[EXO Fanfiction] Special Suho’s Birthday – The Tears Has Fallen Again

The Tears Has Fallen Again

thetearshasfallenagain

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Casts : Kang Sura as Kim Yera / Daisy Kim, Kim Junmyeon as Kim Suho, Byun Baekhyun as David Byun, Kim Jongwoon as Kim Yesung.

Genre : AU, Drama, Marriage-life, Romance, Sad, Slice of Life.

Rated : PG-15

Length : Oneshoot

Disclaimer : Casts belongs to God and Their real life, I just own the plot. This story just a part of my imagination. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

© AYUSHAFIRAA, 2016. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

 

“Maybe, You can forget it. But, I Can’t.”

 

♥♥♥

 

Musim hujan di langit Vancouver sudah memasuki puncaknya. Angin dingin berhembus menembus setiap fentilasi udara. Seorang wanita terbangun dari tidurnya akibat alarm yang terus berdering memecah telinganya. Ia beranjak dari tempat tidur, langkah malasnya membawanya ke lantai bawah rumahnya. Meneguk secangkir air putih hangat di pagi hari ini setidaknya bisa membuat ia sedikit mendapat energi.

Ting~Tong~

Wanita itu merapikan ikatan rambutnya dan berjalan menuju pintu untuk melihat tamu yang baru saja menekan bel rumahnya. Ia mengerutkan dahi, wajah tamunya tak tertangkap layar LED kecil di samping pintunya.

Who are you? Where are you come from?”

“Seoul.”

Suara itu… ia membuka pintunya ragu-ragu.

“Yesung Oppa…”

Pria yang berdiri di depan pintu itu menunjukkan senyuman tipisnya. “Annyeong, Nae Yeodongsaeng, Kim Yera.”

Kim Yera, wanita itu mempersilakan kakaknya, Kim Yesung, untuk masuk. Guyuran hujan membuat tubuh tingginya basah kuyup. Yera mengambil teh hangat dan memberikan teh hangat itu pada kakaknya.

“Apa yang membawa Oppa sampai ke sini? Dan, Oppa tahu dari mana alamatku?”

Honey, aku tadi mendengar suara bel. Siapa tamu yang datang?” seorang pria terlihat turun dari tangga sambil menggendong balita laki-laki yang sangat lucu. Pria itu lantas membungkukkan sedikit badannya saat melihat tamu yang datang sudah diterima dengan baik oleh Yera.

Annyeonghaseyo, kau pasti Yesung, kakak Daisy.” Lanjut pria itu.

Yesung menatap mata Yera seolah bertanya ‘Daisy? Siapa Daisy? Siapa pria ini? Dan bayi itu anak siapa?’, Yera yang mengerti maksud kakaknya akhirnya menjawab kebingungan sang kakak setelah sebelumnya menghembuskan nafasnya berat.

“Dia David Byun, suamiku. Dan bayi itu, Jesper, anakku. Sejak memutuskan tinggal di sini, aku mengganti namaku menjadi Daisy Kim.” Jelas Yera yang berhasil membuat Yesung memandangnya tak percaya.

“Senang bertemu denganmu, Yesung-ssi. Maaf karena sampai detik ini, kami belum sempat berkunjung ke Seoul.” Pria bernama David itu tersenyum manis. Jesper yang mulai sedikit tak nyaman dalam gendongannya membuatnya harus undur diri agar tak mengganggu pertemuan antara kakak beradik yang sudah 4 tahun tak bertemu itu.

“Daisy Kim? Apa yang sebenarnya ada di kepalamu sampai kau mau mengganti namamu semudah itu, Kim Yera?!”

Yera menunduk, mengalihkan pandangannya dari tatapan tajam Yesung yang begitu menusuk.

Pandangan Yesung tertuju pada sebuah foto berbingkai yang terpajang jelas di ruang tamu Yera. Foto pernikahan adiknya dengan pria bernama David tadi yang baru saja menarik perhatiannya.

WEDDINGay

“Apa kau ingin lari dari kenyataan?”

“Apa maksudmu, Oppa?”

“Kim Suho. Kau benar-benar ingin melupakannya?”

Mata Yera membesar seketika saat nama seorang pria dari masa lalunya kembali disebut oleh sang kakak setelah sekian lamanya. Mata wanita itu seketika saja berair.

“Apa kedatanganmu kemari hanya untuk membicarakannya? Sudah 4 tahun aku berusaha keras melupakannya, tapi tiba-tiba saja kau datang dan mengungkitnya kembali? Pergilah!” Yera berjalan mendekati pintu dan membuka pintunya lebar-lebar. “Kumohon, pergilah, Oppa! Aku tidak ingin bertemu denganmu atau siapapun yang kau sebut itu!”

Yesung menaruh sebuah foto di meja tamu Yera dan menatap sendu adiknya, “Setelah sekian lama mencari, akhirnya aku menemukannya. Datangilah Suho, Yera-ya. Dia membutuhkanmu.”

Yera jatuh terduduk dan menangis tepat setelah ia menutup pintunya. Hatinya hancur ketika sekali lagi dalam hidupnya, nama Kim Suho terdengar di telinganya. Sebagai kakaknya, Yesung benar-benar jahat, pikir Yera. Bagaimana bisa seorang kakak membuka kembali luka lama di hati adiknya begitu saja? Jika Kim Suho yang ia kenal benar-benar masih hidup di dunia nyata, maka Kim Suho yang ia kenal itu sudah mati dalam hatinya sejak hari itu, 4 tahun yang lalu.

 

♥♥♥

 

Honey, aku baru saja ditawari untuk pindah tugas ke rumah sakit di Korea. Kebetulan sekali, bukan? What do you think? Should I accept this?’ pesan singkat dari David membuat Yera seketika diliputi kegelisahan.

Dalam genggamannya, foto Suho yang lengkap dengan alamat baru pria itu hampir saja menjadi sobekan kertas yang tak berarti. Kembali ke Korea setelah 4 tahun lamanya, semakin memperbesar kemungkinannya untuk kembali bertemu dengan pria yang tega menyakiti hatinya itu. tidak mungkin. Yera tak mau terluka lagi.

Eomma~” Jesper terbangun dari tidurnya dan langsung merengek minta digendong. Yera meraih tubuh kecil putranya, menepuk-nepuk pelan punggung putranya itu agar bisa sedikit tenang dalam pelukannya.

What should I do, Jesper?” tanya Yera pada putranya meski ia tahu putranya yang belum mengerti apa-apa itu belum tentu bisa menjawab segala kegalauan hatinya. Airmatanya terjatuh begitu saja.

Drrrtt… drrt…

Aigoo! Jesper tidur lagi, eoh?” David terlihat bersemangat dari layanan video call ponsel pintar Yera. Namun senyuman lebar pria itu seketika memudar saat melihat gerakan tangan istrinya yang seperti sedang menghapus airmata.

