[EXO Fanfiction] Special Christmas – 25 DAYS FOR LIFE (2/2)

25dfl

“Jangan pernah kembali lagi saat natal tahun depan.”

25 DAYS FOR LIFE

―A fanfiction by AYUSHAFIRAA―

`Starring Park Chanyeol, Nanami Sakuraba as Miharu Ayumi, Kim Junmyeon.`

|| Fantasy, Romance, Sad, School-life ||

// Teen // Twoshot //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

© AYUSHAFIRAA, 2016. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Wattpad ― Kakaostory

WATTPAD VERSION

♫♫ Recommended Song : EXO – FOR LIFE (Repeat mode) ♫♫

.

.

.

[Bagian 2 dari 2Masa Lalu yang Harus Dilupakan]

[Day 8 – December 8, 2016]

Seorang siswa berlari tergesa-gesa, ruang guru adalah tujuannya. Sesekali siswa itu harus bertabrakan dengan siswa-siswi lain yang menghalangi jalannya. Masa bodoh! Berita yang dibawanya untuk para guru lebih penting!

BRAK!

Ruangan yang sebelumnya berisik dengan suara guru-guru yang asyik bercanda tawa setelah mendapat undangan pernikahan dari Guru Kim seketika menjadi hening. Semua pandangan tertuju ke arah siswa yang membuka pintu ruang guru. Sembari mencoba mengatur nafasnya yang memburu, siswa itu memulai kata-katanya.

“Bu, Pak! PARK CHANYEOL DAN KIM JONGDAE BERKELAHI DI RUANG SENI!”

“APA?!”

.

.

.

Junmyeon menatap wajah kedua muridnya yang babak belur karena saling menghajar satu sama lain tanpa ada yang mau mengalah. Untunglah ada siswa yang mau memberitahu perihal pertikaian mereka ke ruang guru, kalau tidak, mungkin salah satu dari mereka akan berakhir di rumah sakit dan satunya lagi berakhir di balik jeruji besi. Sebagai seorang wali kelas, sudah seharusnya Junmyeon membantu menyelesaikan permasalahan yang terjadi di antara murid-muridnya itu.

“Apa sebenarnya yang membuat kalian berkelahi sampai seperti ini? kalian tahu kan kalau berkelahi hanya akan membawa kalian pada masalah yang lebih besar?”

Jongdae menahan tawanya, “Bagaimana bisa aku tidak menghajarnya, Pak? Aku hanya berniat membangunkannya dari semua delusi itu! Aku kasihan melihatnya tertawa dan berbicara sendiri seperti orang gila di ruang seni setiap hari, dia pasti sudah gila karena tidak pernah memiliki kekasih!”

“Berisik kau!”

“Hentikan, Park Chanyeol!” tegas Junmyeon yang berhasil menghentikan aksi Chanyeol menghajar Jongdae ―lagi.

“Delusi? Berbicara sendiri? Ruang seni? Coba jelaskan padaku, Chanyeol-ah.”

Chanyeol menunduk dengan mata berair, telinganya benci mendengar kata ‘Delusi’ atau apapun itu sinonimnya. “Aku tidak pernah berdelusi. Aku benar-benar memiliki kekasih. Dia selalu ada di ruang seni, dia orang yang spesial, dia tidak pernah beranjak dari ruang seni.”

“Lalu?” tanya Junmyeon, meminta penjelasan lebih.

“Baru pada saat aku mengajak Jongdae dan anak laki-laki lainnya ke ruang seni, kekasihku tidak muncul. Hanya karena kekasihku tidak muncul saat itu, Jongdae dengan percaya dirinya menghinaku di depan orang-orang.”

“Cih, sudah sangat jelas sekarang dia gila.” Ucap Jongdae mencibir.

Chanyeol meremas celana seragamnya, “Tapi sungguh! Aku tidak berdelusi! Dia benar-benar ada! Kau harus percaya aku, Pak!”

.

.

.

