[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT -CH. 5 : That Someone

PicsArt_06-30-08.49.41

`SADISTIC NIGHT`

A fanfiction by AYUSHAFIRAA |

Starring Baekhyun, Kim Yoojung as Kim Yoora, Chanyeol, Sehun, Suho | Supported by D.O, Tao, Xiumin, Kai, Chen, Lay, Lee Pace |

AU, Drama, Fantasy, Romance, Violence |

PG-17/M | Chaptered |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari Diabolik Lovers dan berbagai film serta anime yang bergenre fantasy. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

AYUSHAFIRAA©2015. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Prev. Night : WAY? | MS | D | [Protected] WIL?

| BAB I ▶ CH. 5 : That Someone |

“Ada sisi lain di dalam diriku yang sepertinya tak rela melepasmu untuk orang lain.”

.

.

.

“Kau harus mengikuti kelas etika.” Ucap Suho.

Dengan berlatarkan taman belakang rumah mereka yang terawat, Suho dan Yoora terlihat duduk bersama di atas rerumputan hijau yang terhampar luas dan menyegarkan mata itu.

Setelah beristirahat lebih dari 10 hari, akhirnya lelaki itu bisa juga menghirup udara luar yang sudah sejak lama ia rindukan. Terkurung di kamarnya selama itu benar-benar membuatnya bosan setengah mati. Ya, walaupun terkadang Yoora datang untuk menemaninya, itu pun tidak lama, karena gadis itu bisa saja beralasan tidak mau mengganggu waktu rehatnya.

Yoora menoleh ke arah lelaki di sampingnya itu sambil mengerucutkan bibir,

“Apa kelas etika juga berlaku untuk kekasihmu eoh?” suara gadis itu terdengar begitu manja, cukup untuk membuat lelaki di sampingnya tersenyum geli. Mungkin karena terlalu lama merawat lelakinya, gadis itu menjadi lupa akan jati dirinya yang dulu.

Suho merebahkan tubuhnya di atas rerumputan dan menarik Yoora hingga gadis itu jatuh tepat di dada bidangnya.

“Tentu saja itu berlaku, kau membolos pelajaran dan malah berduaan dengan Chen. Kau pikir aku tidak tahu, hm?”

“Aiii, jadi Oppa menyuruhku ke kelas etika karena cemburu? Benar begitu?” Yoora menumpukan dagunya di dada Suho. Gadis itu sama sekali tak merasakan ada sesuatu yang berdetak di sana. Tentu saja, jantung Suho sudah berhenti berdetak sejak lama. Dalam benaknya, ia masih belum bisa mempercayai semua ini. semua ini terasa seperti mimpi yang berkepanjangan, entah ia bisa terbangun dari mimpi ini atau tidak. Rasanya aneh saja jika kau menyadari semua ini adalah nyata dan kau berkencan dengan makhluk lain selain manusia.

KRETEK!

Oppa! Sakit!” teriak Yoora karena lelaki itu baru saja menyentil dahinya. Kalau begini terus, dalam seminggu ke depan mungkin tengkoraknya sudah menjadi bubuk-bubuk halus.

“Sakit?”

“Tentu saja!” jawab Yoora kesal.

CHU!

Suho mengecup bekas sentilannya yang memerah di kening Yoora. Gadis itu seketika berhenti merintih dan tak bisa berkata-kata, pipinya memerah.

Suho tertawa, “Itu hukuman awal untukmu karena sudah macam-macam dengan lelaki lain ketika aku tidak ada. Kalau kau tidak mau mendapat hukuman, jangan macam-macam, mengerti?

“Iya, iya. Aku mengerti, Tuan Suho.” Gadis itu menidurkan kepalanya lagi di atas dada Suho. Sementara itu, Suho memandang ke arah langit sambil mengelus lembut rambut sang kekasih.

Oppa…

“Hm?” sahut Suho.

“Saat itu… saat kejadian itu…”

“Kenapa kau bisa menyelamatkanku?” tanya Yoora, matanya mencoba menatap Suho.

“Ah,”

“Saat itu aku sedang beristirahat di kamar, Baekhyun menemaniku. Ketika kami sedang asik bercanda tawa, tiba-tiba Baekhyun terdiam, pandangannya menjadi kosong, dan lensa matanya menyala begitu terang. Lalu tak lama kemudian, dia menyuruhku untuk bergegas pergi ke kamarmu, dia bilang kau berada dalam bahaya, sehingga aku memaksakan diriku untuk pergi menyelamatkanmu tak peduli bagaimana kondisiku saat itu.” jelas Suho.

Yoora membisu seketika. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dirinya tidak menyadari semua itu? Bagaimana bisa dirinya menyimpan kekecewaan pada Baekhyun ketika lelaki itu lah yang justru menyelamatkannya di balik Suho?

“Kenapa… Baekhyun Oppa menyuruhmu untuk menyelamatkanku?” kenapa bukan Baekhyun sendiri yang menyelamatkannya? Kenapa harus Suho?

“Kenapa? Kau tidak senang karena itu adalah aku?” tanya Suho ketika melihat tatapan Yoora berubah sendu.

“Tidak, bukan begitu. Aku sangat bersyukur karena itu adalah kau, Oppa. Aku sangat bersyukur karena akhirnya aku bisa menemukan alasan untuk memilih mencintaimu.”

Cinta, pernahkah ia jatuh pada orang yang salah? Eros, pernahkah ia menancapkan panahnya pada orang yang salah? tidak kan? Hati, siapa sebenarnya yang kau cintai? Jangan membuat semuanya seolah terasa sulit untuk ku lalui.

“Aku mencintaimu, Kim Yoora.”

Suho mengecup puncak kepala kekasihnya dengan penuh kasih sayang. Sementara gadis yang dimaksudnya itu hanya termenung tak membalas kata-katanya.

 

♥♥♥

 

Suho berjalan berdampingan bersama Yoora di koridor sekolah mereka. Suho sudah berniat untuk menjelaskan apapun yang belum gadis itu ketahui atau pun yang masih membuat gadis itu penasaran.

Sebenarnya, Suho sudah berulangkali mencoba menggenggam tangan Yoora, namun gadis itu berulangkali pula melepasnya dengan alasan tidak mau dirinya sampai ada di halaman depan majalah harian karena ketahuan berkencan dengan leader boyband terkenal, Suho EXO.