“Kau sudah membaca pesan dariku?” tanya pria itu. Yera mengangguk sambil menunjukkan senyum palsunya.

“Lalu bagaimana menurutmu? Kalau kau berpikir lebih baik jika aku tidak menerimanya, aku tidak akan pernah menerima tawaran itu.”

Keputusan yang sangat mudah bagi David, namun sangat berat bagi Yera. Yera mencoba melapangkan dadanya. David selalu mengambil keputusan yang menghargai perasaannya, kini mungkin giliran dirinya yang mengambil keputusan demi kebaikan David.

“Terima saja. Bukankah itu kesempatan besar bagimu untuk mengabdikan diri di negara kelahiran kita?”

 

♥♥♥

 

Yera menelusuri jalan yang akan membawanya ke tempat yang ia tuju. Semilir angin dingin sempat membuatnya membenarkan syal yang ia kenakan. Sepanjang jalan yang ia tapaki, setapak demi setapak, ia terus berpikir. Apa keputusannya untuk kembali sudah benar? Apa keputusannya menapaki jalan ini sudah benar? Ataukah lebih baik jika ia memutar balik langkahnya dan berhenti mengharapkan sesuatu yang tak pasti ini? entahlah.

Wanita itu mengerutkan keningnya, sebuah toko bunga? Apa alamat yang diberikan kakaknya ini salah? seorang pria bercelemek putih terlihat keluar dari toko bunga itu, sekedar untuk membuang sampah ke tempat sampah yang ada di luar toko bunga. jantung Yera berdegup kencang, tubuhnya gemetar. Pria berkulit putih susu dan berambut cokelat itu, benar-benar Kim Suho.

Eosseo oseyo!” sapa pria itu ramah menyambut kedatangan Yera.

“Suho Oppa…”

“Eoh? Nuguseyo?”

DEG! Mata wanita itu berair. Ternyata keputusannya untuk mencari alamat pria itu adalah keputusan terbodoh yang pernah ia buat. Pilihannya itu, benar-benar suatu kesalahan.

“Aku ini bodohkan? Aku pasti sudah terlihat sangat bodoh di matamu sekarang. Mungkin memang seharusnya aku tidak pernah datang.” Yera melangkah keluar dari toko bunga itu. Ia berlari dengan airmata yang terus mengalir membasahi pipinya.

Cukup! Cukup sudah pria itu menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping 4 tahun yang lalu! Jadi untuk apa? Untuk apa ia harus mengingat kembali kesakitannya? Tidak ada gunanya sama sekali!

 

―4 tahun yang lalu―

 

Aigoo! Aigoo! Aigoo! Mwoya ige? Apa kau benar-benar akan pergi berkencan dengan Kim Suho?” Yesung memandang Yera dari atas sampai bawah. Adiknya itu sudah mengenakan dress selutut berwarna merah dan berdandan semaksimal mungkin untuk pergi berkencan dengan Kim Suho, lelaki yang sudah Yesung anggap sebagai adiknya sendiri sejak kakak lelaki itu meninggal akibat kecelakaan dan menjadi sebatangkara.

Daripada memuji penampilan adiknya, Yesung lebih suka menggoda adiknya sampai pipi adiknya itu memerah karena malu.

“Kau menggunakan peralatan make up Eomma? Aigoo, jinjja! Kau terlihat lebih seperti ibu-ibu sosialita, kau tahu!”

Mwo?! Benarkah aku terlihat seperti itu?” Yera kembali memperhatikan penampilannya di depan cermin. “Padahal aku sudah memakainya tipis-tipis.”

Bunyi klakson mobil Suho terdengar. Yera kalang kabut mengurusi penampilannya sendiri. Sementara Yesung terus mengganggu konsentrasinya.

“Suho sudah datang! Suho sudah datang! Cepat! Cepat!”

Oppa!” Yera melempar sisirnya tepat mengenai kepala Yesung hingga Yesung meringis. “Berhenti menggangguku!”

“Sudahlah, ayo cepat! Suho sudah menunggu!” Yesung menarik paksa Yera yang belum selesai merapikan penampilannya.

“Yak! Kim Suho! kau akan pergi berkencan atau pergi melamar adikku huh? Rapi sekali!”

Suho terlihat tersenyum malu-malu. ia memang terlihat rapi sekali dengan setelan jas hitam dan dasi kupu-kupu bewarna senada.

Ja!” Yesung mendorong adiknya hingga menabrak Suho. “Jaga adikku baik-baik, awas saja jika kalian berdua berbuat yang macam-macam sebelum waktunya!”

“Itu tidak mungkin terjadi, Hyung. Aku akan menjadi malaikat pelindung Yera sepenuhnya malam ini.” ucap Suho yang langsung disambut sorakan Yesung dan pipi memerah Yera.

Yera dan Suho pergi ke tempat spesial yang dijanjikan lelaki itu. Sepanjang perjalanan, Suho tak henti-hentinya membuat Yera tersenyum dan tertawa hingga Yera berpikir bertemu dengan seorang malaikat bernama Kim Suho adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Oppa, sebenarnya kau mau membawaku ke mana?” tanya Yera penasaran.

“Sabarlah, sebentar lagi kita sampai.”

Suho memberhentikan mobilnya. Dua insan itu keluar dari mobil dan memandang takjub pemandangan indah yang ada di hadapan mereka. Suho membawa Yera ke atas bukit di mana mereka dapat melihat pemandangan malam seluruh sudut kota yang  terlihat sangat indah dari atas sana.

Daebak!” kagum Yera tak berkedip.

“Kau menyukainya, Chagi?”

“Ye?” apa katanya barusan? Chachagi? Ya Tuhan! Yera menyentuh pipinya yang mulai panas.

Waeyo? Kenapa kau menutupi wajahmu seperti itu?” tangan lembut Suho menyentuh tangan Yera yang masih menutupi wajahnya. Lelaki itu tampak menahan tawanya saat melihat wajah Yera yang merona.

Ahchoo! Yera bersin tepat di depan wajah Suho. Gadis itu lalu mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap wajah Suho.

Mian! Jeongmal mianhae, Oppa! Aku tidak sengaja!”

Bukannya marah, Suho malah tertawa lepas. “Kau tahu? Aku baru saja menonton anime jepang.”

“Lalu?” Yera memasang wajah bingungnya.

“Tokoh dalam anime itu berkata kalau seseorang bersin tepat di depan wajah kita, itu adalah sebuah pernyataan cinta!” jelas Suho. “Aku pikir, aku akan dengan senang hati menerima pernyataan cintamu barusan.” Lanjutnya yang tertawa renyah.

