[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT – CH. 10 B : The Day When I Will Find You Again (END)

PicsArt_09-20-10.46.19

`SADISTIC NIGHT`

A fanfiction by AYUSHAFIRAA |

Starring Baekhyun, Kim Yoojung as Kim Yoora, Chanyeol, Sehun, Suho | Supported by D.O, Tao, Xiumin, Kai, Chen, Lay, Lee Pace |

AU, Drama, Fantasy, Romance, Violence |

PG-17/M | Chaptered |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari Diabolik Lovers dan berbagai film serta anime yang bergenre fantasy. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

AYUSHAFIRAA©2015. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Prev. Night : WAY? | MS | D | [Protected] WIL? | TS | TEOMS | [Protected] YHTG | TR | [Protected] IY | FS

| BAB II  CH. 10 B : The Day When I Will Find You Again |

Hari di mana kau akan bertemu dengannya lagi, inilah harinya… Hari di mana aku harus melepasmu ke pelukannya, hari di mana kau harus melupakan kisah cinta kita dan memulai kisah cinta baru bersamanya.

.

.

.

Sehun menatap jari manis gadis di depannya. Sebuah cincin silver berbentuk mahkota melingkar dengan cantiknya di jari lentik gadis itu. Cincin yang pas, tidak kebesaran, juga tidak kekecilan.

“Bagaimana rasanya?”

“Hm?” gadis itu secara tidak langsung menyuruh Sehun mengulangi pertanyaannya.

Lensa berwarna biru pekat itu terlihat tenang dengan sedikit air yang menggenang dan bisa tumpah kapan saja dari matanya.

“Bagaimana rasanya dicintai oleh 5 lelaki sekaligus?” Baekhyun, Chanyeol, Suho, Dio, dan dirinya. Sebodoh-bodohnya Sehun, Sehun tidak mungkin salah menghitung.

Gadis itu menatap mata Sehun, menangkap suatu sinyal kalau sebentar lagi lelaki itu akan menitikkan airmata. “Apa yang membuatmu bertanya seperti itu? Apa yang terjadi?”

“Yoora” panggil Sehun lirih. Matanya berubah sendu. “Kau gadis yang sangat beruntung.”

“Maksudmu?”

“Kau… bisa merasakan bahwa cinta yang Baekhyun Hyung dan Chanyeol Hyung berikan padamu begitu tulus. Mereka bahkan rela mempertaruhkan nyawa demi dirimu. Lihatlah betapa beruntungnya kau, Yoora.” Akhirnya bulir airmata itu jatuh juga. Tangan hangat Yoora dengan cepat menyeka airmata yang membasahi pipi putih pucat Sehun.

“Apa yang sebenarnya ingin Oppa bicarakan denganku?”

Lelaki itu meremas ujung bajunya, berusaha menahan tangannya untuk tidak menarik Yoora ke dalam sebuah pelukan. Tapi ia tak bisa. Tangan itu dengan tak tahu diri melingkar di pinggang Yoora dan menariknya lebih dekat menyisakan ruang di antara mereka yang hanya tinggal beberapa sentimeter lagi. Sehun membenamkan kepalanya di pundak gadis itu, menangis tersedu.

Oppa… ada apa denganmu?” Yoora berusaha melepas pelukan Sehun, namun lelaki itu menahannya.

“Sebentar, sebentar saja. Biarkan aku seperti ini sebentar saja.” suara lelaki itu bergetar. Yoora merasakan pundaknya semakin basah seiring dengan suara isakan pelan Sehun.

“Aku mencintaimu, Yoora.”

Gadis itu tak bersuara, membiarkan Sehun mengeluarkan segala rasa yang membuat dadanya sesak selama ini.

“Aku tak pernah bisa merasakan bagaimana rasanya cinta yang tulus. Aku tidak tahu. Selama ini yang bisa kulakukan hanya berganti-ganti wanita tanpa bisa mencintai mereka sebagaimana seharusnya.”

“Cinta yang tulus itu… seperti apa?” tanya Sehun, tak bisa mengerti.

“Apa cinta yang tulus itu semenyakitkan mencintaimu? Apa rasanya selalu seperti itu? Atau hanya aku yang selalu merasakan rasa sakit itu? Aku juga… ingin dicintai dengan tulus.” Sehun mempererat pelukannya.

Walau merasa sedikit sulit bernafas, Yoora tak berkutik sedikitpun. Yoora mengerti, bahwa lelaki semenyebalkan Sehun juga bisa terlihat begitu menyedihkan dalam pelukannya.

―Kilas balik, 1979―

Lelaki berumur 18 tahun itu melangkah membanting pintu kamar, berjalan tergesa menuruni tangga di dalam rumah besarnyarumah yang ia rasa sudah benar-benar seperti neraka. Suara keras orang tuanya yang saling berteriak satu sama lain seperti tak pernah berhenti memecah telinga. Suara pecahan kaca dan barang-barang yang dibanting mereka pun ikut mengisi ketidak-tentraman keluarga kecil itu.

Sehun, lelaki tampan berkulit putih itu menghentikan langkahnya saat ia rasa sesuatu yang tajam berhasil menembus kulit telapak kaki sebelah kanannya. Pecahan kaca.

“Hei, kau anak nakal! Mau ke mana lagi kau huh?!” suara pria paruh baya itu membuat Sehun menghembuskan nafasnya kasar. Ada rasa yang sedang sekuat tenaga ia tahan dalam hatinya.

“Apa peduli ayah? Bukankah biasanya ayah tidak pernah bertanya apapun tentang hidupku? Lanjutkan saja pertengkaran kalian, jangan pikirkan aku. Toh aku pun tidak peduli.”

“Hei! Berhenti kau anak brengsek! Hei, Oh Sehun!”

Sehun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Hal itu berhasil membuat luka di telapak kakinya semakin menjadi, darah yang keluar dari telapak kakinya pun semakin banyak. Tapi Sehun sudah tidak peduli, toh rasa sakit di kakinya itu sama sekali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit akan kehancuran keluarga yang sudah ia pendam dalam hati selama ini.

Dengan tak mempedulikan luka di kakinya, ia menginjak pedal gas untuk mempercepat laju mobilnya. Mobil yang dikendarainya seakan membelah jalanan Seoul malam itu. Tidak ada lagi tempat yang bisa ia tuju, selain satu-satunya tempat yang ia pikir bisa menenangkan hati dan pikirannya saat ini; rumah sang kekasih, Jung Sooyeon.

PicsArt_12-04-11.33.53

“Sooyeon?” Tangannya yang gemetar meremas kuat setir mobilnya.

Rasa kecewa, tak percaya, muak akan keadaan, seolah bercampur menjadi satu, menumpuk menyesakkan dada. Lelaki itu belum sempat melangkahkan kakinya keluar dari mobil, karena ternyata matanya lebih cepat beberapa detik dalam menangkap adegan mesra kekasihnya yang tengah dicumbu pria lain tepat di depan rumah sang gadis tercinta.

Menyakitkan. Terlalu sakit rasanya untuk mempercayai kenyataan bahwa gadis yang selama ini kau yakini mencintaimu dengan tulus, gadis yang selalu menjadi tempat ternyaman yang bisa kau datangi, gadis yang pernah mengucapkan kata-kata cinta padamu dengan penuh pesona ternyata diam-diam mengkhianatimu. Lalu kata-kata cinta yang sebelumnya itu apa? Bualan saja kah?

“Dunia ini… tidak adil.” Sehun menginjak kuat pedal gasnya, melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Bagaimana bisa dunia ini begitu tidak adil padanya? Kekasih bahkan orang tuanya sekalipun, tidak pernah membuatnya bisa merasakan bagaimana rasanya cinta yang tulus. Ini terlalu menyedihkan.

Lelaki itu putus asa, ia kini hanya mengharapkan kedamaian dalam kematian. Ya, lelaki itu ingin mati. Setidaknya, ia berpikir bahwa kematian bisa membuatnya melupakan bagaimana rasa sakit yang kehidupan ini pernah berikan padanya.

Sehun memegang erat kendali kemudi, sementara kecepatan mobilnya semakin lama semakin meningkat. Sebuah truk besar dari arah berlawanan bergerak cepat ke arahnya dan siap menghantam mobilnya dalam beberapa detik lagi.

CIIIITTTTT! BRAK!

Mobil yang dikemudikan Sehun berhasil menghantam keras sebuah pohon setelah sebelumnya membanting setir untuk menghindari tabrakan dengan sebuah truk, tubuh lelaki itu bahkan terjepit di antara mobilnya yang ringsek. Darah segar mengalir dari kepala dan tubuhnya dipenuhi luka serius.

“Aku akan mengurangi rasa sakitmu… aku berjanji.”

Sesuatu yang dingin menyentuh wajah Sehun. Meski dalam keadaan seperti itu, Sehun masih bisa merasakan kalau sesuatu yang dingin menyapa kulit pipinya berasal dari sebuah sentuhan tangan. Tapi, tangan siapa?

Dengan tenaga yang tersisa, Sehun berusaha membuka mata. Belum sempat Sehun melihat sosok di depannya, sosok itu tiba-tiba saja mencengkram bahunya dan menanamkan gigi-gigi runcing tepat ke lehernya.

Panas, rasanya seperti seluruh organ dalam tubuhmu terbakar sekaligus. Rasa sakitnya sama sekali tak dapat kau bayangkan, rasa sakit yang bahkan membuatmu sama sekali tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun dari mulutmu. Mulutmu hanya terbuka, melepaskan nyawa.

