[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 8

[Fanfiction] SADISTIC NIGHT

sdstcnght1Previous Chapter

― Sadistic Night : Chapter 8 ―

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Main Cast :

Kim Yoojung as Kim Yoora & Baek Soomin

Byun Baekhyun as Baekhyun Lee

Park Chanyeol as Chanyeol Lee

Oh Sehun as Sehun Lee

Supported Cast :

Kim Joonmyun as Suho Lee || Do Kyungsoo as Dio Lee || Huang Zitao as Tao Lee || Kim Minseok as Xiumin Lee || Kim Jongin as Kai Lee || Kim Jongdae as Chen Lee || Zhang Yixing as Lay Lee || Lee Pace as Pace Lee || Kim Sohyun as Princess Yi Hwan

Genre : AU, Angst, Brothership, Drama, Fantasy, Gore, Little bit comedy(?), Romance, Sad

Rated : R

Length : Chaptered/Series

Disclaimer : Semua cast adalah bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya untuk kepentingan cerita. Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari berbagai film dan anime yang bergenre fantasy. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

Aku tidak bisa menolong diriku sendiri yang mencintaimu, walaupun aku tahu bagaimana rasa itu akan membuatku terluka pada akhirnya…

 

♥♥♥

“Aku meminta Tao untuk kembali membawaku ke masa lalu, tapi semua itu tetap saja tidak bisa merubah apapun. Jika aku bisa, aku ingin kembali dan mati saat itu juga. Aku tidak ingin menjadi monster abadi paling menakutkan di muka bumi ini kalau pada akhirnya aku tidak bisa membawamu kembali.”

Tao! Tao Oppa bisa membantuku!

Gadis itu segera bangkit, kembali memaksakan dirinya untuk berjalan cepat keluar dari kamar Baekhyun dengan kondisi tulang panggul bagian kirinya yang remuk. Ia menyusuri setiap lorong dan menuruni beberapa anak tangga untuk bisa sampai ke kamar Tao, lelaki yang ia yakini bisa membawanya kembali ke masa lalu, tahun 1839, di mana gadis bernama Baek Soomin pernah hidup di masa itu.

Tok… tok… tok.

Nuguya?” tanya seorang lelaki dari dalam kamar.

“Ini aku, Oppa. Yoora.”

Pintu itu terbuka, memperlihatkan seorang lelaki tinggi tegap dengan anting yang menggantel di telinga kirinya. Mata lelaki itu yang tadinya hanya memandang acuh berubah menampilkan ekspresi khawatir saat melihat wajah gadis di depannya itu memucat.

Oppa… aku…”

BRUK!

“Yoora!” lelaki itu berhasil menangkap tubuh ringkih Yoora, gadis yang saat ini memejamkan matanya tak sadarkan diri.

♥♥♥

“Xiumin yang melakukannya.”

Lelaki yang asalnya menunduk tunduk itu spontan mengangkat kepalanya,

“Ye?”

“Anak itu… terlalu keras menghukum gadis manusia itu. lihatlah apa yang terjadi sekarang, bukannya memulihkan keadaan, anak itu malah semakin memperparah keadaan yang sudah parah.”

“Para vampire kelas C yang mati bergelimpangan, Baekhyun yang mengalami luka parah hingga koma, Yoora yang tak kunjung sadar setelah 24 jam pingsan, lalu apa lagi yang akan terjadi selanjutnya?” pria berwajah barat itu memutar-mutar rubik mainan yang sedaritadi digenggamnya. 1 detik, 2 detik, 3 detik, warna-warna yang terdapat pada rubik itu yang awalnya terlihat acak-acakan akhirnya dapat tersusun dengan rapi hanya dalam waktu 3 detik.

PRAK!

Kepala lelaki itu seketika mengeluarkan darah setelah pria bule didepannya melemparkan mainan keras berbentuk kubus yang ada dalam genggamannya.

“Apa saja yang kau lakukan selama ini sebagai seorang leader, huh?”

Jhweoseonghaeyo, Ayah. Ini semua memang kesalahanku yang tak becus mengurus mereka.”

“Siapkan diri kalian untuk comeback selanjutnya, aku sudah mengatur semuanya.” Ucap pria bule itu sambil terus menatap lelaki muda di depannya yang baru saja memanggilnya ‘Ayah’. Ya, lelaki muda itu, Suho, anak keduanya, seorang leader boyband ternama, EXO.

“Maksud Ayah? Tanpa… Baekhyun?”

“Dia akan segera sadar, aku yakin itu.”

♥♥♥

Lilin-lilin aromaterapi sengaja dinyalakan di setiap sudut kamar Yoora. hal ini diyakini akan membuat pikiran Yoora lebih tenang dan bisa kembali membuka matanya, tersadar dari tidur panjangnya. Sehun, terlihat setia menunggu Yoora terbangun dari sisi sebelah kanan ranjang gadis itu. Kalau Baekhyun tidak koma, mungkin dirinya tidak akan bisa seperti sekarang, mungkin posisinya sekarang akan tergantikan oleh kakaknya, ya, benar, pasti akan seperti itu. Chanyeol sedang menikmati masa hukumannya, selain untuk mengikuti kelas etika, Chanyeol tidak diperbolehkan keluar dari kamarnya dan semua barang kesayangannya disita hingga tak tersisa sedikitpun. Suho? lelaki itu menyerahkan semuanya yang menyangkut Yoora pada Sehun, dan Sehun, bersyukur akan hal itu.

Oppa…” suara lirih itu terdengar di telinga Sehun, membuatnya otomatis memandang Yoora yang terbaring lemah di sampingnya.

“Kau sudah sadar? Syukurlah…” senyuman lelaki itu mengembang, namun seketika memudar saat menyadari orang yang pertama Yoora sebut dalam lirihannya bukanlah dirinya.

“Baekhyun oppa, bagaimana keadaannya?”

“Apa kau masih merasa sakit? Di mana? Di mana sakitnya?” Sehun, lelaki itu terlalu bodoh untuk mencoba mengalihkan pembicaraan.

Yoora perlahan meraih tangan Sehun, menuntun tangan lelaki itu untuk menyentuh dadanya. Ya, di sana, Yoora merasakan sakit di sana.

“Di sini… sakit sekali.” Airmata Yoora mengalir dari sudut matanya.

Sehun menghapus bulir airmata Yoora dan menggenggam erat tangannya. Lelaki itu tak bicara lagi, mencoba memahami keadaan gadis yang kini masih menitikkan airmata dalam hening.

Gadis itu bangun dari posisi tidurnya, melepas genggaman erat Sehun pada tangannya.

“Aku harus menemui Tao oppa, harus.”

“Kau mau ke mana?” tanya Sehun.

“Tao oppa, aku harus menemuinya.” Jawab Yoora. gadis itu kembali melangkahkan kakinya ke kamar Tao, ia masih harus memastikan apa yang terjadi di tahun 1839. Selama ia pingsan, ia terus memimpikan Baekhyun. Dalam mimpinya itu, Baekhyun terus menyatakan perasaannya.

“Aku mencintaimu.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku mencintaimu.”

Sehun berjalan di belakang Yoora, mengikuti kemana pun gadis itu pergi. hingga langkah kakinya terhenti saat Yoora benar-benar masuk ke dalam kamar kakaknya, Tao. Dahi Sehun mengkerut, apa sebenarnya yang akan Yoora lakukan di kamar Tao?

Membayangkan Yoora membuka seluruh pakaiannya di hadapan Tao, mencium bibir Tao, berciuman panas hingga adegan ranjang,

“Ah! Tidak! Tidak! Itu tidak mungkin!” Sehun langsung membuang jauh-jauh pikiran kotornya, tapi tetap saja, ia lagi-lagi memikirkan hal itu.

Tao mengunyah permen karetnya sambil memikirkan matang-matang permintaan yang Yoora ajukan padanya beberapa saat yang lalu. Pergi ke kehidupan Baekhyun di masa lalu, masa di mana Baekhyun belum menjadi seorang vampire, yang Yoora yakini terjadi sekitar tahun 1839.

“Apa yang ku dapatkan jika aku bisa membawamu kembali ke jaman itu?”

“Tubuhku.”

Lelaki itu terkejut, lebih tepatnya tak percaya dengan apa yang gadis itu tawarkan sebagai imbalannya.

“Kau bisa menikmati tubuhku setelah kau berhasil membawaku ke jaman itu dan kembali ke jaman ini. kau juga, bisa menggigitku di mana pun kau mau.” Tawar Yoora. Menggiurkan, pikir Tao. Yoora sebenarnya ragu, tapi apa boleh buat? Ini adalah pilihannya.

“Kalau begitu kuterima tawaranmu. Hah, tak tahukah kau memutar balikkan waktu adalah keahlianku? Mudahnya, seperti kau membalikkan telapak tanganmu sendiri.” Ucap Tao menyeringai.

“Tentu saja aku tahu, karena itulah aku datang.”

Tao berjalan mendekat ke arah Yoora yang sedaritadi berdiri agak jauh darinya. Tangannya melingkar di pinggang kecil gadis itu, longgar, tentu saja. Jantung Yoora berdetak cepat, tak terkontrol. Hembusan nafas lelaki itu begitu terasa di lehernya. Lelaki itu, takkan berbuat macam-macam padanya sekarang kan?

