[EXO Fanfiction] 4 Seasons of Love – (Angel) in Summer

4 Seasons of Love – (Angel) in Summer

unnamed 190A

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Cast : Park Chanyeol, Choi Junhee as Yeo Cheonsa

Genre : Drama, Romance, Sad, Slice of Life

Rated : PG-13

Length : Oneshoot

Disclaimer : Semua cast adalah bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya untuk kepentingan cerita. Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

 

Aku bertemu dengannya. Seseorang yang menarikku dari tepi jurang kematian. Seseorang yang memberiku cahaya dan harapan. Dia, malaikatku.

 

***

Hari itu cuaca begitu cerah, matahari begitu semangat memancarkan sinarnya. Tentu saja, hari ini adalah pertengahan musim panas. Musim di mana semua orang hanya membutuhkan pendingin ruangan, minuman dingin serta sofa yang empuk untuk sekedar menonton televisi di rumah. Sekalipun mereka keluar rumah, pasti untuk berlibur ke pantai-pantai.

Di hari yang terik itu, seorang lelaki naik ke atap gedung sebuah sekolah yang sepi. Raut wajahnya jelas menunjukkan keputusasaan. Langkah gontaynya menuntunnya menapaki lantai semen atap sekolah tersebut. Lelaki itu seolah telah kehilangan harapannya dan tak mampu lagi untuk berharap.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Lelaki itu hanya perlu melangkah sepuluh senti lagi untuk menjatuhkan dirinya dari ketinggian 150 meter dan terkapar dengan kepala bocor di bawah sana.

“AAAAAARGH!” teriaknya yang terdengar frustasi.

“Kenapa harus aku yang selalu merasakan penderitaan?! Kenapa bukan orang lain?! Kenapa harus aku, aku, dan aku yang Tuhan berikan cobaan bertubi-tubi?! Kenapa takdir tidak pernah memihak kepadaku?! Kenapa?!”

Tawa kecil yang berasal dari belakangnya membuat lelaki itu spontan memutar tubuhnya. Seorang gadis manis berkupluk coklat dan mengenakan sweater rajut selutut berwarna senada terlihat bersandar di pintu sambil menertawakannya.

“Dasar namja bodoh!”

Tawa itu terhenti, mata coklat gadis itu lalu menatap tajam mata lelaki yang masih berdiri jauh di depannya.

“Kau pikir, dengan kau menjatuhkan dirimu ke bawah sana, kau tidak akan merasakan penderitaan lagi? kau pikir, Tuhan akan lebih menyayangimu jika kau mati lebih cepat? Apa kau pikir, kematian akan lebih memihak dirimu?”

Lelaki itu terdiam, lebih seperti berusaha untuk tutup telinga akan ucapan gadis yang sama sekali tak dikenalnya itu.

“Tidak,”

“Kematian tidak seindah itu. Tuhan juga tidak akan merengkuhmu bila kau bersikeras menginginkan kematian dan mengabaikan kehidupanmu. Kau bahkan akan lebih menderita daripada hidupmu yang sekarang.”

Teriknya matahari saat itu membuat keringat mengucur membasahi pelipis lelaki itu yang uratnya semakin menegang. Tangan lelaki itu mengepal, kesal dengan sikap sok tahu gadis aneh itu.

“Kau! Memangnya siapa kau?! Kenapa kau berkata seolah-olah kau pernah mati?!”

Kini giliran gadis itu yang terdiam, matanya berubah sendu sesaat setelah mendengar lelaki itu bertanya apakah dirinya pernah mati.

Lelaki itu tersenyum kecut,

“Kau bahkan tak bisa menjawab pertanyaanku.”

“Urus saja dirimu sendiri! Kau tidak perlu repot-repot mencampuri urusan orang lain, gadis sok tahu!” ucap lelaki itu.

