[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 6

[Fanfiction] SADISTIC NIGHT

Untitled-1copyChapter 1, Click Here 🙂

Chapter 2, Click Here 🙂

Chapter 3, Click Here 🙂

Chapter 4, Click Here 🙂

Chapter 5, Click Here 🙂

― Sadistic Night : Chapter 6 ―

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Main Cast :

Kim Yoojung as Kim Yoora & Baek Soomin

Byun Baekhyun as Baekhyun Lee

Park Chanyeol as Chanyeol Lee

Oh Sehun as Sehun Lee

Supported Cast :

Kim Jongin as Kai Lee || Huang Zitao as Tao Lee || Kim Joonmyun as Suho Lee || Kim Minseok as Xiumin Lee || Kim Jongdae as Chen Lee || Do Kyungsoo as Dio Lee || Zhang Yixing as Lay Lee || Lee Pace as Pace Lee

Genre : AU, Brothership, Drama, Fantasy, Gore, Little bit comedy(?), Romance, Sad, Vampire

Rated : R

Length : Chaptered/Series

Disclaimer : Semua cast adalah bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya untuk kepentingan cerita. Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari berbagai film dan anime yang bergenre fantasy. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

Sekarang, kau sudah mengetahui siapa kami sebenarnya. Jadi, bisakah kau mengatakan padaku siapa kami sebenarnya?

 

♥♥♥

“Soomin-ah… aku merindukanmu.”

Lagi-lagi kata-kata Baekhyun itu terngiang di telinganya. Soomin? Siapa Soomin? Siapa Soomin yang dirindukan Baekhyun itu? pertanyaan seperti itu selalu saja bermunculan dalam benaknya, tapi apa daya, lelaki anak ke-4 keluarga Lee itu tidak akan pernah menjawab rasa penasarannya.

Memeluknya, menangis di pelukannya, tapi menyebut nama gadis selain dirinya? Apa-apaan itu! kalaupun Baekhyun hanya mengigau, pasti ada alasannya kenapa nama ‘Soomin’ yang disebutnya. Tapi apa itu?

Yoora memandangi wajah tampan lelaki yang sedang tertidur pulas di bangku sebelah kanannya itu. Sejak kejadian tengah malam tadi, mereka belum berbicara lagi, sepatah katapun. Seakan ada penghalang di mulut mereka yang menahan mereka untuk saling bicara satu sama lain. Yoora, butuh banyak penjelasan dari lelaki itu.

“Yoora…” panggil lelaki yang duduk di bangku sebelah kirinya, Chanyeol.

Ne?” gadis itu memalingkan wajahnya ke arah Chanyeol.

“Aku…”

Chanyeol menatap Yoora ragu-ragu.

Waeyo?

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Ucap Chanyeol yang langsung membuat Yoora terdiam seribu bahasa.

Ini, bukan mimpi kan? Ini, bukan khayalanku saja kan? Lelaki ini, benar-benar mengatakan hal yang sama dengan apa yang ku dengar kan?

Eotteyo?” tanya lelaki itu menanyakan pendapat Yoora dengan penuh harap.

“Kapan?”

“Sepulang sekolah, eotte?” Chanyeol mulai terlihat bersemangat.

Yoora melengkungkan senyumannya,

“Baiklah.”

Tangan Baekhyun mengepal.

♥♥♥

Setelah sebelumnya memanggil sopir untuk mengantar mobil pribadinya ke sekolah, akhirnya lelaki itu pun mengajak Yoora ke suatu tempat dengan menaiki mobil pribadinya itu. sepanjang perjalanan, tak ada percakapan ringan apapun di antara mereka. Yoora terlihat tertidur pulas sementara Chanyeol fokus memegang kendali kemudi.

Chanyeol memberhentikan mobilnya di tepi jalan, ia tersenyum memandangi Yoora yang masih terlelap di sampingnya. Lelaki itu meraih selimut yang ada di jok belakang mobilnya yang kosong dan menyelimuti Yoora yang begitu tenang dalam tidurnya sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanan mereka.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam dari Seoul, akhirnya mobil yang dikemudikan Chanyeol pun sampai di Donghae, Provinsi Gangwon. Lebih tepatnya di area Taman Mercusuar Mukho. Lelaki itu kembali menatap Yoora yang masih terpejam. Apa gadis itu sebegitu lelahnya menjalani gaya hidup ala vampire keluarga Lee?

“Yoora…” Tangan Chanyeol bergerak ragu-ragu menyentuh pipi gadis di sampingnya itu.

“Eungh…” Yoora membuka matanya,

“Kita sudah sampai eoh?” lanjut gadis itu bertanya dengan masih setengah sadar.

“Buka saja matamu.” Chanyeol membuka paksa kelopak mata Yoora lebar-lebar menggunakan jari-jari tangannya lalu tertawa kecil.

Yoora terdiam, terpesona oleh pemandangan laut yang membentang luas didepannya yang ia lihat dari dalam mobil Chanyeol. Sedetik kemudian, ia menyadari kalau tubuhnya sedaritadi tertutupi selimut yang tebal dan hangat. Ia tersenyum, tentu hanya lelaki itu saja yang bisa menyelimutinya.

“Kita, ada di mana?” Yoora menyingkapkan selimutnya.

Lelaki itu tersenyum geli,

Kajja!

Chanyeol mengajak Yoora keluar dari mobilnya, angin musim gugur yang bertiup dari laut itu seakan-akan menyambut kedatangan mereka. Lelaki itu memandang Yoora yang terus tersenyum merasakan angin yang berhembus.

“Kau menyukainya?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu,” Chanyeol menggenggam tangan Yoora erat.

“Ayo kita pergi.”

“Ye?” Yoora mengerutkan kening, tak mengerti.

“Ini bukan tempat yang ku maksud. Tempat yang ku maksud, ada di sana.” Telunjuk lelaki itu menunjuk ke arah menara mercusuar yang ada di atas sebuah bukit yang menghadap langsung ke arah laut.

Kajja!

Chanyeol menarik tangan Yoora, mengajaknya berlari menaiki bukit yang mereka tuju. Meski merasa lelah, Yoora justru tertawa bahagia saat berlari di belakang Chanyeol yang terus menggenggam erat tangannya. Lelah mereka terkalahkan oleh tawa.