“Pejamkan matamu.”

“U-untuk apa?”

“Jangan banyak bertanya, itu membuatku risih. Kau hanya perlu menuruti apa kataku.”

Yoora memejamkan matanya. Perlahan tapi pasti, keadaan di sekitarnya yang awalnya begitu hening mulai menjadi bising. Suara-suara seperti pedagang yang sedang sibuk menawarkan dagangannya tertangkap oleh telinga gadis itu. Tunggu, pedagang? Tidak mungkin di kamar Tao yang sepi tiba-tiba muncul pedagang yang menjadikan kamar lelaki itu sebagai tempat dagang mereka kan?

“Sekarang, buka matamu.” Bisik lelaki itu.

Yoora membuka matanya. Takjub, itulah yang pertama kali tersirat dari wajah terkejut Yoora. gadis itu memandang ke sekitarnya, memandang apapun yang bisa ia pandangi. Saat ini, ia benar-benar berada di tempat yang berbeda. Dengan berlatarkan suasana pasar yang ramai dan gaduh, ia berdiri di samping Tao, mengenakan pakaian tradisional korea yang sama dengan pakaian yang orang-orang disekelilingnya kenakan, tatanan rambut mereka pun sudah sesuai.

“Tahun berapa ini?” tanya Yoora yang masih takjub dengan apa yang baru saja ia alami.

“1839.”

Yoora menatap Tao yang tersenyum memukau di sampingnya, lelaki itu, benar-benar membawanya ke jaman ini. dan dirinya? Benar-benar kembali ke masa lalu, masa di mana seorang Kim Yoora bahkan belum di lahirkan sama sekali.

“Yak, anak muda! Kau ini sedang bicara dan tersenyum pada siapa?”

Tao memalingkan wajahnya ke asal suara yang sepertinya sedang mengajaknya bicara. Seorang wanita tua yang berjualan umbi-umbian itu terus menatap aneh dirinya.

“Nenek itu, tidak bisa melihatku?” tanya Yoora bingung.

“Ya, Nenek? Ah, aku hanya bergumam sambil melihat wanita cantik di sebelah sana.” Ujar Tao beralasan tanpa melihat ke mana arah telunjuknya menunjuk.

“Wanita cantik?” tanya wanita tua itu memastikan.

Yoora mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan telunjuk Tao dan tertawa sekeras-kerasnya saat menemukan seorang wanita dengan berat badan super sedang menggendong anjing yang sepertinya peliharaan kesayangannya.

Tao mengikuti arah telunjuknya dan terpaksa menyunggingkan senyumnya ke arah nenek itu.

“Hehe, sepertinya mataku sedang sakit, Nenek.”

“Yak! Kenapa kau tak memberitahuku?! Aish, jinjja! Berhentilah menertawaiku!” omel Tao pada Yoora sambil berjalan menjauh dari nenek penjual umbi-umbian itu.

“Ya Tuhan, lihatlah anak tampan itu. Kenapa anak setampan itu terus saja berbicara sendiri seperti orang gila?” ucap nenek itu memandang Tao kasihan.

“Tapi sepertinya nenek itu benar-benar tidak bisa melihatku, Oppa. Haha, kenapa hanya kau yang terlihat? Dan kenapa harus aku yang tidak terlihat oleh mereka? Aku merasa seperti hantu saja.” Ucap Yoora setengah menggerutu.

“Sudahlah, tutup mulutmu. Aku tidak ingin orang-orang semakin memandangku aneh dan menganggapku gila karena mereka melihatku berbicara padamu yang sama sekali tak bisa mereka lihat.”

“Eoh, Oppa! Lihat itu! Lihat itu!” tepukan Yoora pada punggung Tao berhasil membuat lelaki itu tersedak permen karet yang masih saja belum dibuangnya. Ya, permen karet dari 176 tahun ke depan, permen karet ‘masa depan’.

“Aish, apa?”

“Bukankah itu, Baekhyun oppa?” telunjuk Yoora mengacung, menunjuk secara horizontal ke arah lelaki yang sedang tersenyum ramah kepada orang-orang dari dalam tandu yang digotong beberapa orang yang Yoora duga merupakan bagian dari pengawal pribadi lelaki itu.

“Saat itu, aku yang menghormati Baekhyun, bukan Baekhyun yang menghormatiku. Aku yang mengenal Baekhyun, sedangkan Baekhyun? Mungkin dia tidak mengenalku saat itu. tentu saja, Baekhyun adalah putera mahkota dinasti joseon saat itu…”

Kata-kata Suho terngiang di telinganya.

“Putera mahkota?”

“Siapa?” tanya Tao yang ternyata mendengar gumaman pelannya.

“Heee? Bukannya Oppa pernah membawa Baekhyun Oppa kembali ke jaman ini eoh?”

“Lalu?”

Yoora memutar bola matanya, tak habis pikir. Lalu apa saja yang Tao lakukan saat membawa Baekhyun kembali ke jaman ini sampai tidak tahu siapa putera mahkota yang Yoora maksud itu?

Yoora menepuk kedua pipi tao dengan kedua tangannya, dan mencoba memalingkan pandangan Tao ke arah lelaki yang masih berada dalam tandu dan masih menebar pesonanya sebagai putera mahkota.

“Baekhyun Hyung? Mwo?! Baekhyun Hyung ternyata, seorang putera mahkota?!” kejut Tao yang mulutnya langsung ditutup oleh tangan Yoora.

“Pelankan suaramu, Oppa!

Daebak!” ucap Tao kini dengan suara yang pelan.

Tao menarik Yoora, menelusuk masuk ke kerumunan banyak orang yang sedang menyaksikan salam dari putera mahkota mereka yang mereka hormati. Penuh sesak, sebegitu antusiasnya rakyat dinasti joseon saat itu ketika menyambut pangeran yang mereka agung-agungkan.

Yoora mengerutkan keningnya saat melihat sosok seorang gadis yang berada di dalam tandu lain di belakang tandu putera mahkota. Gadis yang begitu cantik dan mempunyai wibawa tersendiri.

“Siapa gadis itu?” tanya Yoora pada Tao. Tentu saja, Tao tidak mengetahuinya.

“Permisi paman, gadis yang ada dalam tandu itu, siapa dia?” tanya Tao pada seorang paman berjenggot panjang di sebelahnya.

“Aish, bocah ini! kau ini hidup di pedalaman mana sampai tidak tahu Puteri Yi Hwan?”

“Puteri… Yi Hwan?”

“Sepertinya kau benar-benar makhluk dari luar angkasa yang tidak tahu apa-apa yang terjadi di bumi.”

“Puteri Yi Hwan adalah anak perempuan dari keluarga Sekretaris Kerajaan yang paling dihormati. Dan sekarang, ia sudah resmi menjadi istri dari Pangeran Baek Hyun yang merupakan seorang Putera Mahkota, otomatis, Puteri Yi Hwan kini menjadi seorang Puteri Mahkota. Dan jika Pangeran Baek Hyun naik tahta menjadi Raja, maka otomatis pula, Puteri Yi Hwan lah yang akan menjadi Ratu jika Puteri Yi Hwan berhasil melahirkan anak laki-laki sebagai penerus keluarga kerajaan.” Jelas paman berjenggot itu panjang lebar dan Tao hanya bisa menangkap sedikit dari penjelasan paman itu. Intinya, Puteri Yi Hwan adalah pendamping hidup Baekhyun di masa ini.

Yoora menunduk, mungkin ia yang salah menangkap arti tahun 1839 di lukisan gadis bernama Baek Soomin itu. Mungkin, Baek Soomin adalah anak perempuan dari Baekhyun dan Puteri Yi Hwan yang lahir pada tahun itu. Hhh, bagaimana bisa dirinya menjadi sebodoh itu?

Tandu yang mengangkut Baekhyun di dalamnya itu berhenti, atas perintah Baekhyun tentunya. Tandu itu diturunkan tidak jauh dari tempat Tao dan Yoora berdiri. Tao yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi itu kembali menarik Yoora, berdesakan dengan banyak orang hanya untuk melihat alasan kenapa tandu Pangeran Baek Hyun berhenti di sana.

Tao terdiam, lebih tepatnya terpukau, terpesona akan sesosok makhluk berwujud gadis cantik yang kecantikannya mampu menyihir siapa saja yang melihatnya.

“Yoora, bisa kau cubit aku?”

Yoora tetap saja menunduk, tak menghiraukan permintaan Tao.

“Yak, Kim Yoora! beri aku suatu tanda kalau kau masih berdiri di sampingku! Tidak di seberang sana!”

“Aiii, ada apa denganmu? Aku masih di sini… di sampingmu, Oppa.” Balas Yoora sambil menatap Tao aneh.

“Kalau kau memang masih berada di sampingku, lalu siapa gadis cantik di seberang sana? Wajahnya benar-benar mirip sekali denganmu!” ucap Tao yang berhasil membuat Yoora memandang ke arah yang sama dengan arah pandangannya.

