[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 10A

[Fanfiction] SADISTIC NIGHT

sdstcnght1

Previous Chapter

― Sadistic Night : Chapter 10A ―

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Main Cast :

Kim Yoojung as Kim Yoora & Baek Soomin

Byun Baekhyun as Baekhyun Lee

Park Chanyeol as Chanyeol Lee

Oh Sehun as Sehun Lee

Supported Cast :

Kim Joonmyun as Suho Lee || Do Kyungsoo as Dio Lee || Huang Zitao as Tao Lee || Kim Minseok as Xiumin Lee || Kim Jongin as Kai Lee || Kim Jongdae as Chen Lee || Zhang Yixing as Lay Lee || Lee Pace as Pace Lee

Genre : AU, Brothership, Drama, Fantasy, Gore, Little bit comedy(?), Romance, Sad, Vampire

Rated : R

Length : Chaptered/Series

Disclaimer : Semua cast adalah bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya untuk kepentingan cerita. Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari berbagai film dan anime yang bergenre fantasy. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

 

Aku tidak bisa menolong diriku sendiri yang mencintaimu, walaupun aku tahu bagaimana rasa itu akan membuatku terluka pada akhirnya…

 

♥♥♥

Malam itu, Yoora terbangun dari tidurnya. Bukan karena ke-10 vampire tampan di rumah itu membuat kegaduhan karena hendak berangkat ke sekolah malam, tapi karena ia benar-benar merasa tak nyaman untuk melanjutkan tidurnya. Gadis itu tak enak hati.

Akhirnya, ia memutuskan untuk melangkahkan kaki malasnya ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Sekedar untuk membasahi wajahnya dengan air dingin agar tetap terjaga tidak ada salahnya bukan?

“Eh? Airnya mati?”

Yoora memutar-mutar keran yang ada di kamar mandinya, tak ada satupun yang berfungsi. Tak ada setetespun air yang keluar dari setiap keran yang ia putar. Ia mendengus, sepertinya ia harus berjalan ke kamar mandi yang terletak di dekat dapur rumah mewah ini. untung saja, Sehun pernah memberitahunya tentang kamar mandi di luar kamar masing-masing yang sangat jarang di pakai tapi tetap terawat dan tak pernah terabaikan.

Sepi. Sepanjang jalan yang ia lalui untuk sampai di kamar mandi di dekat dapur itu benar-benar sepi dan hening. Apa vampire-vampire dalam rumah ini benar-benar beristirahat dengan tenang dalam tidur mereka? Tidur? Yang Yoora tahu, dalam film-film yang mengusung cerita makhluk penghisap darah itu, vampire tidak pernah tidur. Entahlah yang mana yang benar. Mungkin vampire keluarga Lee termasuk jenis vampire yang berbeda, pikirnya seperti orang bodoh.

“Wah! Ini lebih luas dari yang kubayangkan! Daebak!”

Gadis itu berlari-lari kecil di lantai kamar mandi yang kering itu. Kamar mandi yang didesain sedemikian rupa dengan alat-alat yang dilapisi emas itu benar-benar membuat Yoora terlihat kekanakkan. Gadis itu membuka keran air dingin di wastafel, dan air dingin pun keluar. Berarti pipa air di kamar mandinyalah yang rusak.

Ia membasuh wajahnya berkali-kali, air itu seperti mengandung daya tarik tersendiri yang membuatnya ingin terus terbasahi oleh air itu.

BLURP!

Suara itu membuat Yoora memalingkan wajahnya, melihat ke segala arah. Jantungnya berdegup kencang. Jika berada dalam keadaan seperti ini, siapa yang takkan merasa takut dan was-was?

BLURP!

“Siapa itu?” tanya Yoora, berharap suara itu memang dibuat oleh seseorang yang ada di rumah ini. Pandangannya tertuju pada tirai yang sepertinya menutupi letak sebuah bath tub. Dengan rasa takut, ia memberanikan diri melangkah mendekat ke arah bath tub yang terletak di sisi kiri kamar mandi tersebut.

“Dio Oppa!”

Tangan Yoora spontan meraih tangan lelaki yang merendamkan dirinya dalam bath tub yang penuh berisi air hingga tak ada satupun bagian dari tubuhnya yang muncul di permukaan air, persis seperti tertidur dalam air.

Kepala lelaki itu terangkat, pandangan matanya benar-benar kosong.

“Kau benar-benar berisik!” Dio balik mencengkeram tangan Yoora, membuat gadis itu seketika merintih kesakitan. Dio menarik Yoora hingga gadis itu masuk ke dalam bath tub dengan posisi yang berada di atas tubuh dinginnya.

OpOppa… apa yang akan kau lakukan?” gugup Yoora saat tatapan sedingin air laut yang membeku itu menusuk matanya.

“Biarkan aku menggigitmu… dan menghisap darahmu.” Lelaki itu menarik tengkuk Yoora hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inchi saja. Wajah ketakutan Yoora sangat mendominasi ekspresinya, dan itu, membuat seringaian Dio semakin melebar.

“Kupikir… kupikir kau berbeda, Oppa.”

“Bagaimana bisa aku berbeda dengan mereka kalau kenyataannya kami berasal dari satu keluarga yang sama?”

KREK!

Bunyi taring yang merobek daging hingga menembus pembuluh darah yang ada di leher gadis itu seketika memenuhi ruangan kamar mandi. Bunyinya sangat jelas, sejelas taring yang menancap dalam sedalam-dalamnya pembuluh darah Yoora. Dio meneguk cairan kental berwarna merah dan berbau khas itu seperti seseorang yang menderita dehidrasi parah. Saking tergila-gilanya dengan darah Yoora, Dio sampai-sampai tidak menyadari kalau tubuh gadis itu kini sudah berubah memucat. Darah yang dihisapnya sudah terlalu banyak.

Oppa…” lirih Yoora. Tangan lemah gadis itu memeluk leher Dio.

“Kepalaku pusing.”

DEG!

Mata lelaki itu membulat, tangannya tanpa sadar mencengkeram leher Yoora kuat hingga gadis itu kesulitan bernafas. Lirihan gadis itu tak sengaja mengingatkan Dio akan masa lalunya yang menyakitkan. Ingatan menyakitkan itu terasa begitu nyata. Dalam ingatannya, ayah kandungnya yang merupakan seorang pemabuk berat dan gemar berjudi itu selalu tak segan-segan memukulinya setiap kali kalah dalam berjudi. Dirinya seolah selalu menjadi sasaran empuk ayahnya untuk melampiaskan amarah.

“Appa…” lirih Dio di masa lalu. Kepalanya sudah mengeluarkan banyak darah akibat terkena pukulan keras balok kayu yang ayahnya ambil di dekat rumah mereka.

“Kepalaku pusing.”

