[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 9

[Fanfiction] SADISTIC NIGHT

sdstcnght1Previous Chapter

― Sadistic Night : Chapter 9 ―

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Main Cast :

Kim Yoojung as Kim Yoora & Baek Soomin

Byun Baekhyun as Baekhyun Lee

Park Chanyeol as Chanyeol Lee

Oh Sehun as Sehun Lee

Supported Cast :

Kim Joonmyun as Suho Lee || Do Kyungsoo as Dio Lee || Huang Zitao as Tao Lee || Kim Minseok as Xiumin Lee || Kim Jongin as Kai Lee || Kim Jongdae as Chen Lee || Zhang Yixing as Lay Lee || Lee Pace as Pace Lee

Genre : AU, Angst, Brothership, Drama, Fantasy, Gore, Little bit comedy(?), Romance, Sad

Rated : R

Length : Chaptered/Series

Disclaimer : Semua cast adalah bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya untuk kepentingan cerita. Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari berbagai film dan anime yang bergenre fantasy. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

Aku tidak bisa menolong diriku sendiri yang mencintaimu, walaupun aku tahu bagaimana rasa itu akan membuatku terluka pada akhirnya…

 

♥♥♥

“Cepat cium aku sebelum aku mati di jaman ini!” bentak Tao. Yoora dengan ragu meraih bibir Tao dengan bibirnya, melumat bibir lelaki itu lembut, berciuman di tengah kesakitan Tao. Saat mata mereka berdua terpejam, suara kegaduhan teriakan para pengawal istana itu perlahan berganti menjadi keheningan yang menenangkan.

Mereka sampai, kembali ke jaman di mana seharusnya mereka berada. Tahun 2015, yang jaraknya 176 tahun dari tahun 1839 namun dengan kekuatan yang Tao miliki, mereka hanya memerlukan waktu sekejap untuk pergi dan kembali.

Oppa…” Yoora melepas tautan bibirnya saat menyadari ke-9 vampire keluarga Lee sudah berdiri di sekelilingnya, termasuk Baekhyun yang entah sejak kapan terbangun dari komanya

“Lanjutkan saja, setidaknya dengan berciuman bisa mengalihkan rasa sakit yang dirasakan Tao. Aku akan mencabut panah di kakinya dan mengobati lukanya.” Ucap Xiumin.

Yoora terdiam, lebih terlihat berpikir. Beberapa saat kemudian, ia melihat Xiumin berusaha mencabut panah di kaki Tao tanpa memberi Tao obat bius terlebih dahulu, setetespun. Jeritan dan rintihan Tao terdengar mengisi setiap sudut kamarnya, membuat saudara-saudaranya yang lain memandang tak tega.

Oppa, kenapa kau tidak membiusnya? Itu akan benar-benar membuatnya kesakitan!”

Gerak tangan Xiumin terhenti,

“Lalu, bukankah kau kuperintahkan untuk menciumnya lagi huh?! Itu bisa mengurangi rasa sakitnya! Kalau kau tidak melakukannya sekarang juga, dia akan tetap tersiksa karena aku tetap akan mencabut panah yang masih menancap di kakinya ini!”

“Akhhh… Yoorahh cepath! Cium aku… akh! Cepath!” jerit Tao tak tahan.

Yoora menatap Baekhyun, mata mereka yang berbeda warna itu akhirnya kembali bertemu setelah sekian lama. Seolah mengerti dengan keraguan yang ada dalam benak gadis itu, Baekhyun memperlihatkan senyumannya, meyakinkan Yoora.

Gwenchana… Tao tidak mempunyai maksud lain… dia membutuhkanmu.” Jelas Baekhyun.

Dengan kata-kata Baekhyun itu, Yoora kembali mencium Tao, membiarkan Tao berkuasa atas bibirnya untuk sekedar melupakan rasa sakit yang dirasakannya. Xiumin melanjutkan tugasnya, mengobati luka Tao setelah berhasil mencabut anak panah dari masa joseon itu.

“Obat biusku habis, tidak mungkin aku membelinya sekarang dan tidak mungkin pula kami membawa Tao ke rumah sakit. Mungkin mereka akan menganggap Tao tidak bisa diselamatkan karena jantungnya yang tak berdetak lagi dan berita Tao akan langsung menjadi hot news di media-media bodoh itu.” ucap Xiumin sambil terus menusukkan jarum untuk menjahit luka Tao setelah lebih dulu membersihkannya dengan cairan alkohol.

Dalam ciumannya, ketika Tao merasa benar-benar kesakitan, Tao akan menggigit bibir Yoora yang ia lumat hingga berdarah. Lelaki itu memang tergoda akan bau darah Yoora, tapi ini bukan saat yang tepat untuk menikmati darah gadis manusia. Bukan, bukan di saat ia bersakit-sakit seperti ini.

Melihat darah yang menetes dari sudut bibir Yoora membuat tenggorokan ke-10 vampire di kamar Tao itu mengering seketika. Mereka semua sama-sama butuh dibasahi.

“Ekhm….” Sehun berusaha membasahi tenggorokannya dengan menelan air liurnya berkali-kali, tapi tak berhasil. Tenggorokannya membutuhkan cairan kental berwarna merah berbau anyir yang disebut darah.

Hyunghh… aku tidak tahan lagi.” vampire termuda itu melangkah perlahan mendekati Yoora yang masih berciuman dengan Tao, tapi Baekhyun dengan cepat mendorong adiknya itu menjauh dari Yoora.

“Aku juga…” lensa mata Chanyeol menyala, terbutakan oleh bau darah yang sedaritadi menggoda sistem pernafasannya.

“Kai-ya! Cepat bawa mereka jauh-jauh dari sini!” ucap Suho yang juga berusaha keras melawan nafsunya.

Mi-mian, Hyung… Aku juga tidak bisa menahannya… darah itu…”

“Diamlah! Kalian semua mengganggu konsentrasiku!” amuk Xiumin, ia masih sibuk merapikan jahitan di luka Tao.

“Siapa saja, asal jangan Yoora…” ucap Baekhyun tiba-tiba.

Sehun tertawa, lebih seperti mencibir.

“Dia bukan hanya milikmu, Hyung! Berhentilah bersikap seolah-olah kau yang paling benar di sini! Mari kita nikmati saja darahnya bersama-sama.”

“Berhenti bicara omong kosong di depanku, atau kurobek tenggorokanmu.”

Tangan Dio mengepal,

“Dasar jalang, sudah kukatakan padamu untuk pergi dari tempat ini, tapi ternyata kau sama sekali tak mendengarkanku.” Gumamnya yang terdengar jelas di telinga Yoora dan Baekhyun. Yoora melepas ciumannya dan menunduk, menyisakan Tao yang merintih kesakitan. Tangan Baekhyun mengepal kuat, siapa sebenarnya yang Dio panggil jalang?

“Aku memang jalang…” airmata Yoora menetes, bibirnya terlihat bengkak dengan sisa darah yang mulai mengering di sudut bibirnya.

“Yak! Kau ini apa-apaan?!” bentak Baekhyun.

“Aku pernah hampir diperkosa, berciuman berkali-kali dengan lelaki yang berbeda, dan bahkan sekarang, aku sudah berani menawarkan tubuhku sendiri sebagai imbalan. Kurang apa lagi untukku disebut jalang?”

