[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 7

[Fanfiction] SADISTIC NIGHT

sdstcnght1Previous Chapter

― Sadistic Night : Chapter 7 ―

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Main Cast :

Kim Yoojung as Kim Yoora & Baek Soomin

Byun Baekhyun as Baekhyun Lee

Park Chanyeol as Chanyeol Lee

Oh Sehun as Sehun Lee

Supported Cast :

Kim Joonmyun as Suho Lee || Do Kyungsoo as Dio Lee || Huang Zitao as Tao Lee || Kim Minseok as Xiumin Lee || Kim Jongin as Kai Lee || Kim Jongdae as Chen Lee || Zhang Yixing as Lay Lee || Lee Pace as Pace Lee

Genre : AU, Brothership, Drama, Fantasy, Gore, Little bit comedy(?), Romance, Sad, Vampire

Rated : R

Length : Chaptered/Series

Disclaimer : Semua cast adalah bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya untuk kepentingan cerita. Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari berbagai film dan anime yang bergenre fantasy. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

Aku tidak bisa menolong diriku sendiri yang mencintaimu, walaupun aku tahu bagaimana rasa itu akan membuatku terluka pada akhirnya…

WARNING : DANGEROUS!

♥♥♥

Yoora memandang bingung sebuah kelas kosong tanpa papan nama, mungkinkah kelas itu kelas etika – 5? Tapi jika memang benar, kenapa Chanyeol sama sekali tak menampakkan batang hidungnya?

Chogi…

“Apa kalian melihat Chanyeol Lee?” tanya Yoora sambil menghampiri 2 orang siswi yang sedang mengobrol di ujung koridor.

“Vampire tinggi keturunan keluarga Lee yang duduk di B Class – 2 itu?”

“Ya, apa kalian melihatnya?”

2 orang siswi itu terlihat saling berbisik dan tertawa kecil.

Chogi?

“Ah, aku melihatnya turun ke ruang bawah tanah.” Ucap siswi itu.

Yoora tersenyum, berterimakasih dengan sopan, lalu meninggalkan 2 orang siswi itu untuk mencari Chanyeol di ruang bawah tanah sekolah itu. Gadis itu dengan hati-hati menuruni satu persatu anak tangga yang akan membawanya ke ruang bawah tanah. Mungkin karena letaknya yang berada di bawah tanah, semakin gadis itu menuruni tangga, semakin pengap pula udara yang ada.

Sebuah koridor yang terang benderang dengan dua ruangan kelas di masing-masing sisinya kini ada di hadapannya, hawa pengap serta dinginnya udara di sekitar membuatnya semakin tak enak hati.

“Chanyeol Oppa…” panggil Yoora ragu-ragu. Tak ada jawaban. Gadis itu meneguk salivanya sendiri, keringat dinginnya mulai bercucuran.

SRET! BRAK! BRAK! BRAK!

Dalam sekejap mata, ratusan makhluk penghisap darah yang masih sangat tergila-gila dengan bau darah manusia itu keluar dari kelas mereka, mengerubungi gadis itu yang terkejut dan sangat ketakutan.

“Kuperingatkan padamu, Yoora. Jangan sekali pun berpikir untuk pergi ke ruang bawah tanah, karena mungkin, dalam waktu kurang dari satu menit, darahmu akan dihisap habis oleh mereka. Ingat itu, jangan biarkan otak bodohmu melupakannya. Arraseo?”

Mata Yoora membulat sempurna, ia baru teringat akan peringatan Suho yang melarangnya untuk pergi ke ruangan terkutuk ini.

“Aaaaaaaaa!!!” Yoora menjerit sekuat yang ia bisa, berharap siapapun yang mendengarnya mau membangunkannya dari mimpi buruk ini.

“JANGAN DEKATI AKU! PERGI! PERGI!”

Ratusan makhluk penghisap darah dengan wajah yang sangat menyeramkan itu terus mendekat ke arah Yoora, mencari-cari titik lengah gadis itu.

Sret!

“Aakhh!”

Seorang vampire berhasil membuat bahu gadis itu terluka dan darah segar mengalir di tangannya. Kakinya perlahan melemas, menyadari takkan ada seorang pun yang bisa menyelamatkannya dari ruangan terkutuk yang dipenuhi ratusan vampire kelas C yang selalu merasa haus darah itu. Mungkinkah hidupnya akan berakhir dengan setragis ini?

Baekhyun oppa…. tolong aku!!!

BRUK! BRUK!

“Ah! Shit! Menjauhlah makhluk sialan!” ucap Kai setelah menendang kasar beberapa vampire itu. Lelaki itu tiba-tiba saja muncul di samping Yoora bersama Baekhyun, ya, Baekhyun, lelaki yang seharusnya masih berbaring di atas tempat tidurnya itu kini tiba-tiba muncul untuk menyelamatkan gadis itu.

Oppa…

“Tetap di belakang kami! Tutupi lukamu!”

Baekhyun dan Kai terus berusaha menyingkirkan satu persatu vampire kelas C yang mengerubungi mereka. Kekerasan adalah jalan satu-satunya bagi mereka. Mereka menendang, menghajar, dan mematahkan tulang-tulang para vampire itu.

KREK!

“Yak! Kau pikir siapa dirimu sampai berani-beraninya menghisap darahku!” dengan menahan rasa sakitnya, Kai mencoba melepaskan gigitan seorang vampire di punggungnya. Sementara itu, Baekhyun mulai kewalahan menghadapi ratusan vampire haus darah yang ada di hadapannya. Kondisinya yang belum sembuh sepenuhnya membuatnya sedikit lengah hingga……

SRET! KREK!

“Baekhyun Oppa!

Hyung!

Kejut Kai dan Yoora hampir bersamaan setelah melihat beberapa vampire kelas C berhasil menggigit dan melukai Baekhyun. Adiknya itu sebenarnya tak bisa membiarkan Baekhyun terus diserang, tapi dia sendiri pun tak bisa melepaskan dirinya dari hadangan para vampire yang menghalanginya.

“Akan ku buat kalian menyesal telah melukai kakakku!”

KREK!

