[EXO Fanfiction] 4 Seasons of Love – (A Piece) in Spring

4 Seasons of Love – (A Piece) in Spring

Flower-of-life-spring-wallpaper-620x388A

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Cast : Lee Hosin as Do Yookyung, Wu Yifan as Kris Wu

Genre : Romance, Sad, Little bit fantasy

Rated : PG-15

Length : Oneshoot

Disclaimer : Semua cast adalah bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya untuk kepentingan cerita. Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata. *Birth scene belongs to yasaenghwa ‘UNBORN’ fanfiction.net

Aku merindukanmu di setiap detakan jantungku. Serpihan kenangan di musim semi yang kau buat dengan sangat indah dalam hidupku, aku takkan pernah melupakannya.

♥♥♥

“Sayang, lihatlah perutmu sudah sebesar itu. kenapa kau tidak di rumah saja? istirahat. Kenapa tiba-tiba ingin bepergian?”

Wanita itu tersenyum mendengar sang ibu yang sangat mengkhawatirkannya. Mendengar putrinya yang sedang mengandung 9 bulan tiba-tiba ingin keluar rumah dengan membawa tas besar yang terlihat penuh berisi pakaian, bagaimana bisa sang ibu tidak khawatir?

Ia mengelus perutnya yang besar dengan lembut,

“Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar, Eomma.”

“Kalau begitu, eomma akan mengantarmu.”

Anio,” tolaknya cepat.

Gwenchanayo, Eomma.”

Do Yookyung, ya, wanita itu memang selalu bisa meyakinkan ibunya. Meski masih merasa khawatir, sang ibu akhirnya mengijinkan putri semata wayangnya pergi dengan kondisinya yang hamil besar.

Gomawoyo, Eomma.” Ucap Yookyung setelah keluar dari mobil ibunya. Ibunya tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja seorang diri, jadi ibunyalah yang mengantarnya sampai ke depan stasiun ini.

“Yookyung-ah, hati-hati. Kalau terjadi sesuatu, segera hubungi eomma. Kau mengerti?”

Ne.”

Setelah memastikan anaknya melangkah dengan baik ke dalam stasiun, mobil ibu Yookyung pun melaju meninggalkan area stasiun.

Yookyung melangkah perlahan memasuki kereta yang akan mengantarnya ke tempat tujuannya, maklum, perutnya yang besar memang membuatnya sedikit sulit untuk melangkah barang sesenti saja. Wanita itu mendengus, rupanya kereta ini sudah penuh dan tak rersisa satupun bangku yang kosong untuknya duduk. Yah, mungkin ia memang harus kuat berdiri.

“Duduklah, Nona.” Ucap seorang paman yang memberikan tempat duduknya untuk Yookyung, mungkin karena kondisi Yookyung yang sedang hamil tua, membuat paman itu tak tega melihatnya berdiri terlalu lama.

Gwenchanayo, Ahjussi.”

Ani, gwenchana. duduklah. Biar saya yang berdiri.”

Senyum Yookyung melebar,

Ghamsahamnida, Ahjussi.” Syukurlah, masih ada orang baik yang peduli dengan sesama di dunia ini. Tolong balas kebaikan ahjussi itu, Tuhan.

“Berapa usiamu, Nak?” tanya seorang nenek sesaat setelah Yookyung duduk di sebelahnya.

“17, Halmeoni.” Jawab Yookyung.

Nenek itu terlihat sedikit terkejut, pandangannya lalu tertuju ke arah perut Yookyung yang besar. “Sudah berapa bulan?”

“Ye? Ah, ini sudah bulannya, Halmeoni.”

“Oh, benarkah? Kasihan sekali dirimu, Nak. Padahal kau masih sangat muda, tapi sudah harus mengandung sebesar ini.”

“Sudah berapa lama kau menikah?”

Pertanyaan itu… butuh waktu bagi Yookyung untuk menjawabnya. Menikah?

“Baru satu tahun yang lalu.”

Aku tidak pernah menikah, lirih Yookyung dalam hati. Setidaknya, jawaban itu bisa membuat nenek di sebelahnya berhenti bertanya. Tidak mungkin juga ia jujur mengatakan kalau ia tidak pernah menikah sedangkan tubuhnya tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa ia sedang mengandung janin yang sudah hidup di rahimnya selama 9 bulan ini.