“Apa kau bilang?! Mengurus anak tak berguna sepertimu hingga sebesar ini seorang diri lebih memusingkan kepalaku setiap harinya! Akan lebih baik jika kau mati sehingga aku tidak perlu repot-repot mengurusmu!”

“Cukup, Dio-ya!”

Suara itu membuat Dio tersadar, ia mendapati dirinya tengah mencekik kuat leher Yoora membuat Yoora memekik tertahan dengan airmata mengalir di pipi putih mulusnya. Dio dengan gemetar melepaskan cengkeramannya pada leher Yoora dan berpaling memandang asal suara yang menghentikannya itu. Baekhyun, lelaki itu berdiri di samping bath tub dengan tatapan tajam yang tertuju pada Dio.

HHyung…”

“Aku tahu… jadi kumohon berhentilah, berhenti menyakiti dirimu sendiri dengan mengingat masa lalu. Jika kau tak bisa merasakan kebahagiaan di masa lalu, carilah kebahagiaanmu di masa sekarang. Kau juga harus bahagia.” Ucap Baekhyun. lelaki berlensa kuning terang itu lalu mengangkat tubuh ringkih Yoora dari bath tub, sementara Dio menatap nanar pemandangan di depan matanya.

Airmata Dio menetes, Baekhyun sudah melangkahkan kakinya membawa Yoora keluar dari kamar mandi itu beberapa menit yang lalu.

“Bagaimana aku bisa, Hyung? Bagaimana bisa aku merasakan kebahagiaan kalau ternyata kebahagiaanku sekarang adalah mencintai gadis yang kau cintai dan… gadis itu mencintaimu.”

 

♥♥♥

 

“Tidakkah kau merasa jarak antara kita semakin jauh, Hyung?” Chanyeol menggumam pelan pada lelaki yang memiliki tubuh lebih kecil darinya yang ada dihadapannya. Suho. Tatapan mata Chanyeol begitu sendu. Saat ini, mereka berdua sedang berada di ruangan persiapan sebuah acara musik untuk melakukan comeback stage Love Me Right. Member EXO lainnya sedang berada di luar ruangan bersama Yoora, jadi, tinggal mereka berdualah yang ada di ruangan itu.

“Apa yang kau bicarakan, Chanyeol-ah?”

“Kau tidak merasakannya?”

“Berhenti bicara omong kosong dan persiapkan penampilan terbaikmu untuk para fans yang sudah menunggu di luar sana.” Suho beranjak dari duduknya.

Chanyeol memaksakan senyumnya dan mengangguk,

Geurae, kau benar, Hyung. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Mianhae sudah mengganggumu.”

Suho tak membalas, lelaki itu hanya berlalu hendak melangkah keluar ruangan. Namun, tepat sebelum ia melangkahkan kakinya keluar, telinganya jelas mendengar Chanyeol bergumam pelan.

 

Hyung, bogoshipeo.”

 

♥♥♥

 

♫ …Just love me right

Oh oh oh yeah

Just love me right

Just love me right (love me right)

Nae ujuneun jeonbu neoya

(Urimanui sigan)

Just love me right (love me right)

(Jjarishan cosmic ride)

Just love me right

(Urimanui yaganbihaeng)

Just love me right

I just wanna make you love me

Yeah~ You got to love

Yeah~ You got to love me

Yeah~ Nae ujuneun jeonbu neoya

(You love me) Yeah~

(You love me) Yeah~

(You love me) Yeah~

Nae ujuneun jeonbu neoya ♫

 

Ke-9 vampire itu sukses menampilkan comeback stage Love Me Right mereka dengan sangat baik di hadapan para fans yang hadir dalam acara musik itu. Yoora yang menunggu di belakang panggung dengan melihat ke layar LED 31 inchi di hadapannya kemudian tersenyum bangga, kemampuan para vampire itu memang sudah tidak perlu diragukan lagi dalam menarik hati para penonton.

Tak berselang lama, ke-9 lelaki tampan itu kembali dari panggung dengan peluh yang membasahi wajah serta tubuh mereka. Para asisten mereka dengan sigap menghampiri untuk menghapus peluh itu tapi dengan cepat mereka tolak. Satu-persatu dari mereka langsung menghampiri Yoora dan memeluk gadis itu erat-erat, tak peduli kalau peluh mereka akhirnya ikut membasahi tubuh kecil Yoora yang mereka peluk.

“Penampilan yang luar biasa, Oppa.”

“Takkan ada apa-apanya tanpamu.” Senyum Suho mengembang, lagi-lagi, setelah sekian lama, akhirnya Yoora bisa melihat senyuman itu lagi dari lelaki yang pernah menjadi kekasihnya itu.

Melihat gadis yang dicintai berpelukan lagi dengan mantan kekasihnya, lelaki mana yang takkan merasa cemburu? Chanyeol, Sehun, dan Dio, terlebih lagi Baekhyun, mereka merasakan hal itu. Hanya dengan melihat raut wajah mereka saja, kita dapat dengan mudah menebaknya.

“Terimakasih sudah membantu kami, Yoora-ya. Padahal kau sudah tahu kalau namamu tidak akan terpampang sedikitpun di album kami, tapi kau tetap mau membantu.” Ucap Xiumin tersenyum.

Yoora tertawa kecil,

“Untuk apa? Lagipula aku tidak ingin menjadi terkenal. Nanti pekerjaanku menumpuk karena banyak yang meminta bantuanku.” Lanjut gadis itu sedikit menyombongkan diri yang membuat lelaki di sekelilingnya itu gemas akan tingkahnya.

Lay merangkul Yoora,

“Bagaimana kalau kita merayakannya dengan makan-makan di luar? Makanan apa yang paling kau inginkan saat ini, hm?”

“Ayo! Ayo kita makan, Hyung! Aku dan Chloe sangat lapar~~ iyakan, Chloe?” ucap Chen diakhiri dengan pertanyaan pada boneka bebek ungunya, Chloe.

“Bagaimana menurut kalian?” tanya Suho pada Kai, Chanyeol, Sehun, Dio, dan Baekhyun.

“Itu bukan ide yang buruk.”

 

♥♥♥

Tao menyandarkan tubuhnya pada bantal di atas ranjangnya, tangannya lantas meraih ponsel yang tergeletak di atas laci kecil di samping ranjangnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi Tao untuk mengupdate berita-berita terbaru dari internet dan dari sosial media yang ia miliki. Tak aneh bila ia sendirilah yang pertama mengetahui artikel yang menyebarkan gosip tak benar akan cederanya.

Lelaki itu tersenyum saat membaca sebuah berita tentang saudara-saudaranya yang berhasil melakukan comeback stage Love Me Right dengan baik di sebuah acara musik hari ini. tapi kemudian, senyumannya seketika memudar saat ia melihat sendiri pada layar ponselnya judul sebuah artikel yang baru diterbitkan beberapa detik yang lalu itu.

cats

‘EXO menyempatkan mengajak kencan ‘Pacar’ di tengah kesibukan comeback mereka.’ Itulah judul artikel yang terpampang jelas di sebuah situs berita paling terkenal di Korea. Jari-jarinya dengan cepat menggulir laman tersebut ke bawah tanpa membaca isi artikel tersebut terlebih dahulu.