Bunyi beberapa tulang leher yang patah karena dipelintir terdengar mengisi ruangan itu. Kai yang sudah tak tahan melihat Baekhyun yang terluka parah, tak bisa lagi menahan emosinya. Lelaki itu terus memelintir satu persatu kepala vampire kelas C hingga putus dan berjatuhan ke lantai. Yoora yang melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri bergemetar hebat, cipratan darah mengalir di wajahnya.

Kai menarik tangan Yoora, menghampiri Baekhyun yang terkapar bersimbah darah tak berdaya. Hanya ada segelintir vampire kelas C yang tersisa, karena sebagian besar sudah menjadi mayat tak berkepala.

“Tatap aku! Hyung! Tatap aku!” ucap Kai, lelaki itu terus memperhatikan vampire kelas C yang masih berusaha mendekati mereka.

Hyung! Kau bisa bertahan! Kau harus menatapku agar aku bisa membawamu pergi jauh dari tempat ini!” Kai terlihat frustasi, airmatanya menetes. Yoora terus menatap Kai dengan mata berair, membantu lelaki itu agar lelaki itu dapat menggunakan kekuatan teleportasinya.

Baekhyun terlihat berusaha untuk membuka matanya, perlahan, lelaki itu menatap mata hijau adiknya. Dalam sekejap, mereka bertiga sudah berada di kamar Baekhyun.

“Kau, ku percayakan Baekhyun Hyung padamu. Jaga dia. Aku akan pergi memberitahu yang lainnya.”

Kai seketika menghilang, meninggalkan Yoora bersama Baekhyun yang sekarat.

Oppa, jangan banyak bicara dulu, arra? Kau pasti kuat, aku percaya itu.” Yoora memeluk tubuh Baekhyun yang tak berdaya dan dipenuhi luka, memberikan kehangatan bagi lelaki yang rela terluka demi menyelamatkannya itu.

“Yoora…” panggil Baekhyun lirih.

“Aku…. tidak akan mati… kau tidak perlu…. mengkhawatirkanku.” Lanjut lelaki itu dengan susah payah.

Ne,” Yoora berusaha tersenyum, airmatanya terus menetes.

“Kau tidak akan mati.”

Yoora melepas pelukannya, bergegas mengambil handuk kecil dan air hangat untuk membersihkan luka Baekhyun. Meski dirinya bukanlah gadis yang pintar, ia selalu bisa merawat orang sakit dengan baik.

Ia membuka satu persatu kancing piyama yang lelaki itu kenakan, melepasnya, dan membiarkan lelaki itu bertelanjang dada di depannya. Luka benar-benar memenuhi tubuh lelaki itu. luka bekas gigitan, luka memar, luka tersayat dan masih banyak lagi luka lainnya. Yoora membasuh luka di tubuh Baekhyun dengan hati-hati dan mengelapnya. Seharusnya, Baekhyun mendapatkan perawatan yang lebih dari ini.

Oppa?

Baekhyun tak menyahut.

Oppa?

Lagi-lagi, lelaki itu tak memberikan responnya. Mata lelaki itu terpejam.

“Kenapa kau selalu menyelamatkanku?” Yoora menunduk.

“Menyingkirlah!” Xiumin yang baru saja datang bersama ke – 8 saudaranya itu mendorong kasar tubuh Yoora dan langsung memeriksa keadaan Baekhyun yang sudah tak sadarkan diri.

“Bagaimana ini bisa terjadi?!” Suho murka.

“Bawa keluar gadis itu! aku tidak ingin melihatnya!” lanjut Xiumin sebelum mengambil tindakan lebih lanjut untuk Baekhyun.

Yoora terdiam, kata-kata Xiumin terdengar begitu menyakitkan.

“Apa kalian tidak mendengarku?! Kalian ingin aku yang menyeretnya keluar?!”

Kajja!” Sehun menarik paksa Yoora keluar dari kamar itu.

Chanyeol berdiri mematung, melihat Baekhyun terluka parah, cipratan darah yang ada di wajah Yoora, Kai yang datang tiba-tiba membawa kabar buruk. Semuanya, adalah kesalahannya.

Pabboya… Chanyeol.

♥♥♥

“Apa kau gila, huh?!” Sehun melonggarkan dasi yang masih dipakainya. Merasa sesak.

“Selama ini, kami, para vampire saja tidak pernah diperbolehkan untuk memasuki wilayah vampire kelas C! Kau? Kau itu gadis manusia! Jika kau melangkah ke sana sedikit saja, kau sama saja dengan bunuh diri! Kau tahu itu?!” volume suaranya meninggi.

Mata Yoora berair, mengeluarkan kristal bening yang jatuh membasahi pipinya.

Mian… jeongmal mianhae…

“Ekhm…” lelaki itu menyentuh lehernya sendiri.

“Obati lukamu, jangan sampai bau darah itu menggodaku.”

Sehun berlalu, meninggalkan Yoora yang masih terseguk-seguk di tempatnya berdiri.

Dio keluar dari kamar Baekhyun dan menghampiri Yoora yang masih menangis tertunduk, langkah kakinya berhenti tepat di hadapan gadis itu. Melihat gadis yang kau cintai menangis di hadapanmu, sungguh menyakitkan bukan? Kau seperti ingin menghapus airmatanya, tapi tak punya kekutan untuk melakukan itu. Bodoh bukan?

“Dio-ya…”

“Wae?”

“Bisa kau sampaikan sesuatu pada Yoora?”

“Apa?”

“Temui aku di koridor di dekat kelas etika 5, aku akan menunggunya. Ku serahkan padamu. Gomawoyo, Dio-ya.”

“Seharusnya aku tidak membiarkanmu pergi menemui anak sialan itu.” gumam Dio.

Yoora mengangkat kepalanya,

“Ye?”

“Lukamu harus diobati.”

Anak ke-7 keluarga Lee itu menarik tangan Yoora, membuat gadis yang ditariknya itu terpaksa mengikuti di belakangnya. Setelah menuruni 2 lantai, mereka akhirnya sampai di sebuah kamar yang terletak di lantai 2 rumah itu.

Waeyo?” tanya Dio saat menyadari tingkah gadis itu yang terasa sedikit mengganggu.

“Kenapa tidak ada sesuatu yang bisa ku lihat di kamarmu, Oppa?

“Cih… Apa yang kau bicarakan? Duduklah, akan ku carikan dulu kotak obat persediaanku.”

