[EXO Fanfiction] 4 Seasons of Love – (Summer) in Winter

4 Seasons of Love – (Summer) in Winter

Untitled-1Aaa

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Cast : Byun Baekhyun, Kim Yoojung as Kim Yeoreum, Kim Jongdae.

Genre : Drama, Marriage Life, Romance, Sad.

Rated : T

Length : Oneshoot

Disclaimer : Semua cast adalah bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya untuk kepentingan cerita. Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

Terimakasih telah memberi kehangatan musim panas di musim dinginku…

 

♥♥♥

Lelaki itu berjalan perlahan meraba dinding, rumahnya benar-benar gelap sampai ia tidak bisa melihat apapun. Istrinya pasti lupa lagi untuk menyalakan lampu. Wanita itu, benar-benar pelupa. Tangan lelaki itu akhirnya menyentuh saklar lampu dan menekannya. Tidak ada yang berubah. Lelaki itu menekannya lagi. Tetap sama. Ia lalu menekan saklar lampu itu lagi, lagi, dan lagi, berulang-ulang, namun matanya tetap tak mampu menangkap satu objek pun di sekelilingnya.

Oppa, apa yang kau lakukan?” suara lembut itu terdengar jelas di telinganya.

“Yeo…yeoreum-ah, listrik di rumah kita pasti mati, iya kan?” tanya lelaki itu pada istrinya, Yeoreum.

Oppa…”

Bukannya mendapat jawaban, lelaki itu malah mendapat pelukan erat dari istrinya. Baekhyun, lelaki putih bersurai coklat itu menghela nafasnya dalam dan melepas pelukan sang istri. Tangannya kembali meraba-raba apa yang ada di depannya, airmatanya siap jatuh kapan saja.

Bruk!

Lelaki itu menabrak meja yang ada di ruang tamunya.

Prang!

Lelaki itu menjatuhkan guci hiasan ruang tamunya hingga pecah.

Krek!

Kali ini, kakinya menginjak pecahan beling.

Oppa!” seru Yeoreum terkejut melihat kaki suaminya yang mulai berdarah.

Dokter yang mengatakan dirinya telah kehilangan penglihatannya, ternyata bukanlah mimpi. Lampu di rumahnya yang tak pernah menyala, ternyata bukan karena listrik yang mati ataupun istrinya yang lupa menyalakan lampu. Ia buta sekarang. Dunianya, menjadi gelap sempurna.

Yeoreum menuntun Baekhyun untuk duduk di sofa, airmatanya terus menetes. Sambil mencabuti beling yang menusuk kaki suaminya, Yeoreum terus merasa menyesal. Kalau bukan karena untuk menemui dirinya, Baekhyun pasti masih baik-baik saja.

Oppa mianhae…”

“Seharusnya aku tak memaksamu untuk datang…”

December 24, Christmas Eve.

Baekhyun mengendarai mobilnya dengan cepat agar cepat sampai ke tempat yang ditujunya. Sejak sore tadi, Yeoreum terus menghubunginya, tak peduli kalau ia sedang sibuk-sibuknya mengurus pekerjaan di kantor. Yeoreum terus merayunya dengan manja untuk pergi menemuinya ke Namsan Tower untuk merayakan malam natal tahun ini yang sekaligus menjadi tahun pertama pernikahan mereka.

Lelaki itu lalu menghubungi sang istri lewat sambungan video call yang ada di layar LED kecil mobilnya.

Oppa, kau sudah sampai mana? Aku sudah kedinginan di sini.” Tanya Yeoreum dengan nada yang benar-benar manja dan dengan mimik yang sedikit menampilkan aegyo. Baekhyun hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya itu.

Palliwa…”

“Aku sedang menuju ke sana, Yeobo. Sabarlah.” Demi apapun, Baekhyun ingin segera bertemu istrinya dan takkan melepaskannya begitu saja.

“Kalau kau masih lama, haruskah aku menyewa lelaki lain untuk memelukku?”

“Yak, apa maksudmu?! Awas saja kalau kau macam-macam sebelum aku sampai di sana! Aku takkan melepaskanmu begitu saja, Nyonya Byun!”

BRAK!

Tiiiittttt….