Gadis berkupluk coklat itu menegakkan tubuhnya,

Geurae, kalau itu memang maumu.” Gadis itu lalu mengambil langkah pasti mendekati lelaki itu. “Tapi, apa kau tidak takut neraka?”

“Neraka? Aku tidak pernah percaya itu. Tempat seperti itu hanya ada dalam dongeng anak-anak.”

Gadis itu mengangguk, tangannya lalu merogoh dan mengeluarkan sebuah pemantik dari tas selempangnya.

“Apa yang kau lakukan?! Kau sudah gila, huh?!” tangan kanan lelaki itu spontan menjauh dari api kecil yang disodorkan oleh gadis itu. gadis itu tersenyum menang.

“Bagaimana bisa kau menjatuhkan dirimu ke bawah sana kalau kau saja masih takut dengan api sekecil ini? padahal, pemantikku tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan api neraka yang tidak kau percayai itu.”

Lelaki itu terdiam, merenungi kata-kata yang baru saja diucapkan gadis aneh di depannya.

“Tapi yaaa, sudahlah. Lagipula itu juga bukan urusanku, kan?” lanjut gadis itu. “Aku akan pulang sekarang, siapa tahu, berita seorang lelaki yang bunuh diri melompat dari atap gedung sebuah sekolah akan ditayangkan di channel televisiku. Ah! Aku sudah tidak sabar!” gadis itu pun dengan santainya melenggang meninggalkan lelaki yang belum beranjak satu sentipun dari tempatnya sedaritadi.

Benar juga. Lelaki itu akhirnya tersadar, dan menyadari kalau gadis aneh tadi telah menghilang dari pandangannya. Lelaki itu berlari, bermaksud ingin mengejar gadis itu. Daripada mengejar, ia lebih ingin mengenal gadis itu secara diam-diam. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengikuti setiap langkah ke manapun gadis itu pergi.

Langkah lelaki itu terhenti seiring berhentinya langkah gadis itu di sebuah taman bermain. Anak-anak kecil yang sedang bermain dengan riang di taman itu semakin bertambah riang setelah melihat kedatangan gadis aneh itu. Tanpa lelaki itu sadari, sebuah senyuman terukir di bibirnya saat melihat gadis itu akhirnya ikut bermain dengan riang bersama anak-anak kecil yang ada di sana.

“Cheonsa Eonni! Oppa ini pacar Cheonsa Eonni, matji?!” anak laki-laki berumur 10 tahun tiba-tiba saja berada di samping lelaki itu dan berteriak cukup keras, membuat gadis itu serta anak-anak yang berada di dekatnya  menyadari keberadaan lelaki itu.

Gadis aneh itu, Cheonsa namanya.

Annyeong!” sapa lelaki itu seraya tersenyum canggung dan melambaikan tangannya.

Cheonsa memberi isyarat pada anak laki-laki di samping lelaki itu untuk menghampirinya, setelah membisikkan sesuatu, anak laki-laki itu pun kembali bermain bersama anak-anak lainnya. Sementara Cheonsa, si gadis yang berpakaian musim dingin di musim panas seperti ini berjalan menghampiri lelaki itu.

“Kau tidak jadi bunuh diri? Aku kira kau sudah mati konyol.”

Kata sapaan seperti apa itu? lelaki itu menghela nafasnya kasar.

“Perkenalkan! Namaku Chanyeol, Park Chanyeol.” Lelaki itu memperkenalkan dirinya tanpa disuruh.

“Namaku Cheonsa, Yeo Cheonsa.”

“Ya, aku sudah tahu. Aku merasa seperti sedang berkenalan dengan seorang malaikat ―cheonsa=angel― sekarang.”

Gadis itu tersenyum,

“Kau pandai sekali menggoda seperti lelaki sejati, tapi sepertinya predikat ‘lelaki sejati’ tidak cocok dengan dirimu.”

“Kenapa kau berkata seperti itu?” Chanyeol mengerutkan keningnya. “Aku lelaki sejati!”

