[EXO Fanfiction] FIREFLIES

―FIREFLIES―

fireflies2

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Cast : Xi Luhan as Luhan and Yangmi as Shim Yangmi

Genre : Romance, Sad.

Rated : T

Length : Oneshoot

Disclaimer : The casts belongs to God and their agency, I just own the plot. I suddenly love this couple after watching ‘The Witness’ chinese movie. I don’t care with their age, their citizenship, or their couple in real life, because it is just my imagination. I bring them to South Korea, yuhuuu :v

© AYUSHAFIRAA, 2016. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

 

Aku seperti kunang-kunang yang tak bisa terbang…

.

.

.

Di bawah langit yang dipenuhi bintang malam itu, Luhan berbaring di atas hamparan rumput disamping gadis yang selama 4 tahun ini menjadi gadis pujaannya. Mata gadis itu terpejam, merasakan lembutnya angin dingin yang menyapa kulit wajahnya. Luhan tersenyum memandangi gadisnya, Shim Yangmi adalah makhluk terindah yang pernah Tuhan ciptakan dalam hidupnya.

“Luhan-ah, apa kunang-kunangnya sudah muncul?” tanya gadis itu yang masih memejamkan mata.

“Belum, kau sudah tidak sabar rupanya.” Lelaki itu mencubit gemas pipi Yangmi.

Yangmi membuka matanya, menghela nafas berat sebelum akhirnya memilih untuk memeluk tubuh lelaki di sampingnya.

“Aku gadis yang aneh, bukan? Tidak bisa melihat tapi bersikeras ingin melihat indahnya kunang-kunang yang beterbangan di malam hari.”

“Apa yang kau bicarakan? Berhentilah berkata seperti itu. Kau tentu bisa melihat semuanya dengan hatimu.” ucap Luhan sembari mengelus rambut panjang Yangmi.

Jemari lentik gadis itu bergerak menyentuh wajah Luhan, entah sudah yang keberapa kalinya gadis itu melakukan hal yang sama. Luhan hanya diam, membiarkan gadis itu untuk bebas menyentuh bagian mana saja dari wajahnya.

“Aku saja tidak tahu kau ini tampan atau tidak.” Canda Yangmi.

“Yak! Aku ini lelaki tertampan yang pernah ada di bumi. Kau tidak akan menyesal jika suatu saat nanti dapat melihat wajahku.”

Pantulan sinar bulan di mata Yangmi meredup, sendu. “Bisakah aku?”

“Tentu saja! kau tidak percaya itu?” lelaki itu menatap gadis dalam pelukannya, ia jelas dapat menangkap sorot sendu di mata gadis itu.

“Ada apa? Apa yang sedang kau pikirkan?”

Gadis itu menggeleng, lalu mengukirkan sebuah senyuman di bibirnya.

“Luhan-ah… ada yang ingin kukatakan padamu.”

Luhan melepas pelukannya, “Aku juga, ada yang ingin kukatakan padamu dan ini sangat penting sekali!”

“Ah,“ Yangmi mengangguk. “Kalau begitu, kau duluan.”

Arasseo,” lelaki itu mengajak Yangmi untuk bangkit dari posisi tidur mereka, menuntun si gadis pujaan hati untuk duduk di bangku taman yang terasa dingin akibat udara malam yang semakin menusuk. Luhan merapatkan mantel yang dikenakan Yangmi.

“Tunggulah sebentar!” lanjut Luhan lalu meninggalkan Yangmi untuk sementara.

Ponsel dalam saku mantel gadis itu bergetar, meski tidak dapat melihat, gadis itu tahu kalau dirinya sedang mendapatkan sebuah panggilan yang entah dari nomor siapa.

Yeoboseyo?”

“…..”

Mimiknya berubah, semakin sendu namun tak dapat menitikkan airmata.

Geurae, arrayo. Ne, arasseoyo. Hati-hatilah.”

Yangmi menutup sambungan teleponnya. Tak lama, Luhan datang menghampiri Yangmi dengan sebuah ukulele di tangannya. Lelaki itu mulai bernyanyi, suaranya sangatlah merdu, lirik yang ia buat sendiri dengan hati tersampaikan langsung ke hati sang pujaan hati. (Backsound on : Luhan – Fireflies The Witness OST, english version lyrics)

Dark skies hang low

Stars shine above

Fireflies flying in the air

Who are you thinking of?

Stars in the sky are crying

Roses on the ground are withered

The cold wind blows, the cold wind blows

I only want you by my side

Fireflies fly, flowers are asleep

Everything is beautiful in pairs

Not afraid of the dark

Only afraid of heartbreak

No matter how weary i am

No matter where you are… (Backsound off)

Gadis itu tersenyum memahami arti lagu yang dinyanyikan Luhan, namun senyumannya seketika menghilang begitu saja saat ia merasa Luhan berlutut di hadapannya dan menggenggam erat kedua tangannya.

