[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 10B (END)

[Fanfiction] SADISTIC NIGHT

sdstcnght1

― Sadistic Night : Chapter 10B ―

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Main Cast :

Kim Yoojung as Kim Yoora & Baek Soomin

Byun Baekhyun as Baekhyun Lee

Park Chanyeol as Chanyeol Lee

Oh Sehun as Sehun Lee

Supported Cast :

Kim Joonmyun as Suho Lee || Do Kyungsoo as Dio Lee || Huang Zitao as Tao Lee || Kim Minseok as Xiumin Lee || Kim Jongin as Kai Lee || Kim Jongdae as Chen Lee || Zhang Yixing as Lay Lee || Lee Pace as Pace Lee

Genre : AU, Brothership, Drama, Fantasy, Gore, Little bit comedy(?), Romance, Sad, Vampire

Rated : R

Length : Chaptered/Series

Disclaimer : Semua cast adalah bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya untuk kepentingan cerita. Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari berbagai film dan anime yang bergenre fantasy. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

 

Aku tidak bisa menolong diriku sendiri yang mencintaimu, walaupun aku tahu bagaimana rasa itu akan membuatku terluka pada akhirnya…

 

♥♥♥

Sehun menatap jari manis gadis di depannya. Sebuah cincin silver berbentuk mahkota melingkar dengan cantiknya di jari lentik gadis itu. Cincin yang pas, tidak kebesaran, juga tidak kekecilan.

“Bagaimana rasanya?”

“Ye?” gadis itu secara tidak langsung menyuruh Sehun mengulangi pertanyaannya.

Lensa berwarna biru pekat itu terlihat tenang dengan sedikit air yang menggenang dan bisa tumpah kapan saja dari matanya.

“Bagaimana rasanya dicintai oleh 5 lelaki sekaligus?” Baekhyun, Chanyeol, Suho, Dio, dan dirinya. Sebodoh-bodohnya Sehun, Sehun tidak mungkin salah menghitung.

Gadis itu menatap mata Sehun, menangkap suatu sinyal kalau sebentar lagi lelaki itu akan menitikkan airmatanya.

“Apa yang membuatmu bertanya seperti itu? apa yang terjadi?”

“Yoora-ya…” panggil Sehun lirih. Matanya berubah sendu.

“Kau gadis yang sangat beruntung.”

“Ye?”

“Kau… bisa merasakan bahwa cinta yang Baekhyun Hyung dan Chanyeol Hyung berikan padamu begitu tulus. Mereka, bahkan rela mempertaruhkan nyawa mereka demi dirimu. Lihatlah betapa beruntungnya kau, Yoora.” Sehun menitikkan airmatanya dan tangan hangat Yoora dengan cepat menghapus bulir airmata yang membasahi pipi putih pucat Sehun.

“Apa yang sebenarnya ingin Oppa bicarakan denganku?”

Lelaki itu meremas ujung bajunya, berusaha menahan tangannya untuk tidak menarik Yoora ke pelukannya. Tapi ia tidak bisa. Tangan itu dengan tak tahu diri melingkar di pinggang Yoora dan menariknya lebih dekat menyisakan ruang di antara mereka yang hanya tinggal beberapa sentimeter lagi. Sehun membenamkan kepalanya di pundak gadis itu, Sehun menangis.

Oppa… ada apa denganmu?” Yoora berusaha melepas pelukan Sehun, tapi lelaki itu menahannya.

“Sebentar, sebentar saja. Biarkan aku seperti ini sebentar saja.” suara lelaki itu bergetar. Yoora merasakan pundaknya semakin basah seiring dengan suara isakan pelan Sehun.

“Aku mencintaimu, Yoora.”

Gadis itu tak bersuara, membiarkan Sehun mengeluarkan segala rasa yang membuat dadanya sesak selama ini.

“Aku tak pernah bisa merasakan bagaimana rasanya cinta yang tulus, aku tidak tahu. Selama ini yang bisa kulakukan hanya berganti-ganti wanita tanpa bisa mencintai mereka sebagaimana harusnya. Cinta yang tulus itu, seperti apa?”

“Apa cinta yang tulus itu semenyakitkan mencintaimu? Apa rasanya selalu seperti itu? atau hanya aku yang selalu merasakan rasa sakit itu? aku juga… ingin dicintai dengan tulus.” Sehun mengeratkan pelukannya. Walau merasa sedikit sulit bernafas, tapi Yoora tak berkutik sedikitpun. Yoora tersenyum mengerti, lelaki semenyebalkan Sehun ternyata bisa juga terlihat begitu menyedihkan di pelukannya.

 

―flashback―

 

Seoul, Korea Selatan. 1979.

 

Lelaki berumur 18 tahun itu melangkah membanting pintu kamar, berjalan tergesa menuruni tangga di dalam rumah besarnya, rumah yang ia rasa sudah benar-benar seperti neraka. Suara keras ayah dan ibunya yang saling berteriak satu sama lain seperti tak ada habisnya. Suara pecahan kaca dan barang-barang yang dibanting mereka ikut mengisi ketidaktentraman keluarga kecil itu.

Sehun, lelaki tampan berkulit putih itu menghentikan langkahnya saat ia rasa sesuatu yang tajam berhasil menembus kulit telapak kaki sebelah kanannya. Pecahan kaca.

“Yak! Kau anak nakal! Mau ke mana lagi kau huh?!” suara pria paruh baya itu membuat Sehun menghembuskan nafasnya kasar. Ada rasa yang sedang sekuat tenaga ia tahan dalam hatinya.

“Apa peduli ayah? Bukankah biasanya ayah tidak pernah bertanya apapun tentang hidupku? Lanjutkan saja pertengkaran kalian, jangan pikirkan aku. toh aku pun tidak peduli.”

“Yak! Berhenti kau anak brengsek! Yak!”

Lelaki itu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Hal itu berhasil membuat luka di telapak kakinya semakin menjadi, darah yang keluar dari telapak kakinya pun menjadi tidak sedikit. Tapi Sehun tidak peduli, rasa sakit di kakinya itu sama sekali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit yang sudah ia pendam dalam hatinya selama ini.

Dengan tidak mempedulikan luka di kakinya, ia menginjak pedal gas untuk mempercepat laju mobilnya. Mobil yang dikendarainya seakan membelah jalanan seoul malam itu. tidak ada lagi tempat yang bisa ia tuju, selain satu tempat. Satu-satunya tempat yang ia pikir bisa menenangkan hati dan pikirannya. Rumah sang kekasih, Sooyeon.

“Soo…yeon-ah.” Tangannya yang gemetar meremas kuat kemudi mobilnya. Rasa kecewa, tak percaya, muak akan keadaan, seolah bercampur menjadi satu saat itu juga. Lelaki itu belum sempat melangkahkan kakinya keluar dari mobil, karena ternyata matanya lebih cepat beberapa detik dalam menangkap adegan mesra kekasihnya yang tengah dicumbu pria lain tepat di depan rumah gadis itu.

Rasanya sesak, begitu sesak. Terlalu sakit rasanya untuk mempercayai kenyataan bahwa gadis yang selama ini kau yakini mencintaimu dengan tulus, gadis yang selalu menjadi tempat ternyaman yang bisa kau datangi, gadis yang pernah mengucapkan kata-kata cinta padamu dengan penuh pesona ternyata diam-diam mengkhianatimu. Lalu kata-kata cinta yang sebelumnya itu apa? Bualan saja kah?

“Dunia ini… tidak adil.” Sehun menginjak kuat pedal gasnya, melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Bagaimana bisa dunia ini begitu tidak adil padanya? Kekasih bahkan orang tuanya sekalipun, tidak pernah membuatnya bisa merasakan bagaimana rasanya cinta yang tulus. Ini terlalu menyakitkan.

Lelaki itu putus asa, ia kini hanya mengharapkan kedamaian dalam kematian. Ya, lelaki itu ingin mati. Setidaknya, ia berpikir bahwa kematian bisa membuatnya melupakan bagaimana rasa sakit yang kehidupan ini berikan padanya.

Sehun memegang erat kendali kemudinya, sementara kecepatan mobilnya semakin lama semakin meningkat. Sebuah truk besar dari arah berlawanan bergerak cepat ke arahnya dan siap menghantam mobilnya dalam beberapa detik lagi.

CIIIITTTTT, BRAK!

Mobil yang dikemudikan Sehun berhasil menabrak pohon dengan hantaman keras setelah sebelumnya membanting stir untuk menghindari tabrakan dengan sebuah truk, tubuh lelaki itu terjepit di antara mobilnya yang ringsek. Darah mengalir dari kepalanya dan tubuhnya dipenuhi luka serius.

“Aku akan mengurangi rasa sakitmu… aku berjanji.”

Sesuatu yang dingin menyentuh wajah Sehun, meski dalam keadaan seperti ini, Sehun masih bisa merasakan kalau sesuatu yang dingin itu adalah tangan. Tapi, tangan siapa?