Yoora duduk di ranjang Dio sambil terus memperhatikan lelaki itu yang sepertinya sibuk mencari kotak obatnya.

“Padahal aku menyimpannya di sini…”

Dio memandang ke arah Yoora, pandangan mereka bertemu. Untuk sesaat, dua insan itu berada dalam keheningan. Yoora bisa merasakan betapa dinginnya tatapan Dio, air laut dalam lensa mata lelaki itu seperti terus membeku.

“Aku…”

“Ye?” Yoora terperangah.

“Aku akan mengambil air untuk membasuh dan membersihkan lukamu… wajahmu juga.”

“Ah? Ne.

Lelaki itu beranjak dari tempatnya, melangkah ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, yang secara tidak langsung menyuruh gadis cantik itu untuk menunggunya dengan tenang. Tak lama Yoora menunggu, Dio keluar dari kamar mandinya dengan membawa wadah air yang beruap di tangan kanannya dan sapu tangan polos berwarna biru dongker di tangan kirinya.

Yoora kikuk saat lelaki itu dengan wajah tak berdosanya dan tanpa berkata sepatah katapun langsung memandangi bagian dadanya sesaat setelah duduk berhadapan dengannya.

“Lepas seragammu.”

“Apa maksudmu?!” kejut gadis itu spontan sembari menutupi dadanya, sementara Dio hanya membalas reaksi itu dengan tatapan aneh.

“Kau ingin aku yang melepaskannya?”

Yoora melotot horror,

“Ap-apa… yang akan kau lakukan?”

“Yang pasti tidak seperti yang ada di dalam pikiranmu.” Jawab Dio sambil memeras sapu tangan yang sudah dibasahi terlebih dahulu itu.

Ragu-ragu, Yoora membuka atasan seragamnya, menyisakan singlet tipis berwarna putih yang melekat di badannya. Luka seperti bekas sayatan yang terbuka di bahunya terlihat begitu jelas oleh mata dingin Dio.

“Ahhh! Oppa! Itu benar-benar air panas?!” rintih Yoora yang merasa perih sekaligus panas saat tangan Dio mulai bergerak menyentuh lukanya dengan sapu tangan basah.

W-wae? waeyo?

“Ku rasa air ini hangat, bukan panas.” Dio memasukkan tangannya ke wadah berisi air yang terlihat terus mengeluarkan uap itu.

Yoora menepuk jidatnya sendiri,

Ne, oppa benar. Tentu saja air itu terasa hangat…” kulit tanganmu kan dingin!

“Kalau begitu diam dan tahanlah, aku ingin cepat-cepat menyelesaikannya.”

Dio mulai mengobati luka di bahu Yoora dengan lembut agar gadis itu tidak terlalu merasa kesakitan. Tapi tetap saja, sebagaimanapun Yoora berusaha untuk tak merintih, rasanya tetap perih dan airnya tetap saja terasa panas di kulitnya.

Perlahan, Dio melepas dasi yang di pakainya. Yoora tak berkata apapun saat tangan dingin lelaki itu mulai mengikatkan dasi tersebut di bahunya sebagai ganti perban untuk membalut lukanya. Tak lupa, lelaki itu juga membersihkan wajah Yoora yang terkena cipratan darah vampire kelas C. Dio menatap mata Yoora yang juga menatapnya sedaritadi. Mereka tak berkata-kata lagi, hanya saling menatap untuk beberapa saat.

Gomawo… Oppa.

Lelaki itu tak membalas ucapan terimakasih Yoora, tatapannya berubah sendu. Perlahan tapi pasti, bibir Dio mengecup lembut bibir gadis yang ada di depannya itu. Kedua mata mereka terpejam, terhanyut dalam tautan lembut bibir mereka. Sebulir cairan bening berhasil lolos dari pelupuk mata Dio sesaat setelah ia melepaskan ciuman sesaatnya itu.

“Eoh? Oppa… kau menangis?” tanya Yoora sembari menyentuh pipi Dio, tapi lelaki itu dengan kasar menepisnya.

“Ada apa denganmu?”

“Pergi…”

“Ye?”

“PERGILAH!” bentak Dio dengan suara keras yang berhasil membuat Yoora menatapnya tak percaya.

“Aku tidak mengerti, kenapa lelaki di keluarga ini selalu bisa merubah sikap mereka hanya dalam sekejap mata? Aku benar-benar tidak mengerti…”

DREP!

“Ahhh! Sakit, Oppa! Lepaskan! Sakit!” rintih Yoora saat tangan Dio menggenggam tangannya begitu kuat. Lelaki itu menarik kasar tangan Yoora, membawa Yoora untuk keluar dari kamarnya.

BRUK!

Dio mendorong tubuh kecil gadis itu hingga terjatuh didepan kamarnya.

“Aku sudah menyuruhmu untuk pergi, kau sendiri yang memaksaku untuk menyeretmu keluar.”

BRAK!

Lelaki itu membanting pintu kamarnya, membuat Yoora terkejut dan menitikkan airmata. Dalam hatinya, ia benar-benar tak percaya bahwa lelaki dingin itu akan kembali bersikap kasar dan melukai hatinya seperti saat ini. Di tengah isak tangisnya, ia mendengar suara derapan sepatu yang mendekat ke arahnya. Belum sempat ia mendongakkan kepala, sebuah tangan kekar berhasil menjambak rambutnya yang secara tidak langsung memaksanya untuk mendongak.

“Hhh… hhh… Xi..xiumin… Oppa.

“Ssstt!” telunjuk lelaki itu menempel di bibirnya.

“Kau tidak perlu takut, aku bukan monster yang menakutkan, bukan?” lelaki itu menyeringai memperlihatkan taring tajamnya.

♥♥♥

“Aaaaaaaaaargh!”

Dio jatuh terduduk di balik pintu kamarnya. Airmata terus membasahi pipinya. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Kenapa tak kau bawa kutukan ini bersama dengan kematianmu?!”

―flashback―

Dengan berlatarkan sebuah desa kecil di korea selatan tahun 1909, suara pukulan benda tumpul yang mengenai tubuh lelaki berumur 19 tahun itu terdengar begitu jelas bersamaan dengan kata-kata kasar dari mulut seorang pria paruh baya yang setengah mabuk di hadapannya.