“Sekolah ini dibagi menjadi 3 lantai dengan 1 ruang bawah tanah. Memiliki 24 ruangan kelas yang terdiri dari 3 ruangan untuk vampir kelas A yang letaknya di lantai paling atas, 7 ruangan untuk vampir kelas B yang 4 ruangannya terletak di lantai 2 dan 3 ruangan lainnya di lantai 1, 5 ruangan untuk kelas etika di lantai 1, dan sisanya untuk vampir kelas C yang terletak di ruang bawah tanah.” Jelas Suho.

Dahi Yoora berkerut, bingung.

“Vampir kelas A, kelas B, kelas C? Bisa kau jelaskan padaku maksud dari tingkatan itu? itu tingkatan bukan?”

“Ya, bisa dikatakan seperti itu. Vampir kelas A adalah vampir yang sudah baik dalam segala hal, vampir yang patut dicontoh oleh vampir lainnya, dan tentu, yang harus dihormati. Vampir kelas A sudah sangat tahan dengan darah manusia, bahkan lebih cenderung menyukai darah hewan ketimbang darah manusia. Hal ini dilakukan vampir kelas A tidak lain untuk menghormati kaum manusia yang sebenarnya paling berkuasa di dunia ini, sedangkan kami kaum vampir hanya menumpang dan tidak lebih dari itu. Aku, Xiumin Hyung, dan Lay ada di kelas A.”

“Vampir kelas B. Vampir yang berada satu tingkat di bawah kelas A. Vampir kelas B masih sangat tertarik dengan darah manusia, tapi jika mereka ingin menjadi vampir kelas A, mereka harus bisa melawan keinginan mereka untuk menghisap darah manusia sesuai waktu yang telah di tentukan. Minimal, 7 tahun tanpa menghisap sedikitpun darah manusia, dan itu pasti akan terasa sangat menyiksa. Chen, Baekhyun, Chanyeol, Dio, Tao, Kai, dan Sehun ada di kelas B.“

“Dan kelas vampir yang terakhir kami terima di sekolah ini adalah vampir kelas C. Vampir ini masih sangat berbahaya bagi manusia, mereka para vampir kelas C masih sangat tergila-gila akan bau darah manusia. Mereka memiliki indera penciuman yang sangat tajam, hanya dengan sehelai rambut manusia saja, mereka bisa mengetahui sedekat atau sejauh mana mangsa mereka. Untuk itu, kami mengurung mereka di ruang bawah tanah dan membiarkan mereka mendapat pelajaran dengan tenang.”

“Kuperingatkan padamu, Yoora. Jangan sekali pun berpikir untuk pergi ke ruang bawah tanah, karena mungkin, dalam waktu kurang dari satu menit, darahmu akan dihisap habis oleh mereka. Ingat itu! Jangan biarkan otak bodohmu melupakannya! Mengerti?

Huh? Otak bodoh? Enak sekali lelaki ini bicara, sewot Yoora dalam hatinya.

“Iya, iya! Aku mengerti!”

“Bagus.” Suho mengacak-acak rambut Yoora, dan gadis yang diacak-acak rambutnya itu hanya bisa memasang wajah pasrah.

“Tapi Oppa, kenapa kau memasukkanku ke kelas B? Bukankah akan lebih aman untukku jika kau memasukkanku ke kelas A mengingat penjelasanmu tadi vampir kelas B masih menyukai darah manusia sedangkan vampir kelas A sudah tahan dengan darah manusia?”

“Jangan bilang kau ingin menjadikanku tumbal?!” ucap Yoora dengan tatapan menyipit penuh selidik yang langsung disambut oleh sentilan hangat yang khas dari lelaki di sampingnya itu.

“Ahhh! Lagi-lagi! Tengkorakku! Hancurlah sudah.” rintih gadis itu yang kini terlihat begitu menyedihkan. Tanda merah di keningnya ia tutup dengan tangan kanannya.

“Jangan bicara yang tidak-tidak! Tidak mungkin aku menumbalkan kekasihku sendiri hanya untuk vampir lain yang kelasnya lebih rendah dariku.” Suho terlihat kesal.

“Aku memasukkanmu ke kelas Baekhyun, Chanyeol, dan Dio itu tak lain karena kupikir kelas mereka akan lebih bisa membuatmu nyaman. Walaupun kedengarannya kelas A tidak membahayakan untukmu, tapi aku yakin kau tidak akan pernah merasa nyaman bersama vampir-vampir kelas A. Mereka, para vampir kelas A yang lain pasti akan menuntutmu untuk sangat menghargai mereka, mereka adalah vampir-vampir yang gila hormat. Kebiasaan kami meminum darah hewan, kau tidak akan bisa membayangkannya. Kau tidak akan pernah bisa menyesuaikan diri dengan kami sampai kapanpun itu.”

Benar juga, pikir Yoora. Yoora masih sangat ingat betapa mualnya ia saat melihat Xiumin dan Lay menjilati darah yang ada di bangkai hewan.

“Hentikan, Oppa! Itu sangat menjijikan!”

PLAK!

“Coba katakan itu sekali lagi?”

“Itu… menjijikan, Oppa…”

BRUK!

“Sebelumnya, tidak pernah ada yang berani menghina vampir kelas A seperti kami.”

“Kau, kaulah yang pertama yang berani menghina kami. Kau sangat berani menghina minuman utama kami.”

“Dengar, minuman utama kami sama sekali tidak menjijikan, Yoora. Kau mau mencobanya?”

“Tidak, Oppa. Aku tidak mau!”

Sungguh, ia tidak ingin mengingatnya lagi.

Suho menggenggam tangan Yoora.

“Kali ini jangan dilepaskan lagi, karena tidak ada alasan bagimu untuk melepaskannya.” Ucap lelaki itu. Memang benar, tidak ada alasan bagi Yoora untuk menolak genggaman tangan Suho lagi. Toh, mereka sudah berjalan sampai di koridor yang selalu sepi ini.

Oppa, bisakah kau ceritakan lagi kehidupanmu dulu sebelum menjadi vampir? Aku ingin tahu lebih tentang itu.” pinta Yoora.

Suho menyunggingkan senyumnya, “Baiklah jika itu maumu.”