Oppah..huh..huh…”

Chanyeol menoleh, “Wae? kau lelah?”

Yoora mengangguk. Gadis itu terlihat berusaha keras mengatur nafasnya yang memburu. Chanyeol tersenyum, mengerti. Yoora tidak seperti dirinya, Yoora bukanlah seorang vampire, Yoora hanya gadis manusia yang memiliki jantung yang masih berdetak di dalam tubuhnya. Pasti gadis itu merasa sangat lelah karena harus ikut berlari sambil menaiki bukit hingga sampai di jembatan gantung ini.

Chanyeol menghapus keringat di dahi Yoora lalu mengambil posisi jongkok di depan gadis itu.

“Naiklah ke punggungku!”

“Aku? ke-kenapa aku harus?” tanya Yoora gugup.

“Sudah, naik saja!”

Gadis itu dengan ragu menaiki punggung Chanyeol, membiarkan lelaki itu untuk menggendongnya yang sudah terlalu lelah setelah berlari tadi. Chanyeol menggendong Yoora sembari terus berjalan melewati jembatan gantung yang akan membawa mereka ke tempat tujuan mereka, ya, menara mercusuar.

“Kau harus mengurangi berat badanmu.” Lagi-lagi…

PLETAK!

“Aakhh!” rintih Chanyeol sesaat setelah Yoora menjitak kepalanya.

“Kenapa kau menjitakku?!”

“Kenapa kau sama saja dengan Chen Oppa? Menyuruhku untuk mengurangi berat badanku…”

“Itu berarti kau memang ber…athhh! aakhh!” kata-kata Chanyeol itu langsung disambut oleh jeweran hangat Yoora di telinganya. Gadis itu turun dari punggungnya dan berlari menertawai ekspresi Chanyeol yang terlihat lucu di matanya itu.

“Yak! Awas kau!”

Chanyeol berlari mengejar Yoora. Dua insan itu terus bermain kejar-kejaran di sekitar taman mercusuar Mukho dengan tawa yang seakan tidak akan pernah berhenti. Setelah merasa lelah, Chanyeol menarik Yoora sampai ke pagar pembatas untuk menikmati pemandangan laut yang membentang luas di hadapan mereka. Matahari yang mulai beranjak naik memperjelas warna lensa mata Chanyeol yang berbeda dengan lensa mata Yoora. Vampire seperti Chanyeol tidak pernah takut akan sinar matahari.

“Yoora…” panggil Chanyeol pada gadis di sampingnya yang sedang memejamkan mata, menikmati angin.

Ne?

“Maafkan aku.”

Yoora perlahan membuka matanya dan menatap Chanyeol yang tertunduk.

“Aku seharusnya tak membuatmu merasa terintimidasi.”

“Baekhyun Hyung, Suho Hyung, bahkan Sehun sekalipun, aku tak bisa menandingi mereka yang mencintaimu. Aku menyesal, menyesal karena telah membuat pertemuan pertama kita saat itu begitu menyeramkan untukmu…”

“Yak! Apa yang kau lakukan?!”

“Neo? Nuguya? Siapa kau sampai berani-beraninya menyentuhku?! Apa yang dilakukan seorang manusia di tempat ini huh?!”

“Jhweosonghamnida, jeongmal jhweosonghamnida.”

…..

“Jhweoseonghaeyo, sebenarnya… aku sudah mengetahui nama kalian sejak awal. Tapi aku ragu untuk mengatakannya.”

PRANG!

“Chanyeol-ah…”

“Hyung…”

“Kau seharusnya mengatakan itu sejak awal… sehingga kami tidak perlu membuang-buang waktu kami hanya untuk membicarakan hal yang tidak berguna dengan makhluk yang sama tidak bergunanya seperti dirimu!”

“Aku menyesal karena telah membuang waktuku bersamamu hanya karena keegoisanku sendiri…”

“Apa kelas etika itu seperti hukuman?”

“Jhweosonghaeyo, Chanyeol-ssi.”

“Kenapa meminta maaf?”

“Karena aku, kau harus mengikuti kelas etika yang kedengarannya sangat menyeramkan itu.”

“Bagaimana bisa kau mengatakan itu semua karenamu? Apa kau sudah merasa sangat hebat eoh? Apa kau pikir keluargaku sudah membuat dirimu begitu spesial hingga kau bisa mengatakannya dengan semudah itu?”

“Kenapa kau tiba-tiba menjadi seperti ini?”

“Chanyeol-ssi!”

“Kau tidak perlu khawatir, kelas etika sudah lama menjadi langgananku.”

“Aku seharusnya tidak melakukan itu…”

“Jangan lakukan itu padaku, Chanyeol-ssi! Jebal!”

“Jebalyo!”

“Diamlah… aku tidak akan bersikap kasar. Kau hanya perlu menyimpan teriakanmu yang mengganggu itu.”

“Jangan! Jangan! Chanyeol-ssi!”

PLAK!

“Bukankah sudah ku bilang untuk menyimpan teriakanmu?! Itu sangat menggangguku!”

“Aku bodoh…”

“Chanyeol-ssi… kenapa kau melakukan ini padaku?”

“Apa lagi? sebagai gadis milikku, kau sama sekali tidak patuh padaku!”,

“Dan ini, adalah hukuman yang pantas bagi gadis yang tidak patuh.”

“Chanyeol-ssi!”

BLURP!

“Tolong ak…”

BLURP!

“Aku tidak bisa…”

BLURP!

“…berenang.”

“…membiarkan orang lain yang menyelamatkanmu yang hampir mati karena kesalahanku sendiri. Aku memang bodoh.” Mata Chanyeol yang berair mencoba menatap mata Yoora.

“Kau benar, kau memang bodoh, Oppa.

Mata Chanyeol membulat, terkejut dengan apa yang dikatakan Yoora padanya.

“Kau benar-benar bodoh, sampai-sampai kau menghasutku untuk berhenti mencintai lelaki yang ku cintai tanpa tahu siapa lelaki yang ku cintai itu.”