Gadis itu berkedip cepat, tak percaya dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Suho. Jadi bukan dirinya yang menerima pernyataan cinta Suho? aish! Kenapa ia harus bersin tadi?! Lagipula, mitos aneh dari mana itu?!

Suho naik ke atas mobilnya dan membaringkan tubuhnya dengan santai. Tangannya memberi kode pada Yera untuk ikut naik dan ikut berbaring di samping tubuhnya. Yera menurut. Lelaki itu menjadikan lengan kirinya sebagai bantalan untuk kepala gadis yang baru saja menjadi kekasihnya itu.

“Aku kira kau akan mengajakku candle light dinner.”

“Ah!” Suho bangkit dari posisinya. “Candle light dinner? Tunggu sebentar!”

Yera menunggu Suho sesuai perintah lelaki itu. entah apa yang dilakukan lelaki itu di belakang sana, entahlah. Mungkinkah Suho akan mengeluarkan pintu ke mana saja dari kantong ajaib milik Doraemon agar bisa mengajaknya makan malam spesial ditemani cahaya lilin-lilin? Haha! Pikiran seperti apa ini!

“Lihat ke sini, Chagi!”

Gadis itu berpaling dan memandang tak percaya apa yang ada di depan matanya. Suho menyiapkan makan malam yang benar-benar spesial di atap mobil itu dan tak lupa beberapa lilin juga menyala di sekitarnya.

“Kau sudah merencanakan ini sebelumnya?” tanya Yera.

Suho mengangguk, “Tentu saja! bagaimana? Kau suka?”

“Sangat!” Yera meraih uluran tangan Suho yang menyuruhnya naik ke atap mobil, mereka duduk berhadapan di antara makanan-makanan yang mengundang cacing dalam perut mereka bersuara.

Candle light dinner tidak harus selalu di restoran bukan?”

Ne! Dan aku sangat menyukai candle light dinner ini! selamat makan!”

Sepasang kekasih itu menikmati makan malam mereka sembari menikmati pemandangan dari atas bukit yang sangat indah. Malam valentine pertama mereka sebagai sepasang kekasih mereka lewati dengan penuh kebahagiaan.

Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. di bulan ketiga hubungan mereka, Yera mulai merasa Suho banyak berubah. Meski begitu, Yera tak pernah membuat masalah itu menjadi besar dan semakin rumit.

Malam ini, Suho sudah berjanji akan menemuinya di sebuah restoran untuk makan malam bersama. Suho juga mengatakan kalau ada hal penting yang ingin lelaki itu katakan padanya. Sudah 3 jam Yera menunggu, lelaki itu tak kunjung menunjukkan tanda-tanda kehadirannya. Ponsel Yera membisu, tak ada satupun pesan atau telepon dari Suho yang setidaknya mengatakan lelaki itu membatalkan pertemuan mereka malam ini.

Oppa… kau di mana?” tanya gadis itu setelah sambungan teleponnya terhubung ke nomor Suho.

“Aku di rumah. Ada apa, Chagi?”

Tuuut! Yera memutuskan sambungan teleponnya. Setelah 3 jam ia menunggu, lelaki itu dengan mudahnya menjawab ‘Aku ada di rumah’? ini bukan pertama kalinya Suho melupakan janjinya, sudah berkali-kali sampai Yera pun malas untuk menghitungnya. Jika terus seperti ini, Yera pun bisa merasa lelah meneruskan hubungannya dengan Suho.

Kontak, Yesung Oppa, Klik! “Oppa, tolong jemput aku sekarang juga!”

Hari ini, tanggal 22 Mei, Suho berulang tahun. Usia lelaki itu sudah bertambah tua satu tahun sekarang. Yera sudah melupakan masalah makan malam yang dibatalkan Suho beberapa hari yang lalu, terlebih lagi kakaknya terus menyuruhnya memaafkan kekhilafan lelaki itu.

Bruk!

Kue ulang tahun yang dibawa Yera jatuh dari tangannya sesaat setelah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, seorang wanita cantik sedang memeluk Suho begitu erat. Suho dan wanita cantik itu langsung memandang ke arahnya.

“Ah, mianhae Oppa. Aku tak sengaja menjatuhkan kuenya.” Tangan gemetar Yera mencoba memungut kembali kotak kue yang sudah hancur itu.

Oppa, siapa gadis itu?”

“Aku tidak yakin…” jawaban Suho membuat Yera terdiam seribu bahasa. Airmata berharganya itu jatuh begitu saja seiring luka dihatinya yang semakin lama terasa semakin perih. Dadanya sesak.

Nuguseyo?” tanya Suho.

 

―flashback end―

 

PLAK!

“Aku menyesal telah mendengar perkataanmu! Aku sudah melupakannya dan dia sudah benar-benar melupakanku, jadi untuk apa kau memaksaku untuk mengingatnya kembali?!!” teriak Yera sesampainya ia di rumah orang tuanya dan bertatap muka dengan Yesung. “Terlepas dari kau sebagai kakak laki-lakiku, kau benar-benar pria yang jahat!”

Yesung menyentuh bekas tamparan keras Yera di pipi kirinya. Ia jelas dapat melihat linangan airmata di pipi adiknya itu. Dan ia jelas tahu, adiknya pasti sudah pergi menemui Kim Suho tanpa sepengetahuannya.

“Suho mengidap alzheimer.”

Mwo?” bulir airmata Yera menetes lagi dari pelupuk matanya. “Apa yang kau bicarakan sekarang?!”

“Dia tidak benar-benar ingin melupakanmu, Yera-ya. Jika penyakit itu tak menyerang otaknya, ia tidak mungkin melupakanmu sampai kapanpun itu.”

“BERHENTI BICARA OMONG KOSONG, KIM YESUNG!” wanita itu menutup telinganya rapat-rapat dengan tangannya dan berlari masuk ke kamarnya dengan airmata yang tak hent-hentinya mengalir.

Yesung berjalan gontay ke kamarnya, mengambil sebuah amplop berukuran sedang yang berisikan laporan hasil tes kesehatan Kim Suho yang ia ambil sendiri dari rumah sakit beberapa bulan yang lalu. Alzheimer, sebuah penyakit yang dengan teganya menghapus sedikit demi sedikit kenangan Suho bersama orang-orang di sekelilingnya.

Pabboya, Kim Suho. kenapa kau harus menderita penyakit seperti ini di usia mudamu?!” Yesung melempar amplop itu ke sembarang arah.

Yera jatuh terduduk di kamarnya. Alzheimer kakaknya bilang? Bukankah penyakit seperti itu hanya akan diderita oleh orang-orang berusia lanjut? Kenapa… kenapa ia baru tahu kenyataan pahit itu sekarang? Kenapa harus sekarang?