‘Siapa gadis itu?’

‘Pacar apanya?! Baekhyun Oppa milikku!’

‘Ah, Yeol! Jangan dekat-dekat!’

‘Apa gadis itu pelacur? Berkencan dengan 9 lelaki sekaligus di siang bolong.’

‘Awas saja kau kalau berani mendekati Lay-ku!’

“Dasar bodoh! Yoora bisa mati!”

 

♥♥♥

 

“Ah! Aku kekenyangan!” ucap Kai mengakhiri makannya. Sementara yang lain masih sibuk menghabiskan makanan mereka masing-masing. Yoora dan ke-9 lelaki tampan itu kini sedang berada di sebuah restoran yang menyediakan ayam goreng tepung sebagai menu andalannya. Kai yang merupakan maniak ayam sudah berhasil menghabiskan 5 potong ayam goreng tepung dalam waktu yang singkat, entah dirinya memang sedang kelaparan atau entah bagaimana perutnya bekerja.

“Eoh? Ada pesan dari Tao.” Suho membuka pesan yang Tao kirimkan.

Hyung, kalian di mana?” ucap Suho membacakan isi pesan Tao yang langsung membuat saudara-saudaranya tertawa geli.

“Apa dia merindukan kita?” tanya Xiumin.

“Atau…. dia juga ingin makan ayam tepung!” sambung Chanyeol yang membuat ruangan itu seketika penuh tawa.

Chen yang sudah menyelesaikan makannya kemudian beranjak dari tempat duduknya, berjalan ke arah kaca jendela dan melihat keadaan luar dari lantai 2 restoran itu.

Daebak!”

Waeyo? Waeyo?” sahut yang lainnya.

“Fans kita banyak sekali di luar sana. Sepertinya restoran ini melarang mereka untuk masuk.” Jawab Chen.

“Tentu saja mereka melarangnya, aku kan sudah memesan seluruh meja di restoran ini.” ujar Suho.

Hyung… kau benar-benar luar biasa!” puji Kai sambil mengacungkan jempolnya.

Pembicaraan mereka terus berlanjut, sampai satu-persatu di antara mereka menyelesaikan makannya. Bahkan sampai, Suho lupa untuk membalas pesan dari Tao.

“Ah, aku rasa perutku akan meledak.” Yoora menidurkan kepalanya di atas meja, Sehun yang duduk di samping kirinya pun melakukan hal yang sama, menidurkan kepalanya di atas meja dan memandangi wajah cantik gadis itu.

“Kenapa Oppa memandangku seperti itu?” tanya Yoora akhirnya pada Sehun.

“Kurasa perutku duluan yang akan meledak, sudah kekenyangan karena ayam, sekarang malah bertambah kenyang melihat wajahmu yang cantik ini.” jawab Sehun, tangannya bergerak mencubit hidung Yoora.

Pipi Yoora memerah, seketika ia tak bisa berkata apa-apa setelah mendapat perlakuan seperti itu dari lelaki menyebalkan di depannya.

“Sehun benar-benar playboy sejati!” celetuk Chanyeol.

“Yak, Hyung! Tarik lagi kata-katamu!” Sehun tak terima.

“Kau memang playboy, Sehun-ah. Tidak ada yang bisa mengelak itu.” tambah Lay.

Kai tertawa keras, dan itu membuat Sehun menatapnya kesal. Yoora terkekeh pelan, menyembunyikan tawanya.

Hyung, mulai sekarang, kau dan aku, SELESAI!”

Kai semakin terlihat bahagia bahkan sampai menitikkan airmatanya,

“Aku hanya bercanda, Sehun-ah.”

“Berhenti tertawa.”

“Hahaha…”

Hyung…” Sehun menatap Kai serius. Kai terdiam. Tapi tak lama kemudian, seseorang terdengar memekik pelan.

“Yoora, kau tidak apa-apa?” tanya Baekhyun pada gadis itu yang wajahnya mulai terlihat merah padam dan memejamkan matanya kuat. Yoora berusaha menganggukkan kepalanya walau masih dalam posisi yang sama. Rupanya, gadis itu sedang berusaha keras untuk menahan tawanya, tidak mau kalau-kalau Sehun merasa tersinggung nantinya.

“Tertawalah, Yoora.”

Setelah mendapat lampu hijau dari Sehun, Yoora akhirnya bisa tertawa dengan puas. Sementara itu, Sehun hanya bisa pasrah mendengar tawa kakak-kakaknya yang sangat menjengkelkan itu.

Setelah menghabiskan waktu mereka dengan penuh canda, mereka pun akhirnya memutuskan untuk segera meninggalkan restoran itu. Tak disangka, ternyata para fans mereka masih setia menunggu di luar restoran untuk bertemu langsung dengan mereka. Dengan didampingi pihak keamanan yang terus berjaga, mereka, termasuk Yoora, melangkah keluar dari restoran. Ketatnya penjagaan yang dilakukan terhadap member EXO ditambah dengan fans yang terus berdesakan membuat jarak Yoora dengan ke-9 lelaki itu akhirnya terpisah cukup jauh.

PLOK!

Yoora terdiam. Baru saja, sebutir telur mentah dilemparkan tepat ke arah wajahnya.

PLOK!

Kini, Yoora jelas mendengar, beberapa orang yang entah dari sebelah mana mulai berteriak memaki-maki dirinya.

‘Jangan dekat-dekat dengan oppa-ku, jalang!’ Ya, kurang lebihnya seperti itu.

“Masuk, Baekhyun-ah! Apa yang kau tunggu?! Cepat masuk!” Xiumin menatap tajam Baekhyun yang kini malah terlihat sedang berusaha melawan penjaga yang terus mendorongnya untuk masuk ke dalam mobil. Lensa anak ke-4 keluarga Lee itu mulai menyala-nyala.

“LEPASKAN!”

Baekhyun menghempaskan tubuh para penjaga itu, melangkah cepat mencari siapa orang yang berani menyakiti gadisnya, Yoora. Para fans yang terkejut melihat perubahan sikap Baekhyun yang drastis itu tak membuang waktu mereka dengan percuma, mereka dengan sigap mengeluarkan ponsel mereka dan merekam semua kejadian yang masih berlangsung.

Oppa…” mata Yoora membulat saat melihat Baekhyun mencengkeram kuat leher seorang fansnya hingga tubuh fans itu terangkat dengan wajah membiru karena kekurangan oksigen.