“Yang pasti itu bukan aku.” Chanyeol mengalihkan pandangannya, menatap Yoora hanya membuatnya semakin sakit. Kakaknya, Suho, sudah lebih dulu mendapatkan hati gadis itu. Chanyeol tak perlu berharap lebih lagi.

“Lihatlah,”

“Bahkan lelaki bodoh yang ku cintai itu kini berlagak sok tahu di depanku.” Ucap Yoora memaksakan tawanya.

Chanyeol menatap gadis itu penuh keraguan sambil mencerna kembali kata-kata yang baru saja ia dengar. Yoora tersenyum seolah memberi kepastian bahwa lelaki itu memang tak salah. Ya, Chanyeol lah yang selama ini Yoora cintai.

Senyum Chanyeol mengembang. Lelaki itu lalu menarik tengkuk Yoora dan menciumnya sebagai tanda dirinya begitu bahagia, memperlihatkan siluet yang terbentuk karena cahaya mentari pagi yang mereka halangi.

“Di antara mereka, kenapa aku?” tanya Chanyeol setelah melepas ciuman lembutnya di bibir Yoora. Saat ini gadis itu sudah berada dalam pelukannya. Tidak hangat memang, tapi cukup untuk membuat Yoora merasa nyaman.

“Aku mencintaimu. Cintaku ku jatuhkan padamu. Bukankah itu sudah cukup?”

Lelaki itu mempererat dekapannya,

“Kau benar. Dengan kau mencintaiku saja, itu sudah cukup untukku.”,

“Terimakasih karena telah memilihku. Aku mencintaimu.”

Di dalam mobil, sebuah ponsel yang dibiarkan tergeletak di jok mobil itu terlihat bergetar karena mendapat panggilan. Nama kontak ‘Xiumin Hyung’ tertera di layar ponsel yang ternyata milik lelaki yang kini sedang menikmati waktu yang berharga bersama gadis yang dicintainya itu di tepi pantai. Tidak salah lagi, ponsel itu adalah milik Chanyeol.

‘Xiumin Hyung’ 21 panggilan tak terjawab, 5 pesan.

‘Suho Hyung’ 54 panggilan tak terjawab, 23 pesan.

‘Lay Hyung’ 103 panggilan tak terjawab, 77 pesan.

♥♥♥

Yoora dan Chanyeol terlihat menghabiskan waktu mereka dengan bermain air, berlari menghindari ombak walaupun pada akhirnya tubuh mereka tetap basah karena ulah mereka sendiri.

Matahari sudah berada jauh di atas kepala mereka, tapi sinarnya tak terlalu terik karena awan-awan putih mencoba menyelimutinya. Mendung? Tidak, ini bukan saatnya hujan untuk turun.

“Kenapa udaranya semakin siang malah semakin dingin?” Yoora memeluk tubuhnya sendiri.

Chanyeol memeluk tubuh gadis itu dari belakang, mencoba menghangatkannya. Dasar bodoh, pelukan itu sama sekali tidak berguna. Yang ada, gadis yang kau peluk tubuhnya itu akan merasa semakin kedinginan karena suhu tubuhmu yang seperti es batu.

“Tubuhmu 4 derajat lebih hangat dari saudaramu yang lain, Oppa.” Ucap Yoora. kali ini ucapannya tidak salah, ‘es batu’ itu memang hangat. Ya, bayangkan saja, sehangat-hangatnya es, tetap saja namanya es.

“Aku bisa menyalakan api untuk menghangatkanmu. Apa perlu ku tunjukkan itu?”

Jinjjayo?

Chakkaman.” Lelaki itu sejenak melepaskan lingkaran tangannya di tubuh Yoora, berniat menunjukkan kekuatannya dalam mengendalikan api pada gadis itu. Tapi kemudian ia dibuat bingung, karena tak ada satu pun benda yang bisa dijadikan media untuk menyalakan api.

Yoora tertawa kecil melihat lelaki yang kini tengah menggaruk-garuk kepalanya kebingungan.

“Tidak perlu kau paksakan, Oppa. Lagipula aku sudah pernah melihat kekuatanmu itu saat aku mengganggu tidurmu di hari pertama kita bertemu. Semua lilin yang ada di ruangan itu tiba-tiba menyala, padahal tidak ada seorang pun yang menyentuhnya.”

Chanyeol kembali menarik Yoora ke pelukannya, tapi kali ini lelaki itu langsung menjatuhkan dirinya di atas pasir hingga membuat Yoora yang berada di pelukannya juga ikut jatuh ke atas tubuhnya.

Neo pabboya! Itu sakit!” ujar gadis itu seraya memukul dada Chanyeol.

Ne! Aku bodoh! Lalu kenapa?! Si bodoh ini ternyata mencintai gadis yang sama bodohnya dengan dirinya, wlee!” ledek Chanyeol.

“Aku tidak bodoh!”

Hening. Chanyeol tak membalas kata-kata Yoora. Lelaki itu menatap mata Yoora dalam sambil terus memperlihatkan senyumannya yang mematikan. Chanyeol merubah posisinya, menindih Yoora dan mengunci tubuh kecil gadis itu. Yoora spontan terkejut, tapi tatapan Chanyeol seakan benar-benar menghipnotisnya, membuatnya tak mampu melakukan penolakan apapun.

Perlahan tapi pasti, lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Yoora. Jantungnya berdegup kencang. Walaupun first kissnya sudah sejak lama didapatkan Baekhyun, ia tetap tak bisa mengontrol rasa gugupnya ketika menghadapi detik-detik menjelang ujian nasional, eh salah, menjelang berciuman maksudnya. Yoora terlihat memejamkan matanya saat menyadari jarak antara wajahnya dengan wajah Chanyeol tinggal beberapa inchi lagi.

“Pffft… pffftt…” Tawa Chanyeol tertahan.

Yoora membuka matanya, mendapati Chanyeol tak menciumnya dan malah menahan tawa puas setelah melihat ekspresi polosnya tadi.

Oppa!

Lelaki itu bangkit dari posisinya dan berlari meninggalkan Yoora yang merasa kesal dibuatnya. Sukses! Hahaha.

