[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 4

[Fanfiction] SADISTIC NIGHT

Untitled-1copyChapter 1, Click Here 🙂

Chapter 2, Click Here 🙂

Chapter 3, Click Here 🙂

― Sadistic Night : Chapter 4 ―

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Main Cast :

Kim Yoojung as Kim Yoora & Baek Soomin

Byun Baekhyun as Baekhyun Lee

Park Chanyeol as Chanyeol Lee

Oh Sehun as Sehun Lee

Supported Cast :

Kim Jongin as Kai Lee || Huang Zitao as Tao Lee || Kim Joonmyun as Suho Lee || Kim Minseok as Xiumin Lee || Kim Jongdae as Chen Lee || Do Kyungsoo as Dio Lee || Zhang Yixing as Lay Lee || Lee Pace as Pace Lee

Genre : AU, Brothership, Drama, Fantasy, Gore, Little bit comedy(?), Romance, Sad, Vampire

Rated : R with Little bit NC-17 inside it.

Length : Chaptered/Series

Disclaimer : Semua cast adalah bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya untuk kepentingan cerita. Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari berbagai film dan anime yang bergenre fantasy. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

WARNING : DANGEROUS!

Sekarang, kau sudah mengetahui siapa kami sebenarnya. Jadi, bisakah kau mengatakan padaku siapa kami sebenarnya?

 

♥♥♥

Lelaki itu berusaha bangkit dari posisi tidurnya, sehelai kain basah yang dipakai untuk mengompres dahinya tadi ia lepaskan. Matanya memandang ke arah gadis yang tengah duduk menunduk di tepi ranjangnya, ya, siapa lagi kalau bukan Kim Yoora. Gadis itu tetap saja merasa bersalah karena telah mengungkit-ungkit luka yang seharusnya sudah menjadi masa lalu Suho dan juga keluarga Lee tentunya.

“Jika kau meminta maaf padaku hanya untuk hal itu, aku tidak apa-apa. Aku bisa mengatasinya. Tapi jangan ungkit-ungkit hal itu lagi di depan yang lain, karena jika kau melakukannya, aku tidak akan pernah bisa mengatasinya.” Ucap lelaki itu dengan sisa-sisa suaranya yang mulai terdengar serak.

Ne, Oppa. Aku tidak akan pernah lagi mengungkit masalah itu, aku janji.”

Yoora tersenyum seiring dengan mengembangnya senyuman di bibir anak kedua keluarga Lee itu, ya, Suho. Lelaki itu diam terpaku memandangi lekuk wajah Yoora dari mulai dahi sampai ke ujung dagu gadis itu, hingga tanpa ia sadari, wajahnya terus mendekati wajah Yoora.

Yoora menjauhkan wajahnya, tak memberi kesempatan pada lelaki itu untuk menciumnya. Setelah Baekhyun dan Sehun, apa harus leader ini juga merasakan sentuhan bibirnya? Ia hanya tidak mau terlihat sebagai gadis yang begitu murahan di keluarga ini. itu saja.

Suho terkejut dengan reaksi Yoora yang menolaknya, tapi dari hasil penolakan Yoora itu, Suho dapat melihat jelas bekas gigitan taring yang sangat dalam di leher putih gadis itu. Dan Suho tersadar, bekas gigitan itu adalah milik Baekhyun.

“Apa, kau mencintai Baekhyun?”

Pertanyaan itu berhasil membuat Yoora terperangah dan bingung untuk menjawab apa karena ia sendiri tidak tahu seperti apa perasaannya pada lelaki yang namanya disebut oleh Suho itu. Kata-kata cinta selalu saja terdengar rumit di telinganya.

“Kenapa Oppa bertanya seperti itu?”

“Kalau begitu ijinkan aku untuk menciummu sebentar saja…”

Yoora bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah jendela besar yang ada di kamar lelaki itu, membuat lelaki itu terus memandangnya dengan sejuta kebingungan. Entah dari mana asalnya seluruh kekuatan itu, yang jelas saat ini, Suho bisa ikut berdiri dan menghampiri gadis itu walau masih dengan tubuh yang lemah.

Suho membalikkan tubuh Yoora, menatap matanya sebentar seolah meminta ijin, dan……….

CHU!

Lelaki itu menempelkan bibirnya ke bibir Yoora, melumatnya dengan lembut, dan sesekali menggigit-gigit pelan bibir bawah gadis itu, membuat gadis itu seketika memejamkan matanya dan terhanyut dalam ciuman lembut yang diberikan leader itu padanya.

“Dia adalah alasanku untuk tetap hidup, Hyung. Aku mencintainya.”

“Takkan kubiarkan orang lain merebutnya darimu. Aku berjanji untuk itu.”

Suho melepaskan ciumannya di bibir Yoora, teringat akan janji yang pernah ia ucapkan.

“Kau harus belajar menghargai ucapanmu sendiri, karena menjadi seorang pemimpin yang baik sampai kapanpun itu tidaklah akan menjadi mudah.” Ucapan sang ayah saat menunjuknya menjadi anak yang paling dipercaya pun ikut terngiang di telinganya.

“Kenapa, hanya aku yang tidak bisa mencintaimu?”

Gadis itu menatap lelaki yang berdiri di hadapannya, mata lelaki itu terlihat begitu sendu. Apa maksud dari kata-kata Suho barusan? Apa Suho mencintainya? Apa ada sesuatu hal yang membuat Suho tidak bisa mencintainya? Kenapa saat menatap mata Suho yang sendu itu hatinya seakan tak rela?

Tes! Setetes airmata Yoora jatuh berlinang begitu saja di pipinya.

“Benar, aku tidak boleh mencintaimu. Aku tidak boleh mencintai manusia. Aku, tidak boleh jatuh cinta pada siapapun.” Lelaki lembut itu membalikkan tubuhnya membelakangi Yoora sembari menahan airmatanya

BREG!

Yoora memeluk lelaki itu dari belakang dengan sangat erat, ia menangis di balik punggung Suho. Kenapa cinta selalu saja membuat orang-orang yang kita sayangi menangis? Kenapa cinta selalu saja dikaitkan dengan pilihan yang menyakitkan? Disakiti atau menyakiti, cinta selalu seperti itu.

“Jangan menyiksa dirimu sendiri. Bahkan jika itu hanya untuk sesaat, aku bersedia untuk menjadi gadis yang kau cintai.” Ucap Yoora dengan bayang-bayang Chanyeol, Baekhyun, dan Sehun yang terus melintas di pikirannya seperti putaran kaset rusak. Maafkan aku.

♥♥♥

“Yoora, apa kau melihat Suho Hyung?” tanya Baekhyun pada Yoora sambil menuruni beberapa anak tangga.