“Luhan-ah, apa yang kau lakukan?” tanya gadis itu.

Luhan tersenyum, menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa gugupnya.

“Shim Yangmi-ssi, saranghaeyo. Aku ingin kau menjadi orang pertama yang kulihat saat aku membuka mata di pagi hari, aku ingin kau menjadi satu-satunya wanita yang kuberi ciuman selamat malam di setiap malam yang kita lewati bersama ke depannya, aku ingin menjadi satu-satunya lelaki yang berani meminangmu dan menjadi lelaki paling beruntung karena memilikimu seumur hidupku. Menikahlah denganku, Yangmi-ya.”

Yangmi terdiam, bulir airmatanya perlahan jatuh membasahi pipinya. Bukan, ini bukan airmata bahagianya. Gadis itu lantas melepas genggaman tangan Luhan, lalu menggunakan kedua tangannya itu untuk menutupi wajahnya yang sudah basah oleh airmata. Yangmi terus menangis.

“Yangmi-ya, ada apa? Kau… kau mau menjadi istriku, bukan? Kau… kau tidak sedang menolak lamaranku, bukan?” tanya Luhan, berusaha berpikir jernih.

“Aku akan menikah, Luhan-ah.”

Kini giliran lelaki itu yang terdiam, mencoba mencerna satu persatu perkataan Yangmi.

“Aku akan menikah… tapi bukan bersamamu. Bukan kau yang akan melihatku pertama kali di pagi hari, bukan kau yang akan memberiku ciuman selamat malam di setiap malam yang kulewati. Bukan kau, Luhan-ah.” Ucap Yangmi lirih dalam tangisannya.

“Maafkan aku… maafkan aku yang telah tidak tahu dirinya menolak lamaranmu. Sungguh, aku ingin mengatakannya sejak lama, tapi aku tidak bisa. Aku seperti kunang-kunang yang tak bisa terbang, tapi kau selalu ada untuk membuatku tetap bercahaya. Mendengarmu menyanyikan sebuah lagu untukku dan tiba-tiba melamarku dengan begitu tulus, membuat hatiku benar-benar sakit. Aku takut, takut menjadi kunang-kunang yang tidak berdaya. Sungguh maafkan aku, Luhan-ah.”

Luhan tersenyum getir, tangannya yang gemetar ia gunakan untuk menarik Yangmi ke dalam pelukannya. Setidaknya, untuk yang terakhir kalinya sebelum Shim Yangmi benar-benar menjadi milik lelaki lain. Yangmi menangis di pelukan Luhan, sedang Luhan hanya bisa menenangkannya dengan elusan lembut di punggung dan kecupan ringan di puncak kepala gadis itu. Di saat yang sama, kunang-kunang beterbangan menerangi gelapnya malam Luhan dan Yangmi. Pemandangan kunang-kunang terakhir yang dapat Luhan saksikan bersama gadis yang pernah ia yakini akan menjadi takdirnya.

.

.

.

Luhan berjalan menyusuri taman tempat kenangannya bersama Yangmi tersimpan. 4 tahun yang lalu di taman itu, Luhan bertemu Yangmi yang menangis putus asa karena kebutaannya. Satu tahun mereka lalui bersama sebagai teman, tahun ke-2 mereka jalani sebagai sahabat, dan seterusnya… mungkin lebih dari itu. Mimpinya untuk membangun keluarga kecil yang bahagia bersama gadis itu sudah ia kubur dalam hatinya, biarlah hanya hatinya yang tahu, masih ada atau tidak rasa itu untuk Yangmi.

Tepat di hari ini, Yangmi pergi ke China untuk membangun keluarga kecil yang bahagia bersama lelaki lain. Meninggalkannya, bersama kenangan-kenangan manis yang tak ingin ia lupakan.

“Kunang-kunangku akhirnya bisa terbang menggapai impiannya, namun cahayanya tak dapat lagi menerangi malam-malamku.”

Lelaki itu mengambil ponsel pintarnya, hendak mendengarkan sebuah lagu yang pernah ia ciptakan untuk Yangmi. Namun matanya kemudian terpaku pada sebuah artikel yang muncul di layar pemberitahuan ponsel pintarnya. Dengan tak sabar, Luhan membuka dan membaca artikel berita yang baru diterbitkan beberapa menit yang lalu itu.

‘Sebuah pesawat penumpang yang terbang dari Korea dengan tujuan Beijing meledak dan jatuh di Samudera Pasifik….’

‘Semua penumpang dan awak pesawat dipastikan meninggal dunia….’

‘Daftar penumpang….’

‘Shim Yangmi.’