Dingin. Rasa panas itu kini tergantikan oleh rasa dingin yang begitu menusuk. Rasanya seperti es di kutub utara dan selatan bersatu dalam tubuhmu, benar-benar dingin.

Perlahan tapi pasti, Sehun membuka kedua matanya dan menyadari tempat ia berbaring saat ini tampak begitu asing.

“Kau sudah sadar?” lelaki berlensa merah menyala itu tersenyum ke arah Sehun.

Sehun mengerenyitkan dahi, kebingungan.

‘Siapa lelaki itu?’ ‘Sedang di mana ia sekarang?’ ‘Bukankah seharusnya ia sudah mati?’ Itulah pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak Sehun.

“Ah-” Sehun kehilangan kemampuan berbicara. Tenggorokannya terasa begitu kering.

“Minumlah. Ini bisa membuat rasa hausmu hilang.”

Da-darah?

Sehun terbelalak. Bagaimana bisa lelaki itu memberinya darah di saat ia sedang haus seperti ini?

Namun tangan gemetar Sehun menunjukkan reaksi berkebalikan dengan meraih cangkir berisi cairan kental berwarna merah itu dan meneguknya tak sabar. Sehun sudah buta dan tergila-gila, hanya darah itulah yang mampu menyegarkan tenggorokannya.

“Selamat datang di keluarga kami, Sehun Lee. Aku Suho.”

Sejak saat itu, namanya bukan lagi Oh Sehun. Sehun, kini telah menjadi keturunan termuda di keluarga barunya.

―Kilas balik selesai―

“Ehem.”

Hyung…” Sehun menyadari kehadiran Baekhyun, namun tangannya tak mampu melepas Yoora dari pelukannya.

Oppa…” Yoora berusaha berpaling untuk melihat ke arah Baekhyun, tapi tangan Sehun kemudian menangkup pipi dan mencium bibirnya, sengaja, di hadapan Baekhyun.

♥♥♥

“Jangan masuk.” cegah Baekhyun saat Yoora hendak melangkah masuk ke dalam ruang rawat Chanyeol. Lelaki itu menahan tangan kanan Yoora begitu erat dengan wajah menunduk tak menatap gadisnya sedikitpun.

Baru saja, Suho mengatakan kalau Chanyeol sudah siuman. Hal itu langsung membuat Yoora berbinar, antara bahagia dan bersyukur pada Tuhan. Baekhyun melihat itu, melihat perubahan raut wajah Yoora yang entah kenapa malah membuatnya sakit.

Yoora tersenyum seraya menggenggam tangan Baekhyun yang menahan tangannya. “Apa yang Oppa takutkan?”

Baekhyun memeluk tubuh Yoora. Sementara itu, Yoora hanya tersenyum mengerti dan sedetik kemudian membalas pelukan Baekhyun.

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga.” Balas Yoora. Pelukan lelaki itu perlahan melemah dan membiarkan gadis itu masuk ke dalam ruang rawat saudara sekaligus rivalnya selama ini, Chanyeol Lee.

Bunyi alat-alat medis yang membantu Chanyeol tetap hidup terdengar jelas di telinga Yoora. Suho yang sedaritadi menemani adiknya pun meninggalkan ruangan setelah melihat Yoora melangkah masuk.

“Yoora…” panggil Chanyeol lirih setelah melihat Yoora mendekatinya.

Gadis itu tersenyum, meski tak dapat dipungkiri bahwa sesungguhnya ia masih sangat mengkhawatirkan kondisi Chanyeol.

Oppa… kau mengalami masa yang sulit bukan?”

Lelaki yang terbaring lemah di ranjang pesakitan itu mengangguk. Tatapan sayunya terus tertuju pada wajah sang gadis, mengagumi kecantikan gadis itu hingga membuat pipi gadisnya merona.

“Cincin ini sangat cantik, aku menyukainya. Terimakasih, Oppa.” Yoora memperlihatkan cincin mahkota yang melingkar di jari manisnya pada Chanyeol.

“Tapi… seharusnya kau tidak perlu sampai mengorbankan nyawamu demi memberiku cincin ini. Kau tahu? Aku khawatir. Aku… takut kehilanganmu.”

Chanyeol tertegun. Yoora? takut kehilangannya?

“Aku mencintaimu.”

Yoora terdiam, tak membalas kata-kata Chanyeol. Sementara Chanyeol masih menunggu, menunggu Yoora menerima dan membalas perasaannya. Tapi lagi-lagi ia harus kecewa, karena gadis itu memilih bungkam dalam hening.

“Bukankah… kau pernah berkata… kalau akulah lelaki yang kau cintai? Kau… tak ingat?” Chanyeol tenggelam dalam ingatannya saat mengajak Yoora pergi ke mercusuar musim gugur lalu. Di sana, mereka tersenyum dan tertawa bahagia bersama. Saat itu, Yoora sempat membuat sebuah pengakuan kalau lelaki yang mampu menarik hatinya sejak pertama kali bertemu adalah Chanyeol, bukan Baekhyun.

“Kau benar-benar bodoh, sampai-sampai kau menghasutku untuk berhenti mencintai lelaki yang kucintai tanpa tahu siapa lelaki yang kucintai itu.”

“Yang pasti itu bukan aku.”

“Lihatlah,”

“Bahkan lelaki bodoh yang kucintai itu kini berlagak sok tahu di depanku.”

Tentu saja, Chanyeol akan selalu mengingat momen tersebut. Momen di mana ia dan Yoora saling menautkan bibir, terhanyut dalam emosi masing-masing tanpa ada paksaan sedikitpun. Sungguh, Chanyeol merasa sangat bahagia saat itu.

“Di antara mereka, kenapa aku?”

“Aku mencintaimu. Cintaku kujatuhkan padamu. Bukankah itu sudah cukup?”

“Kau benar. Dengan kau mencintaiku saja, itu sudah cukup untukku.”

“Terimakasih karena telah memilihku. Aku mencintaimu.”

Mata lelaki itu kini mulai berkaca-kaca, “Apa yang membuatmu mampu mengubah arah hatimu secepat itu?”

“Hm?” Yoora juga tidak mungkin lupa, kalau ia pernah menjadi benar-benar gila karena Chanyeol.

“Kenapa pada akhirnya… kau malah memilihnya?”

Gadis itu mencoba mengatur nafas, dadanya benar-benar sesak.

“Karena sejak awal, aku adalah miliknya. Dan sampai kapanpun, aku akan selalu menjadi miliknya.”

♥♥♥

Dio terduduk di kursi taman rumah sakit, kepalanya menengadah ke atas memandangi langit malam yang menjatuhkan butiran-butiran salju. Butiran salju itu jatuh tepat di wajahnya dan mencair, menyamarkan airmata yang saat ini tengah mengalir deras dari matanya yang mulai memerah.

“Kenapa kau malah berdiam diri di sini?” Dio memutar bola matanya.

Ah, Baekhyun.

“Udaranya sangat dingin, masuklah ke dalam.”

Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Dio, lelaki itu seolah tak mempedulikan si lawan bicara.

“Aku mencintai Yoora, Dio-ya.” Ucap Baekhyun memulai pembicaraan inti.

Tenggorokan Dio tercekat.

“Aku sudah mencintainya jauh lebih lama dari yang kau kira. Dia satu-satunya wanita yang pernah mengisi hatiku, karena setelah bertemu dengannya, aku tak bisa berpaling sedikitpun. Kim Yoora… dia adalah Baek Soomin-ku, kekasihku, wanita yang akan selalu kucintai.” Lelaki yang masih berdiri di belakang Dio itu terlihat memejamkan mata, larut dalam ingatan yang tak mungkin bisa ia lupakan.

―Kilas balik, 1998―

Baekhyun Lee, vampir ke-4 keluarga Lee itu tak pernah lelah mencari kekasihnya―mungkin lebih tepatnya, reinkarnasi kekasihnya yang sudah meninggal sejak lebih dari 100 tahun yang lalu, Baek Soomin. Dengan bantuan Kai dan Tao, Baekhyun menelusuri setiap rumah sakit bersalin yang ada di tiap penjuru dunia. Kai akan membantu membawa Baekhyun dan Tao berpindah-pindah rumah sakit dalam waktu singkat dengan kekuatan teleportasinya, sedangkan Tao akan membantu Baekhyun dalam melihat wajah masa depan bayi-bayi dari sentuhan tangan mereka dengan kekuatan pengendali waktunya.

“Hyung…” Tao membuka kedua matanya, lalu menatap ke arah Baekhyun yang menatapnya penuh harap. Tangan Tao masih menyentuh tangan mungil bayi perempuan yang baru saja lahir ke dunia beberapa jam yang lalu itu.

“Ke-kenapa?”

Lelaki yang memiliki lingkaran hitam di sekitar matanya itu memberi anggukan, yakin kalau bayi perempuan itulah yang kakaknya cari selama ini.

Baekhyun tak kuasa menyembunyikan binar bahagia yang terlihat begitu jelas dari sorot matanya. Dilihatnya identitas si bayi yang tertera di inkubator bayi perempuan mungil tersebut.

“Kim… Yoora.”

♥♥♥

“Kumohon, Ayah. Jadikan dia takdirku. Bantu aku untuk mendapatkannya kembali.” pinta Baekhyun seraya berlutut memohon pada sang ayah, Pace Lee. Sekali saja Pace mengiyakan, segala urusan yang berhubungan dengan bayi perempuan bernama Kim Yoora tersebut bisa dengan mudah terpenuhi.