OPPA HENTIKAN!” teriak Yoora. Bersamaan dengan itu, waktu seketika terhenti. Sosok Tao kini berdiri di sampingnya bersama Kai. Yoora berlari menghampiri Baekhyun di antara banyaknya fans yang tak bergerak dan waktu yang terhenti seperti sedang di pause oleh kekuatan Tao.

“DIAM!” bentak Baekhyun saat Yoora berusaha melepaskan cengkeramannya.

Oppa, dia bisa mati! Hentikan! Kumohon!”

BRUK!

Fans yang semula dicengkeram Baekhyun akhirnya jatuh tergeletak terlepas dari cengkeraman idolanya yang ternyata adalah monster berdarah dingin. Untung saja, gadis itu ―fans― masih bernafas meski terlihat begitu kesulitan. Suho dengan cepat menggunakan kekuatannya untuk menghapus ingatan orang-orang yang ada di sana termasuk ingatan gadis itu tentang Baekhyun yang berubah menjadi monster menakutkan dan mengendalikan gadget-gadget canggih yang para fans itu miliki agar tak tertinggal sedikitpun berkas yang mencurigakan tentang Baekhyun.

Yoora memeluk Baekhyun erat-erat, deru nafas lelaki itu masih terdengar begitu memburu. Dengan airmata yang berlinang, Yoora menyentuh wajah dingin lelaki itu dengan sebelah tangannya, sedang sebelah tangannya yang lain menggenggam erat tangan lelaki itu. Mata mereka saling bertatapan, dan dalam tatapan itu, Baekhyun seolah mengatakan, ‘Maafkan aku.’.

“Kumohon, jangan menjadi monster dingin yang menakutkan lagi. Berhentilah membunuh manusia yang tak berdosa. Berhenti terlihat menakutkan di depan banyak orang. Jangan buat orang lain terus berpikir kalau vampire adalah makhluk dingin yang jahat. Karena nyatanya, kau dan keluargamu tidak seperti itu. Kumohon berhentilah, Oppa.”

Baekhyun menghapus airmata Yoora, tanpa merasa jijik, ia pun mengelap wajah gadis itu dari sisa cairan lengket berbau khas itu hingga bersih, taringnya yang sudah muncul sempurna itu perlahan kembali seperti semula, namun lensa lelaki itu masih tampak menyala-nyala.

“Kalau kau merasa haus, minumlah darahku. Minum saja darahku. Kau boleh meminum darahku sepuasnya tapi kumohon jangan lakukan itu pada manusia lain. Jangan biarkan manusia-manusia itu merasakan tajamnya taringmu yang menembus pembuluh darah mereka. Biar aku saja. Aku saja yang merasakannya. Aku tidak apa-apa.” Ucap Yoora dengan suara serak.

Gadis itu benar-benar tulus mengatakannya, tak ada maksud lain selain tidak ingin membuat citra vampire terutama vampire keluarga Lee yang merawatnya selama ini semakin menakutkan di mata manusia. Biar dia saja, biar dia saja yang merasakan bagaimana taring-taring tajam itu menembus kulit dan merobek setiap pembuluh darahnya, menghisap darahnya dengan suara tegukan yang terdengar jelas, dan meninggalkan luka bekas gigitan yang tak mudah hilang, biar dia saja. Yoora, menyukainya.

“Dramatis sekali.” Kai menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Huh, kalau Yoora dengan Baekhyun Hyung. Aku dengan Soomin saja kalau begitu.” Gumam Tao pelan.

“Huh? Soomin? Siapa Soomin?” tanya Kai.

“Wanita simpanan putera mahkota dinasti joseon yang sangat cantik.” Bisik Tao seraya tertawa kecil.

Sementara itu di dalam mobil, Chanyeol lebih memilih memutar lagu di mp3-nya dan mendengarkannya lewat headphone kesayangannya ketimbang harus melihat adegan romantis yang diperlihatkan Yoora dan Baekhyun, meski tak bisa dipungkiri, dadanya benar-benar sesak. Sedangkan Dio terlihat termenung, sibuk memikirkan bagaimana cara menghilangkan kesakitan yang dirasakannya setelah melihat dua insan itu. Sementara Sehun…

 

Bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang kau cintai, Hyung? Apa kau merasa bahagia karenanya? Hyung, apa kau tahu rasanya tak punya cinta? Bahkan aku sendiripun terlalu bodoh untuk menafsirkan bagaimana rasanya. Aku, tak punya cinta, Hyung.

 

♥♥♥

 

Tak terasa, musim gugur akan segera berakhir dan tergantikan oleh musim dingin. Para vampire tampan itu kini semakin disibukkan dengan jadwal yang semakin padat, tapi hal itu tak membuat mereka lupa untuk mempersiapkan malam pesta perayaan datangnya santa clause, ya, malam natal!

Seluruh ruangan di rumah mewah itu kini sudah disulap sesempurna mungkin untuk meninggalkan kesan yang mendukung selama malam perayaan natal. Pohon natal setinggi 5 meter dengan satu bintang berwarna keemasan berada di puncaknya dan aksesoris-aksesoris cantik lainnya sudah tertata rapi di setiap sudut ruangan mereka. Betapa antusiasnya vampire-vampire tampan itu dalam menyambut natal, entah natal tahun ini sudah menjadi natal yang keberapa kalinya bagi mereka, yang jelas, mereka tak pernah bosan menunggu malam spesial di bulan desember itu.

“Ini!”

“Apa ini?” Yoora mengerenyitkan dahinya, baru saja, vampire termuda di keluarga Lee itu melemparkan sebuah kotak yang lumayan besar tepat ke arah wajahnya.

“Chanyeol Hyung yang menyuruhku memberikannya padamu, aku tak tahu apa isinya.” Jawab lelaki tampan itu, Sehun.

“Oh ya, dia juga menitipkan pesan padaku. Katanya dia akan menunggumu tepat jam 7 malam di Namsan Tower.” Lanjutnya sebelum akhirnya melangkahkan kaki keluar dari kamar Yoora.

“Cih, menunggu apanya? Mereka akan berkencan tapi menyuruhku sebagai perantara? Apa maksudnya itu!” gerutu Sehun seperti anak kecil.

Sementara itu, bibir Yoora terlihat melengkung. Ia tersenyum setelah mendengar pesan yang disampaikan Sehun tadi. Chanyeol–menunggunya–di–Namsan Tower. Dengan tak sabar, ia membuka kotak yang tadi dilemparkan Sehun, ya, kotak pemberian Chanyeol.

Hai. Kau tahu? Tanganku gemetar saat menulis surat ini. Maaf karena tak segera memberikannya padamu waktu itu, ini dress dariku. Semoga kau suka. Saat bertemu denganku di Namsan nanti, aku ingin melihatmu memakainya. Maaf juga, karena aku tak memberikannya langsung padamu. Aku, terlalu gengsi untuk itu. Haha.

Sampai jumpa di Namsan jam 7, Yoora-ya. – Chan.