Ceklek,

Pintu ruang seni terbuka. Mata penuh kesedihan Chanyeol menangkap sosok Ayumi di sudut ruangan, duduk bersandar di dinding, memandang ke arahnya sembari tersenyum. Lelaki itu melangkah masuk dengan gontay, mendekati Ayumi yang masih tersenyum seperti menyambut kedatangannya.

“Kenapa kau tak ada saat aku membawa teman-temanku? Kau bilang kau tidak mau meninggalkan tempat ini karena ada seseorang yang kau tunggu, tapi kenapa tadi kau meninggalkan tempat ini? apa kau sudah bertemu dengan orang itu?”

Ayumi terdiam, kebingungan.

“Kau tahu? Aku ingin memperkenalkanmu pada mereka. Aku ingin mereka tahu kalau aku juga bisa punya kekasih secantik dirimu! Aku ingin mereka tahu itu dan tak membuliku lagi!” emosi Chanyeol meluap tak tertahankan lagi.

“Kau siapa?” tanya Ayumi.

Airmata Chanyeol menetes, ia lupa pada kenyataan kalau Ayumi melupakannya setiap hari mulai berganti. Chanyeol melupakan fakta bahwa Ayumi takkan pernah bisa mengingat apa yang telah terjadi di hari kemarin ataupun kemarinnya lagi, termasuk tentang mereka yang baru memulai kisah cinta sekitar 25 jam yang lalu.

“Ayumi… apa kau benar-benar nyata?”

.

.

.

[Day 14 – December 14, 2016]

“Dari semua ruangan di sekolah ini, kenapa harus ruang seni?”

Junmyeon memijat kepalanya yang terasa pening. Masalah siswanya yang bernama Park Chanyeol tidak berhenti sampai di perkelahian bersama Kim Jongdae saja, guru-guru lain termasuk dirinya pun merasakan perubahan sikap Chanyeol yang sangat drastis. Park Chanyeol tidak pernah masuk kelas lagi setelah jam istirahat makan siang. Teman-teman sekelasnya mengatakan tidak ada tempat lain lagi selain ruang seni yang menjadi alasan Chanyeol membolos pelajaran selain ruang seni.

Lelaki itu menghela nafasnya, “Tidak mungkin kau kan?”

[7 years ago – December 2009]

Saat itu Junmyeon kelas 3 SMA, ia bersekolah di sekolah yang dalam 7 tahun kedepan akan menjadi tempatnya membagi ilmu kepada siswa-siswi lain. Cita-citanya adalah menjadi guru seni. Di antara 20 murid di kelasnya, Junmyeon adalah satu-satunya orang yang bercita-cita menjadi guru. Tapi untunglah, seseorang dari kelas lain mendukung penuh dirinya dan berkata ingin menjadi guru juga. Dialah Miharu Ayumi.

Ayumi adalah siswi pindahan dari Jepang yang menguasai 5 bahasa, termasuk di dalamnya bahasa Korea. Ayumi adalah adik kelas Junmyeon, sekaligus gadis terspesial di hatinya. Gadis periang yang setiap hari mendatanginya di ruang seni hanya untuk menemaninya berkarya.

Hari itu, Junmyeon mengukirkan sebuah kalung dari bahan stainless monel. Junmyeon mengukir nama Ayumi, sengaja, sebagai kado hadiah natal untuk gadis itu.

Oppa~ aku datang!~” ucap Ayumi sesaat setelah dirinya masuk ke ruang seni dengan penuh keimutan.

What are you doing now?”

Lelaki itu cepat-cepat menyembunyikan kalung yang dibuatnya ke belakang punggung, mengundang rasa penasaran seorang Miharu Ayumi untuk melihatnya.

“Rahasia!”

“Ih! Apa itu?! Aku ingin lihat!”

Junmyeon tak memberi kesempatan gadis itu untuk melihat karyanya, mereka terus berkejar-kejaran di ruang seni hingga akhirnya keduanya terjatuh dengan posisi Junmyeon yang terlentang dan Ayumi menindih di atasnya.