Pace terdiam, tidak seperti biasanya. Biasanya, Pace akan langsung memberi jawaban pada setiap permintaan anak-anaknya, entah itu langsung diterima atau langsung ditolak. Namun kali ini, Pace tidak langsung memberikan jawabannya. Butuh waktu beberapa lama bagi Baekhyun untuk mendapat jawaban dari sang ayah.

“Baiklah.”

Senyum Baekhyun melebar, itulah jawaban yang sedaritadi ia tunggu.

“Tapi kau harus berjanji untuk selalu melindunginya apapun yang terjadi. Kau mengerti?”

“Tentu, Ayah! Terimakasih!”

♥♥♥

“Manusia sepertimu tidak akan mampu memahami sedikitpun tentang keluarga kami.” ucap Dio.

Lagi-lagi, perkataan mereka membuat Yoora bingung. Saat gadis itu sedang sibuk bergelut dengan pikirannya, Baekhyun datang menghampirinya dan menyadarkannya dari lamunan serius itu.

“Sebaiknya, kau tidak perlu berusaha untuk memahami keluarga kami sampai sejauh itu. Semakin banyak kau bertanya, akan semakin banyak pula luka yang kami buat di hatimu. Maka dari itu, berhentilah sekarang juga, Yoora.”

Yoora menatap mata Baekhyun, lensa kuning lelaki itu nampak terang beberapa saat dan kembali lagi seperti semula. Gadis itu seperti tengah berpikir keras.

“Hentikan! Hentikan! Hentikan!” bentak Baekhyun seketika seperti orang frustasi. Dengan sigap, Tao dan Kai menjauhkan Baekhyun dari Yoora, sementara Suho menjauhkan Yoora dari Baekhyun.

“Kalian! Cepat bawa dia ke kamarnya! Aku akan menyusul.” titah Suho.

Tao dan Kai membawa Baekhyun ke kamarnya, tidak dengan kekuatan apapun yang sekiranya akan membuat Yoora semakin curiga dengan identitas asli mereka. Tak butuh menunggu waktu lama, Suho duduk di hadapan Baekhyun, sementara Kai dan Tao sudah beranjak lebih dulu meninggalkan mereka.

“Dia adalah alasanku untuk tetap hidup, Hyung. Aku mencintainya.”

“Takkan kubiarkan orang lain merebutnya darimu. Aku berjanji untuk itu.”

Suho pernah berjanji seperti itu pada Baekhyun, tapi pada kenyataannya, justru vampir ke-2 keluarga Lee itulah yang kemudian menjadi orang pertama yang menjadikan Yoora sebagai kekasihnya tanpa mempedulikan semua janji-janji itu.

♥♥♥

Baekhyun mengepal tangannya kuat, menahan amarah yang seakan memuncak dan bisa meledak kapan saja. Pandangan matanya terlihat kosong. Telinganya dapat mudah mendengar percakapan antara Yoora dan Chanyeol yang belum terlihat sejak pulang sekolah. Menurut sopir keluarga mereka, Chanyeol mengendarai mobilnya sendiri dengan seorang gadis bersamanya. Tentu saja, Baekhyun tahu kalau gadis yang dimaksud sopir mereka adalah Yoora.

Meski suara yang dapat Baekhyun dengar hanyalah suara Chanyeol, tapi Baekhyun sudah tahu ke mana arah pembicaraan dua insan itu yang sekarang sedang berjarak jauh dengannya.

“Di antara mereka, kenapa aku?”

….

“Kau benar. Dengan kau mencintaiku saja, itu sudah cukup untukku.”

“Terimakasih karena telah memilihku. Aku mencintaimu.”

“Dia milikku… dan tak akan pernah menjadi milikmu.” Lensa kuning terang Baekhyun pun menyala-nyala.

―Kilas balik selesai―

Dio tersenyum miring,

Bukankah jika dibandingkan denganku, aku akan terlihat lebih menyedihkan? Aku tidak bisa mencintai siapapun. Ayahku sudah mengutukku. Aku tak dapat merasakan cinta dari gadis manapun. Aku takkan pernah bisa mencintai dan dicintai. Bahkan di saat aku sudah bukan menjadi bagian dari dunia manusia, kutukan ayahku tak pernah hilang.

“Kalau kau bisa mencintai Yoora sedalam itu, bukankah itu berarti kutukan ayahmu sudah tak berlaku lagi?”

“Berhentilah membaca pikiranku! Berhenti berusaha mengetahui apa yang seharusnya tak kau ketahui!” teriak Dio pada Baekhyun. Akhirnya, lelaki itu kembali membuka mulutnya. Airmatanya jelas mengalir begitu saja.

Baekhyun tampak terkejut, namun mengerti akan keadaan. Ia menunduk, lalu menggesek-gesekan kakinya ke tanah yang sudah tertutupi salju. “Aku juga ingin berhenti.”

“Ya! Kau hanya perlu berhenti!”

“Kau tahu, Dio-ya? Aku sangat membenci kekuatanku sendiri, mungkin sama saja dengan kebencianmu terhadap kekuatanku.”

“Aku benci jika harus membaca pikiran orang lain dan mendengar kata hati mereka. Itu membuatku benar-benar lelah. Duniaku terasa lebih berat dari sebelumnya. Duniaku… terlalu berisik.”

Dio terdiam, menatap mata Baekhyun yang sedaritadi terlihat sendu. Demi apapun, ia tidak bisa membiarkan saudaranya terluka. Tapi kali ini, malah dia sendiri yang menyakiti hati saudaranya itu. Rasa bersalah mulai menyelimutinya, tak seharusnya ia menyalahkan kekuatan Baekhyun, karena sesungguhnya, kekuatan itu langsung diberikan oleh Pace, bukan atas keinginan Baekhyun sendiri.

“Dio-ya… kalau aku berhenti, bukankah aku akan mati? Aku baru saja bertemu dengan belahan jiwaku, lalu, haruskah aku mati sekarang? Tidak, aku belum siap untuk berpisah dengannya lagi. Aku tidak ingin berpisah dengannya lagi.”

♥♥♥

Cahaya terang benderang dari lampu gantung di tengah langit-langit ruangan itu menerangi wajah pucat para vampir keturunan keluarga Lee dan seorang gadis manusia. Ke-10 vampir tampan keluarga Lee yang sedang berkumpul di ruangan tersebut kini memusatkan seluruh perhatian mereka pada gadis yang tengah berdiri di hadapan mereka, menggenggam sebuah pisau pemberian Dio yang bentuknya hampir menyerupai salib dan berwarna perak dengan gemetar.

Xiumin, lelaki itulah yang menjadi alasan gadis itu kini memegang benda pusaka yang bisa melenyapkan keberadaan vampir dengan sekali tusukan tepat di jantung mereka. Ia sudah terlanjur muak akan kisah cinta antara gadis manusia itu dengan adik-adiknya. Yoora harus bisa membuktikan siapa lelaki yang benar-benar ia cintai.

“Jika kau memang benar-benar mencintai salah seorang di antara kami, bunuh kami dengan pisau perak itu.”

Ya, untuk membuktikan ketulusan cinta Yoora pada salah satu di antara mereka, Yoora harus menusukkan pisau itu tepat ke jantung vampir yang dicintainya. Karena bagi vampir, membunuh adalah jalan terakhir untuk menyatakan cinta. Adalah suatu kehormatan bagi vampir untuk bisa merasakan ketulusan cinta di akhir hidup abadi mereka.

“Karena kematian yang sebenarnya lebih indah daripada kehidupan yang seperti ini.” Dio menambahkan dengan tatapan dinginnya.

Tangan gadis itu terus bergemetar, tidak sanggup. Bagaimana bisa ia membunuh lelaki yang dicintainya? Sekali saja pisau itu menusuk jantung lelaki yang ia cintai, maka lelaki yang dicintainya itu akan musnah dari muka bumi ini.

Netra Yoora dapat menangkap senyuman tipis di bibir Baekhyun, senyuman yang malah semakin membuat Yoora lemah, tak sanggup melakukan apapun.

Yoora mencintai Baekhyun, sungguh. Tapi haruskah pembuktian cinta itu membuatnya terpisah semakin jauh dari Baekhyun? Membayangkan Baekhyun takkan pernah hadir lagi dalam hidupnya… tidak! Yoora tidak akan sanggup bahkan hanya untuk membayangkannya!

“Apa yang kau tunggu, Kim Yoora? Kami semua menunggu pernyataan cintamu.” Ucap Xiumin yang seakan menyudutkan Yoora.

Baekhyun beranjak dari duduknya, melangkah menghampiri Yoora yang tertekan.

“Yak! Baekhyun Lee! Apa yang kau lakukan?!” ucap Suho yang langsung dibalas oleh Chanyeol,

“Baekhyun sedang menghampiri apa yang ia anggap sebagai takdirnya. Bukan begitu, Hyung?”

Vampir ke-4 keluarga Lee itu menampakkan senyumannya, sentuhan dingin tangannya pada pipi gadis itu membuat si gadis merasakan ketenangan batin.

“Kau memegang akhiran yang bisa mengakhiri kehidupan abadi.” Ucap Baekhyun lembut. Tangan dingin itu kini menuntun tangan Yoora untuk mengarahkan pisau perak tersebut tepat ke dadanya, ya, tepat di mana jantung tak berfungsi Baekhyun berada.

“Tidak, Oppa. Aku tidak bisa, jangan begini… kumohon.” Yoora menggeleng, airmatanya menetes seolah tak menghendaki kelemahan tangannya yang tak bisa menjauhkan pisau itu dari dada Baekhyun.

“Tidak apa-apa…” lelaki itu tetap tersenyum, menenangkan Yoora, sementara ujung pisau tajam itu masih senantiasa menempel di dadanya. Baekhyun memegang kedua bahu Yoora dan menarik tubuh kecil gadis itu ke dalam pelukannya.