“Ah, stasiun selanjutnya, Halmeoni, saya duluan. Ahjussi, ghamsahamnida.” Ucap Yookyung pamit pada paman baik hati dan nenek di sebelahnya. Tak lupa ia menjinjing tas berat yang dibawanya keluar dari kereta.

Ahjussi, tolong masukan tas ini ke bagasi.” Titah Yookyung pada sopir taksi.

Setelah memastikan penumpangnya duduk dengan nyaman dalam taksinya, sang sopir pun langsung tancap gas melajukan taksinya ke tempat tujuan. Taksi itu melaju seolah membelah jalanan sepi di siang hari musim semi itu.

“Sendiri saja, Nona? Suami Nona tidak menemani eoh?” tanya sopir taksi itu di sela-sela keheningan.

Yookyung tersenyum lalu mengelus perut besarnya penuh kasih sayang.

“Saya baru akan menemuinya, ahjussi.”

“Ah, saya mengerti. Suami Nona pasti sedang menunggu kedatangan Nona di rumah, dia pasti sedang harap-harap cemas sekarang karena membiarkan istrinya yang sedang hamil bepergian sendiri, haha.” Ucap sopir taksi itu diakhiri dengan tawanya yang renyah.

Wanita itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela taksi di mana bunga-bunga bermekaran di luar sana, musim semi ini begitu indah.

“Begitukah menurutmu, ahjussi?”

Aku pun berharap begitu. Oppa, apa kau benar-benar menunggu kedatanganku?

Sekitar 45 menit berlalu, taksi berhenti di pekarangan sebuah rumah besar yang terletak di tengah-tengah kebun yang dipenuhi bunga di sebuah desa kecil. Yookyung keluar dari taksi, menatap rumah yang sama sekali tak berubah sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di rumah itu. matanya berbinar, dan sebuah senyuman tipis melengkung di bibirnya.

Ghamsahamnida, ahjussi!”

Tangan kekar namun lembut itu menarik tangan Yookyung untuk mengikutinya. Yookyung yang saat itu masih tidak percaya bahwa ia membolos sekolah hanya mengikuti ke mana pun langkah kaki lelaki itu pergi.

“Kita, benar-benar bolos?” tanya Yookyung yang merasa resah, ini adalah pertama kali baginya.

“Tentu saja! sudah kubilang, aku tidak pernah main-main dalam membolos sekolah! Haha.” Tawa itu… kenapa lelaki itu bisa-bisanya tertawa di saat ia resah seperti ini?!

“Yak! Kris! Jangan tertawa seperti itu!”

“Do Yookyung! Diamlah, kau tidak akan menyesal karena telah menghabiskan waktu bersamaku!”

Lelaki itu merangkul Yookyung, mengajak Yookyung masuk ke dalam rumah berdinding dan berlantaikan kayu yang ‘katanya’ milik orang tuanya. Lelaki itu, Kris namanya. Teman sekelas Yookyung. Siswa yang sedikit nakal namun tetap pintar. Dan mengajak Yookyung membolos sekolah adalah salah satu contoh dari kenakalannya.

“Cepat taruh tasmu, kita akan bersenang-senang selama di sini. Kau, tidak pernah tahu tentang desa ini, bukan?”

Yookyung menaruh tasnya sesuai perintah Kris, Kris lalu mengajaknya keluar rumah dan berlarian di antara kebun bunga musim semi itu. Kris menggenggam tangannya, ‘katanya’ meski desa ini desa kecil, suasana pasar pasti selalu ramai dan Kris tidak mau tanggung jawab kalau Yookyung terpisah darinya. Yookyung hanya bisa menyembunyikan senyumnya setelah mendengar alasan Kris.

Memang benar, suasana pasar di desa itu begitu ramai. Mereka sampai merasa sedikit kesulitan untuk berjalan di tengah banyaknya orang.

“Setelah melewati pasar ini, kita akan menemukan…” Kris menggantungkan kata-katanya, mengalihkan pandangannya ke belakang di mana Yookyung berhenti mengikutinya.

“Apa yang kau lihat?” tanya Kris.

Yookyung tak menjawab, namun dengan melihat arah tatapan Yookyung, Kris dapat mengetahui apa yang sebenarnya gadis itu lihat. Sebuah cincin perak dengan satu mata berlian di tengahnya.

Kris mengambil sebuah jepit kecil berbentuk pita berwarna merah muda yang juga dijual di toko aksesoris itu dan langsung memasangkannya di rambut Yookyung, membuat pipi chubby gadis itu seketika berubah merah delima.