“Ah, Suho Oppa? Dia di kamarnya. Suho Oppa sedang sakit jadi saat ini dia sedang beristirahat.”

“Eh? Sakit? Sakit apa yang kau maksud?”

Yoora menahan lengan Baekhyun saat lelaki itu hendak berlalu ke kamar Suho.

“Untuk saat ini, jangan mengganggunya dulu. Suho Oppa benar-benar butuh istirahat.”

Tangan dingin Baekhyun menyentuh tangan hangat Yoora yang menahannya dan tersenyum,

Arraseo.

“Aiii, jinjja! Kenapa akhir-akhir ini aku harus selalu melihat pemandangan seperti ini? apa mungkin karena akhir-akhir ini aku selalu bersama dengan lelaki playboy yang satu ini?”

Tao datang bersama Sehun tepat di saat Baekhyun dan Yoora sedang terlihat saling bertatap satu sama lain dengan tangan Baekhyun yang menggenggam tangan gadis itu.

Tao menyiku lengan Sehun, memberi isyarat pada adiknya untuk membalas candaannya itu. tapi Sehun tak bergeming, lelaki itu terlihat memperhatikan tangan Yoora yang sedaritadi digenggam Baekhyun. Mendapati Sehun yang tak meresponnya, Tao mencoba menahan kekesalannya dengan tawa yang dipaksakan.

“Kalian terlihat semakin sering bersama saja. Eum, ngomong-ngomong Hyung, kau tidak akan melepaskan genggaman tanganmu pada Yoora?”

“Memangnya harus kulepaskan?” pertanyaan Baekhyun itu sontak membuat Yoora, Sehun, dan Tao terbelalak karena raut wajah Baekhyun sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya sedang bercanda.

“Kalau kau memang menyukainya, ya tidak usah kau lepaskan, Hyung. Aku hanya bercanda.” Tao berusaha keras untuk cengengesan, untung saja, Yoora membantu usahanya dengan ikut cengengesan garing.

“Yoora…” Sehun akhirnya membuka mulutnya.

Ne?

“Bisa kau ikut aku sebentar?”

Yoora berpaling ke arah Baekhyun, matanya menatap Baekhyun sambil terus tersenyum, hingga perlahan tapi pasti, ia melepaskan genggaman Baekhyun di tangannya dan meraih uluran tangan Sehun.

“Heee? Mau kau bawa ke mana dia? Kita tidak benar-benar ingin mengganggu momennya dengan Baekhyun Hyung kan?” Tao mengerenyitkan dahinya, bingung.

“Ini urusanku, Hyung. Bukan urusan kita.” Jelas Sehun sebelum akhirnya pergi dengan menarik lengan Yoora yang terpaksa berlari kecil di belakangnya.

Sehun Lee, jangan bilang kau benar-benar mencintainya…

 

♥♥♥

Sehun membawa Yoora ke taman belakang rumah mereka dan duduk di bangku taman yang tersedia. Suara gemericik air kolam buatan yang ada di dekat mereka setidaknya tidak membuat keadaan di antara mereka begitu hening.

“Ada apa, Oppa?” tanya Yoora yang sedaritadi hanya menunggu Sehun untuk memulai pembicaraan. Tapi lelaki itu masih saja larut dalam kebisuannya.

Gadis itu menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Sehun, berharap Sehun tak membuang waktu mereka dengan percuma.

“Kau ini sebenarnya milik siapa? Chanyeol Hyung? Baekhyun Hyung? Atau siapa? Katakan padaku secara jelas agar aku bisa merebutmu dari orang itu!”

Mwo?” dahi Yoora berkerut, terkejut sekaligus tak habis pikir dengan apa yang baru saja lelaki itu katakan. Merebutnya dari orang lain? Sehun pasti bercanda.

“Apa kau ini benar-benar gadis yang bodoh? Apa otakmu itu tidak pernah bekerja dengan baik sehingga tidak bisa mencerna kata-kataku?” Sehun menatap mata Yoora.

“Apa kau tidak merasakan hal yang sama saat bersamaku?”

“Merasakan apa?” Yoora membalas tatapan tajam Sehun, pertanyaan bodohnya itu membuat lensa biru pekat Sehun terlihat bersinar sekilas.

“Lupakan saja!”

Oppa!” Yoora menahan tangan Sehun agar tak pergi begitu saja.

“Kau ini kenapa sebenarnya? Apa yang membuatmu begini? Tidak bisakah kita kembali seperti sebelum-sebelumnya?”

“Kalau begitu tolong hentikan aku!” bentak Sehun yang langsung membuat Yoora terdiam menatapnya.

“Aku juga tidak ingin seperti ini. Aku gila, aku menjadi gila karenamu. Tolong hentikan aku, aku tidak ingin mencintaimu lebih dalam lagi.” mata Sehun berair, tapi tak sampai jatuh membasahi pipinya. Yoora menunduk, semua ini sudah cukup jelas untuk membuktikan kalau kehadirannya di keluarga ini memang merupakan suatu kesalahan.

“Seharusnya saat itu Tao Oppa tidak mencegahku untuk pergi. Seandainya saja Tao Oppa tidak mengingat apapun tentangku, mungkin aku sudah pergi sejak saat itu juga dan tak membuat kekacauan di keluarga ini. Mianhae Oppa, aku akan berusaha semampuku untuk membuatmu tak mencintaiku lagi.” Yoora berlalu, meninggalkan Sehun yang tak percaya dengan apa yang didengarnya itu.

♥♥♥

Yoora berlari masuk ke kamarnya, mengunci pintu kamarnya agar tak seorang pun bisa masuk dan mengganggunya. Ia jatuh terduduk di pinggir kasurnya. Ia menangis, tak kuat menahan airmatanya yang sedaritadi ia tahan. Chanyeol, Baekhyun, Sehun, Suho, hatinya takkan sanggup untuk memilih salah satu di antara mereka.

Satu persatu kenangan manis yang ia lalui bersama ke-4 lelaki bersaudara itu kemudian melintas begitu saja di pikirannya, seolah membiarkannya larut dalam kebimbangan yang menyedihkan.

“Kau hanya akan berdiam diri di sana?”

“Ye?”

“Kemarilah.”

…..

“Kenapa kau diam saja?”

“Bukankah kau yang menyuruhku untuk tidak banyak bicara, Chanyeol-ssi?”

“Benar juga.”

…..

“Lalu, apa kau dan aku hanya akan terus saling diam seperti ini? membosankan sekali.”

“Kau dan aku tidak sedang saling diam, Chanyeol-ssi. Buktinya saat ini, kau dan aku sedang saling bicara.”

“Akh, jinjja! Kau benar. Tapi bukan seperti itu yang ku maksud.”