BLES!

Mata Yoora membulat sempurna, ia dapat merasakan tangannya yang memegang pisau perak itu terbasahi oleh cairan berwarna merah gelap seperti darahtidak, itu memang darah. Ya, darah Baekhyun, lelaki yang Yoora cintai begitu tulus.

Hyung!” Tao dan Kai memandang tak percaya apa yang baru saja mereka lihat. Pisau perak itu berhasil menusuk tepat ke jantung Baekhyun.

“Yoora… aku mencintaimu.” Bisik Baekhyun lirih.

Tao dan Kai yang hendak memisahkan Baekhyun dari Yoora seketika dapat dicegah oleh Xiumin dan Lay. Chen tak kuasa menahan tangisnya sambil memeluk Chloe erat. Sementara Chanyeol, Sehun, Suho, dan Dio menatap nanar tubuh Baekhyun yang semakin melemah dalam pelukan Yoora. Mereka pun tak sanggup, melihat satu lagi saudara mereka harus musnah dari muka bumi ini.

“Aku juga mencintaimu…” airmata Yoora membanjiri pipinya. Gadis itu terus mempererat pelukannya, seolah tak ingin membiarkan Baekhyun pergi dan menghilang untuk selamanya dari dunia ini.

Pace yang entah datang dari mana terlihat berlari ke ruangan itu, menatap tak percaya kalau salah seorang dari keturunannya kini tak lagi berdaya dengan pisau perak yang menusuk jantungnya dalam pelukan seorang gadis manusia.

“Ayah! Tolong selamatkan Baekhyun Hyung, Ayah! Ayah, Kumohon!” teriak Tao yang masih dicegah oleh Xiumin yang diam-diam menyembunyikan airmatanya.

“Ayah! Jangan biarkan Baekhyun Hyung musnah, Ayah! Jangan biarkan kami kehilangan saudara kami lagi!” teriak Kai tak kalah histerisnya.

Pria bule itu menarik Yoora, membiarkan Baekhyun tergeletak tak berdaya dan menemui kematian kedua dari hidup abadinya.

Yoora yang sudah terlanjur lemas tak bisa melakukan apa-apa lagi kecuali membiarkan Pace melakukan apa yang pria bule itu ingin lakukan terhadapnya.

“Aaaakhh!”

Pace menanamkan taringnya pada pembuluh darah di leher Yoora, merobek pembuluh darah itu hingga Yoora merasakan kesakitan yang luar biasa. Rasa sakitnya melebihi rasa sakit yang pernah ia rasakan saat pertama kali Baekhyun menggigit lehernya dulu.

“Ayah…” Ke-9 vampir keturunan keluarga Lee yang tersisa itu memandang ayah mereka tak percaya. Ayah mereka yang sudah sangat lama tidak pernah terlihat menghisap darah manusia itu kini menghisap darah Yoora? Kenapa?

“Aakhh… sakith…” lirih Yoora di sisa akhir nafasnya.

Pace terus menanam taring tajamnya dan menyebarkan cairan neraka di aliran darah gadis itu yang akan menjadikan gadis manusia itu sama seperti dirinya. Ya, Pace sedang berusaha mengubah Yoora menjadi makhluk dingin penghisap darah, vampir.

“Sudah seharusnya sejak dulu kuhidupkan insting pemangsamu, agar mereka tak perlu mencintai gadis manusia dan terluka karenanya.” Ucap Pace pada Yoora yang seketika membuat ke-9 vampir keturunannya terkejut.

“A-apa… apa maksud ayah?” tanya Lay.

“Tidak mungkin…” Suho tampak menggeleng, tak percaya.

Pria bule berlensa cokelat itu membaringkan tubuh Yoora yang sudah tak bernyawa di samping Baekhyun yang tubuhnya perlahan mulai menghilang.

“Kim Yoora… adalah putriku. Putri kandungku, Hannah Lee.”

―Kilas balik, sudut pandang Pace―

‘Pace-ssi! Tolong aku! Aku digigit oleh banyak vampir!’ jeritan hati yang tertangkap oleh indera pendengaranku itu tiba-tiba membuatku tercekat.

Tidak! Jangan bunuh kekasihku!

Aku berlari secepat yang kubisa, berlari menuju kediaman kekasihku yang berjarak tak terlalu jauh dari kediamanku. Hatiku dipenuhi kekhawatiran, takut sesuatu yang buruk benar-benar terjadi menimpanya. Tapi kemudian, gadis pujaanku itu malah berdiri menyambutku dengan tawa khasnya di depan pintu rumahnya.

“Di kamarku banyak sekali nyamuk, Pace-ssi.”

“Apa?”

Nyamuk? Vampir yang dia maksud itu… nyamuk?

“Kenapa?” Yoomin, kekasihku itu sepertinya menangkap ekspresi wajahku sekarang yang tak mengerti akan maksud kelakuannya.

“Kau benar-benar berpikir aku digigit oleh makhluk fiksi itu eoh?”

Kudengar Yoomin tertawa setelah menyebut vampir adalah makhluk fiksi. Dia benar-benar tertawa, entah bagian mana yang membuat gadis itu merasa kalimatnya pantas untuk ditertawakan. Namun tak lama, tawanya mereda. Lebih tepatnya, setelah ia tak menemukan tawa di bibirku.

“Vampir bukanlah makhluk fiksi, Kim Yoomin.”

Tubuhku mulai membeku, suhu manusia yang kutahan selama ini tak bisa kutahan lagi. Kulihat Yoomin gemetar dengan mata membulat sempurna. Mungkin, sudah saatnya aku menunjukkan siapa jati diriku sebenarnya.

“Pace-ssi…” tangannya menyentuh pipiku, kujamin ia dapat merasakan dinginnya suhu tubuhku yang tak normal.

“Kau benar-benar seorang vampir.”

Bukannya takut, Yoomin malah terlihat begitu bahagia. Ia tak menyangka bisa memiliki kekasih sepertiku yang ternyata merupakan seorang vampir darah murni.

Dia adalah gadis manusia, dan aku adalah seorang vampir. Meski kami berbeda, itu bukanlah suatu halangan bagi kami untuk bersatu. Ya, setelah itu, kami menikah.

“Yak, Kim Yoomin! Kau gila?! Kau memutuskan menikah dengannya bahkan setelah kau tahu kalau dia bukan manusia?!”

“Kim Jaerim! Tak bisakah kau mengecilkan sedikit volume suaramu? Pace bisa mendengarnya!”

ogs-4

“Kau tidak bisa seperti ini… kumohon Yoomin, tinggalkan dia dan pergi bersamaku.”

Jaerim, lelaki itu sahabatku, sahabat Yoomin juga. Aku tahu, dia sangat mencintai Yoomin, namun Yoomin lebih memilih untuk mencintaiku. Jaerim-lah yang lebih dulu mengetahui kalau aku bukanlah seorang manusia dan membongkar semuanya pada Yoomin dengan harapan Yoomin mau menjauhiku.

“Aku hamil, Jaerim. Buah cintaku dengan Pace.”

Aku tersenyum di balik dinding, mendengar Yoomin mau memberitahu Jaerim perihal kehamilannya. Aku dapat mengetahui kekecewaan Jaerim dalam hatinya, ia mencaci dan memaki-maki namaku, mengutuk makhluk sepertiku yang hadir di antara kehidupannya dan Yoomin.

PicsArt_12-04-02.28.29

“Yoomin… bangunlah, Sayang. Kau tidak ingin melihat Hannah? Dia cantik sekali sepertimu, kulitnya putih, bibirnya merah seperti darah, lensa matanya juga benar-benar indah. Kau harus membuka matamu untuk melihat putri kita.”

unnamed

Airmataku menetes, namun istriku itu tak kunjung membuka mata. Tubuhnya terkulai lemah di ranjang bersalin, berhasil melahirkan putri cantik kami ke dunia ini dengan merelakan nyawanya sendiri.

Aku menatap wajah cantik malaikat kecil dalam gendonganku, putri dari vampir darah murni bersama seorang gadis manusia.

Hannah putriku, dia harus hidup bahagia.

“Jaerim, jadilah ayah yang baik bagi Hannah. Jika kau membenciku, setidaknya, rawatlah Hannah demi Yoomin.”

“Apa maksudmu? Lalu kau akan pergi begitu saja?”

“Saat aku menatapnya, aku selalu teringat ibunya. Jadi tolong beri aku waktu 17 tahun untuk melupakan rasa sakit ini perlahan-lahan, setelah itu, kau boleh mengembalikannya padaku.” Ucapku lalu meninggalkan Jaerim yang masih berdiri di ruangan bayi dengan mata yang menatap Hannah tertidur dalam inkubator.

“Mulai sekarang, namamu adalah Kim Yoora. Kau adalah putriku.” Ucap Jaerim dalam hatinya.

Ya, mungkin inilah yang terbaik. Putriku harus bahagia. Dan membiarkannya tumbuh sebagai gadis biasa bersama Jaerim, mungkin adalah pilihan terbaik yang pernah kupilih dalam hidupku.

―Kilas balik selesai, sudut pandang Pace selesai―

“Ayah! Apa yang kau lakukan?!” ke-9 vampir tampan itu terkejut saat melihat Pace menyayat urat nadinya sendiri dan meneteskan darah murninya pada jantung tak berfungsi Baekhyun yang menjadi organ satu-satunya milik Baekhyun yang tak menghilang.

“Aku takkan membiarkan mereka terpisahkan begitu saja.” ucap Pace.