Sambungan video call itu terputus. Baekhyun kecelakaan. Mobilnya terus melaju saat lampu merah sudah menyala dan akhirnya menyebabkan sebuah truk dari arah kiri langsung menabrak mobilnya hingga terguling beberapa meter.

“PERGI! PERGI KALIAN SEMUA! JANGAN DEKATI AKU KALAU KALIAN HANYA INGIN MENERTAWAKAN AKU YANG SUDAH CACAT INI! PERGI!” Baekhyun mengusir semua petugas medis yang mendekatinya tanpa terkecuali.

ABEOJI, ANAKMU SEKARANG SUDAH BUTA. AKU SEKARANG SUDAH TIDAK BISA MELIHAT LAGI. APA KAU MERASA SEDIH KARENA TAK ADA LAGI YANG BISA MENGURUSI PERUSAHAANMU HUH?!” ucap Baekhyun pada ayahnya yang datang dengan suara keras hampir berteriak.

Oppa…”

Suara itu…

“Yeoreum-ah… jangan dekati aku… aku tak pantas lagi untuk dirimu. Mataku tak mampu melihatmu lagi… aku tak mampu menatap wajahmu lagi…”

Airmata Yeoreum terus mengalir membasahi pipinya yang putih mulus, tak tega melihat keadaan suaminya yang tak sanggup menerima kenyataan pahit itu. sepasang tangannya yang mencoba merengkuh Baekhyun tertahan, Baekhyun tak membiarkan Yeoreum untuk memeluknya.

“Kau tidak boleh melihat kondisiku yang seperti ini, Yeoreum-ah…. pergilah…. jangan lihat aku… jangan.” Perban yang membalut mata Baekhyun pun basah oleh airmata. Yeoreum memeluk Baekhyun erat. Pelukan yang begitu hangat hingga tangan Baekhyun pun tak kuasa melepasnya.

“Jangan pernah berkata seperti itu lagi, karena aku sama sekali tidak akan menurutinya. Aku akan selalu bersamamu apapun yang terjadi. Karena aku sudah berjanji untuk mencintaimu sampai akhir hayatku di hadapan Tuhan, Pak Pendeta,  orang tua kita, dan semua orang yang menghadiri upacara pernikahan kita satu tahun yang lalu. Kau tak ingat apa yang telah kita ikrarkan bersama?”

“Aku ingat… dan akan selalu mengingatnya.”

♥♥♥

Yeoreum melangkah terburu-buru di tengah dinginnya cuaca musim dingin hari itu. Tangannya terus mencari-cari sesuatu di dalam tasnya hingga tak memperhatikan ada seseorang yang baru saja keluar dari sebuah cafe yang menghalangi jalannya dan….

Bruk!

Wanita itu benar-benar menabraknya hingga buku-buku yang dipegang lelaki yang ditabraknya berjatuhan di atas jalanan trotoar yang basah. Buku-buku yang semuanya berhubungan dengan dunia musik itu akhirnya menjadi sedikit basah dan kotor.

Jhweoseonghamnida! Jeongmal jhweoseonghamnida!” ucap Yeoreum meminta maaf sambil membantu memungut satu persatu buku lelaki yang ditabraknya.

“Kim… Yeoreum?”

Yeoreum spontan menatap lelaki yang memanggilnya. Ia terpaku seketika saat menyadari bahwa ia juga mengenali lelaki yang ditabraknya itu.

“Jongdae Oppa?”

Lelaki itu langsung memeluk tubuh mungil Yeoreum erat-erat, seolah menumpahkan seluruh rasa rindunya yang ia tahan selama ini. Yeoreum pun tak kalah merindukan Jongdae, sosok kakak kelasnya yang sangat baik dan penuh kharisma. Jongdae lantas menarik Yeoreum masuk ke dalam cafe yang baru saja ia kunjungi beberapa saat yang lalu itu.

Jongdae dengan raut bahagia yang tak tersembunyikan dari wajahnya itu mengajak Yeoreum untuk duduk dan memesan beberapa menu. Sudah 5 tahun sejak kepergian Jongdae ke Jerman tak membuat kecantikan wanita itu berubah. Di mata Jongdae, Yeoreum tetap sama cantiknya dengan 5 tahun yang lalu saat gadis itu masih duduk di kelas 2 SMA.