Dengan tenaga yang tersisa, Sehun berusaha membuka matanya. Belum sempat Sehun melihat sosok di depannya, sosok itu tiba-tiba saja mencengkeram bahunya dan menanamkan gigi-gigi runcing tepat ke lehernya. Panas, rasanya seperti seluruh organ dalam tubuhmu terbakar sekaligus. Rasa sakitnya sama sekali tak dapat kau bayangkan, rasa sakit yang bahkan membuatmu sama sekali tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun dari mulutmu. Mulutmu hanya terbuka, melepaskan nyawa. Dingin. Rasa panas itu kini sudah tergantikan oleh rasa dingin yang begitu menusuk. Rasanya seperti es di kutub utara dan selatan bersatu dalam tubuhmu, benar-benar dingin.

Perlahan Sehun membuka matanya.

“Kau sudah sadar?” lelaki berlensa merah menyala itu tersenyum ke arah Sehun. Sehun mengerenyitkan dahinya. Siapa lelaki itu? sedang di mana ia sekarang? Bukankah seharusnya ia sudah mati? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak Sehun.

“A…” Sehun tidak bisa bicara, tenggorokannya terasa begitu kering.

“Minumlah. Ini bisa membuat rasa hausmu hilang.”

Da-darah? Sehun terbelalak, bagaimana bisa lelaki itu memberinya darah di saat ia sedang haus seperti ini? tapi… tangan gemetar Sehun meraih cangkir berisi cairan kental berwarna merah itu dan meneguknya dengan tak sabar. Sehun sudah buta dan tergila-gila, darah itu sudah menyegarkan tenggorokannya.

“Selamat datang di keluarga kami, Sehun Lee. Aku Suho.”

Sejak saat itu, namanya bukan lagi Oh Sehun. Sehun, menjadi keturunan termuda di keluarga vampire itu.

 

―flashback end―

 

“Ekhm…”

Hyung…” Sehun menyadari kehadiran Baekhyun, namun tangannya tak mampu melepas pelukannya pada tubuh Yoora.

Oppa…” Yoora berusaha berpaling untuk melihat ke arah Baekhyun, tapi tangan Sehun kemudian bergerak menarik wajahnya dan mencium bibirnya. Di hadapan Baekhyun.

 

♥♥♥

 

“Jangan masuk…” cegah Baekhyun saat Yoora hendak melangkah masuk ke dalam ruang rawat Chanyeol. Lelaki itu menahan tangan kanan Yoora begitu erat dengan wajah menunduk tak menatap Yoora sedikitpun.

Baru saja, Suho mengatakan kalau Chanyeol sudah siuman. Hal itu langsung membuat Yoora berbinar, antara bahagia dan bersyukur pada Tuhan. Baekhyun melihat itu, melihat perubahan raut wajah Yoora yang entah kenapa malah membuatnya sakit.

Yoora tersenyum lembut seraya menggenggam tangan Baekhyun yang menahan tangannya.

“Apa yang Oppa takutkan?”

Baekhyun memeluk tubuh Yoora, Yoora hanya tersenyum mengerti dan sedetik kemudian membalas pelukan Baekhyun.

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga.” Balas Yoora. pelukan lelaki itu perlahan melemah dan membiarkan gadis itu masuk ke dalam ruang rawat saudara sekaligus rivalnya dalam mendapatkan hati Yoora, Chanyeol Lee.

Bunyi alat-alat medis yang membantu Chanyeol tetap hidup terdengar jelas di telinga Yoora. Suho yang sedaritadi menemani adiknya pun meninggalkan ruangan setelah melihat Yoora melangkah masuk untuk melihat keadaan adiknya yang baru saja siuman.

“Yoora…” panggil Chanyeol lirih setelah melihat Yoora mendekatinya.

Gadis itu memperlihatkan senyumannya meski dalam benaknya ia masih sangat mengkhawatirkan kondisi Chanyeol.

Oppa… kau mengalami masa yang sulit bukan?”

Lelaki yang terbaring lemah itu mengangguk, mata tenangnya terus menatap wajah gadis di depannya hingga pipi gadis itu merona.

“Cincin ini sangat cantik, aku menyukainya. Gomawo, Oppa.” Yoora memperlihatkan cincin mahkota yang melingkar di jari manisnya pada Chanyeol.

“Tapi… seharusnya kau tidak perlu sampai mengorbankan nyawamu demi memberiku cincin ini. kau tahu? Aku khawatir. Aku… takut kehilanganmu.”

Chanyeol tertegun. Yoora? takut kehilangannya?

“Aku mencintaimu.”

Yoora terdiam, tak membalas kata-kata Chanyeol. Sementara Chanyeol masih menunggu, menunggu Yoora menerima dan membalas perasaannya. Tapi lagi-lagi Chanyeol harus kecewa, karena gadis itu tetap membungkam mulutnya.

“Pantai.”

“Ye?”

“Bukankah… kau pernah berkata… kalau akulah lelaki yang kau cintai? Kau… tak ingat?” Chanyeol tenggelam dalam ingatannya saat mengajak Yoora pergi ke mercusuar musim gugur lalu. Di sana mereka tersenyum dan tertawa bahagia bersama. Saat itu Yoora sempat membuat pengakuan kalau lelaki yang mampu menarik hatinya sejak pertama kali bertemu adalah Chanyeol.

“Kau benar-benar bodoh, sampai-sampai kau menghasutku untuk berhenti mencintai lelaki yang ku cintai tanpa tahu siapa lelaki yang ku cintai itu.”

“Yang pasti itu bukan aku.”

“Lihatlah,”

“Bahkan lelaki bodoh yang ku cintai itu kini berlagak sok tahu di depanku.”

Tentu saja, Chanyeol akan selalu mengingat momen itu. Momen di mana ia berciuman bersama Yoora dengan sangat lembut tanpa ada paksaan sedikitpun. Sungguh, Chanyeol sangat bahagia saat itu.

“Di antara mereka, kenapa aku?”

“Aku mencintaimu. Cintaku ku jatuhkan padamu. Bukankah itu sudah cukup?”

“Kau benar. Dengan kau mencintaiku saja, itu sudah cukup untukku.”,

“Terimakasih karena telah memilihku. Aku mencintaimu.”

Mata lelaki itu kini mulai berair,

“Apa yang mampu membuatmu mengubah arah hatimu secepat itu?”

“Ye?” Yoora juga tidak mungkin lupa, kalau ia pernah menjadi benar-benar gila karena Chanyeol.

“Kenapa… akhirnya kau memilihnya?”

Gadis itu mencoba mengatur nafasnya, dadanya benar-benar sesak.

“Karena sejak awal, aku adalah miliknya. Dan sampai kapanpun, aku akan selalu menjadi miliknya.”

 

♥♥♥

 

Dio duduk di kursi taman rumah sakit, kepalanya menengadah ke atas memandangi langit malam yang menurunkan butiran-butiran salju. Butiran salju itu jatuh tepat di wajahnya dan mencair, menyamarkan airmata yang saat ini tengah mengalir deras dari matanya yang mulai memerah.

“Kenapa kau malah berdiam diri di sini?” Dio memutar bola matanya, ah, Baekhyun rupanya.

“Udaranya sangat dingin, masuklah ke dalam.”

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Dio, lelaki itu seolah tak mempedulikan lawan bicaranya.

“Aku mencintai Yoora, Dio-ya.” Ucap Baekhyun memulai pembicaraan inti. Nafas Dio tercekat.

“Aku sudah mencintainya jauh lebih lama dari yang kau kira. Dia satu-satunya wanita yang pernah mengisi hatiku, karena setelah bertemu dengannya, aku tak bisa berpaling sedikitpun. Kim Yoora… dia adalah Baek Soomin-ku, kekasihku, wanita yang akan selalu kucintai.” Lelaki yang masih berdiri di belakang Dio itu terlihat memejamkan matanya, terhanyut dalam ingatan yang tak mungkin bisa ia lupakan.

 

―flashback―

 

Baekhyun Lee, vampire ke-4 keluarga Lee itu tak pernah lelah mencari kekasihnya. Mungkin lebih tepatnya, reinkarnasi kekasihnya yang sudah meninggal sejak lebih dari 100 tahun yang lalu, Baek Soomin. Dengan bantuan Kai dan Tao, Baekhyun menelusuri setiap rumah sakit bersalin yang ada di tiap penjuru dunia. Kai akan membantu membawa Baekhyun dan Tao berpindah-pindah rumah sakit dalam waktu singkat dengan kekuatan teleportasinya, sedangkan Tao akan membantu Baekhyun dalam melihat wajah masa depan bayi-bayi dari sentuhan tangan mereka dengan kekuatan pengendali waktunya.

Hyung…” Tao membuka kedua matanya, lalu menatap ke arah Baekhyun yang menatapnya penuh harap. Tangan Tao masih menyentuh tangan mungil bayi perempuan yang baru saja lahir ke dunia beberapa jam yang lalu itu.

Wae-waeyo?

Lelaki yang memiliki lingkaran hitam di sekitar matanya itu memberi anggukan, yakin kalau bayi perempuan itulah yang kakaknya cari selama ini. Baekhyun tak kuasa menyembunyikan binar bahagia dari manik matanya, dilihatnya identitas bayi yang tertera di inkubator bayi perempuan mungil tersebut.

“Kim… Yoora.”

 

♥♥♥

 

“Kumohon, Ayah. Jadikan dia takdirku. Bantu aku untuk mendapatkannya kembali.” ucap Baekhyun seraya berlutut memohon pada ayahnya, Pace Lee. Sekali saja Pace mengiyakan, segala urusan yang berhubungan dengan bayi perempuan bernama Kim Yoora itu bisa dengan mudah diurus oleh vampire bule itu.