Drrrtt… drrt… drrrtt… drrt…

My David,  Calling….

 

♥♥♥

 

Eosseo oseyo!” sapa pria itu ramah menyambut kedatangan Yera yang kembali berkunjung ke toko bunganya.

Annyeong, Suho-ssi…”

“Eoh? Nuguseyo? Anda mengenal saya?”

Wanita itu tersenyum, “Kim Yera imnida. Saya teman lama anda, jadi pantas kalau anda sudah melupakan saya.”

Sakit sebenarnya, mengatakan hal yang tak sesuai dengan kenyataannya. Berpura-pura menjadi teman lama yang pantas untuk dilupakan, itu menyakitkan.

“Ah, jhweoseonghaeyo, Yera-ssi. Ingatanku memang sedikit buruk.” Suho menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kikuk.

“Duduklah!” pria itu menawarkan kursi, “Akan aku buatkan minuman.”

Yera duduk di kursi, menunggu Suho membuatkan minuman untuknya. Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling, bunga-bunga yang dirawat Suho tumbuh bermekaran dengan baik di musim semi ini. Tak lama menunggu, Suho datang membawa dua gelas jus jeruk dingin.

Meski Yera tahu Suho tak dapat mengingat dengan baik kenangan mereka, Yera tetap mengajak Suho bernostalgia dengan status mereka sebagai teman baik, bukan sepasang kekasih. Saling berhadapan, bertatapan, dan saling tersenyum lagi setelah beberapa tahun, rasanya berbeda. Tentu saja, dua insan yang sempat bersama itu sudah menjalani kehidupan mereka masing-masing. Yera dengan David, dan Suho yang masih menyendiri.

“Suho-ssi, kau sangat suka bunga?”

Suho mengangguk lalu mengajak Yera untuk melihat bunga yang paling lelaki itu sukai. Bunga daisy. Suho tersenyum menyentuh bunga daisy kesayangannya, entah kenapa saat melihat bunga itu, hatinya selalu tenang.

“Ini bunga kesukaanku, namanya Daisy. Bunga ini termasuk keluarga asteraceae, sama seperti bunga aster dan juga bunga matahari. Selain itu, ada yang unik dari bunga ini. Daisy adalah bunga yang memiliki inti bunga yang lebih besar dan dikelilingi oleh petal-petal…”

“Petal-petal itu akan membuka saat matahari terbit dan akan menutup saat matahari terbenam.” Sambung Yera.

“Eoh? kau tahu itu? jarang sekali ada orang yang mengetahui keunikan bunga ini.”

Tentu saja aku tahu. Kau sendiri yang memberitahuku tentang itu dulu. Itulah sebabnya kenapa aku memilih nama Daisy saat mengganti namaku, karena aku tahu kau sangat menyukai bunga itu. Dan aku masih berharap, kau masih mau menyayangiku seperti kau yang menyayangi bunga itu.

“Ah, duduklah, Yera-ssi. Aku akan membuatkan minuman untukmu.”

“Suho-ssi…” panggilan itu membuat Suho berpaling ke arah Yera. Sorot mata gadis itu tampak berkaca-kaca.

“Aku sedang tidak haus.”

Jika Suho kembali membuatkan minuman untuknya, sudah 10 kali. Pria itu lupa dengan apa yang baru saja dilakukannya, meski baru beberapa saat berlalu. Yera menyembunyikan gelas-gelas berisi jus yang diberikan Suho di bawah meja, sengaja, agar pria itu tak terlalu tertekan dengan kealpaannya.

“Kalau begitu aku akan menyiram tanaman-tanamanku di belakang. Kau mau ikut?”

4 kali, ajakan itu Suho ungkapkan pada Yera. Tanaman-tanaman yang akan pria itu siram pun mungkin masih belum kering.

“Suho-ssi, maukah kau menemaniku jalan-jalan?”

 

♥♥♥

 

Malam itu, David pulang dari pekerjaannya sebagai dokter baru di salah satu rumah sakit besar terkenal di Korea. Sebagai istri yang baik, Yera menyambut kepulangan suaminya dengan hangat. Mereka memang belum mencari tempat tinggal sendiri, jadi untuk sementara mereka tinggal di rumah orang tua Yera yang mewah.

“Jesper sudah tidur?” pria itu melepas jasnya dan memberikannya pada Yera. Pria itu juga langsung menyingsingkan lengan kemeja putihnya sampai siku, paham betul istrinya sangat menyukai lelaki yang menggulung lengan kemejanya seperti itu.

Ne, Jesper tidur bersama Appa dan Eomma.” Jawab Yera.

David melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya dan menghirup wangi tubuh istrinya itu dalam-dalam. Parfum Opium bersemerbak oriental, misterius dan penuh daya pikat itu membuat David tak mampu melepaskan rengkuhannya.

“Ada yang ingin kutanyakan padamu, David. Ini tentang seorang temanku yang sedang menderita suatu penyakit.”

Lamunan nakal David seketika terbuyarkan. Pria itu kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal, salah tingkah.

“Apa itu?”

“Alzheimer, seberapa buruk penyakit itu bagi penderitanya?” tanya Yera to the point. Suaminya adalah seorang dokter ahli neurologi terkemuka saat di Vancouver, David pasti bisa menjawab pertanyaannya tanpa cela sedikitpun.

“Tergantung seberapa parah alzheimernya. Jika alzheimernya sudah benar-benar parah, maka penderitanya pun akan semakin kesulitan melakukan sesuatu. Penderita alzheimer yang sudah parah tidak akan mampu mengurusi dirinya sendiri. Mereka membutuhkan orang lain untuk membantu mereka melakukan aktifitas sekecil apapun itu.”

Kepala wanita itu tertunduk. Mungkin itulah alasan Yesung mengatakan kalau Suho membutuhkannya. Semakin parah penyakit itu menyakiti Suho, akan semakin besar kemungkinan Suho membutuhkannya. Keadaan Suho yang masih sendiri dan dirinya yang sudah berkeluarga, membuat kesempatannya berada di sisi pria itu semakin kecil.

Tell me, Honey. Temanmu yang menderita alzheimer itu… Kim Suho, kan?”

Yera membisu seketika.

“Yesung Hyung sudah menceritakan semuanya padaku. Jadi jangan pernah berpikir untuk mencari jawaban lain dan membohongiku.” Ucap David menatap lurus ke arah mata istrinya yang tak mau membalas tatapannya.

“Tinggallah di sisi lelaki itu untuk sementara waktu. Dia membutuhkanmu. Tapi kau harus berjanji, setelah tugasmu selesai, kembalilah padaku dan cintai aku lagi.” lanjut David dengan tatapannya yang berubah sendu.