“Lalu apa? Kau ingin aku bicara apa? Topik apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

“Apa saja! Arraseo?”

“Kalau begitu, aku mengerti. Kata-katamu sudah ku kunci, dan kau tidak bisa menariknya kembali, Chanyeol-ssi.”

“Kau harus jujur padaku!”

“Tentang apa?”

“Apa saja! Arraseo?”

“Arraseo, arraseo!”

“Kenapa kau tiba-tiba menjadi baik padaku eoh? Padahal sebelumnya, kau terlihat sangat membenciku. Ada hujan petir seperti apa yang mampu merubah sikapmu dalam sekejap seperti itu, huh?”

“Nugu? Na? Anio! Aku tidak menjadi baik seperti apa yang kau katakan barusan.” Elak Chanyeol saat itu dengan tingkah mencurigakan.

“Benarkah begitu?” saat itu Chanyeol sibuk menyembunyikan tawanya yang sengaja ia tahan agar tetap terlihat jual mahal di depan gadis itu.

“Kalau begitu, tatap aku!”

“Kenapa aku harus?” tanya Chanyeol masih dengan sikap jual mahalnya.

“Karena mata merupakan pintu hati yang tidak akan pernah bisa berbohong.”

Chanyeol akhirnya menatap kedua mata Yoora begitu dalam hingga tanpa ia sadari Chanyeol perlahan mendekatkan wajah tampannya ke wajahnya. Semakin dekat, dekat, dan sangat dekat, hingga…..

Yoora tersenyum dalam tangisnya, kalau saja saat itu Lay tidak berteriak memanggilnya, mungkin Chanyeol akan menjadi orang pertama yang menciumnya.

“Kau tidak akan menjawabnya?”

“Ye?”

“Pertanyaanku, yang tadi…”

“Anggap saja ini, sebagai tawaran kencan…”

…..

“Eotte?”

Baekhyun, lelaki itulah yang pertama kali mengajaknya berkencan dengan malu-malu.

“Apa kau sudah memanggil Sehun, Kai, dan Tao dengan panggilan ‘Oppa’?”

“Wae? Apa kau juga ingin ku panggil ‘Oppa’ eoh? Baekhyun-ssi?”

“Aniya!”

Baekhyun, lelaki itulah yang pertama kali menunjukkan kecemburuannya dan membuat Yoora gemas.

“Baekhyun-ssi…”

“Wae?” saat itu Baekhyun sama sekali tak memalingkan wajahnya.

“Bisakah kau mengantarku ke kantin yang ada di sini? Cacing yang ada di perutku sepertinya mulai mengamuk karena tidak ku beri makan sampai saat ini.”

“Shireo!”

“Aiii, waeyo?! Aku seperti ini juga tidak lain karena dirimu!”

“Tidak ada yang seperti itu! Itu salahmu sendiri kenapa malah menolak untuk makan malam bersama yang lainnya.”

“Huh? Kau benar-benar!”

“Pergilah bersama Dio dan mintalah dia untuk memasakkan sesuatu untukmu di sana, masakannya lebih enak daripada masakan koki di kantin sekolah ini.”

Baekhyun, lelaki tak bertanggung jawab yang diam-diam memperdulikannya.

“Jangan! Jangan! Chanyeol-ssi!”

PLAK!

“Bukankah sudah ku bilang untuk menyimpan teriakanmu?! Itu sangat menggangguku!” bentaknya.

“YAK! CHANYEOL LEE!”

“B-b-baekhyun…ssi.”

“Pergilah!”

“Kalau kau melangkahkan kakimu selangkah saja, itu berarti kau tidak patuh padaku!” ucap Chanyeol dengan nada mengancam saat itu.

“Diam kau!” bentak Baekhyun pada Chanyeol.

“APA YANG KAU TUNGGU?! CEPAT KELUAR!”

Baekhyun, lelaki itulah yang selalu menjadi penyelamatnya saat ia dalam bahaya.

“Yoora! bisa kau dengar aku? Jawab aku!”

“Katakan sesuatu agar diriku bisa sedikit tenang!”

“B-Baek…hyun-ssi.”

“Mian… mianhae… jeongmal mianhae, Yoora. Aku seharusnya bisa lebih menjagamu. Mian.” Airmata Baekhyun saat itu jatuh membasahi pipi Yoora.

“Mianhae… untuk meninggalkanmu sendirian, untuk tidak pernah mengkhawatirkanmu, untuk membawamu ke dalam kesulitan seperti ini. Jeongmal mianhae.”

Baekhyun, Lelaki itu pula lah yang bisa menjadi benar-benar gila ketika mengkhawatirkannya.

“Hhh….hhh… Baekhyun-ssi…. apa yang akan kau lakukan?”

“Mianhae, Yoora. Aku sudah tak tahan lagi…”

…..

“Sakit… sakit sekali, Baekhyun-ssi…”

“Mianhae, Yoora. Lain kali kau bisa menggigit bahuku jika rasanya begitu menyiksamu.”

Baekhyun, lelaki itu juga yang pertama kali menancapkan taring di lehernya, menghisap darahnya, dan memberinya ciuman pertama yang lembut dan menenangkan.

Mata Yoora kembali berair ketika mengingat semua kejadian yang ia lalui bersama Baekhyun, apa ia jatuh cinta pada lelaki yang salah?

“Yak, apa kau akan segera tidur tanpa makan malam terlebih dahulu eoh?”

“Ye?”

“Akh, jinjja! Cepatlah ganti pakaianmu, Suho Hyung tidak akan suka melihat seseorang mengenakan piyama saat makan malam. Cepatlah! Mereka semua sedang menunggumu!”

“Ne, ne, ne. Chakkaman!”

“Tidak perlu menutup pintu, kau hanya akan membuang-buang waktu. Ppali!”

“Tapi…”

Saat itu Sehun mendorong-dorong tubuhnya untuk masuk ke kamar dan duduk di ranjangnya.

“Ini! pakai ini!”

“Ini?”

“Sekali lagi kau bertanya, aku yang akan memakaikannya ke tubuhmu.”

“Ah? Ne, ne, baiklah. Tidak bisakah kau membalikkan tubuhmu dulu? Aku tidak biasa mengganti pakaian di hadapan lelaki.”

“Yoora….” Saat itu Sehun benar-benar menatapnya.

“Arraseo! Arraseo!”

…..

“Chanyeol Hyung!”

“Chanyeol-ssi…”

“Diamlah, kau hanya perlu ikut denganku. Tak usah banyak bicara. Arra?”

“Tapi, Hyung. Dia bersamaku.” Cegah Sehun.

“Ssst! Sekarang dia bersamaku. Kau, pergilah ke kamarmu dan lakukan apapun yang kau mau. Suho tidak akan marah, dia sedang sibuk mengurusi Baekhyun. Ka! Ka!”