Sebuah dress selutut berwarna putih dengan bordiran dan ornamen-ornamen cantik berwarna hitam yang menghiasi dress itu, indah sekali.

“Dia ternyata cocok sekali menjadi aktor.” Gumam Yoora dengan senyuman kecil di bibirnya.

“Chanyeol…”

“Aku tidak membeli apapun untuk gadis itu. Aku berbelanja sebanyak ini hanya untuk diriku sendiri.”

“Cih,”

“Rupanya kau ingin memberontak. Kenapa? Kau tak suka Suho terus memerintah dirimu untuk melakukan ini dan ini?”

“Bukan begitu, Hyung. Aku hanya tidak suka kalau Suho Hyung memberi perhatian yang berlebihan pada gadis manusia itu. Jangan membuat dirinya seakan benar-benar spesial dalam keluarga kita, Hyung. Dia harus tahu diri, kalau dia hanya gadis manusia yang lemah.”

 

♥♥♥

 

“Wah! Wah! Daebak!” ucap Tao dengan mata yang masih tertuju pada layar ponselnya.

Waeyo?” tanya yang lainnya. Saat ini, Yoora dan ke-8 lelaki itu tengah berkumpul di ruangan tengah yang biasa menjadi tempat mereka untuk sekedar bersantai merebahkan diri di sofa yang ada.

“Salju pertama akan turun malam ini!” jawab Tao yang langsung disambut dengan sorak sorai saudara-saudaranya.

Cheosnun oneun ileon ohue neoege jeonhwaleul geol suman issdamyeon gippeultende…” Dio menyanyikan lirik lagu First Snow dengan suara merdunya.

“…Beolsseo ilnyeon-i jinassneunde nan ajig milyeon gadeughaeseo “sseulsseulhae” eoneusae honjasmal…” sambung Kai.

“Tunggu!” Suho mengerutkan dahinya, merasa ada sesuatu yang kurang. Ia lalu mulai menghitung jumlah saudaranya yang ada di ruangan itu. Tujuh? Itu berarti kalau dirinya ikut terhitung, jumlah mereka hanya 8 orang? Dan jika Yoora ikut terhitung, hanya ada 9 orang?

“Chanyeol dan Baekhyun, ke mana mereka?” tanya Suho akhirnya. Dua adiknya itulah yang kini tak ada di tengah-tengah mereka. Saudara-saudaranya yang lain mulai terlihat saling memandang satu sama lain, beberapa di antara mereka bahkan ada yang terlihat mengangkat bahu, tidak tahu apa-apa tentang Chanyeol dan Baekhyun yang tidak ada dalam pesta yang mereka adakan setiap menjelang natal itu.

“Ah!” Sehun teringat sesuatu, reaksinya yang tiba-tiba itu membuat kakak-kakaknya menatap serius ke arahnya.

Sehun memandang ke arah Yoora,

“Yoora-ya, bukankah seharusnya kau menemui Chanyeol Hyung di Namsan Tower jam 7? Apa kau lupa?”

DEG!

Yoora baru teringat. Chanyeol menunggunya, Chanyeol pasti masih menunggunya di tempat itu! gadis itu memandang ke arah jam ber-angka-kan romawi yang tertempel di dinding ruangan itu, jam itu hampir menunjukkan pukul 9 malam. Oh tidak! Kenapa ia bisa lupa?!

“Dasar bodoh!” hardiknya pada dirinya sendiri dalam hati.

Mianhae, Oppa. Aku harus segera menemui Chanyeol Oppa, aku harus segera pergi. mianhae!”

“Yak!” teriakan Kai menghentikan langkah terburu-buru Yoora. Yoora berpaling memandang Kai.

“Kau yakin tidak akan membutuhkan bantuanku dan membiarkan Chanyeol Hyung semakin lama menunggumu?” tanya Kai. Benar juga, Kai bisa membawanya ke Namsan Tower hanya dalam sekejap mata.

 

Chanyeol Oppa, tunggulah sebentar lagi.

 

♥♥♥

 

Lelaki bertubuh tinggi itu mengedarkan pandangannya, mencari sosok gadis yang ditunggunya sejak pukul 7 tadi. Bibirnya terlihat membiru, suhu udara malam ini sudah begitu rendah. Meski tubuhnya lebih hangat 4 derajat dari saudaranya yang lain, ia tetap bisa merasakan bagaimana angin malam itu menusuk tulang-tulangnya.

Ya, lelaki itu tak lain adalah Chanyeol. Vampire tampan keluarga Lee yang berhasil memikat hati Yoora sejak pertama kali mereka bertemu hari itu. Lelaki itu sudah menyuruh Yoora untuk menemuinya di tempat ia berdiri saat ini tepat pukul 7 malam lewat perantaraan Sehun. Karena sungguh, ia akan merasa sangat malu jika harus mengajak gadis itu berkencan secara terang-terangan. Chanyeol sengaja memilih tempat itu karena tempat itu merupakan tempat paling romantis menurutnya. Membayangkan melihat salju pertama turun bersama orang yang ia cintai, sungguh merupakan kebahagiaan yang ingin segera ia wujudkan.

“Yoora-ya, kau pasti datang kan?” Chanyeol mulai bertanya-tanya dengan bibir gemetar kedinginan. Lelaki itu menatap sebuah kotak kecil berpita merah muda yang sudah ia persiapkan. Kotak kecil itu berisikan sebuah cincin berwarna silver berbentuk mahkota yang sengaja ia pesan dari jauh-jauh hari. Ya, untuk siapa lagi kalau bukan untuk gadis itu.

Tubuhnya sudah hampir membeku, sudah lebih dari dua jam ia menunggu di bawah menara yang tinggi itu. Saat ia mendengar suara gadis yang ditunggunya, ia tersenyum karena akhirnya penantiannya tidak sia-sia.

“Yoo… Euhk.” Suaranya mendadak hilang, tenggorokannya menjadi kering akibat terlalu lama berada di luar ruangan yang suhunya sangat rendah.

Matanya membulat, gadis itu ternyata tidak datang sendirian. Yoora bersama Baekhyun, mungkin lebih tepatnya, gadis itu datang untuk menemui Baekhyun, bukan untuk menemuinya. Gadis itu terlihat berbincang-bincang dengan Baekhyun sambil berpegangan tangan mesra di sudut lain seperti melupakan pertemuan spesialnya dengan Chanyeol malam ini.

Lagi-lagi aku terlambat. Aku tak pernah ada di saat kau membutuhkanku. Aku terlambat, entah sudah yang keberapa kalinya aku kalah dan tak pernah menang. Bahkan hanya untuk berada di sampingmu saja, tempat itu selalu terisi oleh orang lain dan pada akhirnya aku tak pernah bisa berada di sisimu, lirih Chanyeol dalam hati.