Yera memeluk erat tubuh suaminya tanpa berkata apapun. Pelukan itu sudah mewakili perasaan bersyukur Yera memiliki suami sesempurna David Byun. Pelukan itu seolah menyampaikan kata hati Yera yang mengucap ‘Terimakasih, Aku mencintaimu.’.

 

♥♥♥

 

Yera menatap kakaknya, Yesung, yang berdiri tepat di hadapannya. Jika sebelumnya, Yesunglah yang membantu Suho menjalani kehidupannya, kali ini mungkin giliran Yera.

“Aku sudah memutuskan untuk tinggal bersama Suho Oppa, Oppa. Aku harus ada di sisinya kapanpun dia membutuhkanku.” wanita itu meremas ujung bajunya. Tas yang lumayan berat mulai ia jinjing.

“Bertahanlah, Yera-ya. Seberapapun menyakitkannya tinggal bersama seorang penderita alzheimer, kau harus tetap bertahan karena dia adalah Kim Suho.”

“BERHENTI BERKATA YANG TIDAK-TIDAK! KIM YERA, CEPAT KEMBALI KE KAMARMU! JANGAN LIBATKAN DIRIMU DENGAN KIM SUHO LAGI!” suara berat ayah mereka terdengar menggelegar mengisi seluruh sudut ruang tamu.

Mianhae, Appa. Tapi Suho Oppa membutuhkanku.”

“MEMANGNYA KAU SIAPANYA SUHO?! KAU BUKAN SIAPA-SIAPA PRIA ITU, KIM YERA! KAU TIDAK ADA HUBUNGANNYA LAGI DENGAN PRIA ITU! LAGIPULA KAU SUDAH MEMILIKI DAVID DAN JESPER! APA OTAKMU ITU SAMA SEKALI TAK MEMIKIRKAN MEREKA, HUH?!”

Appa! Biarkan Yera mengambil keputusan yang ia anggap baik sendiri! Jangan terus memberinya paksaan demi paksaan!” bela Yesung.

Ayah mereka turun dari tangga dan menghampiri kakak laki-lakinya itu. PLAK! Tamparan keras sang ayah mampu membuat sudut bibir kakaknya berdarah.

“JANGAN PERNAH BANTAH KATA-KATAKU! MASUK KE KAMARMU, KIM YESUNG!”

“DAN KAU, YERA! SEKALI KAU MELANGKAHKAN KAKIMU KELUAR UNTUK MENEMUI PRIA ITU, AKU BENAR-BENAR AKAN MENYESAL MEMBIARKANMU PERGI KE LUAR NEGERI SAAT PRIA ITU MENYAKITIMU DULU!”

“Suho Oppa tidak pernah menyakitiku, Appa. Selama ini…”

PLAK!

“Daisy!” David yang baru masuk ke rumah itu langsung membantu istrinya untuk berdiri setelah mendapat gamparan keras dari ayah mertuanya.

Appa, apa yang terjadi sebenarnya sampai kau tega menampar putrimu sendiri?” tanya David.

“Jangan biarkan dia bertingkah bodoh, David! Kau sebagai suaminya seharusnya bisa melarangnya untuk tidak mendekati pria lain!”

“Istrimu memutuskan untuk tinggal bersama Suho, David.” Jelas Yesung.

“Aku sendiri yang menyuruhnya tinggal di sisi Kim Suho, Appa. Jadi jangan salahkan Daisy karena hal itu.”

Ayah Yera dan Yesung menatap menantunya tak percaya. Bagaimana bisa seorang suami menyuruh istrinya tinggal di rumah lelaki lain?

“Pergilah, Honey. Mungkin Suho sedang menunggumu sekarang.” Ucap David dengan hati yang lapang.

Ayah Yera memijat kepalanya sendiri, “David Byun, aku tak mau tahu pokoknya setelah ini kau harus memeriksa kondisiku. Sepertinya sarafku menjadi bermasalah setelah melihat kalian bertindak semau kalian sendiri. Terserahlah! aku tidak peduli lagi anakku akan tersakiti atau tidak oleh pria yang ia bela-bela itu.”

“Aku akan memeriksamu, Appa. Tapi setelah aku mengantar istriku.”

David, lelaki itu memang bisa meluluhkan hati mertuanya. Sekeras apapun sifat ayah Yera, seketika saja bisa menjadi lembut jika David sudah bercampur bersama mereka. Entah mantra sihir apa yang ada di mulut lelaki itu, Yera saja tak mengerti.

“Aku tak tahu lagi bagaimana caranya berterimakasih padamu, David.” Yera memandangi suaminya yang sedang fokus memegang kendali kemudi mobilnya.

It’s Okay, Honey. Cukup kau memberiku seluruh cintamu, aku sudah sangat bahagia.” Senyuman tulus David sedikit membuat hati Yera merasa tak enak. Suaminya itu bahkan rela berbuat sejauh ini hanya demi melihatnya bahagia.

“Jangan lupa untuk menjenguk Jesper setiap harinya, bagaimanapun, Jesper masih membutuhkan perhatianmu sebagai eommanya.” David menggenggam erat tangan Yera tanpa sedikitpun menghilangkan senyuman dari wajahnya.

David memarkirkan mobilnya tepat di depan toko bunga milik Suho. Mata lelaki itu tertuju pada bunga-bunga yang tertanam di depan toko bunga bernama ‘DaiSu Florist’ tersebut. Bunga Daisy, bunga yang menjadi alasan istrinya untuk mengganti nama. Apa segala hal yang berhubungan dengan istrinya, berhubungan juga dengan lelaki bernama Kim Suho itu?

Annyeonghaseyo, Kim Suho-ssi.” Salam David ketika ia akhirnya berpapasan langsung dengan pria yang pernah mengisi relung hati istrinya.

Pandangan Suho tampak kosong, pria itu tak menatap David ataupun Yera yang jelas-jelas berdiri di hadapannya.

“Suho-ssi?” Yera menyentuh pundak Suho, baru saat itulah Suho menyadari kehadirannya.

“Suho-ssi, apa kau baik-baik saja?” tanya David. Suho yang belum mengenal David hanya menunjukkan raut wajah bingungnya.

David tersenyum mengerti, “Kau pasti kebingungan karena tak mengenalku. Namaku David Byun, suami dari Kim Yera.”

“Ah,” Suho mengangguk, “Jika kita pernah saling bertemu sebelumnya, tapi aku melupakanmu, tolong maafkan aku. Aku pikir ingatanku sedikit buruk.”

Aniyo,” tolak David cepat. “Kita memang belum pernah bertemu sebelumnya, tapi aku sudah mendengar banyak cerita tentangmu dari istriku.”

“Yera-ssi, apa yang membuatmu datang kemari malam-malam begini?”