Benar, seorang gadis yang sedang berhadapan dengan Pangeran Baek Hyun di seberang sana memanglah memiliki wajah yang mirip dengan Yoora. Mirip, benar-benar mirip sampai Tao sendiri pun tak bisa menemukan perbedaan yang akan membuatnya yakin kalau Yoora dan gadis di seberang sana adalah dua orang yang berbeda.

images (7)

“Baek Soomin?” gumam Yoora pelan. Ya! Aku tidak mungkin salah kali ini! gadis itu, gadis itu pastilah gadis yang ada di lukisan itu! gadis itu, Baek Soomin!

“Bukankah gadis itu Baek Soomin?”

“Untuk apa Pangeran Baek Hyun menghampirinya?”

“Pasti ada sesuatu antara Baek Soomin dengan Pangeran Baek Hyun!”

“Kasihan sekali Puteri Yi Hwan.”

“Soomin memang lebih cantik dari Puteri Yi Hwan, sayang nasibnya tidak seberuntung kecantikannya.”

“Kalau saja ayahnya seorang yang memiliki jabatan terhormat di kerajaan, mungkin ia yang akan duduk di tandu belakang itu sebagai Puteri Mahkota.”

Omongan-omongan pelan ibu-ibu di kiri-kanan-depan-belakangnya itu entah kenapa terdengar begitu jelas dan sedikit melukai hatinya.

Baek Soomin sepertinya benar-benar menjadi terkenal karena kedekatannya dengan Pangeran Baek Hyun sampai-sampai Pangeran Baek Hyun melupakan kalau faktanya istrinya sedang berada di dalam tandu belakang dan melihat ke arah mereka dengan hati yang terluka pastinya.

kimsohyun-princessyihwan

“Apa yang Baekhyun Hyung berikan pada gadis itu? sebuah kertas? Apa isinya?” Tao bertanya-tanya dengan benar-benar pelan agar hanya Yoora yang dapat mendengarnya. Tapi kenyataannya, Yoora tak menggubrisnya sama sekali. Yoora terlihat sedang bergelut dengan pikirannya sendiri, hingga Tao pun tak berani mengganggunya lagi.

♥♥♥

“Mungkin itu alasannya kenapa kau tidak bisa terlihat oleh orang-orang di jaman ini, karena mungkin jika kau terlihat oleh mereka atau terlihat oleh Baekhyun Hyung, orang-orang bisa salah paham padamu dan menganggapmu sebagai gadis itu. Haha, padahalkan kalian dua gadis yang berbeda.” Ucap Tao sambil memakan kacang yang baru dibelinya.

Saat ini, Yoora dan Tao sedang duduk di bawah sebuah pohon yang lumayan rimbun. Hari begitu terik, jadi tak ada salahnya untuk duduk sebentar menikmati hembusan angin.

“Tapi aku masih penasaran, apa sebenarnya isi kertas yang diberikan Baekhyun Hyung pada gadis itu?”

“Kalau begitu…”

“Hm?”

“Kalau begitu, ayo kita cari tahu!” Yoora berdiri dengan yakin, lalu menarik Tao untuk berlari hingga lagi-lagi Tao tersedak karenanya.

Yoora dan Tao terus berjalan menyusuri pasar tempat awal di mana mereka muncul dari masa depan. Ingin rasanya Tao memotret keadaan di sekelilingnya dan mengupload foto yang diambilnya itu ke SNS miliknya dengan caption ‘Hello ^_^ Aku sedang berada di masa lalu! 1839♥ Kalian tidak percaya? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, hihi^^ bersama Yoora, selamat menikmati hari panjang kalian kekeke~~’ sepertinya menyenangkan, tapi itu tidak mungkin. Orang-orang di jaman ini pasti akan benar-benar menganggapnya semacam goblin yang membawa alat-alat aneh dan ajaib dari tempat asalnya.

Huh, membosankan juga hidup di jaman yang terlalu kuno, tahun 1839, 52 tahun sebelum seorang bayi suci bernama Huangzi terlahir ke dunia ini. Ya, Huangzi, nama Tao sebelum dirinya menjadi vampire keturunan keluarga Lee dan berganti nama menjadi Tao Lee.

“Suho oppa?

Langkah Yoora terhenti, tepat saat ia melihat wajah tampan seorang lelaki yang sangat dikenalnya. Suho, lelaki yang terlihat semakin tampan saat mengenakan hanbok itu berdiri jauh di depannya bersama seorang pria paruh baya yang lelaki itu rangkul dengan hangat.

“Eoh? Kau benar, itu Suho Hyung!

Hyungggg~~~” Tao berlari menghampiri Suho tanpa bisa Yoora mencegahnya. Yoora menepuk dahinya sendiri. Haruskah ia setiap detiknya mengingatkan Tao kalau mereka berdua kini ada di tahun 1839?

Hyung! Ini aku, Tao!”

Suho tampak terkejut saat Tao tiba-tiba menghampirinya, selanjutnya, lelaki itu memandang Tao seperti orang yang kebingungan.

Hyung?” Suho mendelik, berusaha meyakinkan dirinya kalau ia tak salah dengar, bahwa lelaki yang baru saja menghampirinya itu memanggilnya ‘Hyung’.

Ne, Hyung! Jangan bercanda! Jangan bertindak seolah kau tidak ingat aku!” Tao mendorong pelan tubuh Suho sambil tertawa.

“Joon-ah, kau mengenalnya?” tanya pria paruh baya di samping Suho.

Joon?

“Tidak, Abeoji.” Lelaki yang dipanggil Joon oleh lelaki paruh baya di sampingnya yang ternyata ayahnya itu menggelengkan kepalanya.

“Maaf, saya tidak tahu siapa anda. Dan sepertinya, anda salah orang.”

“Heee? Tidak mungkin! Jelas-jelas ini kau, Suho Hyung! Aku Tao, aku tidak mungkin salah orang! Tega sekali kau berpura-pura tidak mengenalku seperti itu!” tolak Tao, ia masih yakin kalau lelaki muda di depannya itu adalah Suho.

“Suho?” lelaki itu mengerutkan keningnya,

“Maaf, tapi nama saya bukan Suho. Nama saya Joon, Kim Joon.”

Kim Joon?

“Yak, Oppa!” Yoora buru-buru mendekati Tao, dan berbisik,

“Mungkin dia memang Suho Oppa, tapi ini dirinya sebelum menjadi vampire, hidup dalam kehidupannya sendiri dan tak mengenalmu. Ingatlah, kita sedang berada di tahun 1839.”

Tao yang mengangguk-angguk membuat Joon ―Suho yang belum menjadi vampire saat itu― dan ayahnya memandangnya semakin aneh. Terlebih lagi karena mereka tidak bisa melihat kehadiran Yoora yang merupakan alasan utama Tao mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau begitu, saya benar-benar minta maaf atas ketidaksopanan saya pada anda, Tuan Joon. Saya permisi.”

Setelah meminta maaf dan tertawa canggung, Tao dengan cepat mengambil seribu langkah pasti, berlari pergi dari Joon dan ayahnya karena malu yang luar biasa. Sementara itu, gadis yang berlari di sampingnya tampak tertawa puas. Tao yang seperti itu, seperti hiburan tersendiri baginya di dimensi lain ini.

“Ternyata, Suho Oppa memang seperti itu sejak dulu. Baik, bertutur kata lembut, ramah, sopan, dan sepertinya juga bijaksana. Melihatnya sangat dekat dengan ayahnya tadi, membuat aku kembali teringat akan kisahnya yang pernah ia bagi denganku. Saat ayahnya yang sangat dicintainya itu meninggal, Suho Oppa jadi sebatangkara dan akhirnya memilih untuk mati di tangan Pace ahjussi yang saat itu memang seorang vampire.”

“Ku pikir, Kim Joon dan Suho Lee, tidak ada yang berubah, ia masih tetap sama.” Yoora tersenyum cerah saat mengingat kembali wajah tampan Kim Joon dan Suho Lee.

“Aiii, kau ini! seperti sudah benar-benar mengenalnya saja!” Tao mengacak-acak rambut Yoora sebelum akhirnya meluruskan pandangannya ke depan dan mendapati gadis berwajah sama dengan gadis yang berada di sampingnya itu berjalan seperti hendak menghampirinya.

“Eoh? Bagaimana ini? aku harus bagaimana?! Gadis itu, siapa namanya?! Siapalah namanya itu! ah! Dia datang, dia datang!” ucap Tao dengan reaksi yang sangat berlebihan.

“Baek Soomin?”

“Ah, itu dia namanya!”

Tao berdiri tegap, bersiap memberi salam pada gadis yang berjalan mendekatinya itu. tapi, belum sempat Tao membungkuk, gadis itu sudah lebih dulu membuat Tao dan Yoora mengerenyitkan dahi mereka.

Baek Soomin, gadis itu melirik ke kanan-kirinya, dengan mata yang sama sekali tak menangkap keberadaan Tao dan Yoora yang jelas-jelas berdiri di depannya, gadis yang teramat cantik itu berjalan dengan hati-hati memasuki sebuah pekarangan rumah yang tak terlalu besar.

“Dia, tidak bisa melihat kita?” tanya Yoora tak percaya.

“Sepertinya begitu.” Balas Tao yakin.

Kajja!” Lelaki itu menarik tangan Yoora, mengikuti Soomin dengan hati-hati meski mereka tahu Soomin tak bisa melihat mereka, mereka harus tetap berhati-hati karena mungkin orang lain selain gadis itu bisa saja menyadari kehadiran Tao.