“Kau ini nakal sekali sih! Jatuh itu sakit tahu!” keluh Junmyeon dengan ekspresi yang berlawanan dengan kata-katanya.

Ayumi tersenyum, pipinya merah merona. “Tapi jatuh cinta itu tidak sakit.”

Dua pasang mata itu beradu tatap. Ayumi bergerak mendekatkan wajahnya perlahan, hendak mencium Junmyeon, namun Junmyeon berpaling, menolak ciuman Ayumi.

“Bangunlah, Ayumi.”

“Maaf.” Ucap Ayumi, menunduk.

“Hmm.” Junmyeon mengangguk.

Atmosfer di antara mereka seketika berubah menjadi canggung sekarang.

“Ah, iya, Oppa! Kelasku akan pergi studi wisata tanggal 22 nanti.” Jelas Ayumi, ia kembali memulai pembicaraan dengan senyuman di bibirnya.

“Lalu kapan kau pulang?”

“Tanggal 24, pagi-pagi! Jadi kita masih bisa menghabiskan malam natal bersama!”

“Kau ini percaya diri sekali! Memangnya aku pernah bilang akan mengajakmu menghabiskan malam natal bersama-sama?” Junmyeon mengacak rambut Ayumi, gemas. Bibir Ayumi mengerucut, manyun.

“Baiklah, baiklah! Ayo kita habiskan malam natal bersama nanti!”

.

.

.

’Memanggil, Gadisku.’

Junmyeon menelepon Ayumi. Sambil tersenyum-senyum sendiri, ia mengamati kalung nama buatannya yang akan menjadi milik Ayumi malam nanti.

Ya, Oppa?”

“Apa kau sedang dalam perjalanan pulang sekarang?”

“Iya, aku sedang di bus dan busnya sudah meluncur untuk mengantar kami pulang.” Suara Ayumi terdengar ceria, bahkan suara teman-teman Ayumi yang menggoda kedekatan mereka pun terdengar sampai ke telinga Junmyeon.

Junmyeon tak kuat lagi menahan senyum, hingga terkekeh pelan. “Ya sudah, hati-hati di jalan ya! jangan lupa kalau kita akan bertemu malam ini!”

“Iya! Aku tidak mungkin lupa kok!”

“Ada apa?! Kenapa busnya seperti ini?!” Suara di seberang sana mulai ribut, Junmyeon mulai tak enak hati.

“Apa yang terjadi, Ayumi?!”

Ayumi tak menanggapi pertanyaan Junmyeon, sementara suara di telepon itu semakin ribut saja.

“Tidak! Di depan ada jurang! Kita akan mati, Ayumi!”

BRUK! BRUK! BRUK!

Tut… tut… tut. Sambungan telepon terputus. Kalung yang semula ada dalam genggaman Junmyeon seketika terjatuh ke lantai seiring melemasnya tubuh Junmyeon hingga jatuh terduduk berlinang airmata. Hari itu adalah hari terakhir ia mendengar suara Ayumi. Ayumi meninggal, bersama 24 orang lain yang menumpang dalam satu bus yang sama. Studi wisata Ayumi yang awalnya terdengar menyenangkan kemudian hanya mengantarkannya pada kematian.

[After 2009]

Lelaki itu kehilangan Ayumi, tentu saja. bahkan, sangat-sangat kehilangannya. Junmyeon tak bisa pergi ke sekolah dan hanya mengurung dirinya di kamar, karena itu ia tidak bisa menikmati kelulusan seperti temannya yang lain.

Kalian mungkin akan berpendapat kalau Junmyeon terlalu berlebihan, tapi inilah kenyataannya. Bayang-bayang Ayumi yang selalu menghiasi hari-harinya takkan mungkin bisa hilang begitu saja dengan mudahnya. Seseorang yang jasmaninya sehat tiba-tiba saja mati, bagaimana bisa kau mempercayainya begitu mudah?