“Ayo kejar aku, lamban!” Chanyeol meledek Yoora lagi. Ia sengaja memperlambat langkah kakinya agar gadis itu bisa mengejarnya.

Yoora mendengus, awas saja!

Gadis itu bangkit dan berusaha mengejar lelaki berkaki panjang yang berada jauh di depannya. Lelaki itu bersiul sambil menikmati langkahnya, sengaja, untuk membuat gadis di belakangnya semakin kesal. Kesalnya gadis itu benar-benar membuatnya semakin terlihat cantik.

BREG!

Tanpa memberi kesempatan terlebih dahulu, gadis itu langsung saja melompat ke punggung Chanyeol yang secara tak langsung memaksa lelaki itu untuk menggendongnya. Chanyeol tak marah, kenakalan gadis itu malah membuat suasana di antara mereka berdua semakin terasa hangat. Waktu yang mereka habiskan hari ini dipenuhi canda tawa yang ceria.

Mereka berpacaran? Tentu saja tidak. Kim Yoora, masih tetap menjadi milik leader EXO, ya, Suho.

♥♥♥

“Kalian dari mana saja?” tanya Lay.

Ke-9 bersaudara yang ada di ruangan itu memandangi Yoora dan Chanyeol dengan tatapan yang seolah-olah akan menelan mereka berdua hidup-hidup. Tak ada raut penuh canda yang terpancar dari wajah ke-9 lelaki itu, terlebih lagi jika melihat raut wajah Suho, Baekhyun, Sehun dan Dio. Ke-4 lelaki itulah yang paling jelas menunjukkan rasa kecewa mereka meski hanya tersirat dari mimik mereka masing-masing.

Mianhae, Hyung.

“Jangan hanya meminta maaf, Chanyeol-ah! Kami juga ingin mendengar jawabanmu yang baru kembali setelah 9 jam menghilang tanpa kabar apapun bersama seorang gadis manusia.” Gertak Xiumin yang saat ini tengah duduk di sofa di sebelah Suho.

“Haruskah aku mengulang cerita yang kalian buat selama 9 jam itu?” lensa kuning Baekhyun terlihat menyala-nyala.

“Sebenarnya saat itu juga aku bisa muncul di tengah-tengah kalian, tapi mendengar Baekhyun Hyung mengatakan kalau kalian begitu mesra, aku jadi ragu untuk menjadi perusak suasana itu.” ucap Kai.

“Sudah cukup.” Kata-kata Suho itu mampu membuat semua mulut yang ada di ruangan itu bungkam seketika. Chanyeol dan Yoora terlihat menundukkan kepala mereka, tak berani menatap Suho yang murka.

“Chanyeol-ah, kau tahu kenapa kami berbuat seperti ini?” lanjut Suho.

“Karena ketika aku datang, kau tidak ada untuk menyambut kedatanganku.”

Chanyeol otomatis menegakkan kepalanya, suara yang begitu familiar itu akhirnya terdengar lagi di telinganya. Seorang pria berwajah barat dengan setelan jas serba hitam dan lensa mata berwarna abu-abu itu selangkah demi selangkah menuruni tangga. Ke-10 lelaki yang ada di ruangan itu ―termasuk Chanyeol― memberi penghormatan pada pria itu dengan cara memposisikan tubuh mereka duduk membungkuk dan bertumpu pada satu kaki, persis seperti pelayan istana yang membungkuk tunduk di hadapan rajanya.

“Kau pasti, Kim Yoora.”

Yoora terdiam mematung, tak tahu harus bagaimana menghadapi pria setengah tua yang baru ia temui untuk pertama kalinya itu.

“Kau tidak perlu takut, aku tidak seliar anak-anak nakal ini.” ucap pria bule itu tersenyum. Senyuman yang Yoora lihat dengan mata kepalanya sendiri itu seketika mampu membuat rasa takutnya menghilang. Senyuman itu, senyuman yang begitu menyejukkan.

Mungkinkah dia, Pet… Pej… Pas…Pes…

“Pace, Pace Lee.”,

“Aku ayah mereka. Sekaligus orang yang dekat sekali dengan… ayahmu.”

“Ayahku?” Yoora tertegun.

Vampire ini, dekat sekali dengan ayahku? Ayahku, benar-benar dekat dengan makhluk berdarah dingin ini? Kenapa? Kenapa mereka bisa dekat?Apa yang membuat ayah begitu mempercayainya hingga memutuskan untuk menyuruhku tinggal bersama mereka dan meninggalkannya sendirian?

“Jangan berpikir terlalu keras, Yoora. Kalau kau terus memikirkannya, itu akan terasa sangat melelahkan.”

“Kau, bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiranku?”

Pria bernama Pace itu memaksakan tawanya,

“Aku lelah, aku akan beristirahat.” Ucapnya.

Ke-10 lelaki itu kemudian bangkit dari posisi mereka sesaat setelah pria yang merupakan ayah mereka itu berbalik dan menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarnya. Tapi baru beberapa langkah, ayah mereka kembali berbalik.

“Aku perlu bicara denganmu, Chanyeol-ah.”

♥♥♥

Keheningan menyelimuti kamar Yoora. Gadis itu kini tengah tertidur di ranjangnya menghadap ke arah tembok. Baekhyun menghampiri gadis itu dan duduk di tepi ranjang. Memandangi gadis yang kini mungkin sudah jauh terlelap ke alam bawah sadarnya.

“Kim Yoora…” panggil Baekhyun dengan volume suara rendah. Yoora tak bergeming.

“Aku benci memiliki kekuatan seperti ini. Aku benci mendengar apa yang tak bisa orang lain dengar, aku benci melihat apa yang tak bisa orang lain lihat. Aku membenci kekuatanku sendiri.”

“Kau tahu kenapa? Karena aku bisa mendengar kata hati dan membaca pikiran lelaki lain yang mencintaimu, karena aku bisa melihat apa yang sedang kau lakukan bersama lelaki lain, dan itu, membuatku terluka.” Baekhyun meremas sprei yang membalut ranjang gadis itu.

“Aku terluka. Aku terluka saat menyadari bahwa penantianku selama ini ternyata berujung sia-sia.”

