[EXO Fanfiction] There’s a Kind of Love Called Letting Go

THERE IS A KIND OF LOVE CALLED LETTING GO

(ADA CINTA YANG DISEBUT MELEPASKAN)

THERESAKINDOFLOVECALLEDLETTINGGO

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Cast : Kim Junmyeon as Kim Suho, Do Kyungsoo as Kim Kyungsoo, OC’s Jung Aehyun & Detective Jang.

Genre : Angst, Brothership, Family, Sad.

Rated : T

Length : Oneshoot

Disclaimer : Semua cast adalah bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya untuk kepentingan cerita. Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

© AYUSHAFIRAA, 2016. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

If you are yearning for the sky, I will let go and let you fly.

.

.

.

Lelaki putih itu mendapati dirinya berdiri di tengah padang rumput ilalang seorang diri. Panasnya terik matahari menyilaukan manik mata malaikat yang ia miliki. Angin berhembus kencang menerpa tubuhnya hingga membuatnya harus menahan diri agar tak terjatuh.

Hyung…”

Lelaki itu mencari-cari asal suara yang tak dikenalinya, mencari sosok lain yang mungkin hadir di sekitarnya. Namun, lelaki itu tetap mendapati dirinya sendirian. Ya, hanya seorang diri.

“Suho Hyung…. bogoshipeo.”

Suara itu kini terdengar memanggil namanya dan merindukannya.

Hyungneomu bogoshipeo.”

Airmata lelaki itu tiba-tiba saja jatuh membasahi pipinya. Suara lirih nan sendu itu….

“Kyungsoo-ya! Kyungsoo-ya kau di mana?! Aku juga merindukanmu! Kyungsoo-ya! Kau di mana?!”

“Kyungsoo-ya!” Suho terbangun dari tidurnya. Untuk kesekian kalinya dalam 5 tahun ini, ia bermimpi mimpi yang sama lagi.

Suho membuka pintu kamar adiknya yang bersebelahan dengan kamarnya. Ia tersenyum, Kyungsoo terlihat masih tertidur lelap di kasurnya. Namun sedetik kemudian, senyuman lelaki itu memudar. Kim Kyungsoo yang masih terlelap dalam tidur ternyata hanya bagian dari halusinasinya, karena sejak berpamitan padanya untuk bermain di taman bermain 5 tahun lalu, Kyungsoonya tak pernah kembali lagi.

Sejak kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat 10 tahun yang lalu, lelaki putih itu tinggal bersama adiknya yang tunawicara sejak kecil di rumah mewah dengan harta kekayaan peninggalan orang tua mereka. Lelaki itu mengurus adiknya seorang diri tanpa bantuan satupun asisten rumah tangga karena semenjak kepergian orang tuanya, ia memecat seluruh asisten rumah tangganya karena takut tak sanggup membayar mereka lagi.

“Kyungsoo-ya! Waktunya makan malam!”

Adik yang hanya berselisih 2 tahun dengannya itu tampak riang mendengar waktu makan malam sudah tiba. Adiknya yang tak kalah tampan darinya itu kemudian duduk manis di kursi makan untuk menyantap makanan yang ia telah sediakan sebelumnya.

“Aku harap kau menyukainya.” Ucap Suho harap-harap cemas.

Satu suap, Kyungsoo mengunyah sup cair yang kelebihan air itu dengan nasi hangat. Ia lalu mengeluarkan buku catatan kecil dari saku celananya. Buku catatan pemberian Suho yang biasa Kyungsoo gunakan untuk memudahkannya berkomunikasi dengan orang lain.

Hyung membuatnya sendiri?’

Kyungsoo memperlihatkan tulisannya pada Suho. Kakaknya mengangguk pelan.

‘Rasanya tidak enak.’ Tulis Kyungsoo selanjutnya.

Suho membenturkan dahinya ke meja makan berulang kali sampai dirinya merasa kesakitan sendiri. Ia merasa bodoh karena meski sudah belajar memasak secara otodidak hingga mengganti masakannya berkali-kali, rasa masakannya tetap hancur.

“Baiklah, aku akan memesan makanan untukmu.” Lelaki yang lebih tua itu beranjak dari kursi makannya, hendak mengangkat gagang telepon rumah yang ada di ruang makan. Namun, Kyungsoo dengan cepat mencegah kakaknya.