“Apa kau bilang?! Cinta?”

BUGH!

Sebuah balok kayu berhasil membuat kepala lelaki itu berdarah. Tapi lelaki itu sama sekali tak melawan ataupun terlihat kesakitan, dengan wajah babak belurnya, lelaki itu tetap membungkam mulutnya tanpa ekspresi.

“Bocah tengik sepertimu bisa merasakan cinta?! Tidak mungkin!”

BUGH!

Pria paruh baya itu menendang lelaki muda didepannya hingga jatuh tersungkur.

“Bangun! Cepat bangun anak sialan!”

“Anak yang tidak pernah berbakti pada ayahnya yang sudah membiarkannya hidup di dunia tidak akan pernah merasakan apa itu cinta! Anak kurang ajar sepertimu tidak akan pernah bisa merasakannya! Tidak akan mungkin ada gadis yang terpikat dengan bocah pembawa sial sepertimu! Ku jamin itu!”

“Argh! Kenapa aku harus membiarkanmu hidup kalau akhirnya hanya membawaku pada kesengsaraan? Seharusnya sudah sejak dulu tak kubiarkan kau terlahir ke dunia ini!”

….

Seorang wanita tua terlihat berlari tergesa-gesa dengan susah payah. Sesampainya ia di sebuah rumah yang ditujunya, ia melangkah masuk dan mendapati lelaki muda dengan darah kering di kepalanya itu tengah duduk dengan pandangan kosong.

“Dokyung-ah! Ayahmu! Ayahmu!”

Lelaki itu tetap diam.

“Ayahmu di temukan meninggal di tumpukan sampah di pasar!” ucap wanita tua itu.

Awalnya, lelaki muda yang dipanggil Dokyung oleh wanita tua itu tak menunjukkan reaksi apapun, tapi kemudian, lelaki itu perlahan tersenyum dan tertawa kecil. Wanita tua yang terus memperhatikan lelaki itu pun sampai memandangnya prihatin.

“Biarkan saja… biarkan lalat-lalat di sana mengerubungi mayatnya… dia memang pantas mati, dia pantas mendapatkannya.”

“Dokyung-ah… tapi dia tetap ayahmu.”

“Ayah? Seorang lelaki tua yang selalu berjudi, mabuk-mabukan, dan memukuli anaknya sendiri sebagai pelampiasan amarahnya, apakah pantas di sebut ayah?” ucap lelaki itu dengan senyuman paksa di bibirnya.

“Aku mengerti…”

“Tidak ada yang dapat kau mengerti! Jangan pura-pura mengerti ketika kau sama sekali tidak mengerti!” bentak lelaki itu.

“Tidak akan ada yang bisa mengerti perasaanku! Tidak akan ada!”

―flashback End―

Dio mengeluarkan sebuah dasi kupu-kupu dari saku celananya dan menatapnya dengan mata berair.

“Seharusnya kau tidak pernah datang dan mencoba masuk ke dalam hatiku, Yoora-ya….

♥♥♥

BRUK!

Yoora jatuh tersungkur di pojok kamar Xiumin, kepalanya bahkan sempat membentur dinding hingga berdarah. Anak tertua di keluarga Lee itu sama sekali tak memberikannya kesempatan untuk melarikan diri.

“Sudah kuduga kejadian seperti ini pasti akan terjadi. Kejadian ketika seorang lelaki dari bangsa vampire mencoba melanggar hukum alam dengan mencintai seorang gadis manusia, aku sudah memperkirakan hal ini sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Dan lihat sekarang, kaulah gadis manusia yang dicintai oleh adik-adikku, kaulah gadis manusia yang berhasil membuat mereka gila karena terjebak tipu muslihat dari cinta yang kau berikan!”

PLAK! PLAK!

Tamparan keras dari tangan kekar Xiumin lagi-lagi mendarat di pipi gadis itu, membuat darah segar keluar dari sudut bibirnya.

Oppa! Sudah cukup! Hentikan! Jangan menyiksaku lagi!” pinta Yoora dengan airmata yang mengalir di pipinya yang penuh memar biru keunguan.

Xiumin menarik kerah Yoora, membuat gadis itu otomatis berdiri dan terpojokkan ke dinding.

“Kau masih belum mengerti juga?”

“Aaahhhh…. ahhh… sakit, oppa!” jerit Yoora yang kesakitan saat tangan dingin Xiumin berusaha meremukkan tulang panggulnya.

“Sakit?” tanya Xiumin dengan tatapan tak percaya.

KRETEK!

“Ahhhhhh! Hen…tikan, Oppa! Jehbalhh…

Airmata lelaki itu menetes. Tangan kekarnya beralih menjambak rambut panjang Yoora, rasanya seperti semua helai rambut yang ada di kepalamu ingin dia cabut sekaligus. Xiumin membentur-benturkan kepala gadis itu ke dinding berulangkali seakan tak peduli dengan semua jeritan menyakitkan yang keluar dari mulut gadis itu.

“Adik-adikku merasakan sesuatu yang lebih menyiksa dari ini setelah bertemu dengan gadis rendahan seperti dirimu! Lihatlah, ini belum seberapa dengan luka yang kau buat di hati mereka!”

Yoora sudah tak mampu lagi untuk berteriak, jangankan untuk itu, untuk membalas perkataan Xiumin dengan lirih saja ia tidak bisa. Wajah gadis itu sudah lebih dari kata pucat, seperti hampir mati. Darah terus mengalir dari kepalanya yang terluka, kakinya sudah tak bisa lagi memijak lantai dengan benar karena mengalami patah tulang di tulang panggul bagian kirinya.

BRUK!

Yoora jatuh terkulai begitu saja di lantai saat tangan Xiumin melepaskannya. Gelap dan hening, Yoora tak bersuara, terlelap dalam kesakitan yang begitu menyiksa. Xiumin sejenak memandang gadis yang tubuhnya sudah dipenuhi luka akibat siksaannya itu. Ia mengangkat tubuh tak berdaya gadis itu dan menidurkannya di atas ranjangnya.

“Selamat tidur, Kim Yoora…”

♥♥♥

“Jelaskan padaku, kenapa semua ini bisa terjadi?!” Suho benar-benar murka, lensa mata merahnya terus menyala.