Oppa, bagaimana kabarmu? Kenapa kau sama sekali tak pernah menghubungiku lagi sejak kau pergi ke Jerman? Kau benar-benar sombong sekali.” Ucap Yeoreum bertubi-tubi, ia lalu memanyunkan bibirnya sebagai tanda bahwa ia sangat kesal pada Jongdae.

Jongdae mencubit pipi Yeoreum gemas, membuat gadis itu langsung terdiam seribu bahasa.

“Aku sibuk sekali mengurus kuliah musikku di Jerman. Kau tahu sendiri aku sangat ingin menjadi musisi yang hebat, bukan? Maka dari itu, aku memutuskan untuk tidak menghubungi siapapun selama aku di sana.”

“Dan sekarang, apa kau benar-benar sudah kembali?” Yeoreum menopang dagunya dengan kedua tangannya sambil menatap mata Jongdae.

“Tentu saja!”

Oppa mianhaeyo…” wanita itu sedikit menundukkan wajahnya.

Jongdae mengerutkan kening, bingung. “Untuk apa?”

“Karena tak sempat datang ke bandara untuk mengantar kepergianmu 5 tahun yang lalu.”

Ah, untuk itu rupanya Yeoreum meminta maaf. Lelaki itu menghela nafasnya. Jika saja 5 tahun yang lalu Yeoreum datang ke bandara, pasti perasaan Jongdae sudah tersampaikan sejak saat itu juga. Sayangnya, Yeoreum tidak pernah datang sekalipun ia rela untuk menunda jadwal keberangkatannya saat itu.

“Kalau aku boleh tahu, apa alasanmu tak datang ke bandara?”

“Tepat di hari yang sama, Ayahku tiba-tiba saja masuk ke rumah sakit. Untung saja, ia masih hidup dengan sehat sampai sekarang.”

“Ah, arasseo. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisimu, Yeoreum-ah.”

Mata Jongdae tertuju pada jari manis Yeoreum, di mana sebuah cincin berlian bermata satu melingkar menghiasinya. Mungkinkah wanita di hadapannya itu sudah dipersunting oleh lelaki lain? Haruskah harapannya untuk memiliki Yeoreum pupus hanya karena sebuah cincin?

“Kau, sudah menikah?” tanya Jongdae akhirnya.

Ne, sejak satu tahun yang lalu.” Jawab Yeoreum dengan wajah yang sangat bahagia. Yeoreum yang bahagia, tidak dengan Jongdae. Lelaki itu benar-benar telah terlambat. wanita yang ia cintai selama ini, sudah setahun yang lalu menjadi milik orang lain.

“Lelaki yang beruntung itu, siapa dia?”

Wanita itu tertawa, “Kalaupun aku menyebutkan namanya, Oppa tidak akan mengenalnya.”

♥♥♥

Gomawo Oppa, sudah repot-repot mengantarku pulang.” Ucap wanita itu setelah keluar dari mobil Jongdae.

“Kau ini! aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Cepatlah masuk!”

Yeoreum tersenyum, “Arasseoyo, Kim Jongdae-ssi.”

“Kau benar-benar sudah berani tidak sopan rupanya!” Jongdae mengambil ancang-ancang untuk memukul Yeoreum, bercanda.

Jhweoseonghamnida!”

Mereka berdua tertawa geli dengan tingkah mereka sendiri.

Oppa tidak akan masuk dulu eoh?”

Ani, lain kali saja. aku masih banyak urusan.”

“Ah, arasseo. Pintu rumahku selalu terbuka lebar untukmu. Jika Oppa berkunjung lain waktu, akan kuperkenalkan Oppa pada suamiku. Dia pasti akan sangat iri mengetahui aku ternyata memiliki sahabat yang sangat baik sepertimu.” Ucap Yeoreum menerawang, ia tersenyum-senyum sendiri membayangkannya.

“Ya, ya, ya! Terserah kau saja! cepat masuk sebelum kau mati kedinginan di luar!” tangan Jongdae bergerak-gerak seolah mengusir wanita itu.

Yeoreum akhirnya melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumah setelah mobil Jongdae luput dari pandangannya.

“Yeoreum-ah, kau sudah pulang?” Baekhyun berjalan perlahan menyambut kedatangan sang istri dengan meraba-raba dinding.