“Berapa harganya, Ahjumma?”

Kris… berani-beraninya kau merebut hatiku.

Waeyo?” rupanya lelaki itu memergoki Yookyung yang terus menatapnya tanpa berkedip.

Mwoya? Mwo? Kau pikir aku memandangimu, huh?”

Kris tersenyum,

“Aku tidak menuduh apapun.”

“Sudahlah, kajja!”

Lagi-lagi Kris menarik tangan Yookyung, kini ia benar-benar membawa gadis itu ke suatu tempat yang bisa dibilang spesial. Danau. Kris menuntun Yookyung untuk menaiki perahu kecil yang ada di tepi danau, mendayungnya sampai ke tengah-tengah.

“Kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Yookyung. Angin musim semi yang berhembus menyibakkan rambut hitam panjangnya yang terurai bebas.

“Kenapa? Kau tidak suka?”

Gadis itu mendengus, kenapa Kris harus balik bertanya?

“Kata penduduk desa ini, siapapun yang menyatakan cintanya di tengah danau ini di musim yang baik, maka kisah cintanya akan membawa kebaikan dan kebahagiaan selamanya.” Jelas Kris yang langsung membuat pipi Yookyung memerah. Apa maksud Kris?

“Lalu kau percaya?”

Kris menatap mata Yookyung dalam,

“Aku mencintaimu, Do Yookyung.” Saat itu juga, Yookyung dapat melihat ketulusan di mata Kris.

“Aku tak peduli kalau itu hanya mitos, yang jelas aku ingin kisah cintaku membawa kebaikan dan kebahagiaan selamanya seperti apa yang mereka katakan. Kisah cintaku, bersamamu.” Lanjut lelaki bersurai pirang tersebut.

Yookyung tertawa tertahan,

“Aku belum mengatakan kalau aku juga mencintaimu, Kris. Jangan berharap terlalu banyak dulu.”

“Kalau begitu katakan sekarang!” Kris tersenyum lebar, menunggu Yookyung membalas kata-katanya.

“Aku mencintaimu, Kris Wu!”

Gadis itu menghambur ke pelukan Kris, namun karena dorongan yang diberikan gadis itu terlalu kuat, Kris kehilangan keseimbangannya. Perahu mereka oleng seiring dengan Kris dan Yookyung yang belum bisa mengatur keseimbangan mereka, perahu itu akhirnya terbalik, membuat Kris dan Yookyung tercebur ke tengah danau yang dalam.

Kris… Kris… Kris…

Kau di mana, Kris?

Kris…

“Yookyung-ah! Yookyung-ah! Sadarlah! Sadarlah, Yookyung-ah!”

Yookyung membuka matanya, menatap Kris yang memandangnya khawatir. tak lama, gadis itu memuntahkan air yang masuk ke dalam tubuhnya.

Kris…

Lelaki itu membopong tubuh ringkih Yookyung, tubuh kecil gadis itu seakan tidak memiliki berat badan yang berarti bagi Kris.

“Aku bisa berjalan sendiri, Kris.”

Yookyung terdiam seiring membisunya Kris, lelaki itu tak membalas kata-katanya ataupun meliriknya sedikitpun. Matanya menatap tajam ke depan, melangkah cepat menelusuri jalan yang akan membawa mereka kembali ke rumah Kris.

Sesampainya di rumah, Kris membaringkan tubuh Yookyung di sebuah ranjang berukuran sedang yang ada di salah satu kamar yang ada di rumah itu. Kris merogoh tasnya, mengambil sebuah telepon genggam dan jarinya bermain cepat menekan nomor-nomor yang ingin segera ia hubungi.

“Halo? Dokter Jang? Bisakah…” Kris menghubungi dokter keluarganya, raut wajah lelaki itu seperti dipenuhi rasa bersalah.

“Kris, aku baik-baik saja.” ucap Yookyung, namun Kris tak mau peduli.

“Kris!” teriak Yookyung yang akhirnya membuat Kris berpaling ke arahnya dan mengabaikan sambungan teleponnya.

“Aku hanya perlu mengganti pakaianku dengan pakaian kering, aku tidak perlu dokter.”