Pace terdiam, tidak biasanya. Biasanya, Pace akan langsung memberi jawaban pada setiap permintaan anak-anaknya, entah itu langsung diterima atau langsung ditolak. Tapi kali ini, Pace tidak langsung memberikan jawabannya. Butuh beberapa lama bagi Baekhyun untuk menanti jawaban ayahnya.

“Baiklah.”

Senyum Baekhyun melebar, itulah jawaban yang sedaritadi ia tunggu.

“Tapi kau harus berjanji untuk selalu melindunginya apapun yang terjadi. Kau mengerti?”

Ne, Ayah! Terimakasih!”

 

♥♥♥

 

“Manusia sepertimu tidak akan mampu memahami sedikitpun tentang keluarga kami.” ucap Dio.

Lagi-lagi, perkataan mereka membuat Yoora bingung. Saat gadis itu sedang sibuk bergelut dengan pikirannya, Baekhyun datang menghampirinya dan menyadarkannya dari lamunan serius itu.

“Sebaiknya, kau tidak perlu berusaha untuk memahami keluarga kami sampai sejauh itu. Semakin banyak kau bertanya, akan semakin banyak pula luka yang kami buat di hatimu. Maka dari itu, berhentilah sekarang juga, Yoora.”

Yoora menatap mata Baekhyun, lensa kuning lelaki itu nampak terang beberapa saat dan kembali lagi seperti semula. Gadis itu seperti tengah berpikir keras.

“Hentikan! Hentikan! Hentikan!” bentak Baekhyun seketika seperti orang frustasi. Dengan sigap, Tao dan Kai menjauhkan Baekhyun dari Yoora, sementara Suho menjauhkan Yoora dari Baekhyun.

“Kalian, cepat bawa dia ke kamarnya. Aku akan menyusul.” Ucap Suho.

Tao dan Kai membawa Baekhyun ke kamarnya, tidak dengan kekuatan apapun yang sekiranya akan membuat Yoora semakin curiga dengan identitas asli mereka. Tak butuh menunggu waktu lama, Suho duduk di hadapan Baekhyun, sementara Kai dan Tao sudah beranjak lebih dulu meninggalkan mereka.

“Dia adalah alasanku untuk tetap hidup, Hyung. Aku mencintainya.”

“Takkan kubiarkan orang lain merebutnya darimu. Aku berjanji untuk itu.”

Suho berjanji seperti itu pada Baekhyun, tapi pada kenyataannya, vampire ke-2 keluarga Lee itulah yang pertama kali menjadikan Yoora sebagai kekasihnya tanpa memperdulikan janji yang sempat ia ucapkan.

 

♥♥♥

 

Baekhyun mengepal tangannya kuat, menahan amarah yang seakan memuncak dan bisa meledak kapan saja itu. Pandangan matanya terlihat kosong. Telinganya dapat mudah mendengar percakapan antara Yoora dan Chanyeol yang belum terlihat sejak pulang sekolah. Menurut sopir keluarga mereka, Chanyeol mengendarai mobilnya sendiri dengan seorang gadis bersamanya. Tentu saja, Baekhyun tahu kalau gadis yang dimaksud sopir mereka adalah Yoora.

Meski suara yang dapat Baekhyun dengar hanyalah suara Chanyeol, tapi Baekhyun sudah tahu kemana arah pembicaraan dua insan itu yang sekarang sedang berjarak jauh dengannya.

“Di antara mereka, kenapa aku?”

….

“Kau benar. Dengan kau mencintaiku saja, itu sudah cukup untukku.”,

“Terimakasih karena telah memilihku. Aku mencintaimu.”

“Dia milikku… dan tak akan pernah menjadi milikmu.” Lensa kuning terang Baekhyun pun menyala-nyala.

 

―flashback end―

 

Dio tersenyum miring,

Bukankah jika dibandingkan denganku, aku akan terlihat lebih menyedihkan? Aku tidak bisa mencintai siapapun. Ayahku sudah mengutukku. Aku tak dapat merasakan cinta dari gadis manapun. Aku takkan pernah bisa mencintai dan dicintai. Bahkan di saat aku sudah bukan menjadi bagian dari dunia manusia, kutukan ayahku tak pernah hilang.

“Kalau kau bisa mencintai Yoora sedalam itu, bukankah itu berarti kutukan ayahmu sudah tak berlaku lagi?”

“Berhentilah membaca pikiranku! Berhenti berusaha mengetahui apa yang seharusnya tak kau ketahui!” teriak Dio pada Baekhyun. Akhirnya, lelaki itu kembali membuka mulutnya. Airmatanya jelas mengalir begitu saja.

Baekhyun nampak terkejut, namun mengerti akan keadaan. Ia menunduk, lalu menggesek-gesekan kakinya ke tanah yang sudah tertutupi salju itu.

“Aku juga ingin berhenti.”

“Ya! Kau hanya perlu berhenti…”

“Kau tahu, Dio-ya? Aku sangat membenci kekuatanku sendiri, mungkin sama saja dengan kebencianmu terhadap kekuatanku. Aku benci jika harus membaca pikiran orang lain dan mendengar kata hati mereka. Itu membuatku benar-benar lelah. Duniaku terasa lebih berat dari sebelumnya. Duniaku…. terlalu berisik.”

Dio terdiam, menatap mata Baekhyun yang sedaritadi terlihat sendu. Demi apapun, Dio tidak bisa membiarkan saudaranya terluka. Tapi kali ini, malah dia sendiri yang menyakiti hati saudaranya itu. Dio mulai merasa bersalah, tak seharusnya Dio menyalahkan kekuatan Baekhyun. Karena sesungguhnya, kekuatan itu langsung diberikan oleh Pace, bukan atas keinginan Baekhyun sendiri.

“Dio-ya… kalau aku berhenti, bukankah aku akan mati? Aku baru saja bertemu dengan belahan jiwaku, lalu, haruskah aku mati sekarang? Tidak… aku belum siap untuk berpisah dengannya lagi. Aku tidak ingin berpisah dengannya lagi.”

 

♥♥♥

 

Cahaya terang benderang dari lampu gantung yang tergantung tepat di tengah langit-langit ruangan itu menyinari wajah pucat para vampire keturunan keluarga Lee dan seorang gadis manusia. Ke-10 vampire tampan keluarga Lee yang sedang berkumpul di ruangan itu memusatkan seluruh perhatian mereka pada gadis yang kini tengah berdiri di hadapan mereka dengan menggenggam sebuah pisau pemberian Dio yang bentuknya hampir menyerupai salib dan berwarna perak itu dengan gemetar.

Xiumin, lelaki itulah yang menjadi alasan gadis itu untuk memegang benda pusaka yang bisa melenyapkan keberadaan vampire dengan sekali tusukan tepat di jantung mereka. Lelaki itu sudah terlanjur muak dengan kisah cinta antara gadis manusia itu dengan adik-adiknya. Yoora harus bisa membuktikan siapa lelaki yang benar-benar ia cintai.

“Jika kau memang benar-benar mencintai salah seorang di antara kami, bunuh kami dengan pisau perak itu.”

Ya, untuk membuktikan ketulusan cinta Yoora pada salah satu di antara mereka, Yoora harus menusukkan pisau itu tepat ke jantung vampire yang dicintainya. Karena bagi vampire, membunuh adalah jalan terakhir untuk menyatakan cinta. Adalah suatu kehormatan bagi vampire untuk bisa merasakan ketulusan cinta di akhir hidup abadi mereka.

“Karena kematian yang sebenarnya lebih indah daripada kehidupan yang seperti ini.” Dio menambahkan dengan tatapan dinginnya.

Tangan gadis itu gemetar, tidak sanggup. Bagaimana bisa ia membunuh lelaki yang dicintainya? Sekali saja pisau itu menusuk jantung lelaki yang ia cintai, maka lelaki yang dicintainya itu akan musnah dari muka bumi ini.

Mata Yoora dapat melihat senyuman tipis di bibir Baekhyun, senyuman yang malah semakin membuat Yoora tak sanggup melakukan apapun. Yoora mencintai Baekhyun, sungguh. Tapi haruskah pembuktian cinta itu membuatnya terpisah semakin jauh dari Baekhyun? Membayangkan Baekhyun takkan pernah hadir lagi dalam hidupnya, tidak! Yoora tidak akan sanggup!

“Apa yang kau tunggu, Kim Yoora? Kami semua menunggu pernyataan cintamu.” Ucap Xiumin yang seakan menyudutkan Yoora.

Baekhyun beranjak dari duduknya, melangkah menghampiri Yoora yang tertekan.

“Yak! Baekhyun Lee! Apa yang kau lakukan?!” ucap Suho yang langsung dibalas oleh Chanyeol,

“Baekhyun sedang menghampiri apa yang ia anggap sebagai takdirnya, bukan begitu, Hyung?”

Vampire ke-4 keluarga Lee itu tersenyum pada Yoora yang menatapnya, sentuhan dingin tangan Baekhyun pada pipi gadis itu membuat gadis itu merasakan ketenangan batin.