Saat ini, ke-9 lelaki itu tengah berkumpul di ruang tamu rumah mereka tanpa kehadiran Baekhyun tentunya. Chanyeol, Kai, Sehun, Tao dan Dio terlihat menundukkan kepalanya, sementara Chen memeluk bonekanya erat karena takut akan amarah Suho. Saat sang leader mencapai titik puncak kemurkaannya, ia akan lupa diri dan melampiaskan amarahnya pada siapapun tanpa pandang bulu. Bagi Suho, tidak ada lagi kata sabar yang akan menghalanginya mengambil tindakan.

“Yak, bocah brengsek! Apa kalian tidak punya mulut untuk menjawab pertanyaan Suho, huh?!” Xiumin menampar pipi adiknya satu persatu.

Lay melipat tangannya di dada,

“Baekhyun terluka parah! Sebagian besar vampire kelas C di sekolah kita sudah menjadi mayat tak berkepala! Apa sebenarnya yang kalian lakukan selama ini, brengsek?!” suara Lay kini setara dengan orang yang berteriak.

PRANG! PRANG! PRANG!

Suara pecahan kaca tersebut terdengar 6 kali berturut-turut seiring dengan kepala ke-6 lelaki yang mengeluarkan darah karena terkena lemparan botol kaca yang dilempar Suho. ke-6 lelaki itu tak lain adalah Chen, Chanyeol, Dio, Tao, Kai, dan Sehun. Darah segar berwarna merah kehitaman mengalir membasahi wajah mereka.

“Kalian masih enggan membuka mulut?”

Hyung…

“Ternyata yang mempunyai mulut di antara kalian hanyalah Dio…” Xiumin menepuk bahu Dio dan mencengkeramnya,

“Jelaskan pada kami semua…”

Dio melirik ke arah Chanyeol, tapi Chanyeol tetap menunduk seperti tak berani mengakui segalanya.

“Chanyeol menyuruhku untuk menyampaikan pada Yoora bahwa dirinya ingin menemui gadis itu di dekat kelas etika 5. Aku sudah melakukan apa yang ia inginkan, sudah kusampaikan pesan itu langsung pada Yoora. Mungkin, jika Chanyeol benar-benar menemui gadis itu, gadis itu tidak akan pernah pergi ke ruang bawah tanah.” jelas Dio. Chanyeol menelan ludahnya sendiri.

“Dan juga, Hyung…” Kai ikut angkat bicara.

“Saat Baekhyun Hyung siuman untuk pertama kalinya, aku berada di dekatnya. Dia memintaku untuk membawanya ke ruang bawah tanah dengan kekuatan teleportasiku. Saat aku bertanya kenapa, dia menjawab kalau Yoora sedang dalam bahaya, kalau ada seseorang yang berniat mencelakai gadis itu dengan menyuruh gadis itu pergi ke ruang bawah tanah. Dan aku menyadari satu hal dari kekhawatirannya itu…”

“Aku tidak akan bisa melanjutkan hidupku kalau harus kehilangannya untuk kedua kalinya, aku tidak akan membiarkan kematian merenggutnya lagi dari sisiku!”

“Yoora… pernah menjadi bagian dari hidup Baekhyun Hyung.” Ucap Kai mengakhiri penjelasannya.

Sehun, Dio, dan Chanyeol seketika memandang Kai, terkejut dengan kalimat terakhir yang dikatakan saudara mereka itu. Yoora? pernah menjadi bagian dari hidup Baekhyun?

Suho berjalan cepat menghampiri Chanyeol dan menarik kerah adiknya itu, memaksa adiknya itu untuk berdiri dari posisinya.

PLAK!

Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi Chanyeol.

“Kau tahu kesalahanmu?” tanya Suho pada Chanyeol.

Ne, aku memang salah, Hyung.

BUGH!

Suho menendang perut Chanyeol hingga lelaki itu terjatuh dan merintih kesakitan.

“KALAU KAU TAHU AKAN KESALAHANMU, LALU KENAPA KAU HANYA DIAM SEDARITADI DAN TAK MAU MEMBUKA MULUTMU, HUH?!!”

Mianhae, Hyung! Jeongmal mianhae!

“ARGH!”

“Hentikan, Suho-ya.” Untung saja, suara itu lebih dulu terdengar oleh telinga Suho dan berhasil menghentikan gerak kaki Suho, jika tidak, mungkin saat ini lelaki itu akan terus menginjak-injak tubuh Chanyeol hingga puas.

Jhweoseonghaeyo, Ayah. Seharusnya kami tidak membuat keributan dan mengganggu ketenangan istirahatmu.” Ucap Suho sembari berlutut tunduk di depan lelaki yang menghentikannya, ya, Pace, ayahnya.

“Ayah, kumohon maafkan aku.” Chanyeol terisak.

“Kau bersikap terlalu kasar pada adik-adikmu, Suho-ya. Lihatlah, wajah mereka yang tampan ini akhirnya harus ternodai oleh darah yang mengalir dari kepala mereka.”

Jhweoseonghaeyo, aku mengaku salah.”

“Kau tidak salah, Suho-ya. Anak ini memang harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah diperbuatnya.” Pace mengelus pipi Chanyeol.

“Lupakan kematian para vampire kelas C, Kai dan Baekhyun hanya berusaha menyelamatkan Yoora. Dan biarkan Chanyeol menerima hukuman atas apa yang terjadi pada Baekhyun dan Yoora setidaknya sampai Baekhyun kembali sadar dari komanya.”

“Baik, aku mengerti, Ayah.” Ucap Suho.

♥♥♥

Yoora membuka kedua matanya perlahan, rasa sakit masih sangat terasa di bagian kepala dan tulang panggulnya. Tak lama setelah itu, Yoora menyadari dirinya tengah berbaring di ranjang Xiumin dengan selimut tebal yang menghangatkan tubuhnya.

“Ah!” gadis itu merintih saat mencoba bangun dari posisi tidurnya, rasa sakit seakan menjalar ke seluruh tubuhnya. Seperti tak peduli dengan rasa sakitnya, Yoora memaksakan diri untuk bangun dan melangkah keluar dari kamar Xiumin. Susah payah ia berjalan sambil memegangi dinding, membuat luka di dahinya kembali basah dan berdarah.