Chanyeol tentu terluka, karena ia hanya bisa memandangi dua orang itu dari jauh tanpa bisa melakukan apa-apa. Lelaki itu menunduk lemah di balik patung berbentuk hati yang terbuat dari logam itu, membuka kotak kecil yang dibawanya, mengambil cincin yang tadinya akan ia berikan pada gadis itu dari tempatnya.

“Seharusnya kau sudah melingkar di jari manisnya.” Gumam Chanyeol dengan berlinang airmata. Tangannya yang gemetar membuatnya tak sengaja menjatuhkan cincin tersebut hingga cincin itu jatuh menggelinding dan berhenti di dekat kaki Yoora.

“Chanyeol Oppa…” Yoora terkejut saat mendapati Chanyeol merangkak mendekati kakinya. Sementara Baekhyun memandang Chanyeol dengan tatapan tak suka.

Mianhae, Hyung.” Chanyeol memungut cincinnya, sementara airmatanya tak henti-hentinya membasahi pipinya.

Oppa!” panggil Yoora saat melihat Chanyeol berlari pergi meninggalkan dirinya bersama Baekhyun begitu saja.

Ketika Yoora hendak mengejar Chanyeol, tangan Baekhyun menahannya.

“Jangan pergi.”

Yoora menatap mata Baekhyun, lelaki itu menatapnya dengan tatapan memohon. Tidak, ia tidak bisa. Ia datang untuk Chanyeol, bukan untuk Baekhyun.

Mianhae Oppa, tapi aku datang untuknya.”

Lelaki itu melihat bulir airmata Yoora yang hampir jatuh, ia pun tidak bisa. Tidak bisa kalau harus melihat gadisnya menangis. Walau terasa berat, Baekhyun perlahan melepaskan genggaman tangannya. Membiarkan gadisnya pergi, mengejar lelaki lain.

Chanyeol berlari secepat yang ia bisa sambil terus berlinang airmata, tak peduli orang lain memandangnya dengan tatapan aneh atau apa. Ia terus berlari, berusaha menghapus kenyataan bahwa cintanya pada Yoora hanya bertepuk sebelah tangan, berusaha menerima kenyataan bahwa Yoora bukanlah miliknya.

Di ujung jalan, ia kembali menatap nanar cincin yang dipegangnya. Cincin yang seharusnya sudah melingkar di jari manis Yoora sedari tadi. Ternyata itu hanyalah sebagian dari impian kosongnya belaka. Lagi lagi, tangan gemetarnya tak sengaja menjatuhkan benda kecil yang sangat berharga itu ke aspal jalanan.

“Chanyeol Oppa!” teriak Yoora di belakangnya.

ANDWAE!”

BUGH!

Sebuah bus berhasil menghantam dengan keras tubuh lelaki itu hingga terhempas sejauh beberapa meter. Kepalanya membentur aspal dan tubuhnya berhasil mengikis habis jalanan bertekstur kasar tersebut, membuatnya menjadi bahan tontonan orang-orang disekitarnya.

Yoora berlari memangku kepala lelaki itu yang berlumuran darah, sebagian orang yang peduli berusaha memanggil ambulan dan menelepon kantor polisi.

Oppa! Sadarlah! Kumohon!” gadis itu menangis histeris tatkala darah yang mengalir dari kepala lelaki itu semakin banyak.

Lelaki itu membuka matanya perlahan, lalu menatap sayu gadis yang sedang menangis di hadapannya. Tangan lelaki itu terangkat, memperlihatkan sebuah cincin yang berhasil lelaki itu dapatkan kembali walau harus mempertaruhkan nyawanya.

“Aku mencintaimu…” lirih Chanyeol sebelum akhirnya kembali memejamkan kedua matanya, tak sadarkan diri. Tepat di saat yang sama, salju pertama di bulan desember itu pun turun. Salju pertama yang seharusnya disaksikan oleh Chanyeol dan Yoora dengan penuh kebahagiaan dan rasa cinta. Seharusnya.

Hyung, apakah aku akan mati?

Tidak, kau tidak akan pernah mati.

Waeyo?

Karena kau abadi, kematian tidak bisa merenggut nyawamu begitu saja.

Apa kau juga seperti itu?

Tentu, kita memang sudah ditakdirkan seperti ini. Tidak hidup, juga tidak mati.

Hyung, bagaimana kalau aku sudah lelah menghadapi semuanya? Bisakah aku memilih untuk mati saja? Mati, benar-benar mati. Kematian yang sebenarnya.

Hanya cinta sejati yang mampu mengantarmu ke kematian yang sebenarnya, Chan-ah. Cinta dari seorang wanita yang benar-benar tulus mencintaimu.

Hyung, apa yang harus kulakukan? Aku sudah menemukan cinta sejatiku, wanita yang ku cintai dengan tulus. Tapi, bagaimana, kalau ternyata aku bukanlah cinta sejatinya? Bagaimana kalau, dia tidak pernah ada untuk mencintaiku?

Hyung? Kau di mana?Hyung! jangan tinggalkan aku sendirian! Hyung! Joon Hyung!

Ruangan putih itu terlihat ramai, beberapa dokter yang memakai jas putih didampingi beberapa wanita yang sepertinya seorang perawat itu terlihat sibuk mengurus pasien korban kecelakaan yang menderita luka parah. Alat-alat canggih yang mereka sediakan bahkan tak mampu menunjukkan kalau jantung sang pasien masih berdetak. Mereka sudah melakukan banyak usaha untuk mengembalikan detak jantung si pasien, namun tetap saja, jantung si pasien telah berhenti dan tak bisa berdetak lagi. Pasien itu meninggal dunia.

“Catat waktu meninggal saudara Park Chanyeol.” Titah salah seorang dokter pada perawat di sebelahnya.

“24 Desember 2015, 10.13 PM.”

Baru saja dokter itu hendak melangkahkan kakinya keluar ruangan, tiba-tiba…

BRAK!

Ke-9 lelaki itu melangkah masuk ke ruangan tanpa bisa dicegah oleh pihak keamanan dan berhasil merusak pintu ruangan kamar rumah sakit itu.

“Ada apa ini?” tanya dokter itu sedikit ketakutan.

“Apa yang kau lakukan? CEPAT SURUH PERAWAT-PERAWATMU ITU UNTUK MEMASANG KEMBALI ALAT-ALAT ITU KE TUBUH SAUDARAKU!” bentak Xiumin. Tangan kekarnya menarik kerah baju dokter itu.

“Tapi tuan, saudara Park Chanyeol sudah meninggal dunia. Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi Tuhan…”

BUGH!

Kini lelaki berkulit paling pucat di antara yang lainnya itu menendang tubuh sang dokter hingga jatuh tersungkur.