“Kau memegang akhiran yang bisa mengakhiri kehidupan abadi.” Ucap Baekhyun lembut. Tangan dingin itu kini menuntun tangan Yoora yang masih menggenggam pisau perak itu untuk menempel tepat di dadanya, ya, tepat di mana jantung tak berfungsi Baekhyun berada.

Andwae, Oppa. Andwae…” Yoora menggeleng, airmatanya menetes seolah tak menghendaki kelemahan tangannya yang tak bisa menjauhkan pisau itu dari dada Baekhyun.

Gwenchana…” lelaki itu tetap tersenyum, menenangkan Yoora, sementara ujung pisau tajam itu masih senantiasa menempel di dadanya. Baekhyun memegang kedua bahu Yoora dan menarik tubuh kecil gadis itu ke dalam pelukannya.

BLES!

Mata Yoora membulat sempurna, ia dapat merasakan tangannya yang memegang pisau perak itu terbasahi oleh cairan berwarna merah gelap seperti darah. Tidak, itu memang darah. Ya, darah Baekhyun, lelaki yang dengan tulus Yoora cintai.

Hyung!” Tao dan Kai memandang tak percaya apa yang baru saja mereka lihat. Pisau perak itu berhasil menusuk tepat ke jantung Baekhyun.

“Yoora-ya… aku mencintaimu.” Bisik Baekhyun lirih.

Tao dan Kai yang hendak memisahkan Baekhyun dari Yoora dapat dicegah oleh Xiumin dan Lay. Chen tak kuasa menahan tangisnya sambil memeluk Chloe erat. Sementara Chanyeol, Sehun, Suho, dan Dio menatap nanar tubuh Baekhyun yang semakin melemah dalam pelukan Yoora, mereka pun tak sanggup, melihat satu lagi saudara mereka harus musnah dari muka bumi ini.

“Aku juga mencintaimu…” airmata Yoora membanjiri pipinya. Gadis itu terus mempererat pelukannya, seolah tak ingin membiarkan Baekhyun pergi dan menghilang untuk selamanya dari dunia ini.

Pace yang entah darimana datangnya terlihat berlari ke ruangan itu, menatap tak percaya kalau salah seorang dari keturunannya kini tak lagi berdaya dengan pisau perak yang menusuk jantungnya dalam pelukan gadis manusia.

“Ayah! Tolong selamatkan Baekhyun Hyung, Ayah! Ayah, Kumohon!” teriak Tao yang masih dicegah oleh Xiumin yang diam-diam menyembunyikan airmatanya.

“Ayah! Jangan biarkan Baekhyun Hyung musnah, Ayah! Jangan biarkan kami kehilangan saudara kami lagi!” teriak Kai tak kalah histerisnya.

Pria bule itu menarik Yoora, membiarkan Baekhyun tergeletak tak berdaya dan menemui kematian kedua dari hidup abadinya. Yoora yang sudah terlanjur lemas tak bisa melakukan apa-apa kecuali membiarkan Pace melakukan apa yang ia ingin lakukan terhadapnya.

“Aaaakhh!” Pace menanamkan taringnya pada pembuluh darah di leher Yoora, merobek pembuluh darah itu hingga Yoora merasakan kesakitan yang luar biasa. Rasa sakitnya melebihi rasa sakit yang ia rasakan saat pertama kali Baekhyun menggigit lehernya dulu.

“Ayah…” Ke-9 vampire keturunan keluarga Lee yang tersisa itu memandang ayah mereka tak percaya. Ayah mereka yang sudah sangat lama tidak pernah terlihat menghisap darah manusia itu kini menghisap darah Yoora?

“Aakhh… sakith…” lirih Yoora di sisa akhir nafasnya. Pace terus menanam taring tajamnya dan menyebarkan cairan neraka di aliran darah gadis itu yang akan membuat gadis manusia itu sama seperti dirinya. Ya, Pace sedang berusaha mengubah Yoora menjadi makhluk dingin penghisap darah, vampire.

“Sudah seharusnya sejak dulu kuhidupkan insting pemangsamu, agar mereka tak perlu mencintai gadis manusia dan terluka karenanya.” Ucap Pace pada Yoora yang seketika membuat ke-9 vampire keturunannya terkejut.

“Ap-apa… maksud ayah?” tanya Lay.

“Tidak mungkin…” Suho tampak tak percaya.

Pria bule berlensa abu-abu itu membaringkan tubuh Yoora yang sudah tak bernyawa di samping Baekhyun yang tubuhnya perlahan mulai menghilang.

“Kim Yoora… adalah putriku. Putri kandungku. Hannah Lee.”

 

―flashback : Pace’s POV―

 

‘Pace-ssi! Tolong aku! Aku digigit oleh banyak vampire!’ pesan singkat itu membuatku tercekat. Tidak! Jangan bunuh kekasihku!

Aku berlari secepat yang kubisa, berlari menuju kediaman kekasihku yang berjarak tak terlalu jauh dari kediamanku. Hatiku dipenuhi kekhawatiran, takut sesuatu yang buruk benar-benar terjadi menimpanya. Tapi kemudian, gadis pujaanku itu menyambutku dengan tawa khasnya di depan pintu rumahnya.

“Di kamarku banyak sekali nyamuk, Pace-ssi.”

“Ye?” nyamuk? Vampire yang kau maksud itu, nyamuk?

Waeyo?” Yoomin, kekasihku itu sepertinya menangkap ekspresi wajahku.

“Kau benar-benar berpikir aku digigit oleh makhluk fiksi itu eoh?”

Kudengar Yoomin tertawa setelah menyebut vampire adalah makhluk fiksi. Dia benar-benar tertawa, entah bagian mana yang membuat gadis itu tertawa dengan lepas. Namun tak lama, tawanya mereda. Lebih tepatnya, setelah ia tak menemukan tawa di bibirku.

“Vampire bukanlah makhluk fiksi, Yoomin-ah.” Tubuhku mulai membeku, suhu manusia yang kutahan selama ini tak bisa kutahan lagi. kulihat Yoomin gemetar dengan mata membulat sempurna. Mungkin, sudah saatnya aku menunjukkan siapa diriku sebenarnya.

“Pace-ssi…” tangannya menyentuh pipiku, kujamin ia dapat merasakan dinginnya suhu tubuhku.

“Kau benar-benar seorang vampire.”

Bukannya takut, Yoomin malah terlihat begitu bahagia. Ia tak menyangka bisa memiliki kekasih sepertiku yang ternyata merupakan seorang vampire darah murni. Dia adalah gadis manusia, dan aku adalah seorang vampire. Meski kami berbeda, itu bukanlah suatu halangan bagi kami untuk bersatu. Ya, setelah itu, kami menikah.

“Yak, Park Yoomin! Kau gila?! Kau memutuskan menikah dengannya bahkan setelah kau tahu kalau dia bukan manusia?!”

“Kim Jaerim! Tak bisakah kau mengecilkan sedikit volume suaramu? Pace bisa mendengarnya!”

“Kau tidak bisa seperti ini… kumohon Yoomin-ah, tinggalkan dia dan pergi bersamaku.” Jaerim, lelaki berkacamata itu sahabatku, sahabat Yoomin juga. Aku tahu, dia sangat mencintai Yoomin, namun Yoomin lebih memilih untuk mencintaiku. Jaerimlah yang lebih dulu mengetahui kalau aku bukanlah seorang manusia dan membongkar semuanya pada Yoomin dengan harapan Yoomin mau menjauhiku.

“Aku hamil, Jaerim-ah. Buah cintaku dengan Pace.”

Aku tersenyum di balik dinding, mendengar Yoomin mau memberitahu Jaerim perihal kehamilannya. Aku dapat mengetahui kekecewaan Jaerim dalam hatinya, ia mencaci dan memaki-maki namaku, mengutuk makhluk sepertiku yang hadir diantara kehidupannya dan Yoomin.

“Yoomin-ah… bangunlah, sayang. Kau tidak ingin melihat Hannah? Dia cantik sekali sepertimu, kulitnya putih, bibirnya merah darah, lensa matanya juga benar-benar indah. Kau harus membuka matamu untuk melihat putri kita.” Airmataku menetes, namun istriku itu tak kunjung membuka matanya. Tubuhnya terkulai lemah di ranjang bersalin, berhasil melahirkan putri cantik kami ke dunia ini dengan merelakan nyawanya.

Aku menatap wajah cantik malaikat kecil dalam gendonganku, putri dari vampire darah murni bersama seorang gadis manusia. Hannah putriku, dia harus hidup bahagia.

“Jaerim-ah, jadilah ayah yang baik bagi Hannah. Jika kau membenciku, setidaknya, rawatlah Hannah demi Yoomin.”

“Apa maksudmu? Lalu kau akan pergi begitu saja?”

“Saat aku menatapnya, aku selalu teringat ibunya. Jadi tolong beri aku waktu 17 tahun untuk melupakan rasa sakit ini perlahan-lahan, setelah itu, kau boleh mengembalikannya padaku.” Ucapku lalu meninggalkan Jaerim yang masih berdiri di ruangan bayi dengan mata yang menatap Hannah yang tertidur dalam inkubator.

“Mulai sekarang, kau adalah Kim Yoora. Anakku.” Ucap Jaerim dalam hatinya.