Wanita itu tersenyum lebar dan memeluk mesra Baekhyun, bergelayut manja di lengan suaminya. Baekhyun yang menyadari perasaan istrinya yang sedang bahagia hanya ikut tersenyum dan mengelus lembut rambut panjang bergelombang istrinya.

Oppa, hari ini kau tidak bertanya aku bahagia atau tidak eoh?” tanya Yeoreum protes, bibirnya ia manyunkan meski ia sendiri tahu Baekhyun tak lagi bisa melihat wajah manjanya.

“Bukankah istriku setiap harinya selalu merasa bahagia eoh?”

“Ah, ternyata kau sudah sangat paham itu. Bodohnya aku ini!” Yeoreum menepuk dahinya sendiri.

Tangan lembut Baekhyun meraba wajah Yeoreum, Yeoreum lalu membantu Baekhyun menemukan bagian wajahnya yang mana yang ingin suaminya itu sentuh. Dahi, Baekhyun mengelus bekas tepukan di dahi istrinya.

“Kau tidak boleh menyakiti dirimu sendiri.”

Tangan lembut itu turun ke hidung, mencubitnya dengan gemas membuat sang empunya hidung sedikit merintih manja. Jari jemari itu tak berhenti sampai di hidung, ia terus turun hingga menyentuh bibir lembab Yeoreum.

“Kau pasti tidak pernah lupa memakai lip balm.”

PUK! Wanita itu memukul pelan dada Baekhyun.

“Walaupun aku tidak memakai lip balm, bibirku akan tetap lembut!” lagi-lagi Baekhyun mendapat protes menggemaskan dari sang istri.

Arasseo, Nyonya Byun. Karena itulah aku tidak pernah bisa berhenti jika sudah seperti ini…” Chu! Yeoreum terkejut atas pergerakan Baekhyun yang tiba-tiba menyosor mencium bibirnya. Lembut memang, bibir Yeoreum selalu terasa seperti ini.

Bibir yang lembut, ciuman yang lembut, terus membuat mereka larut dalam kelembutan cinta mereka. Ketakutan akan kehilangan cinta dari seorang Byun Yeoreum yang sebelumnya menghantui Baekhyun pasca kehilangan penglihatannya itu akhirnya dapat Baekhyun singkirkan jauh-jauh. Karena pada kenyataannya, Yeoreum selalu ada untuk mencintainya.

♥♥♥

Jongdae merapikan buku-bukunya yang sedikit kotor karena sempat jatuh saat bertabrakan dengan Yeoreum siang tadi itu ke rak bukunya yang sudah dipenuhi oleh banyak buku tentang musik. Pluk! Selembar kertas foto tiba-tiba saja jatuh  ke lantai kamarnya dari salah satu bukunya yang hendak ia simpan ke rak buku. Lelaki itu mengambilnya dan mengamati sebuah gambar yang membuatnya mengerutkan kening untuk berpikir keras.

Sebuah foto hasil USG yang memperlihatkan perkembangan janin yang baru berusia 10 minggu. Foto yang membuat pertemuan antara Yeoreum dan Jongdae terjadi. Kalau bukan karena mencari-cari foto itu, Yeoreum tak mungkin menabrak Jongdae.

“Yeoreum-ah, apa dengan kehadirannya di dalam rahimmu, akan semakin membuatku benar-benar sulit menggapaimu?”

♥♥♥

“Jongdae Oppa?”

Lelaki bermantel hijau gelap itu berbalik dan melihat pintu rumah yang tadi sempat diketuknya akhirnya terbuka. Yeoreum yang masih mengenakan piyama tebal berwarna merah muda menyambut kedatangan Jongdae dengan senyuman.

“Masuklah!”

Jongdae masih terdiam. Namun Yeoreum dengan semangat menariknya masuk dan menyuruhnya duduk dengan nyaman di sofa. Wanita itu lalu berlari meninggalkannya, dan tak lama kemudian kembali menghampiri Jongdae dengan menggandeng seorang pria. Jongdae meremas celana bahannya. Pria itu, pastilah suami Yeoreum.