Soomin menginjakkan kakinya ke lantai kayu yang berdecit ketika diinjaknya, diikuti oleh Tao dan Yoora di belakangnya. Rumah itu tampak seperti rumah biasa, tanpa penghuni, dan sedikit berdebu. Mungkin ini bukan rumahnya, pikir Tao dan Yoora bersamaan.

Tepat di saat Soomin selesai memasang kasur lantai lengkap beserta selimut dan bantalnya di kamar berukuran kecil rumah itu, suara seorang lelaki terdengar memanggilnya dari luar sana. Tao dan Yoora segera bersembunyi di sebuah ruangan kecil lain yang gelap dan letaknya berhadapan dengan kamar yang Soomin masuki tadi, takut kalau-kalau lelaki di luar sana mengetahui keberadaan mereka di rumah ini.

“Aku sangat merindukanmu.” Suara khas seorang lelaki yang Yoora kenal terdengar jelas di dalam rumah itu. Tidak mungkin….

“Baekhyun… Oppa?” Yoora membulatkan matanya, terkejut saat dirinya mencoba mengintip sedikit siapa lelaki yang baru saja datang menemui Baek Soomin dan mendapati Baekhyun sedang memeluk mesra gadis yang berwajah mirip dengannya itu.

“Apa yang akan Baekhyun Hyung lakukan dengan gadis itu?” Tao berpikir keras.

Oppa! Apa yang kau lakukan?!” kejut Yoora saat melihat Tao nekat keluar dari tempat persembunyian mereka. Tak ada reaksi, Baekhyun dan Soomin terus melanjutkan kemesraan mereka seperti tak merasa terganggu sedikitpun.

“Aku mengerti sekarang!” Tao menunjukkan senyumnya pada Yoora, lebih seperti tertawa kecil. Yoora yang tak mengerti maksud dari senyuman Tao akhirnya harus kembali merasakan tarikan tangan lelaki itu yang menariknya masuk ke kamar yang sempat dimasuki Soomin.

Oppa, kau gila?!”

“Tenang saja, mereka tidak bisa melihat kita. Firasatku, akan terjadi sesuatu yang seru di sini. Ya, di sini, di kamar ini.” ucap Tao yang membuat Yoora membisu seketika.

Sementara itu, Baekhyun yang saat itu merupakan seorang Putera Mahkota yang sangat dihormati rakyatnya itu terlihat sedang mencium mesra bibir gadis cantik bernama Baek Soomin. Lembut, tak ada keterpaksaan di sini. Soomin, gadis itu dengan mudahnya menerima perlakuan apa saja yang diberikan Baekhyun padanya. Mereka, seolah melupakan fakta bahwa seorang lelaki bernama Baek Hyun adalah seorang Pangeran muda yang telah beristri.

Baekhyun mengangkat tubuh Soomin, membuat Soomin otomatis melingkarkan tangannya di leher Baekhyun. Pangeran itu membawa Soomin ke kamar di mana gadis cantik itu sudah menyiapkan kasur yang akan menjadi tempat mereka memadu cinta hari ini. Yoora semakin membulatkan matanya, ketika saat ini, tepat di depan matanya, Baekhyun sedang membaringkan tubuh Soomin di atas kasur lantai itu dengan senyuman mematikan. Yoora kini seperti melihat dirinya sendiri tengah dicumbu mesra oleh lelaki itu.

“Apa yang akan mereka lakukan?” tanya Yoora pada Tao tanpa memandang lelaki yang ditanyanya itu sedikitpun.

“Kau sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini, aku pikir, itu sama dengan apa yang ada dalam pikiranmu sekarang.”

Bercinta? Mereka akan, bercinta?

“Kenapa bahkan setelah aku menikah, kau tetap menjadi wanita yang paling indah di mataku? Andai saja aku bisa menikah dengan gadis pilihanku sendiri, aku akan menikahimu, sehingga hal seperti ini tidak perlu terjadi.” Baekhyun melepas ikatan rambut Soomin yang saat ini tengah duduk di atas kasur yang sama dengannya, membuat rambut panjang hitam yang asalnya terkepang rapi itu kini bebas terurai.

“Aku tidak sanggup walau hanya untuk membayangkan kita menikah sebentar saja, karena dengan begini saja, aku sudah merasakan kebahagiaan yang luar biasa, menyadari bahwa Yang Mulia masih menyimpan sedikit cinta untukku setelah adanya pernikahan itu.” Soomin tersenyum dengan matanya yang berbinar sebelum kedua mata indahnya itu dikecup oleh ‘Yang Mulia’nya.

“Kau salah besar jika mengatakan aku hanya menyimpan sedikit cinta untukmu setelah aku menikah dengan istriku, karena pada dasarnya, aku tak pernah berpikir aku bisa mencintai wanita lain selain dirimu. Bahkan, ketika di masa depan aku menjadi seorang Raja, aku masih berharap, bahwa kaulah yang nantinya akan berada di sisiku sebagai seorang Ratu.”

Soomin kembali tersenyum, tangannya perlahan menyentuh dada kiri Baekhyun, lalu menggeleng lemah.

“Aku tak perlu menjadi seorang Ratu di Kerajaan Korea, cukup bagiku menjadi Ratu di hati Yang Mulia saja. Dengan begitu, aku bisa selalu ada di hati Yang Mulia sampai kapanpun.”

“Kau sudah mendapatkannya.”

Baekhyun melepas satu persatu tali yang mengikat hanbok yang melekat di tubuh wanitanya. Melepas helai demi helai kain yang menutupi tubuh indah wanita yang memang sudah sejak lama menjadi ratu di hatinya.

Bola mata Yoora membesar seketika.

“Tanda lahir yang indah inilah yang selalu mengingatkanku tentangmu di manapun aku berada.” Baekhyun menyentuh dada kanan Soomin, di mana sebuah tanda lahir berbentuk salib itu berada, sebelum akhirnya melanjutkan percintaan mereka di hadapan Yoora dan Tao.

“Sepertinya hidup Soomin benar-benar diberkati oleh Yesus, dia yang hanya seorang gadis biasa dapat dengan mudahnya menaklukan hati seorang Putera Mahkota Kerajaan Korea yang sudah memiliki seorang istri. Benar-benar hebat!” Lelaki berkantung mata gelap itu menggelengkan kepalanya, takjub.

“Yak! Kau tidak boleh melihat hal seperti ini!” Tao dengan cepat menutup mata Yoora dengan tangan kanannya.

Kedua tangan Yoora menyentuh tangan Tao dan perlahan menyingkirkannya. Mata yang berair itu menatap mata Tao seperti orang yang kebingungan dan ketakutan, tubuhnya seketika terlihat gemetar.

Wae-waeyo Yoora-ya?”

Gadis itu membuka helai demi helai pakaiannya masih dengan airmata yang siap jatuh kapan saja dari pelupuk matanya.

“Yak! Apa yang kau lakukan sekarang?!”

Oppa…” panggil Yoora lirih. Sedang Tao masih bingung bagaimana menghadapi Kim Yoora yang seperti ini. Yoora menarik sedikit bagian lengan kanan di kain putih terakhir yang menutupi tubuhnya itu yang akhirnya memperlihatkan sedikit dari kulit putih mulus dadanya.

“Katakan padaku… tolong katakan padaku… kalau tanda lahir ini… berbeda…”

Mata Tao membulat, terkejut dengan apa yang Yoora coba perlihatkan padanya. Sebuah tanda lahir berbentuk salib yang sama persis dengan tanda lahir yang dimiliki Baek Soomin.

“Jadi… kau adalah… Baek Soomin?”

BRUK!

Yoora jatuh terduduk. Bagaimana… bagaimana bisa dirinya adalah Baek Soomin? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dirinya dan Baek Soomin adalah orang yang sama?

Tao menghapus airmata yang terus mengalir membasahi pipi gadis itu. Tao mengerti, jiwa Yoora pasti sangat terguncang karena tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan seperti ini, kenyataan kalau Baek Soomin adalah Kim Yoora di masa lalu, gadis yang sama yang dicintai oleh Putera Mahkota Kerajaan Korea, Pangeran Baek Hyun.

“Haruskah, aku membawamu kembali ke masa depan sekarang juga?”

Yoora tak menjawab, hanya isakan tertahan yang dapat Tao dengar darinya.

“Puteri… Yi Hwan?”

Seorang wanita muda kini tengah berdiri gemetar di balik dinding kayu, mengintip kemesraan suaminya yang sedang bercinta dengan wanita lain. Hatinya hancur, pasti. Bagaimana tidak? Bagaimana hatimu tidak akan hancur bila melihat suamimu sendiri bisa menyentuh wanita lain sedangkan dirimu sebagai istrinya tak pernah ia sentuh sama sekali? Ya, wanita yang tak beruntung itu, Puteri Yi Hwan.

Andwae! Kau tidak boleh melihat ini!” Yoora bangkit dan berlari menghampiri Puteri Yi Hwan yang masih tetap pada posisinya. Pangeran Baek Hyun dan Baek Soomin sepertinya terlalu sibuk untuk menyadari kehadiran Puteri Yi Hwan.

