[EXO Fanfiction] 4 Seasons of Love – (You) in Autumn

4 Seasons of Love – (You) in Autumn

YIAAA

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Starring : Xi Luhan as Wu Luhan, Yoon Sohee, Kim Jongin as Kai

Genre : Drama, Romance, Sad

Rated : T

Length : Oneshoot

Disclaimer : Semua cast adalah bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya untuk kepentingan cerita. Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari lagu EXO – Moonlight dan EXO Music Video Drama. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

 

Kau bilang, kau sangat menyukai musim gugur, bukan? Aku tidak. Kenapa? Karena musim gugur hanya membuat kita bertemu di waktu yang salah, waktu di mana kau telah bersamanya.

 

***

Semilir angin musim gugur berhembus cukup kencang menerpa tubuh seorang lelaki yang kini tengah berdiri di depan gerbang sekolah ternama di Seoul. Niatnya yang ingin merubah diri menjadi lebih baik daripada yang sebelum-sebelumnya ia kuatkan dalam hatinya. Sekolah baru, wilayah baru, guru baru, teman baru, dan tentunya, adaptasi yang baru. Kalau dipikir-pikir, sulit memang. Tapi kalau untuk berubah menjadi lebih baik ia pikir tidak ada salahnya untuk mencoba. Lagipula, hidup kalau hanya dipikirkan tanpa dijalani tidak akan berbuah apa-apa, bukan?

Setelah melakukan pertemuan dengan wali kelas barunya, lelaki itu diajak menuju ruangan kelas yang akan menjadi tempat adaptasinya yang baru. Suasana kelas yang awalnya terdengar sangat ribut, sedetik kemudian menjadi hening dan tenang saat sang wali kelas diikuti sang murid baru menginjakkan kakinya di kelas 2-3.

“Perhatian untuk semua! Sekolah kita kedatangan seorang murid baru, dan kepala sekolah mempercayai kita untuk menerima murid baru ini dengan baik di kelas kita.” jelas sang wali kelas.

“Sekarang, coba kau perkenalkan dirimu!”

Lelaki itu mengedarkan pandangannya, mencoba melihat wajah-wajah siswa korea selatan yang akan menjadi teman barunya. Pandangannya terhenti di satu titik, di mana seorang gadis berambut hitam panjang duduk sendirian di bangku barisan kedua dan kedua dari belakang. Gadis itu… ya, dialah orangnya.

Annyeonghaseyo, Wu Luhan imnida.” Luhan, ya, lelaki itu memperkenalkan dirinya dengan canggung.

“Hanya itu?” tanya wali kelas. Siswa lain pun menertawakannya, kecuali, gadis itu.

“Dia siswa pindahan dari China, tapi walaupun ia asli orang china ia sudah fasih berbahasa korea. Kalian semua, tolong terima dia dengan baik dan jangan sampai aku mendengar keluhan apapun darinya tentang kalian. Kalian mengerti?”

Ne!” ucap seluruh siswa kompak.

Wali kelas mempersilakan siswa baru itu duduk di tempat duduk yang masih kosong, sedangkan tempat duduk yang masih kosong hanyalah tempat duduk di sebelah gadis itu. Tunggu, inikah yang dinamakan takdir? Semburat senyum tiba-tiba menghiasi wajah Luhan. Pikiran apa ini?

Luhan duduk di samping gadis itu yang terus menatapnya serius tanpa tersenyum, itu membuat Luhan menjadi semakin kikuk.

“Kita, pernah bertemu sebelumnya, bukan?” tanya gadis itu kemudian.

“Ye?”

“Aku rasa kita pernah bertemu, tapi, aku lupa kapan dan di mana kita bertemu.”

Luhan tersenyum,

“Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”

Gadis di sampingnya lantas mengangguk cepat, membenarkan dengan raut wajah yang masih ragu.

“Ya, mungkin kau benar. Itu hanya perasaanku saja. Tidak mungkin juga lelaki itu adalah dirimu.”

“Namaku, Sohee, Yoon Sohee.”

 

***

 

Suasana kantin sangat ramai saat itu, Kai, ketua geng terkenal di sekolah itu yang kebetulan sekelas dengan Luhan mengajak Luhan untuk bergabung makan siang dengannya dan juga gengnya tentunya. Kai memperlakukan Luhan dengan baik seperti pada teman-temannya yang lain yang sudah akrab dengannya.