“Dengan cara itu, Ayah bisa kembali membangunkan Baekhyun dalam 100 tahun.” jelas Suho memandangi jantung Baekhyun yang terkena tetesan darah murni Pace.

“Oh ya? Benarkah? Kenapa aku tidak pernah tahu itu?” tanya Sehun memasang tampang bodoh.

“Untuk mengetahuinya, kau harus menjadi vampir kelas A terlebih dahulu, Sehun-ah.” Ucap Lay.

“100 tahun… maka dari itu kau menghidupkan insting pemangsa Yoora? agar Yoora mampu menunggu Baekhyun selama 100 tahun?” tanya Xiumin menyimpulkan.

“Kau benar, Xiumin-ah.”

“Jadi, Baekhyun Hyung akan kembali pada keluarga kita?” tanya Kai dan Tao berbinar.

Chanyeol menghembuskan nafasnya, lega sekaligus berat.

“Kalian benar, dan juga… Baekhyun Hyung akan kembali ke pelukan Yoora.” manik sendu itu pun menatap Yoora yang terbaring lemah di samping jantung Baekhyun.

Ya, kembalilah, Hyung. Gadis manusia itu, ah tidak, dia bukan lagi gadis manusia. Vampir darah murni itu, Yoora… tidak, Hannah Lee… dia menunggumu. Kembalilah, Hyung. Jangan biarkan Yoora menunggumu terlalu lama, atau aku akan berusaha merebutnya lagi darimu, ucap Dio dalam hati.

♥♥♥

Gadis itu terbaring di atas ranjang penuh kelopak bunga mawar berwarna merah kehitaman yang hampir layu. Kulitnya pucat dan dingin. Bibirnya merah semerah darah. Rambut hitam indahnya dibiarkan terurai rapih sepanjang dadanya. Sebuah mahkota di atas kepalanya dan cincin mahkota berwarna silver yang melingkar di jari manisnya itu semakin menambah kecantikannya.

Hannah Lee, atau yang selama ini kita kenal sebagai Kim Yoora, telah terbaring di ranjang itu selama 14 hari lamanya. Ia persis seperti putri tidur yang menunggu ciuman dari sang pangeran yang memiliki cinta sejati untuk membangunkannya dari tidur panjangnya. Sebuah jantung tak berfungsi yang diketahui adalah milik kekasihnya terlihat tenang dalam sebuah toples dipenuhi darah murni di atas nakas di pinggir ranjangnya.

Chanyeol Lee, lelaki itu bergerak mendekat ke arah sang putri dengan membawa setangkai bunga mawar yang masih segar lalu menaruhnya di atas perut rata sang putri, membuat sang putri seolah-olah sedang memegang bunga mawar tersebut. Lelaki tinggi itu tersenyum, menatap cincin pemberiannya masih setia melingkar di jari manis sang putri. Walau cintanya tak terbalas, tapi lelaki itu yakin, ada sedikit celah di hati sang putri di mana namanya terukirkan di sana. Ya, meski hanya sedikit.

“Sebentar lagi, kau harus bangun, Hannah Lee.” Bisik Chanyeol lalu mengecup punggung tangan dingin gadis itu.

“Yak, Chanyeol Lee! Apa yang sedang kau lakukan, hm?” tanya Xiumin menyunggingkan senyumnya sambil bersandar di ambang pintu kamar.

“Yak, Hyung! Jangan lupa kalau Hannah hanyalah milik Baekhyun Hyung seorang.” Ucap Kai yang tiba-tiba muncul di bingkai jendela dengan nada yang sengaja menggurui.

Sudut bibir kiri Chanyeol tertarik ke atas, “Tentu saja, aku tidak mungkin lupa.”

“Kalau begitu, ayo kita ke bawah! Ayah dan yang lainnya sudah menunggu.” Ajak Xiumin pada kedua adiknya. Kai langsung menghilang, sedang Chanyeol mengecup kembali tangan pucat Yoora sebelum akhirnya melangkah pergi dari kamar gadis itu.

“Ada apa, Ayah? Apa ada hal penting yang ingin ayah sampaikan pada kami?” tanya Sehun sambil memperhatikan gaya rambutnya sendiri di cermin kecil miliknya.

“Tentu saja, ayah paling tidak suka berbicara hal-hal yang tidak perlu.” Balas Chen sambil mencubit-cubit Chloe gemas.

Pace duduk di hadapan anak-anaknya, lalu menyuruh anak-anaknya itu untuk mengambil selembar tisu yang telah disediakan Pace secara bergantian. Meski tak mengerti maksud sang ayah, ke-9 lelaki itu menurut. Setelahnya, Pace memberi intruksi pada mereka untuk memejamkan mata.

“Sekarang, pejamkan mata kalian,” Intruksi Pace jelas. “dan bayangkan wajah orang-orang yang kalian benci, atau kejadian-kejadian yang paling kalian benci selama hidup kalian.”

Chanyeol dan Suho terlihat mengepalkan tangan mereka dengan mata terpejam, mungkin sudah mendapatkan bayangan-bayangan yang mereka benci seperti yang Pace intruksikan. Sedangkan Chen, Dio dan Sehun terlihat berusaha menahan airmata mereka.

“Buka mata kalian.” Lanjut Pace yang langsung membuat ke-9 anaknya itu membuka mata mereka dan menemukan tisu yang sedaritadi mereka pegang kini dipenuhi tulisan yang entah dari mana datangnya.

Anakku… ketahuilah, bahwa tak ada satupun orang tua di dunia ini yang membenci anaknya sendiri. Aku, tak pernah sedikitpun membencimu. Hanya saja cara setiap orang tua menyampaikan kasih sayang pada anaknya tidaklah sama. Aku, tidak pernah tahu bagaimana caranya untuk tersenyum, bertutur kata yang baik, ataupun bersikap lembut lagi setelah aku kehilangan ibumu. Cintaku seakan hilang seiring kepergiannya.

Maafkan aku, Dokyung-ah. Maafkan ayah.

Setiap kali aku kalah dalam berjudi, apa yang ada dalam pikiranku hanyalah bagaimana caranya aku bisa terus memberimu sesuap nasi, bagaimana caranya aku membelikanmu obat jika suatu saat kau sakit, bagaimana caranya aku memenuhi kebutuhan hidup kita berdua tanpa perlu meminta-minta pada orang lain. Memikirkan itu semua sudah cukup membuatku gila. Maafkan aku.

Dokyung-ah, kumohon jangan benci aku. Sudah cukup bagiku kehilangan cinta dari mendiang ibumu yang meninggal setelah melahirkanmu, tolong jangan buat aku semakin merasa aku tak pantas mendapatkan cinta lagi. Jangan benci aku, Dokyung-ah.

Aku menyayangimu, Nak. Aku sangat menyayangimu.

 -Ayahmu.

Mata Dio langsung tertuju pada Pace. Mata yang berkaca-kaca itu seolah bertanya maksud dari Pace melakukan ini dan Pace hanya membalas Dio dengan sebuah senyuman. Airmata lelaki itu tak dapat terbendung lagi. Betapa durhakanya dirinya selama ini karena telah membenci sang ayah yang selalu menyiksanya tanpa ampun tanpa ia ketahui kalau ayahnya itu ternyata menyimpan banyak cinta untuknya dan tak pernah menginginkan ia untuk membencinya.

Suho menengadahkan kepala, mencegah kristal bening itu jatuh dari pelupuk matanya. Sementara sang adik, Chanyeol, sudah lebih dulu membasahi pipinya sendiri dengan airmata yang terus mengalir saat membaca tulisan di tisunya. Tulisan yang sama dengan yang tertulis di tisu milik Suho, tulisan dari sang ibu yang sangat mereka benci.

Joon-ah, Chan-ah… maafkan aku. Bukan maksudku untuk meninggalkan ayah kalian dan memisahkan kalian begitu saja. Aku hanya tidak ingin kalian tahu kalau aku sedang sakit, ada suatu penyakit dalam tubuhku yang mampu mengambil nyawaku kapanpun itu. Aku tidak ingin melihat kalian susah dan bersedih hanya karena aku yang hampir mati.

Lelaki itu, lelaki yang bersamaku waktu itu, sungguh dia hanyalah teman baikku, tidak lebih dari itu. Aku menceritakan segalanya padanya dan dia mengerti. Aku meminta bantuannya untuk mencarikanku tempat tinggal yang baru, tapi dia malah berbaik hati meninggalkan rumahnya agar bisa kutempati bersama Chan.

Joon-ah, kau pasti sangat membenciku kan? Sungguh, aku pergi bersama Chan karena aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Aku meninggalkanmu karena aku masih memikirkan ayah kalian, kau harus merawatnya dengan baik.

Joon-ah, di sisa akhir hidupku, aku selalu memikirkan kalian. Bahagiakah kalian? Apakah keputusan yang kuambil sudah tepat? Apa dengan kematianku yang dirahasiakan ini membuat kalian sama sekali tak bersedih?

Chan-ah, maafkan ibu. Ibu memang telah berdosa meninggalkanmu sendirian di rumah itu. Apa kau makan dengan baik setelah ibu pergi? Apa kau tidur dengan nyenyak? Apa kau tidak lupa menutup jendela jika hari mulai gelap? Maafkan ibu, Chan-ah. Maafkan ibu…

Joon-ah, Chan-ah… kalaupun kalian membenci ibu,tolong jangan benci ibu sepenuhnya. Ibu benar-benar mencintai ayah kalian, tidak ada lelaki manapun yang mampu menggantikannya. Ibu mencintai Joon, Ibu mencintai Chan. Ibu, mencintai kalian semua.