“Pergilah, Puteri. Kumohon jangan lanjutkan, jangan sakiti dirimu sendiri untuk melihat apa yang mereka lakukan! Pergilah!” Yoora terus berusaha berbicara dengan Puteri Yi Hwan, meski ia tahu Puteri Yi Hwan tidak akan bisa mendengarnya. Ia ingin menyentuh Puteri Yi Hwan, tapi tangannya lolos begitu saja. Ia, tidak bisa menghentikan Puteri Yi Hwan untuk melihat semua kesakitan di depan matanya itu.

“Yoora, hentikan! Apa yang kau lakukan itu sia-sia saja!” Tao menarik Yoora ke pelukannya, dan akhirnya gadis itu hanya bisa menangis di pelukan Tao tanpa bisa melakukan apa-apa.

♥♥♥

“Yang Mulia, apakah Yang Mulia percaya reinkarnasi?”

Soomin menyandarkan kepalanya di dada Baekhyun. Selain selimut berwarna merah gelap yang menyelimuti tubuh mereka, tak ada kain-kain lain yang melekat di tubuh dua insan berbeda jenis kelamin ini. sisa-sisa peluh masih terlihat membasahi wajah dan tubuh mereka. Baekhyun mendekap Soomin erat, tak ada alasan baginya untuk berhenti mencintai wanita itu, tak ada, takkan pernah ada.

“Kenapa membicarakan hal yang tidak-tidak?” tanya Baekhyun sembari mengerutkan keningnya.

“Tidak,” Soomin menggenggam erat tangan Baekhyun,

“Aku hanya ingin Yang Mulia percaya, bahwa meski aku dilahirkan berkali-kali, lelaki yang ku pilih sebagai takdirku tetaplah dirimu…”

“Jika aku harus hidup sebagai orang lain di masa depan dan tak pernah bisa menemukan Yang Mulia, maka akan lebih baik rasanya jika aku tak pernah dilahirkan kembali dan hanya hidup satu kali saja sebagai Baek Soomin yang dicintai seorang lelaki tampan bernama Baek Hyun.”

“Ada apa sebenarnya, Soomin-ah? Sedaritadi, yang kau bicarakan hanya tentang reinkarnasi, hidup kembali, dan terlahir kembali. Apa tidak ada topik lain yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Baekhyun dengan suara lembut.

“Apa kata-kataku ngelantur lagi? kalau memang begitu, maafkan aku, Yang Mulia. Sepertinya, aku membuat Yang Mulia tidak nyaman berada di sisiku.”

“Reinkarnasi? Hidup kembali? Terlahir kembali? Apa itu semua mungkin, Oppa?” tanya Yoora yang saat ini sedang berada dalam dekapan Tao, bersandar lemas di dada bidang lelaki itu.

“Tentu saja. Sudah berapa kali kau mendengar kata ‘Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini’ saat bersama keluarga kami? Jika aku saja bisa membawamu kembali ke masa lalu, apa lagi alasanmu untuk meragukan hal itu?” lembut, Tao menjadi benar-benar lembut setelah melihat Yoora yang seperti ini.

Yoora dan Tao kini berada di sudut kamar, memperhatikan Soomin dan Baekhyun dari tempat mereka bersandar. Menyadari hari yang mulai senja, Baekhyun bergegas mengenakan kembali pakaiannya, serapi mungkin agar orang-orang di istana tidak mencurigainya. Sebelum pergi, Baekhyun menyempatkan dirinya mencium kening Soomin.

“Kau juga pulanglah, Ayahmu pasti sedang menunggu.”

“Aku akan pulang setelah Yang Mulia, jika kita terlalu sering terlihat bersama, aku takut orang akan berpikir macam-macam.” Ucap Soomin yang juga sudah rapi memakai pakaiannya dan menata rambutnya.

“Mereka romantis sekali.”

Soomin mengantar Baekhyun keluar rumah, di luar sudah ada para pengawal yang setia menanti Pangeran mereka sejak siang tadi. Baekhyun memasuki tandunya dan memberikan senyuman pada ‘kekasihnya’ sebelum akhirnya tandu yang membawanya hilang dan luput dari pandangan Soomin.

“Kita akan bermalam di sini? Kau kan sudah tahu bagaimana masa lalu Baekhyun Hyung, bukankah sebaiknya kita kembali ke masa depan saja?” tanya Tao menyarankan.

“Tidak, aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku harus tetap di sini sampai aku benar-benar tahu, benar-benar tahu bagaimana kisah cinta mereka selanjutnya. Aku harus tahu.” Jawab Yoora dengan yakin.

♥♥♥

Pagi itu, Yoora terbangun dari tidurnya lebih dulu daripada Tao. Gadis itu tak berniat untuk membangunkan Tao karena dari wajahnya saja tersirat jelas bahwa lelaki itu sangat kelelahan. Yoora melangkah keluar dari rumah itu, memejamkan matanya dan menghirup udara segar di tahun 1839. Udaranya lebih terasa menyegarkan daripada udara di masa depan, mungkin karena saat itu alat transportasi yang orang-orang gunakan hanya tandu dan menunggangi kuda saja.

“Eoh? Dia sudah ada di sini? Dengan siapa?” Yoora bertanya-tanya pada dirinya sendiri saat melihat Baek Soomin yang sudah cantik itu berdiri berhadapan dengan seorang lelaki yang berpakaian rapi seperti pengawal istana kemarin.

“Sampaikan surat ini pada Pangeran Baek Hyun, dan sampaikan juga padanya aku akan menunggunya di sini sampai ia datang. Ini surat yang penting.” Ucap Soomin sembari memberikan sepucuk surat pada lelaki yang sepertinya memang benar seorang pengawal dari istana.

“Baik, Nona. Saya akan segera menyampaikan surat ini pada Yang Mulia. Saya benar-benar berharap, Nona yang akan menjadi Ratu Kerajaan Korea nantinya.” Lelaki itu pamit pada Soomin dan menghilang di balik dinding pagar.

Baru saja Soomin hendak mendudukkan dirinya di teras kayu rumah itu, sebuah anak panah melesat secepat kilat menusuk tepat ke perutnya. Hal itu sontak membuat Yoora terkejut dan berlari menghampiri Soomin yang jatuh terkapar di tanah, anak panah itu berhasil membuat Soomin kehilangan banyak darah.

“S-s-soomin! Soomin-ah! Yak, Baek Soomin! Bertahanlah!” teriak Yoora panik.

Oppa! Tao Oppa!!” Yoora berlari masuk ke dalam rumah, membangunkan Tao yang masih terlelap dalam tidurnya. Sedetik kemudian, Yoora membawa Tao keluar. Hendak menunjukkan pada Tao apa yang sedang terjadi di luar, tapi langkah mereka terhenti tepat di depan pintu saat melihat seorang wanita berpenutup wajah dan memegang busur panah di tangannya menghampiri Soomin yang sekarat. Bukan menolongnya, hanya, menghampirinya saja.

“Puteri… Yi Hwan?” Yoora dan Tao membulatkan mata mereka seketika, saat wanita berpenutup wajah itu membuka kain hitam yang menutupi wajahnya. Ya, wanita itu, Puteri Yi Hwan.

“P-put..puteri… tolong selamatkan aku… tolong aku… puteri…” lirih Soomin susah payah sambil menahan rasa sakit yang dirasakannya, wajahnya sudah benar-benar pucat karena kehilangan banyak darah.

“Itu tidak mungkin,”

“Bagaimana bisa aku menyelamatkanmu jika kau adalah seorang wanita yang berhasil menghancurkan kebahagiaanku? Bagaimana bisa aku menyelamatkanmu? Jika aku menyelamatkanmu, bisakah aku menyelamatkan pernikahanku sendiri setelahnya?” Puteri Yi Hwan menitikkan airmatanya, menatap dengan jelas wajah penuh derita yang semakin memucat di depannya. Penuh derita? Tidak, dirinyalah yang paling menderita selama ini.

“Kau sampah! Kau tidak seharusnya dilahirkan ke dunia ini! Kau… mati saja!” kata-kata kasar itu keluar dari mulut seorang Puteri Mahkota yang sangat dihormati rakyatnya, ya, Puteri Yi Hwan.

Puteri Mahkota itu kembali menutup wajahnya, melenggang pergi membawa busur serta anak panah yang tersisa di punggungnya, meninggalkan Soomin yang sudah tak sanggup untuk bertahan. Yoora dan Tao berlari menghampiri Soomin, tapi wanita itu tak lagi membuka matanya. Matanya sudah tertutup dengan sudut mata yang basah, sementara darah terus mengalir dari perutnya yang tertusuk anak panah.

“Aku pernah melihat ini…” ucap Tao yang juga menitikkan airmatanya, sementara Yoora menangis tak percaya.

“Dia sudah meninggal… dan sebentar lagi…” Tao mengarahkan pandangannya ke arah luar pagar pekarangan rumah itu. tak lama, seorang lelaki bahagia berlari memasuki pekarangan rumah itu dengan membawa sepucuk surat dalam genggamannya. Namun kebahagiaan itu seakan hilang dalam sekejap setelah matanya mendapati wanita yang teramat sangat dicintainya itu sudah tak bernyawa.