“Aku meminta Tao untuk kembali membawaku ke masa lalu, tapi semua itu tetap saja tidak bisa merubah apapun. Jika aku bisa, aku ingin kembali dan mati saat itu juga. Aku tidak ingin menjadi monster abadi paling menakutkan di muka bumi ini kalau pada akhirnya aku tidak bisa membawamu kembali.” Airmata lelaki itu menetes.

Yoora yang ternyata belum terlelap dalam tidurnya mendengar semua yang lelaki itu katakan dan ikut menitikkan airmata meski tak tahu apa-apa. Entah kenapa, airmatanya lolos begitu saja.

“Ku mohon… jangan mencintai lelaki lain. Jangan berikan hatimu pada lelaki lain. Cukup aku, cintai aku saja.”

Waeyo?” gadis itu masih dalam posisi tidurnya yang membelakangi Baekhyun.

“Kenapa aku tidak boleh mencintai lelaki lain dan hanya boleh mencintaimu?”

Baekhyun terdiam. Lelaki itu terlihat menengadahkan kepalanya, tak memberi kesempatan pada cairan beningnya untuk kembali jatuh.

“Ternyata aku memang bodoh,” Yoora menatap Baekhyun dengan mata berair.

“Bertanya pada seseorang yang sama sekali tidak akan memberikan jawabannya.”

“Kenapa aku harus jatuh cinta pada lelaki egois seperti dirimu kalau lelaki lain saja bisa memberiku segalanya yang ku butuhkan?”

Kata-kata Yoora begitu menusuk ke dalam hati Baekhyun, membuat luka di hati Baekhyun semakin menganga karenanya.

“Jika memang tak ada lagi ruang di hatimu untukku, mungkin ini adalah akhir dari ceritaku. Dan aku, tak pernah ingin melanjutkannya lagi.” lelaki itu bangkit dari duduknya, hendak keluar dari kamar gadis itu yang mulai terasa sesak.

“Aku mencintai Chanyeol, dan akan tetap mencintainya.”

Langkah lelaki itu terhenti, airmatanya kembali membasahi kedua pipinya. Lensa kuningnya terlihat terang-redup terang-redup memberi tanda bahwa saat ini emosinya tak lagi terkontrol.

PRANG! PRANG! PRANG!

Yoora memejamkan mata dan menutup telinganya rapat-rapat menyadari amarah Baekhyun yang meluap-luap. Lelaki itu berhasil menghancurkan kaca jendela, cermin hias, dan lampu gantung dengan menggunakan kursi kayu yang ada di kamar Yoora. Gadis itu tertunduk ketakutan tapi Baekhyun sama sekali tak menyentuhnya. Gadis itu sama sekali bukan sasaran amarahnya.

Taring Baekhyun mulai terlihat saat lelaki itu menggertakkan gigi-giginya, lensa matanya menjadi terang sempurna dalam sekejap.

“Aku mencintai Chanyeol, dan akan tetap mencintainya.”

“Aku mencintai Chanyeol, dan akan tetap mencintainya.”

“Aku mencintai Chanyeol, dan akan tetap mencintainya.”

“Aaaaaaaaaargh!”

Hyung! Hentikan, Hyung!” cegah Tao dan Kai tepat waktu saat Baekhyun hendak melukai dirinya sendiri dengan pecahan kaca yang berserakan di lantai kamar gadis itu.

Ke-9 lelaki itu datang ke kamar Yoora setelah mendengar suara pecahnya kaca dan beberapa bantingan benda yang membuat suasana terdengar begitu gaduh. Alhasil mereka mendapati Baekhyun yang hendak menusukkan pecahan kaca itu ke tenggorokannya sendiri dan Yoora yang gemetar ketakutan di atas ranjangnya.

“Bawa dia ke kamarnya, jangan sampai ayah tahu hal ini.” ucap Suho memberi arahan pada Tao dan Kai. Lelaki itu berjalan cepat menghampiri Yoora dan memberi gadis itu pelukan serta kecupan ringan di ubun-ubun untuk menenangkannya.

Sehun dan Dio terlihat mengalihkan pandangan mereka, tak ingin melihat pemandangan menyakitkan itu lebih jauh lagi. Sedangkan Chanyeol, lelaki itu hanya diam terpaku menyadari Suho yang selalu selangkah lebih cepat ketimbang dirinya dan ia sudah tertinggal terlalu jauh di belakang Suho.

Xiumin tertawa paksa,

“Mereka benar-benar berkencan.”

♥♥♥

Hari-hari terus berlalu, setelah Suho, kini giliran Baekhyun yang terkulai lemah tak berdaya di ranjangnya. Sejak kejadian malam itu, Baekhyun jatuh sakit. Lelaki itu hanya mengandalkan selang infus yang sebelumnya dipasang Xiumin, yang menusuk kulit tangannya untuk mendapatkan energi yang tak seberapa. Tapi Baekhyun seakan enggan untuk membuka kembali kedua matanya, luka yang ia rasakan karena mencintai gadis manusia sudah dirasa terlalu perih. Sungguh, ia tak ingin melanjutkan kisahnya lagi. cukup, hidupnya cukup sampai di sini. Tak ada lagi luka baru, yang ada hanyalah bekas luka yang akan terus menganga entah sampai kapan.

Yoora memandangi bangku di sebelah kanannya. Tempat yang biasanya dijadikan tempat tidur ke-2 oleh Baekhyun saat sekolah malam itu sudah beberapa hari ini terlihat kosong. Bahkan ketika gadis itu menyentuh bangku tersebut, bangku itu sudah berdebu tipis. Chanyeol menggenggam tangan kirinya, membuat dirinya perlahan mengalihkan pandangan ke arah lelaki itu.

“Kau harus menjenguknya.”

Yoora menunduk,

“Aku takut, takut kalau kehadiranku hanya akan membuatnya semakin terluka.”

“Kau tidak akan pernah tahu, ia akan bangun atau selamanya dalam keadaan seperti itu.”

Kata-kata Chanyeol mengingatkan gadis itu akan Suho. Lelaki yang sampai saat ini masih menjadi kekasihnya itu semakin hari semakin menunjukkan perubahan sikap yang begitu drastis.