“Lelaki sejati seharusnya pemberani, gagah, dan pejuang keras. Tapi kau? Kau pengecut, sekali Tuhan memberikan cobaan berat, kau langsung ingin mati. Kau mudah putus asa dan mudah menyerah akan keadaan.”

Chanyeol tertegun, lagi-lagi Cheonsa membuatnya tersadar kalau dirinya hanyalah seorang pengecut, tidak seperti seorang lelaki sejati.

“Ya, ya, ya. Terserah kau saja, gadis aneh!”

Mata gadis itu memicing. ‘Gadis aneh’?

“Kenapa kau menyebutku seperti itu?!” Cheonsa berkacak pinggang, tak terima disebut gadis aneh.

Chanyeol siap bersitegang, “Kalau bukan gadis aneh, lalu apa? Lagipula kenapa kau memakai pakaian musim dingin di saat udara sedang panas-panasnya seperti ini?”

Kenapa kau memakai pakaian musim dingin di saat udara sedang panas-panasnya seperti ini? mungkin Chanyeol benar, Cheonsa mungkin memang terlihat seperti gadis yang aneh. Dan pertanyaan itu, membuat gadis berparas cantik itu terdiam.

Menyadari pertanyaannya yang mungkin terlalu bersifat privasi, Chanyeol pun berusaha mengalihkan pembicaraan. Lelaki itu lalu tersenyum pahit,

“Hidupku hancur setelah kedua orang tuaku bercerai, ibuku menikah lagi dan ayahku menjadi seorang pemabuk. Nilai-nilai sekolahku mulai menurun drastis, ayahku juga lama kelamaan menjadi tak mampu membiayai uang sekolahku. Aku diskors. Entah sudah yang keberapa kali aku mencoba untuk bunuh diri, namun usaha itu selalu gagal untuk kulakukan.” Lelaki itu menerawang, mengingat masa-masa terberat dalam hidupnya.

“Itu berarti, Tuhan masih menyayangimu.” Ucap Cheonsa. Semburat senyum kembali hadir di bibirnya. “Kau sangat beruntung, aku sampai iri mendengar ceritamu.” Lanjutnya.

“Kenapa begitu?”

Cheonsa diam, tak menjawab. Reaksinya sama seperti ketika Chanyeol bertanya tentang alasannya memakai pakaian musim dingin di musim panas. Lagi-lagi Chanyeol merasa tidak enak karena selalu membuat gadis itu terdiam.

“Kau haus? Aku haus. Mau menemaniku ke kedai?”

Cheonsa pun menjawab pertanyaan Satria dengan anggukan yang semangat.

 

***

 

Chanyeol dan Cheonsa mampir ke sebuah kedai kecil. Sesaat setelah menginjakkan kaki mereka ke dalam kedai, Cheonsa pamit pada Chanyeol untuk ke toilet.

Kedua mata Chanyeol terpaku pada layar cembung sebuah televisi tabung 21 inchi yang ada di sudut kiri kedai tersebut. Televisi tabung itu terlihat tengah menayangkan sebuah berita tentang menghilangnya seorang pasien bernama Yeo Cheonsa dari sebuah rumah sakit terkenal. Selain itu, disebutkan pula bahwa sang pasien yang baru berumur 16 tahun itu menderita penyakit kanker hati yang sudah parah.

Alasan gadis aneh itu memakai pakaian musim dingin di musim panas, apakah karena ia sedang sakit?

Chanyeol menelan ludahnya,

“Namaku Cheonsa, Yeo Cheonsa.” pasien dalam berita itu… Cheonsa.

Sementara itu di toilet, Cheonsa terlihat kesulitan mengatasi mimisannya. Cheonsa tidak mau kalau sampai Chanyeol tahu kalau dirinya sakit. Cheonsa tidak mau itu semua terjadi.

“Cheonsa-ya! Yeo Cheonsa! Apa kau sudah selesai?” Chanyeol mengetuk satu-persatu pintu toilet, khawatir.