“Aku dulu hidup di jaman joseon bersama ayahku. Ibuku meninggalkan aku dan ayah dengan membawa serta adik kecilku demi lelaki lain yang katanya lebih ia cintai. Melihat perpisahan itu di depan mataku sendiri membuatku tak ingin mengenal yang namanya cinta, dan wanita. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama ayahku, itu saja. Tapi, yang paling membuatku membenci ibuku adalah, dia tidak pernah ada di upacara pemakaman ayahku. Padahal, aku tahu, ayahku meninggal karena terlalu mencintainya.”

Yoora memandangi wajah lelaki itu dari samping, lelaki itu terlihat berkaca-kaca saat mengingat kisah menyakitkan yang dialaminya. Gadis itu mencoba menguatkan Suho dengan mengelus lembut bahu lelaki itu.

“Tapi, yang menarik adalah, aku hidup di jaman yang sama dengan Baekhyun.”

“Baekhyun Oppa?

Lelaki itu terlihat berseri-seri ketika berbagi ceritanya tentang Baekhyun pada Yoora, walaupun sebenarnya ceritanya itu sudah keluar dari topik pembicaraan awal mereka.

“Saat itu, aku yang menghormati Baekhyun, bukan Baekhyun yang menghormatiku. Aku yang mengenal Baekhyun, sedangkan Baekhyun? Mungkin dia tidak mengenalku saat itu.”

“Tentu saja, Baekhyun adalah putera mahkota dinasti joseon saat itu. Ia baru akan diangkat menjadi raja jika dirinya dianggap sudah dewasa. Tapi aku masih ingat sekali, Baekhyun masih saja kekanak-kanakan walaupun ia sudah dijodohkan dengan putri sekretaris kerajaan. Menurut kabar burung yang kudengar samar-samar, Baekhyun ternyata jatuh cinta pada gadis lain. Gadis itu……”

Yoora tiba-tiba menarik tangannya hingga lepas dari genggaman Suho, membuat Suho otomatis memandangnya tak percaya.

“Sehun Oppa…

Gadis itu lebih tak percaya lagi dengan apa yang dilihatnya saat ini. Lelaki yang berada jauh di depannya itu langsung menghentikan cumbuannya pada ‘gadisnya’ sesaat setelah menyadari kehadiran Yoora dan Suho.

“Sehun-ah, mainan barumu?” tanya Suho sedikit bercanda untuk mencairkan suasana yang tercipta antara Sehun dan Yoora.

“Tentu saja.” Sehun merangkul mesra gadis yang tadi dicumbunya, sedangkan matanya terus tertuju ke arah gadis yang berada di samping Suho, ya, Yoora.

“Akhir-akhir ini aku semakin bersemangat untuk menambah koleksiku. Entah kenapa.” Lanjut lelaki itu. “Kalian berdua saja?”

“Ya, begitulah.” Jawab Suho dengan senyuman yang terlihat sedikit dipaksakan.

Kedua mata biru pekat Sehun beradu tatap dengan manik Yoora. Mereka seolah ingin saling berbicara, tapi tak mampu menyapa satu sama lain.

“Ah, aku tahu. Kalian ingin bergantian denganku untuk memanfaatkan lorong yang sepi ini, bukan? Kalian tenang saja, kami akan pergi sekarang.”

“Sayang, tak apa-apa kan kalau kita melanjutkannya di tempat lain?” tanya Sehun pada gadisnya, si gadis yang dirangkul mesra oleh Sehun itu terlihat menjawabnya dengan anggukan seksi.

“Kalian, selamat bersenang-senang.”

Yoora hanya bisa diam terpaku, matanya berair, melihat Sehun ternyata melakukan itu bukan hanya kepada dirinya membuat hatinya benar-benar sakit. Sehun berjalan melewati Yoora sambil menggandeng gadis cantik yang berayun manja di lengannya, sedang Yoora tak mampu berbuat apa-apa untuk menghentikan adegan romantis nan menyakitkan itu.

“KALAU BEGITU TOLONG HENTIKAN AKU!”

“Aku juga tidak ingin seperti ini! Aku gila, aku menjadi gila karenamu! Tolong hentikan aku! aku tidak ingin mencintaimu lebih dalam lagi.”

Setetes airmata berhasil lolos dari pelupuk mata Yoora. Dan Suho, tidak dapat memanipulasi apa yang dilihat dan dirasakannya sekarang.

Kim Yoora, gadis itu menangis untuk lelaki lain.

 

♥♥♥

 

“Sehun Oppa.” panggil Yoora.

Lelaki yang sedang asik mengobrol dengan Kai dan Tao itu pun menoleh saat merasa namanya dipanggil. Ekspresi wajahnya seketika berubah menjadi kaku setelah melihat gadis yang memanggilnya ternyata adalah Yoora, gadis yang satu jam lalu terlihat berduaan di koridor sepi bersama kakaknya, Suho.

“Ada apa?” tanya lelaki itu, dingin, setelah kaki panjangnya membawanya ke hadapan Yoora.

Gadis itu menatap mata Sehun, “Bisakah kita bicara sebentar? Ada sesuatu yang harus ku katakan padamu.”

“Bicara saja! Katakan saja apa yang harus kau katakan padaku itu di sini!”

Oppa, jangan begini…”

“Kenapa?! kenapa aku harus mengikuti keinginanmu?! Kalau kau ingin bicara, bicara saja! Apalagi yang kau tunggu?!” suara Sehun yang meninggi itu berhasil membuat seluruh perhatian siswa-siswi di B Class – 3 tertuju pada mereka berdua.

Gadis itu menarik nafasnya berat, Sehun sudah keterlaluan.

“Ada apa denganmu? Aku datang ke sini bukan untuk mendengar kata-kata kasarmu, bukan juga untuk membuatmu marah besar, apalagi untuk dipermalukan di depan teman-temanmu seperti sekarang ini. Aku hanya ingin… berbicara empat mata denganmu. Membicarakan hal yang tak perlu orang lain tahu, bersamamu. Itu saja.”

Sehun menatap mata Yoora yang berair. Sungguh, semua itu terjadi di luar kuasanya. Ia juga tidak ingin terus seperti ini, ia mencintai Yoora, tak peduli gadis itu milik siapa sekarang. Sehun hanya… mencintainya.

“Di mana?”

“Ya?”

“Di mana kau ingin mengajakku bicara?”