“Jongdae Oppa, perkenalkan…” Yeoreum menarik tangan Baekhyun untuk berjabat tangan dengan Jongdae. Dahi Jongdae mengkerut, namun tangannya ia paksakan untuk menjabat tangan suami Yeoreum.

Annyeong, Jongdae-ssi. Baekhyun imnida. Senang bertemu denganmu.” Ucap Baekhyun memperkenalkan dirinya seraya mengukir senyum di bibirnya. Jongdae tak membalas, lelaki itu serius memperhatikan ke mana arah suami Yeoreum itu melihat. Lelaki yang beruntung mendapatkan hati Yeoreum itu, buta?

Senyuman Baekhyun memudar perlahan ketika menyadari sahabat istrinya itu tak membalas perkenalan dirinya.

Yeoreum menyiku lengan Jongdae.

“Ah? Ne, Baekhyun-ssi. Senang bertemu denganmu juga.”

“Sepertinya kehadiranku membuatmu tidak nyaman. Silakan lanjutkan obrolan kalian, aku tidak akan mengganggu.”

Oppa…” Yeoreum memandangi Baekhyun yang berlalu meninggalkannya bersama Jongdae.

Jongdae menatap lurus ke arah Yeoreum, membuat Yeoreum tak mampu membalas tatapannya. Ia lalu menarik Yeoreum ke luar dari rumahnya. Hujan salju yang saat itu sedang turun pun jatuh ke tengah-tengah mereka.

“Lelaki itu… tidak bisa melihat?” tanya Jongdae to the point. Pertanyaan yang benar-benar langsung menyinggung perasaan Yeoreum.

Ne. Suamiku baru saja kehilangan penglihatannya karena kecelakaan.” Jawab wanita itu.

“Dia tak lagi pantas untukmu.”

Mata Yeoreum membulat, terkejut sekaligus tak percaya kalau seseorang yang telah berkata kasar padanya itu adalah Kim Jongdae.

Mwo? Oppa… apa kau benar-benar Jongdae Oppa? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa seseorang yang selama ini kukenal dengan sangat baik tiba-tiba berkata sekasar itu?”

Jongdae terdiam. Yeoreum memandangnya tak percaya dan lebih memilih berlalu meninggalkan lelaki itu.

Ne! Aku Kim Jongdae! Aku Kim Jongdae yang selama ini jatuh cinta padamu! Pada seorang Kim Yeoreum yang tak lain adalah adik kelasku sendiri di masa lalu! Aku mencintaimu, Kim Yeoreum! Aku lebih sempurna! Aku lebih bisa memberimu kebahagiaan daripada lelaki buta itu!”

Langkah Yeoreum terhenti mendengar Jongdae yang berteriak. Ia lalu kembali menghampiri Jongdae dengan mata berair.

PLAK! Wanita itu menampar keras pipi lelaki yang pernah benar-benar ia sayangi dulu.

“Setidaknya lelaki buta itu tak pernah memaksaku untuk mencintainya. Aku mencintainya karena hatiku telah memilihnya. Melihatmu seperti ini, benar-benar membuatku bersyukur pada Tuhan. Karena Tuhan tak membiarkanku mencintai lelaki sempurna yang sombong sepertimu!”

Yeoreum berbalik, hendak melangkah masuk ke dalam rumahnya. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti. Sepasang matanya mendapati Baekhyun berdiri di ambang pintu dengan wajah tertunduk dan sedetik kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.

Oppa…” jangan! Jangan mendengarnya, Oppa!

Ia berlari masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Jongdae seorang diri di tengah hujan salju.

Oppa…”

“Jongdae benar, Yeoreum-ah.” Ucap Baekhyun yang melangkah gontay sembari meraba dinding. Matanya jelas berair.

“Apa maksudmu?”

“Lelaki buta sepertiku tidak akan pernah bisa membahagiakanmu….”

“Dia, dia sempurna! Dia bisa melihatmu! Dia bisa memberimu apapun yang kau inginkan! Sedangkan aku? aku hanya lelaki buta yang selalu merepotkan istrinya! Aku tidak bisa melihat wajahmu! Mungkin saja selama ini kau hanya berpura-pura bahagia karena aku tidak bisa melihat wajahmu yang menderita memiliki lelaki cacat sepertiku!” teriak lelaki itu. Airmata Baekhyun seketika tumpah.