Waeyo?”

Hyung tidak perlu membelikanku makanan lain. Aku akan memakan masakanmu ^_^’ Kyungsoo menunjukkan senyumannya.

Melihat Kyungsoo memakan masakannya yang tidak enak dengan lahap sungguh membuatnya merasa menyesal. Ia merasa ia tidak pernah bisa memberikan yang terbaik bagi adik satu-satunya itu.

Mianhae, Kyungsoo-ya.” Gumam Suho pelan. Kyungsoo memandang kakaknya seolah bertanya ‘ada yang ingin kau katakan?’ dan pandangan penuh tanya itu hanya dijawab dengan gelengan kakaknya yang tersenyum.

Hyung tidak makan?’

“Ah!” Suho menepuk dahinya sendiri. “Benar juga, aku sampai lupa kalau aku juga harus makan malam.”

Kyungsoo tertawa tak bersuara. Suho kembali duduk di kursi makannya, mulai melahap masakan buatannya sendiri yang memang ia rasa tak pantas untuk dimakan. Tapi anehnya, kenapa Kyungsoo sama sekali tak masalah dengan itu? baru beberapa suap saja, rasanya ia ingin memuntahkan makanannya kembali.

Drrt…drrrtt…drrrrttt….

Ponsel di atas meja makannya bergetar dengan layar yang menunjukkan sebuah panggilan dari nomor kontak kekasihnya, Jung Aehyun.

Yeoboseyo?”

Suara manja di seberang sana membalas sapaan Suho. Lelaki itu dibuat tersenyum saat mendengar suara kekasihnya meski hanya via telepon seperti sekarang ini.

“Aku sedang makan malam bersama Kyungsoo, Chagi.”

Mwo? Kau sudah di depan rumah? Tunggulah sebentar, aku akan keluar.”

Kyungsoo yang melihat kakaknya begitu semangat menemui sang kekasih hanya bisa tersenyum geli. Ternyata lelaki memang bisa semudah itu dibuat gila oleh seorang gadis.

Tunggu, bukankah Kyungsoo juga seorang lelaki? Mungkin memang benar, tapi Kim Kyungsoo berbeda dengan lelaki lainnya. Sejak dilahirkan 18 tahun yang lalu dengan kenyataan pahit tak bisa bicara atau membuat suara apapun dari pita suaranya, cukup membuat Kyungsoo merasa ia tak pantas merasakan rasanya jatuh cinta seperti kebanyakan manusia.

Annyeong, Kyungsoo-ya!” Gadis cantik yang dibawa Suho ke ruang makan itu mengelus punggung calon adik iparnya di masa depan. Dialah, Jung Aehyun. Gadis berumur 19 tahun yang mampu memikat hati seorang Kim Suho.

“Aku bawakan makanan enak untukmu, jangan makan makanan Hyungmu yang tidak enak ini lagi ya?” Aehyun menyingkirkan masakan Suho dari hadapan Kyungsoo dan menggantinya dengan masakan restoran yang ia beli.

Suho dan Aehyun duduk berhadapan dengan Aehyun yang duduk tepat di sebelah Kyungsoo. Aehyun melirik malas ke arah calon adik iparnya yang bisu itu sebelum akhirnya menatap serius ke arah Suho.

Oppa… ada yang ingin kubicarakan denganmu. Ini, menyangkut masa depan kita.”

Suho mengangguk-angguk, “Bicaralah, Chagi.”

“Bagaimana kalau mulai sekarang kita menitipkan Kyungsoo di Panti Asuhan saja?”

Garpu yang dipegang Kyungsoo seketika saja jatuh, Kyungsoo terdiam dalam kebisuannya.

“Panti Asuhan? Apa maksudmu? Kita masih bisa mengurus Kyungsoo bukan? Jadi, untuk apa kita menitipkannya di Panti Asuhan?” tanya Suho tak percaya.

“Jujur saja aku tidak bisa mengurusi Kyungsoo, Oppa! Aku tidak akan bisa mengurusi orang cacat seperti Kyungsoo! Mungkin, mungkin kau bisa mengurusnya, tapi tidak denganku!”

Tubuh Kyungsoo kini mulai gemetar, lelaki itu lalu memilih untuk menjauh dari pembicaraan menyakitkan itu.