Senyuman Yoora perlahan mengembang, inikah Sehun yang sudah lama dirindukannya? Apa Sehun Lee yang dulu dikenalnya sudah kembali?

“27 menit.”

“Huh?” Sehun mengerutkan kening, tak mengerti apa yang Yoora maksud.

“27 menit. Aku akan menunggumu di tempat itu.”

Tunggu! Apa ini… sebuah teka-teki?

 

♥♥♥

 

Hari cerah sekali, namun panas teriknya tak mampu menembus dinding rumah mewah nan megah yang tersembunyi dari jalan raya itu. Seorang lelaki terus saja bolak-balik celingak-celinguk ke dalam dan ke luar rumahnya, tak menyerah walau merasa sedikit frustasi. Sehun, lelaki itu terlihat kebingungan mencari tempat yang di maksud Yoora. ’27 menit’? Petunjuk macam apa itu?!

“27 menit. Aku akan menunggumu di tempat itu.”

Itu berarti, di mana pun ’27 menit’ itu, Yoora pasti sedang menunggu kedatangan Sehun entah sejak kapan.

Dasar gadis bodoh, kenapa tak langsung saja mengatakan di mana tempatnya? Kalau begini kan, aku harus susah payah untuk berpikir sedangkan belum tentu juga aku bisa menemukan jawaban dari teka-teki itu.

“’27 menit’?” lelaki itu kembali berpikir sambil terus berjalan hingga langkah kakinya itu menuntunnya masuk ke ruang makan yang hening dari aktifitas apapun. Ia terduduk lesu di atas kursi yang biasa diduduki Xiumin, ia sepertinya benar-benar sudah lelah untuk berpikir.

“07:27, kalian terlambat.”

“Ehem,”

“Apa yang kau lakukan selama 27 menit bersamanya, Sehun-ah?”

Sehun mulai teringat akan kata-kata yang pernah diucapkan kakak-kakaknya. Tapi, kapan itu terjadi? Dan kenapa ia bisa terlambat 27 menit?

“Yak, Hyung! Aku hanya membantunya mengganti pakaian.”

Benar! Itu dia!

Sehun bangkit dari duduknya dan langsung berlari ke kamar Yoora yang ada di lantai 3 secepat yang ia bisa.

Tok! tok! tok!

“Yoora, kau di dalam?”

Tok! tok! tok!

Tok! tok! tok!

“Yoora?”

CKLEK!

Akhirnya, inilah jawaban dari teka-teki yang berhasil membuat rambut lelaki itu rontok. ’27 menit’? Kamar Yoora-lah jawabannya. Kenapa? Mungkin karena ’27 menit’ adalah momen pertama yang tercipta secara tak sengaja antara Yoora dan Sehun saat itu.

Sehun mendekati gadis berpakaian dress motif bunga-bunga berwarna hijau-biru yang berdiri membelakanginya, menghadap ke arah jendela besar dengan pandangan yang terus tertuju ke luar. Gadis itu sama sekali tak bereaksi apapun seolah tak menyadari kehadiran Sehun di kamarnya.

“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya lelaki itu sesaat setelah dirinya berdiri bersebelahan dengan Yoora dan ikut memandang ke luar jendela walaupun tak tahu apa yang harus dipandangnya.

Oppa… apa kau tahu kalau aku benar-benar merindukanmu? Aku merindukan kedekatan yang pernah ada antara kita, bukan jarak yang terasa semakin melebar seperti ini.”

Sehun menoleh, memandang lekuk wajah Yoora dari samping kirinya.

“Aku tidak mencintaimu. Aku tidak bisa mencintaimu. Tapi ketika aku melihatmu memperlakukan gadis lain dengan spesial, itu membuatku terluka. Ada sisi lain di dalam diriku yang sepertinya tak rela melepasmu untuk orang lain. Aku tersiksa, aku sakit, aku menderita, Oppa.” gadis itu menunduk, airmata membasahi kedua pipinya.

“Aku ingin kau selalu ada di sisiku, bukan di sisi gadis lain. Aku tahu aku begitu egois, tapi inilah aku. Aku tak bisa menahan semua ini terlalu lama. Maafkan aku.”

“Kembalilah… kembalilah, Oppa.

BREG!

Sehun menarik Yoora ke dalam pelukannya.

“Aku sudah kembali.”

Lelaki itu semakin mempererat dekapannya, sementara si gadis merasa ditenangkan oleh wangi tubuh lelaki tinggi berkulit putih pucat itu. Sebuah pelukan yang sebenarnya tak hangat sama sekali. Sebuah pelukan yang mempertemukan kulit dingin seorang vampir keturunan Pace dengan kulit hangat seorang gadis manusia biasa.

Lensa biru pekat lelaki itu tiba-tiba saja menyala sempurna tanpa memberi tanda sedikitpun kalau lelaki itu akan menjadi sehaus ini. Deru nafasnya terdengar begitu jelas di telinga Yoora.

“AKH! OUKHH!”

Sehun mendorong Yoora agar menjauh darinya saat dirasa hausnya benar-benar tak tertahankan lagi.

Sehun mencekik lehernya sendiri, berusaha mengalahkan sesuatu yang juga sedang berusaha mencekik lehernya dengan rasa haus yang menyiksa. Tenggorokannya kering kerontang. Yoora yang melihat Sehun tersiksa menahan rasa hausnya itu merasa tak tega. Kenapa Sehun tidak seperti kakak-kakaknya? Apa tidak terpikirkan sama sekali di dalam benak Sehun untuk memangsa gadis yang sudah jelas-jelas ada di hadapannya?

Sehun berusaha berlari dengan langkah berat, tapi sial, kesakitannya membuat ia terjatuh tepat sebelum ia berhasil menekan kenop pintu. Yoora menghampiri Sehun yang terus mengerang kesakitan dan mencekik lehernya sendiri, gadis itu berusaha menenangkan Sehun dengan menyentuh dan mengusap lembut kedua pipi lelaki itu.

Lelaki itu terlihat menitikkan airmatanya bersamaan dengan jatuhnya airmata Yoora yang saat ini benar-benar mengkhawatirkannya.

Oppa, aku tahu kau sangat tersiksa, tapi maafkan aku yang tidak bisa ikut merasakan kesakitanmu.”

“Lakukan sesukamu, Oppa.