“Apa yang membuatmu bisa berbahasa korea dengan fasih, Luhan-ah? Apa selama kau bersekolah di China, kau mempelajari juga bahasa korea eoh?” tanya Kai sambil mengunyah permen karet di dalam mulutnya.

“Kakakku sering mengajakku ke Korea dalam waktu yang cukup lama sejak kecil, jadi mau tak mau aku harus mempelajarinya.”

“Ini dia makanannya sudah datang!” Chen datang bersama Sehun dan Dio dengan membawa beberapa pesanan di tangan mereka.

“Suho-ya, kau sedang mengerjakan apa?” tanya Luhan, belum sempat lelaki yang ditanyanya itu menjawab, Kai lebih dulu memerintahkan Suho untuk menyingkirkan sebentar ‘pekerjaannya’ untuk memakan sedikit makanan.

“Selamat makan!” ucap Xiumin, Baekhyun, dan Chanyeol dengan semangat.

Di saat mereka sedang asyik-asyiknya memakan pesanan mereka dengan lahap, Tao dan Lay datang bersama seorang gadis yang mereka gandeng. Gadis itu, Yoon Sohee.

“Lihat! kita kedatangan siapa?” tanya Lay.

“Dia langsung menghampiri kami setelah kami keluar dari toilet dan menanyakan keberadaanmu, Kai-ya. Sepertinya semenit saja kalian berpisah, dia sudah langsung merindukanmu, haha.” Ucap Tao.

“Kemarilah, Sayang.” Kai tersenyum pada Sohee dan mengecup bibir gadis itu sekilas di hadapan gengnya, dan tentunya, di hadapan Luhan juga.

Aigoo, kalian bisa-bisanya bermesraan di depan kami, dan selalu di depan kami. Kenapa tidak sekali-kali di belakang kami agar kami tidak terlalu iri?” ucap Baekhyun yang masih menjomblo hingga saat ini, iri.

Sohee tertawa, “Kalau di belakang kalian, lebih sering lagi.”

“Ahhooooo! Arasseoyo! Arasseo!” seru yang lainnya, kecuali Luhan yang masih terdiam dan memandangi Sohee yang begitu cantik saat tersenyum, namun senyumannya kali ini terasa menyesakkan dada Luhan.

“Aku ke toilet dulu.”

“Eoh? Kau tahu letak toiletnya?” tanya Kai pada Luhan yang beranjak dari tempat duduknya.

“Aku bisa mencarinya.” Jawab Luhan.

“Ah, tidak-tidak! Itu akan membuang banyak waktu, Luhan-ah.” Kai melirik Chanyeol, “Yeol-ah, antar dia ke toilet!”

Chanyeol tersedak.

Wae? kenapa harus aku? aku kan sedang makan!” tolak Chanyeol secara tidak langsung.

“Antar dia, atau kau bayar sendiri makanan itu!” ancam Kai.

Chanyeol memutar bola matanya malas, “Arasseo! Arasseo!”

Kajja, Luhan-ah!”

 

***

 

“Chanyeol-ah…”

Ne?” Chanyeol menyahut panggilan Luhan sambil terus fokus pada layar ponsel pintarnya.

“Sohee dan Kai, mereka sepasang kekasih?”

“Tentu saja! kau bisa melihatnya sendiri, bagaimana mereka menunjukkan kemesraan mereka di depan umum. Jawabannya tentu saja mereka pacaran. Wae? Kau jatuh cinta pada Sohee eoh?”

Luhan tiba-tiba saja batuk-batuk, dan siswa tinggi itu dapat dengan mudah mengartikan reaksi Luhan.

“Jangan coba-coba mencintai Sohee, Luhan-ah. Kai bukan tandinganmu. Meski aku termasuk orang yang tidak suka dengan hubungan mereka, aku tetap tidak akan mendukungmu mencintai Sohee.” Ucap Chanyeol blak-blakan.

Siswa tinggi itu memiringkan senyumannya, “Ngomong-ngomong, punyamu besar juga.”

“Yak, kau ini benar-benar!” Luhan buru-buru menyeletingkan celana seragamnya.

 

***

 

“Jangan coba-coba mencintai Sohee, Luhan-ah. Kai bukan tandinganmu. Meski aku termasuk orang yang tidak suka dengan hubungan mereka, aku tetap tidak akan mendukungmu mencintai Sohee.”