“Cacat kau bilang?!” rahang Suho mulai mengeras.

Ani, maksudku… jika kita menikah dan Kyungsoo masih ada bersama kita, kau tidak mungkin bisa mengurusnya lagi karena kau harus mencari nafkah untukku! Dan saat kau mencari nafkah, aku tidak bisa mengurusnya! Jadi satu-satunya jalan keluar bagi kita adalah kita harus mengirimnya ke….”

“CUKUP! HENTIKAN! MESKI KAU BELUM SELESAI BICARA, AKU ANGGAP KAU SUDAH SELESAI! DAN HUBUNGAN KITA, HUBUNGAN AKU DAN KAU, JUGA SELESAI SAMPAI DI SINI!”

MWO?!” kini giliran Aehyun yang menatap Suho tak percaya. Apa Suho baru saja memutuskan hubungan mereka?

“YAK KIM SUHO! KAU BENAR-BENAR MEMUTUSKANKU?! HANYA KARENA ADIKMU YANG CACAT ITU KAU BERANI MEMUTUSKANKU?!”

Suho melonggarkan kerah bajunya, atmosfer di sekitar mereka sepertinya sudah berubah hingga ia kesulitan untuk menghirup oksigen. Sesak.

“AKU YANG SELALU BERSAMANYA SELAMA 18 TAHUN! AKU YANG HIDUP BERSAMANYA DARI SEJAK IA LAHIR HINGGA DETIK INI! AKU YANG MENGURUSNYA SELAMA 5 TAHUN TERAKHIR! DAN KAU? KAU BILANG DIA CACAT?”

“PERGI! PERGI SEKARANG JUGA!” gertak Suho yang sudah tak sanggup menahan amarahnya yang sudah di ubun-ubun. Aehyun yang baru pertama kalinya digertak oleh seseorang kemudian merasa terhinakan.

“YAK! KIM SUHO KAU SUDAH BENAR-BENAR MENGHINAKANKU EOH! JIKA SUATU SAAT KAU DATANG MENGEMIS PADAKU UNTUK KEMBALI, AKU TAKKAN PERNAH SEDIKITPUN MENOLEHKAN WAJAHKU UNTUKMU!”

“AKU, TIDAK AKAN PERNAH SEDIKITPUN BERPIKIR UNTUK KEMBALI PADA GADIS JAHAT SEPERTIMU! PERGI!”

Dibalik pintu kamarnya, Kyungsoo menangis terduduk menutupi kedua telinganya. Rasanya sakit sekali mendengar pertengkaran sepasang kekasih yang ia ketahui saling mencintai itu. berada di lingkungan keluarga yang selalu menerima kekurangannya membuat Kyungsoo begitu terpukul saat menyadari kalau kehadirannya juga bisa menjadi sangat tak diharapkan oleh orang lain.

Suho mencintai Aehyun, Kyungsoo tahu itu. Tapi mendengar Suho rela memutuskan hubungannya hanya demi dirinya, itu membuat Kyungsoo merasa berdosa.

“Kyungsoo-ya…” panggil Suho lirih. Lelaki itu mengetuk pelan pintu kamar adiknya yang terkunci.

“Jangan dengarkan perkataan Aehyun Nuna yang tadi ya? Kurasa Aehyun Nuna baru saja kehilangan akal sehatnya.”

Kyungsoo membuka pintu kamarnya, kedua matanya yang sembab dan bengkak memperlihatkan seberapa sedih adiknya itu mendengar kata-kata jahat Jung Aehyun. Suho mendekap tubuh Kyungsoo erat, sangat erat, menyembunyikan wajahnya yang kemudian berlinang airmata.

Hyung tidak akan mungkin sanggup meninggalkan Kyungsoo. Kyungsoo tahu itu kan?”

Kyungsoo mengangguk dalam dekapan Suho.

Hyung menyayangi Kyungsoo lebih dari apapun. Bahkan, jika Tuhan menyuruh Hyung untuk mati demi Kyungsoo, Hyung rela.”

Kyungsoo melepas pelukan Suho dan mulai menulis di buku catatannya,

Hyung tidak boleh mati sebelum Kyungsoo… kalau Hyung mati, siapa yang akan merawat Kyungsoo ke depannya?’

Suho tersenyum dalam tangis, ia lalu kembali merengkuh tubuh adiknya penuh kasih sayang.