“Apa kau keberatan jika mulai sekarang aku ingin tinggal bersamamu, Suho-ssi?” Yera menangkap sorot Suho yang sepertinya terlihat berpikir keras.

“Jika kau keberatan pun tidak apa-apa, Suho-ssi! Aku akan kembali ke rumahku.”

Ani!” jawab Suho yang seketika membuat Yera dan David memusatkan perhatian mereka ke arahnya. “Tinggallah di sisiku, Kim Yera.”

Mata Yera memancarkan binar bahagia setelah mendengar jawaban Suho, namun lain halnya dengan David. Mata pria itu menunjukkan sorot menyedihkan yang sangat berbeda dengan bibirnya yang melengkung tersenyum.

Istrinya itu… pasti akan menepati janjinya, bukan?

 

♥♥♥

 

Tinggal bersama seorang penderita alzheimer ternyata lebih sulit dari yang pernah dibayangkan Yera selama ini. selain dirinya yang harus lebih bersabar dan terus memberi perhatian, dirinya pun harus benar-benar rela membantu Suho yang semakin lama semakin tak bisa mengurus dirinya sendiri.

“Suho-ssi…” Yera menatap nanar apa yang terjadi pada Suho di depan matanya. Pria itu sudah tak bisa mengontrol kandung kemihnya lagi hingga ia harus buang air kecil sebelum bisa melangkah pergi ke kamar mandi.

Wanita itu berusaha menahan airmatanya agar tak terjatuh begitu saja. Yera membersihkan lantai yang dipipisi Suho dan menuntun Suho ke kamar mandi untuk membersihkan kemaluan pria itu.

Suatu hari, Suho terlihat frustasi ingin membuka satu ruangan yang di rumahnya yang terkunci oleh kode-kode angka yang tak bisa ia pecahkan sendiri. Pria itu jelas lupa dengan angka-angka yang ia atur sendiri untuk mengunci ruangan itu.

“Suho-ssi! Apa yang kau lakukan?!” Yera berlari menghampiri Suho yang terus berusaha memecahkan angka-angka yang mengunci pintu ruangan itu.

Pria itu menitikkan airmatanya, tubuhnya bergemetar hebat. Melihat Suho yang seperti itu sungguh membuat batin Yera tersiksa. Kenapa?! KENAPA HARUS SUHO?!

“Memangnya ada apa di ruangan ini sampai-sampai kau ingin sekali masuk ke dalam sana?”

Suho menatap Yera, tatapan yang menunjukkan kekosongan. Pria itu perlahan mulai tak bisa mengerti kata demi kata yang diucapkan lawan bicaranya.

Yera tak kuasa menahan airmatanya lagi, wajah polos tak bersalah pria itu membuatnya ingin sekali menyalahkan Tuhan atas apa yang telah terjadi pada pria itu. kenapa Tuhan harus memilih pria yang ia cintai untuk menderita seperti ini? kenapa Tuhan tak memilih manusia lain yang lebih berdosa dibandingkan Suho? kenapa Tuhan harus menciptakan penyakit menyakitkan seperti alzheimer yang dengan tega-teganya menghapus semua kenangan yang ada dalam memori seseorang?

“Suho Oppa… aku mencintaimu.”

Wanita itu terbangun dari tidurnya. Setelah menangis sepanjang malam, ia tertidur pulas hingga tak menyadari bahwa pria yang semalam tertidur di sampingnya kini sudah tak lagi ada di dekatnya. Ia berlari mencari Suho ke setiap sudut rumah itu, namun lelaki itu sama sekali tak meninggalkan jejak apapun.

“Suho Oppa! Kim Suho! Suho-ssi! Kau di mana?!”

Yera merutuki kebodohannya sendiri. Seorang penderita alzheimer akan kesulitan mengingat jalan pulangnya. Lalu sekarang? Bagaimana caranya Yera bisa menemukan Suho dengan keadaan Suho yang seperti itu?

Drrrtt…drrt…

Hallo, David? Bagaimana? Kau sudah menemukan Suho Oppa?”

Kim Suho masuk ke rumah sakit, dan sekarang dia adalah pasienku.

 

♥♥♥

 

Yera berlari di antara banyaknya pasien dan penjenguk di rumah sakit besar tempat suaminya bekerja sebagai dokter ahli neurologi. Setelah David menghubunginya dan mengatakan Suho masuk ke rumah sakit ini, tanpa berpikir apa-apa lagi, ia langsung membawa dirinya kemari.

“Bagaimana keadaannya, David?!”

Pria berjas putih dengan stetoskop di lehernya itu dapat menangkap raut wajah khawatir istrinya yang mengkhawatirkan kondisi Kim Suho, pria berumur 25 tahun yang kini sudah menjadi pasiennya. Dan hal itu, perlahan namun pasti mulai melukai hatinya.

“David! please tell me!” wanita itu mengguncang tubuh suaminya.

“Alzheimernya sudah semakin parah, Honey. Dia akan mengalami kematian mental sebelum kematian fisik. Pengobatan hanya mampu memperlambatnya, tidak mampu menyembuhkannya. Dan seorang dokter sepertiku tetap tidak bisa merubah ataupun menetapkan takdir seseorang begitu saja.”

David menarik Yera ke dalam pelukannya, membiarkan istrinya menumpahkan airmata di dadanya. Yera menenggelamkan wajahnya di dada David, penjelasan David tentang kondisi Suho tadi cukup untuk membuat airmatanya seketika tumpah. Suho akan mengalami kematian mental sebelum kematian fisik?

Please, David. Save him for me.” Pinta Yera di sela-sela tangisannya.

“Suho membawa bunga ini bersamanya, polisi yang memberikannya padaku.” David memberikan setangkai bunga daisy yang sempat dibawa Suho saat pergi dari rumah pada Yera karena David yakin alasan Suho membawa bunga itu tak lain karena Suho berusaha mengingat sosok Yera yang tak mampu pria itu ingat sama sekali.

“Jika Suho bisa mengingatmu kembali, apa kau akan kembali padanya dan meninggalkanku bersama Jesper?” tanya David. Matanya hanya sanggup menatap Yera dengan tatapan sendu.

Tangan gemetar wanita itu bergerak perlahan mengambil bunga yang diberikan David. Kilas balik ingatannya tentang bunga itu membayang-bayangi pikirannya. 4 tahun lalu, suatu malam di bulan april, Suho datang padanya, menyamar sebagai tukang bunga yang mengantarkan bunga spesial untuknya.

“Eoh? tapi aku tidak memesan bunga apapun, Ahjussi.” Ucap Yera yang sangat bingung saat itu.

“Kau yakin, Agassi? Aku disuruh atasanku untuk mengantar bunga ini ke rumah ini, dan di sini tertera atas nama Kim Yera. Ini nama Agassi, kan?”