Entah kenapa, ucapan Chanyeol saat di toilet sekolah siang tadi terus terngiang di telinga Luhan dan sangat mengganggunya. Semakin Luhan mengingat ucapan Chanyeol, semakin besar pula rasa ingin memiliki Luhan pada Sohee.

Sore di musim gugur ini, Luhan menapaki jalan pulangnya sendirian. Sementara ponsel pintarnya yang terus bergetar dan menampilkan nama kontak ‘Kris Gege’ sejak tadi ia acuhkan. Kadang, ia memang malas untuk meladeni ocehan kakaknya yang ia anggap selalu berlebihan dalam mengkhawatirkannya. Oh, ayolah! Ia sudah bukan anak kecil lagi.

Langkah Luhan tiba-tiba saja terhenti.

“Sudah lama tidak bertemu, Wu Luhan.” Seorang lelaki seumuran Luhan dengan bahasa mandarinnya yang fasih menyapa dengan senyuman. Beberapa anggota gengnya terlihat beringas meski sebagian wajah mereka tertutup masker hitam.

“Aku tidak sedang bersama Kris, jadi jangan ganggu aku.” balas Luhan, juga dengan bahasa mandarin.

Lelaki itu menggeleng, “Aku tidak mencari Kris, aku mencarimu, Luhan.”

“Jika aku tidak dapat membunuh kakakmu, mungkin aku bisa membalas perbuatan keji kakakmu yang telah membunuh kakakku 8 tahun yang lalu itu dengan… membunuhmu.”

Sret! Luhan berhasil menghindar dari tusukan pisau lelaki itu. perkelahian antara Luhan dan lelaki china itu akhirnya tak dapat dihindarkan. 1 berbanding 20, ini lebih pantas disebut pengeroyokan. Sehebat apapun kakaknya mengajarkannya bela diri, Luhan tetap merasa kewalahan dengan 20 lelaki yang sama hebat dengan dirinya.

Bles! Perut Luhan berhasil tertusuk benda tajam itu. untunglah, sesaat setelah itu, kakaknya, Kris datang dan membawa lari adiknya dari adik musuh bebuyutannya itu dengan mobil sportnya.

“Bukankah sudah kukatakan untuk jangan pernah mengabaikan teleponku?”

Kris mengobati luka tusuk di perut adiknya itu dengan telaten. Luhan tahu, Kris marah, namun lelaki yang lebih tua 5 tahun darinya itu tak pernah menunjukkan amarahnya dengan membentaknya dengan kata-kata kasar.

“Maafkan aku, Gege.” Perih, Luhan terus menggigiti bibirnya untuk menahan rasa perih lukanya yang sedang diobati.

“Tidak, aku yang minta maaf. Kalau saja kau tidak terlahir sebagai adik dari berandalan sepertiku, kau tidak akan pernah berurusan dengan geng bocah ingusan yang menaruh dendam padaku itu.”

Luhan menatap kakaknya yang masih serius mengobati lukanya. “Jangan pernah berkata seperti itu lagi, Gege. Aku bersyukur Tuhan menjadikanku sebagai adikmu. Tidak pernah ada penyesalan sama sekali dalam hidupku karena telah menjadi bagian dari hidupmu.”

Hening sesaat.

“Aku mencintai seorang gadis, Gege.”

“Kalau begitu, teruslah mencintainya.” Ucap sang kakak tanpa menatap Luhan sedikitpun. Dirinya sedang fokus membalut luka sang adik yang sudah selesai ia obati.

“Tapi dia sudah menjadi milik orang lain.” Lanjut Luhan dengan tatapan sendu.

“Cari gadis lain.”

“Aku tidak bisa.” Tolak Luhan cepat atas saran sang kakak yang menyuruhnya untuk mencari gadis lain. Tidak, ia tidak bisa mencari gadis lain. Dalam hatinya telah terukir nama Yoon Sohee yang tak mungkin bisa ia berikan pada gadis lain lagi. Hanya Sohee, dan akan selalu Sohee.

“Kalau begitu, tetaplah mencintainya dan teruslah rasakan kesakitan itu.”

 

***

 

“Sohee?”

Seorang gadis yang tengah asyik memotret pemandangan musim gugur di sebuah taman di sudut kota itu berpaling setelah mendengar namanya dipanggil.

“Luhan-ah, sedang apa kau di sini?”