…..

“Dini hari seperti ini kita mau ke mana?”

Sehun menyentil dahi Yoora, gadis itu ingat betul seperti apa wajah lelaki itu saat malas menghadapi kebodohannya.

“Kau sudah memegang seragamnya bukan? Kita akan sekolah malam! Mulai malam ini kau akan bersekolah di sekolah malam keluarga kami. Jadi, jika kau tidak mau mendapat hukuman dari Suho Hyung, kau harus menemui kami di bawah tepat waktu! Arraseo?”

…..

“Yak! Jangan bilang kau menatapku seperti itu karena kau ingin aku yang memandikanmu?!”

“Ye?! Tidak mungkin!”

…..

“Seharusnya tadi aku benar-benar membantumu mandi. Kau pasti tidak akan terlambat jika aku yang membantumu.”

“Yak! Kalau kau yang memandikannya, bisa-bisa dia terlambat satu setengah jam! Kau kan tidak pernah bisa bermain dengan cepat, Sehun-ah.”

…..

“Yak, kau pasti pernah melakukannya bukan? Tidak mungkin kau tidak pernah melakukannya. Setidaknya kau pernah merasakannya sekali selama hidupmu ini, benarkan?!”

“Apa maksudmu, Sehun-ssi?”

“Kalau kau memang belum pernah melakukannya, pasti kau maukan melakukan yang pertama bersamaku?” goda Sehun saat itu.

“Yaha! Lihatlah! Wajahnya benar-benar seperti kepiting rebus sekarang!”

…..

“Melihatmu tak berdaya seperti ini agak sedikit membuatku kecewa. Entah kenapa.” Ucap Sehun saat mengantarnya pulang ke rumah setelah kejadian mengerikan yang membuatnya syok beberapa hari yang lalu itu. saat itu, Yoora hanya bisa memeluk lemah tubuh Sehun dari samping.

“Mungkin karena aku tidak bisa menggodamu lagi jika keadaanmu se-mengkhawatirkan ini.”

“Huh… padahal, menggoda gadis sepertimu itu sangat mengasyikan untukku. Semacam hiburan utama, atau apalah itu.”

“Yoora-ya… kau tenang saja, ‘Oppa’ akan menggodamu lagi jika kau sudah baikan. Hahaha.”

…..

“Mi…mian.” ucap Sehun sesaat setelah ia melepaskan ciumannya di bibir Yoora. Gadis itu masih sangat ingat betapa lembutnya bibir Sehun saat menciumnya.

…..

“Kau ini sebenarnya milik siapa? Chanyeol Hyung? Baekhyun Hyung? Atau siapa? Katakan padaku secara jelas agar aku bisa merebutmu dari orang itu!”

“Apa kau ini benar-benar gadis yang bodoh? Apa otakmu itu tidak pernah bekerja dengan baik sehingga tidak bisa mencerna kata-kataku?”

“Apa kau tidak merasakan hal yang sama saat bersamaku?”

“Kalau begitu tolong hentikan aku!”

“Aku juga tidak ingin seperti ini. Aku gila, aku menjadi gila karenamu. Tolong hentikan aku, aku tidak ingin mencintaimu lebih dalam lagi.”

Mungkin Yoora saat ini sedang berpikir kalau dirinya benar-benar gila saat itu, membiarkan Sehun melihat apa yang seharusnya tak dilihatnya. Tapi gadis itu lebih merindukan Sehun yang terus mengganggunya daripada Sehun yang tadi terlihat begitu rapuh saat melihatnya bersama lelaki lain, ya, Sehun yang mencintainya hanya membuat jarak mereka yang awalnya dekat menjadi terasa begitu jauh sekarang.

Suho? momen apa yang pernah ia lalui bersama anak ke-2 keluarga Lee itu? semuanya terasa mengalir saja, seperti air. Antara Suho dan dirinya, tak pernah ada yang spesial sebelumnya. Entah memang tidak ada, atau sebenarnya ada tapi tak pernah ia sadari. Yang jelas, sejak kejadian tadi…….

CHU!

“Kenapa, hanya aku yang tidak bisa mencintaimu?”

“Benar, aku tidak boleh mencintaimu. Aku tidak boleh mencintai manusia. Aku, tidak boleh jatuh cinta pada siapapun.”

DREP!

“Jangan menyiksa dirimu sendiri. Bahkan jika itu hanya untuk sesaat, aku bersedia untuk menjadi gadis yang kau cintai.”

Kim Yoora adalah milik Suho Lee.

♥♥♥

Yoora membuka helai demi helai kain yang menutupi tubuhnya. Setelah makan malam di ruang makan tadi, ia langsung bergegas ke kamar untuk mengganti dress yang ia pakai dengan piyama kesayangannya. Ia benar-benar lelah setelah merawat Suho seharian. Ternyata merawat vampire yang sedang sakit tidak semudah yang ia kira.

Yoora terpaku, tak mampu untuk bergerak 1mm pun tatkala ia merasa sesuatu yang dingin melingkar di perutnya, mendekapnya dari belakang, dan mampu membuat bulu kuduknya berdiri seketika.

Nu…nugu? nuguya?” tanya gadis itu. keringat dinginnya menetes begitu saja.

“Seseorang yang tergoda akan tubuh mulusmu. Aku harus membuat setidaknya beberapa luka di tubuh ini agar tak seorang pun mau mengambil alihnya dariku.” Ucap suara berat itu tepat di telinganya.

“Kai oppa?” tebaknya.

Lelaki yang merasa namanya disebut itu pun menyeringai,

“Kau pintar, Sayang.”

Oppa! Ku mohon jangan! Jangan lakukan itu padaku!” Yoora berontak saat bibir Kai mulai mencumbu lehernya. Ia berusaha melepaskan diri dari Kai, tapi sial, lingkaran tangan Kai di pinggangnya itu begitu kuat. Seberapa kuat pun dirinya, tidak akan mungkin mampu melawan tenaga lelaki itu.

“Aish, kau ini berisik sekali.”

“Mmpphh…” Kai membungkam mulut Yoora dengan bibirnya setelah terlebih dahulu membalikkan tubuh gadis itu menghadapnya. Ia mencium bibir Yoora kasar, sama sekali tak ada lembut-lembutnya. Ia hanya ingin melampiaskan hasrat seksualnya saja yang rasanya semakin meningkat semenjak ia menjalani hidupnya sebagai seorang vampire. Cinta? Tidak ada secuilpun dari permainan Kai yang menyuguhkan cinta pada korbannya.