Gadis itu menyipitkan matanya saat pandangannya yang buram melihat seorang lelaki sedang berdiri menatap keluar jendela dengan darah yang mengalir di wajah putih pucatnya. Seberkas sinar matahari dari kaca jendela itu akhirnya menyinari wajah lelaki itu.

“Dio… Oppa?

Lelaki itu memalingkan wajahnya ke arah Yoora, benar saja, lelaki itu adalah Dio.

“A-apa yang terjadi? Kenapa…. darah….”

“Seharusnya aku yang bertanya padamu.” Dio memotong pertanyaan Yoora. Mata dinginnya memandangi luka-luka lebam yang ada di wajah, leher, tangan, hingga kaki gadis itu.

“Siapa yang…”

“Ahhh!” Tubuh Yoora ambruk, untunglah sepasang tangan dingin Dio berhasil menahannya. Posisi mereka kini sudah seperti dua orang yang berpelukan. Yoora menatap mata Dio, mata dingin bak air laut yang membeku itu selalu saja terlihat sendu di mata Yoora.

“Kau benar-benar akan mati jika terus berada di sini.”

Untuk sesaat, Yoora terdiam. Mati? Benar, tentu saja. Keluarga vampire ini memang akan membuatnya mati, mungkin, secara perlahan-lahan. Mati? Apa ayahnya mengirimnya ke keluarga ini hanya untuk membuatnya mati?

“Lalu, aku harus bagaimana?”

“Pergilah…”

“Ye?”

Dio menghembuskan nafasnya berat,

“Pergilah… kau harus pergi selagi kau bisa. Pergilah… sebelum kau benar-benar mati di tangan kami.”

Oppa…

Dio mengeluarkan sesuatu dari kantong jas bagian dalamnya sambil terus memegangi tubuh Yoora. Sebuah pisau yang berbentuk menyerupai salib yang terbuat dari perak itu terlihat begitu mengkilat dan sangat tajam. Lelaki itu memberikan pisau perak yang digenggamnya pada Yoora, sedangkan Yoora terus menatap mata Dio dengan tatapan bingung seolah bertanya ‘untuk apa kau memberikannya padaku?’.

“Bawalah ini bersamamu. Dengan ini, kau bisa membunuh vampire seperti kami. Kau cukup menusukkan pisau ini tepat ke jantungnya, maka seketika vampire itu akan musnah.”

“Pergilah, kembalilah ke hidupmu yang sebelumnya. Anggap saja kami tidak pernah ada di hidupmu, anggap saja semua yang pernah kau lalui bersama kami tidak pernah terjadi sama sekali. Pergilah, Yoora…”

Ne?” airmata Yoora menetes.

Kembali? Ke kehidupan sebelumnya? Menganggap mereka tidak pernah ada? Menganggap semuanya tidak pernah terjadi? Kenapa ia bisa-bisanya merasa sedih saat kesempatannya untuk pergi dari jeratan vampire keluarga Lee justru terbuka lebar?

♥♥♥

“Pergilah, kembalilah ke hidupmu yang sebelumnya. Anggap saja kami tidak pernah ada di hidupmu, anggap saja semua yang pernah kau lalui bersama kami tidak pernah terjadi sama sekali. Pergilah, Yoora…”

“Ternyata selama ini aku tidak pernah berada dalam alam mimpi… semua ini, semua yang pernah ku lalui bersama mereka, benar-benar terjadi dalam kehidupanku.”

“Kau tidak akan menjawabnya?”

“Ye?”

“Pertanyaanku, yang tadi…”

“Anggap saja ini, sebagai tawaran kencan…”

…..

“Eotte?”

Dengan seorang vampire tampan yang selalu menolongnya, Baekhyun.

“Di antara mereka, kenapa aku?”

“Aku mencintaimu. Cintaku ku jatuhkan padamu. Bukankah itu sudah cukup?”

“Kau benar. Dengan kau mencintaiku saja, itu sudah cukup untukku.”,

“Terimakasih karena telah memilihku. Aku mencintaimu.”

Dengan seorang vampire yang berhasil memikat hatinya, Chanyeol.

“Ini! pakai ini!”

“Ini?”

“Sekali lagi kau bertanya, aku yang akan memakaikannya ke tubuhmu.”

“Ah? Ne, ne, baiklah. Tidak bisakah kau membalikkan tubuhmu dulu? Aku tidak biasa mengganti pakaian di hadapan lelaki.”

“Yoora….”

“Arraseo! Arraseo!”

Dengan seorang vampire menyebalkan, Sehun.

“Kau harus mengikuti kelas etika.”

“Apa kelas etika juga berlaku untuk kekasihmu eoh?”

“Tentu saja itu berlaku, kau membolos pelajaran dan malah berduaan dengan Chen. Kau pikir aku tidak tahu, hm?”

“Aiii, jadi Oppa menyuruhku ke kelas etika karena cemburu? Benar begitu?”

KRETEK!

“Oppa! Sakit!”

“Sakit?”

“Tentu saja!”

CHU!

“Itu hukuman awal untukmu karena sudah macam-macam dengan lelaki lain ketika aku tidak ada. Kalau kau tidak mau mendapat hukuman, jangan macam-macam, arra?”

“N-ne. Arraseo.”

Dengan seorang vampire kelas A yang pernah menjadi kekasihnya, Suho.

“Kenapa kita tidak ke kantin saja?”

“Terlalu banyak orang di sana, aku juga tidak akan bisa memasak apapun untukmu jika di dapur kantin.”

“Duduklah, jika kau terus berdiri seperti itu, itu hanya akan membuatku risih!”

….

“Cepatlah makan! Selagi kau makan, aku akan membereskan dapur yang berantakan ini.”

“Kau tidak akan ikut makan bersamaku?”

“Jangan bodoh, aku membuatnya untukmu.”

Dengan seorang vampire dingin yang diam-diam menyimpan perhatian padanya, Dio.

“Mereka nyata, mereka ada, mereka selalu ada untukku…”

“Yoora! bisa kau dengar aku? Jawab aku!”

“Katakan sesuatu agar diriku bisa sedikit tenang!”