Gadis itu terdiam, lebih terlihat berpikir. Siapa yang salah di sini sebenarnya? Dirinyakah? Tapi tidak mungkin! Jelas-jelas ia tak merasa memesan bunga!

“Mata Agassi seperti mata yang habis menangis. Waeyo? Agassi bertengkar dengan kekasih Agassi?”

“Apa yang kau bicarakan sekarang, Ahjussi?” raut wajahnya berubah kesal.

Pria pengantar bunga itu tertawa, “Ini bunga daisy. Bunga ini diartikan sebagai kerendahan hati, kestabilan, suci, simpati dan keceriaan.”

“Lalu?”

“Ambillah, mungkin saja bunga ini bisa membawa keceriaan bagi Agassi sehingga Agassi tidak akan bersedih lagi. jika kekasih Agassi berbuat salah, maafkan dia, pasti dia tidak bermaksud membuat Agassi bersedih seperti ini.”

“Yak! Ahjussi!” gadis itu melepas topi yang  dipakai pria pengantar bunga itu, membuat penyamaran Suho seketika terbongkar. “Eoh? Suho Oppa…”

Lelaki itu tersenyum lebar, memperlihatkan barisan giginya yang rapi. “Jika tidak begini, kau tidak mungkin mau menemuiku. Mianhae, Yera-ya.”

Yera menatap mata Suho, di sana, hanya ada ketulusan yang terpancar. Suho benar-benar tulus meminta maaf. Ia seperti anak kecil saja, bukan? Menangis dan marah pada Suho hanya karena masalah kecil.

“Dasar bodoh.” Yera mendorong pelan bahu Suho, matanya berbinar terharu.

Geurae, aku memang bodoh.” Suho mendekap tubuh kecil kekasihnya. “Bodoh karena telah membuat seorang malaikat bernama Kim Yera menjatuhkan airmatanya.”

“Kau tidak akan menerima bunga ini?”

“Apa yang akan aku dapatkan jika aku mau menerimanya?” tanya Yera yang menatap Suho dengan tatapan manja.

Good night kiss.”

Mwoya!” pipi gadis itu merona seketika.

 

♥♥♥

 

Udara sejuk di bulan Mei ini seolah mengundang Yera untuk mengajak Suho berkeliling taman sekitar rumah sakit. Wanita itu mendorong pelan-pelan kursi roda yang diduduki Suho sambil mengajak pria itu untuk melakukan percakapan ringan.

Oppa…” Yera berjongkok di depan kursi roda Suho dan menatap wajah malaikat pria itu lekat-lekat. “Sebenarnya banyak sekali yang ingin kutanyakan padamu. Tentang kau yang melupakan makan malam kita, tentang siapa wanita yang memelukmu hari itu, tentang kenapa aku yang harus pertama kali kau lupakan. Aku ingin mendapat semua kepastian itu.”

Tangan Suho bergerak menyentuh wajah Yera. Telunjuknya menyentuh dahi, turun ke hidung, dan menyentuh bibir merah muda Yera. Wanita itu hanya terpejam saat merasakan kelembutan sentuhan jemari Suho di wajahnya. Kelembutan Suho yang selama ini ia rindukan, kini bisa ia rasakan lagi dalam hidupnya.

Semilir angin musim semi menerpa kulit putih dua insan itu, mengibaskan rambut panjang Yera hingga sedikit menutupi wajah cantiknya. Suho tampak tersenyum seraya menyingkirkan rambut Yera yang menghalangi lekukan wajah wanita itu yang merupakan mahakarya Tuhan paling indah yang pernah dilihatnya.

CHU!

Suho mengecup bibir Yera, menyalurkan kehangatan musim semi ke bibir wanita itu. Ciuman lembut yang sejujurnya tak pernah ingin Yera lepaskan. Yera meremas celana seragam pasien Suho, menandakan ciuman itu begitu berkesan di bibirnya.

Dari lantai 2 rumah sakit, David memandangi pemandangan menyakitkan di bawah sana dengan mata berair. Pemandangan itu membuat dadanya sesak. Orang bilang, cinta pertama tidak akan mungkin bisa kita lupakan begitu saja. sepertinya kata-kata itu berlaku bagi Yera dan dirinya. Kim Yera adalah cinta pertama David Byun, dan cinta pertama Kim Yera adalah Kim Suho.

Oppa… lihat bunga ini!” Yera menunjukkan setangkai bunga daisy pada Suho, namun pria itu tak menunjukkan mimik yang diharapkan Yera. Suho hanya memandang bunga yang dipegang Yera dengan pandangan yang biasa-biasa saja.

“Ini Daisy, bunga kesukaanmu. Kau pernah mengatakan padaku, kalau ini adalah bunga ajaib. Bunga yang memiliki inti bunga yang lebih besar dan dikelilingi oleh petal-petal ini akan membuka saat matahari terbit dan akan menutup saat matahari terbenam.” Wanita itu tersenyum getir melihat Suho yang sudah tidak bisa mengingat apapun lagi tentang bunga yang dipegangnya.

“Aku harap bunga ini benar-benar bisa membawa kita kembali pada keceriaan.”

 

♥♥♥

 

David dan beberapa perawat terlihat berlari tergesa-gesa setelah mendapat panggilan darurat dari salah satu kamar pasien mereka. Kamar 0522, tempat seorang pasien bernama Kim Suho dirawat secara intensif akhir-akhir ini. Dokter ahli neurologi itu masuk ke kamar rawat Suho dan menemukan istrinya duduk disamping ranjang Suho yang kritis dengan kue tart di tangannya.

Saengil chukkahamnidasaengil chukkahamnidasaranghaneun Suho Oppasaengil chukkahamnida…” lirih Yera yang terus memaksakan senyumannya.

Tuuuuuuutttt. Bunyi panjang dengan sebuah garis lurus di layar monitor pendeteksi detak jantung Suho itu seketika saja menjatuhkan airmata Yera yang sebelumnya wanita itu tahan dengan sekuat tenaga. Yera tak pernah membayangkan, kalau ciumannya bersama Suho kemarin, adalah ciuman pertama dan terakhir dari Suho untuknya.

David memandang istrinya tak tega, kepergian Suho ini pasti membuat istrinya benar-benar terpukul.

“Pasien Kim Suho. Waktu meninggal, 22 Mei 2016, 3.20 pm.”

“Kau belum membuat permohonan, Oppa…” Yera mengguncang pelan tubuh tak berdaya Suho. “Bahkan lilinnya masih menyala, belum kau tiup.”

“Daisy…” panggil David, lirih. Istrinya itu tak beranjak juga dari sisi Suho. Perawat yang akan menutup jenazah Suho pun menjadi tak tega untuk menjauhkan Yera dari Suho.