“S-s-soom..soomin-ah…” tes! Airmata lelaki itu menetes. Ia berlari dengan kaki lemas, menjatuhkan sepucuk surat yang semula digenggamnya dan memeluk kekasihnya itu erat-erat, berharap kekasihnya dapat kembali membuka mata dan melanjutkan kisah hidup mereka yang hampir sempurna.

“Soomin-ah… bangunlah… jangan begini… bukankah, kau bilang kau akan menungguku sampai aku datang? Lihat, aku sudah datang… aku di sampingmu…”

“Bangunlah, Sayang… buka matamu…” lelaki yang tak lain adalah Pangeran Baek Hyun terus mengajak kekasihnya, Baek Soomin, untuk berbicara seolah-olah wanita itu bisa membalas setiap perkataannya. Ia tidak bisa mempercayai kematian kekasihnya semudah itu.

Yoora dengan berderai airmata melangkah gontay mendekati Baekhyun, hingga kakinya menginjak sepucuk surat yang lelaki itu jatuhkan ke tanah. gadis itu memposisikan dirinya dalam posisi jongkok, menghapus airmata yang terus berlinang sebelum akhirnya membaca setiap kata demi kata yang terdapat di surat itu tanpa menyentuhnya.

Yang Mulia… ini aku, kekasihmu.

Maafkan aku yang telah lancang mengirimkan surat ini untukmu.

Yang Mulia, kau tahu? Aku sangat mencintaimu. Rasanya sudah tak terhitung berapa kali aku mengatakan kata-kata itu, mungkin Yang Mulia saja sudah bosan untuk mendengarnya.

Cinta yang kita miliki, sudah tak terukur lagi betapa besarnya bukan? Aku harap, cinta kita tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun itu, apalagi, saat ini, ada nyawa lain di dalam diriku. Buah cinta kita.

Semalam, ayah mengkhawatirkan keadaanku yang terlihat tak sehat. Ayah memanggilkan seorang tabib untuk memeriksa kondisiku. Tapi ternyata, aku tidak sakit. Tabib itu berkata aku akan segera memiliki seorang bayi, dan tabib itu juga menyarankanku untuk segera memberitahu ayah dari bayi itu. sudah kulakukan sekarang.

Yang Mulia, aku hamil.

Aku sama sekali tak berharap banyak… yang aku harapkan, Yang Mulia bisa terus ada di sisiku sampai kapanpun dan memberiku cinta yang tanpa akhir. Aku hanya menginginkan itu.

Yang Mulia, aku mencintaimu. Sejak awal adalah dirimu hingga selamanya tetap dirimu, saat senang ataupun sedih aku akan selalu mencintaimu.

Dari kekasih yang selalu merindukanmu. Baek Soomin.

Airmata Yoora mengalir deras. Perlahan tapi pasti, bayangan-bayangan yang selama ini mengganggu pikirannya yang tak mengerti apa-apa itu kembali muncul tapi kali ini tanpa rasa sakit yang menyiksanya.

♥♥♥

Di sebuah hutan di dekat istana, tampak dua orang anak berumur 7 tahunan sedang bermain seru di bawah pepohonan yang tingginya beberapa kali lipat dari tinggi mereka. Dua anak itu, tepatnya seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki bermain seru tanpa mempedulikan perbedaan status sosial mereka yang jauh berbeda. Anak laki-laki itu bernama Baek Hyun, seorang pangeran kecil yang nantinya akan menjelma menjadi seorang Raja di masa depan. Sementara gadis kecil itu, adalah Baek Soomin, putri satu-satunya dari pasangan rakyat biasa yang tak memiliki kekuasaan apapun.

“Soomin-ah, bisakah kita memainkan permainan yang lain saja?” Pangeran kecil itu terlihat bosan dengan apa yang dilakukannya saat ini.

“Kalau begitu…” Soomin bangkit dari posisinya semula dan menyeringai.

“Kejar aku!”

“Yak! Kau mau ke mana?! Jangan berlari! Kau tahu aku tidak akan bisa mengejarmu!” teriak Pangeran kecil itu sambil berusaha mengejar teman perempuannya yang berlari-lari dengan lincah. Memang, Pangeran kecil itu sangat payah dalam hal berlari. Tapi, apa mungkin istana tak pernah mengajarkannya untuk berlari dengan cepat?

“Kau payah!” ledek Soomin.

Waktu terus berlalu, hingga tanpa terasa, dua orang anak yang tadi tengah bermain kejar-kejaran itu kini perlahan menginjak usia remaja mereka. Tak ada yang berubah dari mereka, mereka masih selalu bermain bersama. Pangeran Baek Hyun yang semakin tampan, dengan Baek Soomin yang terus tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Mereka, terlihat lebih baik jika bersama.

“Yak! Soomin-ah! Baek Soomin! Berhenti berlari! Aku sudah lelah!” lagi-lagi Pangeran Baek Hyun meneriaki nama gadis itu dengan susah payah, pasalnya, lelaki itu benar-benar lelah jika harus mengejar gadis itu yang jika sudah berlari pasti akan melupakan fakta bahwa dirinya adalah seorang gadis yang seharusnya berjalan dengan anggun.

“Ternyata kau benar-benar payah, Pangeran!”

BRUK!

“Ahh!” jerit Soomin kesakitan. Gadis itu baru saja terjatuh karena ulahnya sendiri dan berhasil melukai lutut mulusnya.

Baek Hyun menghampiri Soomin dan memandang gadis itu khawatir.

“Soomin-ah, kau tidak apa-apa?”

“Lututku sakit. bagaimana kalau nanti aku tidak bisa berdiri? Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa berjalan lagi? bagaimana kalau nanti aku tidak bisa berlari lagi? ah, bagaimana ini?!”

Pangeran itu hanya tertawa melihat tingkah menggemaskan sahabat kecilnya itu. tanpa ba-bi-bu, sang pangeran mengangkat tubuh sang puteri dengan gagahnya, padahal saat itu, tubuh sang pangeran masih kurus seperti remaja-remaja lelaki seusianya. Perlakuan sang pangeran yang tanpa diduga itu membuat wajah Soomin merona seketika. Antara malu dengan senang bukan kepalang. Diam-diam, gadis itu menarik sudut bibirnya hingga melengkung sempurna.

“Soomin-ah, aku mencintaimu.”

“Ye?” Soomin membulatkan matanya, terkejut dengan pengakuan ―yang dirasanya― tiba-tiba dari sang Pangeran.

“Kau ini!” Baek Hyun menghimpit kepala Soomin dengan tangannya, membuat si empunya kepala berteriak manja.

“Jangan membuat aku harus mengulangi perkataanku! Aku, sedang melamarmu sekarang.”

“Ye? Melamar?”

Tapi itu adalah kejadian satu tahun yang lalu, saat usia mereka sama-sama menginjak tahun ke-18. Karena faktanya, seorang pangeran tidak pernah bisa menikah dengan seorang gadis biasa. Istana, sudah memilihkan calon pendamping hidup yang ―menurut mereka― terbaik bagi sang Pangeran yang akan meneruskan tahta Kerajaan Korea. Seorang gadis, puteri dari Sekretaris Kerajaan yang dihormati, Yi Hwan namanya. Ya, Yi Hwan lah yang terpilih menjadi istri Pangeran Baek Hyun. Bukan Baek Soomin, seorang gadis miskin.

Cinta tak pernah bisa dipaksakan. Meski sang pangeran memberi perhatian yang sangat berarti bagi istrinya, cintanya tak pernah berpaling sedikitpun dari sosok Soomin. Hanya Soomin lah yang mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya, hanya Soominlah, gadis yang mampu membuatnya merasakan apa itu cinta.

“Yang Mulia, apakah Yang Mulia percaya reinkarnasi?”

Soomin menyandarkan kepalanya di dada Baekhyun. Selain selimut berwarna merah gelap yang menyelimuti tubuh mereka, tak ada kain-kain lain yang melekat di tubuh dua insan berbeda jenis kelamin ini. sisa-sisa peluh masih terlihat membasahi wajah dan tubuh mereka. Baekhyun mendekap Soomin erat, tak ada alasan baginya untuk berhenti mencintai wanita itu, tak ada, takkan pernah ada.

“Kenapa membicarakan hal yang tidak-tidak?” tanya Baekhyun sembari mengerutkan keningnya.

“Tidak,” Soomin menggenggam erat tangan Baekhyun,

“Aku hanya ingin Yang Mulia percaya, bahwa meski aku dilahirkan berkali-kali, lelaki yang ku pilih sebagai takdirku tetaplah dirimu…”

“Jika aku harus hidup sebagai orang lain di masa depan dan tak pernah bisa menemukan Yang Mulia, maka akan lebih baik rasanya jika aku tak pernah dilahirkan kembali dan hanya hidup satu kali saja sebagai Baek Soomin yang dicintai seorang lelaki tampan bernama Baek Hyun.”

Ya, seperti itulah cinta. Membuat mereka seakan buta. Terus bercinta tanpa peduli seseorang di istana mungkin tak kuasa lagi menahan kesakitannya.

Malam itu, setelah bercinta dengan sang Pangeran di siang harinya, Soomin mengeluh sakit pada ayahnya. Wajahnya memang pucat, itu sebabnya sang ayah benar-benar khawatir dan segera memanggil seorang tabib yang dikenalnya dengan sangat baik.