“Aku hanya berjalan-jalan saja dan melihatmu asyik mengambil foto, kau suka dunia fotografi eoh?”

Gadis itu menggeleng, “Aku hanya menyukai musim gugur. Jadi, setiap musim gugur datang, aku selalu menyempatkan diri untuk menyimpan setiap keindahannya dalam kameraku.”

“Ah,” Luhan mengangguk, mengerti.

“Apa kau keberatan jika aku bergabung?”

Anio, tentu saja aku tidak keberatan. Setidaknya kau membuatku tak merasa kesepian.” Ucap Sohee.

Kedua insan itu hanyut dalam kehangatan percakapan ringan, terkadang mereka terlihat tertawa bahagia dengan sedikit candaan yang sebenarnya tidak begitu lucu dari seseorang bernama Luhan yang selama ini hidup di dunia kelam dan penuh pertumpahan darah.

Setelah berlelah-lelah memotret pemandangan dan memotret diri mereka sendiri, mereka berdua duduk di sebuah kursi taman. Mereka tertawa, melihat foto-foto konyol kebersamaan mereka yang mereka ambil beberapa saat yang lalu.

“Hidungmu…. kenapa lubang hidungmu jadi terlihat besar sekali?” tanya Sohee sembari menahan tawanya saat melihat foto dirinya dan Luhan dengan Luhan yang berpose membesarkan kedua lubang hidungnya.

“Wajahmu….” Luhan balik menertawakan Sohee.

“Wajahku kenapa?”

“Kenapa wajahmu masih saja terlihat begitu cantik dengan pose apapun?” lelaki itu menatap Sohee, begitupun dengan gadis itu yang langsung terdiam. Daun-daun berguguran tertiup angin, mengisi keheningan mereka untuk sesaat.

“Kenapa kau tidak mengajak Kai untuk menemanimu?” tanya Luhan mengalihkan pembicaraan.

Sohee menggeleng, lalu tersenyum. “Kai tidak suka menemaniku melakukan hal yang menurutnya tidak penting untuk kulakukan, salah satunya mengambil foto saat musim gugur seperti sekarang ini. seberapa keras pun aku merayunya, dia tidak akan luluh. Kai seorang yang perfeksionis dan tidak mau membuang waktunya dengan percuma. Maklum saja, dia yang akan menjadi penerus satu-satunya harta kekayaan ayahnya yang seorang pengusaha sukses.” Jelas Sohee.

“Kau bilang, kau sangat menyukai musim gugur, bukan?” tanya Luhan. Sohee jelas menjawabnya dengan anggukan.

“Aku tidak.”

Waeyo?”

“Karena musim gugur hanya membuat kita bertemu di waktu yang salah, waktu di mana kau telah bersamanya.” Ucap Luhan mengungkap alasannya yang baru saja tidak menyukai musim gugur. Sohee lagi-lagi membisu.

“Aku menyukaimu, Yoon Sohee. Sejak awal.”

Sohee terkejut, tak percaya kalau Luhan membuat pengakuan seperti itu padanya.

“Jangan membenci musim gugur hanya karena dirinya mempertemukan kita di waktu yang salah. Kau cukup membenciku, yang tak bisa membalas pengakuanmu dengan jawaban yang kau harapkan. Karena kau sudah cukup tahu alasanku…”

Luhan, lelaki itu tersenyum pahit mendengar penolakan Sohee atas perasaannya.

“Aku mencintai Kai, Luhan-ah. Aku mencintainya sama seperti aku mencintai musim gugur, yang takkan kulewati sedikitpun keindahannya dari waktu ke waktu. Kai, dia musim gugurku, dan aku mencintainya.”

Cukup! Ini terlalu menyakitkan! Lelaki itu memukul-mukul dadanya yang kian terasa sesak.

“Aku menyukaimu, tapi rasa itu tak bisa sedikitpun mengalahkan rasa cintaku pada Kai. Jadi, jika kau ingin membenci, bencilah aku, jangan musim gugurku. Salahkan saja aku yang dengan tidak tahu dirinya masuk ke dalam hatimu. Aku patut disalahkan untuk itu.”

 

***

 

“Gawat! Gawat! Ini gawat!” Sehun berlari masuk ke kelas dengan tergesa-gesa. Geng Kai yang saat itu sedang asyik berkumpul dibuat penasaran dengan berita gawat apa yang diketahui Sehun. apakah nilai mereka semuanya jeblok? Apa mereka semua tersangkut masalah dan diharuskan mendatangkan orang tua mereka ke sekolah? Oh tidak! Jangan lagi!