“B-Baek…hyun-ssi.”

“Mian… mianhae… jeongmal mianhae, Yoora. Aku seharusnya bisa lebih menjagamu. Mian.”

“Mianhae… untuk meninggalkanmu sendirian, untuk tidak pernah mengkhawatirkanmu, untuk membawamu ke dalam kesulitan seperti ini. Jeongmal mianhae.”

Baekhyun…

“Mungkin karena aku tidak bisa menggodamu lagi jika keadaanmu se-mengkhawatirkan ini.”

“Huh… padahal, menggoda gadis sepertimu itu sangat mengasyikan untukku. Semacam hiburan utama, atau apalah itu.”

“Yoora-ya… kau tenang saja, ‘Oppa’ akan menggodamu lagi jika kau sudah baikan. Hahaha.”

“Melihatmu tak berdaya seperti ini agak sedikit membuatku kecewa. Entah kenapa.”

Sehun…

“Apa kau sudah merasa baikan?”

“Aku sudah merasa lebih baik, hanya saja, ketakutan itu masih menghantuiku, Oppa.”

“Gwenchana, tidak usah dipikirkan lagi. Chanyeol mungkin akan segera meminta maaf padamu nanti.”

“Eh? Sejak kapan kau mulai memanggil kami ‘Oppa’?”

“Semalam, Kai Oppa dan Sehun Oppa yang menyuruhku.”

“Ah, baguslah. Lagipula kami memang sudah sepantasnya mendengar panggilan itu darimu.”

“Cha, buatlah dirimu senyaman mungkin berada di keluarga ini. Teruslah berusaha untuk memahami keluarga kami, apalagi sekarang kau sudah tahu kalau kami bukan manusia. Jangan merasa lelah untuk menghadapi sikap kami yang mungkin akan berubah sewaktu-waktu. Kau harus bisa bertahan, arraseo?”

Lay…

“Ahhh! Oppa! Itu benar-benar air panas?!”

“W-wae? waeyo?”

“Ku rasa air ini hangat, bukan panas.”

“Ne, oppa benar. Tentu saja air itu terasa hangat…”

“Kalau begitu diam dan tahanlah, aku ingin cepat-cepat menyelesaikannya.”

….

“Gomawo… Oppa.”

Dio…

“Bagaimana bisa aku melupakan semua itu?” Yoora memandang sebuah koper yang sudah ia persiapkan, dalam hatinya terbesit keraguan yang mendalam. Apa ia harus benar-benar pergi dan melupakan mereka atau tetap tinggal dan melanjutkan hidupnya bersama mereka yang bisa saja membunuhnya kapanpun mereka mau?

Gadis itu berdiri dari duduknya dan keluar dari kamarnya, memaksakan diri untuk berjalan ke kamar seseorang yang terletak di lantai 4 rumah keluarga Lee. Dengan ragu, Yoora memutar knop pintu dan masuk ke dalam kamar lelaki yang ditujunya. Baekhyun. Ya, rasanya aneh saja kalau kau tidak mengucapkan salam perpisahan apapun pada orang yang selalu menjadi penyelamat hidupmu. Benar, Yoora datang ke kamar Baekhyun hanya untuk mengucapkan salam perpisahan pada lelaki yang masih terbaring dalam keadaan koma di atas ranjangnya itu.

Oppa…” Yoora memulai kata-katanya.

“Ini aku, Yoora, Kim Yoora. aku datang untuk pamit padamu, aku akan pergi, aku tidak akan tinggal di rumah ini lagi. aku sudah memutuskan untuk kembali, kembali pada ayahku, kembali ke kehidupanku sebelumnya. Sulit rasanya untuk mengatakan ini, tapi aku benar-benar akan pergi. kau tenang saja, aku tidak akan pernah melupakan semua kebaikanmu…” setetes airmata Yoora jatuh begitu saja.

“Terimakasih, untuk segalanya. Untuk setiap waktu yang pernah kita habiskan bersama, untuk setiap kejadian yang kita lalui bersama. Terimakasih.”

Yoora tersenyum dalam tangisnya,

“Karena tidak menjawab tawaran kencanmu waktu itu, mianhae. Karena pernah menyimpan kekecewaan tak beralasan padamu, mianhae. Karena membuatmu dalam keadaan sulit seperti ini, mianhae. Jeongmal mianhae.

Oppa… jika saja kau bisa membaca pikiranku, jika saja kau bisa mendengar kata hatiku, kau pasti akan tahu betapa bersyukurnya aku bertemu dengan lelaki sepertimu. Aku bahagia, hanya berdiri tepat di belakangmu dan memandangi punggungmu saja, itu sudah cukup membuatku bahagia. Entah kenapa, aku sendiri tidak mengerti.”

Yoora merapatkan kedua tangannya dan berdoa,

“Tuhan, jaga dia, rawatlah dia, sadarkanlah dia dari tidur berkepanjangannya. Buat dia bahagia, Tuhan. Buat dia bahagia seperti dia yang pernah membuatku bahagia, jangan biarkan dia berubah menjadi monster berdarah dingin yang menakutkan lagi. kuserahkan semuanya padamu, Tuhan. Amen.” Doanya pada Tuhan, membuat sesuatu yang ada di balik dress bagian dada kanannya bersinar seketika.

“Aaahh!” lagi-lagi dirinya merasa kesulitan untuk berdiri. Ia berusaha sekuat tenaga untuk berjalan ke arah pintu dengan memegang dinding-dinding kamar Baekhyun.

BRUK!

“Ah! Sakit!” Gadis itu jatuh terduduk di lantai bersamaan dengan jatuhnya sebuah pigura kayu yang tertutupi kain hitam yang tak sengaja ia jatuhkan ketika tangannya menyentuh pigura yang tertempel di dinding itu.

Mata Yoora tertuju pada pigura yang masih tertutupi kain hitam tersebut, rasa penasaran akhirnya menuntun tangannya untuk menyingkirkan kain yang menutupi pigura itu.

DEG!

Jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga, saat ia mendapati bahwa lukisan yang terpajang di pigura itu memperlihatkan potret seorang gadis yang berwajah mirip dengannya. Mirip, benar-benar mirip. Lukisan itu seperti benar-benar melukiskan dirinya dari jaman yang berbeda.