Arasseo, Hyung tidak akan pernah mati. Hyung akan selalu berada di sisi Kyungsoo sampai kapanpun.”

Suho melangkah gontay, mencabuti setiap kertas yang ia tempel di sepanjang jalan sejak kehilangan Kyungsoo 5 tahun yang lalu. Selama 5 tahun itu, tidak pernah ada yang menghubunginya dengan mengabari kalau Kim Kyungsoo yang dicarinya sudah ditemukan. Tidak pernah ada.

tumblr_m5ii1ic6nm1rvmn2no1_500

Airmata Suho kembali menetes saat melihat kertas terakhir yang harus dicabutnya menunjukkan gambar Kyungsoo yang tersenyum bahagia. Hatinya benar-benar merasa terluka. Ingin rasanya, ia mati saja sekarang juga.

“Kyungsoo-ya… Kim Kyungsoo… Kau di mana?…” gumam Suho yang putus asa ditengah airmatanya yang terus berlinangan.

Drrrt…drrrttt…drrttt…

‘Detektif Jang’

Yeoboseyo?” Suho mengangkat sebuah telepon dari Detektif Jang, Detektif senior yang memang bertugas mengurusi kasus orang hilang, Detektif yang langsung Suho temui saat menyadari adiknya hilang entah ke mana 5 tahun yang lalu.

“Kyungsoo sudah ditemukan, Suho-ya. Adikmu sudah ada bersama kami.”

Secercah cahaya harapan kini mulai terang benderang menerangi jalan Suho. tanpa berpikir apa-apa lagi, lelaki 25 tahun itu berlari secepat yang ia bisa menuju tempat yang disebutkan sang detektif dengan senyuman merekah dibibirnya.

Sebuah taman bermain di dekat rumah mereka, taman bermain tempat Kyungsoo biasa menghabiskan waktunya untuk bermain dengan anak-anak yang lebih kecil darinya.

“Detektif!” panggil Suho saat melihat pria paruh baya yang tak lain adalah Detektif Jang yang sedang hendak menyalakan rokok di mulutnya.

“Di mana Kyungsoo, Detektif? Cepat katakan padaku di mana dia?!” tanya Suho tak sabaran. Sorot manik matanya berbanding terbalik dengan manik mata sang detektif yang berubah sendu.

“Kemarilah… Kyungsoo ada di sini…”

Detektif tua itu membawa Suho ke tempat yang dikerumuni beberapa polisi bermasker putih. Dahi Suho berkerut bingung. Detektif Jang menyuruh anak buahnya serta beberapa polisi untuk menyingkir sejenak, tangan penuh kerutnya menunjuk ke arah sebuah lubang cukup besar yang tampak baru saja digali paksa.

“Kyungsoo ada di sana, Suho-ya.”

“A-apa maksudmu, Detektif?”

“Aku menemukan ini.” itu buku catatan Kyungsoo, yang Suho berikan. Suho memandangi buku catatan yang sudah lusuh, berdebu dan seperti kering dari basahnya air itu dengan tatapan tak percaya.

“Temuilah Kyungsoo, Suho-ya. Kyungsoo merindukanmu.” Lanjut sang detektif kemudian memberi isyarat pada salah seorang anak buahnya untuk mengantar Suho pada Kyungsoo.

Anak buah sang detektif kemudian membantu Suho untuk masuk ke dalam lubang cukup besar itu di mana sebuah gorong-gorong besar untuk aliran air berada. Suho terpaku dengan airmata di pelupuk matanya saat melihat tengkorak serta tulang belulang yang menjadi pemandangan pertama kali yang ia lihat.

“YAK! DETEKTIF JANG! APA MAKSUDMU?! INI BENAR-BENAR TIDAK LUCU! MANA KYUNGSOO-KU?! DI MANA KAU SEMBUNYIKAN ADIKKU, BRENGSEK?!”

“Kami minta maaf, Kim Suho-ssi. Tapi tengkorak dan tulang-tulang ini benarlah milik adikmu, Kim Kyungsoo. Kami harap kau bisa bertabah, Suho-ssi.” Ucap anak buah detektif Jang.

Mwo?!”

Suho meremas buku catatan yang ia genggam, airmatanya berlinang tak tertahankan lagi. apa kata mereka? Kyungsoo meninggal? Tidak mungkin!

