[EXO Fanfiction] Where’s My Happiness?

wheresmyhappiness2

Author : Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_)

Casts : Park Chanyeol, Kim Jungyeon as Wu Fana, Wu Yifan

Genre : Drama, Family, Romance, Sad.

Rating : T

Length : Oneshoot

Disclaimer : FF ini pernah saya ikutsertakan dalam EXOFFI Writing Competition spesial ulang tahun blog itu yang ke-4, tapi gak menang dan gak masuk nominasi(?) sama sekali wkwk *mungkin belum rejeki 😀 The casts belongs to God and their real life, I just own the plot 🙂

Summary : Chanyeol melihat Fana tak pernah tersenyum bahkan ketika orang di sekeliling gadis itu tertawa karena candaan yang begitu lucu sekalipun. Chanyeol ingin sekali melihat senyuman di bibir Fana, tapi Chanyeol tak pernah menyangka kalau kebahagiaan yang ia buat di hidup Fana kemudian justru hanya akan membuat gadis itu semakin dekat dengan kematian.

*Author’s note : Faustitas syndrome dalam cerita ini tidak benar-benar ada dalam dunia nyata alias hanya karangan penulis semata yang ingin memberi bumbu drama yang berbeda dalam cerita.

 

♥♥♥

 

Suasana kelas pagi itu sangat ribut oleh suara siswa-siswi yang tertawa terbahak-bahak setelah guru olahraga mereka menceritakan kejadian lucu yang baru saja dialaminya. Park Chanyeol, adalah salah seorang dari 19 murid yang tertawa geli. Bahkan, reaksinya lebih parah dari teman-temannya. Lelaki yang baru merayakan ulang tahunnya ke-17 beberapa hari yang lalu itu sampai terpingkal-pingkal dan memukul-mukul mejanya sendiri akibat cerita konyol sang guru olahraga.

“Sepertinya, yang tidak menikmati ceritaku di sini hanya Fana saja.” ucap guru olahraga berbadan kekar itu yang langsung membuat perhatian ke-19 muridnya yang lain termasuk Chanyeol berpaling ke arah siswi yang duduk di bangku paling belakang sebelah kiri dekat jendela.

“Selera humormu sepertinya tinggi sekali, Wu Fana.” Lanjut guru itu.

Salah seorang siswi kemudian berdiri,

“Abaikan saja dia, Saem[1]! Dia kan memang ‘robot’!” kata-kata cemoohan siswi cantik itu justru kembali mengundang tawa semua teman-temannya. Tapi kali ini, tidak dengan Chanyeol.

Di saat yang lainnya kembali mendengarkan guyonan guru olahraga di sela-sela pelajaran, Chanyeol lebih tertarik memperhatikan Fana, siswi yang memang tak pernah terlihat mengukir senyum di bibirnya barang sebentar saja. Gadis cantik itu terlihat memandang jauh ke luar jendela, tanpa ekspresi.

Baekhyun, siswa tampan yang duduk di sebelah Chanyeol itu menyiku lengan sahabatnya yang terus mengarahkan pandangan ke arah siswi ‘robot’ di belakang sana. Lelaki itu kemudian menatap Chanyeol dengan mata menyipit.

“Yak, Chanyeol-ah[2]! Jangan bilang kau jatuh cinta pada gadis aneh itu? sungguh, Chanyeol-ah, Fana itu seperti robot yang kurang asupan batere!” bisik Baekhyun.

“Apa maksudmu, Byun Baekhyun?”

Baekhyun adalah sumber informasi dari segala informasi. Sejak pertama masuk ke sekolah ini sebagai siswa baru seminggu yang lalu, Baekhyunlah satu-satunya tempat bertanya Chanyeol.

“Dia tidak pernah berinteraksi dengan siswa-siswi lainnya, tidak pernah tertawa, tidak pernah tersenyum dan… apalagi ya?” Baekhyun terlihat berpikir sejenak. “Bahkan sampai sekarang aku tak pernah tahu bagaimana suaranya! Aku tahu dia tidak bisu. Lalu, apa mungkin suaranya seperti laki-laki ya? Mungkin saja karena suaranya seperti laki-laki dia jadi tidak mau menanggung malu!”

Chanyeol memukul kepala sahabatnya hingga sahabatnya itu merintih kesakitan.

“Jangan asal mengambil kesimpulan!”

 

♥♥♥

 

Baru kali ini Chanyeol benar-benar peduli pada kehidupan orang lain. Selama belajar di kelas, lelaki itu terus berpikir apa menjalani hidup seperti yang Fana lakukan tidak membosankan? Menahan untuk tidak berbicara pada orang lain, tidak tertawa, dan tidak tersenyum sedikitpun, apa gadis itu sudah lupa bagaimana caranya bahagia? Apa gadis itu justru bahagia dengan kehidupannya yang seperti robot itu?