“YAK! DIA TIDAK AKAN MATI BEGITU SAJA! CEPAT PASANG KEMBALI ALAT-ALAT ITU ATAU KUPATAHKAN LEHER KALIAN SATU PERSATU!” ucapan lelaki itu membuat saudaranya yang lain dengan sigap memaksa para dokter serta para perawat itu untuk kembali memasangkan alat-alat medis ke tubuh Chanyeol yang terkulai lemah di ranjang.

Suho, lelaki itu, memandang tubuh penuh luka adiknya, Chanyeol. Ia tidak mungkin membiarkan adiknya itu terus tersiksa, karena bagaimana pun, seorang vampire akan tetap merasakan bagaimana rasanya berada dalam kondisi kritis yang bahkan manusia dengan kasar menyebutnya kematian. Seorang vampire tidak akan mati seperti itu, karena memang sejak awal mereka adalah mayat hidup.

Suho memejamkan matanya kuat-kuat, berusaha mengatur pikiran orang-orang agar pikiran mereka tentang Park Chanyeol, member EXO yang baru saja mengalami kecelakaan dan divonis meninggal dunia itu bisa terhapus dan terlupakan begitu saja dari ingatan mereka. Ia tidak boleh membiarkan orang-orang itu menganggap bahwa Chanyeol EXO sudah tiada, karena Chanyeol memang masih ada, akan selalu ada.

 

♥♥♥

 

“Setelah Suho Hyung, Baekhyun Hyung, kemudian Tao, dan sekarang, Chanyeol? Lalu siapa lagi yang akan mendapat kesialan selanjutnya?” ucap Dio.

“Apa maksudmu berkata seperti itu, Dio-ya?” tanya Lay.

“Apa lagi kalau bukan menduga kalau gadis itulah penyebab semua kesialan ini. Benar begitu, Chloe?” Chen lagi-lagi mengajak boneka bebeknya berbicara.

Yoora menunduk, airmatanya seolah tak bisa terbendung lagi dan jatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Mungkin Dio dan Chen berkata benar, dialah penyebab semua ini. Suho yang sakit, Baekhyun yang terluka parah hingga koma, Tao yang sempat kehilangan harapan karena cedera kaki yang dialaminya, dan sekarang, Chanyeol yang kritis karena mengalami kecelakaan fatal setelah mengajaknya bertemu, ini semua, pastilah karena dirinya.

“Hati-hati dengan bicaramu, Dio-ya. Aku tahu kau mencintai Yoora, tapi kenapa kau selalu membuatnya terluka dengan setiap perkataan yang keluar dari mulutmu?” ucapan Baekhyun seketika membuat yang lain terkejut, termasuk Yoora.

Dio–mencintai–Yoora.

Hyung, kau benar-benar mencintainya?” tanya Kai.

Xiumin berdehem,

“Yoora-ya, make-up seperti apa yang kau pakai? Sampai-sampai adik-adikku jatuh cinta pada gadis yang sama, gadis manusia pula.”

“Jika kalian tidak tahu apa-apa, lebih baik kalian tutup rapat-rapat mulut kalian. Sebelum aku benar-benar merobeknya.” Dio berlalu, pergi menjauh dari saudaranya yang lain yang selalu memandangnya sebelah mata.

Sehun memandang Yoora, kali ini ia rasa dadanya benar-benar sesak. Ia ingin menangis, tapi ia tidak bisa. Rasanya, terlalu sulit.

♥♥♥

 

Bunyi alat-alat medis terdengar memenuhi seluruh isi ruangan putih itu. Mulai dari kepala, hidung, mulut, dada, tangan hingga kaki vampire itu tak luput dari alat-alat yang membuatnya tetap hidup. Suho, lelaki itu dengan setia menemani Chanyeol. Menunggunya membuka mata sambil sesekali terdengar mengajaknya berbicara.

Pandangan Suho menangkap sebuah dompet berwarna hitam yang tergeletak di atas laci, ia baru ingat, kalau tadi Yoora yang menyimpannya di sana. Itu dompet Chanyeol.

“Ternyata dia masih menyimpannya.” Gumam Suho setelah mengambil dompet itu. Ia tersenyum kecil, dompet yang merupakan hadiah pemberiannya 5 tahun yang lalu ternyata masih dipakai dengan baik oleh anak nakal itu.

“Eoh?” Suho mengambil foto dalam dompet itu yang ternyata adalah foto dirinya bersama Chanyeol. Lagi-lagi Suho tak dapat menyembunyikan senyumannya, anak itu diam-diam menyimpan setiap momen kebersamaan mereka dengan baik pula.

page.

Annyeong, Hyung.

Aku tak henti-hentinya berharap bahwa suatu saat kau mau membuka dompetku dan melihatnya. Taraaa! Kau melihatnya sekarang! Kkkk~ ^_^

Hyung, kita bisa seperti ini lagi bukan?

Jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat merindukanmu.

Bukankah kita pernah berjanji untuk hidup bersama selamanya?

Kau tidak melupakannya, kan?

Hyung, aku sangat menyayangimu.

Jangan pernah tinggalkan aku sendirian lagi.

Aku ingin terus bersamamu bahkan sampai tangan Tuhan pun tak dapat memisahkan kita.

Joon Hyung, aku mencintaimu…

Dari adikmu yang selalu mencintaimu, Kim Chan ♥

“Joon? Kim Chan? Kau masih tidak bisa melupakan kehidupan kita yang dulu eoh?”

 

―flashback―

 

Abeoji, adik Joon namanya siapa?” tanya seorang anak laki-laki berumur 6 tahun pada ayahnya yang sedang menggendong bayi laki-laki yang baru lahir beberapa jam yang lalu itu.

“Adik Joon namanya… siapa ya? Eum…”

“Siapa? Siapa?” tanya anak laki-laki itu bersemangat. Anak laki-laki itu adalah Joon, Kim Joon, diri Suho di masa lalu.

“Nama adik Joon… Kim Chan! Eotte? Lucu sekali bukan? Kelak, Chan akan membawa kebahagiaan bagi keluarga kita, bagi Abeoji, bagi Eomma, dan bagi Joon tentunya.” Ujar sang ayah.

“Chan-ah, annyeong! Aku Joon, kakak Chan. Dan kau Chan, adik Joon. Ayo cepat besar agar kita bisa bermain bersama!” ucap Joon dengan logat anak kecilnya. Menggemaskan sekali.

Tahun demi tahun berlalu, tak terasa Chan sudah tumbuh sebagai adik yang lucu dan juga membawa kebahagiaan bagi keluarga Kim. Joon selalu mengajak Chan bermain bersama, meski pada akhirnya, Joon selalu terkena marah ayahnya karena membuat Chan menangis akibat kejahilannya. Meski sering begitu, Joon dan Chan seperti tidak bisa dipisahkan. Mereka selalu terlihat lengket, seperti permen karet. Ke mana pun Joon pergi, Chan pasti selalu ada dibelakang punggungnya, melingkarkan tangan dan kaki, menempel pada sang kakak.