Yoora sadar, kini Suho perlahan mulai menjauh darinya, semakin jauh. Yoora tak menemukan lagi kehangatan tatapan dan kelembutan tutur kata lelaki itu sejak kejadian di kamarnya yang melibatkan Baekhyun. Pelukan dan kecupan Suho saat itu merupakan pelukan dan kecupan terakhir yang ia dapatkan dari lelaki itu. Setiap kali Yoora ingin menggenggam tangan Suho, Suho selalu menepisnya. Setiap pertanyaan yang Yoora ajukan selalu Suho jawab dengan acuh. Senyuman dan sapaannya pun tak pernah Suho balas lagi. Diam-diam, gadis itu mulai merindukan semua cinta dan kasih sayang yang pernah Suho berikan padanya.

♥♥♥

Suara derapan langkah kaki yang sedang berlari itu memenuhi koridor sekolah yang nampak sepi. Seorang gadis yang selalu menggerai rambutnya itu akhirnya menghentikan langkah kakinya dan tersenyum, orang yang ia cari-cari sedaritadi itu sudah ia temukan. Suho, terlihat sedang menyandarkan tubuhnya di dinding koridor, sendirian.

Oppa!

Suho menoleh. Tanpa disangka, ternyata lelaki itu memperlihatkan senyuman bak malaikatnya lagi yang telah lama dirindukan Yoora.

“Kenapa Oppa ada di sini? Sendirian pula.” Tanya Yoora berbasa-basi.

Lelaki itu tersenyum getir,

“Tentu saja aku sendirian,”

“Karena orang yang ku cintai kini selalu berada di sisi lelaki lain.”

Yoora terdiam menunduk, menyadari kesalahannya yang mencintai Chanyeol di saat ia masih berstatus kekasih Suho. Tidak, cintanya pada Chanyeol bukanlah sebuah kesalahan. Ia mencintai Chanyeol jauh sebelum Suho menyatakan perasaannya. Yang salah adalah, kebodohannya yang tanpa berpikir panjang memutuskan untuk mencoba mencintai Suho hanya karena tak mau melihat lelaki itu terluka karena tak bisa mencintai gadis yang dicintainya.

“Aku tidak marah, karena akhirnya dia bisa membuatmu tersenyum tanpa paksaan.”

Perlahan, Yoora melingkarkan tangannya yang gemetar di pinggang Suho. Yoora menangis di sana, tepatnya di dada bidang lelaki itu. Ia benar-benar merasa bersalah pada Suho karena telah memberi lelaki itu cinta yang penuh keraguan, sungguh, ia tak sanggup untuk memaafkan dirinya sendiri.

“Maafkan aku…”

“Cukup menjadi dirimu sendiri, jangan pernah melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan. Mustahil untukku memberikan seluruh cintaku padamu jika cintamu hanyalah sebuah bisikan khayal di dalam pikiranku dan canda tawamu hanya sebuah bayangan semu. Karena bagaimanapun caramu memelukku, semuanya akan terasa kosong jika kau tidak merasa nyaman berada di sisiku.” Ucap Suho dengan mata yang berair.

Suho membalas pelukan Yoora erat, sangat erat seperti tak rela melepasnya untuk lelaki lain.

“Aku mencintaimu.”,

“Aku terlalu naif untuk menyadari kalau kau bukanlah bagian dari takdirku. Aku terlalu naif untuk mengakui kalau ada lelaki lain yang sudah memilihmu ke dalam takdirnya jauh lebih dulu daripada aku. Aku bahkan terlalu naif untuk menepati janjiku sendiri dan malah menganggap janji itu seakan tak pernah ada.” Lelaki itu akhirnya menitikkan airmatanya setelah sekian lama menahan kesakitannya.

“Dia adalah alasanku untuk tetap hidup, Hyung. Aku mencintainya.”

“Takkan kubiarkan orang lain merebutnya darimu. Aku berjanji untuk itu.”

Dengan berat hati, Suho melepas pelukannya. Ia mencoba untuk tersenyum, tapi ia tak bisa, airmatanya masih saja memaksa untuk keluar.

“Jangan,” sepasang tangan lembut Yoora menyentuh pipi Suho dan menghapus airmata yang mengalir di pipi lelaki itu dengan dirinya yang juga berderai airmata.

“Jangan ada yang berubah di antara kita. Jangan berubah menjadi Suho Oppa yang tidak ku kenal lagi, jadilah Suho Oppa yang selalu bijaksana dan berhati hangat, seperti Suho Oppa yang ku kagumi pertama kali di pertemuan pertama kita. Tak ada yang perlu diubah. Jangan pernah lupa kalau kita pernah tertawa dan menghabiskan waktu bersama.”

Yoora menjinjit kakinya dan menautkan bibirnya ke bibir Suho, mencium lelaki itu penuh ketulusan, ciuman terakhir.

Jangan pernah lupa, bahwa aku juga pernah berusaha untuk mencintaimu… – Yoora

Berat, berat hatiku untuk melepasmu pergi… jangan pergi, tetaplah di sisiku… ku mohon… – Suho

 

♥♥♥

Yoora melangkah masuk ke dalam kamar Baekhyun. Dilihatnya Baekhyun yang terpejam, terbaring lemah di atas ranjangnya dengan selang infus yang menusuk kulit tangannya. Setetes demi setetes cairan infus menetes di dalam sebuah tabung kecil yang diletakkan menggantung di sebuah tiang kecil di samping ranjang lelaki itu.

Tangan gadis itu bergerak ragu menyentuh dahi Baekhyun. Hangat. Hangat? Bagaimana bisa suhu tubuh lelaki di depannya ini menjadi benar-benar hangat seperti suhu tubuh manusia pada umumnya? Jika mengingat keadaan Suho saat sakit waktu itu, suhu tubuhnya masih tetap dingin. Itu berarti, kalau Baekhyun tiba-tiba menjadi hangat, sakit yang dirasakannya benar-benar sudah parah.

