[EXO Fanfiction] My Stepsister

My Stepsister

mystepsister

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Cast : Byun Baekhyun, Kim Yoo Jung as Byun Sahyun, and Byun’s Family.

Genre : AU, Angst, Drama, Family, Marriage life, Sad, Sadism.

Rated : M for some scenes, R for overall.

Length : Oneshoot

Disclaimer : Semua cast adalah bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya untuk kepentingan cerita. Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

© AYUSHAFIRAA, 2016. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Summary : Sahyun is my stepsister. Ya, dia adalah saudari tiriku. Ayahku membawanya ke rumah kami saat aku berumur 9 tahun. Ibunya adalah seorang pelacur yang sangat dicintai oleh ayahku, karena kehadiran ibunyalah, ibuku meninggal. Byun Sahyun, harus menerima semua dendam dan kebencian yang seharusnya kuberikan pada ibunya. –Byun Baekhyun.

.

.

.

“Sahyun-ah, kemarilah!” panggil Baekhyun pada adik tirinya yang hanya berselisih 4 tahun darinya, Sahyun.

“Ada apa, Oppa?”

Oppa? Cih, menjijikkan!

“Ayahku dan ibumu akan pergi lagi ke Amerika besok pagi, kan?”

Sahyun mengangguk, gadis muda itu menunjukkan raut wajah sedihnya yang malah semakin membuat Baekhyun ingin meludahi wajah cantiknya itu.

“Baguslah,”

“Jangan lupa bangunkan aku pagi-pagi sekali. Aku ingin mengantar kepergian mereka.”

Ne, Oppa.”

Besok, Ayah mereka dan ibu Sahyun akan pergi ke Amerika untuk perjalanan bisnis selama kurang lebih 3 bulan. Ini adalah kesempatan yang bagus bagi Baekhyun untuk melampiaskan seluruh kekesalannya selama ini pada adik tirinya. Mungkin, Baekhyun sudah menyiapkan daftar kegiatan apa saja yang akan ia lakukan bersama adik tirinya selama 3 bulan kedepan. Daftar kegiatan itu, pastilah sangat panjang.

.

.

.

“Ayah, berhati-hatilah selama di sana. Aku pasti akan sangat merindukanmu.” Ucap Baekhyun sembari memeluk ayahnya.

Saat ini, Baekhyun dan Sahyun sedang berada di bandara untuk mengantar kepergian orang tua mereka ke Amerika. Sahyun menangis tersedu-sedu, ini adalah kali pertama ia akan ditinggal orang tuanya ke luar negeri selama itu. Lagi, hal itu membuat Baekhyun merasa jijik padanya.

Setelah memeluk sang ayah, Baekhyun mengukir senyuman palsunya yang ia tujukan untuk ibu tirinya, ya, ibu Sahyun. Lelaki itu sudah seperti aktor profesional sekarang. Ia memeluk ibu tirinya.

“Ibu juga, hati-hati. Aku akan sangat merindukanmu.” Cih, tidak mungkin! Kau mati saja di sana!

“Sahyun-ku, sudah jangan menangis lagi. Ayah dan ibu akan kembali secepatnya jika urusan di sana sudah selesai. Sahyun-ku, harus baik-baik dengan Oppa, jangan membantah perkataan Oppa, Sahyun mengerti?”

Sahyun hanya mengangguk lemah untuk membalas pesan ayahnya itu. Ia kembali memeluk ibu dan ayahnya sebelum akhirnya melepaskan kepergian mereka untuk 3 bulan lamanya.

“Sahyun-ah…” panggil Baekhyun tanpa menatap adik tirinya yang sedang berdiri di sampingnya itu sama sekali.

Ne, Oppa?”

“Ingat pesan ayahku? Jangan membantah perkataanku, kau mengerti, kan?”

“Tentu, Oppa. Aku akan menuruti setiap perkataanmu.”

Baekhyun menyeringai. Ya, seperti itu. kau harus menjadi gadis yang penurut agar aku tak cepat-cepat mengirimmu ke neraka, Sahyun-ah.

.

.

.

Sahyun saat ini sedang sibuk merapikan ruang tamu yang acak-acakan akibat ulah kakaknya, Baekhyun. Sementara kakaknya itu masih asik menyilangkan kakinya dengan santai sambil menonton acara televisi ditemani sebungkus pop corn yang sedaritadi hanya dimakannya sendirian.

“Apa yang kau lihat? Cepat bereskan!” ucap Baekhyun setiap kali mendapati adiknya itu berhenti bekerja.

“Tapi Oppa, aku lelah.” Keluh Sahyun, wajahnya sudah penuh keringat.

PRANG!

Baekhyun melempar gelas kristal yang ada di depannya, pecahan gelas itu hampir saja mengenai kaki Sahyun. Tatapannya benar-benar penuh amarah.

“Kau berani membantahku, huh?!”

“Tidak, tidak, Oppa. Mian, aku akan membereskannya lagi.” jawab Sahyun ketakutan, baru kali ini ia melihat kakaknya benar-benar marah.

Oppa? Tidak sudi aku menjadi kakakmu! Kau bukan adikku!” teriak Baekhyun memenuhi seluruh ruangan yang ada di rumah mereka. Membuat Sahyun gemetar hebat.

“Hei, ingatlah… kau hanya anak seorang pelacur. Ibuku bukan seorang pelacur, jadi aku bukanlah kakakmu! Kau harus mengerti itu, Sahyun-ah…” tangan Baekhyun membelai pipi mulus adiknya, sementara adiknya itu masih terlihat sangat ketakutan.

“Panggil aku Tuan selama ayahku dan ibumu tidak ada. Tidak ada penolakan! Kau harus mengingat pesan ayahku.” Bisik Baekhyun tepat di telinga Sahyun, membuat Sahyun bergidik.

Ne, Op… maksudku, Tuan.”

Begitulah nasib Sahyun ke depannya, menjadi babu untuk kakaknya sendiri. sering ia menangis dalam diam, merutuki nasibnya sebagai anak haram perusak kebahagiaan Baekhyun. Kalau saja ia tidak terlahir 19 tahun yang lalu dari hubungan gelap ibu dan ayahnya, ia mungkin tidak akan mendapat kebencian yang teramat dalam dari saudara tirinya itu.

Tubuh Sahyun juga tak jarang terkena pukulan benda tumpul, sayatan benda tajam, ataupun tendangan bebas dari kaki Baekhyun. Setiap ia melakukan kesalahan, sekecil apapun itu, Baekhyun tidak akan segan-segan menghukumnya.

BLURP!

“Ahh! Tuan, aku minta maaf!”