ANDWAE! ANDWAE! KYUNGSOO-KU… KYUNGSOO-KU TIDAK MUNGKIN SUDAH MATI! CEPAT KATAKAN DI MANA KYUNGSOO-KU, BABOYA?!” sebelah tangan Suho kini meremas kerah anak buah detektif jang kuat-kuat.

“Semua jawaban dari pertanyaan yang ingin kau tanyakan ada di buku catatan itu, Suho-ssi. Bacalah.”

Hyung! Aku pergi bermain dulu ya!’ Kyungsoo menunjukkan tulisan itu pada Suho yang sedang sibuk mengurusi tugas-tugas kuliahnya.

“Kau akan bermain ke mana, Kyungsoo-ya?” tanya Suho yang kembali memusatkan perhatian ke tugas-tugasnya yang belum selesai itu.

‘Ke taman bermain di dekat rumah. Ppai ppai, Hyung!’

Lelaki 18 tahun bertubuh kecil itu lantas berlari-lari kecil layaknya anak berusia 7 tahun yang senang karena waktu bermainnya sudah tiba. Kyungsoo menyusuri jalan yang akan membawanya ke taman bermain. Saat itu, langit terlihat mendung. Mungkin itu yang menjadi alasan teman-teman mainnya yang rata-rata anak-anak itu tak terlihat berkumpul di taman seperti biasanya.

Tidak apa-apa. Kyungsoo bisa bermain sendiri.

Kyungsoo berlari-larian ke sana ke mari seolah-olah ada teman-teman yang mengejarnya hingga akhirnya…

BRUK! Kyungsoo terjerembab masuk ke dalam sebuah lubang saluran gorong-gorong yang tak tertutupi penutup beton. Biasanya, lubang-lubang seperti itu memang tertutup tapi entah kenapa kali ini naasnya lubang itu dibiarkan terbuka begitu saja.

Kyungsoo yang jatuh ke gorong-gorong besar itu lalu menepi ke tepian di mana air dingin yang mengalir itu tidak akan bisa menyentuh kulitnya. Tubuh Kyungsoo menggigil karena dari pinggang ke bawah tubuhnya basah saat jatuh ke aliran air yang mengalir ke sungai-sungai itu. seketika saja, ia teringat akan buku catatannya. Bukunya tidak boleh basah!

Kyungsoo mulai meniup-niup buku catatannya yang sedikit basah berharap bukunya tak rusak begitu saja. bagaimana pun, buku itu sangatlah berarti baginya. Tak lama, hujan turun dengan derasnya. Bunyi alat berat terdengar jelas di telinga Kyungsoo. Ada orang! Ada orang yang bisa menyelamatkannya!

‘Tolong!’

‘Tolong!’

‘Tolong!’ Kyungsoo berteriak. Tentu saja itu menurutnya. Karena kenyataannya ia tak mengeluarkan suara sama sekali. Meski ia berteriak sekeras apapun, orang lain takkan bisa mendengarnya.

Perlahan, cahaya dari lubang itu mulai tertutupi. Lubang itu tertutupi oleh penutup betonnya. Airmata Kyungsoo menetes dari pelupuk matanya seiring dengan harapannya yang perlahan mulai menghilang.

Hyung!’

‘Suho Hyung!’

Hyung! Aku takut!’

Kyungsoo memeluk lututnya, berusaha menghangatkan diri dari dinginnya udara di luar sana karena hujan yang turun seolah tak mau berhenti barang sekejap saja. tubuhnya menggigil kedinginan. Angin yang masuk ke gorong-gorong itu benar-benar menusuk kulitnya.

Hyung… di sini dingin sekali… aku lupa memakai mantel pemberian eomma. Hyung… kau akan mencariku kan?’ tulis Kyungsoo di buku catatannya.

“KYUNGSOO-YA! KIM KYUNGSOO! KAU DI MANA?! KAU BISA DENGAR HYUNG?! HYUNG DI SINI, KYUNGSOO-YA! DI MANA KAU?!” teriakan Suho yang mencarinya sehari kemudian membuat Kyungsoo tersenyum lemah. Bibir serta tubuhnya sudah pucat pasi karena tak kuat menahan dinginnya udara yang memasuki musim dingin.