Baekhyun terdiam, bersamaan dengan bungkamnya ke-9 saudaranya yang lain.

“Setelah Tao, kalian boleh menikmati tubuhku sepuas hati kalian, tidak apa-apa, aku tidak akan lupa kalau aku adalah seorang perempuan jalang.”

PLAK!

Suho menampar pipi Yoora keras-keras,

“Aku tidak pernah berkencan dengan perempuan jalang.”

“Keluarlah, sebelum mereka benar-benar haus akan darahmu.” Lanjut lelaki itu tanpa menatap Yoora sedikitpun.

♥♥♥

Malam itu, suasana makan malam di keluarga Lee kembali terasa aneh. Setelah Suho dan Baekhyun, kini giliran Tao yang absen dari acara rutin keluarga mereka itu. Tao mengurung dirinya di kamar, tak ingin ada seorang pun yang melihat dirinya dalam kondisi cacat. Pandangannya kosong, seolah tak mampu untuk berharap apa-apa lagi. Kakaknya, ya, Xiumin lah yang memberitahunya secara langsung, kalau dirinya tidak akan bisa berjalan lagi dengan kondisi kaki yang terluka parah seperti itu. Ia cacat sekarang.

“Yoora-ya, kau tidak memakan makananmu?” tanya Pace yang kini mengisi tempat duduk jauh di depan Yoora yang semula terkosongkan. Gadis yang ditanya itu tak menjawab, malah sibuk memain-mainkan sendok yang dipegangnya di atas omelette yang sama sekali belum ia makan.

“Ekhm… Yoora… ayah kami sedang bertanya padamu.” Sehun berbisik sambil menyiku lengan Yoora, membuat si empunya lengan otomatis tersadar dari lamunannya.

“Ye? Jhweoseonghamnida.

“Padahal biarkan saja dia, dia memang tidak punya telinga.” Ucap Dio dingin.

“Hentikan, Dio-ya. Jangan memperkeruh suasana.” Balas Suho.

Yoora berdiri dari duduknya, nafsu makannya semakin berkurang setelah mendengar Dio mengumpatnya.

“Kau kenapa, Yoora?” tanya Lay yang sedaritadi memperhatikan gadis itu.

Jhweoseonghaeyo, aku pikir aku butuh istirahat.”

Yoora merapikan kembali kursinya lalu melangkah keluar dari ruangan dengan suasana yang semakin terasa aneh itu. Gadis itu terus berjalan tanpa menyadari seorang lelaki tampan di belakangnya juga tengah berjalan mengikuti ke mana pun langkah kakinya pergi. Langkah kakinya itu akhirnya membawanya ke balkon yang ada di lantai 3. Angin dingin yang berhembus malam itu seolah menyambut kedatangannya dan kedatangan seorang lelaki yang masih belum ia sadari kehadirannya.

Tangan hangatnya menyentuh pagar pembatas balkon yang dingin, wajahnya perlahan tertunduk.

“Apakah aku benar-benar Baek Soomin? Gadis yang sangat dicintai Baekhyun Oppa, gadis yang dirindukan Baekhyun Oppa selama ini, aku kah gadis itu?”

“Kau… benarkah itu kau?”

Yoora berbalik, mendapati Baekhyun berdiri agak jauh di belakangnya dengan tubuh gemetar dan mata berbinar menanti jawaban. Lelaki itu dengan langkah terburu-buru mendekat dan memegang erat kedua bahu Yoora, menatap gadis itu dengan binar bahagia.

“Kau… Soomin, benarkan?”

“Kau… kekasihku, benarkan?”

“Kau… benar-benar Soomin kekasihku!”

BREG!

Baekhyun memeluk tubuh Yoora erat, melampiaskan seluruh rasa rindunya yang selama 176 tahun membuatnya tersiksa. Yoora memejamkan kedua matanya, perlahan tapi pasti bayangan-bayangan masa lalunya bersama Baekhyun kembali hadir dalam ingatannya tanpa rasa sakit seperti sebelum-sebelumnya. Airmatanya mengalir membasahi pipinya dan juga dada Baekhyun saat menyadari kalau dirinya benarlah reinkarnasi dari Baek Soomin, ‘kekasih’ Baekhyun.

Mian… jeongmal mianhae… karena telah membuatmu menunggu terlalu lama. Mianhae, karena tak menyadari hal ini sejak awal. Mianhae, karena telah membiarkan lelaki lain mendapatkan cintaku yang seharusnya selalu menjadi milikmu… mian… jeongmal mianhae…

“Ssst!” Baekhyun menempelkan telunjuknya di bibir Yoora, tak membiarkan gadis itu untuk terus berkata maaf. Tidak apa, gadisnya sama sekali tidak bersalah. Hanya dengan gadis itu menyadarinya saja, sudah cukup membuat ia bahagia. Penantiannya tidak sia-sia.

“Terimakasih… sudah mengingatku.” Lelaki itu mengecup kening Yoora lembut, ia tak kuasa menahan airmata bahagianya. Soomin, kekasihnya, kini benar-benar telah kembali.

♥♥♥

Oppa… makanlah.” Yoora meletakkan semangkuk sup ayam di dekat ranjang Tao.

Saat ini, Yoora berada di dalam kamar lelaki yang pernah berbaik hati membawanya ke masa lalu Baekhyun, ya, Tao. Lelaki itu tak bergeming sama sekali, ia hanya duduk bersandar pada bantal dengan kedua bola matanya yang terus menatap kosong ke depan.

“Mau kusuapi?” tawar gadis itu. Tao tetap diam.

“Kusuapi saja ya?”

Baru saja gadis itu hendak mengambil mangkuk berisi sup ayam itu, tangan Tao tiba-tiba bergerak melempar mangkuk itu hingga sup ayam yang masih panas itu tumpah dan mengenai rok yang dikenakan Yoora. Panasnya air sup ayam itu mampu membuat paha Yoora seketika melepuh.

“Kau sangat mengganggu.” Tao akhirnya membuka mulutnya dan menatap mata Yoora tajam.

Yoora mengelus-elus pahanya yang melepuh sambil sesekali merintih menahan sakit, ia tidak bisa marah, karenanyalah Tao jadi seperti ini.

“Aku tidak ingin memakan sup ayam yang menjijikkan itu…”

“Aku menginginkanmu sekarang.” Lanjut Tao menyeringai memperlihatkan taring kebanggaannya, membuat bulu kuduk Yoora berdiri seketika.

“Apa yang kudapatkan jika aku bisa membawamu kembali ke jaman itu?”

“Tubuhku.”,

“Kau bisa menikmati tubuhku setelah kau berhasil membawaku ke jaman itu dan kembali ke jaman ini. kau juga, bisa menggigitku di mana pun kau mau.”

Benar, ia sendiri yang telah menjanjikan tubuhnya sebagai imbalan pada Tao. Tapi, haruskah sekarang? Apa ia sudah siap membiarkan Tao menikmati tubuhnya dan menggigitnya di mana pun lelaki itu mau?

“Kau tidak lupa dengan perjanjian kita, bukan?”

“Tidak, aku tidak mungkin lupa.” Balas Yoora cepat.

Gadis itu lalu membuka sebagian kancing bajunya, memperlihatkan dada bagian atasnya yang putih mulus dengan luka bekas tancapan taring Baekhyun di lehernya yang masih jelas terlihat. Ini adalah konsekuensinya, mau tidak mau, siap tidak siap, Yoora harus menerimanya.