Oppa… jangan pedulikan apa kata orang lain! Kau hanya harus percaya padaku! Aku mencintaimu! Aku tidak pernah bisa mencintai lelaki lain selain dirimu! Sesempurna apapun lelaki di luar sana, aku tidak peduli. Aku akan selalu memilihmu apapun yang terjadi…”

“BOHONG!” Baekhyun menepis kasar tangan Yeoreum yang menyentuhnya.

“PERGI! PERGILAH BERSAMA JONGDAE! TINGGALKAN AKU! PERGI!”

BRUK! Yeoreum jatuh tersungkur ke lantai setelah Baekhyun mendorongnya.

“Yak! Apa kau sudah gila?! Yeoreum sedang mengandung anakmu dan kau malah mencelakainya?!” Jongdae berlari mendekati Yeoreum yang merintih memegangi perutnya.

Baekhyun terdiam, mencoba mencerna satu persatu perkataan Jongdae. Yeoreum-sedang-mengandung-anaknya.

“Yeo-Yeoreum-ah? Yeoreum-ah?” Baekhyun mencoba meraba apa saja yang ada di depannya untuk bergerak mendekati sang istri. Rintihan kesakitan istrinya dapat ia dengar dengan sangat jelas.

“Menyingkirlah!” Jongdae bergerak sigap membopong tubuh Yeoreum untuk melarikan wanita itu ke rumah sakit.

“Yeo-Yeoreum-ah? MianhaeJeongmal mianhae, Yeoreum-ah! Jeongmal mianhae!” Baekhyun jatuh terduduk, menangis menyesali perbuatan bodohnya yang bisa saja mencelakakan Yeoreum dan calon buah hati mereka. Demi apapun, Baekhyun merasa benar-benar tak berguna. Ia sama sekali tak tahu kalau istrinya itu sedang mengandung buah hati mereka yang nyawanya ikut terancam sekarang.

♥♥♥

Jongdae mengepal tangannya kuat-kuat. Pemandangan jauh di depan matanya benar-benar menyakitkan. Ia kini sedang berdiri di luar ruangan ICU dan memandangi Yeoreum yang sedang bersama suaminya lewat kaca ruangan itu. Yeoreum melupakannya dan seolah tak mau mengenalnya lagi. Sungguh, Jongdae ingin sekali memutar balik waktu dan menarik semua kata-katanya yang membuat Yeoreum membencinya.

Airmata itu jatuh dan berlinang tanpa seijin Jongdae. Lelaki itu lantas melangkahkan kakinya, pergi, meninggalkan Yeoreum dan segala cerita tentangnya.

♥♥♥

“Yeoreum-ah… terimakasih telah bertahan untukku. Aku tak tahu apa jadinya aku jika sesuatu yang buruk terjadi padamu dan calon bayi kita karena kecerobohanku. Aku pasti takkan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.” Ucap Baekhyun menyesal. Ia mengecup punggung tangan kanan istrinya di mana sebuah selang infus menusuk kulit tangan istrinya itu.

Yeoreum tersenyum.

“Jangan pernah lagi berkata yang tidak-tidak, Oppa. Aku selalu sedih jika mendengar kata-katamu yang seolah meragukan cintaku.”

“Aku tidak akan pernah bertindak bodoh seperti itu lagi, aku tidak akan pernah meragukan cintamu lagi, aku tidak akan pernah membuatmu menangis lagi. sebaliknya, aku akan selalu membuatmu bahagia, dan aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk bayi kita.”

“Janji?” Yeoreum mengacungkan jari kelingkingnya.

“Janji.”

“Kau harus mengaitkan kelingkingmu pada kelingkingku, Oppa!” Pinta Yeoreum dengan nada manja.

Karena tak tahu di mana kelingking Yeoreum, Baekhyun hanya mengacungkan kelingkingnya, memaksa Yeoreum untuk mengaitkan kelingkingnya di kelingking Baekhyun.

“Aku janji.”

Baekhyun memeluk Yeoreum yang masih terbaring di ranjangnya, dan Yeoreum pun membalas pelukan Baekhyun. Mereka berpelukan dengan hangat.

“Terimakasih… karena telah memberi kehangatan musim panas di musim dinginku. Aku mencintaimu.”

