[EXO Fanfiction] Special Ramadhan – Different Ours Chapter 1

DIFFERENT OURS Chapter 1

Untitled-1b

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Casts : Jang Chommi as Park Ahjung, Park Chanyeol, Kang Sura as Kim Kira, Byun Baekhyun

Genre : AU, Drama, Religi, Romance, Sad.

Rated : PG-15

Length : Chaptered/Series

Disclaimer : Casts belongs to God and Their real life. This is just my imagination. FF ini dibuat hanya untuk menyambut bulan Ramadhan 🙂 segala kelebihan datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa, dan segala kekurangan datangnya dari saya sendiri. Marhaban ya Ramadhan! 🙂

© AYUSHAFIRAA, 2016. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

 

♥♥♥

Ketika pagi menyongsong, fajar itu menyapaku…

Ketika siang menjelang, mentari itu setia menghangatkanku…

Ketika senja mulai terbenam di ufuk timur, bulan itu yang siap menerangi gelap malamku…

Kau adalah fajar itu, kau adalah mentari itu, kau adalah bulan itu…

Semua itu, adalah dirimu…

Gadis itu menutup buku diarynya setelah mendengar suara familiar yang selalu memanggil namanya di jam-jam seperti sore ini. ia tersenyum, lelaki itu berdiri di ambang pintu memandangnya dengan senyuman mengesankan. Ia beranjak dari bangkunya, melewati sederetan bangku kosong yang sudah lebih dulu ditinggalkan teman-temannya.

Oppa, apa dosenmu berceramah lagi? kau telat 20 menit.” Bibir gadis itu mengerucut, menunjukkan sedikit rasa kecewanya pada lelaki itu.

Aigoo~ kau bahkan sampai tahu berapa lama aku terlambat! Ahjung-ku sepertinya sudah benar-benar pintar!” lelaki itu menepuk-nepuk pelan puncak kepala Ahjung yang tak lain adalah gadis berambut panjang yang tadi terduduk sendirian di kelas karena menunggunya.

Ahjung tersenyum lebar, tangannya dengan cepat menggandeng mesra lengan –sedikit– kekar lelaki tinggi itu. “Kajja!”

Mereka berdua berjalan berdampingan di lorong kampus yang sudah sepi, hanya terlihat segelintir mahasiswa yang masih berkumpul di area taman kampus itu. langkah Ahjung terhenti di depan sebuah mading, di mana sebuah cerita bersambung karya lelaki di sampingnya, Park Chanyeol, tertempel di sana.

“Bidadari Surgaku…” gumam Ahjung yang sudah terpana ketika baru membaca judulnya saja. Chanyeol tertawa melihat Ahjung yang asik membaca cerbungnya, ia lantas menarik tangan gadis itu dan mengingatkannya kalau hari sudah semakin sore.

“Padahal aku belum selesai membacanya…” gadis itu terus merengut di dalam mobil.

“Kau bisa membacanya di rumah, aku kan penulisnya.” Ucap Chanyeol sedikit menyombongkan diri. Lelaki itu memang seorang penulis, tapi bukan penulis besar yang terkenal sampai ke seluruh penjuru negeri. Ya, hanya penulis cerita pendek atau cerita bersambung yang berusaha mengisi mading kampus dengan cerita baru setiap minggunya.

“Ah! Aku baru ingat!” gadis itu menepuk dahinya, merasa bodoh karena telah melupakan sesuatu yang teramat penting. “Oppa, aku belum mencari buku pegangan  untuk sastraku! Tamatlah riwayatku besok!”

“Jangan khawatir, aku ini bukan pahlawan yang kesiangan.” Ucap lelaki itu yang masih fokus pada kendali kemudinya. “Ambillah di tasku!”

Ahjung berteriak-teriak di dalam mobil kegirangan, Chanyeol telah menyelamatkan nyawanya. Kalau lelaki itu tidak ada, mungkin ia benar-benar akan tamat besok. Gadis itu berkali-kali menyorakkan nama Park Chanyeol dengan semangat sebelum akhirnya mengambil tas lelaki itu yang ada di jok belakang mobil mereka.

Senyuman yang mengembang saat gadis itu antusias menggeledah tas Chanyeol perlahan memudar dan hampir sirna. Sistem pernafasannya seolah tak mampu lagi menghirup oksigen. Sesak sekali rasanya saat melihat sebuah kitab yang selalu dibawa lelaki itu, sebuah kitab yang berbeda dengan kitabnya. AlQur’an.

Waeyo? Kau belum menemukannya?”