Yoora membaringkan tubuhnya di samping Tao, membiarkan setiap gerakan lelaki itu yang kini sudah menindihnya. Yoora dapat melihat lensa kuning pucat Tao yang menyala-nyala dan dapat merasakan deru nafas Tao yang seakan tak terkendali. Tao sudah seperti binatang buas yang sudah tidak sabar ingin menelannya hidup-hidup.

Tao melumat bibir Yoora kasar, terkadang menggigit-gigit bibir bawah gadis itu tanpa membuatnya berdarah. Mata Yoora terpejam. Bibirnya membengkak karena terlalu kuat dihisap Tao, tidak ada cinta di sini, di antara mereka.

Beberapa menit berselang, Yoora merasa Tao berhenti mencumbunya.

Tes! Setetes airmata berhasil jatuh membasahi pipi Yoora, membuat gadis itu spontan membuka matanya dan mendapati Tao yang berlinang airmata di atasnya.

“Dasar bodoh! Bagaimana bisa aku menidurimu jika kakiku cacat seperti ini?! kau pikir aku akan menikmatinya? Tidak! Aku tidak akan bisa menikmatinya jika merasakan keberadaan kaki kiriku saja aku tidak bisa!”

Tao membaringkan dirinya di samping Yoora, lelaki itu benar-benar terlihat frustasi. Yoora yang tak tega melihat Tao seperti itu hanya bisa berusaha menenangkan Tao dengan pelukan hangatnya. Tao menangis di pelukan Yoora, mengeluarkan semua kesedihan yang semula hanya ia pendam sendirian. Sakit, lelaki itu tersiksa.

“Aku tidak lagi mempunyai masa depan, masa depanku sudah berakhir bahkan sebelum aku memulainya. Aku tidak ingin menjadi vampire yang cacat! Vampire-vampire lain di luar sana pasti akan dengan mudah merendahkanku. Aku tidak mau. Aku… ingin lenyap saja untuk selamanya.”

“Kau tidak boleh berkata seperti itu, Oppa. Aku yakin kakimu akan segera sembuh, kau hanya perlu bersabar.” Ucap Yoora lembut.

Mati… mati… mati. Itulah yang ada di pikiran Tao saat ini. Pikirannya terus berkecamuk, memikirkan bagaimana masa depan yang sudah sejak lama ia tata itu akhirnya hancur begitu saja hanya karena satu alasan, ia cacat.

Mati… mati… mati. Kematian kedua.

“Yoora-ya… apa kau mencintaiku?”

“Ye?” Yoora terkejut, kenapa lelaki itu tiba-tiba bertanya seperti itu padanya?

“Jawab saja tidak, jika kau memang tak mencintaiku. Aku hanya butuh jawaban yang pasti.” Lelaki itu kini benar-benar menatapnya, menanti jawaban, tak peduli jawabannya itu sesuai atau tidak dengan harapannya.

Jangan salah paham, Tao tidak sedang mencoba menyatakan perasaannya pada Yoora. Ia hanya ingin tahu, apa selama ini ada seorang wanita yang mampu mencintainya dengan tulus. Ketahuilah, cinta yang tulus akan selalu membawamu menuju kebahagiaan. Tak terkecuali bagi Tao yang merupakan seorang vampire sekalipun.

“Aku hanya menganggapmu sebagai seorang lelaki yang baik yang pernah kutemui, Oppa. Saat di mana aku bersamamu seperti ini, aku seperti bersama dengan kakak laki-lakiku sendiri. Begitu nyaman…”

Tidak ada. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sekarang. Tao tersenyum. Kisahnya cukup sampai di sini.

♥♥♥

Bunyi lembut nada-nada yang dihasilkan dari tutch piano yang ditekan oleh jari-jari lihai seorang pria di kamarnya itu mampu menghipnotis siapapun yang mendengarnya. Memainkan sebuah lagu berjudul Maybe dari seorang pianis handal yang ia kagumi bernama Yiruma, dengan penuh penghayatan, jari-jarinya terus menari lincah di atas tutch piano. Tapi sedetik kemudian, nada-nada itu terdengar sumbang. Suara seorang gadis yang tertawa kecil di belakangnya mampu membuat lelaki itu seketika malu bukan main.

“Yak, Kim Yoora! berhenti tertawa!” ucap lelaki itu yang mulai merasa sedikit kesal karena gadis bernama Yoora itu tak ada puas-puasnya menertawakannya.

“Hehe, mianhae, Oppa.” Yoora duduk di samping Chanyeol, ya, lelaki yang tadi memainkan piano dengan lihai hingga nadanya berubah sumbang tak lain adalah Chanyeol. Lelaki itu sepertinya memang terlahir untuk mencintai musik, tak ada alat musik yang tidak bisa ia mainkan, semuanya bisa ia kuasai dengan cepat walau terkadang masih terdapat kesalahan nada pada permainan alat musiknya.

Oppa terlalu asik menikmati lagunya sampai-sampai tak tahu kalau jari-jari Oppa yang besar-besar itu salah menekan tutch.”

Satu jari Yoora menekan tutch piano yang ada di depannya, sebagai langkah awal sebelum akhirnya kembali memainkan lagu yang tadi dimainkan Chanyeol dengan kemampuannya yang ternyata berada di atas rata-rata Chanyeol. Chanyeol terdiam, lebih tepatnya terkagum-kagum akan kemampuan Yoora. Tangannya perlahan menyentuh tangan Yoora, membuat gadis itu seketika menghentikan permainan pianonya. Sentuhan tangan Chanyeol di tangan Yoora perlahan berubah menjadi genggaman yang begitu erat. Mata mereka saling bertatap untuk beberapa detik sebelum akhirnya bibir mereka saling bertautan dan saling memberi kehangatan satu sama lain.

Oppa? Apa suara piano yang kudengar itu berasal dari sini? Kau yang memainkannya?”

Chanyeol tersadar, Yoora yang bermain piano di sampingnya dan berciuman dengannya tadi ternyata hanya ada dalam khayalannya saja. Karena pada kenyataannya, Yoora yang asli sedang berdiri di ambang pintu kamarnya dan bertanya apa suara piano yang baru saja gadis itu dengar berasal dari kamarnya ini? Haha, menggelikan sekali.

“Ah? Ne.” Lelaki itu tersenyum paksa,

Waeyo? Apa permainan pianoku membuat istirahatmu terganggu?”

“Boleh aku masuk?”

“Tentu.”

Jawaban Chanyeol seakan menjadi lampu hijau bagi Yoora untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Chanyeol untuk pertama kalinya semenjak ia tinggal di rumah ini. Sebuah kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar Suho, suasana yang sebenarnya sama saja dengan kamar lainnya, hanya yang membuatnya terasa sedikit berbeda adalah karena adanya sebuah piano di tengah-tengah kamar lelaki ini.

“Aku sama sekali tidak terganggu, Oppa. Malahan saat mendengar permainan piano yang tadi itu, aku jadi merasa seperti dinyanyikan lagu pengantar tidur.” Ujar gadis itu.

“Benarkah?” tanya Chanyeol, matanya terus mengikuti ke mana Yoora melangkah. Pertanyaannya itu hanya dijawab oleh anggukkan semangat Yoora.