BLURP!

“Ahkuhh… sungguh minta ma…”

BLURP!

Baekhyun menimbul-tenggelamkan kepala adiknya berkali-kali pada bath tub yang penuh berisi air dingin hanya karena adiknya itu lupa membuatkan sarapan untuknya. Jadi sebagai gantinya, ia harus menyiksa adik tirinya itu sampai ia merasa kenyang.

Setelah lelah menyiksa Sahyun, lelaki itu meninggalkannya begitu saja di dalam kamar mandi dan entah melangkah pergi ke mana, Sahyun pun tidak peduli.

“Ayah… Ibu… cepatlah pulang, Sahyun takut.”

Sahyun meringkuk di pinggir bath tub, memeluk lututnya, kedinginan. Bibirnya membiru, airmata mengalir di pipinya yang memang sudah basah setelah dipaksa masuk ke dalam air berkali-kali.

“Baekhyun OppaOppa… Baekhyun Oppa…” lirih Sahyun dengan airmata berlinang.

“Sahyun ingin kembali memanggil Baekhyun Oppa dengan panggilan Oppa. Sahyun rindu Oppa…”

.

.

.

Seoul, May 6th, 2001.

Baekhyun kecil sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 9 tahun tepat di hari ini. tidak ada yang datang, karena memang ia tidak mengundang siapapun ke pesta ulang tahunnya. Hanya ada ibunya yang setia menemaninya di sampingnya hingga sang ayah yang sedaritadi ditunggunya datang bersama seorang bibi membawa gadis manis berusia 5 tahunan.

Oppa, ini untukmu…” gadis manis itu memberi Baekhyun boneka kesayangannya, teddy bear.

“Namaku Sahyun, Byun Sahyun.”

“Byun… Sahyun? Ternyata kita memiliki marga yang sama. Namaku Byun Baekhyun.”

Lelaki kecil itu awalnya tak tahu apa-apa, hingga suatu saat masih di hari ulang tahunnya ia tahu ayahnya sudah menikah dengan wanita lain dan gadis manis itu adalah putri ayahnya bersama wanita lain. Sungguh, hari itu, ayahnya membawakan hadiah yang takkan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya. Luka.

“Ayah! Sahyun ingin membeli boneka baru!”

“Ayah?” gumam Baekhyun menatap nanar Sahyun kecil yang mendekati ayahnya dengan sangat manja, airmatanya jatuh tak tertahan. Ia berlari menuju kamar ibunya sambil menangis, sang ibu yang mengerti hanya bisa mengelus punggung anak semata wayangnya itu penuh kasih sayang.

Gwenchana, Baekhyun-ah. Semua akan baik-baik saja. Ayah hanya menambah keluarga baru untuk meramaikan suasana di keluarga kita.” Ucap ibu kandung Baekhyun, berusaha menenangkan Baekhyun yang terus menangis.

“Aku tidak suka! Aku tidak mau, Ibu! Aku hanya menyukai keluarga kita! Ayah, Ibu, dan Aku saja sudah cukup! Aku tidak mau ada orang lain lagi di keluarga kita, Ibu!” tangis Baekhyun pecah.

.

.

.

Lelaki itu terlihat sedang meneguk secangkir soju di sebuah warung pinggir jalan, wajahnya sudah memerah padam karena terlalu banyak minum. Bayangan menyakitkan itu seolah tak pernah hilang dari ingatannya. Semakin ia mengingat kenangan itu, semakin dalam pula rasa bencinya pada Sahyun tertanam.

Baekhyun beranjak pergi dari warung itu dengan langkah oleng, ia benar-benar mabuk berat. Untung saja, warung tadi terletak tak jauh dari rumahnya, sehingga ia tidak perlu repot-repot berurusan dengan polisi karena berkendara dalam keadaan mabuk.

Brak! Brak! Brak!

Baekhyun menggedor-gedor pintu rumahnya itu dengan tak sabar. Suara sahutan gadis yang sangat dibencinya itu terdengar begitu jelas, membangkitkan amarah tersendiri dalam dirinya.

“Yak! Apa kau tuli? Cepat buka pintunya!” teriak Baekhyun.

Tak lama, pintu itu pun terbuka. Memperlihatkan Sahyun yang tengah sibuk merapikan pakaian yang sepertinya baru saja ia kenakan. Baekhyun melangkah masuk, sementara Sahyun kembali menutup pintu.

“Tuan… mabuk?” tanya Sahyun yang mencium bau tak sedap khas alkohol saat Baekhyun melangkah mendekatinya.

Lelaki yang sejak pertama kali melihat Sahyun membukakan pintu sambil merapikan pakaiannya sudah menahan nafsunya itu kini semakin tergoda, gadis itu baru saja mandi sepertinya. Wangi tubuhnya membuat gairah Baekhyun seketika bangkit, lelaki itu menyeringai, seperti binatang buas yang sudah menanti-nanti mangsanya masuk ke dalam perangkap.

“Tu-tuan… apa yanghhmp…”

Baekhyun mengunci mulut Sahyun sebelum gadis itu menyelesaikan kata-katanya.

Tubuh Sahyun terhentak-hentak ketika Baekhyun yang berada dalam pengaruh alkohol itu terus menggagahinya. Sahyun sudah berusaha menolak, tapi tentu saja usahanya itu sia-sia. Baekhyun tidak mau mendengarkannya dan terus saja memperkosanya tanpa belas kasih.

Perbuatan bejat Baekhyun itu sama sekali tak membuatnya terhipnotis dan menikmati permainan, ia hanya terus menangis saat setiap inchi tubuhnya terus dijamah oleh kakaknya sendiri.

Tubuh mereka yang telanjang benar-benar menjijikkan, pikir Sahyun. Tidak ada yang lebih baik selain memejamkan mata dan menahan setiap desahan menjijikkan yang setiap saat bisa saja lolos dari mulutnya karena kenikmatan yang terus Baekhyun berikan pada seluruh tubuhnya. Ia membenci ini. melakukan hubungan seks dengan saudara tirinya tanpa cinta sedikitpun, ia sungguh-sungguh membenci ini.

Setelah menghangatkan rahim Sahyun dengan berjuta-juta sel sperma, Baekhyun ambruk di atas tubuh adiknya yang sudah lebih dulu tak sadarkan diri karena telah melewati permainan Baekhyun yang lebih dari 9 ronde.

Baekhyun memang kuat dalam urusan ranjang, tak aneh bila banyak wanita di kampusnya berlomba-lomba ingin menjadi partner seks Baekhyun. ya, sekedar partner seks.

.

.

.