Lensa biru pekat yang sedaritadi menyala sempurna itu menatap mata Yoora, tak percaya dengan apa yang gadis itu katakan. Apa Yoora sedang mengorbankan dirinya demi mengurangi penderitaan Sehun?

CHU!

Sehun mencium ranum merah gadis yang ada di hadapannya itu. Taring tajamnya dapat dengan mudah Yoora rasakan saat ciuman Sehun semakin lama semakin dalam.

BRUK!

Lelaki itu memperdalam ciumannya hingga membuat posisinya menindih tubuh Yoora di lantai. Yoora meremas bagian dada dari kemeja putih yang dikenakan lelaki itu saat merasakan lumatan lelaki itu yang awalnya terasa lembut kini berubah menjadi kasar.

KREK!

“Mmmppphh!” jerit Yoora tertahan seraya meloloskan airmatanya ketika lelaki itu tiba-tiba saja menancapkan taring di bibir bawahnya, membuat darah segar yang keluar ikut tertelan ketika Yoora meneguk salivanya sendiri.

Sehun semakin bersemangat menghisap bibir gadis itu saat bau anyir khas darah segar menusuk hidungnya. Ia terus menghisap darah yang keluar dari bibir Yoora yang terluka dan menjilat darah yang mengalir ke dagu gadis itu seolah tak mau menyia-nyiakannya.

Lelaki itu melepas ciumannya dan memandang wajah Yoora yang berkeringat. Sehun mengusap keringat di wajah Yoora dan memberikan kecupan lembut penuh perasaan di bibir gadis itu, sementara gadis yang mendapat kecupan di bibirnya itu hanya tersenyum lega karena akhirnya ia bisa mengurangi kesakitan lelaki yang hingga detik ini masih berada di atas tubuhnya.

“Aku mencintaimu, tak peduli kau akan membalasnya atau tidak. Karena aku hanya mencintaimu, tak peduli kau mencintai siapa ataupun milik siapa. Hatiku pasti akan membawaku untuk selalu berada dekat denganmu. Karena bersamamulah, kutemukan bahagia.”

 

♥♥♥

 

Yoora keluar dari kamarnya bersama Suho, berjalan menuju ruang makan keluarga Lee untuk mengikuti acara makan malam bersama seperti biasanya.

Selama berjalan ke ruang makan, gadis itu terus terlihat menyentuh bagian dalam bibirnya dan terkadang juga disertai rintihan kecil yang terdengar begitu manja di telinga Suho.

“Ada apa dengan bibirmu? Apa kau tidak sengaja menggigitnya?” tanya Suho lembut, penuh perhatian.

“Ya?”

“Ah,” akhirnya gadis itu dapat mencerna pertanyaan Suho. “Ya, aku tak sengaja menggigit bibirku sendiri. Akhir-akhir ini, aku memang sering memain-mainkan bibirku. Hehe.”

Tentu saja, Yoora tak mungkin menjawab jujur kalau bibirnya terluka karena Sehun yang menggigitnya. Sebagai kekasih, setidaknya gadis itu juga masih memikirkan perasaan Suho.

“Mau ku obati?” lelaki itu menyeringai domba.

“Yak, Oppa!” Yoora mendorong pelan bahu Suho dan menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah karena malu.

Sesampainya mereka berdua di ruang makan, ternyata yang lainnya sudah lebih dulu duduk manis di tempat mereka masing-masing. 9 pasang mata otomatis tertuju pada kedatangan Yoora dan Suho yang membuat 9 orang itu berpikir dua kali. Kenapa Yoora dan Suho bisa datang bersama-sama?

“Ehm.” Baekhyun membuka kancing kerah kemejanya. Sepertinya ruang makan mereka mendadak terkena efek global warming, panas.

“Entah hanya aku yang menyadarinya atau bagaimana, yang jelas kuperhatikan akhir-akhir ini kau dan Yoora sering sekali terlihat bersama, Hyung. Ada apa sebenarnya di antara kalian?” tanya Tao seraya menyipitkan matanya, curiga.

Suho memberi isyarat pada Yoora untuk duduk di kursinya, gadis itu menurut. Suho duduk di kursi yang biasa ia duduki, berhadapan dengan Xiumin yang terus menatapnya.

Lelaki itu berdeham, lalu mengambil air minum untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering setelah mendapat pertanyaan seperti itu dari Tao.

Bukan, ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkap hubungan mereka. Itulah yang terbesit di pikiran Suho sekarang.

“Kalian berkencan?”

“UHK, UHUK, UHK UHK.” Suho tersedak. Kenapa Xiumin harus bertanya to the point seperti itu?

“Apa-apaan?” Xiumin tertawa paksa.

“Bukankah reaksi itu terlalu berlebihan? Kami hanya bercanda.” Lanjut anak tertua di keluarga Lee itu.

Chanyeol, Dio, dan Sehun menatap intens gadis yang kini terlihat sama gugupnya dengan Suho tanpa bertanya apapun. Mereka hanya menatapnya, karena dengan seperti itu saja, mereka yakin sudah mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan itu.

PRANG!

Baekhyun menggenggam gelas kristalnya yang tak berisi air hingga pecah dan melukai tangannya sendiri. Lensa kuning terangnya terlihat menyala-nyala. Hal itu membuat saudara-saudaranya termasuk Yoora terkejut bukan main.

Hyung! Kau baik-baik saja?!” tanya Kai, Chen, dan Tao hampir bersamaan.

Hyung, Yoora berkencan dengan Suho Hyung, kan? Apa tebakanku benar? Tanya Dio dalam hatinya yang tentu dapat terdengar jelas di telinga Baekhyun.

Yoora berdiri dari duduknya, melepas dasi yang dikenakan Sehun, dan berlari meraih tangan Baekhyun yang terluka.

“Kita harus mencucinya lebih dulu.” ucap Yoora sambil menarik tangan lelaki itu, namun lelaki itu dengan kasar menepisnya.

“Aku tidak akan mati hanya karena luka kecil seperti ini.”

Lelaki itu segera bangkit dari duduknya. Namun ketika matanya berpapasan dengan kedua mata Yoora yang berkaca-kaca, hatinya seperti teriris-iris.

“Kau… benarkah itu kau?” gumam Baekhyun. Darah dari luka di tangannya perlahan mulai menetes.