“Mmmh…entikhhan…. mmjeb…alhh.” teriak Yoora tertahan di sela-sela ciuman Kai yang semakin lama semakin mengganas itu. Ia terus berontak, dari mulai mendorong hingga memukul-mukul dada bidang Kai sekuat yang ia bisa. Tapi tetap saja, ia hanya membuang-buang tenaganya dengan percuma.

“Aaaakh!”

Gadis itu mengerang kesakitan tatkala tangan dingin nan kekar milik Kai itu tiba-tiba mencengkeram pinggangnya. Rasa sakitnya benar-benar tak tertahankan sampai-sampai gadis itu spontan menitikkan airmata. Rasanya seperti, tulang panggulmu berhasil lelaki itu remukkan.

Kai mendorong Yoora hingga gadis itu jatuh terlentang di atas ranjangnya,

“Jangan salahkan aku, kau yang lebih dulu menggodaku!” lelaki itu langsung menindih tubuh Yoora, tak memberi gadis itu kesempatan satu detikpun untuk meloloskan diri darinya.

“Aku tidak pernahhmp… mhh…godamump…” bantah Yoora yang langsung disambut oleh bibir seksi milik Kai. Lelaki itu tak henti-hentinya mencium bibir dan mencumbu leher Yoora secara bergantian. Bahkan kini, lelaki itu sudah berani untuk melucuti piyama yang Yoora kenakan.

Baekhyun Oppa, tolong aku! siapapun tolong aku!

Batin Yoora menjerit, tak rela bila harus diperlakukan serendah ini oleh lelaki itu. setelah melakukan berbagai macam penolakan yang berujung sia-sia, gadis itu akhirnya pasrah. Ia menangis tertahan, sementara Kai terus melanjutkan aktifitas menyenangkan itu di tubuhnya. Gadis itu tersadar, kekuatan Baekhyun takkan mampu menembusnya. Baekhyun takkan pernah bisa mendengar bagaimana hatinya menjerit meminta tolong saat ini. semuanya, apa harus berakhir seperti ini?

“Apa kau akan terus menahan desahanmu?” tanya Kai dengan lensa mata hijaunya yang terus menyala-nyala. Tatapannya begitu tajam dan menusuk.

Yoora terlihat menggigiti bibirnya saat Kai mencoba memberikan sensasi berlebih dengan meremas payudara kanannya yang masih terbungkus bra berwarna hitam itu, ia berusaha keras untuk menahan desahan yang menjijikkan yang terus mencoba keluar dari mulutnya itu.

“Aaaah!” jerit Yoora kesakitan karena lelaki itu kini menjambak rambut panjangnya dengan kasar.

“Sakit, oppa! Sakit!”

“Mendesahlah! Dan panggil namaku dalam desahanmu itu!”

BRAK!

Pintu kamar Yoora terbuka seketika ketika seorang lelaki mendobraknya dengan paksa dari luar sana. Kai dan Yoora otomatis terkejut, lelaki itu dengan spontan melepas jambakannya di rambut Yoora. kini, gadis itu benar-benar terlihat berantakan dan, sangat menjijikkan.

“Suho Hyung…

Lelaki yang berhasil mendobrak pintu kamar Yoora itu langsung menghampiri Yoora yang menangis pilu, menyelimutinya, dan memberi pelukan penenang untuknya. Tatapan tajam yang berasal dari lensa berwarna merah menyala itu menusuk tepat ke lensa berwarna hijau terang milik Kai.

“Kau memang boleh meniduri siapapun yang menjadi korbanmu, tapi Yoora adalah pengecualian. Sekali lagi kau menyentuhnya, kau akan berhadapan langsung denganku.” Ucap Suho, lelaki yang menjadi penyelamat hidup Yoora yang baru.

Mi…mianhae… hyung.” Kai meminta maaf dengan gelagapan, matilah ia kalau sampai Suho membencinya.

“Pergilah. Aku tidak ingin melihatmu untuk beberapa hari ke depan. Selama itu, jangan pernah menampakkan dirimu di hadapanku atau kau akan berakhir saat itu juga.”

N-ne, Hyung.

Kai menghilang dari hadapan Yoora dan Suho dalam sekejap mata dengan menggunakan kekuatan teleportasinya.

“Yoora-ya, gwenchana?” tanya Suho khawatir. Bagaimana bisa ia tidak khawatir? gadisnya itu hampir saja diperkosa oleh adiknya sendiri.

Yoora tak menjawab, ia hanya terus menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Suho. Namun di dalam hatinya, ia sangat sangat berterimakasih sekaligus meminta maaf pada lelaki itu. berterimakasih karena lelaki itu sudah menyelamatkan dirinya dari nafsu buas Kai, sekaligus meminta maaf karena ia telah mengharapkan orang lain yang menyelamatkannya. Ya, orang lain, orang yang nyatanya tak datang untuk menyelamatkannya.

Baekhyun oppa, di mana kau saat aku menjerit perih memintamu datang untuk menyelamatkanku? Kau tahu, aku membutuhkanmu…

Suho oppa, maafkan aku…

♥♥♥

Sama seperti malam-malam sebelumnya, malam ini terasa begitu asing bagi ke-9 lelaki anggota keluarga Lee itu. Pasalnya, sudah 10 hari lelaki yang biasa duduk di depan Xiumin ketika di ruang makan itu tidak ikut serta dalam acara makan malam mereka. Suho masih berbaring di tempat tidurnya semenjak kesehatannya menurun drastis setelah memaksakan diri untuk menyelamatkan Yoora malam itu. Lelaki itu membutuhkan istirahat dan perhatian yang ekstra agar bisa kembali beraktifitas seperti semula. Tanpa Suho, ke-9 lelaki itu merasa seperti ada yang kurang dari diri mereka sendiri.

“Ah, membosankan sekali.” Keluh Sehun.

“Biasanya sebelum makan, Suho Hyung pasti mengoceh terlebih dahulu. Melarangku untuk ini dan itu. Tapi kali ini, telingaku benar-benar kesepian rasanya.” Tao menidurkan kepalanya di atas meja makan, ia terlihat tak bersemangat.

“Kalian ini,” Xiumin membuka mulutnya.

“Ini waktunya kita untuk makan malam, bukan untuk mengeluh ini dan itu. Suho juga pasti akan marah jika tahu kalian seperti ini.”

Ne, Hyung. Mianhaeyo.” Ucap Sehun dan Tao bersamaan. Tao membenarkan posisi duduknya lagi, dan semuanya kembali seperti semula. Tak ada percakapan apapun di antara Yoora dan ke-9 bersaudara itu. Mereka semua menikmati makan malam mereka dengan tenang walaupun tanpa sang leader di tengah-tengah mereka.