Cheonsa keluar dengan senyuman, dan bekas usapan darah yang masih tersisa di sekitar hidungnya.

Waeyo? Kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau kau sedang sakit dan kabur dari rumah sakit?”

“Apa maksudmu?”

“Kau harus kembali ke rumah sakit, Yeo Cheonsa!” bentak Chanyeol.

Cheonsa menggeleng,

Ani, aku tidak mau orang-orang menganggapku lemah. Aku masih kuat, Chanyeol-ah! Aku masih bisa menjalani kehidupanku sendiri. Aku tidak ingin terlihat seperti orang sakit. Aku ingin menjalani hidup seperti gadis normal lainnya. Aku tidak mau terus terperangkap dalam ruangan menyeramkan itu!” tangis Cheonsa pecah.

Chanyeol menarik Cheonsa ke dalam pelukannya, memberinya ketenangan dan ruang untuk mengeluarkan seluruh rasa yang selama ini terpendam dalam hatinya. Setelah mendapatkan ketenangan dari pelukan Chanyeol, akhirnya Chanyeol berhasil membujuk gadis itu untuk kembali ke rumah sakitnya.

Sampainya mereka di rumah sakit membuat Chanyeol mengenal Cheonsa lebih jauh. Ternyata Cheonsa merupakan putri tunggal pemilik rumah sakit tersebut yang sejak kecil sudah divonis menderita kanker hati. Keadaan itu memaksanya untuk tetap tinggal di rumah sakit hingga detik ini. Seluruh pasien di rumah sakit itu sudah sangat akrab dengan putri semata wayang keluarga Yeo itu. Dan seperti biasa, senyum bak malaikat tak pernah luput menghiasi wajah cantiknya.

Chanyeol mengambil sebuah kalendar di laci di samping ranjang Cheonsa yang baru saja disimpan gadis itu.

“Apa kau mencoret setiap tanggal di kalender yang sudah kau lalui setiap harinya?” tanya Chanyeol pada Cheonsa yang sedang bersandar pada bantal di atas ranjangnya.

“Waktuku tidak banyak, Chanyeol-ah. Saat aku mencoret tanggal di kalender itu, aku benar-benar bersyukur, ternyata aku masih bisa melewati hari itu.”

“Sungguh, aku tidak mau mati, Chanyeol-ah. Aku ingin tetap hidup. Aku ingin menikah, punya banyak anak, dan hidup bahagia hingga tua bersama orang yang kucintai. Aku ingin merasakan semua itu.” airmata Cheonsa berlinang tanpa paksaan.

Chanyeol menatapnya, entah itu tatapan kasihan atau sayang, yang jelas saat ini tangan lelaki itu bergerak menghapus airmata Cheonsa.

“Kau pasti bisa sembuh, Cheonsa-ya. Kau pasti bisa menikah, punya banyak anak, dan bahagia sampai tua bersama orang yang kau cintai. Dan aku, bersedia untuk menjadi orang yang kau cintai itu.” ucap Chanyeol penuh ketulusan.

“Tapi kalau kau tak bisa, aku akan ikut mati bersamamu.”

“Jangan bodoh, Chanyeol-ah! Jangan bertindak bodoh untuk kesekian kalinya lagi! kau harus bisa melanjutkan hidupmu apapun yang terjadi. Kalau aku tidak bisa, kaulah yang harus hidup selama Tuhan masih memberimu waktu untuk bernafas. Kau harus menikah, punya banyak anak, dan menikmati masa tuamu bersama orang-orang yang kau cintai.”

“Jangan pernah menyia-nyiakan hidupmu yang berharga itu, karena tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berumur panjang. Hanya orang-orang tertentu yang Tuhan pilih, dan aku, tidak termasuk dalam orang-orang itu.”