“Sahyun-ah, kau baik-baik saja, Sayang?” tanya sang ibu khawatir saat menyadari wajah anaknya yang pucat dan terlihat tak nafsu makan. Padahal ibunya sengaja mampir ke kedai langganan mereka setelah baru saja sampai di Korea hanya untuk membelikan makanan kesukaan putri satu-satunya itu, sup ayam hitam.

Saat ini, Sahyun dan Baekhyun sedang makan siang bersama orang tua mereka yang baru saja pulang dari Amerika.

Sahyun tidak menjawab, entah ia mendengar pertanyaan ibunya atau tidak.

“Kau sakit?” kini giliran ayahnya yang terlihat khawatir, sementara itu Baekhyun tampak tak perduli.

BRUK!

“Sahyun-ah!”

Baekhyun menepuk-nepuk pipi adiknya, tapi adiknya itu tak kunjung membuka mata. Tanpa berlama-lama lagi, Baekhyun langsung mengangkat tubuh Sahyun dan membawanya ke rumah sakit.

.

.

.

“DASAR ANAK TIDAK TAHU DIUNTUNG!”

PLAK! Tamparan keras dari sang ayah mampu membuat Sahyun jatuh tersungkur.

Baru saja, baru saja Sahyun tersadar dari pingsannya, ayahnya sudah terlihat berapi-api, ibunya menangis tersedu, sedangkan Baekhyun menarik sudut kiri bibirnya, puas.

Sahyun hamil, begitulah isi dari hasil tes yang dibacakan dokter beberapa saat yang lalu.

“KAU BENAR-BENAR MEMALUKAN!”

“KATAKAN! CEPAT KATAKAN SIAPA AYAH DARI BAYI ITU!”

Sahyun menatap Baekhyun dan memejamkan matanya kuat-kuat, airmatanya menetes.

“Baekhyun Oppa.”

Mata Baekhyun membulat sempurna, reaksinya sama dengan reaksi ayahnya dan ibu Sahyun.

Mwo? Setelah hamil di luar nikah dan merusak nama baik keluarga, sekarang kau menuduhku?!”

“DASAR TIDAK TAHU MALU! JANGAN PERNAH KEMBALI KE RUMAH DAN MENGAKU SEBAGAI ANAKKU SEBELUM KAU MEMBAWA AYAH BAYI ITU KE HADAPANKU ATAU SEBELUM KAU MEMUSNAHKANNYA DARI DUNIA INI! KAU MENGERTI?!” bentak ayahnya sebelum akhirnya menarik paksa ibunya untuk meninggalkan rumah sakit yang sudah terasa seperti neraka itu.

Baekhyun melangkah mendekati Sahyun yang masih menangis tertunduk. Tangannya ia gunakan untuk menjambak rambut adiknya hingga adiknya terpaksa mendongakkan kepalanya dan menatap Baekhyun.

“Aku tidak akan semudah itu melepaskanmu, Sahyun-ah.”

“Kenapa Tuan tidak langsung saja menghabisiku waktu itu? sehingga aku tidak harus repot-repot mengandung janin yang ayahnya saja tidak mau mengakuinya.” Ucap Sahyun tersedu-sedu dengan bahu bergetar.

“Ayah? Kau berharap aku menjadi ayah dari bayi itu? ayolah Sahyun, itu tidak mungkin! Tidak akan pernah terjadi!” Baekhyun melepaskan jambakannya dan merapikan kembali baju yang dikenakannya.

“Sebelum aku pergi, haruskah aku berbaik hati mengingatkanmu tentang perkataan ayahku tadi?”

Sahyun tidak menjawab, Baekhyun tersenyum merasa terhinakan.

“Jangan pernah kembali ke rumah dan mengaku sebagai anak ayahku sebelum kau mendapatkan seseorang yang mau mengakui bayimu sebagai darah dagingnya, atau kalau kau tidak bisa, kau boleh kembali ke rumah setelah kau berhasil melenyapkan bayi itu!”

BRAK!

Pintu kamar rumah sakit itu tertutup diiringi suara yang keras karena Baekhyun berhasil membantingnya.

Sekarang, Sahyun tak tahu harus berbuat apa dan pergi ke mana. Ayahnya sudah secara terang-terangan mengusirnya, ibunya juga sepertinya sangat terpukul mengetahui putri yang selalu dibanggakannya kini menjadi seperti ini. Baekhyun? tidak ada yang bisa ia harapkan lagi dari kakak tirinya yang kini merangkap sebagai ayah dari janin yang dikandungnya itu.

Lalu, ke mana ia harus pergi? ia tidak memiliki satu pun teman di luar sana mengingat dirinya selama ini hanya melakukan homeschooling dan baru akan masuk universitas yang sama dengan Baekhyun 4 bulan lagi jika kejadian seperti ini tidak terjadi.

.

.

.

“Masuk!” Baekhyun menyeret paksa Sahyun untuk masuk ke dalam mobilnya, sementara Sahyun yang tak memiliki daya apapun hanya bisa menuruti perintah kakaknya itu.

“Tuan akan membawaku ke mana? Apa Tuan akan membunuhku dan membuang mayatku ke tempat terpencil?” tanya Sahyun yang menerawang, pandangannya ia luruskan ke depan, tak ingin melihat wajah ayah dari bayinya itu.

Baekhyun tertawa, Sahyun ternyata benar-benar bodoh.

“Kau berharap begitu? Tapi rupanya kau harus kecewa, Sahyun-ah.” Lelaki itu mengelus rambut Sahyun tanpa mengalihkan pandangannya yang sedang fokus menyetir.

“Aku tidak akan secepat itu membiarkanmu mati. Aku akan membuat kematianmu terasa lebih menyakitkan… karena kau tahu? Tujuan hidupku sejak saat kau merusak keluargaku tak lain adalah membuatmu menderita.”

Jantung Sahyun berdetak lebih cepat sesaat setelah ia menyadari Baekhyun kembali membawanya ke rumah ayah mereka. Untuk apa? Untuk apa Baekhyun membawanya ke rumah ini? apa yang sebenarnya sedang Baekhyun rencanakan?

“Yak! Byun Baekhyun! untuk apa kau membawa anak tidak tahu diri ini kembali?!” bentak sang ayah ketika melihat Baekhyun pulang dengan menggenggam erat tangan Sahyun.

“PERGI! PERGI KAU SEKARANG JUGA! AKU TIDAK INGIN MELIHATMU LAGI!”

“HENTIKAN, AYAH!” Baekhyun berusaha melindungi Sahyun ketika sekali lagi pukulan tangan sang ayah siap menjatuhkan tubuh lemah Sahyun ke lantai.

