[NCT Fanfiction] For Special Person

FOR SPECIAL PERSON

A friendship become romance story with hurt/comfort genre written by Ayu Nur’asyifa Shafira (ayushafiraa_) || supported by all the casts (Actress’s) Kim Yoojung as Yoo Sarang, (NCT’s) Lee Minhyung as Mark, and Lee Taeyong

|| Oneshoot ||

Disclaimer : The casts are belongs to God, I just own the plot.

 

© AYUSHAFIRAA, 2016. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

 

♥♥♥

 

Aku benci jika aku mengetahui hari ulang tahunku bertepatan dengan hari ulang tahun temanku atau orang lain yang berada di sekitarku. Aku juga benci jika hari ulang tahunku berdekatan dengan hari ulang tahun mereka. Karena kau tahu? Akan sangat menyakitkan bagiku saat aku harus melihat orang-orang itu bahagia dengan hari ulang tahun spesialnya dan lain halnya dengan hari ulang tahunku yang kurasa… tidak pernah sespesial mereka.

.

.

.

“Hei, selamat ulang tahun!”

Sarang berjalan melewati sekumpulan anak muda seusianya yang tengah memberi kejutan pada teman mereka yang sedang berulang tahun. Telur, terigu, tanah bercampur bau-bauan aneh sudah membuat penampilan si yang berulang tahun itu berantakan. Namun tidak ada yang marah di sana, mereka semua bercanda tawa menikmati kejahilan mereka yang sangat sukses hari ini. Sarang tersenyum pahit.

Gadis itu menatap kalendar yang ada di dinding kelasnya tanpa ekspresi. Besok adalah hari ulang tahunnya. Tidak akan ada yang spesial, jadi untuk apa ia harus terus mengingat tanggal di setiap bulan september?

“Yak! Yoo Sarang!” tanpa harus memalingkan muka, ia sudah tahu, itu Mark, teman sekelasnya. “Apa yang sedang kau lihat, hm?”

Ah, lelaki itu tersenyum mengerti.

“Sarang-ah, mau membantu mengerjakan tugas rumahku eoh? aku sama sekali belum mengerjakannya! Aku lupa, sungguh!”

“Lalu apa saja yang kau lakukan semalaman, Mark?” tanya Sarang pada temannya yang memang memiliki kebiasaan tak pernah mengerjakan PR itu.

Mark terdiam, mencari alasan. “Aku-“

Arasseo, ayo kita kerjakan di perpustakaan saja.”

.

.

.

Mark memandangi wajah serius Sarang yang tengah mengerjakan tugas matematikanya yang terdiri dari 50 soal pilihan ganda. Gadis itu memang pintar sekali, pikir Mark dalam hati sembari menopang dagunya.

“Kalau aku mengerjakannya bersamamu, aku jadi bisa lebih mengerti walau sedikit-sedikit.”

Sarang tertawa kecil, “Memangnya kau ingin terus bersamaku, huh?”

“Memangnya kau tidak ingin?”

Tangan Sarang yang semula sibuk mengotret di secarik kertas buram pun seketika saja berhenti mengotret. Mark memang selalu bisa membuatnya merasakan perasaan tidak jelas seperti ini. Hentikan, Mark.

“Eoh? Yoo Sarang? Mark? Kalian tidak masuk kelas?”

“Eoh, Annyeonghaseyo, Lee Seonsaeng!”

Guru Lee, guru muda bahasa inggris yang juga tak lain dan tak bukan merupakan kakak dari seorang Mark Lee. Tatapan berbeda seorang Yoo Sarang pada Lee Taeyong membuat Mark berdecak kesal. Kalau memang Sarang sedang menyukai seseorang, kenapa harus Taeyong?

“Mark, kau menyuruh Sarang mengerjakan tugasmu lagi eoh?” tanya sang kakak, Mark menciut. “Ne, Hyung.”

“Yak! Ini sekolah! Kau tidak boleh memanggilku ‘Hyung’!”

Arasseo!” balas Mark malas.

“Sarang-ah, kau harus masuk kelas sekarang! Kalau Mark memintamu mengerjakan tugasnya lagi, abaikan saja! arasseo?”

Sarang tersenyum, “Ne, Seonsaengnim.”

.

.

.