Seuntai senyum merekah di bibir Yookyung, wanita hamil itu duduk di atas ranjang yang juga masih sama seperti dulu. tidak ada yang berubah, tidak ada satupun kenangan yang terhapuskan di rumah ini bahkan setelah hampir satu tahun berlalu.

“Apa kau tidak takut?” Kris membelai rambut Yookyung yang sedikit basah oleh keringat. Mereka berdua berbaring di atas ranjang yang sama dengan selimut yang menutupi tubuh penuh peluh mereka.

“Aku tidak akan takut selagi menghadapi semuanya bersamamu.” Gadis itu mengeratkan pelukannya di tubuh Kris.

Kehangatan tubuh itu… Yookyung merindukannya.

Kris! Kris! Kris! Yookyung berlari ke arah Kris yang menunggunya di depan rumah kayu dan langsung memeluk tubuh tinggi itu erat-erat. Lelaki itu menunjukkan ekspresi bingung, ada apa dengan kekasihnya hari ini? Yookyung terlihat begitu bahagia.

“Aku hamil, Kris!” Lelaki itu menunjukkan binar bahagia yang sama. Setelah mengecup kening kekasihnya, Kris berlari cepat meninggalkan Yookyung yang kebingungan.

Yookyung melangkah perlahan menuju pintu, merabanya dan menatap keluar jendela dengan tatapan sendu. Seharusnya kau tidak pergi saat itu… aku tidak membutuhkan cincin itu… aku hanya membutuhkanmu.

Yookyung terus memandang ke arah pintu, menanti kedatangan Kris yang sudah sejak lama pergi. apakah lelaki itu akan kembali? Atau lelaki itu meninggalkannya karena tidak mau bertanggung jawab? Tak lama ketukan pintu yang dinantikan Yookyung sedaritadi pun terdengar.

“Kris, kau datang…”

Lelaki itu memeluk tubuh mungil gadis di depannya, nafas lelaki itu terdengar begitu berat.

“Ada apa denganmu, Kris?” lama kelamaan, Yookyung dapat merasakan beratnya tubuh Kris yang bersandar dalam pelukannya. Kris menegakkan kembali tubuhnya, menampilkan sebuah senyuman sebagai permintaan maaf.

BRUK!

“Kris!” Yookyung memangku tubuh Kris yang jatuh tergeletak lemas di lantai. Wajah tampan lelaki itu tampak sangat pucat. Sepasang manik mata itu membulat, tatkala ia melihat tangan Kris mencoba menutupi darah yang terus keluar dari perutnya.

“Kris! Aku mohon bertahanlah! Bertahanlah untukku dan bayi kita, Kris!” jari jemari gadis itu bergerak cepat menelepon siapapun yang sekiranya dapat membantunya menyelamatkan Kris, tapi kemudian tangan besar lelaki itu mencegahnya.

“Maafkan aku… Yoo…kyung-ah. Aku sedikit terlambat…” Kris menunjukkan sebuah cincin perak yang sangat diinginkan Yookyung saat pertama kali pergi ke desa kecil ini bersamanya. “Do Yookyung… jadilah ibu yang baik bagi bayi kita.”

Ini sebuah lamaran? Kris? Melamarnya?

“Kris! Bangun, Kris! Kau tidak ingin mendengar jawabanku, huh?! Bangun, Kris! Buka matamu!”

Airmata wanita itu mengalir, teringat akan kenangan menyedihkan yang begitu melukainya. Kenangan? Pantaskah kejadian tragis itu disebut kenangan di musim seminya?

Kris ditusuk seseorang yang tak dikenal sesaat setelah membeli cincin untuknya di pasar, itulah yang dikatakan Detektif Kim padanya. Setelah mendengar ucapan Detektif Kim itu, Yookyung bahkan sempat bersumpah, siapapun yang telah membunuh Kris hingga membuatnya begitu menderita, Yookyung ingin membunuhnya juga. Nyawa harus dibayar nyawa, bukan?

Dengan berpakaian serba hitam tanda duka cita yang mendalam, Yookyung menabur abu Kris di danau tempat Kris menyatakan cintanya. Airmatanya terus berderai, tak dapat merelakan kepergian lelaki itu untuk selama-lamanya. Yookyung membutuhkan Kris sebagai pendamping hidupnya dan bayinya membutuhkan Kris sebagai ayahnya.

WAE?! KENAPA KAU MENGAMBILNYA DARIKU?! MANA JANJIMU YANG AKAN MEMBUAT KAMI BAHAGIA SELAMANYA?! MANA JANJIMU TENTANG KEBAHAGIAAN CINTA ITU?!”