Airmata Luhan terbendung di kantung matanya, siap jatuh kapan saja membasahi pipinya. Tidak mungkin…. kekasihnya tidak mungkin mati secepat itu, bukan? Baru kemarin… Luhan memeluknya yang menangis tersedu-sedu, berkata kalau dirinya akan menikah, meminta maaf karena dirinya tidak bisa menjadi wanita yang Luhan lihat pertama kali di pagi hari… baru kemarin.

Luhan mengeluarkan sepatu roda dari tasnya, memakainya dengan terburu dan langsung melesat menelusuri jalan yang akan membawanya ke kantor polisi. Ia harus memastikan kebenaran berita itu.

BRAK!

Tubuh Luhan terpental beberapa meter setelah sebuah mobil yang melaju kencang menabrak tubuhnya hingga terkapar berlumuran darah di jalanan.

“Selamat pagi, Yeobo.” Yangmi tersenyum menyapa Luhan yang baru terbangun dari tidurnya. Wanita itu mengelus rambut Luhan, dan mengecup bibir lelaki yang sudah menjadi suaminya itu dengan lembut.

Morning kiss-ku?” tanya Luhan yang seketika merasa segar setelah mendapat ciuman dari sang istri.

“Tentu saja! sekali-sekali, aku tidak ingin jadi yang menerima ciuman saja, aku ingin jadi yang mencium juga.”

“Dasar istriku ini! bisa saja menunjukkan wajah seperti itu!” ucap Luhan gemas sa,bil mencubit pipi Yangmi.

Lelaki itu menghampiri sang istri yang sedang sibuk mengolah bahan makanan untuk sarapannya di dapur minimalis apartemen mereka. Lelaki itu melingkarkan tangannya di pinggang ramping Yangmi dan menghirup wangi tubuh Yangmi yang sensual.

“Aiii, wae geurae? Jangan menggangguku dulu, nanti kalau masakanku gosong bagaimana?” keluh wanita yang masih berada dalam pelukannya itu.

“Aku janji tidak akan mengganggumu, Yeobo. Salah sendiri kau begitu memabukkan.” Jawab Luhan beralasan dengan diakhiri kecupan ringan di bahu sang istri.

Luhan berusaha membuka matanya, suara alat-alat medis yang membantunya untuk hidup terdengar jelas di telinganya. Jari jemarinya terlihat sedikit melakukan pergerakan, disusul kedua matanya yang perlahan terbuka sempurna. Cahaya lampu di atasnya yang begitu terang membuat matanya silau dan secara reflek mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Lelaki itu terpaku.

“Yangmi-ya?” lirih Luhan saat kedua matanya dengan jelas melihat sosok gadis yang sangat dicintainya, Shim Yangmi. Gadis itu duduk di pinggir ranjang Luhan dengan mata yang menatap lurus ke depan.

“Kau sudah sadar?” gadis itu tersenyum lega, “Syukurlah.”

Airmata Luhan mengalir dari sudut matanya. Matanya ia biarkan terpejam. Sungguh, ia membenci sebuah mimpi indah, karena ia menyadari mimpi indah hanya akan membuat hatinya begitu terluka ketika ia terbangun.

“Tuhan… tolong hentikan mimpi indah ini…” pinta Luhan dalam hati.

“Luhan-ah? Apa kau masih merasa sakit?” tangan hangat nan lembut gadis itu menyentuh tangan Luhan. Luhan kembali membuka matanya. Ini bukan mimpi. Yangmi benar-benar berada di sini bersamanya.

“Kau benar-benar Shim Yangmi?” tanya Luhan dengan suara serak, memastikan.

“Tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Bukankah kau sedang dalam perjalanan menuju Beijing?”

“Ah,” gadis itu mengangguk, mengerti arah pembicaraan Luhan. “Kau pasti mendengar berita tentang jatuhnya pesawat yang kutumpangi, bukan?”

“Tepat sebelum aku masuk ke dalam pesawat, aku membatalkan keberangkatanku. Aku membatalkan semuanya. Pernikahanku, mimpi-mimpiku bersama lelaki itu… aku membatalkannya. Dan aku bersyukur, pilihanku itu berhasil menarikku dari kematian yang begitu dekat.”

Senyum Luhan akhirnya mengembang, terlebih lagi ketika ia mendengar kalau Yangmi telah membatalkan pernikahannya dengan lelaki lain. Gadisnya memilih untuk tetap tinggal, hidup bersamanya.

“Kenapa kau memilih untuk membatalkan pernikahanmu?”

“Karena aku menyadari, cintaku ada di sini, di dekatku. Dan dia selalu ada ketika aku membutuhkannya.” Yangmi meraba wajah Luhan dan mencium bibir lelaki itu.

CIIITTT…. BRAK!