“APA YANG KAU LAKUKAN?!”

Baekhyun menunduk, perlahan lelaki itu berlutut di hadapan sang ayah.

“Untuk sekali ini saja… tolong maafkan Sahyun, Ayah.”

Sahyun memandang Baekhyun tak percaya.

“Aku tahu aku begitu lancang berani melawan kata-katamu, tapi aku sangat menyayangi adikku, Ayah. Aku tak bisa membiarkannya terluka sendirian.”

Jari telunjuk pria paruh baya itu mengacung secara horizontal ke arah putrinya, memandang benci putrinya yang telah menghinakan harga dirinya sebagai seorang ayah.

“Kau membelanya bahkan setelah dia menuduhmu yang tidak-tidak?!”

Baekhyun menghela nafasnya, ia lalu memberanikan diri untuk menatap mata ayahnya.

“Ijinkan aku bertanggung jawab atas apa yang terjadi padanya, Ayah.”

Oppa….” Mata gadis itu berbinar, bahagia mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Baekhyun sendiri.

“Aku akan menikahinya dan menjadi ayah pengganti untuk bayi itu.”

.

.

.

Mimpi. Hidup bahagia bersama Baekhyun ternyata hanya ada di dalam mimpi Sahyun. Kebahagiaan yang ia harapkan itu nyatanya tak pernah terjadi dalam kehidupan nyata. Menikah dengan kakak tirinya sendiri, tinggal berjauhan dengan orang tuanya di rumah barunya bersama Baekhyun ternyata hanya membuat penderitaan yang dirasakan Sahyun semakin menjadi.

Sahyun selalu mengalami mual terlebih saat ia melihat makanan-makanan tertentu dan mencium wangi parfum Baekhyun. Lelaki itu benar-benar merasa terhinakan, tak mengerti kondisi kandungan ‘istrinya’ yang baru menginjak bulan ke-4. Akibatnya, Sahyun dipaksa untuk menemaninya saat memakan makanan yang membuat wanita hamil itu semakin tersiksa.

Baekhyun mengikat tangan  dan kaki Sahyun kuat-kuat ke kursi makan yang wanita itu duduki. Sahyun meronta, namun apa daya, Baekhyun selalu menang.

Oppah… aku mohon hentikan… aku benar-benar mual.” Sahyun menitikkan airmatanya, menandakan ia benar-benar tak kuat melihat makanan yang menurutnya ‘menjijikan’ disantap dengan lahap oleh sang ‘suami’.

“Kau ingin mencobanya? Selagi aku sedang berbaik hati, aku akan menyuapimu juga.” Baekhyun terus memaksa memasukkan makanan tersebut ke mulut Sahyun, Sahyun menutup mulutnya rapat-rapat hingga gerakan kepalanya  tak sengaja menjatuhkan makanan itu ke lantai.

PLAK!

Tamparan keras kembali membuat pipi Sahyun memerah, perih. Tangan lelaki itu dengan kasarnya menjambak rambut Sahyun kuat hingga merintih kesakitan.

“Jangan pernah berharap aku akan memberimu makanan yang kau suka! Kau tahu? Melihatmu tersiksa adalah kebahagiaanku, mendengar rintih kesakitanmu adalah senandung termerdu dalam hidupku, dan kematianmu nanti…. adalah upacara perayaan terbesar yang akan membuat kebahagiaanku terasa sempurna.” Kata-kata jahat itu… jelas, Sahyun tidak sedikitpun salah mendengarnya.

.

.

.

Ada saatnya lelaki yang selalu menyiksanya itu jatuh sakit. Tubuhnya demam dan tak mampu menopang dirinya sendiri dengan kedua kakinya yang selalu terlihat gemetar. Sedangkan wanita itu, wanita itu dengan penuh tanggung jawab merawatnya tanpa memikirkan sedikitpun luka yang selalu dibuat Baekhyun dalam hatinya selama ini.

Dengan langkahnya yang berat, Sahyun berjalan perlahan dari kamar mandi dengan membawa kompresan baru untuk mengganti kompresan Baekhyun yang sebelumnya. Perutnya yang sudah terlihat lebih besar itu memang sedikit membuatnya kesulitan untuk melakukan aktifitas.

Oppa… cepatlah sembuh. Melihatmu terbaring tak berdaya seperti ini ternyata lebih membuatku merasa sakit daripada mendengar kata-kata kasarmu dan mendapat banyak luka karena siksaanmu. Melihatmu seperti ini ternyata lebih membuatku terluka… cepatlah sembuh.” Untuk pertama kali dalam hidupnya, Sahyun mengecup kening hangat lelaki itu tanpa membuat lelaki itu terbangun dari istirahatnya. Dan untuk pertama kalinya pula, Baekhyun tak membalas perlakuan lancang Sahyun dengan berbagai macam siksaan.

Sahyun tak beranjak sedikitpun, ia terus terjaga di samping Baekhyun yang terlelap. Tangannya mengelus lembut perut besarnya, di mana buah hatinya bersama Baekhyun hidup selama 7 bulan ini di dalam sana, di dalam rahimnya.

Aegiya, doakan ayahmu juga agar ia cepat sembuh. Kau tidak perlu takut pada ayahmu karena sebenarnya dia adalah orang yang sangat baik. Ibu percaya, suatu saat nanti ayahmu pasti akan menerima kehadiranmu dengan baik, dia akan menyayangimu sepenuh hatinya, dan akan rela mengorbankan apapun demi kebahagiaanmu. Jadi, kau harus tetap sehat apapun yang terjadi, kau mengerti, aegi?”

Oppa… aku mencintaimu.”

.

.

.

Seoul, May 6th, 2007.

“Apa yang sedang kau gambar, sayang?” tanya sang ibu pada Sahyun yang saat itu masih berumur 11 tahun.

Sahyun cepat-cepat menyembunyikan kertas gambarnya di balik punggungnya, tak membiarkan sang ibu melihat hasil gambarannya.

“Aiii, waeyo? Ibu tidak boleh melihatnya eoh? Sahyun jahat sekali.”

Sahyun yang melihat perubahan raut wajah ibunya itu dengan mudahnya luluh, ia lalu memperlihatkan hasil gambarannya yang sudah ia gambar sejak beberapa hari yang lalu itu. Gambar Sahyun memperlihatkan seorang lelaki dan perempuan yang terlihat sangat bahagia di hari pernikahan mereka, tentunya dengan gambaran khas anak-anak.

“Siapa ini?”

“Itu Sahyun dan Baekhyun Oppa, Ibu. Sahyun akan memberikannya pada Baekhyun Oppa hari ini.” Jawab gadis belia itu polos.