“Kalau begitu, aku tidur di sini saja ya? Sepertinya mendengar Oppa bermain piano akan membantuku untuk cepat tertidur, hehe.”

“Ye?” Yoora? Tidur? Di kamarnya?

Chanyeol meneguk ludahnya sendiri.

“Itupun kalau Oppa tidak keberatan berbagi ranjang denganku dan memainkan beberapa lagu sampai aku tertidur.”

Lelaki itu mengangguk setuju, tak keberatan sama sekali. Melihat Yoora kembali tersenyum lebar di depannya membuat ia begitu bahagia. Cintanya pada Yoora, sudah semakin dalam rasanya. Sulit, sangat sulit untuk menarik cinta itu kembali.

Yoora berjingkrak-jingkrak kegirangan, ia langsung membanting tubuhnya sendiri ke ranjang Chanyeol. Hangat, ranjang Chanyeol hangat sekali.

“Yoora-ya… maafkan aku.”

Chanyeol menundukkan kepalanya, teringat betapa bodohnya ia saat itu… saat ia mengajak Yoora untuk bertemu di koridor dekat kelas etika 5 waktu itu… ia benar-benar bodoh.

―flashback―

“Dio-ya…” panggil Chanyeol pelan pada Dio yang hendak masuk ke kelas. Lelaki yang dipanggilnya itu berbalik, menatap orang yang memanggilnya.

Wae?

“Bisa kau sampaikan sesuatu pada Yoora?”

“Apa?”

Chanyeol tersenyum, Dio memang bisa diandalkan.

“Temui aku di koridor di dekat kelas etika 5, aku akan menunggunya. Kuserahkan padamu. Gomawoyo, Dio-ya.”

Dio tidak berkata apa-apa lagi, ia langsung meninggalkan Chanyeol yang terus tersenyum seperti orang gila.

Chanyeol lantas berlari menuju tempat di mana ia akan menunggu Yoora, ya, koridor di dekat kelas etika 5. Lelaki itu menyandarkan dirinya di dinding koridor yang lumayan sepi, tapi baru saja beberapa saat ia menikmati khayalannya bersama Yoora, seorang guru kelas etika yang sudah menjadi guru langganannya itu lewat di depannya dengan beberapa tumpuk buku tebal ―yang sepertinya buku etika― di tangannya.

BRUK!

Tumpukan buku yang dibawa guru itu pun jatuh berserakan di lantai. Chanyeol yang merasa kasihan pun membantu guru berkumis putih itu memunguti dan merapikan kembali buku-bukunya.

Seonsaengnim, gwenchanayo?”

Pria yang wajahnya dipenuhi kerutan akibat usianya yang mulai menua itu tersenyum. Tidak biasanya. Tidak biasanya guru itu menampilkan senyuman di depan Chanyeol, biasanya guru itu selalu terlihat menakutkan sehingga siapapun yang masuk ke kelas etika akan segan ―mungkin karena takut― padanya.

“Kau mau membawa buku-buku ini ke mana?”

“Ye?”

Chanyeol mengambil alih buku-buku berat itu, menyisakan satu buku yang lebih ringan untuk dibawa oleh gurunya.

“Aku siap mengantarkan buku-buku ini sampai ke tempat tujuan!”

Tingkah Chanyeol membuat guru yang dihormatinya itu tertawa, guru itu seketika merasa bahwa dirinya sudah berhasil mendidik etika Chanyeol dengan baik. Chanyeol akhirnya mengantarkan buku-buku itu sampai ke ruang guru, tempat di mana guru-guru pengajar yang sebagian besarnya adalah manusia biasa di sekolah malam keluarga mereka itu bebas melakukan aktifitas mereka masing-masing.

Yoora… Yoora… Yoora.

Chanyeol bodoh sekali, bagaimana bisa ia tiba-tiba melupakan pertemuannya dengan Yoora sebegitu mudahnya? Padahal ia sendiri yang mengajak Yoora untuk bertemu lewat perantaraan Dio.

“Dasar bodoh!” hardiknya pada dirinya sendiri dalam hati.

Ia berlari secepat mungkin ke koridor di dekat kelas etika 5, berharap ia masih bisa melihat Yoora yang setia menunggunya di sana. Ia menghembuskan nafasnya gusar, gadis itu sama sekali tak terlihat sejauh matanya memandang. Apa Yoora tidak datang? Ataukah gadis itu sudah datang, tapi karena terlalu lama menunggunya, gadis itu kemudian pergi begitu saja? Chanyeol terlihat berpikir keras.

Ia berlari, lagi. Mungkin saja, Yoora sedang duduk manis di dalam kelas sekarang, pikirnya, lagi.

“Apa yang terjadi?” kaki Chanyeol berhenti berlari saat mendapati ke-8 saudaranya berkumpul di depan kelasnya dengan menampilkan mimik wajah yang khawatir, sementara dirinya yang tak tahu apa-apa hanya bisa menanti jawaban mereka yang sepertinya tak mempedulikan kehadirannya.

“Kai-ya, ada apa dengan seragammu? Apa yang telah kau lakukan?” tanya Chanyeol serius saat melihat seragam dan wajah Kai dipenuhi cipratan darah yang baunya tak tercium oleh indera penciumannya.

Dio menatapnya dengan tatapan dingin yang menusuk,

“Baekhyun Hyung terluka parah saat menyelamatkan Yoora yang dengan bodohnya memasuki wilayah vampire kelas C, dan Kai berhasil membawa Baekhyun Hyung dan Yoora ke rumah setelah memelintir kepala sebagian besar vampire kelas C hingga putus.”

DEG!

Tidak. Itu semua, tidak mungkin terjadi karena kesalahannya kan? Semua itu bukan kesalahannya kan?

“Sudahlah. Cepat kemari, Chanyeol Lee! Kita harus segera berteleportasi ke rumah untuk melihat keadaan Baekhyun!” bentak Xiumin.

Lelaki yang sudah gemetar luar biasa itu akhirnya hanya bisa menuruti perkataan saudara-saudaranya yang lain yang juga akan berteleportasi dengan menggunakan kekuatan Kai, menembus beberapa ruang dari satu titik ke titik lain hanya dalam sekejap mata.

Oppa?

“Kenapa kau selalu menyelamatkanku?” Chanyeol melihat gadis itu menunduk dengan pipi yang basah. Ia juga melihat tubuh tak berdaya Baekhyun yang dipenuhi luka bertelanjang dada di depan mata gadis itu.

“Menyingkirlah!” Xiumin mendorong kasar tubuh Yoora dan langsung memeriksa keadaan Baekhyun yang sudah tak sadarkan diri.

“Bagaimana ini bisa terjadi?!” Suho murka.

“Bawa keluar gadis itu! aku tidak ingin melihatnya!” lanjut Xiumin sebelum mengambil tindakan lebih lanjut untuk Baekhyun.

Gadis itu terdiam, sepertinya kata-kata Xiumin barusan terdengar begitu menyakitkan untuknya.

“Apa kalian tidak mendengarku?! Kalian ingin aku yang menyeretnya keluar?!”

Kajja!” Sehun menarik paksa Yoora keluar dari kamar Baekhyun.