“Daisy…”

“Apa kau sedang membuat permohonan? Kenapa lama sekali? Ayo kita tiup lilinnya sekarang…”

“KIM YERA!” David menarik kasar lengan Yera hingga kue tart yang ada di tangan wanita itu jatuh berantakan di lantai. David menariknya keluar agar para perawat itu bisa dengan mudah mengurus kematian Suho.

Mata basah Yera menatap David, “Ini hanya mimpi burukku saja, bukan? David, tolong bangunkan aku sekarang juga! Aku harus bangun agar aku bisa merayakan ulang tahun Suho Oppa di rumah sakit! bangunkan aku, David!”

Mianhae, Kim Yera. Jika saja aku tidak menerima tawaran untuk bekerja di sini, kau tidak mungkin terluka lagi. Airmatamu, tidak akan mungkin terjatuh lagi karena Kim Suho. Jeongmal mianhae.” David memeluk tubuh istrinya erat-erat, airmatanya ikut menetes merasakan duka mendalam yang dialami istrinya akibat kehilangan cinta pertamanya.

“David… aku mencintainya.” Ucap Yera dengan airmata yang berlinangan. “Bahkan hingga detik ini… aku masih mencintainya. Sungguh.”

Sakit, hati David terluka mendengar pengakuan itu. Tapi seperti yang Yera rasakan pada Kim Suho, ia pun akan tetap mencintai Yera, sampai kapanpun itu.

 

♥♥♥

 

Setelah kehilangan Suho hari itu, Yera seperti kehilangan separuh dari jiwanya. Semangatnya untuk hidup seolah sirna saat itu juga. Melewati setiap malam dengan mimpi buruk cukup untuk membuatnya terlihat seperti mayat hidup. Namun Jesper, buah hatinya bersama David selalu memberi energi positif untuknya kembali menjalani hidup. Jesper Byun adalah kekuatan tersendiri bagi Kim Yera.

Dengan langkah berat, Yera kembali melangkah masuk ke toko ‘DaiSu Florist’ peninggalan Suho. Tidak ada yang berubah, rumah toko itu tetap terlihat seperti terakhir kali Yera meninggalkannya karena mencari Suho yang tiba-tiba hilang entah ke mana.

Pandangannya tertuju pada sebuah ruangan yang terkunci oleh kode angka, ruangan yang tak bisa Suho masuki karena lupa dengan angka-angka yang pria itu atur sendiri. Yera berjalan mendekat lalu menekan 4 digit angka-angka itu secara asal, kode yang dimasukkannya selalu saja salah.

“Kau tahu? Aku baru saja menonton anime jepang.”

“Lalu?”

“Tokoh dalam anime itu berkata kalau seseorang bersin tepat di depan wajah kita, itu adalah sebuah pernyataan cinta!”, “Aku pikir, aku akan dengan senang hati menerima pernyataan cintamu barusan.”

Hari itu….

Yera mencoba memasukkan kode 0214 untuk mengisi 4 digit angka yang mengunci ruangan di depannya dan… pintu ruangan itu bergeser, terbuka. Yera melangkahkan kakinya ragu-ragu memasuki ruangan privasi Suho. Ruangan bercahaya remang-remang merah itu penuh berisi foto-foto Yera yang Suho abadikan menggunakan kameranya sendiri.

cats

Namanya Kim Yera.’ ‘Gadis cantik ini adalah kekasihku.’ ‘Kim Yera kekasih Kim Suho.’ ‘Aku mencintainya.’ ‘Kau tidak boleh melupakannya, Kim Suho!

Tulisan-tulisan pada kertas kecil berwarna-warni itu tertempel diantara sekian banyak foto Yera. Tulisan itu seolah menjadi pengingat Suho akan sosok gadis yang dicintainya, namun sayang, penyakit itu dengan teganya menghapus ingatan Suho akan kode pengunci ruangan ini.

Malam itu seharusnya aku melamar Kim Yera, tapi aku malah melupakannya. Dasar bodoh!

Mata wanita itu kembali berair. Melamar? Apa itu sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan Suho padanya waktu itu? Suho ingin melamarnya?

Hari ini, Yera menangis lagi.

Yera melangkah sedikit lebih jauh lagi dan menemukan sepucuk surat berwarna biru muda di bawah sebuah kotak cincin berbentuk hati.

Surat untuk Kim Yera, dari Kim Suho.

Wanita itu jatuh terduduk berlinang airmata setelah membaca isi surat yang ditulis tangan sendiri oleh Suho. Tangan gemetarnya mengeluarkan sebuah cincin dari kotak kecil berwarna merah itu, cincin yang seharusnya sudah melingkar sejak lama di jari manisnya. Ia menatap nanar cincin di mana tulisan ‘Wanita yang paling Kim Suho cintai, Kim Yera.’ terukir di sana.

“Kau… Lelaki yang paling Kim Yera cintai, Suho Oppa… Aku juga… mencintaimu.”

 

Kim Yera… selagi aku masih bisa mengingatmu, aku menulis surat ini. sungguh aku takut, takut kehilangan semua kenanganku bersamamu. Mereka bilang, ada penghapus di memoriku, penghapus yang akan menghapus seluruh kenanganku tanpa bisa kupilih mana yang ingin kuhapus dan mana yang tidak. Sebentar lagi, aku tidak akan mampu mengingatmu, mengingat kita, dan cinta kita. aku akan melupakannya, perlahan-lahan…

Sungguh ini bukan keinginanku, Yera-ya. Melupakanmu, aku sama sekali tak pernah berpikir akan melakukan itu. cinta kita, aku ingin terus mempertahankannya. Bersamamu, hidupku yang malang ini seketika berubah menjadi lebih indah. Yera-ya… tidak, aku tidak mampu membayangkannya, membayangkanmu yang tiba-tiba menghilang dari ingatanku, aku benci itu!

Suatu hari, jika kau kembali dan menemukanku melupakanmu, tolong maafkan aku. Jika berada di sisiku hanya membuat airmatamu kembali jatuh, maka pergilah, jangan bertahan untukku. Melihatmu terluka karena kebodohanku sendiri akan membuatku benar-benar merasa tersiksa. Tidak, jangan terluka karena aku! jangan, Yera-ya!

Aku mencintaimu… aku akan selalu mencintaimu… bahkan jika ingatanku tentangmu benar-benar menghilang, aku akan tetap mencintai seorang gadis bernama Kim Yera. Yera-ya… tetaplah menjadi bunga daisyku…

Aku Kim Suho, akan selalu mencintai Kim Yera sampai kapanpun…

Kim Yera… aku mencintaimu.

 

 -Kim Suho

 

The Tears Has Fallen Again

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s