Mwo? Jadi setelah dewasa nanti, Sahyun ingin menikah dengan Baekhyun Oppa?”

Gadis itu mengangguk semangat, “Sahyun ingin selalu bersama Baekhyun Oppa, Sahyun ingin menjadi istri yang baik bagi Baekhyun Oppa, dan Sahyun ingin menjadi satu-satunya wanita yang paling berharga di hidup Baekhyun Oppa, Ibu.”

Sang ibu tertawa karena menganggap ucapan putrinya hanya ucapan anak-anak biasa seperti halnya anak-anak ketika ditanya tentang cita-citanya di masa depan. Tapi sang ibu tak pernah menyadari, bahwa ternyata cinta yang putrinya rasakan pada kakak tirinya itu benar-benar telah tumbuh sejak lama dan semakin lama semakin dalam.

.

.

.

“Ibu? Ayah?”

Baekhyun yang saat itu sedang bersantai di sofa langsung terperanjat merapikan dirinya setelah mendengar tamu yang menekan bel rumah mereka adalah orang tua mereka. Sahyun mempersilakan orang tua mereka masuk sambil berusaha menutupi luka di pelipisnya akibat terbentur dinding saat Baekhyun menyiksanya tadi.

“Kau terluka, sayang?!” Ibu Sahyun panik saat melihat darah mengalir dari pelipis putrinya.

“Kau benar-benar terluka? Bukankah sudah kubilang untuk hati-hati?” Baekhyun menghampiri Sahyun, menyuruh istrinya itu untuk duduk. Lelaki itu lalu berlari mengambil kotak P3K dan kembali menghampiri sang istri.

Ayah Baekhyun tersenyum melihat perubahan sikap anaknya setelah menikah dengan saudara tirinya sendiri itu. Baekhyun menjadi lebih dewasa dari sebelumnya dan sangat bertanggung jawab, pikir Ayah Baekhyun.

“Lihat, sayang? Mereka baik-baik saja. tidak ada yang perlu kita khawatirkan.”

Sayang? Baekhyun memaksakan senyumannya di hadapan Sahyun yang terus menatapnya.

Lelaki itu mulai mengobati Sahyun dengan sangat lembut. Batin Sahyun menangis, andai saja ia bisa menghentikan waktu sekarang juga, ia mungkin bisa merasakan kelembutan yang diberikan Baekhyun sedikit lebih lama. Seandainya saja.

“Ayah, apa kalian akan menginap di rumah kami?” tanya Baekhyun setelah selesai mengobati luka istrinya.

“Tentu, kalian tidak keberatan bukan?”

“Tentu saja kami tidak keberatan, Ayah. Kami malah senang kalian mau mengunjungi kami lagi setelah upacara pernikahan kami setengah tahun yang lalu.” Baekhyun mendekatkan jarak antara dirinya dan Sahyun dengan pelukan dari samping. Aktingnya benar-benar bagus hingga sang ayah dan ibu Sahyun tak menaruh curiga sedikitpun. Mungkin jika Baekhyun benar-benar berprofesi sebagai aktor, ia akan mendapat banyak penghargaan karena aktingnya yang luar biasa itu.

.

.

.

Sahyun membuka pintu lemari pendingin yang ada di dapur minimalisnya untuk mengambil jus jeruk untuk orang tuanya yang sedang beristirahat di kamar tamu. Hanya ada seberkas cahaya yang tak terlalu terang menerangi penglihatannya di dapur. Dari balik cahaya remang-remang itu, Baekhyun datang menghampirinya dan menatapnya tajam.

“Awas saja kalau kau berani mengadu pada ayahku, aku takkan segan-segan memberimu pelajaran.” Bisik Baekhyun yang membuat Sahyun bergidik takut.

Letak dapur mereka yang langsung menghadap ke ruang tamu membuat kedua mata Baekhyun dapat dengan mudah menangkap bayangan sang ayah yang keluar dari kamar tamu lewat cermin yang tertempel di dinding ruang tamu mereka. Baekhyun lantas menarik tengkuk Sahyun dan mencium bibir adik tirinya itu lembut. Sahyun jelas terkejut, namun tangannya dengan reflek melingkar di leher Baekhyun.

“Tuhan… tolong bantu aku menghentikan waktu sekarang juga. Kumohon.” Pinta Sahyun dalam hatinya. Matanya yang terpejam menjadi basah oleh airmata.

Baekhyun memperdalam ciumannya di bibir Sahyun, tangan Sahyun meremas kemeja putih bagian dada Baekhyun.

“Tetaplah seperti ini…. jangan berubah. Aku ingin kau yang seperti ini, Oppa…” rintih lirih Sahyun dalam hatinya. Batinnya benar-benar bahagia, namun setelah menyadari jika semua ini hanyalah bagian dari kepura-puraan, batinnya kembali merasakan kesakitan yang teramat dalam.

Ayah Baekhyun yang melihat kemesraan anak-anaknya hanya bisa tersenyum tanpa ada sedikitpun niat untuk mengganggu kemesraan itu. Ayah Baekhyun berbalik, kembali masuk ke dalam kamarnya.

Lelaki berkemeja putih dan menggulung sedikit lengannya sampai siku itu melepaskan ciumannya ketika menyadari sang ayah telah kembali masuk ke kamarnya. Lelaki itu berbalik dan hendak berlalu meninggalkan Sahyun, namun Sahyun menahan langkahnya dengan menarik kemeja bagian belakang yang ia kenakan.

“Terimakasih… terimakasih telah membuatku merasa sangat bahagia. Meski ciuman tadi tak berarti apa-apa bagimu, ciuman itu takkan pernah kulupakan sampai kapanpun.”

Baekhyun melanjutkan langkahnya, meninggalkan Sahyun.

“Terimakasih untuk 60 detik yang terasa seperti 60 tahun itu, Baekhyun Oppa.” ucap Sahyun yang tersenyum dalam tangisnya.

.

.

.

Wanita dengan perut yang sudah sangat besar itu berjalan perlahan ke arah pintu rumahnya sesaat setelah mendengar pintu rumahnya itu diketuk dengan tak sabar dari luar. Itu pasti Baekhyun. Senyumannya terukir begitu saja di bibirnya.

Namun, senyuman wanita itu harus pudar dalam beberapa saat ketika ia mendapati Baekhyun pulang dengan menggandeng mesra wanita lain yang jelas lebih seksi dan lebih cantik ketimbang dirinya. Baekhyun lagi-lagi mabuk, tapi ini adalah kali pertama Baekhyun membawa wanita lain ke rumah mereka selama 8 bulan usia pernikahan mereka.