“Sudah! Gomawoyo, Oppa!” jawab Ahjung cepat seraya menunjukkan buku pegangan sastra yang masih terbungkus plastik.

Sedih sekali rasanya menyadari ia dan lelaki itu berbeda. Chanyeol yang seorang muslim sejak lahir dan dirinya yang seorang nasrani. Sempat terpikirkan olehnya, kenapa lelaki di sampingnya itu tak memeluk agama yang sama saja seperti dirinya? Jawabannya, karena Chanyeol terlahir dengan islam dan tidak akan dengan mudah melepasnya.

Gadis itu berlari kecil ke kamar Chanyeol, kebiasaan buruknya, ia selalu lupa untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.

Oppa, apa shalatmu masih lama?” tanyanya pada Chanyeol yang sedang melakukan salam. Karena kepulangan mereka yang sedikit terlambat tadi, sedikit membuat Chanyeol terlambat untuk melaksanakan shalat maghribnya.

Lelaki itu terlihat berdoa sebentar lalu mengusap wajahnya, “Ada apa, Ahjung-ah?”

“Bantu aku belajar!”

“Sebentar lagi aku harus kembali shalat, jadi nanti saja, ya? Aku janji setelah itu, aku akan membantumu belajar sampai kau merasa pintar!” ucap lelaki itu. Ahjung terlihat sedikit kecewa, tapi ia mengerti, ia tidak boleh egois.

Arasseo! Aku akan kembali setelah shalat babak keduamu!” gadis itu kembali menunjukkan semangatnya dan berlari kecil entah ke mana. Chanyeol tertawa kecil, gadis itu masih saja kekanak-kanakkan, padahal baru saja gadis itu berulangtahun yang ke 20, mei lalu.

 

♥♥♥

 

Eomma…”

Wanita paruh baya bercelemek merah yang sedang berkutat dengan bumbu-bumbu dapur itu berbalik dan melihat Chanyeol yang sudah rapi dengan setelan kemeja dan membawa beberapa tangkai bunga mawar putih di tangannya.

“Aku akan pergi mengunjungi Appa.” Lanjut Chanyeol.

“Kalau begitu hati-hatilah, Chan-ah.”

tangan lelaki itu sedikit mengepal, “Eomma tidak akan ikut bersamaku?”

“Ahjung Appa sedang sakit, Eomma tidak bisa meninggalkannya sendirian. Kau mengerti itu, kan?”

Benar, ibunya memang harus mengutamakan orang yang masih hidup, bukan? Mendiang ayahnya juga pasti akan mengerti.

Kurang lebih sejak 20 tahun yang lalu, Chanyeol menjadi seorang anak yatim. Ibunya yang semula beragama islam pun tiba-tiba melepas keislamannya demi menikah dengan seorang pria kristen, ayah Ahjung sekarang. Hanya Chanyeol sendiri yang bertahan, hidup di keluarga kristen dengan keyakinannya yang tak pernah berubah.

Appa mianhae, untuk kesekian kalinya, aku tidak membawa Eomma bersamaku. Tanpa kuberitahupun, kau sudah tahu alasannya bukan?” lelaki itu tersenyum pahit di depan makam sang ayah. Sekeras apapun ia berusaha menahan airmatanya, airmatanya tetap saja tumpah. “Appa… bulan ramadhan tahun ini, aku harus sahur sendirian lagi. tidak akan ada yang mengingatkanku untuk bangun sahur selain alarm ponselku. bogoshipeoneomu bogoshipeo, Appa…”

Chanyeol menyimpan beberapa tangkai bunga mawar putih yang dibawanya itu ke samping foto ayahnya. Hidungnya merah setelah menangis.

Yaa Siin… Wal Qur’anil hakiim…

Lantunan bacaan surah yasin terdengar di telinganya. lelaki tinggi itu mengedarkan pandangannya mencari asal suara merdu bak malaikat itu. tak melihat siapapun di ruangan penuh guci abu orang meninggal itu, Chanyeol pun memutuskan untuk mencari asal suara itu ke ruangan lain.

Mata lelaki itu seketika saja terpana, melihat kecantikan seorang gadis berhijab yang terduduk di sebuah bangku dengan AlQur’an di tangannya.

Gadis berhijab itu menghentikan bacaannya dan memandang ke sekitarnya setelah merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Kening gadis itu mengkerut. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin, itu hanya perasaannya saja.