“Kau memang tidak akan mati karena luka kecil itu, tapi bayangkan saja apa yang akan terjadi jika luka kecil itu terus kau biarkan tanpa kau obati. Seharusnya kau lebih tahu tentang itu, Oppa.

“Biarkan gadis itu mengobati luka di tanganmu, Baekhyun-ah. Dia tahu apa yang harus dia lakukan.” Ucapan Xiumin itu akhirnya membuat Baekhyun luluh dan membiarkan Yoora menariknya ke tempat lain untuk mengobati luka tangannya.

Dio memandang punggung kecil gadis itu yang terus menjauh hingga luput dari pandangannya yang kini berubah sendu.

Gadis itu, juga pernah melakukan hal yang sama padaku. Siapapun yang mencintai gadis itu, sama sekali tidak salah dalam memilih. Dia mungkin tidak secantik, sepintar, ataupun semenawan Kim Taehee. Dia memang gadis bodoh yang ceroboh dan juga menyebalkan, tapi itulah yang membuatnya berbeda dari gadis lain. Dia berbeda, dia spesial, dan kupikir, aku sudah terjebak dalam pesonanya.

 

♥♥♥

 

Yoora membalut luka Baekhyun dengan dasi yang tadi di pakai Sehun, ia juga sudah lupa bagaimana ekspresi Sehun saat ia melepas paksa dasi itu. Haha, biarkan saja dia.

“Sudah selesai.” Yoora tersenyum.

Mendapati Baekhyun terus menatapnya, gadis itu langsung menciut kikuk.

“Dia tidak akan pernah mengkhianatiku.” Gumam Baekhyun lagi. Entah sudah ke berapa kalinya Yoora mendengar lelaki itu bergumam sendiri selama bersamanya yang sama sekali tak dapat ia mengerti.

Oppa, kenapa kau melakukan itu? lihat sekarang, kau melukai tanganmu sendiri.”

Baekhyun mengalihkan pandangannya, berusaha membuang luka yang ia rasa menyakitkan.

“Kau mencintai Suho Hyung? Chanyeol? Dio? Atau Sehun?”

“Kenapa-”

“Jangan bertanya apapun padaku, aku tidak suka itu.”

“Baiklah, aku tahu kau tidak pernah suka berumit-rumit untuk menjawab pertanyaan dari orang lain. Tapi kau tahu, Oppa? Kau egois.” Ucap Yoora menatap Baekhyun dengan tatapan berani.

Baekhyun tersenyum paksa, “Egois? Ya, itu adalah aku. Lalu? Jawab saja pertanyaanku!”

“Jangan bertanya apapun padaku, aku tidak suka itu.” ucap Yoora membalikkan kata-kata Baekhyun yang sebelumnya dan berlalu pergi meninggalkan lelaki itu sendirian.

Bagaimana? Sakit bukan? Itu yang orang-orang sekitarmu rasakan saat kau sama sekali tak menghargai pertanyaan yang mereka berikan padamu.

 

♥♥♥

 

Tao menikmati malam yang penuh bintang dengan merebahkan diri di atas mobil sportnya. Saat angin malam mulai berhembus, sebuah foto jatuh tepat di atas wajahnya entah dari mana asalnya. Lelaki itu bangkit dan langsung mengerutkan kening saat melihat foto tersebut dengan seksama.

Oppa! Maaf! Foto itu milikku! Aku tak sengaja menjatuhkannya.” Ucap Yoora sedikit berteriak dari balkon yang ada di lantai 3.

“Ah, tidak apa-apa!

Lelaki itu terpaksa mendongak. “Tunggulah sebentar, aku akan ke sana!”

Tao turun dari atap mobilnya. Dengan membawa foto milik Yoora, ia berlari masuk ke dalam rumah dan menaiki beberapa anak tangga yang akan membawanya ke lantai 3. Lelaki itu berjalan menghampiri Yoora yang sedang sendirian di balkon, angin malam yang terus berhembus berhasil menyibakkan rambut panjang gadis itu.

“Ini.” Tao memberikan foto yang tadi sempat jatuh mengenai wajahnya itu kepada pemiliknya.

“Terimakasih, Oppa.” Ucap Yoora.

“Apa itu foto masa kecilmu dengan ayahmu?”

“Iya.

Tao menyadari perubahan ekspresi gadis di depannya, lalu dengan ragu, ia pun memberanikan diri untuk bertanya.

“Kau sedang merindukan ayahmu?”

Yoora tersenyum getir,

“Aku sangat merindukannya. Aku benar-benar berharap ayahku bisa mendengar tangis batinku yang merindukannya ini.”

“Jika aku selamanya tinggal di tempat ini, lalu bagaimana dengan ayahku? Dia sendirian. Apa dia pulang ke rumah dengan selamat setelah menyelesaikan pekerjaannya? Atau, dia bermalam di ruangan sempit di antara buku-buku usang yang ada di perpustakaan lagi? Apa dia makan dengan baik? Apa dia tidur dengan nyaman? Aku selalu memikirkan itu.”

Tao memandang lurus ke depan, tangan dinginnya menyentuh besi pagar pembatas.

“Aku juga merindukan ayahku. Aku ingin sekali bertemu ayahku dan meminta maaf padanya.”

“Kenapa kau ingin meminta maaf, Oppa?” tanya Yoora sambil memandangi lelaki yang berdiri di sampingnya.

 

―Kilas balik, sudut pandang Tao―

[105 tahun yang lalu]

Aku berasal dari keluarga sederhana di China, tapi cinta yang ku terima dari kedua orang tuaku seakan menjadikanku anak laki-laki paling bahagia di dunia. Aku sangat menyukai wushu sejak kecil dan orang tuaku mendukungnya, terutama ayahku.

Setiap harinya, aku selalu menyempatkan diriku untuk terus berlatih dan mengasah kemampuanku. Hingga di suatu sore, saat ayahku sedang menemaniku berlatih dengan tongkat kayu seperti biasa, aku tak sengaja melakukan kesalahan yang sangat fatal. Ketika aku melakukan kesalahan itu, kudengar ayahku merintih kesakitan. Saat aku berbalik, kudapati tongkat kayu itu sudah menancap tepat di dada ayahku yang terkapar sekarat. Aku semakin kalut saat melihat cairan berwarna merah itu tak henti-hentinya mengalir dan menggenang di lantai semen halaman rumahku.