Oppa… wanita itu siapa?” tanya wanita yang digandeng Baekhyun masuk ke dalam rumah setelah melihat Sahyun berdiri mematung dan terus menatap ke arah mereka.

“Wanita itu? Ah! Tidak usah pedulikan dia, dia hanya adik tiriku yang sangat kubenci.”

Sakit, hati Sahyun seperti teriris perlahan-lahan.

“Tapi dia sedang hamil, apa kau yang menghamilinya?”

Baekhyun tertawa garing, pertanyaan itu seperti sangat lucu baginya. “Tentu saja bukan! Kau tahu sendiri aku paling tidak bisa meniduri wanita yang tidak kucintai.”

“Pergi! Kumohon pergilah! Pergi sekarang juga!” Sahyun menarik-narik tangan wanita yang dibawa Baekhyun itu untuk keluar dari rumahnya. Wanita itu pun pergi.

“APA YANG TELAH KAU LAKUKAN HUH?!” PLAK! Baekhyun menampar keras pipi Sahyun hingga sudut bibir Sahyun berdarah.

Geurae, kau boleh menyiksaku sepuas hatimu. Tapi, tak bisakah kau mengakui keberadaan kami? Keberadaanku sebagai istrimu dan keberadaan bayi ini sebagai darah dagingmu, tak bisakah kau?” airmata Sahyun menetes tanpa henti. Matanya menatap mata Baekhyun dalam-dalam.

Baekhyun balik menatap Sahyun, tatapannya benar-benar menyeramkan.

“Teruslah bermimpi, Sahyun-ah!” bisik lelaki itu. lelaki itu hendak pergi mengejar wanitanya, namun tangan Sahyun mencegahnya. Baekhyun yang sedang emosi akhirnya mendorong tubuh Sahyun hingga jatuh tersungkur ke lantai.  Tanpa mempedulikan tangisan  dan rintihan Sahyun, lelaki itu pun pergi mengejar wanitanya.

“Sera-ya!” panggil Baekhyun pada wanita cantik bertubuh tinggi langsing dan berkaki jenjang yang tadi sempat ia ajak ke rumahnya dan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Sahyun.

Wanita bernama Sera itu berbalik dan memandangi Baekhyun yang ngos-ngosan karena berlari mengejarnya. Ia tertawa kecil.

“Kau benar-benar mengejarku?”

“Tentu saja. Aku minta maaf karena adik tiriku dengan tidak sopannya mengusirmu.”

Aniyo, gwenchanayo. Aku yang seharusnya minta maaf karena mengganggu hubungan kalian.” Ucap Sera tersenyum. Dahi Baekhyun mengkerut, bingung.

“Aku tahu kalau wanita itu ternyata adalah istrimu, aku melihat foto bahagia kalian saat menikah di balik pintu. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika suatu saat nanti suamiku membawa wanita lain ke rumah kami.”

“Tapi aku tidak mencintainya, Sera-ya.”

Ani. Kau mencintainya, Oppa. Bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku kalau kau tidak mungkin meniduri wanita yang tidak kau cintai? Buktinya, istrimu sedang hamil besar sekarang. Lalu apa artinya itu?”

“Oppa… cepatlah sembuh. Melihatmu terbaring tak berdaya seperti ini ternyata lebih membuatku merasa sakit daripada mendengar kata-kata kasarmu dan mendapat banyak luka karena siksaanmu. Melihatmu seperti ini ternyata lebih membuatku terluka… cepatlah sembuh.”

“Aegi-ya, doakan ayahmu juga agar ia cepat sembuh. Kau tidak perlu takut pada ayahmu karena sebenarnya dia adalah orang yang sangat baik. Ibu percaya, suatu saat nanti ayahmu pasti akan menerima kehadiranmu dengan baik, dia akan menyayangimu sepenuh hatinya, dan akan rela mengorbankan apapun demi kebahagiaanmu. Jadi, kau harus tetap sehat apapun yang terjadi, kau mengerti, aegi?”

“Oppa… aku mencintaimu.”

“Terimakasih… terimakasih telah membuatku merasa sangat bahagia. Meski ciuman tadi tak berarti apa-apa bagimu, ciuman itu takkan pernah kulupakan sampai kapanpun.”

Baekhyun terdiam, kata-kata Sera telah mengetuk pintu hatinya.

“Aku mencintainya….”

Suara sirine ambulan terdengar jelas di telinga Baekhyun. Ambulan itu melewatinya dan melaju menuju jalan rumahnya. Ia mulai tak enak hati. Baekhyun memutar balik arahnya, berlari meninggalkan Sera untuk menemui istrinya, wanita yang ia cintai, adik tirinya sendiri, Byun Sahyun. Namun firasat buruknya itu berkata benar, ambulan yang tadi lewat di depannya benar-benar berhenti di depan rumahnya. Sahyun yang terlihat kesakitan terus mengerat perutnya, wanita itu digotong petugas medis ke dalam ambulan.

“Sahyun-ah! Sahyun-ah!”

“Saya suaminya!” ucap Baekhyun ketika salah seorang petugas medis mencegahnya untuk masuk ke dalam ambulan. Akhirnya, Baekhyun ikut masuk untuk menemani Sahyun.

Saat tangan Baekhyun hendak menggenggam tangan Sahyun, Sahyun menepisnya dengan airmata yang berlinangan.

“Ada apa denganmu, Sahyun-ah?” Baekhyun menatap Sahyun tak percaya.

“Untuk apa kau kembali? Ahh… kehnapa kau thidak pergi saja bersama wanita itu?! kenapa kau harus kembali?!” teriak Sahyun disela-sela kesakitannya. Hatinya benar-benar sakit saat Baekhyun lebih memilih untuk mengejar wanita lain daripada bertahan di sisinya.

“Pergi! Pergilah bersama wanita itu! Aku tidak ingin melihatmu!” Sahyun terus menepis tangan Baekhyun yang ingin menyentuhnya. Namun lelaki itu kini tak mau lagi melepaskan genggaman tangannya pada tangan sang istri. Ia tidak ingin bertindak bodoh lagi untuk kesekian kalinya.

“Dengarkan aku, Sahyun-ah! Aku mencintaimu! Aku benar-benar mencintaimu!”

Sahyun terdiam di tengah kontraksi yang terus mendera perutnya. Baru saja, ia mendengar kata-kata yang sudah sejak lama ingin sekali ia dengar langsung dari mulut Byun Baekhyun.  Baekhyun, mencintainya.