“Yak! Kau!” tangan Chanyeol berhasil menarik Fana yang hampir saja tertabrak mobil saat hendak menyeberang tanpa mempedulikan lampu penyeberangan yang masih merah.

Jiwa Fana masih terguncang, terlihat dari tubuhnya yang gemetar hebat. Lelaki itu lalu membawa Fana ke taman untuk menenangkannya. Di bawah sebuah pohon yang rindang, Chanyeol duduk bersama Fana di bangku taman. Chanyeol hanya memperhatikan gadis yang terus menunduk itu tanpa berkata apa-apa, ia ingin tahu bagaimana cara gadis itu berterimakasih padanya.

“Te-terimakasih.”

Menjadi orang pertama dan pertama kalinya yang mendengar suara gadis manis itu, Chanyeol tak sanggup menahan semburat senyumnya.

“Apa ini pertama kalinya kau berbicara pada orang lain?” tanya lelaki itu yang berusaha menatap Fana yang tertunduk.

Fana mengangkat kepalanya, mempertemukan tatapannya dengan tatapan Chanyeol. Saat pandangan mereka bertemu, Chanyeol merasa ada yang aneh dengan jantungnya sendiri. Entah kenapa, tatapan Fana mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Gadis itu mengangguk, mengiyakan pertanyaan Chanyeol kalau ini adalah kali pertamanya berbicara pada orang lain selain keluarganya.

“Karena kau sudah mau berbicara padaku, bagaimana kalau kita berteman? Aku belum pernah memperkenalkan diriku secara pribadi padamu ‘kan? Namaku Park Chanyeol.”

“Orang-orang bilang, aku adalah ‘robot’. Kenapa kau mau berteman dengan seorang ‘robot’ sepertiku di saat teman-temanmu yang lainnya justru menjauhiku?” tanya Fana heran.

Chanyeol tersenyum sambil terlihat memikirkan alasannya,

“Apa ya alasannya? Kalau aku bilang aku ingin lebih dekat denganmu dan ingin mengenalmu lebih jauh lagi, apa itu cukup untuk kita bisa berteman?”

Lagi, untuk pertama kalinya Chanyeol melihat sebuah senyuman tipis terukir di bibir Fana dengan begitu indah. Gadis itu terlihat semakin cantik jika tersenyum dengan kedua pipi merona seperti itu.

Angin yang berhembus menerpa rambut panjang Fana yang terurai bebas. Sedaritadi, Chanyeol tak berhenti mengoceh tentang betapa beruntungnya ia bisa menjadi orang pertama yang menjadi teman gadis itu. Sementara itu, Fana yang sedaritadi hanya mendengar Chanyeol bercerita, terus tersenyum dalam diam.

“Ah, semakin sore udaranya semakin dingin saja.”

Lelaki itu berpaling menatap Fana dan seketika itu juga terkejut saat mendapati gadis itu sudah pucat pasi dengan tangan yang meremas ujung rok seragamnya.

“Fana-ya[3], kau sakit?” tanya Chanyeol khawatir. gadis itu tak menjawab.

“Kalau begitu biar aku antar kau pulang.” Chanyeol melepas jaket biru donker yang ia kenakan untuk menghangatkan tubuh Fana yang ia pikir memucat karena kedinginan.

 

♥♥♥

 

“Dari mana saja kau?” tanya seorang lelaki berambut pirang pada Fana tepat saat Chanyeol baru saja mengantarkan gadis itu ke rumahnya.

Lelaki berambut pirang itu terlihat menatap dingin ke arah Fana yang terus menundukkan kepala.

Jhweoseonghaeyo[4], aku yang membuat Fana pulang terlambat. Kami hanya mengobrol sebentar tadi di taman.“ jelas Chanyeol.

Kini, lelaki tinggi itu menatapnya tajam. Lelaki itu seperti tak suka melihat Chanyeol dekat-dekat dengan Fana.

Neo nuguya?[5]

“Namaku Park Chanyeol, teman sekelas Fana.”

“Jangan pernah kau dekati lagi adikku. Anggap saja tak pernah terjadi apa-apa diantara kalian hari ini, dan besok, bersikaplah seolah kau tak pernah mengenal adikku! Pergi kau!”

Lelaki tinggi berambut pirang yang ternyata adalah kakak Fana kemudian menarik kasar Fana untuk masuk ke dalam rumah minimalis mereka, meninggalkan Chanyeol yang tak percaya kalau di dunia ini ada seorang kakak yang memperlakukan adiknya sendiri begitu kasar.

“Makan ini!” sang kakak, Wu Yifan, menyodorkan makan malam yang ia masak sendiri untuk Fana.

Shireo.[6]” Ucap gadis itu menolak secara terang-terangan. Yifan memang tak pernah memasak makanan yang ia suka selama ini.