Selesai dengan makan malam mereka, mereka semua pun kembali ke kamar mereka masing-masing, kecuali Yoora dan Chanyeol yang terlihat masih duduk dan tak beranjak dari kursi makan mereka sampai saat ini.

“Ekhem.” Chanyeol berdehem.

Yoora tak merespon, gadis itu tampak melamun sedaritadi.

“Ekhem… ekhm… a…. i…. u…. e… o….”

Yoora tetap tak merespon tingkah aneh lelaki itu.

“Yak, Yoora!” ledak Chanyeol akhirnya.

“Ah? Ye?”

Lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung harus memulai kata-katanya dari mana. Ia lebih terlihat seperti, salah tingkah.

Waeyo Oppa?” tanya Yoora sekali lagi.

“Matamu…”

Yoora secara spontan menyentuh kelopak matanya.

“Ada sesuatu di matamu.”

“Ada apa?! Mana?! Mana?!” tanya gadis itu histeris, takut kalau-kalau ada serangga yang menjijikkan hinggap di dekat matanya.

Chanyeol beranjak dari tempat duduknya, menghampiri Yoora yang sedang sibuk dengan kehisterisannya.

“Mana biar ku lihat.” Ucap lelaki itu sembari memegang kedua pipi Yoora, gadis itu hanya memejamkan matanya, membiarkan Chanyeol menyingkirkan sesuatu yang ada di matanya itu.

CHU! CHU!

Chanyeol mengecup kilat kedua kelopak mata Yoora yang terpejam, membuat Yoora mengedip-ngedipkan matanya tak percaya dengan apa yang lelaki itu lakukan. Apa sesuatu yang ada di matanya itu sebenarnya tidak ada? Jadi, Chanyeol hanya mengambil kesempatan dalam kesempitan? Begitukah?

“Apa yang kau lakukan?!” protes Yoora setengah malu, ia mendorong bahu Chanyeol tapi lelaki itu hanya tersenyum nakal sambil menunjukkan barisan giginya yang rapi.

“Yoora…”

Ne?

Chanyeol terlihat ingin memulai pembicaraan yang serius dengan gadis itu, ia menelan ludahnya sendiri karena saking gugupnya.

“Kau… adalah satu-satunya gadis manusia yang tinggal satu atap dengan kami sampai saat ini. Kau masuk ke rumah ini, tinggal bersama kami, lalu masuk ke dunia kami yang menyeramkan ini. kau satu-satunya… Yoora.”

Yoora menatap mata Chanyeol, berusaha menangkap maksud dan tujuan yang lelaki itu ingin sampaikan lewat kata-kata.

“Jika di antara kami, salah satu atau lebihnya, ternyata mencintaimu, menurutku itu hal yang sangat wajar. Sebab, kaulah satu-satunya gadis yang ada di rumah ini, satu-satunya gadis yang kami lihat setiap harinya, satu-satunya gadis yang mengisi hari-hari kosong kami di rumah yang sepi ini.”

Apa maksud Chanyeol? Yoora mengerutkan keningnya.

“Jangan menganggap perasaan cinta yang kami rasakan padamu itu benar-benar tulus. Karena kau tahu? Semua itu hanyalah sesaat. Jika kau pergi sebentar saja dari hidup kami, mungkin cinta itu tidak akan ada lagi. Cinta yang kau rasakan dari salah seorang di antara kami, itu sementara.”

“Jangan pernah berharap semuanya akan sesuai dengan harapanmu. Cinta yang kami berikan tak seindah cinta yang kau bayangkan. Kami…”

“Cukup!” Yoora menyela kata-kata Chanyeol, sungguh ia tak mau lagi mendengarnya.

“Aku tahu maksudmu berkata seperti itu.” mata gadis itu terlihat berkaca-kaca.

“Kau ingin membuatku berhenti mencintai lelaki yang ku cintai, bukan begitu?”

Gadis itu tertawa paksa, airmatanya menetes begitu saja tanpa bisa tertahankan, “Dasar bodoh!”

“Aku tahu Baekhyun Hyung mencintaimu, tapi ku pikir, dia hanya menjadikanmu sebagai pelampiasan rasa kesepiannya selama kurang lebih 176 tahun, karena selama itu, dia tidak pernah terlihat memiliki wanita di sampingnya. Terbayang bukan olehmu betapa kesepiannya Baekhyun Hyung? Dia tidak benar-benar mencintaimu.”

176 tahun Baekhyun menahan kesendiriannya? Yang benar saja! Apa selama 176 tahun itu, kaum wanita tiba-tiba menghilang dari peredaran sehingga memaksanya untuk sendiri? Chanyeol pintar sekali berbohong, dan Yoora, tidak sebodoh itu untuk mempercayainya.

“Sepertinya oppa berusaha keras sekali untuk menghasutku. Ada apa? Apa oppa merasa terganggu dengan hal itu?”

Chanyeol tak berkata-kata lagi.

“Kau memang paling bisa membolak-balikkan hati seseorang. Memberi harapan, namun sedetik kemudian pergi meninggalkan bekas luka. Setelah itu kau datang lagi, membawa harapan baru, kemudian menggantikan harapan tersebut menjadi kerinduan menyakitkan yang takkan bisa menggapai kebahagiaan.”

♥♥♥

Yoora berjalan sendirian di koridor sekolahnya yang baru, ya, tentu saja sekolah malam milik keluarga Lee. Sebenarnya ia mendapat perintah dari guru seninya untuk mengambil sebuah saxophone ―alat musik tiup― yang ada di ruang musik.

KLEK!

Pintu ruang musik terbuka saat Yoora menekan gagang pintu itu. Gelap, hanya ada seberkas sinar bulan yang masuk dari jendela yang terbuka. Gadis itu berjalan dengan hati-hati mencari saxophone yang dimaksud gurunya karena kurangnya pencahayaan yang ada di ruangan itu, lagipula ia tidak tahu di mana letak saklar untuk menghidupkan lampu-lampu itu.

“Ah, dapat!”

♫ Ijen geuttaega anirado hedo (Bahkan jika aku mengatakan pada diriku sekarang, itu tidak akan seperti sebelumnya)

Animyon nal kamahge ijeossodo (Bahkan jika kamu benar-benar melupakanku)

Neon danji naege jinnan saramirado (Bahkan jika aku hanya seorang manusia yang hanya pergi begitu saja)

Tonight is just one night (Malam ini hanya satu malam)

Neoreul ilhgi jeon cheorom… ♫ (Hanya seperti sebelum aku kehilanganmu)

Yoora menaruh saxophone yang baru saja ia dapatkan untuk mencari asal suara indah bak malaikat yang kedengarannya tengah menyanyikan lagu yang benar-benar sedih. Yoora berhenti dan bersembunyi di balik pintu ruangan musik yang menuju ke balkon luar, suara indah itu tetap terdengar merdu tanpa cacat sedikitpun. Seorang lelaki terlihat sedang berdiri di balkon luar, membelakangi Yoora yang masih belum berani untuk mendekat ke arahnya.