Aku tak bisa berbuat apapun saat itu, untuk sekedar berteriak meminta pertolongan orang lain saja aku tak mampu. Bibirku kelu. Suaraku seolah menghilang dalam sekejap. Aku terbata. Bahkan untuk menemaninya saat kematian datang, aku terlalu takut. Aku pengecut. Aku berlari, lebih tepatnya melarikan diri dari kesalahan yang telah kulakukan. Dalam diam sambil terus berlari, aku menangis. Aku menyesali kebodohan dan kecerobohanku, aku menyesali sikap pengecutku, aku menyesali semuanya.

Aku bersembunyi di sebuah gubuk tua yang tak berpenghuni dan jauh dari keramaian. Aku takut, aku menjadi sangat takut untuk menghadapi semuanya. Aku sendirian. Ketika aku meninggalkannya begitu saja, aku yakin ayahku pasti mengutukku dan tidak akan pernah bisa memaafkanku. Aku benar-benar seorang anak yang lebih dari durhaka. Aku takkan pernah terampuni.

―Kilas balik selesai―

 

Gadis yang sedaritadi terhanyut dalam kisah hidup Tao yang sangat menyedihkan itu akhirnya menarik Tao ke dalam pelukannya.

“Aku membunuhnya, aku membunuhnya, Yoora.” lelaki itu menangis dipelukan Yoora.

Yoora tak membuka mulutnya, tak tahu apa yang harus ia katakan, gadis itu hanya terus berusaha menenangkan Tao yang tersedu-sedu.

“Andai saja aku bisa mengubah takdir Tuhan, ingin sekali rasanya ku ulang kembali waktu dan memperbaiki kesalahanku pada ayahku. Aku masih berharap aku bisa berteriak meminta pertolongan dan berharap ayahku terselamatkan.”

“Aku ingin melakukannya, tapi ketika ku ulang kembali waktu, aku tetap tak bisa mengubah takdir itu. Ayahku tetap meninggal di depan mataku karena kesalahanku sendiri dan aku tak bisa melakukan apapun untuk menolongnya. Aku tak bisa mengubahnya. Aku tak bisa membuat ayahku kembali hidup. Aku tak bisa.”

“’Ayah, kumohon maafkan aku.’ aku terus mengatakan itu kapanpun aku mengingatnya. Tapi bisakah dia memaafkanku? ‘Ayah, aku merindukanmu.’ Pantaskah seorang bajingan pengecut sepertiku mengatakan itu?”

“Ayah, aku memang tak pantas untuk dimaafkan.” Gumam Tao pelan sambil terus menangis, airmatanya berhasil membasahi pundak gadis yang memeluknya.

“Kurasa ayahmu mengerti, dan sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau berulangkali menangis meminta maaf padanya setelah kejadian itu. Aku yakin, karena melihatmu seperti ini saja sudah bisa membuktikan bahwa kau benar-benar menyesali semua kesalahan yang kau lakukan di masa lalu.”

“Kau bukan Tuhan yang bisa seenaknya mengubah takdir manusia, tapi percayalah, Tuhan tidak akan pernah salah dalam memutuskan takdir.” Ucap Yoora, membuat sebuah tanda yang ada di balik dress bagian dadanya itu bersinar seketika.

 

♥♥♥

 

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.13 malam di jam dinding kamar gadis itu, tapi gadis itu masih saja sibuk dengan aktivitasnya saat ini tanpa mempedulikan rasa kantuknya yang sudah membuatnya menguap berkali-kali.

Yoora kini sedang berusaha merapikan isi lemarinya. Sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu dan sejak ke-10 anggota keluarga barunya membelikan beberapa dress baru untuknya, ia tidak pernah lagi sempat merapikan seisi lemarinya.

Berbagai baju, dress, celana pendek, rok pendek, bra, hingga celana dalam dengan warna beragam sengaja ia buat berserakan di mana-mana agar nantinya bisa satu persatu ia rapikan.

Pertama-tama, ia melipat rapi koleksi bra dan celana dalamnya hingga selesai dan menyimpannya di laci yang ada di dalam lemari.

“Suho Oppa tidak akan suka melihatku memakai ini.” gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, berkata ‘tidak’ untuk koleksi celana pendeknya. Walaupun begitu, ia tetap menyimpan koleksinya itu dengan rapi di bagian bawah dalam lemari yang secara otomatis masuk ke dalam kategori ‘tidak terpakai’ di bayangan daftar pakaiannya.

“Bagaimana dengan rok pendek? Gadis feminim juga memakainya bukan?” tanya Yoora pada dirinya sendiri yang mulai kebingungan. Ia menguap lagi. Setelah selesai menguap, ia seperti mendapatkan pencerahan dari kebingungannya. Ia melipat semua rok pendeknya dan memasukkannya ke dalam lemari dengan kategori ‘layak pakai’. Baju-bajunya juga ia rapikan ke kategori yang sama.

Yoora memperhatikan satu persatu dress yang ada di depan matanya,

“Ah, karena lelaki itu sakit, dress yang dibelinya jadi tidak ada di sini.” Celetuk Yoora saat menyadari Suho belum memberikan dress padanya. Jangankan memberi, memperlihatkannya saja belum pernah.

Sehun, Chen, Xiumin, Lay, Dio, Tao, Kai, dan Baekhyun.

Yoora mengabsen setiap dress yang ia jajarkan satu persatu di atas ranjangnya persis seperti guru yang sedang mengabsen murid taman kanak-kanak. Ia sekilas teringat akan Chanyeol, lelaki yang andal dalam mengubah-ubah sikap itu seperti benar-benar melupakannya bahkan di saat yang lain berusaha keras untuk mengingatnya.

Sudahlah, berhenti memikirkan orang yang belum tentu memikirkan kita.

Gadis itu mengambil dan membeberkan dress yang Baekhyun berikan padanya. Keindahannya mampu menarik perhatian Yoora dalam sekejap mata di bandingkan dress-dress lainnya.

Hanbok. Ya, sebuah pakaian tradisional perempuan korea yang indahnya takkan terkalahkan oleh zaman. Hanbok itu terlihat semakin indah karena perpaduan warnanya yang begitu cantik dan cerah, yaitu kuning pucat dengan warna merah muda menyala sebagai dominannya.