Ya, mungkin inilah yang terbaik. Putriku harus bahagia, dan membiarkannya tumbuh sebagai gadis biasa bersama Jaerim, mungkin adalah pilihan terbaik dalam hidupku.

 

―flashback end : Pace’s POV end―

 

“Ayah! Apa yang kau lakukan?!” seru ke-9 vampire tampan itu saat melihat Pace menyayat urat nadinya dan meneteskan darah murninya pada jantung tak berfungsi Baekhyun yang menjadi organ satu-satunya milik Baekhyun yang tak menghilang.

“Aku takkan membiarkan mereka terpisahkan begitu saja.” ucap Pace.

“Dengan cara itu, Ayah bisa kembali membangunkan Baekhyun dalam 100 tahun.” Ucap Suho memandangi jantung Baekhyun yang terkena tetesan darah murni Pace.

Mwo? Jinjjayo? Kenapa aku tidak pernah tahu itu?” tanya Sehun memasang tampang bodoh.

“Untuk mengetahuinya, kau harus menjadi vampire kelas A terlebih dahulu, Sehun-ah.” Ucap Lay.

“100 tahun… maka dari itu kau menghidupkan insting pemangsa Yoora? agar Yoora mampu menunggu Baekhyun selama 100 tahun?” tanya Xiumin menyimpulkan.

“Kau benar, Xiumin-ah.”

“Jadi, Baekhyun Hyung akan kembali pada keluarga kita?” tanya Kai dan Tao berbinar.

Chanyeol menghembuskan nafasnya, lega sekaligus berat.

“Kalian benar, dan juga… Baekhyun Hyung akan kembali ke pelukan Yoora.” mata sendu itu pun menatap Yoora yang terbaring lemah di samping jantung Baekhyun.

Geurae, kembalilah, Hyung. Gadis manusia itu, tidak, dia bukan lagi gadis manusia. Vampire darah murni itu, Yoora… tidak, Hannah Lee… dia menunggumu. Kembalilah, Hyung. Jangan biarkan Yoora menunggumu terlalu lama, atau aku akan berusaha merebutnya lagi darimu.” ucap Dio dalam hati.

 

♥♥♥

 

Gadis itu terbaring di atas ranjang yang dipenuhi kelopak bunga mawar berwarna merah kehitaman yang hampir layu. Kulitnya pucat dan dingin. Bibirnya merah semerah darah. Rambut hitam indahnya dibiarkan terurai rapih sepanjang dadanya. Sebuah mahkota di atas kepalanya dan cincin mahkota berwarna silver yang melingkar di jari manisnya itu semakin menambah kecantikannya. Hannah Lee, atau yang selama ini kita kenal sebagai Kim Yoora, telah terbaring di ranjang itu selama 14 hari lamanya. Ia persis seperti putri tidur yang menunggu ciuman dari sang pangeran yang memiliki cinta sejati yang akan membangunkannya dari tidur panjangnya itu. Sebuah jantung tak berfungsi yang diketahui adalah milik kekasihnya terlihat tenang dalam sebuah toples yang dipenuhi darah murni di atas laci di pinggir ranjangnya.

Chanyeol Lee, lelaki itu bergerak mendekat ke arah sang putri dengan membawa setangkai bunga mawar yang masih segar lalu menaruhnya di atas perut rata sang putri, membuat sang putri seolah-olah sedang memegang bunga mawar itu. Lelaki tinggi itu tersenyum, menatap cincin pemberiannya masih setia melingkar di jari manis sang putri. Walau cintanya tak terbalas, tapi lelaki itu yakin, ada sedikit celah di hati sang putri di mana namanya terukirkan di sana. Ya, meski hanya sedikit.

“Sebentar lagi, kau harus bangun, Hannah Lee.” Bisik Chanyeol lalu mengecup punggung tangan gadis itu.

“Yak, Chanyeol Lee! Apa yang sedang kau lakukan, hm?” tanya Xiumin menyunggingkan senyumnya sambil bersandar di ambang pintu kamar.

“Yak, Hyung! Jangan lupa kalau Hannah hanyalah milik Baekhyun Hyung seorang.” Ucap Kai yang tiba-tiba muncul di bingkai jendela dengan nada yang sengaja seperti sedang menggurui.

Sudut bibir kiri Chanyeol tertarik ke atas,

“Tentu saja, aku tidak mungkin lupa.”

“Kalau begitu, ayo kita ke bawah! Ayah dan yang lainnya sudah menunggu.” Ajak Xiumin pada kedua adiknya. Kai langsung menghilang, sedang Chanyeol mengecup kembali tangan dingin Yoora sebelum akhirnya melangkah pergi dari kamar gadis itu.

“Ada apa, Ayah? Apa ada sesuatu yang penting yang ingin ayah sampaikan pada kami?” tanya Sehun sambil memperhatikan gaya rambutnya di cermin kecil miliknya.

“Tentu saja, ayah paling tidak suka berbicara hal-hal yang tidak perlu.” Balas Chen sambil mencubit-cubit Chloe gemas.

Pace duduk di hadapan anak-anaknya, lalu menyuruh anak-anaknya itu untuk mengambil satu tisu yang disediakan pace secara bergantian. Meski tak mengerti maksud sang ayah, mereka semua tetap menuruti perintah Pace. Setelah itu, Pace memberi intruksi pada anak-anaknya untuk memejamkan mata mereka.

“Sekarang, pejamkan mata kalian.” Intruksi Pace jelas.

“Dan bayangkan wajah orang-orang yang kalian benci, atau kejadian-kejadian yang paling kalian benci selama hidup kalian.”

Chanyeol dan Suho terlihat mengepalkan tangan mereka dengan mata terpejam, mungkin sudah mendapatkan bayangan-bayangan yang mereka benci seperti yang Pace intruksikan. Sedangkan Chen, Dio dan Sehun terlihat berusaha menahan airmata mereka.

“Buka mata kalian.” Lanjut Pace yang langsung membuat ke-9 anaknya itu membuka mata mereka dan menemukan tisu yang sedaritadi mereka beberkan dipenuhi tulisan yang entah darimana datangnya.

Anakku… ketahuilah, bahwa tak ada satupun orang tua di dunia ini yang membenci anaknya sendiri. Aku, tak pernah sedikitpun membencimu. Hanya saja cara setiap orang tua menyampaikan kasih sayang pada anaknya tidaklah sama. Aku, tidak pernah tahu bagaimana caranya untuk tersenyum, bertutur kata yang baik, ataupun bersikap lembut lagi setelah aku kehilangan ibumu. Cintaku seakan hilang seiring kepergiannya.

Maafkan aku, Dokyung-ah. Maafkan ayah.

Setiap kali aku kalah dalam berjudi, apa yang ada dalam pikiranku hanyalah bagaimana caranya aku bisa terus memberimu sesuap nasi, bagaimana caranya aku membelikanmu obat jika suatu saat kau sakit, bagaimana caranya aku memenuhi kebutuhan hidup kita berdua tanpa perlu meminta-minta pada orang lain. Memikirkan itu semua sudah cukup membuatku gila. Maafkan aku.

Dokyung-ah, kumohon jangan benci aku. sudah cukup bagiku kehilangan cinta dari almarhumah ibumu yang meninggal setelah melahirkanmu, tolong jangan buat aku semakin merasa aku tak pantas mendapatkan cinta lagi. jangan benci aku, Dokyung-ah.

Aku menyayangimu, nak. Aku sangat menyayangimu.

 

Ayahmu.

Mata Dio langsung tertuju pada Pace. Mata yang berair itu seolah bertanya ‘Apa ini?’ dan Pace hanya membalas Dio dengan senyuman. Airmata Dio tak dapat terbendung lagi. Betapa durhakanya dirinya karena selama ini telah membenci ayahnya yang selalu menyiksanya tanpa ampun tanpa ia ketahui kalau ayahnya itu ternyata menyimpan banyak cinta untuknya dan tak pernah menginginkan Dio untuk membencinya.

Suho menengadahkan kepalanya, mencegah kristal bening itu jatuh dari pelupuk matanya. Sementara adiknya, Chanyeol, sudah lebih dulu membasahi pipinya sendiri dengan airmata yang terus mengalir saat membaca tulisan di tisu yang sedaritadi dipegangnya. Tulisan yang sama dengan yang tertulis di tisu milik Suho, tulisan dari sang ibu yang sangat mereka benci.

Joon-ah, Chan-ah… maafkan aku. Bukan maksudku untuk meninggalkan ayah kalian dan memisahkan kalian begitu saja. aku hanya tidak ingin kalian tahu kalau aku sedang sakit, ada suatu penyakit dalam tubuhku yang mampu mengambil nyawaku kapanpun itu. aku tidak ingin melihat kalian susah dan bersedih hanya karena aku yang hampir mati.

Lelaki itu, lelaki yang bersamaku waktu itu, sungguh dia hanyalah teman baikku, tidak lebih dari itu. aku menceritakan segalanya padanya dan dia mengerti. aku meminta bantuannya untuk mencarikanku tempat tinggal yang baru, tapi dia malah berbaik hati meninggalkan rumahnya untuk kutempati bersama Chan.

Joon-ah, kau pasti sangat membenciku kan? Sungguh, aku pergi bersama Chan karena aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Aku meninggalkanmu karena aku masih memikirkan ayah kalian, kau harus merawatnya dengan baik.

