnya ama Yoora ^-^ okeee d tunggu banget next chapternyaa ^-^ semangat yaa thorrr ^^

    Suka

    1. Yaa pokoknya kalo udah tergolong vampir kelas A mah gitu semua pasti :” baekhyun kan punya kekuatan bisa denger kata hati/pikiran orang lain kecuali yoora, dari situ dia bisa langsung bayangin kejadiannya gimana :’)

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s