Chanyeol berdiri mematung, melihat Baekhyun terluka parah, cipratan darah yang ada di wajah Yoora, Kai yang datang tiba-tiba membawa kabar buruk. Semuanya, adalah kesalahannya.

Pabboya… Chanyeol.

―flashback end―

“Seharusnya aku tidak melupakan pertemuan kita waktu itu.”

Chanyeol mengalihkan perhatiannya ke arah Yoora, ia tertawa, gadis itu ternyata sudah lebih dulu terlelap dalam tidurnya entah sejak kapan.

“Apa sebenarnya yang ada dalam dirimu, Yoora-ya? Sampai-sampai aku tidak dapat berpaling sedikitpun darimu. Kau itu gadis manusia yang bodoh, menyebalkan, cengeng, tapi juga seorang gadis yang kuat, berani, dan mudah memaafkan kesalahan orang lain.” Lelaki itu duduk di tepi ranjang, memandangi indahnya makhluk Tuhan yang mampu membuatnya seketika seperti orang gila. Tangannya membelai lembut rambut panjang gadis itu.

“Hei, gadis bodoh… aku mencintaimu.” Bisik Chanyeol dengan suara khasnya tanpa membuat putri tidurnya itu merasa terganggu.

Jari telunjuknya bergerak menyentuh dahi, turun ke hidung, ke bibir, mengusap bibir merah muda itu sebentar, semakin turun, hingga akhirnya sentuhan lembut itu berhenti di dada Yoora.

Kau milikku.

“Dia bukan milikmu…” Baekhyun mengepalkan tangannya. Suara hati Chanyeol terdengar begitu jelas di telinganya.

♥♥♥

Bisa dibilang, malam ini adalah malam pesta seks bagi para vampire keluarga Lee tiap tahunnya. Di malam ini juga, vampire keluarga Lee dibebaskan untuk membunuh berapapun pelacur yang berhasil mereka setubuhi tanpa harus terkena hukuman dan mengikuti kelas etika.

Malam ini, Yoora mengenakan dress ketat pemberian Kai waktu itu, sudah Kai duga, dress itu pasti akan berguna. Jika dilihat sekilas, Yoora seperti sama saja dengan pelacur-pelacur yang Pace datangkan dari berbagai negara di setiap belahan dunia itu, seksi dengan bibir merah menggoda. Terlebih lagi, dress yang diberikan Kai itu sewarna dengan warna kulit Yoora, membuat Yoora nampak seperti telanjang jika dilihat dari jauh.

Ahjussi, kenapa kau mengadakan pesta seperti ini setiap tahunnya?” tanya Yoora yang melihat keadaan ruangan bawah yang ramai dengan suasana yang dibuat seperti bar mewah pada umumnya dari lantai 2 rumah itu. Di sampingnya, kini berdiri seorang pria bule yang sudah tak asing lagi, ayah dari ke-10 vampire tampan di bawah sana, Pace.

“Ini, hadiah untuk mereka. Mereka sudah berjuang untuk hidup sangat lama, menemaniku. Tentu, menjadi vampire tidaklah mudah. Hidupmu abadi, kau harus terus bertahan menghadapi perubahan jaman. Maka dari itu, sebagai hiburan, kuberikan satu malam dari beratus-ratus malam dalam setahun untuk mereka memuaskan hasrat mereka, mereka bebas melakukan apapun yang mereka inginkan, tanpa ada larangan sedikitpun. Aku, sangat berterimakasih pada mereka.”

“Tapi Baekhyun, dia tidak pernah terlihat menikmati malam ini. seperti yang kau lihat sekarang, dia hanya berdiri seorang diri di sudut ruangan, memperhatikan saudaranya yang lain yang tengah bersenang-senang, tanpa meladeni para pelacur yang terus berusaha menggodanya.” Tambah Pace.

“Kenapa… Baekhyun Oppa seperti itu?”

“Dia hanya mencintai satu wanita dalam hidupnya, seorang wanita yang tidak akan pernah tergantikan oleh wanita manapun di dunia ini, seorang wanita yang takkan pernah terhapus begitu saja dari ingatannya, seorang wanita yang akan terus ia tunggu meski harus menunggu seribu tahun lamanya.”

“Kau… Yoora.”

“Ye?”

“Anak itu menunggumu. Temanilah dia.”

♥♥♥

“Sangat menyenangkan melihat mereka dari sini. Mereka, bahkan Chen, sangat pandai menarik perhatian jalang-jalang itu.” Baekhyun tersenyum, ikut bahagia saat melihat saudara-saudaranya yang lain bahagia.

“Bukankah, Oppa juga bisa melakukan itu? menarik perhatian wanita-wanita itu tanpa melakukan apapun. Itu sesuatu yang hebat.” Puji Yoora di akhir kalimatnya.

“Hebat? Itu sudah menjadi tugas mereka untuk menggodaku. Kaulah yang hebat, bisa menutup kedua mataku hingga aku tak bisa memandang wanita lain lagi.”

Pipi Yoora merona.

“Aku tidak bisa menyentuhmu seperti mereka yang menyentuh para jalang itu. karena, para jalang itu akan mati pada akhirnya. Sedangkan kau? Aku tidak akan membiarkan kematian merenggutmu lagi dari sisiku. Kau harus tetap hidup, tinggal di sisiku, dan mencintaiku.”

Yoora tersenyum mendengar penuturan Baekhyun yang tidak ingin membunuhnya, terlebih kata-kata cinta itu terdengar sangat lembut di telinganya. Gadis itu melingkarkan tangannya pada pinggang Baekhyun, memeluk lelaki itu dari samping dengan posisi senyaman mungkin.

“Aku akan tetap hidup, tinggal di sisimu, dan mencintaimu.”

“Ah!”

Sebuah tangan kekar tiba-tiba menarik Yoora, hingga pelukan itu terlepas begitu saja. Chanyeol, lelaki tinggi itulah yang menarik Yoora untuk berada di sampingnya. Tatapan tajam Chanyeol dan Baekhyun saling bertemu. Tangan kanan Yoora digenggam Chanyeol, sedang Baekhyun menggenggam tangan kiri Yoora. Gadis itu dihadapkan pada dua pilihan, Baekhyun, atau Chanyeol.

“Yak, Chanyeol Lee! Apa yang kau lakukan?!” bentak Baekhyun pada Chanyeol, lensa kuningnya menyala-nyala seketika.

“Berisik!” balas Chanyeol menatap Baekhyun berani.

“Chanyeol Oppa, ada apa denganmu?” tanya Yoora yang tak enak hati pada Baekhyun.

“Lepaskan dia!”

Suasana di antara Baekhyun dan Chanyeol semakin tegang, tapi tak sampai mengganggu saudara mereka yang lain. Beberapa pelacur yang sempat dicumbu Chanyeol menghampiri kembali lelaki tinggi itu dan mulai menggodanya dengan sentuhan-sentuhan sensual yang membuat siapapun tak tahan melihatnya.

“Kau sudah punya mereka, Oppa. Mereka lebih bisa memuaskanmu daripada aku. Aku sudah bersama Baekhyun Oppa sejak awal. Aku tidak akan mengganggu kebersamaanmu dengan mereka, dan kuharap kau pun tidak akan mengganggu kebersamaanku dengan Baekhyun Oppa.”

Jelas, perkataan Yoora sudah sangat jelas. ‘Jangan menggangguku’, itu yang Yoora coba katakan pada Chanyeol.