Pandangan Sahyun memburam, dan tak lama semuanya pun berubah menjadi gelap. Saat itu pula, Sahyun yakin, Baekhyun yang mencintainya, hanyalah bagian dari mimpinya selama ini. Semua itu, hanyalah mimpi yang tak berarti.

.

.

.

“Baekhyun-ah! Sahyun melarikan diri ke atap rumah sakit!”

Mwo?!” lelaki itu terkejut saat ibu Sahyun menangis khawatir dan berkata istrinya pergi ke atap rumah sakit. Mungkin pernyataan dari dokterlah yang membuat istrinya tak bisa menerima kenyataan pahit kalau bayi mereka tidak bisa diselamatkan.

Baekhyun berlari menaiki tangga menuju atap rumah sakit secepat yang ia bisa. Di atap, ia mendapati beberapa petugas keamanan dan petugas medis serta sang ayah mencoba menenangkan Sahyun yang hendak bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari lantai teratas gedung rumah sakit itu.

“Sahyun-ah!”

“JANGAN MENDEKAT!” Sahyun terus menodongkan pisau yang ia ambil dari seorang suster yang sedang membereskan peralatan-peralatan bekas operasi pasien. Wanita itu menodongkan pisaunya kepada siapapun yang mencoba mendekatinya.

“Sahyun-ah, kumohon jangan seperti ini!”

Mata basah Sahyun seketika tertuju pada asal suara, itu Baekhyun.  Ingatannya memutar kembali memori tentang bagaimana Baekhyun yang teramat sangat membencinya itu terus menyiksanya, memperkosanya, bahkan menikahinya tanpa cinta sedikitpun.

“Oppa? Tidak sudi aku menjadi kakakmu! Kau bukan adikku!”

“Hei, ingatlah… kau hanya anak seorang pelacur. Ibuku bukan seorang pelacur, jadi aku bukanlah kakakmu! Kau harus mengerti itu, Sahyun-ah…”

….

BLURP!

“Ahh! Tuan, aku minta maaf!”

BLURP!

“Ahkuhh… sungguh minta ma…”

BLURP!

“Ayah… Ibu… cepatlah pulang, Sahyun takut.”

….

“Mwo? Setelah hamil di luar nikah dan merusak nama baik keluarga, sekarang kau menuduhku?!”

“DASAR TIDAK TAHU MALU! JANGAN PERNAH KEMBALI KE RUMAH DAN MENGAKU SEBAGAI ANAKKU SEBELUM KAU MEMBAWA AYAH BAYI ITU KE HADAPANKU ATAU SEBELUM KAU MEMUSNAHKANNYA DARI DUNIA INI! KAU MENGERTI?!”

….

“Ayah? Kau berharap aku menjadi ayah dari bayi itu? ayolah Sahyun, itu tidak mungkin! Tidak akan pernah terjadi!”

….

“Aku tidak akan secepat itu membiarkanmu mati. Aku akan membuat kematianmu terasa lebih menyakitkan… karena kau tahu? Tujuan hidupku sejak saat kau merusak keluargaku tak lain adalah membuatmu menderita.”

….

“Ijinkan aku bertanggung jawab atas apa yang terjadi padanya, Ayah.”

“Aku akan menikahinya dan menjadi ayah pengganti untuk bayi itu.”

….

“Jangan pernah berharap aku akan memberimu makanan yang kau suka! Kau tahu? Melihatmu tersiksa adalah kebahagiaanku, mendengar rintih kesakitanmu adalah senandung termerdu dalam hidupku, dan kematianmu nanti…. adalah upacara perayaan terbesar yang akan membuat kebahagiaanku terasa sempurna.”

….

“Awas saja kalau kau berani mengadu pada ayahku, aku takkan segan-segan memberimu pelajaran.”

….

“Wanita itu? Ah! Tidak usah pedulikan dia, dia hanya adik tiriku yang sangat kubenci.”

Oppa… apa kau sangat bahagia sekarang? Apa kau sangat bahagia karena berhasil membuatku merasa benar-benar hancur?” airmata Sahyun kembali berlinang, seketika itu pula, Baekhyun benar-benar merasa berdosa.

“KENAPA KAU TIDAK MEMBUNUHKU SAJA?! KENAPA HARUS ANAKKU?! KALAU KAU MEMBENCIKU, BUNUH SAJA AKU! JANGAN ANAKKU!” teriak Sahyun histeris.

“Aku tidak membunuhnya, Sahyun-ah.”

“KAU MEMBUNUHNYA! KAU MEMBUNUH ANAKKU! KAU MEMBUNUH DARAH DAGINGMU SENDIRI! KAU SEORANG PEMBUNUH!”

DEG!

Baekhyun menyentuh dadanya yang tiba-tiba terasa sakit dan semakin lama semakin menyakitkan. Pandangannya seketika buram, telinganya tak lagi mampu menangkap dengan jelas suara-suara di sekitarnya.

“BAEKHYUN-AH!”

Tubuh Sahyun gemetar saat melihat Baekhyun jatuh tak sadarkan diri. Kepalanya pusing. Tubuhnya yang sudah berada di ujung gedung itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan….

BRUK!

Sahyun tak ingat lagi apa yang terjadi padanya dan apa yang terjadi pada Baekhyun selanjutnya.

.

.

.

Oppa! Aku hamil!” Sahyun berlari ke arah Baekhyun dengan membawa sebuah test pack di tangannya. Test pack itu menunjukkan dua garis merah yang berarti Sahyun positif hamil. Lelaki itu menunjukkan binar bahagianya, ia lalu mengangkat tubuh istrinya dan berputar-putar menikmati kebahagiaan mereka atas kehadiran janin di dalam rahim Sahyun.

“Terimakasih, Sayang. Terimakasih untuk segalanya.” Ucap Baekhyun yang mempererat pelukannya di tubuh sang istri.

Ne, ne. Tapi jangan peluk aku terlalu erat, Oppa. Bayi kita bisa kehabisan nafas, haha.”

“Ah, arasseo, arasseo.”

Lelaki itu bertumpu pada kedua lutut kakinya, mensejajarkan wajahnya dengan perut datar Sahyun. Lalu mengajak janin dalam rahim Sahyun itu untuk berkomunikasi dengan dirinya sebagai ayah.

Mianhae, Aegiya. Cepatlah tumbuh dan lahir dari perut eomma eoh? Jangan terlalu membuat eomma mudah lelah, kau harus tumbuh sehat di dalam sana. Kau mengerti?”

Arasseoyo, Appa.” Balas Sahyun meniru suara anak kecil.