♫ …Tonight is just one night (Malam ini hanya satu malam)

Neoreul ilhgi jeon cheorom (Hanya seperti sebelum aku kehilanganmu)

Hanbon man ne mameul deureojwo (Aku mohon dengarkan hatiku sekali saja)

Every day every night i am missing you (Setiap hari setiap malam aku merindukanmu)

Nae gyeote eobseodo ijen beolsu eobseodo (Bahkan jika kau tak ada di sampingku, Bahkan jika aku tidak bisa melihatmu sekarang)

Onjena ne mamen ttok gateun neoingeol… ♫ (Di dalam hatiku, kau selalu sama)

Gadis itu terpukau. Suara lelaki itu benar-benar indah, tapi kenapa lelaki itu harus menyanyikan lagu yang menyayat hati seperti lagu itu? mungkinkah lelaki itu benar-benar sedang merasa sedih? Dengan mendengarnya saja, Yoora sudah merasa terhanyut dalam kesedihan lirik yang lelaki itu nyanyikan.

“Kemarilah, Yoora.”

Gadis yang merasa namanya disebut oleh lelaki itu pun terkejut, bagaimana? Bagaimana bisa lelaki itu tahu namanya dan tahu kalau saat ini dirinya sedang berada di dekat lelaki itu?

Lelaki yang sedaritadi dipandang Yoora secara diam-diam itu membalikkan tubuhnya, memperlihatkan wajahnya yang sudah tak asing lagi di mata Yoora. Lelaki yang tanpa bosan setiap saat selalu membawa boneka kesayangannya bersamanya.

“Chen Oppa?

Ya, lelaki yang memiliki suara seperti malaikat itu adalah Chen, Chen Lee.

Wae? Kau tidak percaya kalau yang bernyanyi tadi adalah vampire?” tanya Chen dengan ekspresi ‘kecewanya seorang anak kecil’.

“Ah, benar. Tidak mungkin juga seorang malaikat datang dan hanya menumpang untuk bernyanyi di balkon sekolah ini.”

“Hihi,” Chen tertawa kecil.

“Secara tidak langsung, kau memuji suaraku seperti suara malaikat. Aku jadi malu.”

Yoora berjalan mendekati Chen dan berdiri tepat di samping lelaki itu. ia menyentuh tembok pembatas yang ada di balkon itu dan memejamkan matanya merasakan angin dini hari yang berhembus.

“Kenapa oppa menyanyikan lagu sedih seperti tadi? Apa kau sedang merindukan seseorang? Siapa itu?” tanya Yoora yang masih memejamkan kedua matanya.

“Bukan seseorang yang ku rindukan, melainkan ada dua orang sekaligus.” Chen terlihat semakin mengeratkan pelukannya pada Chloe, boneka bebek kesayangannya. Suaranya terdengar berat.

“Siapa itu?”

“Orang tuaku yang asli. Ayah dan ibuku.”

Yoora membuka matanya dan memalingkan wajahnya menatap lelaki yang kini berdiri di sampingnya. Tatapan lelaki itu memandang lurus ke depan, entah apa yang dilihatnya, yang jelas tatapannya membuat Yoora seolah ikut merasakan kesedihannya.

“Hari ini adalah hari di mana aku kehilangan kedua orang tuaku saat terjadi perang di China 175 tahun yang lalu.”

“Kedua orang tuaku yang tak tahu apa-apa tentang permasalahan yang sedang terjadi saat itu ikut menjadi korban keganasan perang antara China dan Inggris. 175 tahun yang lalu, aku menangisi mereka yang sudah terbujur kaku dengan banyak luka mengerikan di tubuh mereka tanpa ada seorangpun yang peduli. Aku sendirian, rumahku hancur, perang itu benar-benar membuatku menjadi sebatang kara di negeri orang, aku tidak bisa kembali ke Korea.” Airmata Chen menetes saat ia terpaksa harus mengingat kembali kejadian memilukan yang berhasil merenggut kedua orang tuanya itu.

“Kalau bukan karena ayah, aku mungkin tidak akan pernah berdiri di sini, di sampingmu. Mungkin saat itu juga aku akan mati, entah karena terbunuh, dibunuh, atau bunuh diri. Ayah yang membuatku merasakan kehidupan dalam kematian, Ayah sudah memberiku kebahagiaan yang cukup dengan kehidupan seperti ini. Tapi aku tetap saja merindukan mereka, ayah dan ibuku, orang tuaku yang asli.”

Oppa, apa yang kau lakukan?!” Yoora terlihat panik setelah melihat Chen naik ke atas tembok pembatas balkon dan berdiri tegak tanpa ada rasa takut sedikitpun.

“Jangan mendekat! Atau aku akan melompat!” ancam Chen.

Yoora tak berani melangkah terlalu dekat, tapi ia juga tak bisa membiarkan lelaki itu bertindak bodoh.

Jangan! Jangan bunuh diri, Chen!

“Aku ingin bertemu dengan orang tuaku, aku benar-benar merindukan mereka.”

“Selamat tinggal, Yoora…”

ANDWAE!!!” teriak Yoora yang langsung berlari untuk meraih tangan Chen, namun sial, ia gagal mendapatkan Chen dan malah terpeleset hingga dirinya ikut terjatuh dari balkon ruang musik yang ada di lantai 2 sekolah itu.

BRUK!

“Oukh!” rintihan kecil lelaki itu terdengar jelas di telinga Yoora.

Eh? Apa ia sudah mati? Apa ia dan lelaki itu sudah mati? Tapi kenapa rasanya tidak begitu sakit?

Yoora membuka matanya. Gadis itu akhirnya menyadari kalau dirinya saat ini sedang berada di atas tubuh lelaki yang tadi terjun bebas di depan matanya.

Oppa, kita masih hidup? Atau yang ku lihat saat ini adalah dunia kematian yang sama dengan dunia kehidupan?” tanya Yoora dengan memasang wajah bodohnya.

“Akh, tentu saja kau dan aku masih hidup! Aku tidak akan mati walaupun melompat dari puncak gedung tertinggi di dunia sekali pun, karena aku memang tidak hidup. Dan kau? Akh, kau jatuh tepat di atas tubuhku sehingga kau hanya merasakan sedikit sakit tanpa mengalami pendarahan apapun yang akan membuatmu kehilangan nyawamu. Akh.” Jelas Chen disertai rintihan-rintihan kecilnya.

“Kau harus mengurangi berat badanmu.”