“Hari ini, salah satu teman kita berulang tahun.” Ucap wali kelas di akhir jam pelajaran. Sorak sorai teman-teman sekelas Sarang mengisi ruangan yang tadinya hening. Namun, Sarang tidak termasuk ke dalam golongan itu. ia lebih memilih untuk memasukkan seluruh buku-bukunya ke dalam tas dan berpura-pura tak mendengar keributan di sekitarnya.

Saengil chukhahamnida!~ saengil chukhahamnida!~ saranghaneun uri Sena! Saengil chukhahamnida!~~~ huuuuu~~~~~”

Saengil chukhahaeyo, Sena-ya.”

“Woah! Sena! Aku iri sekali padamu!” reaksi berlebihan teman-teman terdekat Sena itu muncul saat Mark memberi ucapan selamat pada siswi yang sudah menginjak usia 17 tahun itu.

Sarang lagi-lagi harus menunjukkan senyuman palsunya saat melihat pemandangan itu terjadi didepan matanya. Mark yang tersenyum menatap Sena yang selalu  terlihat begitu cantik itu terasa menyesakkan dadanya.

Ternyata tatapan itu belum hilang.

“Balikan! Balikan! Balikan!”

Sudahlah. Sarang menggendong tas hitamnya dan melangkah keluar dari kelas.

.

.

.

Pagi itu, Sarang menghembuskan nafasnya sesaat setelah melihat layar ponselnya. Tidak ada panggilan dari siapapun dan tidak ada pesan dari siapapun. Tak apa, Sarang sudah terbiasa seperti ini setiap tahunnya.

Eomma, aku berangkat!”

Langkah kaki Sarang terhenti. “Mark?”

“YAK, MARK LEE!” teriak Sarang memanggil Mark yang sedang mengayuh sepedanya, siempunya sepeda pun berhenti.

“Ada apa, Sarang-ah?” tanya lelaki itu dengan raut malas.

“Aku ikut menumpang sepedamu, ya?”

“Ah, mian…”

Waeyo?” Sarang mengerutkan kening, tak biasanya Mark seperti ini.

“Untuk kali ini, aku sudah berjanji akan berangkat sekolah bersama Sena.”

Bersama Sena.

“Sena? Ah, baiklah.”

Mark kembali mengayuh sepedanya meninggalkan Sarang yang berjalan pelan jauh di belakangnya. Sebuah kaleng minuman kosong menjadi pelampiasan Sarang untuk perasaannya yang sudah kacau di awal hari ini. apalah ia dibandingkan Im Sena.

.

.

.

Seharian ini, Mark mengabaikan Sarang dan menyibukkan dirinya di sekitar Sena. Mood Sarang yang memang sudah rusak sejak pagi tadi semakin  bertambah rusak ketika ia tertangkap basah Lee Taeyong karena tidak mengikuti pelajaran bahasa inggris dengan fokus.

“Kalau kau tidak mau mengikuti pelajaranku, lebih baik kau di luar saja, Yoo Sarang!”

“Tapi, Saem…”

“Keluar, sekarang.” Tatapan tajam Taeyong sanggup membuat Sarang menunduk. Ini pertama kalinya ia diusir dari ruang kelas oleh guru seumur hidupnya. Harinya benar-benar kacau!

.

.

.

“Sebagai hukumanmu, rapikan buku-buku ini ke rak yang sesuai di perpustakaan!”

Setumpuk kamus-kamus besar bahasa inggris serta buku-buku lain yang juga berbahasa inggris itu Taeyong serahkan pada Sarang. Siswi kecil itu kemudian berlalu pergi meski harus terlihat begitu kesulitan membawa tumpukan buku-buku berat itu sendirian.

Taeyong benar-benar menyiksanya, itu sudah pasti.

.

.

.

Eomma, aku pulang!”

Sarang celingak-celinguk, rumahnya sepi sekali. Ayahnya belum pulang dari luar kota, lalu ibunya? Apa ibunya sedang pergi ke luar?

Gadis itu melangkah masuk ke dalam kamarnya dan melepas kaos kaki serta seragamnya. Rambutnya yang semula terurai bebas mulai ia ikat semaunya, tidak peduli rapi atau tidak.

“Hello, Yoo Sarang!^^”

Televisi yang ada di kamarnya tiba-tiba saja menyala dan memutar sebuah video yang terlihat menampilkan diri seorang Mark Lee.

“Kau sudah melalui hari yang berat hari ini, bukan?”