“Aku tidak mengerti bahasa mandarin, tapi yang jelas, aku tahu di luar sana…” Sehun menunjuk ke arah luar kelas mereka. “Sekelompok orang datang membawa tongkat baseball dan mencari Luhan!”

Luhan terdiam, lebih terlihat berpikir keras.

“Apa kau mempunyai masalah dengan orang-orang yang dimaksud Sehun, Luhan-ah?” tanya Kai. Luhan tak menjawab, dan Kai menganggapnya sebagai jawaban ‘iya’.

“Tidak ada pilihan lain, kita harus menghadapi mereka dan membuat mereka bertekuk lutut pada Luhan!” Kai beranjak, namun Luhan menahannya.

Andwae, Kai-ya! Tolong jangan ikut campur, kalian bisa dalam bahaya.”

“Ikut campur? Sejak kau bergabung bersama kami, tidak ada batasan urusan antara kita. Urusanmu, urusan kita semua.” Jelas Kai menekankan.

“Apa kau pikir kami tidak pernah berkelahi? Urusan seperti itu, kami selalu menang! Jangan remehkan kemampuan kami!” ucap Tao.

Kai tersenyum, “Kau dengar itu?”

Mereka akhirnya datang menemui musuh-musuh Luhan dari China dan menyanggupi tantangan berkelahi di sebuah gedung markas musuh-musuh Luhan selama berada di Korea. Geng Kai vs Geng musuh Luhan. Sudah profesional dalam hal berkelahi sama sekali tak menyulitkan mereka untuk membabak belurkan musuh-musuh Luhan. Meski jumlah mereka hanya bersebelas, mereka berhasil menghajar habis-habisan musuh Luhan yang jumlahnya 20 orang itu.

Suho, Dio, dan Chanyeol yang tidak terlalu pandai berkelahi mendapat banyak memar di tubuh mereka. Sedang Kai dan Xiumin mengeluarkan darah dari hidung mereka karena mendapat pukulan yang cukup keras. Luhan memegangi luka jahitan diperutnya yang sepertinya kembali terbuka dan basah oleh darah, wajahnya mulai memucat.

“Wu Luhan! Aku akan kembali! Dan aku pastikan kau menderita!” ucap lelaki china itu sebelum akhirnya pergi bersama anggota gengnya.

“Kai-ya, kau tidak apa-apa?” tanya Baekhyun yang melihat mimisan Kai tak kunjung berhenti.

“Mimisanmu parah sekali, kita harus ke rumah sakit!” saran Chen.

“Ayo kita ke rumah sakit sekarang!” seru Lay. Mereka, anggota geng Kai lantas pergi ke rumah sakit karena mengkhawatirkan keadaan ketua geng mereka tanpa menyadari jika satu di antara mereka tertinggal tanpa ada yang peduli. Luhan, ia berjalan tertatih memegangi bekas luka tusukan di perutnya yang kembali terbuka. Darah membasahi seragam sekitar perutnya.

Gege…” lirih Luhan ketika sambungan teleponnya dengan sang kakak terhubung.

“Aku membutuhkanmu.”

 

***

 

Sohee menunjukkan raut khawatirnya saat melihat Kai benar-benar berada di ruang rawat sebuah rumah sakit. ke-9 lelaki yang saat itu tengah mengerubungi Kai pun menyingkir setelah menyadari kehadiran gadis itu dan meninggalkan sepasang kekasih itu berduaan.

Pabbo…” Sohee memukul pelan bahu Kai.

Kai malah tertawa melihat raut kekasihnya yang ia pikir menggelikan, “Wae?”

“Tak tahukah kau kalau aku begitu mengkhawatirkanmu? Aku kan sudah bilang, jangan berkelahi lagi. Lihat hidungmu sekarang, bengkak dan memar. Kau jadi tidak tampan lagi.”

“Lalu? Jika aku sudah tidak tampan, kau akan berhenti mencintaiku?” goda Kai.

Gadis itu menatap mata Kai yang menatapnya, ia tersenyum. “Itu tidak akan pernah terjadi.”

“Kai-ya, dokter bilang kau sudah boleh pulang. Kau akan pulang sekarang?” kepala Suho muncul di antara pintu yang terbuka.

“Tentu saja!”