Kajja!” Baekhyun menarik Yoora pergi dari ruangan dengan cahaya remang-remang itu, meninggalkan Chanyeol yang menggertakkan giginya dan mengepal kuat tangannya.

“Yak! Apa yang kau lakukan?!”

“Neo? Nuguya? Siapa kau sampai berani-beraninya menyentuhku?! Apa yang dilakukan seorang manusia di tempat ini huh?!”

“Jhweosonghamnida, jeongmal jhweosonghamnida.”

Bayangan pertemuan pertama Yoora dan Chanyeol kembali melintas dalam ingatan lelaki itu.

“Aku yang pertama kali bertemu dengannya… bukan kau, Baekhyun Lee.” Lensa merah menyala Chanyeol menajam.

“Dia milikku.”

Di sisi lain, Sehun yang sepertinya melihat ketegangan yang terjadi antara Baekhyun dan Chanyeol yang terlihat memperebutkan Yoora itu kini tengah berusaha keras menahan kekesalannya. Sialnya, Sehun tetap mencintai Yoora dan tak bisa melupakannya. Padahal ia sendiri tahu, ia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kakak-kakaknya. Ia merasa iri, terlebih pada Suho. Karena hanya Suho lah yang pernah berhasil menjadi kekasih gadis itu, berhasil mendapatkan hati gadis itu meski hanya dalam waktu yang singkat.

Sehun pernah berpikir, jika dirinya berada di posisi Suho yang merupakan seorang vampire kelas A dan seorang pemimpin di keluarga Lee yang sangat di hormati oleh anggota keluarga lainnya, akankah ia bisa mendapatkan hati Yoora? jika jawabannya adalah Ya, sepertinya ia akan mulai berpikir untuk merebut posisi itu dari Suho. Jika saja.

♥♥♥

Vampire berlensa kuning terang itu berdiri di dekat jendela kamar Yoora yang terbuka, menatap langit gelap yang menyelimuti malam itu. Bulan yang tampak lebih besar dari biasanya dan berwarna kemerahan itu tertutupi oleh awan. Baekhyun menyunggingkan senyumnya yang secara tak langsung juga memperlihatkan taring tajamnya. Waktunya sudah hampir tiba. Bulan di atas sana akan terlihat semakin merah, ketika darah para pelacur tadi dihisap habis oleh vampire keluarga Lee, seakan-akan darah-darah itu tumpah dan mewarnainya.

Baekhyun mengalihkan pandangannya pada Yoora yang tengah berbaring di ranjangnya dengan berbalut selimut merah tua yang menutupi setengah dari tubuh bagian bawahnya. Yoora tersenyum memandang Baekhyun yang mulai bergerak menghampirinya. Bibir merah menggoda itu, Baekhyun ingin kembali merasakannya.

“You are mine.” Lelaki itu menyentuh pipi Yoora lembut.

“I’m yours tonight.”

Baekhyun memiringkan kepalanya, “Forever.”

“Yes, I’m yours forever.” Jawab Yoora yang langsung membuat Baekhyun merasa puas. Baekhyun terus mengurangi jarak yang ada di antara mereka sampai bibir basah mereka bertemu dan saling melumat lembut. Tangan Baekhyun bergerak perlahan menekan tengkuk Yoora untuk memperdalam ciuman mereka, bibir merah beraroma cherry itu seakan menjadi magnet tersendiri yang membuatnya tak bisa melepaskan ciuman itu.

1…

Tangan Baekhyun bergerak naik menyentuh pipi Yoora.

2…

Tangan Baekhyun menyentuh kedua telinga Yoora, lebih tepatnya menutupi kedua telinga gadisnya itu. Dan,

3…

“Aaaakhh!” jeritan pilu para pelacur yang sedang berusaha melawan ajal itu akhirnya terdengar bersamaan, memenuhi seluruh ruangan yang ada di rumah besar nan mewah milik keluarga Lee. Bulan purnama di luar sana mulai keluar dari selimut awan dan menampakkan warna merah layaknya darah. Yoora tersentak kaget, tapi Baekhyun tak membiarkan Yoora melepas ciumannya ataupun melepas tangannya yang masih menutupi telinga gadis itu.

Malam ini, vampire keluarga Lee lagi-lagi menunjukkan kekuasaan mereka yang menguasai seluruh langit Asia. Vampire-vampire yang bukan keturunan keluarga Lee di luar sana memandang agung bulan purnama merah tersebut, dan tunduk menghormati kekuasaan keluarga Lee atas langit bumi Asia.

Oppa… yang tadi itu apa?” tanya Yoora setelah melepas ciuman mereka.

“Para pelacur itu sudah mati, tak tersisa.”

Gadis itu membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang Baekhyun katakan.

Waeyo? apa sekarang kau semakin takut untuk tinggal bersama kami?” Baekhyun menatap mata Yoora ragu.

Yoora tak menjawab. Gadis itu berlari keluar meninggalkan Baekhyun, memeriksa setiap kamar yang ada di rumah itu untuk memastikan apa yang dikatakan Baekhyun itu benar-benar terjadi atau tidak. Di kamar Sehun, terlihat beberapa pelacur sudah terkulai tak bernyawa di atas ranjang. Tak ada bedanya dengan kamar-kamar yang lain, kamar-kamar lain pun menampilkan penampakan serupa. Pelacur yang sudah mati dalam keadaan mengenaskan.

Gadis itu akhirnya berhenti berlari, di ruang makan, seluruh vampire keturunan keluarga Lee kecuali Baekhyun sedang menyandarkan diri mereka masing-masing di kursi makan dengan kancing kemeja mereka yang mereka biarkan terbuka dan memperlihatkan dada mereka yang memiliki keseksian tersendiri.

“Selamat malam, cantik.” Sapa lelaki yang masih belum membersihkan darah di sekitar mulutnya itu, Lay.

“Baekhyun Hyung tidak membunuhmu? Kupikir kau sudah menjadi mayat di kamarmu.” Kai tersenyum miring.

“Ekhm…” Suho, Dio, Chanyeol, dan Sehun spontan berdehem bersamaan.

Kai tertawa,

“Ah! Iya! Aku lupa kalau di sini banyak sekali yang memperebutkanmu! Haha! Jhweosonghaeyo!”

Yoora memandang satu persatu lelaki yang ada di ruang makan itu, mereka semua terlihat seperti lelaki yang sudah mabuk berat. Bahkan Chen, Xiumin, dan Tao sudah tak sadarkan diri.

“Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau tak memikirkan Baekhyun Hyung yang menunggumu?” tanya Dio lagi-lagi dengan tatapan dingin.

“Ye?”

“Kau dan Baekhyun sudah bersama?” tanya Suho tanpa memandang Yoora.

“Ye?”

“Apa saja yang sudah kalian lakukan di kamar? Berpelukan? Berciuman? Atau, berhubungan seks?” kali ini Sehun yang bertanya. Yoora merasa seperti sedang diinterogasi sekarang. Hanya Chanyeol yang belum berbicara apapun padanya.

“Kalian berisik!” Chanyeol bangkit dari duduknya, melangkah keluar ruangan. Tak berapa lama, bunyi suara mesin mobil yang dihidupkan terdengar, lelaki itu pergi begitu saja dari lingkungan rumah mereka.