”KENAPA KAU MALAH MEMBUAT KISAH CINTAKU SEPERTI INI?! KEMBALIKAN DIA! KEMBALIKAN KRIS-KU! KEMBALIKAN AYAH DARI BAYIKU! KEMBALIKAN DIA, DANAU!” Yookyung berteriak sekeras-kerasnya, amarahnya memuncak. Ia benar-benar marah pada danau itu yang tak bisa menjaga janjinya untuk memberikan kebaikan dan kebahagiaan cinta selamanya pada setiap pasangan yang menyatakan cinta di tengah danau itu di musim yang baik.

Perahu yang dinaiki Yookyung tiba-tiba saja oleng, sama seperti saat ia bersama Kris saat itu. Yookyung tercebur di tengah danau itu , tapi sepasang tangan kekar kemudian menarik tubuhnya yang semakin tenggelam karena tak bisa berenang ke permukaan air.

Kris? Kaukah itu? Kris? Kau kembali?

“Yookyung-ah? Sadarlah, Yookyung-ah!”

Yookyung membuka matanya, berharap Kris benar-benar datang untuk menyelamatkannya. Tapi ia harus kecewa setelah melihat sosok yang menyelamatkannya bukanlah Kris. Lelaki yang menyelamatkannya adalah ayah Kris sendiri yang sejak awal memperhatikan Yookyung dari tepi danau.

Kau benar-benar pergi…

Wanita itu mengelus perut besarnya saat ia merasakan sesuatu yang aneh dari dalam perutnya, rasanya sangat sakit. inikah yang dinamakan rasa sakit melahirkan? Jika iya, berarti inilah saatnya ia membuktikan pada Kris kalau dirinya bisa menjadi ibu yang baik bagi bayi mereka.

Ia menggigit bibir bawahnya saat dirasa kontraksi dari dalam perutnya semakin menjadi. Belum sempat ia menggapai dinding kayu untuk bertopang, tubuh itu mengkhianatinya dan membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.

“Akkhh…”

Erang kesakitan keluar dari bibir pucatnya. Yookyung semakin mengerat perutnya saat sebuah hantaman berupa tendangan liar ia dapatkan dari dalam dirinya. Bayi dalam rahimnya sepertinya tidak mau berkompromi dengan keadaan, bayinya berputar dan perlahan turun untuk mencapai liang lahirnya.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, wanita itu berusaha berdiri di antara dua kakinya yang gemetar sembari berpegangan pada dinding kayu di dekatnya. Wanita itu kemudian mengusap perut besarnya dan bergumam di antara kesakitannya.

“Tenanglah, sayang. Eomma harus berjalan ke kamar dulu.”

Setelah menenangkan bayi di dalam rahimnya, wanita itu mulai melangkah tertatih ke dalam kamar. Gelombang kontraksi yang lebih besar mendera perutnya sesaat setelah ia membaringkan tubuhnya terlentang di atas ranjang dengan tumpukan bantal yang menopang kepalanya.

Tangannya yang gemetar mencoba menghubungi nomor telepon ibunya tapi kemudian ponselnya itu terlepas begitu saja dari tangannya hingga jatuh ke lantai sebelum dirinya sempat menekan ikon ‘panggil’ pada layar ponselnya. Perutnya kembali menegang.

“AKKHHH… Hiks…” kali ini lebih sakit dan disertai dorongan dari dalam. Yookyung tercekat. Ini? ketubannya pecah! Dan ia tidak memiliki opsi lain untuk tidak melahirkan bayinya sekarang. Tidak ada waktu lagi, jika ia ingin bayinya selamat.

Oppa… bantu aku….

Wanita itu meringis ketika ia beringsut untuk bersandar di antara tumpukan bantal. Dengan nafas tersengal dan peluh yang membanjiri seluruh wajahnya, wanita itu menyingkap rok yang ia kenakan kemudian berusaha menanggalkan celana dalam yang sudah basah oleh cairan ketuban serta darah. Ia mengerang saat bayinya tidak bisa bersabar untuk menerobos keluar.