“Cheonsa agassi, waktunya untuk dikemoterapi.” Seorang Perawat dengan ramah mengingatkan Cheonsa kalau sekarang adalah jadwalnya untuk kemoterapi.

Chanyeol membantu Cheonsa untuk beranjak dari ranjangnya. Tatapan sayu gadis itu pun bertemu dengan tatapan Chanyeol.

“Kemoterapi mungkin tidak akan mampu menyembuhkan penyakitku, tapi kata mereka, aku bisa bertahan sedikit lebih lama bila aku mau menjalaninya.”

“Kau mungkin tidak akan tahu kalau rasanya benar-benar sakit. rasa sakitnya bahkan sampai membuat rambut di kepalamu rontok, berjatuhan helai demi helai. Dan aku harap, kau tidak akan pernah tahu dan tidak akan pernah merasakan sakitnya kemoterapi.”

 

***

 

Hari itu adalah hari terakhir di musim panas. Chanyeol berjalan di koridor rumah sakit sambil membawa sebuket bunga mawar merah. Ia berniat memberikan buket bunga tersebut untuk gadis teristimewa di hatinya, ya, Cheonsa. Namun, ketika beberapa langkah lagi saja untuk dirinya sampai di ruang rawat Cheonsa, langkahnya terhenti. Beberapa dokter dan suster terlihat tergesa-gesa masuk ke ruangan gadis yang ia cintai itu.

Andwae!” Tidak! Chanyeol mengutuk firasat buruk yang dirasakannya. Jangan! Jangan, Cheonsa!

Buket bunga yang dibawa lelaki itu terjatuh begitu saja. Ia berlari memasuki ruang rawat Cheonsa, di sana, orang tua Cheonsa terlihat menangis dengan Cheonsa yang dikerubungi oleh beberapa dokter yang memeriksanya. Kondisi Cheonsa memburuk, itulah keadaan yang jelas terlihat di mata Chanyeol.

“Chan…yeol-ah…” suara lirih itu memanggilnya. Orang tua Cheonsa tanpa ragu mempersilakan Chanyeol untuk menghampiri putri mereka yang menurut dokter tak ada lagi harapan untuk bisa diselamatkan.

“Kau harus kuat, Cheonsa-ya! Kau tidak boleh kalah oleh penyakit itu!”

Jeongmal apa, Chanyeol-ah. Aku sudah tidak kuat lagi.” bibir gadis itu bergetar, sesekali ia terlihat menggigit bibir bawahnya untuk menahan sakit luar biasa yang ia rasakan.

Airmata Chanyeol menetes, dadanya benar-benar sesak saat melihat gadis yang ia sayangi kini sedang berjuang melawan maut.

“Kau egois! Saat aku memilih untuk mati, kau mencegahku. Lihatlah, aku masih hidup! Tapi kenapa setelah aku hidup, kau malah memilih untuk mati?!” emosi lelaki itu seketika tak terkontrol. Dalam hatinya, ia benar-benar tak percaya, kenapa Tuhan begitu tega membuat gadis sebaik Cheonsa tersiksa oleh penyakitnya?

“Aku tidak benar-benar ingin mati, tapi kematianlah yang benar-benar menginginkanku.” Jawab Cheonsa susah payah.

Chanyeol membenci ini. Ketika ia tak kuasa untuk menahan airmata yang terus mengalir dari pelupuk matanya, tangan lembut Cheonsa menyentuh tangannya. Senyum malaikat itu, kenapa Cheonsa bisa-bisanya tersenyum seperti itu di saat dirinya sedang berjuang melawan rasa sakit yang luar biasa?

“Tuhan berkata, dia menyayangiku, Chanyeol-ah.”

Mata malaikat itu meredup. Para dokter yang siaga langsung dengan sigap mengambil tindakan. Entah alat apa saja yang telah dipasang di tubuh gadis itu. Chanyeol gemetar, berharap gadis itu masih sanggup untuk bertahan dan berhasil melawan penyakitnya. Sungguh, ini adalah kali pertama Chanyeol memiliki seseorang yang sangat berarti di hidupnya selain orang tuanya. Dan seseorang itu adalah Cheonsa.