Joon-ah, di sisa akhir hidupku, aku selalu memikirkan kalian. Bahagiakah kalian? Apakah keputusan yang kuambil sudah tepat? Apa dengan kematianku yang dirahasiakan ini membuat kalian sama sekali tak bersedih?

Chan-ah, maafkan ibu. Ibu memang telah berdosa meninggalkanmu sendirian di rumah itu. apa kau makan dengan baik setelah ibu pergi? apa kau tidur dengan nyenyak?apa kau tidak lupa menutup jendela jika hari mulai gelap? Maafkan ibu, Chan-ah. Maafkan ibu…

Joon-ah, Chan-ah… kalaupun kalian membenci ibu,tolong jangan benci ibu sepenuhnya. Ibu benar-benar mencintai ayah kalian, tidak ada lelaki manapun yang mampu menggantikannya. Ibu mencintai Joon, Ibu mencintai Chan. Ibu, mencintai kalian semua.

 

Ibu.

Tao meremas tisu yang dipegangnya, meski sudah ia tahan sekuat tenaga, airmatanya terus mengalir tanpa henti. Tulisan di tisu itu menjelaskan bahwa sang ayah sudah memaafkannya dan tak pernah menaruh dendam apapun pada Tao. Chen menangis teringat bagaimana kedua orang tuanya meninggal karena kericuhan perang di China, Kai dan Sehun menangis berpelukan mengingat di masa lalu mereka begitu durhaka terhadap orang tua mereka hanya karena keluarga mereka yang brokenhome, sedangkan Xiumin dan Lay terlihat begitu tegar mengingat masa lalu mereka yang takut mengecewakan kedua orang tua mereka karena gagal dalam bidang kesehatan dan bisnis yang telah mereka rintis masing-masing dan akhirnya membuat Xiumin melarikan diri ke China dan Lay ke Korea.

Pace memang sengaja menyampaikan ungkapan hati yang tak terucap dari orang-orang yang anak-anaknya itu benci atau dari orang-orang yang pernah ikut serta dalam kejadian yang paling anaknya itu benci, tujuannya tak lain adalah agar anak-anaknya itu bisa lebih menghargai hidup mereka dan orang-orang di sekitar mereka.

Bulan yang tergantung di atas langit sana bersiap menampilkan purnamanya. Angin bertiup kencang, membuka paksa jendela-jendela di sekitar kamar gadis itu. jari-jari lentik gadis itu terlihat melakukan sedikit pergerakan, lalu perlahan tapi pasti gadis itu membuka kedua matanya. Bulan purnama dan angin malam yang bertiup kencang seolah menjadi saksi kebangkitannya sebagai vampire darah murni.

yujung1

“Hannah…” Pace memandang putrinya dengan takjub. Saat ini, putrinya itu tengah berdiri di atas tangga dengan mata yang menatap lurus ke arahnya. Tubuhnya masih terlihat sangat rapuh.

Kedatangan putri kandung Pace itu membuat ke-9 vampire tampan keturunan Pace berlutut tunduk menghormati keberadaannya di keluarga Lee. Pace bergerak menjemput putrinya lengkap dengan setelan jas berwarna hitam, kontras dengan kulitnya yang putih pucat.

“A-ayah… apa yang mereka lakukan?” lensa mata berwarna oranye terang itu menatap bingung 9 vampire tampan yang masih berlutut dan tak beranjak sedikitpun dari posisi mereka.

“Mereka sedang memberi penghormatan kepadamu, Sayang.” Jelas Pace yang masih belum bisa gadis itu mengerti.

Yoora menyentuh tenggorokannya, rasanya begitu kering. Tenggorokannya ingin segera terbasahi oleh cairan pemuas nafsunya. Rasa haus itu berubah menjadi rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya yang masih rapuh. Rasa yang begitu menyiksa itu akhirnya mampu membuatnya lemas hingga jatuh terduduk.

“Ayah… aku haus…”

“Suatu kehormatan bagi kami, Putri.” Ke-9 lelaki itu menusuk leher mereka masing-masing dengan kuku-kuku tangan mereka.

Darah merah kehitaman yang mengalir dari leher mereka menarik perhatian Yoora, vampire yang baru bangkit itu pun melesat cepat menancapkan taringnya ke leher 9 lelaki itu secara bergantian. Tidak ada penolakan, ke-9 lelaki itu dengan sukarela berbagi darah mereka untuk vampire darah murni seperti Yoora yang memiliki tingkat kehormatan lebih tinggi dari mereka.

Yoora menjilati sisa darah di sekitar mulutnya dengan gerakan sensual, membuat lensa ke-9 vampire itu pun menyala sempurna karena tergoda oleh pesona kecantikan luar biasa yang dimiliki gadis itu.

“Perlakukan saja aku seperti biasa. Kalau kalian terus bersikap seperti ini, aku pasti akan sangat merindukan masa-masaku saat menjadi satu-satunya gadis manusia di keluarga ini.”

“Namaku Kim Yoora, bukan Hannah ataupun Soomin. Dan aku mencintai seorang vampire kelas B yang bernama Baekhyun Lee.”

 

♥♥♥

 

Vampire paling terhormat - Yoora Lee

Kim Yoora, paras gadis cantik berlensa mata oranye terang itu terlihat memenuhi halaman depan beberapa majalah ternama Korea Selatan. Tak terasa, 100 tahun sudah terlewati begitu saja. Pergantian jaman yang terus berkembang, membuat gadis ini kini beralih profesi menjadi seorang model. Warna matanya yang berbeda dari gadis Korea lainnya bukan menjadi sesuatu yang harus dipermasalahkan dan malah menjadi daya tarik tersendiri baginya.

Setelah merasa lelah dengan kilatan lampu blitz dari kamera yang menyorotnya untuk kembali tampil di issue majalah bulan depan, gadis itu melangkah keluar dari gedung dengan ditemani manager dan asisten-asistennya. Langkahnya terhenti, bibirnya mengembang, saat seorang model pria ternama Korea berlensa mata merah darah melangkah menghampirinya dengan sebuket bunga mawar yang masih segar.

“Hari yang indah, Sayang.” Ucap lelaki tampan itu sebelum akhirnya mendaratkan ciuman lembutnya di bibir Yoora. Hal itu otomatis membuat manager dan asisten-asisten Yoora menyembunyikan senyuman malu mereka. Meski sudah terbiasa melihat kemesraan majikan mereka dengan sang kekasih, mereka selalu saja dibuat malu sendiri dengan hal-hal romantis yang dibuat kekasih majikan mereka.

Ya, lelaki berprofesi sama dengan Yoora itu adalah kekasih Yoora, Chanyeol Lee. Bukan masalah bagi mereka untuk menunjukkan kemesraan mereka di depan publik meski sama-sama bekerja di dunia hiburan karena kurang lebih 5 tahun yang lalu mereka sudah mengumumkan hubungan mereka secara terang-terangan pada publik. Tak jarang pula kemesraan dua insan ini menarik perhatian publik dan semakin membuat publik merasa gemas dengan kecocokan mereka.

Yoora memberi isyarat pada manager dan asistennya untuk meninggalkannya bersama Chanyeol. Setelah isyaratnya itu dimengerti dan dilaksanakan, tangan kekar Chanyeol menarik Yoora masuk ke mobil mewahnya diiringi tawa yang khas.

“Sehun menelepon.” Lelaki itu menekan sebuah tombol di mobilnya yang secara otomatis menampilkan video call Sehun dari sebuah layar kecil yang terpasang di depan mereka.

“Hai, Yoora!” Sapa Sehun sambil tersenyum manis di seberang sana yang langsung dibalas Yoora dengan senyuman juga.

“Yak, Hyung! Cepat kemari! Jangan berkencan terlalu lama!” Chanyeol mengusap-usap telinganya sebagai tanda kalau suara Sehun terdengar sangat mengganggu. Tanpa membalas apapun, Chanyeol lantas mematikan sambungan video call Sehun.

Lelaki itu meremas stir di depannya dan menghembuskan nafas berat, lalu tersenyum walau terlihat sedikit dipaksakan.

“Hari ini… tugasku sudah selesai.”

“Ye?”

Chanyeol menggeleng lalu tertawa garing dan melajukan mobilnya ke tempat yang mereka tuju. Sepanjang perjalanan, tak ada yang mereka bicarakan. Yoora memandang ke luar mobil sementara Chanyeol sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri.

Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di sebuah rumah mewah yang biasa mereka jadikan sebagai istana tempat mereka melepas penat dari semua kesibukan yang ada. Langkah kaki terburu-buru Sehun menyambut kedatangan Chanyeol dan Yoora, atau lebih tepatnya menyambut kedatangan Yoora. Ya, hanya Yoora saja. Lelaki itu menarik Yoora berlari ke dalam rumah meninggalkan Chanyeol yang terus meneriaki nama mereka.

Lelaki berlensa biru pekat itu membawa Yoora ke sebuah ruangan yang gelap sempurna dan meninggalkannya di sana tanpa mengatakan apapun. Gadis itu dibuat bingung sendiri dengan maksud Sehun meninggalkannya di ruangan ini dan menguncinya. Hei, jika Sehun bercanda, sungguh ini tidak lucu. Dasar vampire menyebalkan!