 -Ibu.

Tao meremas tisu yang dipegangnya, meski sudah ia tahan sekuat tenaga, airmatanya terus mengalir tanpa henti. Tulisan di tisunya menjelaskan bahwa sang ayah sudah memaafkannya dan tak pernah menaruh dendam apapun padanya. Chen menangis teringat bagaimana kedua orang tuanya meninggal karena kericuhan perang di China, Kai dan Sehun menangis berpelukan mengingat di masa lalu mereka begitu durhaka terhadap orang tua mereka hanya karena keluarga mereka yang hancur, sedangkan Xiumin dan Lay terlihat begitu tegar mengingat masa lalu mereka yang takut mengecewakan kedua orang tua karena gagal dalam bidang kesehatan dan bisnis yang telah mereka rintis masing-masing dan akhirnya membuat Xiumin memutuskan untuk melarikan diri ke China dan Lay ke Korea.

Pace memang sengaja menyampaikan ungkapan hati yang tak sempat terucap dari orang yang anak-anaknya itu benci atau dari orang-orang yang pernah ikut serta dalam kejadian yang paling anaknya itu benci, tujuannya tak lain adalah agar anak-anaknya itu bisa lebih menghargai hidup mereka dan orang-orang di sekitar mereka.

Bulan di atas langit sana bersiap menampilkan purnama. Angin bertiup kencang, membuka paksa jendela-jendela di sekitar kamar gadis berkulit putih pucat itu. Jari-jari lentiknya terlihat melakukan sedikit pergerakan, dan perlahan tapi pasti kedua matanya terbuka. Bulan purnama dan angin malam yang bertiup kencang seolah menjadi saksi kebangkitannya sebagai vampir darah murni.

yujung1

“Hannah…” Pace memandang putrinya dengan takjub. Saat ini, putrinya itu tengah berdiri di tangga dengan mata yang menatap lurus ke arahnya. Tubuhnya masih terlihat sangat rapuh.

Kedatangan putri kandung Pace itu membuat ke-9 vampir tampan keturunan Pace berlutut tunduk menghormati keberadaannya di keluarga Lee. Pace bergerak menjemput putrinya lengkap dengan setelan jas berwarna hitam, kontras dengan kulitnya yang putih pucat.

“A-ayah… apa yang mereka lakukan?” lensa mata berwarna oranye terang itu menatap bingung 9 vampir tampan yang masih berlutut dan tak beranjak sedikitpun dari posisi mereka.

“Mereka sedang memberi penghormatan kepadamu, Sayang.” Jelas Pace yang masih belum bisa dimengerti gadis itu.

Yoora menyentuh tenggorokannya, rasanya begitu kering. Tenggorokannya ingin segera terbasahi oleh cairan pemuas nafsunya. Rasa haus itu berubah menjadi rasa sakit yang kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya yang masih rapuh. Rasa yang begitu menyiksa itu akhirnya mampu membuatnya lemas hingga jatuh terduduk.

“Ayah… aku haus…”

“Suatu kehormatan bagi kami, Putri.” Ke-9 lelaki itu menusuk leher mereka masing-masing dengan kuku-kuku tangan mereka.

Darah merah kehitaman yang mengalir dari leher mereka menarik perhatian Yoora, vampir yang baru bangkit itu pun melesat cepat menancapkan taringnya ke leher 9 lelaki itu secara bergantian. Tidak ada penolakan, ke-9 lelaki itu dengan sukarela berbagi darah mereka untuk vampir darah murni seperti Yoora yang memiliki tingkat kehormatan lebih tinggi dari mereka.

Yoora menjilati sisa darah di sekitar mulutnya dengan gerakan sensual, membuat lensa ke-9 vampir itu pun menyala sempurna karena tergoda oleh pesona kecantikan luar biasa yang dimiliki gadis itu.

“Perlakukan saja aku seperti biasa. Kalau kalian terus bersikap seperti ini, aku pasti akan sangat merindukan masa-masaku saat menjadi satu-satunya gadis manusia di keluarga ini.”

“Namaku Kim Yoora, bukan Hannah ataupun Soomin. Dan aku mencintai seorang vampir kelas B yang bernama Baekhyun Lee.”

♥♥♥

Vampire paling terhormat - Yoora Lee

Kim Yoora, paras gadis cantik berlensa mata oranye terang itu terlihat memenuhi halaman depan beberapa majalah ternama Korea Selatan.

Tak terasa, 100 tahun sudah terlewati begitu saja. Pergantian jaman yang terus berkembang, membuat gadis ini kini beralih profesi menjadi seorang model. Warna asli matanya yang berbeda dari gadis Korea lainnya malah menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang melihatnya.

Setelah merasa lelah dengan kilatan lampu blitz dari kamera yang menyorotinya untuk kembali tampil di isu majalah bulan depan, gadis itu melangkah keluar dari gedung dengan ditemani manajer serta asisten-asistennya.

Langkahnya terhenti, senyum di bibirnya mengembang, saat seorang model pria ternama Korea bertubuh proporsional dan berlensa mata merah darah melangkah menghampirinya dengan sebuket bunga mawar yang masih segar.

“Hari yang indah, Sayang.” Ucap si lelaki tampan sebelum akhirnya mendaratkan ciuman lembutnya di bibir Yoora.

Hal itu otomatis membuat manajer dan asisten-asisten Yoora menyembunyikan senyuman malu mereka. Meski sudah terbiasa melihat kemesraan Yoora dengan sang kekasih, mereka selalu saja dibuat malu sendiri dengan hal-hal romantis yang dibuat si kekasih tampan Yoora.

Ya, lelaki berprofesi sama dengan Yoora itu tak lain adalah Chanyeol Lee. Bukan masalah lagi bagi mereka untuk menunjukkan kemesraan di depan umum meski sama-sama bekerja di dunia hiburan karena kurang lebih sejak 5 tahun yang lalu mereka sudah mengumumkan hubungan mereka secara terang-terangan pada publik. Tak jarang pula kemesraan dua insan ini menarik perhatian banyak orang dan semakin membuat publik merasa gemas akan kecocokan mereka. Bahkan beberapa majalah sempat menobatkan mereka sebagai ‘Pasangan Terbaik Sepanjang Tahun’ selama 5 tahun terakhir ini.

PicsArt_12-04-07.25.55

Yoora memberi isyarat pada manajer dan asistennya untuk meninggalkannya bersama Chanyeol. Setelah isyaratnya itu dimengerti dan dilaksanakan, tangan kekar Chanyeol menarik Yoora masuk ke mobil mewahnya diiringi tawa yang khas.

“Sehun menelepon.” Lelaki itu menekan sebuah tombol di mobilnya yang secara otomatis menampilkan video call Sehun dari sebuah layar virtual di depan mereka.

“Hai, Yoora!” Sapa Sehun sambil tersenyum manis di seberang sana yang langsung dibalas Yoora dengan senyuman juga.

“Yak, Hyung! Cepat kemari! Jangan berkencan terlalu lama!”

Chanyeol mengusap-usap telinganya sebagai tanda kalau suara Sehun terdengar sangat mengganggu. Tanpa membalas apapun, Chanyeol lantas mematikan sambungan video call Sehun.

Lelaki itu meremas setir di depannya dan menghembuskan nafas berat. Beberapa detik kemudian, lelaki itu tersenyum walau terlihat sedikit dipaksakan.

“Hari ini… tugasku sudah selesai.”

“Maksudmu?”

Chanyeol menggeleng seraya tertawa garing dan melajukan mobilnya ke tempat yang mereka tuju. Sepanjang perjalanan, tak ada yang mereka bicarakan. Yoora memandang ke arah luar sementara Chanyeol sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri.

Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di pekarangan sebuah rumah mewah yang biasa mereka jadikan sebagai istana tempat mereka melepas penat dari semua kesibukan yang ada. Langkah kaki terburu-buru Sehun menyambut kedatangan Chanyeol dan Yoora, atau lebih tepatnya menyambut kedatangan Yoora saja. Ya, hanya Yoora saja. Lelaki itu menarik Yoora berlari ke dalam rumah meninggalkan Chanyeol yang terus meneriaki nama mereka.

Lelaki berlensa biru pekat itu membawa Yoora ke sebuah ruangan yang gelap sempurna dan meninggalkannya di sana tanpa mengatakan apapun. Gadis itu dibuat bingung sendiri dengan maksud Sehun meninggalkannya di ruangan ini dan menguncinya.

Hei, jika Sehun bercanda, sungguh ini tidak lucu. Dasar vampir menyebalkan!

Klik. Satu persatu lampu yang ada di ruangan itu pun menyala.

electric-cinema

Sebuah ruangan menyerupai bioskop di dalam rumah mereka ini biasa mereka gunakan untuk menghabiskan waktu bersama dengan menonton beberapa film sambil menghabiskan beberapa bungkus pop corn.

Yoora terpaku, memandang sosok seorang lelaki yang dirindukannya selama ini. Lelaki tampan berlensa kuning terang yang selalu melindunginya di masa lalu, lelaki tampan yang selalu menjadi takdirnya, lelaki tampan yang harus menghilang selama 100 tahun karena pernyataan cintanya.

Baekhyun Lee, lelaki itu kini berdiri jauh di depan Yoora, memasang sebuah senyuman yang teramat sangat Yoora rindukan.

K1cX9Zpt1

K1cX9Zpt2

Gadis itu menitikkan sedikit airmatanya, bahagia. Sedetik kemudian, dirinya mengambil langkah pasti, berlari menghambur ke pelukan lelaki yang sangat ia cintai.