Sohee membantu Kai beranjak dari ranjangnya, gadis itu lalu mengelus lembut luka memar di hidung Kai.

“Tadinya aku ingin mengajakmu makan malam di rumahku, tapi melihat keadaanmu yang seperti ini, lebih baik lain kali saja.”

“Rupanya kau sudah dewasa, gadis kecil!” lelaki tinggi itu mengacak-acak rambut kekasihnya.

Mereka keluar dari rumah sakit bersama ke-9 anggota geng Kai. Kai melambaikan tangannya pada sang kekasih karena jalan pulang mereka yang berbeda arah. Sohee berjalan sendirian ke arah kiri rumah sakit, sepasang matanya seketika tertuju pada sosok seorang lelaki yang tengah bersandar di tiang lampu jalanan dengan kepala tertunduk.

“Luhan-ah?”

Lelaki yang merasa namanya terpanggil itu terperanjat.

“Kenapa kau ada di sini? Kau tidak menjenguk Kai?” tanya gadis itu.

Luhan tersenyum, “Aku hanya terlambat. saat aku datang, dia malah sudah boleh pulang.”

“Aaakh!” Luhan menyentuh perutnya, tangannya terlihat gemetar.

“Kau baik-baik saja?” Sohee memegang kedua bahu Luhan, khawatir akan kesehatan lelaki itu.

Luhan menepis pelan tangan Sohee yang menyentuhnya, “Aku baik-baik saja.”

Lelaki itu lalu berjalan meninggalkan Sohee dengan langkah tertatih, entah kenapa luka di perutnya terus terasa perih. Entah obat apa saja yang sudah diminum Luhan untuk mengurangi rasa sakit itu, tapi sepertinya semuanya percuma saja.

Sohee mengikuti ke manapun langkah tertatih lelaki itu pergi, hingga ia sampai di sebuah pekarangan rumah di mana Luhan memberhentikan langkahnya.

BRUK!

“Luhan-ah!”

Pintu rumah itu terbuka, Kris yang mendapati sang adik jatuh pingsan lantas membopongnya masuk dan membaringkannya di tempat tidur.

“Bisa kau ambilkan air hangat dan sapu tangan untukku?” tanya Kris pada gadis yang baru ia temui untuk pertama kalinya itu, Sohee.

Sohee mengangguk, ia menyiapkan air hangat dan sapu tangan seperti yang diperintahkan Kris. Gadis itu melihat sendiri betapa telatennya Kris merawat Luhan yang pingsan seorang diri tanpa memanggil dokter atau ahli medis lainnya.

“Luka tusuknya semakin parah.”

Dahi gadis itu mengkerut, luka tusuk?

“Kau… pasti gadis yang dicintai oleh adikku, benarkan?” tanya lelaki itu tiba-tiba, Sohee hanya menundukkan kepalanya.

“Apa kau sangat mencintai kekasihmu hingga menolak cinta adikku?”

Lagi-lagi Sohee hanya mampu untuk diam, tak membuka mulutnya. Kris tersenyum mengerti.

“Kau gadis yang baik, pilihanmu sudah sangat tepat. Teruslah mencintai kekasihmu dan jangan pernah memberi harapan kosong untuk Luhan. Jika kenyataannya memang menyakitkan, jangan buat rasa sakit itu berubah menjadi rasa bahagia yang penuh dengan kepura-puraan.”

Gege…” Luhan siuman dan mendapati Sohee berdiri di samping kakaknya.

“Sepertinya aku harus meninggalkan kalian berdua. Aku akan pergi ke supermarket.” Lelaki itu meninggalkan sang adik bersama gadis yang adiknya itu cintai, bukan tanpa alasan. Setidaknya, Luhan harus merasa bahagia.

Luhan membenarkan posisinya, bersandar pada bantal di atas tempat tidurnya.

“Kau mengikutiku hingga ke tempat ini?”

Sohee mengangguk dengan sebuah senyuman yang sedikit dipaksakan.

“Terimakasih sudah mengkhawatirkanku.” Lelaki itu menatap Sohee, melihat gadis itu kini berada di sisinya sungguh sesuatu yang tak bisa lelaki itu duga sebelumnya. Ia, benar-benar bahagia.

“Sepertinya sudah larut malam, aku harus pulang.” Ucap Sohee.

Arasseo, aku akan mengantarmu pulang.”

“Tidak perlu,” tolak gadis itu cepat.