Di balik dinding, Chanyeol tersenyum. Sejuk sekali rasanya mendengar lantunan ayat suci AlQur’an yang dibacakan gadis itu. ini adalah kali pertama baginya, merasakan sebuah anugerah dari Allah berupa rasa yang orang-orang sebut dengan cinta.

 

♥♥♥

 

Pukul 3 pagi, alarm Chanyeol berbunyi. Sahur hari pertama. Lelaki itu bangkit dari tidurnya meski kenyataannya ia ingin sekali kembali tidur karena lelah setelah semalaman menemani Ahjung belajar. Tapi ia tentu tidak boleh mengiyakan rayuan setan yang berusaha memaksa matanya kembali menutup.

“Eoh?” mata Chanyeol menangkap sosok adik tirinya yang tertidur di meja ruang tamu dengan buku sastra yang ia belikan sebagai alasnya. Rupanya gadis itu terlalu semangat belajar sampai akhirnya ketiduran di atas buku materinya.

Langkah kaki lelaki itu membawanya untuk menghampiri sang adik, berniat membangunkannya. Namun ia berpikir ulang, tak tega bila harus membangunkan Ahjung yang terlihat kelelahan seperti itu.

Aigoo…” pekik Chanyeol saat menyadari berat badan Ahjung yang sepertinya bertambah 10kg jika dalam keadaan tertidur pulas seperti sekarang ini. lelaki itu mengangkat tubuh ramping Ahjung dan membawanya ke kamar gadis itu yang bersebrangan dengan kamarnya.

“Emmh…” Ahjung mengucek matanya sesaat setelah Chanyeol membaringkannya di tempat tidur. “Oppa, apa yang kau lakukan di kamarku?” gadis itu menguap lebar.

“Lain kali kau harus mengurangi berat badanmu, Ahjung-ah. Bagaimana kalau nanti kau menikah dengan seorang lelaki yang tak memiliki tubuh kekar sepertiku? Lelaki itu pasti tidak akan kuat mengangkat tubuhmu yang gendut ini!” ucap Chanyeol sedikit hiperbola. Padahal Ahjung sudah sangat ramping seperti itu, memangnya dia mau melihat adiknya kurus kering?

Mwoya!” gadis itu memukul bahu Chanyeol keras-keras hingga lelaki itu merintih. “Aku tidak gendut! Lagipula lelaki yang kusukai juga bertubuh kekar!”

“Oh ya? Siapa dia? teman kampusmu eoh?”

Oppa terlalu banyak bicara!” ucap Ahjung yang merasa risih dengan pertanyaan Chanyeol. Tubuhnya menggeliat, matanya melirik ke arah jarum jam yang baru hampir menunjukkan setengah empat pagi itu. “Baru setengah empat pagi… ah~ Oppa mengganggu tidurku!”

Mwo?!” Chanyeol terkejut bukan main. Bagaimana tidak? Ia belum sahur dan 10 menit lagi jam sudah akan menunjukkan setengah empat pagi saja!

Oppa, kau mau ke mana?!” seru Ahjung yang melihat Chanyeol berlari keluar dari kamarnya seperti orang terburu-buru.

Hampir imsak! Hampir imsak! Hampir imsak! Chanyeol terpaksa memasak seadanya, itu juga dengan gerakan yang terburu-buru. Bodohnya Chanyeol, bagaimana bisa ia melupakan waktu sahur hari pertamanya?

“Kau memasak apa? Tumben sekali kau kelaparan di dini hari seperti ini, Oppa.”

“Ssst! Jangan menggangguku!”

Ahjung manyun, ia kan bertanya baik-baik. lelaki itu duduk di meja makan dan menyantap mie instannya cepat-cepat. Ahjung yang melihat tingkah aneh kakaknya mulai sedikit khawatir, ia lalu mengambil secangkir air minum untuk mengantisipasi.

“Uhuk! Uhuk!” benar saja dugaannya, Chanyeol tersedak.

“Ini minumlah!”

Ahjung menggeleng, menatap Chanyeol tak habis pikir.

“Kau bisa terkena masalah pencernaan kalau makan seperti tadi.”

Alarm Chanyeol kembali berbunyi, kali ini tandanya imsak. Lelaki itu menghela nafasnya, setidaknya ia tidak meninggalkan sahur pertamanya meski harus ada acara tersedak dulu tadi-_-

Arasseoyo, terimakasih sudah mengingatkanku, Park Ahjung Agassi.” balas Chanyeol sambil mencubit gemas hidung mancung Ahjung, sementara yang dicubit hanya bisa memanyunkan bibirnya menghardik betapa bodohnya Park Chanyeol dalam hati.