Baek Soomin

“Sejak awal adalah dirimu hingga selamanya tetap dirimu, saat senang ataupun sedih aku akan selalu mencintaimu. Baek Soomin. 1839.” Gadis itu membaca tulisan yang tertera di lukisan tersebut dan…..

“B-b-baek… Soomin? 1839?” Yoora masih merasa sulit untuk mempercayai ini.

“Soomin-ah… aku merindukanmu.”

….

“Aku terluka. Aku terluka saat menyadari bahwa penantianku selama ini ternyata berujung sia-sia.”

“Aku meminta Tao untuk kembali membawaku ke masa lalu, tapi semua itu tetap saja tidak bisa merubah apapun. Jika aku bisa, aku ingin kembali dan mati saat itu juga. Aku tidak ingin menjadi monster abadi paling menakutkan di muka bumi ini kalau pada akhirnya aku tidak bisa membawamu kembali.”

“Ku mohon… jangan mencintai lelaki lain. Jangan berikan hatimu pada lelaki lain. Cukup aku, cintai aku saja.”

….

“Hhh…hh…”

“Soomin-ah…hhh… Soo…min…”

“Hhh..Soom..min… Soomin-ah…”

Yoora memandang Baekhyun yang masih terbaring lemah di ranjangnya.

“Dia kah, Soomin yang kau rindukan itu?”

“Ahhh!” rintih gadis itu. Sesuatu di dada kanannya lagi-lagi terasa begitu sakit.

“Yak! Kau mau ke mana?! Jangan berlari! Kau tahu aku tidak akan bisa mengejarmu!”

“Soomin-ah, aku mencintaimu.”

“Yang Mulia, apakah Yang Mulia percaya reinkarnasi?”

Bayangan-bayangan yang tak Yoora mengerti itu tiba-tiba melintas di pikirannya, seperti bom waktu yang sudah siap meledakkan otaknya. Gadis itu memejamkan matanya kuat-kuat, sakit, kepalanya benar-benar sakit.

“Kenapa membicarakan hal yang tidak-tidak?”

“Tidak, aku hanya ingin Yang Mulia percaya, bahwa meski aku dilahirkan berkali-kali, lelaki yang ku pilih sebagai takdirku tetaplah dirimu…”

Yoora membuka matanya saat rasa sakit itu perlahan mulai menghilang seiring dengan menghilangnya sekelebat bayangan tadi dari pikirannya. Tanpa sadar, Yoora menitikkan airmatanya. Ada sesuatu yang mengganjal di sini, sesuatu yang tak bisa dimengerti Yoora sama sekali.

“Bayangan-bayangan itu… tidak mungkin muncul dalam pikiranku tanpa alasan. Bagaimana pun caranya, aku harus bisa mencari tahu alasannya.”

“Baekhyun Oppa… Baek Soomin yang kau rindukan itu, aku ingin mengenalnya lebih jauh lagi…” tekad Yoora bulat, ia takkan pergi sebelum menemukan jawaban dari semua pertanyaannya.

♥♥♥

Preview Chapter berikutnya….

PRAK!

Kepala lelaki itu seketika mengeluarkan darah setelah pria bule didepannya melemparkan mainan keras berbentuk kubus yang ada dalam genggamannya.

“Apa saja yang kau lakukan selama ini sebagai seorang leader, huh?”

Membayangkan Yoora membuka seluruh pakaiannya di hadapan Tao, mencium bibir Tao, berciuman panas hingga adegan ranjang,

“Ah! Tidak! Tidak! Itu tidak mungkin!”

“Sekarang, buka matamu.” Bisik lelaki itu.

“Tahun berapa ini?” tanya Yoora yang masih takjub dengan apa yang baru saja ia alami.

“1839.”

“Yak, Kim Yoora! beri aku suatu tanda kalau kau masih berdiri di sampingku! Tidak di seberang sana!”

“Aiii, ada apa denganmu? Aku masih di sini… di sampingmu, Oppa.” Balas Yoora sambil menatap Tao aneh.

“Kalau kau memang masih berada di sampingku, lalu siapa gadis cantik di seberang sana? Wajahnya benar-benar mirip sekali denganmu!” ucap Tao yang berhasil membuat Yoora memandang ke arah yang sama dengan arah pandangannya.

“Aku sangat merindukanmu.” Suara khas seorang lelaki yang Yoora kenal terdengar jelas di dalam rumah itu. Tidak mungkin….

“Baekhyun… Oppa?

Yoora terduduk lemas, tak sanggup menahan airmatanya yang terus mengalir seakan tanpa henti.

“Siapapun! Siapapun itu! tangkap dia hidup-hidup dan bunuh dia di hadapanku! Jika kalian menangkapnya dalam keadaan mati, kalian akan ikut mati bersama bajingan itu! kalian mengerti?!!”

― Sadistic Night : Chapter 7 END ―

atas keterlambatannya, jhweoseonghamnida *bungkuk 90 derajat 😀

jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar yaa, ders :* Kamsahamnida *bungkuk lagi 😀

Iklan

7 pemikiran pada “[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 7

  1. Ahh..ayuuu..ffnyaa..ciee dionya lmyan bnyk hehehe..itu ihhhh tao ngapain…wahh baekhyun bnr”pahlawab yoora..euuuu..iyah smangat yh..i will be a true reader

    Suka

  2. Akhirnya d post jga Chapter 7 yeyeyeyye:) Ahhh aku gakuat bacany Gileeeee Bang Umin sadis banget -____- ampe segitunya nyiksa Yoora. aki gak ngerti ama sifat2 mreka, gampang berubah2 ternyata. d.o,chanyeol jg mreka awalnya bersikap manis tpi gak lama lagsung brbah jdi mnyeramkan. ahh mgkin bgtu karakteristiknya.d tunggu yaa kelnjutan nyaa. banyakin jga adegan romantis BaekYoo nyaa yaa thorr ^^ fighting^…^

    Suka

  3. ahhh nambahin jga komen nya. Poster nya bagus banget aku sukaa. udh thorr pke yg ini aja serius bagus banget. Baekhyun ama Sehun ganteng banget d poster iniii ^^ yeyeyye hahaha

    Suka

  4. Ping balik: [EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 8 | ANSFanfiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s