Yifan menghela nafas, “Terserah, jangan harap perutmu yang keroncongan itu bisa terisi hingga kenyang kalau kau menolak makanan ini.”

 

♥♥♥

 

Chanyeol tak ada bosan-bosannya memandangi ciptaan Tuhan yang satu ini. Di atap sekolah, lelaki itu menghabiskan waktu istirahatnya bersama Fana. Tidak ada siapa-siapa lagi kecuali mereka berdua.

Fana terbiasa pergi ke atap sekolah saat jam istirahat untuk menghindari gangguan siswa-siswi lain. Kali ini, Fana mempunyai Chanyeol sebagai satu-satunya temannya. Berbagi tempat favorit dengan Chanyeol sepertinya bukan masalah lagi bagi gadis yang Chanyeol ketahui dari Baekhyun memang seorang penyendiri.

“Kau yakin tidak pernah mencoba donat yang ada di kantin? Wah! Rasanya enak sekali menurutku!” tangan Chanyeol mencomot satu donat berbalut cokelat tebal yang biasa ia beli di kantin sekolah ini setiap jam makan siang dan mencoba menyuapkan donat itu ke mulut kecil Fana.

“Bagaimana menurutmu? Enak?”

Fana mengangguk cepat. Kedua manik mata gadis itu kemudian memandang lurus ke arah pemandangan yang tercipta dari atas gedung sekolah mereka.

“Aku tidak pernah memakan makanan seenak donat itu.”

Jinjja?[7] Wae?[8]” tanya Chanyeol yang benar-benar tak menyangka. Fana berasal dari keluarga mampu menurut Chanyeol, masa membeli makanan enak saja tidak bisa? Lagipula, makanan enak ‘kan tidak harus mahal, pikir lelaki itu.

“Karena Tuhan tak pernah mengijinkanku bahagia.” gumam Fana pelan.

“Apa maksudmu, Fana-ya?”

Fana menggenggam kuat besi pagar pembatas di depannya, Chanyeol dapat melihat jelas wajah pucat serta keringat dingin yang mulai mengucur membasahi pelipis gadis itu.

BRUK!

“Fana-ya!”

Chanyeol membopong tubuh Fana yang baru saja jatuh pingsan dengan disertai mimisan yang parah. Park Chanyeol yang mengangkat tubuh lemah Wu Fana seketika saja membuat heboh siswa-siswi satu sekolahan. Lelaki itu tak peduli lagi dengan sekelilingnya, yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya ia bisa membawa Fana ke rumah sakit secepatnya.

Dengan bantuan guru-guru, akhirnya Chanyeol dapat membawa Fana ke rumah sakit. Kakak Fana yang mendapat kabar dari sekolah tentang Fana yang masuk ke rumah sakit pun langsung mendatangi ruang rawat Fana dengan langkah terburu.

Chanyeol hanya bisa terduduk tak tenang di ruang tunggu. Pasalnya, ini sudah lama sekali sejak kakak Fana dipersilakan masuk ke ruang rawat oleh sang dokter yang menangani Fana.

“Chanyeol-ah…”

Panggilan itu membuat Chanyeol langsung berdiri dari duduknya dan mendapati sorot sendu kakak laki-laki Fana yang menatapnya.

“Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?” tanya Chanyeol sembari menunjukkan kekhawatirannya.

“Aku mohon… jangan pernah kembali muncul dalam hidup Fana, jangan pernah membuat Fana tersenyum lagi, tinggalkan dia. Kumohon jangan buat Fana semakin merasa bahagia akan kehadiranmu dalam hidupnya!”

Ye?[9]” Chanyeol mengerenyitkan dahinya. Bagaimana bisa kakak Fana berkata seperti itu? berkata seperti tidak rela melihat adiknya sendiri merasa bahagia di dekat Chanyeol.

“Fana bisa mati hanya karena dia merasa bahagia! Aku tidak ingin dia mati! Aku menyayanginya! Aku ingin selalu bersamanya!” jelas Yifan yang tak sanggup lagi menahan kesedihannya.

“Mati?” Lelaki itu semakin tak habis pikir. Hanya karena merasa bahagia, seseorang bisa kehilangan nyawanya?

“Fana termasuk dari 0,1% manusia di dunia ini yang menderita Faustitas Syndrome, sindrom di mana seluruh sel dalam tubuh penderitanya akan rusak perlahan-lahan jika si penderita itu mengeluarkan hormon bahagia meski dalam jumlah yang sedikit. Karena itulah, aku tidak pernah memberinya kebahagiaan, karena kebahagiaan hanya membuatnya semakin dekat dengan kematian.”