“Uh, Chanyeol Hyung sepertinya sibuk mencari udara segar.” Gumam Kai.

Yoora termenung.

♥♥♥

♫ Oh yeah! C’mon!

Take your time,

Waenji dugeundaeneun bamiya

So tonight,

Dal kkeutkkaji dallyeogabolkka

Just right

Sidongeul georeo eksere bareul ollyeo

Modeun geosi teukbyeolhae neowaneun jal eoullyeo

Mueoseul wonhadeon Imma make it work

Yeah~

Shawty, imma party till the sun down

Jigeum i sinbiroun neukkimeun mwolkka

Wajwo naegero eoseo before the sun rise

Nega eopsneun nan eodil gado nobody… ♫

Ke-9 vampire tampan itu tampak sibuk menyiapkan comeback mereka dengan album baru berjudul Love Me Right. Ya, hanya bersembilan. Mereka tidak akan comeback bersama Tao karena cedera kaki yang dialami saudara mereka itu. Karena hal itulah, media massa mulai ramai membicarakan tentang Tao. Mulai dari isu cedera palsu, hingga rumor hengkangnya lelaki itu dari boygroup yang membesarkan namanya, EXO. Media massa memang terkadang menggelikan!

1433247043312

‘EXO Siap Comeback Dengan 9 Anggota’ judul itulah yang akan muncul jika kalian memasukan kata kunci EXO Love Me Right di mesin pencari otomatis di internet. Akan muncul beberapa artikel yang semua isinya hampir sama, ya, EXO tanpa Tao.

“Kalian berlatih dengan baik?” tanya Tao yang berjalan ke ruang latihan EXO dengan bantuan tongkat.

Ke-9 saudaranya itu langsung tersenyum setelah melihatnya datang. Miris. Bagaimana bisa ia meninggalkan saudara-saudaranya yang sudah menemani hidup keduanya selama ini begitu saja? Tao menyukai keluarga ini, keluarga Lee yang menyempurnakan hidupnya yang dulu tak sempurna.

“Tentu saja, Tao-ya. Kami baru saja selesai latihan, beberapa hari ke depan, kami akan mulai sibuk mengurus music video comeback.” Jawab Xiumin.

“Aku sepertinya tidak akan bisa melupakan saat di mana aku ikut bernyanyi dan menari bersama kalian.”

Dahi saudara-saudaranya itu mengkerut, bingung.

“Kenapa kau berkata seolah-olah kau tidak akan bernyanyi dan menari lagi bersama kami?” tanya Chanyeol.

“Kau baik-baik saja?” tanya Lay.

“Kita akan bernyanyi dan menari bersama lagi di atas panggung, Tao-ya. Jika cederamu sudah sembuh.” Ucap Suho.

Sembuh? Aku tidak bisa sembuh, Hyung. Aku tidak bisa menari lagi. Jangankan untuk menari, untuk berdiri tanpa bantuan tongkat saja aku kesulitan.

Ne.” Tao tersenyum miris, lagi.

Selamat tinggal… keluargaku.

 

♥♥♥

BRAK!

Yoora terengah-engah masuk ke kamar Suho. Ia berusaha keras untuk mengatur nafasnya yang menderu.

“Hhh… Hhh oppah…”

“Tao Oppah… dia thidak ada… di kamarnya! Padahal Pace ahjussi menyuruhku menjaganya… tapi saat aku meninggalkannya sebentarh…” gadis itu menggantungkan kata-katanya saat melihat Suho sedang mencabut angka 10 dari jam dindingnya dengan mata berair.

Oppa… apa yang kau lakukan?”

“Oppa, kenapa tidak ada angka 2 dan 3 di jam dindingmu?”

“Ah, itu.”,

“Angka 2 dan 3 yang tidak ada itu, hanya mewakili mereka yang telah pergi meninggalkanku, meninggalkan keluarga ini. Aku tidak benar-benar menjadi anak kedua di keluarga ini, dan Sehun pun, dia tidak benar-benar menjadi anak ke-10 di keluarga ini.”

“Apa maksudmu, Oppa? Maksudmu ada anggota lain lagi yang…”

“Mungkinkah, yang kau maksud itu… Luhan dan Kris?”

“Benar juga, kau sudah tahu itu. Tidak mungkin kau tidak tahu jika kau saja mengenali kami sebagai member EXO sejak awal menginjakkan kakimu di tempat ini.”

“Mianhae Oppa, aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu kembali mengingat mereka.”

Suho berusaha tersenyum pada Yoora, meski hatinya benar-benar merasa sakit.

Kalau angka 2 dan 3 yang hilang itu adalah untuk Luhan dan Kris, lalu angka 10?

“Tidak mungkin…” Yoora tiba-tiba saja menitikkan airmatanya.

“Tao sudah memilih. Pilihannya adalah kematian kedua. Ayah sendiri yang akan membunuhnya karena ayah paling tidak suka melihat orang yang putus asa dengan hidupnya.”

Kematian kedua? Tidak! Tidak boleh! Tao tidak boleh mati!

Yoora kembali berlari mencari Baekhyun dan Kai, kedua lelaki itu pasti bisa membantunya. Ia harus bisa mencegah Pace membunuh Tao. Semua adalah kesalahannya, kalau saja Yoora tak meminta pertolongan Tao untuk membawanya ke masa joseon, Tao pasti tidak harus mengalami hal menyedihkan ini.

“Baekhyun Oppa!”

“Kau tahu di mana Tao Oppa, kan? Cepat jawab aku!” Yoora menangis di depan Baekhyun yang juga memperlihatkan raut wajah sedihnya.

“China. Ayah sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk mengabulkan permohonan Tao. Tak lama lagi, tak butuh waktu lama lagi…”

“Yak, Kim Yoora! kau mau ke mana?!” teriak Baekhyun. Yoora tak perduli lagi.

Kai oppa… Kai oppa… Kai Oppa…

Yoora berlari secepat yang ia bisa dengan airmata yang terus berlinangan. Gadis itu tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri atas keputusan Tao yang memilih untuk mati.

“Kai Oppa!”

Kai buru-buru menghapus airmatanya, matanya terlihat sembab.

“Kumohon bawa aku ke China sekarang! Bawa aku ke tempat Pace ahjussi dan Tao Oppa! Aku mohon! Aku tidak bisa membiarkan Tao Oppa mati! Aku harus mencegahnya!” pinta Yoora sembari menangis memohon pada Kai.

“Yoora-ya… tapi aku…”

“KUMOHON, OPPA!”

Kai menghembuskan nafasnya berat,

“Baiklah. Sekarang kau tatap aku.” lelaki itu mendekap erat tubuh Yoora, sementara Yoora menatap matanya. Dalam sekejap, mereka sudah berada di China. Tepatnya di sebuah hutan yang jauh dari pemukiman warga. Terlihat sebuah api unggun besar berkobar menghangatkan malam yang dingin itu. Lelaki yang dimaksud Yoora terlihat sedang berlutut dengan tangan yang diikat ke belakang oleh akar tumbuhan berduri, membuat tangannya tak luput dari luka-luka tertusuk, sementara itu, kepalanya terlihat menunduk. Tao menangis.