“Joon-ah, kau mau ke mana? Chan sepertinya lelah berjalan kaki ya?” sapa seorang bibi penjual sayuran yang memang dekat sekali dengan keluarga Joon.

“Ya, bibi. Joon ingin mengantarkan makanan ini pada kakek Hwang. Chan memang manja sekali, bibi. Kapan-kapan, bibi yang bawa Chan saja ya?” balas anak berumur 10 tahun itu diakhiri candaan yang langsung membuat adiknya menangis.

Suatu sore, Joon menuntun adiknya untuk pulang ke rumah mereka. Mereka baru saja bermain di pasar, dan hasilnya, baju mereka kini kotor dan tangan Joon sedikit memar akibat tertimpa papan yang hampir jatuh menindih tubuh adiknya.

Eomma?” mata Joon membulat, tepat jauh di depan matanya, ia melihat sang ibu tengah berpelukan bersama lelaki lain. Joon dengan cepat menutup mata Chan, tak membiarkan Chan untuk melihat sedetikpun pemandangan menyakitkan yang belum bisa dipahami oleh adiknya yang kini baru berumur 5 tahun.

“Ada apa, kakak? Kenapa kakak menutup mata Chan?”

“Chan tutup mata dulu ya? Jangan dibuka sebelum kakak suruh. Kakak punya kejutan untuk Chan, tapi kalau Chan buka mata sebelum kakak suruh, kejutannya tidak jadi kakak berikan pada Chan, kakak berikan saja kejutannya pada bibi Han. Chan mau kejutan atau tidak?” bohong Joon. Tidak mungkin juga ia mengatakan yang sejujurnya pada Chan kalau dirinya melihat ibu mereka sedang berpelukan dengan lelaki lain. Chan juga tidak akan mengerti sekarang.

“Chan mau kejutan! Jangan berikan kejutannya pada bibi Han! Berikan pada Chan saja!”

Dan sore itu berakhir dengan Joon yang membelikan makanan kesukaan adiknya yang sebenarnya dilarang oleh sang ayah untuk dibeli. Joon terkena marah lagi. Tapi tak apa, selagi itu bisa membuat Chan bahagia dan menjauhkannya dari kata luka.

“Yak! Kau mau ke mana?! Jangan bawa Chan!”

“Diam! Chan anakku! Dia harus ikut bersamaku!”

“Lalu kau anggap Joon apa?! Dia juga anakmu! Kau tak memikirkannya?!”

Joon menangis di dalam kamarnya, tak berani melangkahkan kaki keluar dari kamar dan melihat ayah dan ibunya yang sedang bertengkar. Walau samar, ia mendengar Chan menjerit menangis memanggilnya. Ia merutuki dirinya yang tak bisa melakukan apa-apa. Ibunya memilih berpisah dengan ayahnya dan pergi bersama lelaki yang 2 tahun lalu ia lihat untuk pertama kali sedang memeluk ibunya.

Eomma, kau boleh pergi… tapi kumohon jangan bawa Chan pergi bersamamu!” jerit Joon dalam hati. Airmatanya terus berlinangan.

“Kakak! Kakak! Chan ingin bersama kakak! Kakak! Chan tidak mau pergi! Kakak!” suara jeritan tangis itu semakin lama terdengar semakin jauh, seiring semakin jauh pula kaki ibunya melangkah pergi membawa Chan. Sejak saat itu, untuk pertama kalinya, Joon dan Chan terpisahkan.

Joon berjalan menelusuri pasar, seperti biasa untuk mengantarkan makanan pada kakek Hwang, seorang kakek yang selalu berbuat baik pada ayahnya. Tapi ada yang tak biasa, ya, Chan tidak ada menemaninya. Tidak ada yang memberatkan punggungnya lagi, kini punggungnya benar-benar terasa hampa.

“Joon-ah, mengantar makanan untuk Kakek Hwang?” sapa Bibi Han ramah.

“Ya, Bibi.” Jawab Joon, anak itu berusaha menampilkan senyumnya walau terpaksa.

“Kau tidak bersama Chan? Ke mana Chan? Tidak biasanya…” salah seorang bibi penjual umbi-umbian menyiku lengan kanan Bibi Han, entah apa yang dibisikannya, yang jelas, raut wajah bibi Han menjadi sedih dan memandang kasihan Joon yang masih memaksakan senyumannya.

“Chan! Chan-ah! Chan! CHAN!” Joon terbangun dari mimpinya, bertemu dengan Bibi Han siang tadi membuat dirinya kembali memikirkan sang adik sampai terbawa ke dalam mimpi. Sang ayah memeluk Joon erat-erat, meminta maaf karena tak bisa menjaga Chan untuk Joon. Sebenarnya bukan kali ini saja Joon tiba-tiba terbangun di malam hari dan meneriakkan nama adiknya, sudah sering, bahkan sangat lebih dari sering Joon mengalami hal itu. Joon, sangat merindukan Chan.

“Chan-ah, apa kau makan dengan baik? ah, tentu saja. pertanyaan bodoh apa ini. kau pasti makan dengan baik mengingat lelaki yang membawamu pergi bersama eomma adalah pegawai kerajaan. Chan-ah, kau bermain dengan siapa? Apa kau punya teman untuk bermain? Jangan pernah bermain sendirian ya? Nanti orang jahat akan mendatangimu kalau kau bermain sendirian. Chan-ah, bogoshipeoneomubogoshipeo.”

 

―flashback end―

 

Suho menghapus kristal bening yang jatuh membasahi pipinya saat ia mengingat kembali bagaimana sorot balik kehidupannya di masa lalu. Menyakitkan, begitu menyakitkan. Ia bahkan berani bersumpah tidak ingin kembali ke masa di mana ibunya dulu pernah hidup bahagia bersama lelaki lain dan mengkhianati ayahnya. Tidak, terimakasih.

 

“Chan-ah… ayo bangun, dan bermain lagi bersama Joon.”

 

♥♥♥

 

jangan lupa tinggalkan jejak sebelum klik next yaa! :* laffyouu, ders!^^

Next →

Iklan

2 pemikiran pada “[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 10A

  1. Yaaa…dapet banget feel nya..kasian amat sih senin cuman jadi perantara…tpi knp dio jadi org jahat terus ih..kasiahanilah dia..hahaha..y ampun chanyeol buat aku nangis wae…apa lagi ceriga flashback ama suho..sumpah aku nangis😭😭😭😭😭😭euhhhh…knp satu chapter lagi ..fighthing

    Suka

  2. ahhhhh gue kebanjiran air mata T.T #lebay sedih banget Chan setia banget nungguin Yoora 2jam subhanallah sekali kalau gue mh udh tinggalin ajaa hahahaha:D
    ituu sebenernyaa Yoora th suka nya sma Chanyeol apa Baek? bkin gondok ajaaa

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s