Suara hantaman keras itu seketika terngiang kembali di telinga Luhan. Lelaki itu kembali mengingat kejadian 4 tahun lalu yang membuat takdirnya seolah terikat dengan seorang gadis bernama Shim Yangmi.

Luhan keluar dari mobilnya yang ringsek dengan kepala berlumuran darah, matanya yang buram perlahan melihat dengan jelas seorang gadis yang sudah tak sadarkan diri masih berada di dalam mobil yang terguling setelah dihantam keras oleh mobilnya. Gadis itu terlihat tak terluka sedikitpun, dan Luhan jatuh pingsan di dekat mobil gadis itu.

Setelah sadar, Luhan menyadari dirinya berada di sebuah rumah sakit. Lelaki itu menanyakan si gadis yang terlibat kecelakaan karena ulahnya yang mabuk saat menyetir pada dokter yang menjaganya. Gadis itu, Shim Yangmi. Dan hidup gadis itu berubah karena kesalahannya.

Luhan memandangi gadis itu dari jauh, gadis itu terlihat putus asa dengan kondisinya yang sekarang. Gadis itu buta tanpa tahu siapa yang patut bertanggung jawab atas penderitaannya. Luhan berlari dan menarik tangan gadis yang hendak menjatuhkan dirinya ke danau di taman itu, satu detik saja Luhan terlambat, Yangmi pasti sudah tercebur ke dalam air sedingin es itu. Sejak saat itu, Luhan mulai dekat dengan Yangmi, gadis yang harus menjalani hidupnya dengan segala kegelapan yang ada. Dan Luhan, tak pernah bisa mengatakan yang sejujurnya tentang kecelakaan tragis itu.

“Yangmi-ya…” tangan Luhan menggenggam erat tangan gadis yang baru saja menciumnya dengan lembut. Ingatan masa lalunya itu terlalu menyakitkan.

“Kumohon jangan benci aku.”

“Kenapa aku harus membencimu?” tanya Yangmi heran.

Luhan berusaha bangkit dari posisinya, matanya yang berair lantas menatap mata Yangmi yang sudah jelas tak mampu membalas tatapannya.

“Kegelapanmu selama ini… adalah kesalahanku.”

“A-apa maksudmu, Luhan-ah?” tubuh Yangmi gemetar.

“Kecelakaan 4 tahun lalu, akulah pengemudi mobil yang lalai itu…”

Mwo?” airmata Yangmi menetes, dadanya sesak. Kenyataan yang Luhan ungkapkan itu benar-benar membuat hatinya sakit.

“Kumohon maafkan aku…” ucap Luhan menyesal. Lelaki itu hendak memeluk tubuh Yangmi, namun Yangmi dengan lemah melepasnya.

“Terimakasih telah membuat kunang-kunangku kehilangan harapannya untuk terbang dan bersinar. Aku ingin sekali menarik kata-kataku yang mencintaimu, tapi kenapa… kenapa aku tidak bisa menarik hatiku kembali? KENAPA?!”

Luhan memeluk Yangmi erat, tak membiarkan gadis itu untuk melepaskannya lagi.

“Aku mencintaimu… Kumohon jangan menyesali cintamu untukku. Aku… aku ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu… sungguh aku mencintaimu, Yangmi-ya… jangan pernah menyesal…. jangan pernah menyesal karena pernah mencintaiku…”

Gadis itu memukul-mukul dada Luhan dengan tenaganya yang tersisa, gadis itu terus menangis dipelukan Luhan dan menumpahkan segala rasa yang membuat dadanya sesak. Demi apapun, Luhan menyesali kebodohannya di masa lalu yang berkendara dalam keadaan mabuk dan menyebabkan sebuah kecelakaan yang membuat kehidupan Yangmi lebih gelap dari sebelumnya.

Maafkan aku….

Kau berhak menghukumku atas apa yang telah kulakukan di masa lalu… tapi biarkanlah aku tetap di sini, bersamamu, dan mencintaimu… kau berhak menghukumku… tapi biarkanlah cintamu terus tumbuh, mencintaiku…

Kau jelas patut menyalahkanku karena aku memang bersalah… tapi jangan pernah salahkan cinta kita…. cinta kita tidak tahu apa-apa…

Maafkan aku, Yangmi-ya… Jika aku bisa mengubah takdir di masa lalu, aku sangat ingin bertemu denganmu dalam keadaan kita yang baik-baik saja… aku tidak akan pernah menginginkan kecelakaan itu terjadi… Tapi aku takkan pernah menyesali pertemuan kita yang sudah Tuhan rencanakan, Tuhan mempertemukanku denganmu… dan aku bahagia untuk itu.

Selamanya, aku akan tetap mencintaimu, Shim Yangmi.

 

―FIREFLIES―

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s