“Maafkan aku ya, i’m so sorry about that! Sebenarnya, ini adalah rencanaku bersama kakakku!”

“Hello, Sarang-ah!” sosok Taeyong tiba-tiba saja muncul di dalam video dengan segala ketampanannya.

“Kami sepakat untuk menjahili dan membuat mood-mu buruk seharian ini karena….”

“Taraaaa! Today is special day! Today is your birthday, Yoo Sarang! Happy sweet 18!”

Untuk kali ini, Sarang benar-benar terharu. Sepertinya, hanya dua orang itulah yang ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya dan membuat hari ini sangat berkesan baginya.

“Saengil chukhahamnida! Saengil chukhahamnida! Saranghaneun uri Sarang! Saengil chukhahamnida! Yeayyyy!”

Dalam video tersebut, Mark dan Taeyong terlihat kompak meniup terompet dan memakai topi kerucut serta tak lupa hidung tomat si badut. Meski sudah merubah penampilan mereka menjadi konyol, aura ketampanan mereka memang tak bisa disembunyikan.

“Eoh?” dua pasang kaki tampak tak tertutupi oleh gorden putih kamarnya, dua tangan yang membentuk hati itu mampu menarik perhatian Sarang.

13686967_1078736482206908_97795278_n

Saengil chukhahaeyo, Sarang-ah!” kepala dua kakak beradik itupun keluar dari persembunyian mereka, Sarang tertawa geli.

“Yak! Kenapa kalian berdua bisa masuk ke kamarku? Kalian mau mencuri ya?” Sarang berkacak pinggang.

“Ya! Benar sekali! Kami memang ingin mencuri!”

Mwo?”

“Mencuri hatimu~”

BLUSH! Ya Tuhan! Pipi Sarang memerah. Apa-apaan dua orang itu?! kenapa bisa kompak sekali dalam menggombal?!

.

.

.

Mark baru saja kembali dari mini market, menjinjing tas belanjaan yang penuh dengan beberapa makanan ringan serta minuman bersoda yang rencananya akan mereka bertiga habiskan di rumah Sarang sebagai pesta kecil-kecilan mengingat ibu Sarang sudah mengizinkan mereka berpesta tanpa perlu takut akan merasa terganggu.

“Sarang-ah… aku menyukaimu.”

“T-Tae-taeyong Oppa… apa maksudmu?”

“Aku menyukaimu, Yoo Sarang. Maukah kau menjadi kekasihku?”

Bruk! Tas belanjaan yang dijinjing Mark terjatuh begitu saja, membuat Taeyong dan Sarang seketika menyadari kehadirannya.

Hyung… menyukai Sarang?” tatapan lurus Mark tertuju tepat ke arah mata Taeyong.

Lelaki yang mendapat tatapan seperti itu dari adiknya pun tertawa canggung, “Ne, aku menyukainya. Aku kira kau sudah tahu tanpa harus kuberitahu, Mark.”

Mark mengangguk-anggukan kepalanya,

“Jadi ternyata, itu sungguhan.”

Waeyo? Kau menyukainya juga?” Taeyong balik bertanya.

Kini, Mark beradu tatap dengan Sarang. Pikiran gadis itu tak sanggup membayangkan jawaban apa yang akan Mark katakan, ia tidak mau terlalu berharap. Namun, secuil harapan itu pasti selalu muncul jauh di dalam lubuk hatinya.

“Sarang-ah, terimalah cinta kakakku.”

DEG! Kedua kaki Sarang sepertinya mulai melemas. Kenyataannya, ‘berharap’ hanya akan membuat kisahnya semakin menyakitkan.

“Bagaimana, Sarang-ah? Kau mau ‘kan?”

Sejenak, Sarang merasa kalau dirinya berhenti bernafas. Begitu sesak. Tatapan dan senyuman Mark yang ditujukan kepadanya malam ini, sungguh ia tidak ingin melihatnya lagi!

Ne, Oppa. Aku mau.”

Mark tersenyum didepan Taeyong yang sedang memeluk Sarang dengan penuh kebahagiaan. Lelaki itu melangkah mundur, menjauh, meninggalkan sepasang kekasih yang mengambil peran penting dalam hidupnya. Lee Taeyong, sang kakak, dan Yoo Sarang, gadis pujaan hatinya.

“Aku juga mencintaimu, Yoo Sarang.”

.

.

.

END.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s