Jemari Kyungsoo bergerak mengambil bolpoin dan buku catatannya. Dengan sisa tenaga yang lelaki bisu itu miliki, lelaki itu menulis pesannya untuk sang kakak yang sangat ia sayangi, Kim Suho.

Hyung… aku senang akhirnya kau mencariku… aku di sini mendengar suaramu, Hyung… tapi bukankah… sekeras apapun aku menjerit meminta pertolonganmu, kau tidak akan pernah bisa mendengar suaraku?

Hyung…. terimakasih…. terimakasih sudah mau bersusah payah mencariku… bogoshipeo… aku ingin bertemu denganmu…

Hyung… akankah kita bisa bertemu lagi setelah ini? akankah kau bisa menemukan keberadaanku? Hyung… aku takut. Aku takut aku tidak bisa bersamamu lagi. aku takut kau melupakanku. Aku takut sendirian, Hyung. Aku takut semua itu… aku membutuhkanmu.’

Udara semakin dingin saja. tubuh Kyungsoo membeku. Bibirnya membiru. Tubuh lemasnya perlahan tergeletak tak berdaya di lantai dingin gorong-gorong gelap itu, tanpa ada seorang pun yang tahu.

Hyungbogoshipeo…’

Airmata Suho mengalir deras membanjiri kedua pipinya saat lembar terakhir dari buku catatan yang Kyungsoo tulis akhirnya berhasil ia baca. Dadanya terasa begitu sesak. Suho ingin mati. Sungguh, ia ingin mati saja.

“Kyungsoo-ya…. Kyungsoo-yamianhaejeongmal mianhae…”

Hyung akan menyusulmu… Hyung janji! HYUNG JANJI, KYUNGSOO-YA! HYUNG TIDAK AKAN MEMBIARKANMU SENDIRIAN LAGI! TUNGGU HYUNG, KYUNGSOO-YA!”

PLAK!

PLAK!

PLAK!

Detektif Jang menampar Suho yang histeris berkali-kali. Pria tua itu sudah tahu akan seperti ini jadinya jika Suho tahu Kyungsoo meninggal tanpa ada seorangpun yang bisa mendengar tangisan ketakutannya. Pria tua itu paham betul bagaimana rasanya ditinggal seseorang yang teramat sangat kita cintai. Pria tua itu juga pernah sama terlukanya dengan Suho sekarang.

“Aku tahu… aku tahu kau sangat mencintai adikmu, Suho-ya. Tapi! Bagaimanapun! Kau harus hidup! Kau harus meneruskan hidupmu! Kau tidak boleh menjadi lemah! Kyungsoo tidak akan menyukai itu, Suho-ya!”

“Bagaimana bisa aku meneruskan hidupku? Tuhan sudah mengambil semuanya dariku. Aku tidak punya apa-apa lagi. satu-satunya adikku yang paling berharga dibandingkan dengan apapun juga sudah Ia ambil. Jadi bagaimana bisa aku terus hidup? BAGAIMANA BISA?!”

Detektif Jang meremas kedua bahu Suho, menatap kedua matanya yang sembab, berusaha untuk menguatkan lelaki muda yang kini hidup sebatangkara tanpa siapapun di sampingnya.

“Ada cinta yang disebut melepaskan, Suho-ya. Di saat kita mencintainya, terkadang kita harus rela untuk melepasnya bahagia. Kyungsoo sudah bahagia di surga, aku yakin itu. kau sangat mencintainya, berarti kau harus melepasnya ke pelukan Tuhan. Cinta tak selalu harus saling bersama dan merasa saling memiliki, terkadang kita harus sadar kalau Tuhan Yang Maha Memiliki, Tuhan lebih berhak atas apa-apa yang kita anggap adalah milik kita.”

Saat itu juga Suho tersadarkan, Kyungsoo yang ia miliki tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Cinta… terkadang harus melepaskan, dan melepaskan… terkadang juga harus disebut cinta.

“Kyungsoo-ya… bagaimanapun… Hyung harus rela melepasmu pergi. Kim Kyungsoo, mianhae… aku benar-benar menyesal membiarkanmu pergi seorang diri saat itu. Pergilah, Kyungsoo-ya. Pergilah dengan tenang…. Hyung mencintai Kyungsoo…”

.

.

.

If you are yearning for the sky, I will let go and let you fly.

―There’s a Kind of Love Called Letting Go―

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s