♥♥♥

One year later…

December 24, Christmas Eve.

 

Yeoreum merapikan kembali rambutnya yang sedikit berantakan dan basah setelah kembali dari berbelanja perlengkapan untuk natal malam ini. Sedikit terlambat memang jika ia baru membeli perlengkapan natal tepat di malam natal, tapi ia pikir tidak apa-apa, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Wanita itu mengerutkan keningnya, kenapa rumahnya gelap sekali? Ia mengedip-ngedipkan mata berulang kali, tetap tidak ada yang bisa ia lihat. Ada apa ini? apa ada sesuatu yang salah dengan matanya?

Seorang pria melangkahkan kakinya menghampiri Yeoreum, membawa sebuah kue dengan lilin-lilin kecil yang menyala di atasnya, memberikan cahaya remang-remang yang memperjelas wajah pria itu. Yeoreum tersenyum bahagia, begitu pula dengan pria itu. Matanya jelas tidak salah, pria itu adalah suami yang teramat sangat dicintainya.

“Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-2 tahun, Yeobo.”

Oppa…” wanita itu benar-benar tak dapat menyembunyikan rasa harunya.

Klik! Ruang tamu di rumahnya yang asalnya gelap gulita kini menjadi terang benderang. Dilihatnya kedua orang tuanya, ayah suaminya, dan juga bayi kecilnya yang berada dalam kereta bayi itu ikut serta dalam memberikan kejutan untuknya

EommaAppaAbeoji… Gyeoul-ah… kalian benar-benar…”

Mereka tersenyum. Pria itu, Baekhyun, memberikan isyarat pada sang istri untuk meniup lilin bersama-sama.

Hanadulset!” Baekhyun dan Yeoreum meniup lilin di atas kue peringatan hari pernikahan mereka yang sudah menginjak tahun ke-2. Ayah Baekhyun dan orang tua Yeoreum bertepuk tangan, sedangkan Gyeoul kecil hanya bisa tertawa memperlihatkan 2 buah gigi depannya.

Baekhyun sudah mendapatkan penglihatannya kembali setelah mendapat donor mata yang cocok dengannya. Kini dirinya dapat kembali melihat indahnya dunia, terutama Yeoreum dan Gyeoul yang merupakan makhluk terindah yang pernah Tuhan berikan dalam hidupnya.

Pria itu merengkuh tubuh Yeoreum ke dalam pelukannya, “Terimakasih untuk 2 tahun yang telah kita lalui bersama-sama ini. Terimakasih untuk selalu ada di sampingku apapun yang terjadi. Dan terimakasih karena telah memberi hadiah terindah di pernikahan kita, Byun Gyeoul, putri kecil kita.”

Yeoreum memeluk Baekhyun erat dan bersandar dengan nyaman di dada bidang pria itu.

“Terimakasih karena telah mempercayaiku hingga detik ini, Gyeoul Appa.”

Baekhyun mengecup puncak kepala istrinya. Akhirnya Christmas Eve malam itu mereka habiskan bersama keluarga mereka dengan penuh suka cita. Tak ada lagi airmata yang jatuh di atas salju di malam natal. Yang ada hanyalah kebahagiaan yang penuh kehangatan cinta antara Byun Baekhyun, Byun Yeoreum, dan putri kecil mereka, Byun Gyeoul.

Aku pernah melewati musim dingin terdingin dalam hidupku, musim dingin yang sempat membuatku tak mampu berharap untuk kembali bernafas lagi. Namun, musim panas itu datang menghangatkan musim dinginku yang membeku. Musim panas itu selalu memberi kehangatannya agar aku mampu melewati musim dinginku.

Musim panas itu benar-benar menghangatkanku… membuatku seketika melupakan betapa dinginnya musim dinginku saat itu. Terimakasih untuk segalanya, demi musim panas di musim dinginku, Aku mencintaimu. Dan selamanya akan selalu seperti itu.

 

-END-

ahhhh… akhirnya seri terakhir “4 Seasons of Love” kepublish jugaaa :’D aaaaa terharu deh bisa nyelesain secepet ini :’v terimakasih buat yang udah mau nyempetin baca dari seri pertama sampai seri terakhir ini :’D laffyouuu :* please gimme your comment/review 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s