“A-AKHH… S-sabar n-nak… Eo-Eomma ha-harus.. arrhhtt.. m-membuka i-ini dulu..” wanita itu seolah bernegosiasi dengan bayinya. Selanjutnya wanita itu melipat kedua kakinya dan membuka selangkangannya selebar mungkin untuk mempermudah akses lahir untuk buah cintanya bersama Kris itu. Dengan masih mengatur nafasnya yang memburu, wanita itu menunggu datangnya kontraksi.

Tepat saat kontraksi datang dan dorongan dari bayinya semakin menjadi, ia mengerat kedua lututnya dan mengejan. Ia merasakan perlahan robekan pada kewanitaannya semakin lebar. Rasanya seperti daerah itu tersayat dan panas.

“N-NGHHH…HH.. UGGHHH…A-AHH.”

Beberapa kali dorongan kuat yang ia lakukan tidak membuat kepala bayinya keluar. Hanya sisa ketuban dan darah yang keluar. Kepala bayinya masih berputar di sekitar liangnya, seolah mempermainkannya yang sudah di ambang batas.

Namun Yookyung tidak boleh menyerah. Ia harus tetap mengejan walau terputus-putus.

“NNGGHHH… HAH.. U-UUGGHHH…” Wajahnya kini sudah memerah padam karena rasa sakit dan mengejan hebat untuk beberapa kali. Ini sudah lama setelah ketubannya pecah namun sepertinya bayinya masih enggan untuk keluar.

Wanita itu akhirnya menangis putus asa. Bayinya harus segera keluar.

Kau pasti bisa, Yookyung-ah… bisikan itu…

“Oppahh?” mata Yookyung berbinar, sosok yang dirindukannya selama ini akhirnya kembali, kembali untuk menemaninya di tengah perjuangannya melahirkan bayi mereka. Kris, lelaki itu mengelus perut besar Yookyung dengan lembut.

Keluarlah, sayang. Jangan buat eommamu tersiksa terlalu lama….

“Oppah… ini benar-benar sakithh… nghhhh… AKHH..”

Tiba-tiba dorongan besar menghantam vagina Yookyung. Itu kepala bayinya! Dengan reflek ia mencengkeram bantal yang menopang kepalanya. Sungguh, ini benar-benar sakit!

Dalam satu tarikan nafas, Yookyung mengejan kuat-kuat. Ia semakin melebarkan kakinya, menengadah dengan memejamkan mata rapat untuk mendorong bayinya keluar.

Aku bisa… aku bisa, Oppa…

“NNGHHHH… ARRGHHHH!”

♥♥♥

“Kris! Kau dari mana saja?!” Yookyung, wanita yang kini sudah menjadi ibu-ibu cerewet itu terlihat berkacak pinggang, mengomeli seorang anak tampan berumur 5 tahun yang baru saja pulang setelah 5 jam bermain di luar rumah.

Mianhaeyo, Eomma. Tadi Kris menemukan kelinci lucu ini, ini untuk Eomma. Kris mencintai Eomma.”

Wanita itu mengambil kelinci putih yang diberikan anaknya dan tersenyum. Ia menarik Kris ke dalam pelukannya yang erat.

Gomawo, Kris.”

“Tapi Eomma tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Kris, Eomma tidak ingin kehilangan Kris. Eomma lebih senang jika Kris mau menemani Eomma selamanya, kelinci itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Kris.” Yookyung menitikkan airmatanya, ia benar-benar tidak ingin kejadian yang menimpa Kris terulang lagi pada Kris kecilnya, ia tidak ingin kehilangan Kris lagi.

Mianhae Eomma, Kris janji tidak akan membuat Eomma khawatir lagi.”

Oppa… apa kau melihatnya dari atas sana? Putra kita pintar sekali, bukan? Jika saja kau hadir di tengah-tengah kami, mungkin kebahagiaan ini akan terasa berkali-kali lipat rasanya. Kebahagiaan kita akan sempurna jika kau di sini…

Oppa… Kris mencintaimu dan merindukanmu setiap saat… aku juga. Aku merindukanmu di setiap detakan jantungku. Serpihan kenangan di musim semi yang kau buat dengan sangat indah dalam hidupku, aku takkan pernah melupakannya.

Kris… aku mencintaimu.

-END-

Ini satu dari 4 seri “4 Seasons of Love” yang baru sempet ke post, insyaallah diselesain 3 seri lagi secepatnya 🙂 masalah Kris, Luhan, Tao yang udah jadi mantan gausah dipermasalahinlah ya? toh aku masih nyimpen folder foto mereka di folder EXO :’) give your review please :*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s