Pace terlihat mengasah samurainya yang sudah tajam untuk lebih tajam lagi. Setelah dirasanya cukup tajam untuk memenggal kepala Tao, ia berhenti mengasah. Pria bule setengah tua itu mendekati anaknya, Tao, dengan membawa samurai hasil asahannya. Dengan cepat dan tanpa diduga oleh Kai, Tao, dan Pace, Yoora berlari ke hadapan Pace untuk melindungi Tao.

“Menyingkirlah, Kim Yoora!” bentak Pace. Meski sedikit gemetar, Yoora menjadi tak takut sama sekali. Dalam pikirannya, ia terus memberi sugesti, ia harus menyelamatkan Tao bagaimana pun caranya.

Andwaeyo, Ahjussi! Jangan! Aku mohon jangan bunuh Tao Oppa! Aku mohon, Ahjussi!”

“Yoora…” Tao memandang Yoora yang berdiri membelakanginya dengan tatapan tak percaya.

“Dia yang menginginkannya… aku hanya bisa mengabulkan permintaannya saja, Yoora-ya.”

Yoora berlutut tunduk dan menangis dihadapan Pace,

“Bunuh aku saja.”

Mata Tao, Pace, dan Kai membulat sempurna.

“Ini semua salahku. Aku yang paling pantas disalahkan. Tao Oppa pasti tidak akan cedera jika dia tidak membawaku ke masa joseon… Bunuh saja aku, ahjussi.”

“Yoora… hentikan.” Pace menjadi tak tega. Tidak mungkin juga ia membunuh gadis itu.

“Yoora… kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Ini pilihanku sendiri.” Ucap Tao.

Yoora berbalik menatap Tao,

“Aku yakin Oppa bisa sembuh! Kenapa kau tidak bisa percaya padaku, Oppa?!”

Pace menjatuhkan samurainya dan memandang Kai, Yoora, dan Tao bergantian.

“Pulanglah, Tao-ya. Jangan pernah berpikir untuk putus asa, itu sama sekali tak ada gunanya.”

Kai terduduk lemas, bersyukur ayahnya itu tak jadi membunuh Tao. Semua ini berkat Yoora, kalau tak ada gadis itu, mungkin Tao sudah menghadapi kematian keduanya dan musnah dari muka bumi ini untuk selamanya.

Tao memeluk Yoora erat, menumpahkan segala rasa yang selama ini tertahan dalam benaknya. Yoora lah yang memberikannya kesempatan hidup sekali lagi. Dalam hatinya, ia bersyukur telah dipertemukan dengan seorang gadis bernama Kim Yoora.

Terimakasih, Yoora.

♥♥♥

Preview Chapter berikutnya….

“Dio Oppa!”

Tangan Yoora spontan meraih tangan lelaki yang merendamkan dirinya dalam bath tub yang penuh berisi air hingga tak ada satupun bagian dari tubuhnya yang muncul di permukaan air.

“Kupikir… kupikir kau berbeda, Oppa.”

“Bagaimana bisa aku berbeda dengan mereka kalau kenyataannya kami berasal dari satu keluarga yang sama?”

“Berhenti bicara omong kosong dan persiapkan penampilan terbaikmu untuk para fans yang sudah menunggu di luar sana.” Suho beranjak dari duduknya.

Hyung, bogoshipeo.”

‘EXO menyempatkan mengajak kencan ‘Pacar’ di tengah kesibukan comeback mereka.’ Itulah judul artikel yang terpampang jelas di sebuah situs berita paling terkenal di Korea.

“Dasar bodoh! Yoora bisa mati!”

“Kurasa perutku duluan yang akan meledak, sudah kekenyangan karena ayam, sekarang malah bertambah kenyang melihat wajahmu yang cantik ini.” jawab Sehun, tangannya bergerak mencubit hidung Yoora.

Pipi Yoora memerah.

“Salju pertama akan turun malam ini!” jawab Tao yang langsung disambut dengan sorak sorai saudara-saudaranya.

Cheosnun oneun ileon ohue neoege jeonhwaleul geol suman issdamyeon gippeultende…” Dio menyanyikan lirik lagu First Snow dengan suara merdunya.

“Yoora-ya, kau pasti datang kan?” Chanyeol mulai bertanya-tanya dengan bibir gemetar kedinginan.

Mereka sudah melakukan banyak usaha untuk mengembalikan detak jantung si pasien, namun tetap saja, jantung si pasien telah berhenti dan tak bisa berdetak lagi. Pasien itu meninggal dunia.

“Catat waktu meninggal saudara Park Chanyeol.”

― Sadistic Night : Chapter 9 END ―

yaampun, udah hampir sebulan baru bisa ke post chapter ini 😥 makasih banget buat yang sampai detik ini selalu menunggu kelanjutan kisah Yoora dan ke-10 vampire tampan bin ganteng luar biasa ini :’) makasih banget! *bow

bentar lagi FF ini tamat huweeee 😥 terus support aku yaa biar aku bisa ngasih ending yang indah buat kehidupan kedua mereka, biar kisah mereka ga ngegantung gitu aja kek jemuran yang belum diangkat :’D lafyuuu ders :*

Iklan

8 pemikiran pada “[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 9

  1. Gilakkkk makin seru ajaaaaaa >.< Ahhh knpa Yoora engga sama Chanyeol/? asa dpet feelnya sma Chanyeol d banding Baek wkwk apalgi Chanyeol so sweet banget main Piano gituu gilakk sweet banget XD udhhh lahh Yoora sma Chan aja hahaha maksaaa. udh gak kerasa lagi udh chapter 9 wkwk

    Suka

  2. Y ampunnn..yoora enak aneudd itulah dpt bnyk..hahhaa…ihhh yoochan klian teh cocok tau ihhh..lahhh knp yg pas yoora maen piano cmn hayalan doang…ahhh..y ampun seks party..hah..???yahh min knp dionya kaya gtu amat sihh..kata”nya menyakitkan..tpi nunggu chapter 10 nih adadionya lmayan..hahahah…okeh fight yah min bwt ff nyahh…hehehe…i’ll be a true reader…

    Suka

  3. Baru pertama baca mulai dari part 1 sampai 9.. jalan ceritanya keren.. gak bisa ketebak banget.. yang sampai sekarang bingung, sama sikap Dio.. apa sih yg ada di jalan pikirannya? suho, chanyeol, sehun, dan baekhyun udah kelihatan kalo mereka bener2 cinta sama Yoora. Bagaimana dengan Dio? semoga pertanyaanku terjawab di part selanjutnya..
    Dan Yoora sebenarnya juga cinta sama siapa sih? Hahaha
    Ditunggu lo chapter selanjutnya.. jangan lama2 ya 😀

    Suka

  4. maraton baca dari chapter 1 sampek 9… Kerennnn jalan ceritanya.. suka banget.. gak bisa ketebak
    Seru.. seru.. baekhyun, suho, chanyeol, dan sehun sudah benar2 cinta sama Yoora dan menunjukan cinta mereka.. Penasaran dengan sifat Dio? dia sebenarnya seperti apa sih? Kok gitu2 aja perasaannya pada Yoora.. Semoga penasaranku terjawab di chapter selanjutnya…
    Dan yang bikin tambah bingung, Yoora sebenernya cinta sama siappa sih? Masih sama Chanyeol atau sudah beralih ke Baekhyun? plin plan bangett.. hahha
    Next nya jangan lama2 ya 😀

    Suka

  5. Ping balik: [EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 10A | ANSFanfiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s