“Aku akan mencobanya! Siapa tahu aku bisa berubah menjadi cantik seperti gadis-gadis yang ada di drama-drama kolosal itu.” pikir Yoora yang membuatnya geli sendiri.

Gadis itu melepas setelan piyama yang dikenakannya. Dengan bersemangat, Yoora memakai hanbok baru pemberian Baekhyun, mengikat satu persatu tali yang ada di hanbok itu, dan melihat pantulan dirinya di cermin hias.

“Tunggu, sepertinya ada yang kurang. Tapi apa?” kening Yoora mengkerut.

“Kenapa aku bisa sebodoh ini? Apa aku harus menyetel drama kolosal itu dulu agar bisa mengingat apa yang kurang dari seorang gadis yang memakai hanbok?

Yoora mengacak-acak rambutnya.

“Aha!”

Benar! Rambut!

Gadis itu membuka laci di cermin hiasnya, tempat ia menyimpan aksesorisnya. Ia mengambil sisir, beberapa jepit rambut, dan ikat rambut. Meski sedikit merasa kesulitan, gadis itu terlihat tak pantang menyerah. Setelah merapikan rambutnya yang hitam pekat itu, ia mengepang rambutnya dengan model kepang satu. Tak lupa beberapa jepit rambut ia gunakan untuk membuat rambutnya terlihat semakin rapi.

“Huwaaa! Daebak!” takjub gadis itu setelah melihat pantulannya sendiri di cermin. Ia merasa dirinya menjadi 100 kali lebih cantik dari sebelumnya dengan mengenakan hanbok dan dengan tatanan rambut khas gadis-gadis dalam drama-drama berlatarkan kerajaaan korea yang pernah ditontonnya.

“Kenapa tidak dari dulu saja Baekhyun Oppa memberikanku pakaian seperti ini?” tanya Yoora yang masih terkagum-kagum di depan cermin hias.

Gadis itu teringat sesuatu. Ia segera mencari ponselnya yang sudah lama tak pernah ia gunakan di koper. Ia wajib mengabadikan momen yang jarang sekali terjadi dalam hidupnya itu. Untung saja, ponsel yang dicarinya itu masih bisa ia hidupkan.

Ikon kamera, klik!

“Satu, dua, tiga!” ckrek!

Sebuah selca cantik berhasil ia dapatkan. Gadis itu lantas menyentuh ikon ‘bagikan’ untuk membagikan selcanya ke media sosial.

Tok! tok! tok!

Aiii, mengganggu saja!” keluh gadis itu. Ia berjalan malas ke arah pintu.

“Baekhyun Oppa?

Ya, Baekhyun. Lelaki itulah yang mengetuk pintu kamar Yoora.

Baekhyun memandang gadis yang ada di hadapannya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lelaki itu terpaku, menatap tak percaya apa yang dilihatnya saat ini. Tangannya bergetar.

BREG!

Baekhyun memeluk gadis itu erat, seolah menumpahkan semua rasa yang selama ini terpendam, seolah tak mau melepaskannya lagi. Airmatanya menetes. Jauh di dalam lubuk hatinya, Baekhyun berharap semoga semua ini bukanlah bagian dari bunga tidurnya. Tapi jika apa yang terjadi saat ini benar-benar mimpi, sungguh, ia tidak pernah menginginkan untuk terbangun kembali.

“Soomin-ah… aku merindukanmu.” Ucap Baekhyun yang membuat Yoora seketika membulatkan matanya.

PicsArt_07-07-11.41.30

♥♥♥

 

[Preview Chapter berikutnya]

Chanyeol menghapus keringat di dahi Yoora lalu mengambil posisi jongkok di depan gadis itu.

“Naiklah ke punggungku!”

“Aku? ke-kenapa aku harus?” tanya Yoora gugup.

Baekhyun meremas sprei yang membalut ranjang gadis itu.

“Aku terluka. Aku terluka saat menyadari bahwa penantianku selama ini ternyata berujung sia-sia.”

“Kumohon… jangan mencintai lelaki lain. Jangan berikan hatimu pada lelaki lain. Cukup aku, cintai aku saja.”

Suho mencoba untuk tersenyum, tapi ia tak bisa, airmatanya masih saja memaksa untuk keluar.

“Dia ingin kau menemuinya, di koridor di dekat kelas etika – 5.”

“Apa kau melihat Chanyeol?” tanya Yoora pada 2 orang siswi yang sedang mengobrol di ujung koridor.

“Ah, aku melihatnya turun ke ruang bawah tanah.”

Yoora menjerit sekuat yang ia bisa, berharap siapapun yang mendengarnya mau membangunkannya dari mimpi buruk ini.

“JANGAN DEKATI AKU! PERGI! PERGI!”

― Sadistic Night : Chapter 5 END ―

Telat lagiii hikshiks 😥 maafkan aku readers, sepertinya aku akan terus minta maaf untuk ke depannya because jadwal tugas makin sini bakal makin padet 😥 hueeee 😥 ingin cepat selesain FF ini 😥

pls support aku terus yaa, ders 😥 aku bisa apa tanpa kalian 😥 *kok jadi melow? yasudalah~

aku tunggu komentar kalian!~^^ :* 😀

Iklan

7 pemikiran pada “[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT -CH. 5 : That Someone

  1. Wahh…thorrr mkin sini mkin wow aja nih…ratingnya mkin tinggi nih..waaa…apa itu knp suho yg jdi kekasihnya s yoora…knp gk baekhyun..eueu…y sudahlah mungkin itu keinginannmu…ama sehun…wahhh ternyata dia udh dewasa nih..hahahahha…okeh..smangat ya thorr…keep writting..i will be a true reader..😊😊😊

    Suka

  2. Ihhh Yoora apa banget>.< jdi pacar suho gak banget-,- meningan ama Baek.. Naon ciuman ama sehun gak banget-_- udahlahh Yoora elu ama Baek aja gausah deketin yg lain/? PHP waee ente mh hahahha:D Chanyeol kmna/? asa gak nongol2 d chapter ini thorr/? aahh bangchan:D Makin gereget aja nihh ff.. d tunggu yaa thorr next chapternya smangat^^ banyakin adegan romantisnya BaekYoo nyaa+ChanYoo jgaa yaa thorr semangat^-^

    Suka

  3. Ping balik: [EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 6 | ANSFanfiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s