Baekhyun menyambut pelukan Yoora dan tanpa perlu menunggu lama keduanya larut dalam ciuman lembut nan menggairahkan. Segala rasa yang terpendam selama ini seolah tertumpahkan dalam ciuman hangat itu.

“Aku merindukanmu.” Ucap Baekhyun sesaat setelah melepas ciuman mereka.

“Hanya rindu saja?” Yoora mengerucutkan bibirnya, membuat Baekhyun mengambil kesempatan untuk mengecupnya lagi dan lagi.

“Kau benar-benar menggemaskan.” Lelaki itu mencubit hidung Yoora gemas, sementara yang dicubit hanya tertawa kecil.

Jari-jari Baekhyun melebarkan mata Yoora dan memandangnya heran, “Ada apa ini? Kau menjadi seorang model tanpa memakai lensa kontak dan mereka tak mencurigaimu?”

“Tentu saja tidak, mereka malah kagum dengan keindahan mataku.” Jawab Yoora menyombongkan diri.

Chanyeol tertunduk dengan tangan yang menggenggam kuat kenop pintu ruangan teater. Mungkin tidak seharusnya ia membuka kunci ruangan tersebut hanya untuk melihat Yoora terkunci di dalam sana. Terkunci dalam sebuah ruangan bersama lelaki yang ia cintai, Yoora sudah pasti tidak membutuhkannya lagi.

Sungguh kau tak ingat? Pura-pura tak mengingat atau sengaja melupakannya? Tidak, tentu saja. Tidak mungkin kau melupakannya.

Hari di mana kau akan bertemu dengannya lagi, inilah harinya. Inilah hari yang kau tunggu-tunggu selama 100 tahun. Hari di mana Baekhyun akan bangkit dan kembali ke pelukanmu, sekaligus, hari di mana aku harus melepasmu ke pelukannya. Hari di mana kau harus melupakan kisah cinta kita dan memulai kisah cinta baru bersamanya.

Aku tidak sedih.

Ah, aku berbohong sekali kalau mengatakan itu. Melihatmu tersenyum bahagia ketika kembali bersamanya, itu menyakitkanku. Kau juga pernah tersenyum seperti itu, senyuman yang sama namun berbeda. Aku tak mengerti dari mana perbedaan itu berasal, tapi aku jelas tahu, senyumanmu benar-benar berbeda.

Aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu. Meski aku tahu kau mencintanya, selalu mencintainya, dan akan selalu mencintainya. Aku tidak apa-apa, selagi mencintainya dapat membuatmu bahagia. Aku tidak apa-apa, sungguh. Aku tidak apa-apa, karena aku mencintaimu. Meski terkadang, mencintaimu benar-benar menyakitkanku.

♥♥♥

Suasana di ruangan bersalin sebuah rumah sakit terkenal milik Xiumin Lee tampak tegang. Chanyeol berlari menghampiri Baekhyun yang sedang dilanda gundah gulana sambil menggendong seorang anak perempuan berumur 1 tahun yang terjebak dalam tubuh anak berusia 4 tahun.

Anak perempuan dalam gendongan Baekhyun itu tak lain adalah Haeyoung Lee, putrinya bersama Yoora, wanita yang saat ini tengah berjuang melahirkan anak kedua mereka.

“Bagaimana keadaan Yoora? Apa dia baik-baik saja?” tanya Chanyeol setelah berhadapan langsung dengan Baekhyun. Sama sekali tak ada raut kelelahan di wajahnya walau harus berlari menaiki tangga darurat untuk sampai lebih cepat ke koridor ruang bersalin rumah sakit besar ini. Tak ada kekuatan Kai membuatnya harus sedikit membuang waktu.

“Yoora masih di dalam.” Jawab Baekhyun. Ada raut ketidak-tenangan tertangkap dari wajahnya.

“Bisakah kau ajak Haeyoung jalan-jalan sebentar?”

Chanyeol mengangguk lalu mengambil alih si kecil Haeyoung ke dalam gendongannya.

“Kau masuklah ke dalam, aku akan mengajak Haeyoung jalan-jalan di sekitar taman rumah sakit.”

“Baekhyun-ah, cepat! Yoora membutuhkanmu!” seru Xiumin yang baru saja keluar dari ruang bersalin, baju sterilnya dipenuhi bercak darah.

Tanpa berlama-lama lagi Baekhyun melangkah masuk ke dalam ruang bersalin setelah sebelumnya mengecup puncak kepala sang putri, meninggalkan putri kecilnya itu bersama sang paman, Chanyeol.

Ahjussi, kenapa Eomma terlihat kesakitan? Apa adik bayi dalam perut Eomma akan keluar?” tanya Haeyoung tak lepas dari logat khas anak kecilnya yang menggemaskan.

Chanyeol tersenyum lebar.

“Ya, kau benar, Cantik! Adik bayi Haeyoung sebentar lagi akan lahir, maka dari itu Xiumin Ahjussi dan Haeyoung Appa sangat khawatir dengan kondisi Eomma. Tapi, Haeyoung tidak usah khawatir ya? Eomma dan adik bayi Haeyoung pasti akan baik-baik saja.” tangan besar lelaki itu mengusap lembut surai kecokelatan Haeyoung.

“Sekarang, kita…. jalan-jalan!”

“Yey!” sorak Haeyoung ceria.

“Haeyoung mau es krim?”

Berbeda dari keadaan di luar sana, keadaan di dalam ruang bersalin begitu menegangkan. Yoora terlentang di atas ranjang bersalin dengan keadaan perut besar yang terkoyak, hampir kehabisan darah. Seharusnya di jaman serba canggih seperti ini, seorang ibu hamil tidak perlu merasakan kesakitan sedikitpun selama proses melahirkan. Namun Yoora berbeda, tentu saja, karena Yoora adalah seorang vampir, bukan manusia lagi.

Setiap kasus melahirkan yang dialami vampir, bayi vampir akan mengoyak daging lalu keluar sendiri dari perut ibunya. Hal inilah yang paling membuat Yoora tersiksa. Meski Xiumin sudah berusaha keras untuk menemukan obat penghilang rasa sakit bagi vampir, tetap saja rasa sakit itu dapat dengan mudah dirasakan oleh Yoora.

Yoora mencengkram kuat lengan Baekhyun, peluh sudah membanjiri wajah serta lehernya. Mulut Yoora sengaja disumpal kain, karena kalau tidak, Yoora bisa saja melukai mulutnya sendiri dengan taring-taring tajamnya.

“Tahan, Sayang! Sebentar lagi anak kita lahir, sebentar lagi. Kau pasti bisa!” Baekhyun mengecup kening Yoora berkali-kali, tangannya menggenggam kuat tangan Yoora seolah memberi kekuatan lebih pada istrinya itu.

“Sudah kukatakan untuk berhenti membuat Yoora hamil! Kenapa kau tidak menurut juga? Dasar anak nakal!” kesal Xiumin sambil terus membantu proses persalinan Yoora.

Bibir Baekhyun mengerucut, menggerutu pelan membalas kekesalan Xiumin.

“Berhenti menggerutu seperti itu!” mata Xiumin memicing. Baekhyun seketika menciut.

Tak lama kemudian, perjuangan Yoora selama 3 jam ini terbayarkan sudah. Anak kedua mereka akhirnya bisa lahir ke dunia ini dalam keadaan sehat. Tampan seperti ayahnya.

“Haeyoon Lee, putra kita.”

Yoora tersenyum lemah, melihat Baekhyun merengkuh tubuh kecil anak kedua mereka benar-benar membuatnya bahagia.

“Baekhyun Lee, aku mengawasimu.” Ancam Xiumin yang membuat Yoora tertawa kecil.

♥♥♥

Hari demi hari terus berlalu, beberapa di antara keluarga Lee kini sudah berpencar di segala penjuru dunia dengan profesi dan kesibukan mereka masing-masing.

Xiumin sibuk menjadi dokter di rumah sakitnya sendiri di Korea, Chanyeol sibuk mempertahankan popularitasnya sebagai model ternama Korea, Suho dan Lay sibuk mengurus bisnis di Amerika, Chen sibuk mengembangkan kemampuan bernyanyi dan bermusiknya di Jerman, Dio sibuk mencari ketenangan dengan menyendiri di sebuah pulau tak berpenghuni yang diberikan Pace untuknya, Kai dan Tao sibuk berjelajah keliling dunia, sedangkan Sehun? Sepertinya Sehun hanya perlu belajar lebih giat lagi untuk bebas melakukan apa saja yang ia inginkan seperti kakak-kakaknya. Ya, syaratnya hanyalah belajar dengan giat karena Sehun belum lulus-lulus juga dari sekolah malam sebagai vampir kelas A.

EXO? Kalian masih mengingatnya? Tentu saja tidak, karena Suho sudah menggunakan kekuatannya untuk menghapus ingatan orang-orang tentang boygroup ternama itu sekitar 100 tahun yang lalu tepat di saat mereka kehilangan Baekhyun. Suho juga melakukannya untuk menghilangkan ingatan orang-orang tentang keluarga mereka yang hidup abadi dan tak pernah mengalami penuaan. Jika tidak seperti itu, mungkin saja mereka sudah dibakar hidup-hidup sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu karena dianggap sebagai monster atau apalah itu.

“Ah! Haeyoung-ah, Ahjussi sangat merindukanmu!” Suho terlihat begitu tampan di layar ponsel pintar milik Baekhyun. Saat ini, mereka sedang terhubung oleh layanan video call mengingat Suho yang berada jauh di Amerika mengurusi urusan bisnis bersama Lay.