Klik. Satu persatu lampu yang ada di ruangan itu pun menyala. Sebuah ruangan yang didesain seperti bioskop sungguhan yang ada di dalam rumah mereka yang biasa mereka gunakan untuk menghabiskan waktu bersama dengan menonton beberapa film sambil menghabiskan beberapa bungkus pop corn.

Yoora terpaku, memandang sosok seorang lelaki yang dirindukannya selama ini. lelaki tampan berlensa kuning terang yang selalu melindunginya di masa lalu, lelaki tampan yang selalu menjadi takdirnya, lelaki tampan yang harus menghilang selama 100 tahun karena pernyataan cintanya. Baekhyun Lee, lelaki itu kini berdiri jauh di depannya, memasang sebuah senyuman yang teramat sangat dirindukannya.

Gadis itu menitikkan sedikit airmatanya, airmata bahagia. Sedetik kemudian, dirinya mengambil langkah pasti, berlari menghambur ke pelukan lelaki yang sangat dicintainya. Baekhyun menyambut pelukan gadisnya lalu keduanya terlarut dalam ciuman lembut yang menggairahkan. Segala rasa yang terpendam selama ini seolah tertumpahkan dalam ciuman hangat itu.

“Aku merindukanmu.” Ucap Baekhyun sesaat setelah melepas ciuman mereka.

“Dasar jahat! Aku sangat merindukanmu, Oppa!” Yoora mengerucutkan bibirnya, membuat Baekhyun mengembil kesempatan untuk mengecup bibir gadisnya lagi.

“Kau benar-benar menggemaskan.” Lelaki itu mencubit hidung Yoora gemas, sementara yang dicubit hanya tertawa kecil.

Jari-jari Baekhyun melebarkan mata Yoora dan memandangnya heran,

“Ada apa ini? Kau menjadi seorang model tanpa memakai lensa kontak dan mereka tak mencurigaimu?”

“Tentu saja tidak, mereka malah kagum dengan keindahan mataku.” Jawab Yoora dengan nada yang disombong-sombongkan.

Kepala Chanyeol tertunduk dengan tangan yang menggenggam kuat kenop pintu ruangan teater, mungkin tidak seharusnya ia membuka kunci ruangan tersebut hanya untuk melihat Yoora yang terkunci di dalam sana. Terkunci dalam sebuah ruangan bersama lelaki yang ia cintai, Yoora sudah pasti tidak membutuhkannya lagi.

Sungguh kau tak ingat? Pura-pura tak mengingat atau sengaja melupakannya? Tidak tentu saja, tidak mungkin kau melupakannya. Hari di mana kau akan bertemu dengannya lagi, inilah harinya… inilah hari yang kau tunggu-tunggu selama 100 tahun, hari di mana Baekhyun akan bangkit dan kembali ke pelukanmu, sekaligus, hari di mana aku harus melepasmu ke pelukannya, hari di mana kau harus melupakan kisah cinta kita dan memulai kisah cinta baru bersamanya.

Aku tidak sedih. Aku berbohong. Melihatmu tersenyum bahagia ketika kembali bersamanya, itu menyakitkanku. Kau juga pernah tersenyum seperti itu, senyuman yang sama namun berbeda. Aku tak mengerti dari mana perbedaan itu berasal, tapi aku jelas tahu, senyumanmu benar-benar berbeda.

Aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu. Meski aku tahu kau mencintanya, selalu mencintainya, dan akan selalu mencintainya. Aku tidak apa, selagi mencintainya dapat membuatmu bahagia. Aku tidak apa, sungguh. Aku tidak apa, karena aku mencintaimu. Meski terkadang, mencintaimu benar-benar menyakitkanku.

 

♥♥♥

 

Suasana di sebuah ruangan bersalin sebuah rumah sakit terkenal milik Xiumin Lee tampak tegang. Chanyeol berlari menghampiri Baekhyun yang sedang gundah sambil menggendong seorang anak perempuan berumur 1 tahun yang terjebak dalam tubuh anak berusia 4 tahun. Anak perempuan dalam gendongan Baekhyun itu tak lain adalah putrinya bersama Yoora, wanita yang saat ini tengah berjuang melahirkan anak kedua mereka.

“Bagaimana dengan Yoora? apa dia baik-baik saja?” tanya Chanyeol setelah berhadapan langsung dengan Baekhyun. sama sekali tak ada raut kelelahan di wajahnya walau harus berlari menaiki tangga darurat untuk sampai lebih cepat ke lorong ruang bersalin rumah sakit besar ini. Tak ada kekuatan Kai membuatnya sedikit membuang waktu.

“Yoora masih di dalam.” Jawab Baekhyun.

“Bisakah kau ajak Haeyoung jalan-jalan sebentar?”

Chanyeol mengangguk lalu mengambil alih putri kecil Baekhyun yang bernama Haeyoung itu ke dalam gendongannya,

“Kau masuklah ke dalam, aku akan mengajak Haeyoung jalan-jalan di sekitar taman rumah sakit.”

“Baekhyun-ah, cepat! Yoora membutuhkanmu!” panggil Xiumin yang baru saja keluar dari ruang bersalin, baju sterilnya dipenuhi bercak darah.

Tanpa ba-bi-bu lagi Baekhyun melangkah masuk ke dalam ruang bersalin setelah sebelumnya mengecup kepala putrinya, meninggalkan putri kecilnya bersama sang paman, Chanyeol.

Ahjussi, kenapa eomma terlihat kesakitan? Apa adik bayi dalam perut eomma akan keluar?” tanya Haeyoung tak lepas dari logat khas anak kecilnya yang menggemaskan.

Chanyeol tersenyum,

“Ya, kau benar, cantik! Adik bayi Haeyoung sebentar lagi akan lahir, maka dari itu Xiumin ahjussi dan Haeyoung appa sangat khawatir dengan kondisi eomma. Tapi, Haeyoung tidak usah khawatir ya? Eomma dan adik bayi Haeyoung pasti akan baik-baik saja.” tangan besar lelaki itu mengusap lembut rambut Haeyoung.

“Sekarang, kita…. jalan-jalan!”

Yeay!” sorak Haeyoung ceria.

“Haeyoung mau es krim?”

Berbeda dari keadaan di luar sana, keadaan di dalam ruang bersalin begitu menegangkan. Yoora terlentang di atas ranjang bersalin dalam keadaan perut besar yang terkoyak, hampir kehabisan darah. Seharusnya di jaman serba canggih seperti ini, seorang ibu hamil tidak perlu merasakan kesakitan sedikitpun selama proses melahirkan. Namun Yoora berbeda, tentu saja, karena Yoora adalah seorang vampire, bukan manusia lagi.

Setiap kasus melahirkan yang dialami vampire, bayi vampire akan mengoyak daging lalu keluar sendiri dari perut ibunya. Hal inilah yang paling menyiksa Yoora, meski Xiumin sudah berusaha keras untuk menemukan obat penghilang rasa sakit bagi vampire, tetap saja rasa sakit itu dapat dengan mudah dirasakan oleh Yoora.

Yoora mencengkeram kuat lengan Baekhyun, peluh sudah membanjiri wajah serta lehernya. Mulut Yoora sengaja disumpal kain, karena kalau tidak, Yoora bisa saja melukai mulutnya sendiri dengan taring-taring tajamnya.

“Tahan, Sayang! Sebentar lagi anak kita lahir, sebentar lagi. Kau pasti bisa!” Baekhyun mengecup kening Yoora berkali-kali, tangannya menggenggam kuat tangan Yoora seolah memberi kekuatan lebih pada istrinya itu.

“Sudah kukatakan untuk berhenti membuat Yoora hamil, kenapa kau tidak menurut juga? Dasar anak nakal!” kesal Xiumin sambil terus membantu proses persalinan Yoora.

Bibir Baekhyun mengerucut, menggerutu pelan membalas kekesalan Xiumin.

“Berhenti menggerutu seperti itu!” mata Xiumin memicing. Baekhyun seketika menciut.

Tak lama kemudian, perjuangan Yoora selama 3 jam ini terbayarkan sudah. Anak kedua mereka akhirnya bisa lahir ke dunia ini dalam keadaan sehat. Tampan seperti ayahnya.

“Haeyoon Lee, putra kita.”

Yoora tersenyum lemah, melihat Baekhyun merengkuh tubuh kecil anak kedua mereka benar-benar membuat Yoora bahagia.

“Baekhyun Lee, aku mengawasimu.” Ancam Xiumin yang membuat Yoora tertawa kecil.

 

♥♥♥

 

Hari demi hari terus berlalu, beberapa di antara keluarga Lee kini berpencar di segala penjuru dunia dengan profesi dan kesibukan mereka masing-masing. Xiumin sibuk menjadi dokter di rumah sakitnya sendiri di Korea, Chanyeol sibuk mempertahankan popularitasnya sebagai model ternama Korea, Suho dan Lay sibuk mengurus bisnis di Amerika, Chen sibuk mengembangkan kemampuan bernyanyi dan bermusiknya di Jerman, Dio sibuk mencari ketenangan dengan menyendiri di sebuah pulau tak berpenghuni yang diberikan Pace untuknya, Kai dan Tao sibuk berjelajah keliling dunia, sedangkan Sehun? Sehun harus belajar lebih giat lagi untuk bebas melakukan apa yang ia inginkan seperti kakak-kakaknya, ya, syaratnya hanyalah belajar dengan giat.