Di tengah kekhawatirannya itu, Yoora teringat sesuatu. Seberapapun sakit yang dirasakan oleh seorang vampire, tidak akan membuat vampire itu mati. Itu juga berarti, jika Baekhyun dibiarkan dalam keadaan seperti itu, lelaki itu akan terus tersiksa.

Yoora mengambil air dingin di kamar mandi yang ada di dalam kamar Baekhyun menggunakan wadah seadanya. Ia juga mengambil handuk kecil dari lemari lelaki itu dan membasahinya. Gadis itu mengompres Baekhyun dengan hati-hati, tak ingin membuat Baekhyun merasa terganggu.

“Hhh…hh…” Kulit yang sudah pucat itu tampak bertambah pucat. Keringat lelaki itu mulai bercucuran. Matanya terpejam kuat.

“Soomin-ah…hhh… Soo…min…”

Tangan Yoora yang sedang memeras handuk kecil itu berhenti melakukan aktifitasnya setelah ia mendengar Baekhyun mengigau, bukan, setelah mendengar nama yang disebut Baekhyun lebih tepatnya. Soomin? Siapa sebenarnya gadis bernama Soomin itu? sebegitu berartinya kah nama Soomin di hidup Baekhyun?

“Hhh..Soom..min… Soomin-ah…”

Ne, aku di sini.” Ucap Yoora mencoba berinteraksi dengan Baekhyun, seolah dirinyalah gadis yang dipanggil lelaki itu dalam alam bawah sadarnya.

Baekhyun menggenggam kuat tangan Yoora, namun masih terpejam dalam ketidaksadarannya. Yoora tersenyum, membalas genggaman tangan Baekhyun, berharap lelaki itu bisa secepatnya terbangun dari tidur lamanya.

“Jangan pergi..hhh… jangan tinggalkan aku…”

Yoora membelai lembut kepala Baekhyun, menatap matanya yang masih tertutup rapat dan seolah tak mau terbuka lagi itu.

“Aku tidak akan pergi, aku tidak akan meninggalkanmu… tapi kau harus bangun, jangan biarkan aku pergi tanpa sepengetahuanmu. Bangunlah…”

“Ahhh!” rintih gadis itu. Sesuatu di dada kanannya tiba-tiba terasa sangat sakit.

“Kejar aku!”

“Yak! Kau mau ke mana?! Jangan berlari! Kau tahu aku tidak akan bisa mengejarmu!”

“Kau payah!”

Sekelebat bayangan seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki yang mengenakan hanbok itu tiba-tiba saja melintas di pikirannya, membuat kepala serta dadanya semakin terasa sakit. Yoora tak mengerti, apa maksud bayangan itu? anak-anak dalam bayangannya itu, siapa mereka?

“Kenapa aku tiba-tiba menjadi seperti ini?”

♥♥♥

“Yoora…” panggil Dio pada Yoora yang sedang menidurkan kepalanya di atas meja. Pelajaran pertama sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu, kini waktunya para siswa/i untuk menikmati waktu istirahat mereka.

“Ada apa, Oppa?” Yoora menenggakkan kepalanya malas. Gadis itu menguap lebar, lagi-lagi ia kurang tidur karena sibuk mengurusi vampire yang sakit.

Raut wajah lelaki itu terlihat tak senang, tatapannya sendu.

Waeyo?” Yoora membenarkan posisi duduknya.

“Katakan saja, Oppa.

“Chanyeol…”

“Ya?”

“Chanyeol menyuruhku untuk menyampaikan sesuatu padamu.”

“Apa itu?” Yoora penasaran.

“Dia ingin kau menemuinya, di koridor di dekat kelas etika – 5.”

Dio yang mendapati ekspresi Yoora berubah menjadi begitu ceria justru merasa sakit, tapi di tengah kesakitannya itu, Dio masih sempat memikirkan perasaan kakak-kakaknya yang juga menyimpan rasa pada gadis itu. Apa gadis itu benar-benar mencintai Chanyeol?

“Lalu bagaimana dengan Suho Hyung?

“Ye?”

“Kalau kau mencintai Chanyeol, lalu bagaimana dengan perasaan Suho Hyung? Apa kau tak memikirkan perasaannya eoh?”,

“Kalau kau mencintai Chanyeol, lalu bagaimana dengan Baekhyun Hyung? Kau tak memikirkannya juga?”

“Aku harus menemui Chanyeol, Mianhae Oppa.” Ucap Yoora dengan senyuman paksa di bibirnya. Gadis itu meninggalkan Dio yang terus memandangnya dengan tatapan tak percaya.

“Kau, kalau kau mencintai Chanyeol, lalu bagaimana denganku? apa kau tak bisa memikirkan sedikit saja tentang perasaanku?” gumam Dio pelan.

♥♥♥

“Kalau kau mencintai Chanyeol, lalu bagaimana dengan perasaan Suho Hyung? Apa kau tak memikirkan perasaannya eoh?”

“Cukup menjadi dirimu sendiri, jangan pernah melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan. Mustahil untukku memberikan seluruh cintaku padamu jika cintamu hanyalah sebuah bisikan khayal di dalam pikiranku dan canda tawamu hanya sebuah bayangan semu. Karena bagaimanapun caramu memelukku, semuanya akan terasa kosong jika kau tidak merasa nyaman berada di sisiku.”

“Kalau kau mencintai Chanyeol, lalu bagaimana dengan Baekhyun Hyung? Kau tak memikirkannya juga?”

“Jangan pergi..hhh… jangan tinggalkan aku…”

“Aku mencintai Chanyeol, dan akan tetap mencintainya.”

“Di antara mereka, kenapa aku?”

“Aku mencintaimu. Cintaku ku jatuhkan padamu. Bukankah itu sudah cukup?”

“Kau benar. Dengan kau mencintaiku saja, itu sudah cukup untukku.”,

“Terimakasih karena telah memilihku. Aku mencintaimu.”

Yoora mencoba menghilangkan segala keraguan di hatinya, mencoba memberi sugesti pada dirinya sendiri bahwa pilihannya untuk mencintai Chanyeol tidaklah salah dan bukan suatu kesalahan.

Saat ini gadis itu tengah berjalan menuju tempat yang di maksud Chanyeol, ya, ia tengah berjalan menuju koridor di dekat kelas etika – 5, sesuai dengan yang Dio sampaikan padanya beberapa saat yang lalu.