“Kau hamil, Nona.” Begitulah kata si tabib, membuat senyuman di bibir Soomin merekah bak bunga yang bermekaran di musim semi. Hamil bukanlah sesuatu yang harus membuat Soomin terkejut, bercinta ratusan kali dengan Pangeran Baek Hyun mungkin cukup menjadi alasannya untuk tidak takut pada apapun yang akan terjadi di masa depan.

“Segeralah beritahu ayah dari bayimu ini, dia pasti akan sangat senang mendengarnya.”

Hari sudah larut, tapi Soomin masih tetap terjaga. Sibuk merangkai kata untuk ia tulis di secarik kertas yang nantinya akan ia kirimkan pada ayah dari janin yang dikandungnya, ya, Pangeran Baek Hyun.

Yang Mulia… ini aku, kekasihmu.

Maafkan aku yang telah lancang mengirimkan surat ini untukmu.

Yang Mulia, kau tahu? Aku sangat mencintaimu. Rasanya sudah tak terhitung berapa kali aku mengatakan kata-kata itu, mungkin Yang Mulia saja sudah bosan untuk mendengarnya.

Cinta yang kita miliki, sudah tak terukur lagi betapa besarnya bukan? Aku harap, cinta kita tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun itu, apalagi, saat ini, ada nyawa lain di dalam diriku. Buah cinta kita.

Semalam, ayah mengkhawatirkan keadaanku yang terlihat tak sehat. Ayah memanggilkan seorang tabib untuk memeriksa kondisiku. Tapi ternyata, aku tidak sakit. Tabib itu berkata aku akan segera memiliki seorang bayi, dan tabib itu juga menyarankanku untuk segera memberitahu ayah dari bayi itu. sudah kulakukan sekarang.

Yang Mulia, aku hamil.

Aku sama sekali tak berharap banyak… yang aku harapkan, Yang Mulia bisa terus ada di sisiku sampai kapanpun dan memberiku cinta yang tanpa akhir. Aku hanya menginginkan itu.

Yang Mulia, aku mencintaimu. Sejak awal adalah dirimu hingga selamanya tetap dirimu, saat senang ataupun sedih aku akan selalu mencintaimu.

Dari kekasih yang selalu merindukanmu. Baek Soomin.

♥♥♥

Yoora terduduk lemas, tak sanggup menahan airmatanya yang terus mengalir seakan tanpa henti. Kenapa ia baru menyadari hal ini? kenapa ia tak menyadari kalau sejak awal seorang lelaki bernama Baekhyun diam-diam selalu memperhatikannya? Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Di saat seorang lelaki bernama Baekhyun itu terus setia menantinya terlahir kembali ke dunia, ia malah sibuk mencintai lelaki lain. Apa seperti itu balasan yang pantas untuk seorang lelaki yang dengan setia menunggu kembali cintamu hingga 176 tahun?

“Chogi, Baekhyun…-ssi.”

“Ne?”

“Maaf jika pertanyaanku ini tidak sopan, tapi kenapa kau terus memandang ke arahku? Bahkan saat perkenalan tadi, kau hanya memandangiku tanpa mau memperkenalkan dirimu sendiri. Apa, ada yang salah denganku?”

“Jangan bertanya apapun padaku, aku tidak akan menyukainya.”

….

“Kau mau jalan-jalan keluar?”

“Ye?”

“Kau tetap sama.”

“Ne? Baekhyun-ssi?”

“Anio. Aku bertanya, apa kau mau jalan-jalan keluar?”

“Sudah lebih dari jam 8 malam, apa tidak apa-apa kalau kita pergi keluar? bukankah sebaiknya kita di rumah saja?”

“Jangan bertanya padaku, aku tidak suka itu.”,

“Lagipula, aku yang lebih dulu bertanya padamu. Kau, cukup menjawabnya saja, Yoora.”

“Ah? Ne, jhweoseonghaeyo.”

“Kau tidak akan menjawabnya?”

“Ye?”

“Pertanyaanku, yang tadi…”

“Anggap saja ini, sebagai tawaran kencan…”

Eotte?

….

“Jangan! Jangan! Chanyeol-ssi!”

PLAK!

“Bukankah sudah ku bilang untuk menyimpan teriakanmu?! Itu sangat menggangguku!” bentaknya.

“YAK! CHANYEOL LEE!”

“B-b-baekhyun…ssi.”

“Pergilah!”

“Kalau kau melangkahkan kakimu selangkah saja, itu berarti kau tidak patuh padaku!”

“Diam kau!”

“APA YANG KAU TUNGGU?! CEPAT KELUAR!”

….

“Yoora! bisa kau dengar aku? Jawab aku!”

“Katakan sesuatu agar diriku bisa sedikit tenang!”

“B-Baek…hyun-ssi.”

“Mian… mianhae… jeongmal mianhae, Yoora. Aku seharusnya bisa lebih menjagamu. Mian.”

“Mianhae… untuk meninggalkanmu sendirian, untuk tidak pernah mengkhawatirkanmu, untuk membawamu ke dalam kesulitan seperti ini. Jeongmal mianhae.”

“Kenapa kau selalu menyelamatkanku?”

….

“Baekhyun-ah, giliranmu.”

“Wah! Hanbok!”

“Indah sekali!”

“Akan ku anggap itu sebagai dress.”

….

“Aku tahu Baekhyun Hyung mencintaimu, tapi ku pikir, dia hanya menjadikanmu sebagai pelampiasan rasa kesepiannya selama kurang lebih 176 tahun, karena selama itu, dia tidak pernah terlihat memiliki wanita di sampingnya. Terbayang bukan olehmu betapa kesepiannya Baekhyun Hyung? Dia tidak benar-benar mencintaimu.”

….

“….Tapi aku masih ingat sekali, Baekhyun masih saja kekanak-kanakan walaupun ia sudah dijodohkan dengan putri sekretaris kerajaan. Menurut kabar burung yang kudengar samar-samar, Baekhyun ternyata jatuh cinta pada gadis lain. Gadis itu……”

….

PRANG!

“Hyung! Gwenchanayo?!”

“Kita harus mencucinya lebih dulu.”

“Aku tidak akan mati hanya karena luka kecil seperti ini.”,

“Kau… benarkah itu kau?”

“Kau memang tidak akan mati karena luka kecil itu, tapi bayangkan saja apa yang akan terjadi jika luka kecil itu terus kau biarkan tanpa kau obati. Seharusnya kau lebih tahu tentang itu, Oppa.”

“Biarkan gadis itu mengobati luka di tanganmu, Baekhyun-ah. Dia tahu apa yang harus dia lakukan.”

….

“Sudah selesai.”

“Dia tidak akan pernah mengkhianatiku.”

“Oppa, kenapa kau melakukan itu? lihat sekarang, kau melukai tanganmu sendiri.”

“Kau mencintai Suho Hyung? Chanyeol? Dio? Atau Sehun?”

“Kenapa…”

“Jangan bertanya apapun padaku, aku tidak suka itu.”

“Baiklah, aku tahu kau tidak pernah suka berumit-rumit untuk menjawab pertanyaan dari orang lain. Tapi kau tahu, Oppa? Kau egois.”

“Egois? Ya, itu adalah aku. Lalu? Jawab saja pertanyaanku!”

“Jangan bertanya apapun padaku, aku tidak suka itu.”

….

“Baekhyun Oppa?”

BREG!

“Soomin-ah… aku merindukanmu.”

….

“Haruskah aku mengulang cerita yang kalian buat selama 9 jam itu?”

….

“Kim Yoora…”

“Aku benci memiliki kekuatan seperti ini. Aku benci mendengar apa yang tak bisa orang lain dengar, aku benci melihat apa yang tak bisa orang lain lihat. Aku membenci kekuatanku sendiri.”

“Kau tahu kenapa? Karena aku bisa mendengar kata hati dan membaca pikiran lelaki lain yang mencintaimu, karena aku bisa melihat apa yang sedang kau lakukan bersama lelaki lain, dan itu, membuatku terluka.”

“Aku terluka. Aku terluka saat menyadari bahwa penantianku selama ini ternyata berujung sia-sia.”

“Aku meminta Tao untuk kembali membawaku ke masa lalu, tapi semua itu tetap saja tidak bisa merubah apapun. Jika aku bisa, aku ingin kembali dan mati saat itu juga. Aku tidak ingin menjadi monster abadi paling menakutkan di muka bumi ini kalau pada akhirnya aku tidak bisa membawamu kembali.”

“Ku mohon… jangan mencintai lelaki lain. Jangan berikan hatimu pada lelaki lain. Cukup aku, cintai aku saja.”

“Waeyo?”,

“Kenapa aku tidak boleh mencintai lelaki lain dan hanya boleh mencintaimu?”

“Ternyata aku memang bodoh,”

“Bertanya pada seseorang yang sama sekali tidak akan memberikan jawabannya.”

“Kenapa aku harus jatuh cinta pada lelaki egois seperti dirimu kalau lelaki lain saja bisa memberiku segalanya yang ku butuhkan?”

“Jika memang tak ada lagi ruang di hatimu untukku, mungkin ini adalah akhir dari ceritaku. Dan aku, tak pernah ingin melanjutkannya lagi.”

“Aku mencintai Chanyeol, dan akan tetap mencintainya.”