Chanyeol terdiam, menyadari betapa bodohnya ia yang baru tahu tentang hal ini. Ia tak pernah menyangka kalau kebahagiaan yang ia buat di hidup Fana justru hanya akan membuat gadis itu semakin menderita. Mungkin memang sudah seharusnya ia tak pernah muncul dalam kehidupan Fana sejak awal.

 

♥♥♥

 

Oppa[10]… di mana Chanyeol?” tanya Fana dengan suara seraknya. Gadis itu baru saja membuka matanya dari koma selama 3 hari, tapi yang ia tanyakan pertama kali adalah satu-satunya sosok lelaki yang mau berteman dengannya, Park Chanyeol.

“Kau tidak boleh bertemu dengannya lagi. Aku sudah menyuruhnya pergi jauh-jauh dari hidupmu. Aku juga sedang mengurus segala urusan perpindahan sekolahmu ke Kanada.”

Airmata Fana mengalir dari sudut matanya. Chanyeol yang menjauh dari hidupnya dan Yifan yang memaksanya pindah sekolah ke Kanada sepertinya sudah cukup untuk membuat bulir airmatanya terus menetes.

Oppa… aku tahu kau melakukan semua ini karena kau sangat menyayangiku. Tapi, aku juga ingin hidup bahagia. Aku tidak ingin menjalani hidup sampai tua tanpa kebahagiaan. Terkadang aku benci, ketika aku harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ketika aku merasa bahagia, aku mengurangi waktu hidupku sendiri.”

“Aku membutuhkan Chanyeol, aku membutuhkan kebahagiaanku. Setidaknya, aku ingin merasakan kebahagiaan di sisa akhir hidupku.”

Yifan menengadahkan kepalanya, mencegah airmatanya jatuh di depan sang adik. Hatinya teriris mendengar keinginan terbesar dari lubuk hati adiknya itu.

“Aku tidak pernah bisa meninggalkanmu, Fana-ya.”

Chanyeol berdiri di ambang pintu dengan sebuah senyuman di bibirnya, menggendong sebuah ransel dengan sebelah tangan dan mamandangi Fana dengan matanya yang basah oleh airmata. Lelaki itu baru saja membatalkan kepergiannya ke Jepang dan memilih berlari pergi ke rumah sakit sebelum semuanya terlambat dan membuatnya menyesal untuk selamanya.

“Aku mencintaimu, Wu Fana.”

Mata gadis itu kini berbinar melihat sosok yang dirindukannya. Yifan ikut tersenyum meski sebenarnya ia masih mengkhawatirkan kondisi adiknya. Chanyeol melangkah menghampiri Fana yang terbaring lemah di ranjangnya, tubuh kecil gadis itu terlihat semakin kurus saja.

“Jika waktu itu aku memintamu untuk menjadi temanku, sekarang, aku ingin kau menjadi kekasihku.” Ucap Chanyeol sembari menggenggam erat tangan Fana.

Fana tersenyum. Di saat yang bersamaan, gadis itu menahan sakit di dalam tubuhnya dengan sekuat tenaga. Chanyeol yang menyadari genggaman kuat gadis itu pada tangannya tak sanggup lagi menahan airmata. Yifan dengan cepat berlari ke luar ruang rawat untuk memanggil dokter.

“Tolong katakan itu sekali lagi, Chanyeol-ah…” pinta Fana lirih, sementara wajahnya semakin pucat dengan darah yang mengalir perlahan dari hidungnya.

Chanyeol menangkup pipi Fana, berusaha menatap dan tersenyum di depan gadis yang ia cintai meski airmatanya tak dapat menutupi rasa takut akan kehilangan gadis itu.

“Aku mencintaimu, jadilah kekasihku, Fana-ya. Aku… aku ingin selalu bersamamu.”

“Aku juga… mencintaimu, Chanyeol-ah. Terimakasih karena telah membantuku… menemukan kebahagiaanku. Karena Tuhan membawamu padaku hari itu, aku benar-benar bersyukur.”

Yifan terpaku di ambang pintu, memandang Chanyeol yang terus memeluk adiknya erat sambil menangis. Sebuah garis lurus beserta bunyi alat pendeteksi detak jantung itu menandai kepergian Fana dari sisi mereka untuk selamanya. Akhirnya, impian gadis itu terwujud. Fana pergi dengan meninggalkan sebuah senyuman di bibirnya.

 

Tuhan, terimakasih sudah mengijinkanku bahagia…

 

-FIN-

 

*Footnotes :

[1] Guru

[2] Penambahan akhiran di belakang nama (suffixes) untuk nama berakhiran konsonan

[3] Penambahan akhiran di belakang nama (suffixes) untuk nama berakhiran vokal

[4] Maaf

[5] Siapa kau?

[6] Tidak mau

[7] Benarkah?, Sungguh?

[8] Kenapa?

[9] Ya?

[10] Kakak ―wanita memanggil pria yang lebih tua, kakak sendiri/orang lain

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s