“Ethics Class – 1,”

“Ethics Class – 2,”

“Ethics Class – 3,”

“Ethics Class – 4,”

“Heee? Di mana Ethics Class – 5?” Yoora mengerutkan keningnya. Kenapa hanya ada 4 kelas etika? Bukankah kelas terakhir dari kelas etika adalah kelas etika – 5?

Yoora memandang bingung sebuah kelas kosong tanpa papan nama, mungkinkah kelas itu kelas etika – 5? Tapi jika memang benar, kenapa Chanyeol sama sekali tak menampakkan batang hidungnya?

Chogi…”

“Apa kalian melihat Chanyeol Lee?” tanya Yoora sambil menghampiri 2 orang siswi yang sedang mengobrol di ujung koridor.

“Vampire tinggi keturunan keluarga Lee yang duduk di B Class – 2 itu?”

“Ya, apa kalian melihatnya?”

2 orang siswi itu terlihat saling berbisik dan tertawa kecil.

Chogi?

“Ah, aku melihatnya turun ke ruang bawah tanah.” Ucap siswi itu.

Yoora tersenyum, berterimakasih dengan sopan, lalu meninggalkan 2 orang siswi itu untuk mencari Chanyeol di ruang bawah tanah sekolah itu. Gadis itu dengan hati-hati menuruni satu persatu anak tangga yang akan membawanya ke ruang bawah tanah. Mungkin karena letaknya yang berada di bawah tanah, semakin gadis itu menuruni tangga, semakin pengap pula udara yang ada.

Sebuah koridor yang terang benderang dengan dua ruangan kelas di masing-masing sisinya kini ada di hadapannya, hawa pengap serta dinginnya udara di sekitar membuatnya semakin tak enak hati.

“Chanyeol Oppa…” panggil Yoora ragu-ragu. Tak ada jawaban. Gadis itu meneguk salivanya sendiri, keringat dinginnya mulai bercucuran.

SRET! BRAK! BRAK! BRAK!

Dalam sekejap mata, ratusan makhluk penghisap darah yang masih sangat tergila-gila dengan bau darah manusia itu keluar dari kelas mereka, mengerubungi gadis itu yang terkejut dan sangat ketakutan.

“Kuperingatkan padamu, Yoora. Jangan sekali pun berpikir untuk pergi ke ruang bawah tanah, karena mungkin, dalam waktu kurang dari satu menit, darahmu akan dihisap habis oleh mereka. Ingat itu, jangan biarkan otak bodohmu melupakannya. Arraseo?”

Mata Yoora membulat sempurna, ia baru teringat akan peringatan Suho yang melarangnya untuk pergi ke ruangan terkutuk ini.

“Aaaaaaaaa!!!” Yoora menjerit sekuat yang ia bisa, berharap siapapun yang mendengarnya mau membangunkannya dari mimpi buruk ini.

“JANGAN DEKATI AKU! PERGI! PERGI!”

Ratusan makhluk penghisap darah dengan wajah yang sangat menyeramkan itu terus mendekat ke arah Yoora, mencari-cari titik lengah gadis itu.

Sret!

“Aakhh!”

Seorang vampire berhasil membuat bahu gadis itu terluka dan darah segar mengalir di tangannya. Kakinya perlahan melemas, menyadari takkan ada seorang pun yang bisa menyelamatkannya dari ruangan terkutuk yang dipenuhi ratusan vampire kelas C yang selalu merasa haus darah itu. Mungkinkah hidupnya akan berakhir dengan setragis ini?

Baekhyun oppa…. tolong aku!!!

 

♥♥♥

Preview Chapter berikutnya….

Hyung! Kau bisa bertahan! Kau harus menatapku agar aku bisa membawamu pergi jauh dari tempat ini!” Kai terlihat frustasi, airmatanya menetes.

“Seharusnya aku tidak membiarkanmu pergi menemui anak sialan itu.” gumam Dio.

Yoora mengangkat kepalanya,

“Ye?”

Yoora kikuk saat lelaki itu dengan wajah tak berdosanya dan tanpa berkata sepatah katapun langsung memandangi bagian dadanya sesaat setelah duduk berhadapan dengannya.

“Lepas seragammu.”

“Apa maksudmu?!”

Ia membentur-benturkan kepala gadis itu ke dinding berulangkali seakan tak peduli dengan semua jeritan menyakitkan yang keluar dari mulut gadis itu.

“Adik-adikku merasakan sesuatu yang lebih menyiksa dari ini setelah bertemu dengan gadis rendahan seperti dirimu! Lihatlah, ini belum seberapa dengan luka yang kau buat di hati mereka!”

Setetes airmata Yoora jatuh begitu saja,

“Sulit rasanya untuk mengatakan ini, tapi aku benar-benar akan pergi. kau tenang saja, aku tidak akan pernah melupakan semua kebaikanmu…”

“Terimakasih, untuk segalanya. Untuk setiap waktu yang pernah kita habiskan bersama, untuk setiap kejadian yang kita lalui bersama. Terimakasih.”

― Sadistic Night : Chapter 6 END ―

Yuhuuu~ Aku kambek!~^^ maaf yaa ngaretnya lama banget, you know lah~ 😀

Ditunggu yaa komentarnya, komentar = support buat aku ngelanjutin FF ini 😀 makasih buat yang udah meninggalkan jejaknya di chapter2 sebelumnya 🙂 lafyuuu :*

Iklan

2 pemikiran pada “[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 6

  1. ihhh makin bingung daaa >.< sebenernya s Yoora Cinta nya ama Chanyeol apa Baekhtun sih/? bikin bingung banget-,- ahhh labil banget sihh lu Yoora-___- ahhh chanyeol so sweet banget ^^ mau dong di gituin ama chanyeol #plak mimpi banget -.- hahaha d.o menyedihkan banget thorr:v hahahaha d next chapter thorr banyakin adegan romantis Yoora ama Sehun nya oke?hehehe semangat yaa thorrr s tunggu next chapternya^^

    Suka

  2. Ping balik: [EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 7 | ANSFanfiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s