EXO? Kalian masih mengingatnya? Tentu saja tidak, karena Suho sudah menggunakan kekuatannya untuk menghapus ingatan orang-orang tentang boygroup ternama itu sekitar 100 tahun yang lalu tepat di saat mereka kehilangan Baekhyun. Suho melakukannya juga untuk menghilangkan ingatan orang-orang tentang keluarga mereka yang hidup abadi dan tak pernah mengalami penuaan, jika tidak seperti itu, mungkin saja mereka sudah dibakar hidup-hidup sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu karena dianggap monster atau apalah itu.

“Ah! Haeyoung-ah, ahjussi merindukanmu!” Suho terlihat begitu tampan di layar ponsel pintar milik Baekhyun. Saat ini, mereka sedang terhubung oleh layanan video call mengingat Suho yang berada jauh di Amerika mengurusi urusan bisnis bersama Lay.

“Haeyoung-ah, beri salam pada Suho ahjussi!” titah Baekhyun pada putrinya yang duduk dalam pangkuannya. Ya, inilah kesibukan Baekhyun sekarang, mengurus anak-anaknya bersama Yoora.

Ahjussi, annyeonghaseyo!” salam Haeyoung dengan imutnya.

Suho tertawa tak kuat dengan kelucuan putri kecil Baekhyun itu. Setelah mengontrol tawanya, Suho bertanya banyak tentang Yoora, tentang Baekhyun, dan tentang keluarganya yang masih tinggal di rumah sang ayah di Korea melalui sudut pandang Haeyoung yang jujur dan tak bisa berbohong.

Annyeong, Oppa! Bagaimana kabarmu dan kabar Lay Oppa di Amerika? Kalian baik-baik saja kan?” sapa Yoora yang baru saja menghampiri Baekhyun sambil menggendong Haeyoon dan duduk di sofa.

“Haeyoon-ah! Haeyoon-ah, kenapa kau semakin tampan saja? ah ketampanan ahjussi pasti akan terkalahkan oleh ketampanan Haeyoon!”

Yoora cemberut, Suho ternyata lebih tertarik pada Haeyoon dan mengacuhkan dirinya. Haeyoon tertawa, giginya yang baru tumbuh perlahan itu membuat bayi berumur 5 bulan itu terlihat begitu lucu.

“Tentu saja Haeyoon sangat tampan, Hyung! Dia mewarisi ketampananku yang tak ada habisnya ini, haha!” ucap Baekhyun tertawa puas.

“Apa kalian berencana ingin mempunyai anak lagi eoh?”

Pertanyaan itu membuat Yoora dan Baekhyun saling bertatap, tatapan dalam yang berakhir dengan senyuman penuh arti yang tak dapat Suho mengerti.

“Tidak! Tidak ada hamil, dan tidak ada anak lagi!” ucap Xiumin yang tiba-tiba datang dan merangkul pasangan itu dengan senyuman lebar.

“Ya! Maksud kami itu, Hyung! Ya! Tidak ada hamil, dan tidak ada anak lagi!”

 

Cinta itu bukan memaksa,

Cinta itu bukan memaksa sesuatu yang terlihat baik menjadi buruk,

Cinta itu bukan hanya tentang saling memiliki,

Tapi cinta itu, selalu melindungi tanpa harus kita ketahui, selalu setia menanti tanpa kita sadari, selalu membuatmu merasakan kesakitan karena kerinduan, dan selalu membuatmu merasakan penyesalan yang teramat dalam setelah menyakiti orang yang kau cinta karena kekhilafan. Cinta yang sempurna itu ada karena ketidaksempurnaan.

Aku mencintai Baekhyun, dan selamanya akan selalu seperti itu.

 

♥♥♥

 

Langit gelap menyelimuti kota Seoul hari itu, langit sepertinya sudah tak tahan lagi untuk menurunkan hujannya. Hujan deras disertai petir yang bergemuruh akhirnya mengguyur kota itu dan membuat jalanan yang tadinya kering menjadi basah sempurna.

Teng, teng, teng, teng…. teng, teng, teng, teng… suara yang terdengar seperti bunyi lonceng gereja itu bergema di seluruh penjuru rumah. Tak mau ambil pusing, Chanyeol yang saat itu tengah merebahkan diri di sofa dengan mata terpejam tak beranjak sedikitpun dari tempatnya.

Jhweoseonghaeyo…”

Lelaki itu tak bergeming, ia masih saja berusaha tertidur dengan wajah tampannya.

Tangan hangat nan lembut menyentuh kulit tangan dinginnya, lalu tak berapa lama sentuhan itu berubah menjadi usapan-usapan yang sangat mengganggu. Tunggu, hangat? Lelaki itu akhirnya membuka matanya dan mendapati seorang gadis cantik bersurai pirang sedang sibuk mengusap-usap tangannya yang dingin. Bangunnya lelaki berlensa merah darah bercahaya itu membuat lilin-lilin yang ada di sekitar mereka seketika menyala. Tubuh gadis itu gemetar karena tatapan Chanyeol yang begitu tajam, sedangkan tangan hangat gadis itu masih menyentuh tangan Chanyeol.

“Yak! Apa yang kau lakukan?!” Chanyeol menepis tangan gadis itu dengan kasar.

Neo? Nuguya? Siapa kau sampai berani-beraninya menyentuhku?! Apa yang dilakukan seorang manusia di tempat ini huh?!”

Jhweosonghamnida, jeongmal jhweosonghamnida.” Gadis itu membungkukkan badannya berulang kali.

“Aish, jinjja! Ada ribut-ribut apa ini?” seluruh lampu yang ada di ruangan itu tiba-tiba menyala, membuat ruangan yang awalnya hanya mengandalkan seberkas cahaya dari jendela itu akhirnya terang benderang.

“Yak, Chanyeol-ah! Kenapa kau tidak sopan sekali pada tamu kita yang satu ini?” tegur Xiumin.

“Aku mencium sesuatu yang menyegarkan di sini.” Ucap Yoora yang mengambil nafas dalam, mencium aroma darah manusia yang mengalir di tubuh gadis bersurai pirang itu.

“Kau siapa? Kenapa kau bisa ada di tempat ini?” tanya Baekhyun.

Gadis bersurai pirang itu menunduk, ketakutan untuk menatap mata orang-orang di depannya.

“A-aku datang kemari untuk memenuhi permintaan Tuan Lee yang memintaku untuk menjadi pembantu di rumah ini. Shin… Sh-shin… Shin Seulrin imnida.”

 

― Sadistic Night : Last Chapter END ―

 

aaaahh T_T akhirnya tamat juga :’D sedih ih kok udah tamat lagi ya, bhak :v terimakasih buat semuanya yang selalu menunggu kelanjutan kisah Yoora dan ke-10 vampire tampan bin keceh ini :* sekarang, kisah mereka udah tamat :’) happy ending yeyeee!^^

sebagai hadiah, nih aku kasih bonus pict Haeyoung dan Haeyoon yang mirip banget ama emak bapaknya bhak :v

thank you so much, ders! laffyouuu :* byebye! sampai ketemu lagi di ff-ffku selanjutnyaaa!

Iklan

7 pemikiran pada “[EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 10B (END)

  1. Ping balik: [EXO Fanfiction] SADISTIC NIGHT Chapter 10A | ANSFanfiction

  2. Wah..bener”…feelnya dapet banget,pokoknya daebaklahh..gk tau harua comment apa…sedih ih ff nya udah an..lanjut ff selanjutnya yah min..fighthing

    Suka

  3. Hahahaha yeyeye gak kerasa udh END 😦 Hahahahha yeye Happy Ending yeyeye jgaa Sehun akhirnyaa gak dpet cwe 😄 Chanyeol dapet cwe lagii tuhhh. manusia pulaaa.
    Gak nyangka banget ternyata Yoora anak s pace,ceritanya memang dri awal penuh dengan kejutan.
    Haeyoung nya ucuull mrip kya Baek. bkin bikin bikin lagi Baek hahahaXD wahh Yoora ngga jdi satu2nyaa cwe d keluarga Lee baguslahhh ada s kecil haeyoung. nambah lagii 1 Shin sheulrin ahhh menarik sekali. side story dong ayyy yg Chanyeol nyaaa masa dia menyedihkan sekali kisah percintaan nyaa T.T bkin bahagia dong dia sma cwenyaa. menyedihkan sekali diaa xD cintanya bertepuk sebelah tangan.
    Wahhh tinggal nunggu ff baru lagii dongg yeyeyeye Keep writing yaaa okee^^ fighting:)

    Suka

  4. baru nemu video di youtube nih tiba2.. ini sadistic night mau ada kelanjutannya ya?
    Waaa.. kapan nih mau dishare.. ditunggu kelanjutan cerita dari Yoora dll ya..

    Suka

    • alhamdulillah dapet readers baru yg mau komen :’D *sujud syukur :v
      iya, insyaallah ada season 2-nya 🙂 secepatnya aku usahain deh hihi 😀 oke ditunggu aja, makasih yaa udah komen + nonton videonya -maybe- 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s