PRANG! PRANG! PRANG!

“Aaaaaaaaaargh!”

“Hyung! Hentikan, Hyung!”

….

“Aku mencintaimu.”,

“Aku terlalu naif untuk menyadari kalau kau bukanlah bagian dari takdirku. Aku terlalu naif untuk mengakui kalau ada lelaki lain yang sudah memilihmu ke dalam takdirnya jauh lebih dulu daripada aku. Aku bahkan terlalu naif untuk menepati janjiku sendiri dan malah menganggap janji itu seakan tak pernah ada.”

….

“Hhh…hh…”

“Soomin-ah…hhh… Soo…min…”

“Hhh..Soom..min… Soomin-ah…”

“Ne, aku di sini.”

“Jangan pergi..hhh… jangan tinggalkan aku…”

“Aku tidak akan pergi, aku tidak akan meninggalkanmu… tapi kau harus bangun, jangan biarkan aku pergi tanpa sepengetahuanmu. Bangunlah…”

….

“Oppa, jangan banyak bicara dulu, arra? Kau pasti kuat, aku percaya itu.”

“Yoora…”

“Aku…. tidak akan mati… kau tidak perlu…. mengkhawatirkanku.”

“Ne,”

“Kau tidak akan mati.”

“Oppa?”

“Kenapa kau selalu menyelamatkanku?”

….

“Oppa… jika saja kau bisa membaca pikiranku, jika saja kau bisa mendengar kata hatiku, kau pasti akan tahu betapa bersyukurnya aku bertemu dengan lelaki sepertimu. Aku bahagia, hanya berdiri tepat di belakangmu dan memandangi punggungmu saja, itu sudah cukup membuatku bahagia. Entah kenapa, aku sendiri tidak mengerti.”

Tao berlari menghampiri Yoora yang terduduk lemas, ia membawa gadis itu menjauh dari Baekhyun dan Soomin. Yoora menangis tersedu-sedu di pelukan Tao. Pasti inilah alasannya kenapa seorang Baekhyun Lee selalu bisa menjadi penyelamat bagi Kim Yoora, mungkin ini juga alasannya kenapa seorang Kim Yoora bisa langsung merasa nyaman jika berada di dekat Baekhyun Lee. Mereka terikat, cinta mereka masih ada.

“Aku melakukan kesalahan… aku melakukan kesalahan.”

“Aku seharusnya menyadarinya sejak awal, aku seharusnya bisa menjaga cintaku hanya untuk Baekhyun Oppa… aku gadis yang idiot, aku gadis yang bodoh, aku tak bisa memegang kata-kataku sendiri… aku benar-benar bodoh…” Yoora tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Tao hanya diam, memeluk Yoora erat, berharap pelukan dinginnya itu mampu menenangkan Yoora walau sedikit saja.

Para pengawal Pangeran Baek Hyun datang dan menemukan Pangeran mereka menangis memeluk wanita yang wajahnya pucat pasi tak bernyawa lagi. Baekhyun yang menyadari kehadiran para pengawalnya pun mulai mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha menahan amarahnya yang ia rasa hampir meledak, berambisi untuk menangkap siapapun yang telah berani membunuh kekasih tercintanya.

“Siapapun! Siapapun itu! tangkap dia hidup-hidup dan bunuh dia di hadapanku! Jika kalian menangkapnya dalam keadaan mati, kalian akan ikut mati bersama bajingan itu! kalian mengerti?!!”

“Mengerti, Yang Mulia!” jawab para pengawal itu serempak. Seorang pengawal mengerenyitkan dahinya, melihat seorang lelaki tinggi tegap yang tak dikenal berdiri sendiri di sudut rumah itu.

“Yak! Siapa kau?!” Tao dan Yoora bergidik terkejut, para pengawal itu ternyata bisa melihat mereka.

“Tangkap dia!”

Tao menarik tangan Yoora dan menggenggamnya kuat-kuat, berlari secepat yang mereka bisa, berusaha menghindar dari kejaran para pengawal istana. Langkah kaki mereka membawa mereka lari ke sebuah hutan, sementara di belakang mereka para pengawal istana yang tak terhitung jumlahnya terus mengejar mereka sebagai kepatuhan terhadap sang Pangeran. Mereka, dikejar sebagai pembunuh kekasih Pangeran.

Oppahh…. kenapa mereka terus… mengejar kita?”

“Aku, hanya aku yang mereka kejar…” balas Tao sambil terus berlari.

“Mereka berpikir akulah pembunuh Baek Soomin.”

SRET! BRUK!

“Tao Oppa!

Sebuah anak panah berhasil melesat menusuk dan menembus tepat di kaki kiri Tao, membuat lelaki itu lumpuh dan tak bisa berlari seketika. Yoora menangis panik, tak tahu harus berbuat apa sedangkan para pengawal istana yang mengejar mereka terus bergerak semakin dekat.

“Yoora…” panggil Tao dengan sisa-sisa suaranya yang terdengar serak.

“Ne?”

“Cium aku…”

“Ye?”

♥♥♥

Preview Chapter berikutnya….

“Kai-ya! Cepat bawa mereka jauh-jauh dari sini!” ucap Suho yang juga berusaha keras melawan nafsunya.

Mi-mian, Hyung… Aku juga tidak bisa menahannya… darah itu…”

PLAK!

Suho menampar pipi Yoora keras-keras,

“Aku tidak pernah berkencan dengan perempuan jalang.”

Tangan hangatnya menyentuh pagar pembatas balkon yang dingin, wajahnya perlahan tertunduk.

“Apakah aku benar-benar Baek Soomin? Gadis yang sangat dicintai Baekhyun Oppa, gadis yang dirindukan Baekhyun Oppa selama ini, aku kah gadis itu?”

“Kau… benarkah itu kau?”

Yoora membaringkan tubuhnya di samping Tao, membiarkan setiap gerakan lelaki itu yang kini sudah menindihnya. Tao melumat bibir Yoora kasar, terkadang menggigit-gigit bibir bawah gadis itu tanpa membuatnya berdarah. Mata Yoora terpejam.

“Yoora-ya… apa kau mencintaiku?”

“Ye?”

“Yak, Chanyeol Lee! Apa yang kau lakukan?!” bentak Baekhyun pada Chanyeol, lensa kuningnya menyala-nyala seketika.

“Berisik!” balas Chanyeol menatap Baekhyun berani.

“Chanyeol Oppa, ada apa denganmu?” tanya Yoora yang tak enak hati pada Baekhyun.

“Lepaskan dia!”

Bulan purnama di luar sana mulai keluar dari selimut awan dan menampakkan warna merah layaknya darah. Vampire-vampire yang bukan keturunan keluarga Lee di luar sana memandang agung bulan purnama merah tersebut, dan tunduk menghormati kekuasaan keluarga Lee atas langit bumi Asia.

“Aku sepertinya tidak akan bisa melupakan saat di mana aku ikut bernyanyi dan menari bersama kalian.”

Dahi saudara-saudaranya itu mengkerut, bingung.

“Kenapa kau berkata seolah-olah kau tidak akan bernyanyi dan menari lagi bersama kami?”

Gadis itu terdiam saat melihat Suho sedang mencabut angka 10 dari jam dindingnya dengan mata berair.

Oppa… apa yang kau lakukan?”

Kalau angka 2 dan 3 yang hilang itu adalah untuk Luhan dan Kris, lalu angka 10?

“Tidak mungkin…” Yoora tiba-tiba saja menitikkan airmatanya.

― Sadistic Night : Chapter 8 END ―

maaf yaa chapter 8-nya baru bisa update sekarang, belakangan ini banyak banget ulangan + kegiatan di sekolah 😥 bentar lagi FF ini juga selesai huweee 😥 kalau masih banyak yang minat sama kelanjutan FF ini, please send your comment below! :’) kalo bisa, kasih komentar yang membangun yaa, lafyuu ders({}):*

Iklan

5 pemikiran pada “[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 8

  1. Hahha..itu fotonya yg di rooftop prince…okehlahh rapopo..ya ampun ternyata baekhyun rakus jga d masa lampau..hahhaa..kasian istrinya ya ampun hrs sabar bgt tuh…ya ampun yoora knp tawarannya gtu cba..euu..kasian baekhyun..okeh next yah thor..fighting❤❤❤

    Suka

  2. Gilaaaakkkk sumveh makin seru ajaa >.< Nyesek gueeee bacanyaa Baekhyun segitunya nungguin Soomin reinkarnasi wkwk tapi emg dia bener2 cinta banget sma Soomin mkanya dia rela nungguin Reinkarnasinyaa Soomin ampe 179thn edaaaaannnn salut ama dia wkwk.aku gak nyangka banget kalau ceritanya bakalan ada sangkut paut nya ama masa Joseon dan reinkanasi jgaaa. dan ittuuuu serius seruuuuu banget '-'Soalnya pasti Putri Mahkota/Ratunya di cuekin,kaga d cintai hahaha 😄 Wahhhh Tao seriusan kena panah? apa dia bneran terluka? jadi makin penasaran banget dgan kelanjutannyaa thorrr apalgi tuh Tao ama Yoora tuh ngapain(?) wkwk

    Suka

  3. Ping balik: [EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 9 | ANSFanfiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s