Sahyun menikmati masa-masa kehamilannya dengan penuh kebahagiaan.  Hal itu membuat pertumbuhan bayi dalam rahimnya menjadi sehat tanpa masalah apapun. Baekhyunlah sosok dibalik kebahagiaan Sahyun. Lelaki itu terus menemaninya bahkan hingga hari yang ditunggu-tunggu itu tiba.

“Sayang, lihatlah! Bayi kita lucu sekali. Dia seorang putri yang sangat cantik sepertimu. Hidungnya mirip denganku. Bagusnya kita berinama siapa ya?” Baekhyun begitu antusias saat melihat bayi perempuannya bersama Sahyun lahir dengan sehat.

Oppa! Kenapa kau hanya terus memperhatikan Hyunjung eoh? Aku juga butuh perhatianmu!” ucap Sahyun yang cemburu melihat perhatian Baekhyun pada putri mereka. Ia juga ingin mendapat perhatian seperti itu dari suaminya.

Baekhyun tertawa lalu mengusap lembut rambut sang istri sambil terus menggendong Hyunjung yang baru berusia 4 bulan.

“Lihatlah betapa manjanya ibumu, Hyunjung-ah.”

“Benar sekali, Appa! Eomma, kau memang benar-benar manja!” ucap Hyunjung meledek sang ibu yang ternyata masih memiliki sifat manjanya meski sekarang sudah mulai memasuki usia senja. Hyunjung saja sekarang sudah berkeluarga dan menjadi seorang ibu dari dua anak kembar laki-laki, itu berarti, sang ibu sudah mempunyai cucu dan berganti panggilan menjadi nenek, bukan?

Sahyun menjewer telinga Baekhyun dan Hyunjung, tak terima dibilang manja oleh kedua malaikat yang masih setia menemani hari tuanya. Baekhyun dan Hyunjung berteriak memohon ampun, tak kuat mendapat jeweran maut Sahyun.

Hyunjung hidup bersama keluarga kecilnya di luar negeri, meninggalkan Baekhyun dan Sahyun berdua saja di rumah menikmati masa-masa tua mereka. Senja saat itu mulai tenggelam, berganti jadwal dengan sang bulan yang bersiap menguasai malam. Tangan penuh kerut Baekhyun menggenggam tangan istrinya yang juga tak jauh berbeda itu. Mereka berdua duduk di kursi goyang mereka masing-masing, menghadap taman yang menampilkan sisa sinar sang senja. Mata tuanya menatap dalam seorang wanita tercantik yang pernah ia miliki selama 70 tahun hidupnya ini.

“Kau masih cantik saja.”

“Dasar gombal! Kenapa tidak sekalian saja kau mengatakan kalau kulit keriputku ini masih terlihat kencang?” omel Sahyun, dan Baekhyun hanya tertawa menyadari kalau istri yang sangat ia cintai itu semakin lama semakin cerewet dan semakin manja saja. Biarpun cerewet dan manja, tidak ada sedikitpun penyesalan dari seorang Byun Baekhyun karena telah menikahi Sahyun kurang lebih 50 tahun yang lalu. Baekhyun mencintai Sahyun, dan yang ia tahu, Sahyun pun begitu.

.

.

.

Bayangan penuh kebahagiaan itu terputar di otak Baekhyun. Ya, sakit memang ketika menyadari kebahagiaan itu hanya ada dalam bayangannya saja. Karena pada kenyataannya, Sahyun kini terbaring di dalam peti. Wajah cantik istrinya itu terlihat begitu pucat, namun dengan senyuman yang tak luput di bibirnya. Gaun pengantin yang 8 bulan lalu Sahyun kenakan dalam upacara pernikahannya bersama Baekhyun kini untuk terakhir kalinya ia kenakan kembali. Baekhyun memandangi istrinya itu persis seperti putri tidur yang ada dalam dongeng.

Dengan wajah pucat yang hampir sama, Baekhyun terus menitikkan airmatanya. Memandangi Sahyun untuk terakhir kalinya sebelum dikremasi. Baekhyun menatap nanar cincin pernikahan yang masih melingkar di jari manis istrinya, bahkan hingga detik terakhir Sahyun bernafas, Sahyun masih mencintainya.

Sahyun-ah… apa Tuhan benar-benar menghukumku? Apa ini hukuman yang diberikan Tuhan setelah apa yang selama ini kulakukan padamu? Aku memang seorang pembunuh, maafkan aku. Seandainya saja, aku bisa memutar kembali waktu, aku ingin mencintai dan menghabiskan sisa usiaku bersamamu. Aku ingin sekali mengembalikan senyumanmu seperti dulu saat kau tak mengerti apa-apa tentang keretakan keluargaku semenjak kau dan ibumu datang.

Jika Tuhan memberiku satu kesempatan lagi saja, aku takkan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku akan mencintaimu seumur hidupku. Aku takkan pernah sekalipun membiarkan airmatamu jatuh karena kebodohanku. Aku ingin selalu memberimu kebahagiaan, bukan penderitaan.

Maafkan aku, Sahyun-ah….

Sungguh aku benar-benar lelaki yang sangat bodoh karena terlambat menyadari bahwa kehadiranmu dalam hidupku sangatlah berarti. Aku benar-benar bodoh karena telah menyia-nyiakanmu yang selalu ada untuk mencintaiku. Aku bodoh, benar-benar bodoh. Aku telah kehilangan satu-satunya wanita yang setia mencintaiku, aku kehilangan seorang adik yang sejak kecil telah bermimpi hidup bahagia bersamaku, aku kehilanganmu….

Jangan pergi… jangan tinggalkan aku, Sahyun-ah… jangan berhenti…. jangan berhenti mencintaiku…. kumohon tetaplah tinggal… tinggallah di sisiku sampai akhir hayatku…. temani aku…. temani hari tuaku, Sahyun-ah….

Aku mencintaimu…. Aku mencintaimu…. Aku mencintaimu, Byun Sahyun!

 

-END-

Iklan

4 pemikiran pada “[EXO Fanfiction] My Stepsister

  1. Hahaha gilaaaaakkk konflik banget ayy, haha suka-suka aku suka sma jalan ceritanya, yaa walaupun incest aku suka deh aplgi ini complicated hehehe:D feelnya jgaa dapet, knpa gak Chanyeol Castnya? pdhal klau kekerasan aku lebih dpet banget feelnya klau sma Chan wkwk

    Suka

    • entahlah, kepikirannya sama si cabaek mulu :’v entah kenapa di mataku cabaek cocok banget meranin yg kayak gini :’v *menistakancabaek *babonim yg ternistakan
      terimakasih sudah meninggalkan jejak 🙂 *deepbow

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s