 

♥♥♥

 

“Yak! Park Chanyeol!”

Chanyeol berbalik dan mendapati sahabatnya yang bertubuh sedikit lebih kecil darinya itu berlari menghampirinya dengan wajah berbahagia.

“Ayo kita ke kantin! Akan kutraktir kau makan siang, apaaa saja!” ucap sahabatnya itu dengan tangan yang sedikit memaksakan diri merangkul tubuh tinggi Chanyeol.

“Aku sedang puasa, Baekhyun-ah.”

Jinjja? Memangnya sudah bulan puasa ya?”

Lelaki bernama Baekhyun itu menggaruk kepalanya, meski ia tahu Chanyeol beragama islam, ia kan tidak tahu bulan-bulan islam itu apa saja. terkadang, Chanyeol juga suka berpuasa meski bukan di bulan puasa, jadi membingungkan Baekhyun kan!

Okay! Kalau begitu, aku akan mentraktirmu saat berbuka nanti! Catat apa saja yang akan kau makan dan catat juga di restoran mana!”

Okay!” Chanyeol ber-hi five ria menerima tawaran Baekhyun yang satu itu. “Memangnya ada apa? Ulang tahunmu kan sebulan yang lalu?”

Baekhyun merapikan kerah bajunya, bertingkah sok keren. “Memangnya kalau mentraktir harus selalu di hari ulang tahun?”

“Lalu?”

“Berkat dirimu, nilaiku sempurna! Huhhh!” Baekhyun terlihat begitu senang, dan sebagai sahabat yang baik, tentu saja Chanyeol ikut senang mendengar keberhasilan sahabatnya itu.

“Tapi Chanyeol-ah,”

“Hm?” Chanyeol memperhatikan tindak tanduk Baekhyun, sahabatnya itu terlihat memegangi perutnya dengan wajah mengkhawatirkan.

“Kau lapar?” tanya Chanyeol. Baekhyun mengangguk.

“Kalau begitu makanlah, tunggu apa lagi?”

“Apa kau keberatan jika aku memintamu menemaniku makan siang?”

Lelaki tinggi itu tersenyum mengerti, Baekhyun berusaha menghargai puasanya, mungkin takut ia akan tergoda oleh makanan yang Baekhyun makan.

“Tentu saja tidak, Kajja!”

Dua sahabat itu berjalan ke arah kantin sambil sesekali terlihat bercanda tawa. Baekhyun memesan sup kaki babi di kantin kampus mereka. Kalau sedang tidak puasa, Chanyeol lebih suka membawa makanan rumah yang ia masak sendiri. Karena bagi muslim yang hidup di Korea, sangat sulit sekali mencari makanan yang halal.

Sup kaki babi yang dipesan Baekhyun masih mengepul, tapi lelaki itu rupanya sudah tidak sabar menyantap makan siangnya. Belum sempat Baekhyun menyuap, matanya sedikit lebih cepat menangkap sosok Ahjung yang berjalan menghampiri mejanya. Lelaki itu pun dengan sigap merapikan penampilannya dan mengesampingkan dulu masalah perutnya yang keroncongan sedaritadi.

Oppa! Tumben sekali melihatmu di kantin.”

Semangat Baekhyun menurun, sapaan pertama Ahjung tentu saja untuk kakaknya, Park Chanyeol.

“Aku hanya sedang menemani Baekhyun makan siang.” Jawab Chanyeol yang kemudian membuat pandangan Ahjung tertuju pada Baekhyun, lelaki itu kembali tersenyum lebar.

“Eoh? Baekhyun Oppa, Annyeong!” sapa Ahjung pada Baekhyun.

Annyeong, Ahjung-ah!”

Chanyeol menahan senyuman gelinya, menyadari tingkah Baekhyun yang ‘katanya’ menyukai adik satu-satunya itu.

“Eoh? Ahjung-ah, siapa gadis di belakangmu itu?” tanya Baekhyun yang juga mengundang rasa penasaran Chanyeol. Chanyeol mengarahkan pandangannya ke arah gadis di belakang Ahjung sebelum akhirnya kembali terpana saat menyadari gadis di belakang Ahjung adalah gadis berhijab yang kemarin berani mencuri hatinya.

“Ah, dia teman baruku, mahasiswi baru di sini.”

Gadis cantik dengan pakaian sopan dan hijab yang menutup auratnya itu kemudian memperkenalkan dirinya,

“Kim Kira imnida. Assalamu’alaikum.

Waalaikumsalam warrahmatullah.

 

♥♥♥

 

To be continued…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s