“Kau istirahat saja.”

Luhan beranjak untuk mengantar gadis itu setidaknya sampai depan rumahnya dan sampai matanya tak mampu menjangkau gadis itu lagi. Sohee tersentak kaget, begitu juga dengan Luhan setelah melihat Kai ternyata sudah berdiri di depan rumahnya dengan menatap tajam ke arah mereka, tidak, lebih tepatnya, ke arahnya saja.

“Sejak kapan kau pindah rumah, Sayang?” tanya Kai pada Sohee yang sempat berpamitan pulang padanya ternyata malah pergi ke rumah Luhan.

“Biar kujelaskan, Kai-ya.” Ucap Luhan

“Pulanglah, Yoon Sohee!”

Sohee yang takut menatap mata Kai akhirnya memilih menurut pada kekasihnya itu. Kai menarik kerah seragam Luhan dan menyudutkannya ke tembok pagar. Demi apapun, Kai membenci sebuah pengkhianatan.

“Persetan dengan penjelasanmu! Sekali lagi aku melihatmu mendekati Sohee, kau akan mati di tanganku!” Kai melepas cengkramannya pada kerah Luhan dan berlalu.

Lelaki itu mendudukkan dirinya di lantai dan menekuk kedua lututnya. Ingatannya kembali memutar tentang bagaimana Kai begitu menerima kehadirannya dengan sangat baik, Kai melindunginya ketika ia terancam, Kai selalu menunjukkan kebaikannya yang bahkan menurut Suho pun takkan pernah terbalaskan. Dan kini, ia malah membalas semua kebaikan Kai dengan mencintai gadis yang jelas-jelas sudah menjadi kekasih lelaki itu. Sungguh, ia benar-benar merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.

 

***

 

Luhan melempar bola basket ke ring secara bertubi-tubi. Setiap satu bola yang ia lemparkan, ia mengingat satu persatu kejadian yang ingin segera ia hapus dari memori otaknya. Mulai dari Sohee dan Kai yang berciuman mesra di depannya, Sohee yang menolak pengakuannya, Sohee yang mengkhawatirkannya saat ia sakit, kenyataan bahwa Sohee adalah milik Kai, Luhan benar-benar ingin melupakan semua itu.

….

“Kita, pernah bertemu sebelumnya, bukan?”

….

“Jangan coba-coba mencintai Sohee, Luhan-ah. Kai bukan tandinganmu. Meski aku termasuk orang yang tidak suka dengan hubungan mereka, aku tetap tidak akan mendukungmu mencintai Sohee.”

….

“Kalau begitu, tetaplah mencintainya dan teruslah rasakan kesakitan itu.”

….

“Aku mencintai Kai, Luhan-ah. Aku mencintainya sama seperti aku mencintai musim gugur, yang takkan kulewati sedikitpun keindahannya dari waktu ke waktu. Kai, dia musim gugurku, dan aku mencintainya.”

….

“Persetan dengan penjelasanmu! Sekali lagi aku melihatmu mendekati Sohee, kau akan mati di tanganku!”

“ARGH!” Luhan membanting bola basket yang dipegangnya ke sembarang arah.

Ponsel pintar dalam saku celananya bergetar, kali ini sebuah panggilan dari nomor kontak Kai. Kenapa Kai tiba-tiba menghubunginya?

Yeoboseyo?”

“Sohee masuk ke rumah sakit setelah sebelumnya menjadi korban penculikan. Datanglah, setidaknya untuk melihatnya untuk yang terakhir kali.”

Mata Luhan membulat sempurna, “Apa maksudmu?”

“…..”

Luhan lalu berlari secepat yang ia bisa, menaiki sepedanya dan mengayuhnya secepat mungkin ke rumah sakit di mana gadis yang ia cintai kini terbaring lemah beradu maut.

Kai baru saja mengatakan kalau Sohee sudah memiliki masalah dengan jantungnya sejak lama, dan jantungnya semakin bermasalah setelah dirinya tertekan saat menjadi korban penculikan. Tidak salah lagi, dalang dibalik penculikan Sohee, Luhan tahu betul siapa pelakunya saat menyadari malam kemarin lusa ia mendapat sebuah pesan yang berisi kalau Luhan akan merasakan rasanya menderita ketika seseorang paling berarti di hidupnya ada di ambang kematian.

BRAK!