“Haeyoung-ah, beri salam pada Suho Ahjussi!” titah Baekhyun pada sang putri yang duduk dalam pangkuannya. Ya, inilah kesibukan Baekhyun sekarang, mengurus anak-anaknya bersama Yoora.

“Hai, Ahjussi!” sapa Haeyoung dengan imutnya.

Suho tertawa tak kuat dengan kelucuan putri kecil Baekhyun itu. Setelah mengontrol tawanya, Suho bertanya banyak tentang Yoora, tentang Baekhyun, dan tentang keluarganya yang masih tinggal di rumah sang ayah di Korea melalui sudut pandang Haeyoung yang jujur dan tak bisa berbohong.

“Hai, Oppa!” sapa Yoora yang baru saja menghampiri Baekhyun sambil menggendong Haeyoon dan duduk di sofa. “Bagaimana kabarmu dan kabar Lay Oppa di Amerika? Kalian baik-baik saja kan?”

“Haeyoon-ah! Haeyoon-ah! Kenapa kau semakin tampan saja? Ah ketampanan Ahjussi pasti akan terkalahkan oleh ketampanan Haeyoon!”

Yoora cemberut, Suho ternyata lebih tertarik pada Haeyoon dan mengacuhkan dirinya. Sementara itu, Haeyoon tertawa. Gigi-giginya yang baru tumbuh membuat bayi berumur 5 bulan itu terlihat begitu lucu.

“Tentu saja Haeyoon sangat tampan, Hyung! Dia mewarisi ketampananku yang tak ada habisnya ini, haha!” ucap Baekhyun tertawa puas.

“Apa kalian sudah berencana ingin mempunyai anak lagi?”

Pertanyaan itu sontak membuat Yoora dan Baekhyun saling bertatap, tatapan dalam yang berakhir dengan senyuman penuh arti yang tak dapat Suho mengerti.

“Tidak! Tidak ada hamil, dan tidak ada anak lagi!” tegas Xiumin yang tiba-tiba datang dan merangkul pasangan itu dengan senyuman lebar namun menakutkan.

“Ya! Maksud kami itu, Hyung! Ya! Tidak ada hamil, dan tidak ada anak lagi!”

Cinta itu seperti sebuah misteri, penuh teka-teki, yang jika hanya setengah jalan, kau tidak akan pernah menemukan jawaban.

Sama juga seperti halnya kau membaca sebuah buku, kau tidak akan pernah tahu bagaimana akhir yang akan kau dapatkan jika tak berani melanjutkan.

Andai saat itu aku memilih untuk pergi, dia mungkin hanya akan menjadi sekedar ilusi.

Andai aku benar-benar pergi, aku mungkin takkan pernah menyadari… bahwasanya hati ini telah dimiliki, oleh seseorang yang setia menanti hingga diri ini terlahir kembali untuk ke sekian kali.

♥♥♥

Langit gelap menyelimuti kota Seoul, langit sepertinya sudah tak tahan lagi untuk menurunkan titik-titik airnya. Hujan deras disertai petir yang bergemuruh akhirnya mengguyur wilayah tersebut dan membuat penampakan kota menjadi basah sempurna.

Teng, teng, teng, teng…. teng, teng, teng, teng…

Bunyi lonceng bergema di seluruh penjuru rumah keluarga Lee. Meski kini jaman sudah jauh lebih modern, mereka tetap mempertahankan bunyi lonceng tersebut sebagai bunyi bel yang khas bagi rumah bak istana mereka.

Tak mau ambil pusing, Chanyeol yang saat itu tengah merebahkan diri di sofa dengan mata terpejam tak berniat untuk beranjak sedikitpun dari tempatnya.

“Maaf, permisi…”

Lelaki itu bergeming, ia masih saja berusaha tertidur di tengah gangguan-gangguan yang ada.

Tangan hangat nan lembut menyentuh kulit tangan dinginnya, lalu tak berapa lama sentuhan itu berubah menjadi usapan-usapan yang sangat mengganggu.

Tunggu, hangat?

Lelaki itu akhirnya membuka kedua matanya dan mendapati seorang gadis cantik bersurai pirang sedang sibuk mengusap-usap tangannya yang dingin. Bangunnya lelaki berlensa merah darah bercahaya itu membuat lilin-lilin yang ada di sekitarnya menyala seketika. Tubuh gadis itu tampak gemetar setelah melihat tatapan Chanyeol yang begitu tajam, sedangkan tangan hangatnya masih menyentuh tangan Chanyeol.

“Yak! Apa yang kau lakukan?!” Chanyeol menepis tangan gadis itu kasar.

“Kau siapa? Siapa kau sampai berani-beraninya menyentuhku?! Apa yang dilakukan seorang gadis manusia di tempat ini huh?!”

“Maaf! Aku benar-benar minta maaf!” Gadis itu membungkukkan badannya berulang kali.

“Aish, ya ampun! Ada keributan apa di sini?”

Seluruh pencahayaan yang ada di ruangan tersebut tiba-tiba menyala, membuat ruangan yang awalnya hanya mengandalkan seberkas cahaya dari jendela itu kini terang benderang.

“Yak, Chanyeol-ah! Kenapa kau tidak sopan sekali pada tamu kita yang satu ini?” tegur Xiumin.

“Aku mencium sesuatu yang menyegarkan di sini.” Ucap Yoora mengambil nafas dalam, mencium aroma darah manusia yang masih mengalir di dalam tubuh si gadis bersurai pirang.

“Kau siapa? Kenapa kau bisa ada di tempat ini?” tanya Baekhyun, dingin.

Gadis bersurai pirang itu menunduk, terlalu takut untuk membalas tatapan tajam orang-orang pucat di hadapannya.

“A-aku datang kemari untuk memenuhi permintaan Tuan Lee yang memintaku untuk menjadi pembantu di rumah ini. Namaku Shin… Sh-shin… Shin Seulrin.”

PicsArt_12-04-11.52.34

– SADISTIC NIGHT BAB II : TAMAT –

Aaaahh ㅠㅠ akhirnya tamat juga :’D Terima kasih untuk semua pembaca yang selalu setia menunggu kelanjutan kisah Kim Yoora dan ke-10 vampir tampan di sekelilingnya :* Sekarang, sudah tidak ada ‘to be continued’ lagi karena kisah mereka sudah tamat :’)

Sebagai penutup kisah ini, berikut aku kasih bonus picture visual Haeyoung dan Haeyoon yang mewarisi kecantikan serta ketampanan hakiki dari kedua orang tuanya :v

miso (2)-vert-horz

(Haeyoung Lee, BaekYoo’s Daughter)

tumblr_inline_mr8xntiTOY1qz4rgp

(Haeyoon Lee, BaekYoo’s Son)

**Oh iya, sebelum kalian menutup cerita ini, ada baiknya kalian intip dulu cuplikan video yang satu ini.**

thank you so much! laffyouuu :* byebye! sampai ketemu lagi di projectku selanjutnyaaa! 😍😍😍

AYUSHAFIRAA, Copyrights 2015.

Iklan

15 respons untuk ‘[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT – CH. 10 B : The Day When I Will Find You Again (END)

  1. indah thania berkata:

    Wah..bener”…feelnya dapet banget,pokoknya daebaklahh..gk tau harua comment apa…sedih ih ff nya udah an..lanjut ff selanjutnya yah min..fighthing

    Suka

  2. rika berkata:

    Hahahaha yeyeye gak kerasa udh END 😦 Hahahahha yeye Happy Ending yeyeye jgaa Sehun akhirnyaa gak dpet cwe XD Chanyeol dapet cwe lagii tuhhh. manusia pulaaa.
    Gak nyangka banget ternyata Yoora anak s pace,ceritanya memang dri awal penuh dengan kejutan.
    Haeyoung nya ucuull mrip kya Baek. bkin bikin bikin lagi Baek hahahaXD wahh Yoora ngga jdi satu2nyaa cwe d keluarga Lee baguslahhh ada s kecil haeyoung. nambah lagii 1 Shin sheulrin ahhh menarik sekali. side story dong ayyy yg Chanyeol nyaaa masa dia menyedihkan sekali kisah percintaan nyaa T.T bkin bahagia dong dia sma cwenyaa. menyedihkan sekali diaa xD cintanya bertepuk sebelah tangan.
    Wahhh tinggal nunggu ff baru lagii dongg yeyeyeye Keep writing yaaa okee^^ fighting:)

    Suka

  3. Hood berkata:

    baru nemu video di youtube nih tiba2.. ini sadistic night mau ada kelanjutannya ya?
    Waaa.. kapan nih mau dishare.. ditunggu kelanjutan cerita dari Yoora dll ya..

    Suka

    • ayushafiraa berkata:

      alhamdulillah dapet readers baru yg mau komen :’D *sujud syukur :v
      iya, insyaallah ada season 2-nya 🙂 secepatnya aku usahain deh hihi 😀 oke ditunggu aja, makasih yaa udah komen + nonton videonya -maybe- 😀

      Suka

  4. kikiyochu~ berkata:

    Daebaaak!!! Aku sllu suka hsil krya kmu thor. Puas sma ending crtnya mskpun agk sdih ini udh end . Dtggu krya keren nya yg lain yaa author trkasiiih. Fightiiing ^^

    Suka

    • AYUSHAFIRAA berkata:

      Makasih banyak yaa udah ikutin cerita ini dari awal!^^ makasih juga udah suka karya aku, seneng deh kalo karya aku bisa menghibur kamu hehe^^ iya nih harus end dulu :”)) amiin, semoga kamu juga bisa suka karya aku lainnya yaa 😍😍😍 makasih banyak unch unch 😚😚😚

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s