“Ye?! Aku tidak segemuk itu untuk mengurangi berat badanku lagi!” ucap Yoora tak terima. Ia mencoba bangun dari posisinya, namun dengkulnya secara tak sengaja menekan bagian paling sensitif yang Chen miliki.

“Aaahhh….”

“Apa ini?!” Yoora tak berani untuk bergerak lagi, ia benar-benar berkeringat dingin saat merasa sesuatu di bawah dengkulnya itu mencoba menekan kembali dengkulnya ke atas.

“Ahhh yhhhoorah! Singkirhhkan dengkulh sialanhmuh ituh dari adikkuh!” wajah Chen berubah merah dan berkeringat hebat saat ia berusaha keras untuk berbicara tanpa mengeluarkan desahan sialan itu yang sama-sama sialannya dengan dengkul milik Yoora.

Adik?

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” teriak Yoora merasa geli setelah menyadari apa yang dimaksud Chen. Ia bergegas bangkit dari posisinya dan secara tak sengaja lagi menginjak bagian sensitif lelaki itu hingga lelaki mengeluarkan jeritan dan desahan secara bersama-sama.

Jhweosonghamnida!!! Jhweosonghamnida!!!” seru Yoora meminta maaf sambil berlari menutupi wajahnya yang benar-benar memerah karena malu yang luar biasa itu.

“Yak!! Dasar gadis gila!!”

BRUK!

Yoora yang dengan cerobohnya berlari sambil menutup matanya itu akhirnya menabrak seseorang di depannya.

Jhweoseonghae…yo.” Yoora membatu seketika. Baekhyun, lelaki itulah yang bertabrakan dengannya karena menghalangi jalannya untuk berlari dari Chen.

“Kenapa kau ada di sini?” tanya lelaki itu.

Chen berlari mendekat ke arah mereka sambil memegangi adiknya yang terlanjur perih dengan wajah yang masih memerah karena kesal sekaligus menahan sakit.

Hyung! Apa kau tahu apa yang sudah gadis gila ini lakukan pada adikku? Sudah menindihku, menekan adikku, dan terakhir, dia malah menginjak aset paling berharga milikku ini! gila bukan?!”

Menindih? Menekan? Menginjak? Adik Chen?

“Apa yang kau lakukan? Bukankah satu jam yang lalu guru seni menyuruhmu untuk mengambilkan saxophone di ruang musik? Setelah satu jam itu berlalu, aku malah menemukanmu di sini bersama Chen?” Baekhyun benar-benar tak percaya dengan apa yang ia pikirkan, tatapannya seketika berubah menjadi sangat tajam.

“Apa Oppa sekarang sedang berpikir bahwa aku sudah melakukan hubungan seks dengan Chen Oppa selama satu jam itu?” Yoora membalas tatapan tajam Baekhyun, berharap perkiraannya itu salah. Tapi bukannya menjawab, lelaki yang ditatapnya itu malah tertawa paksa dan berlalu begitu saja meninggalkan dirinya yang masih membatu bersama Chen yang juga merasa tak enak hati dibuatnya.

Yoora mencoba mengatur nafasnya, jantungnya terus berdetak lebih cepat dari biasanya. Ingin rasanya ia berteriak selepas-lepasnya satu kali lagi saja hanya untuk menumpahkan segala rasa yang sudah menumpuk di dalam hatinya.

Gadis itu sudah berusaha menjauh dari Sehun agar lelaki itu tak merasa tersakiti lebih parah lagi. Ia sedikit menjaga jarak dari Chanyeol agar lelaki itu berhenti membolak-balikkan hatinya. Dan sekarang, ia juga merasa ada jarak yang mulai melebar antara dirinya dengan Baekhyun. Hanya Suho lah yang ia miliki saat ini, lelaki yang masih terbaring lemah di atas ranjang karena memaksakan diri untuk menyelamatkannya. Kenapa harus seperti ini? Cinta, kenapa kau terus membuat kami terluka?

Sehun, aku merindukan dirimu yang dulu.

Chanyeol, jangan membuatku terus tersiksa seperti ini.

Baekhyun, jangan menjauh dariku, aku tidak sanggup untuk itu.

Suho, kuharap, memilih untuk mencoba mencintaimu bukanlah suatu kesalahan.

♥♥♥

Preview Chapter berikutnya….

“Jangan bilang kau ingin menjadikanku tumbal?!” ucap Yoora dengan tatapan menyipit penuh selidik.

Sehun mendekati Yoora yang berdiri membelakanginya,

“Lakukan sesukamu, Oppa.

PRANG!

Baekhyun menggenggam gelas kristalnya yang tak berisi air itu hingga pecah dan melukai tangannya sendiri. Lensa kuning terangnya terlihat menyala-nyala.

“Aku membunuhnya, aku membunuhnya, Yoora.” lelaki itu menangis dipelukan Yoora.

― Sadistic Night : Chapter 4 END ―

Telat lagi 😥 maafkan dirikuh readers 😥 untuk kedepannya, aku bakal usahain lebih cepet update deh 😥

makanya doakan dan support aku selalu yaa, ders 😀 biar aku tetep semangat buat lanjutin FF ini 😀

jangan lupa tinggalkan jejak kekeke~~~~ 🙂

Iklan

6 pemikiran pada “[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 4

  1. Hadeuhhh..yuuu..ini ff mkin seru amat…jiaahhhh…mkin greget aja ihhh…itu kai ngapain yoora???…dan…ahhh…aku tak percaya seorang leader\seorang yg sangat dipatuhi oleh sodara”nyaa mlakukan itu…huwaaa..daebakkk..hihi..ih yu cepetin lgi atuh penasaran. 😭😭😭….wah…ayuuu knp gk ada schene dio nyaaa..eueueu…😭😭😭😭…ikehlah..ikehh..lanjutin yehet…keep writting chingu…i will be a true reader…

    Suka

  2. ihhh sebel da gue ama Yoora dia enak amat sihh, bisa dapetin hati cwo sekaligus 4 Hebatlah buat Yoora. Tapi dia th labil+serakah. harusnya dia th Konsisten dong ama perasaannya. bkan nya dia th sukanya ama Baek kenapa dia ngasih harapan jga k Suho. Sehun dia kasian jga potek dia di phpin. ihhh gue makin sebel aja da ama s yoora -,- knpa gue jdi sebel ama s yoora #curhat. hahaha udh lah Yoora ama Suho aja weh dia pantes banget ama suho. mereka serasi. wah wah kai hebat lah udh nyentuh melon Yoora:D semangat buat Kai!! maksud Adik apaan thorr/? di tunggu kelanjutan nya thoor semangat ^_^

    Suka

  3. Ping balik: [EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 5 | ANSFanfiction

  4. Ping balik: [EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 6 | ANSFanfiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s