Keadaan Cheonsa semakin memburuk, detak jantungnya tak stabil. Dadanya turun naik seperti kesulitan menghirup oksigen. Dokter menggelengkan kepala dengan raut wajah pasrah, orang tua Cheonsa mengerti, tapi tidak dengan Chanyeol. Apa maksudnya gelengan itu?

“Kau harus merelakannya, Chanyeol-ah. Kami berdua pun akan mencoba melepasnya walau sangatlah sulit. Cheonsa sudah berjuang terlalu lama. Mungkin inilah saatnya dia harus berhenti berjuang, beristirahat dengan tenang di sisi Tuhan.” Ayah Cheonsa menatap Chanyeol dengan tatapan memohon, di sampingnya terlihat Ibu Cheonsa menangis tersedu-sedu.

Chanyeol seketika merasa tak tahu diri. Sebagai seseorang yang baru masuk dalam kehidupan Cheonsa, Chanyeol tidak seharusnya egois. Jika orang tua Cheonsa saja mampu mengikhlaskan anaknya, kenapa Chanyeol tidak bisa?

“Pergilah… pergilah malaikatku… jangan kepakkan sayapmu terlalu keras lagi, jika itu hanya membuatmu semakin menderita. Sudah waktunya untukmu bertemu dengan kebahagiaan… tersenyumlah… kehidupan yang sesungguhnya sedang menantimu. Terimakasih untuk segalanya. Untuk semua warna yang telah kau torehkan di kertas buram kehidupanku. Terimakasih, malaikatku. Aku mencintaimu.”

 

***

 

Seorang pria naik ke atap gedung sebuah sekolah sambil membawa sebuah balon udara berwarna merah di tangan kirinya. Tangannya yang lain terlihat memegang sepucuk surat berwarna merah muda. Pria itu sepertinya tidak peduli dengan matahari yang begitu terik di akhir bulan juni ini.

Pria bertubuh proporsional itu tak lain adalah Park Chanyeol, ia sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang tampan nan rupawan. Chanyeol menatap langit, bibirnya melengkung, tersenyum. Surat merah muda yang digenggamnya ia ikatkan pada tali balon udara dan ia lepaskan. Balon itu terbang ke langit, terbang mengantar surat yang Chanyeol titipkan padanya.

“Itu surat ke-10 ku, Cheonsa-ya. Semoga kau membacanya. Ketahuilah, aku sangat merindukanmu.”

 

Ini adalah musim panas ke-10 yang kulewati tanpa kehadiranmu. 10 tahun yang lalu, kau datang ke kehidupanku dan memberiku pelajaran hidup yang sangat berarti.

Annyeong! Apa kau melihatku dari atas sana? Lihatlah, aku telah melanjutkan hidupku. Aku telah bertahan selama ini seperti yang kau inginkan. Akhirnya aku menemukan kebahagiaanku, Cheonsa-ya. Aku menemukan jodohku dan memiliki 2 malaikat kecil yang akan menjadi kebanggaanku kelak.

Berkat dirimu, aku kembali hidup. Jika saja saat itu, kau tak datang menghampiriku, mungkin saat itu juga aku sudah menjatuhkan diriku dari atas gedung dan mati sia-sia tanpa menemukan kebahagiaan yang kucari-cari selama ini. Terimakasih, karena sudah mau menjadi malaikat di musim panasku. Aku takkan pernah melupakanmu bahkan sampai Tuhan benar-benar mengambil nyawaku.

Terimakasih, Yeo Cheonsa.

Dari lelaki pengecut yang sudah tidak pengecut lagi,

Park Chanyeol.

 

-END-

 

seri ke-2 yang baru bisa diselesain dari 4 seri “4 Seasons of Love” 🙂 Give your review please 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s