Luhan tak lagi tahu apa yang terjadi padanya setelah sepeda yang ia naiki itu dihantam dengan keras oleh sebuah mobil dan kepalanya membentur aspal jalanan. Dunia, seperti tidak lagi disinari sang mentari. Gelap.

 

***

 

Sohee membuka kedua matanya perlahan dan mendapati Kai, orang tuanya, dan seorang dokter hadir di sekelilingnya yang terbaring di sebuah ranjang rumah sakit. orang-orang di sekelilingnya itu tersenyum, kecuali Kai yang terus menatapnya tanpa ekspresi.

Setelah tak sadarkan diri berhari-hari, gadis itu akhirnya dapat kembali merasakan detak jantungnya, menghirup udara, dan melihat dunia. Kai memberi isyarat pada kedua orang tua Sohee dan kepada dokter yang berada di ruangan gadis itu yang sama sekali tak dapat gadis itu mengerti.

“Kai-ya, ada apa?” tanya Sohee dengan suara seraknya saat melihat kedua orang tuanya dan dokter itu keluar dari ruangannya setelah mendapat isyarat dari Kai.

“Aku ingin kau tahu kalau aku benar-benar membenci Luhan.” Ucap Kai yang menatap lurus ke arahnya.

Waewaeyo?”

Kai menghembuskan nafasnya kasar, “Karena rasa cintanya padamu ternyata melebihi rasa cintaku padamu. Dan rasa cinta itulah yang kini membuatmu kembali hidup dan mencintaiku.”

“Apa maksudmu?” Sohee benar-benar tak mengerti.

Gadis itu terkejut setelah mendengar penjelasan Kai. Ia menangis histeris sambil terus menyentuh dadanya tepat di bagian di mana jantung Luhan berdetak dalam tubuhnya. Luhan, lelaki itulah yang menyelamatkannya dari kematian ketika tak seorang pun termasuk Kai mau merelakan jantung mereka untuknya. Luhanlah satu-satunya.

Di sela-sela tangisannya yang terus membuncah, ingatannya kembali ke malam di awal musim gugur tahun ini. Saat itu, seorang lelaki menarik dan membekap mulutnya dari kegelapan. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat segerombolan lelaki yang terus mengikutinya sejak lama lewat begitu saja tanpa mengetahui keberadaannya yang sedang bersembunyi di balik dinding yang gelap bersama seorang lelaki. Sesaat setelah menyadari keadaan telah aman, lelaki itu berhenti membekapnya dan hendak berlalu, namun Sohee berhasil menahan lelaki itu dan melihat wajahnya.

“Kita, pernah bertemu sebelumnya, bukan?”

“Ye?”

“Aku rasa kita pernah bertemu, tapi, aku lupa kapan dan di mana kita bertemu.”

“Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”

“Ya, mungkin kau benar. Itu hanya perasaanku saja. Tidak mungkin juga lelaki itu adalah dirimu.”

Lelaki itu, benar-benar Luhan.

 

Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, kau menyelamatkanku.

 

***

 

“Aku datang untuknya, dan akan selalu untuknya. Meski hatinya tidak pernah ada untukku, setidaknya jika jantungku terus hidup bersamanya, dia bisa merasakan bagaimana aku yang selalu mencintainya di setiap detakan jantungku bahkan hingga aku tak mampu untuk bernafas lagi.” ucap Luhan pada Kai sesaat setelah dirinya siuman. Kai sempat menentang keras keinginan Luhan untuk mendonorkan jantungnya pada Sohee karena bagaimanapun juga Kai sangat menyayangi Luhan sebagai sahabatnya dan tak mau kehilangannya, namun keputusan Luhan tak dapat ditawar lagi.

 

Yoon Sohee… aku ingin menarik kembali kata-kataku yang membenci musim gugur. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mencintai musim gugur hari itu. Hari di mana aku bisa melihatmu tersenyum untuk yang terakhir kalinya. Meski aku tahu kau takkan pernah berpaling dari lelaki itu, aku ingin kau tahu kalau aku pun mencintaimu sama seperti kau yang hanya mencintainya dan takkan pernah berpaling darinya… Sohee-ya… tetaplah cintai musim gugurmu, seperti aku yang akan selalu mencintai musim gugurku… Kaulah musim gugurku dan aku mencintaimu….

 

-END-

 

musim ke-3 dari “4 Seasons of Love” akhirnya bisa dipublish juga 😀 give your review please 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s