Junmyeon depresi, ia bahkan sempat dikirimkan ke rumah sakit jiwa oleh orang tuanya untuk mendapat pengobatan. Di rumah sakit jiwa itulah, perlahan ia mulai membuat patung secara bertahap dari detail yang terkecil lebih dulu. Baru pada saat ia kembali ke sekolah, ia menyempurnakan patung buatannya sampai benar-benar mirip dengan gadis pujaan hatinya, Miharu Ayumi.

Junmyeon mengalungkan kalung buatannya di leher patung tersebut,

“Kita akan melewati malam natal bersama. Tidak, kita harus selalu melewati malam natal bersama.” Bisik  Junmyeon pada telinga ―patung― Ayumi.

Selama 5 tahun, Ayumi selalu datang di awal bulan desember dan pergi setelah melewati malam natal bersama Junmyeon, di hari ke-25. Ayumi selalu menunggu Junmyeon di ruang seni, dan selama 5 tahun itu, Junmyeon bahagia karena bisa mengulang kisahnya bersama sang pujaan hati.

.

.

.

[Back to December 14, 2016]

“Gadis yang diceritakan muridku, kuharap bukanlah dirimu.” Ucap Junmyeon dengan mata yang sudah basah oleh airmata. Kembali mengingat luka yang pernah terbuka sangat lebar itu menyakitkan dan menyiksa.

Ponsel Junmyeon bergetar,

‘Panggilan masuk, Yoo Ahra.’

.

.

.

[Day 24 – December 24, 2016]

Hari ini sekolah memulangkan siswa-siswi lebih cepat untuk merayakan momen malam natal. Dengan semangat, Chanyeol menggunakan kesempatan ini untuk mendekorasi ruang seni seindah mungkin. Ayumi memperhatikan Chanyeol dari jauh. Meski tertutupi tirai, aktifitas Chanyeol bisa tetap terlihat karena kain tirai yang digunakan lelaki itu sangatlah tipis. Ckck, dasar bodoh!

“Huf!” Chanyeol mengelap keringatnya, “Akhirnya selesai juga.”

“Sudah selesai?” tanya Ayumi sedikit mengeraskan suaranya.

“Sudah! Tapi kau harus menutup matamu dulu, mengerti?”

Ayumi menurut, Chanyeol membawanya mendekat ke setengah bagian dari ruangan seni yang telah ia dekor. Lelaki itupun membuka tirai yang semula menutupi hasil kerja kerasnya.

“Tunggu di sini dan buka matamu setelah hitungan ke-3.”

Chanyeol meninggalkan Ayumi yang masih memejamkan matanya.

1…

2..

3.

Ayumi membuka matanya, lampu-lampu rangkaian Chanyeol yang ada di sekitarnya lalu menyala satu persatu.

“Indah sekali.” Puji Ayumi, terpukau.

Chanyeol kembali melangkah mendekat dengan sebuah senyuman yang mengembang di wajah tampannya. Di belakang punggungnya, lelaki itu menyembunyikan sebuket bunga mawar merah. Chanyeol menatap mata Ayumi dalam-dalam, meskipun ia tahu Ayumi akan melupakan semua keromantisan ini esok hari.

“Ayo kita lewati malam natal ini bersama-sama.”

Kata-kata itu… rasanya tidak asing dalam ingatan Ayumi.

Baiklah, baiklah! Ayo kita habiskan malam natal bersama nanti!

Ayumi menyentuh kepalanya yang tiba-tiba saja terasa sakit.

Baiklah! Ayo kita habiskan malam natal bersama nanti!

Ayo kita habiskan malam natal bersama nanti!

Kita habiskan malam natal bersama nanti!

“Kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol khawatir.

“Ayumi?” panggilan ragu-ragu itu membuat Ayumi dan juga Chanyeol berpaling ke asal suara.

Chanyeol melihat guru seni sekaligus wali kelasnya, Kim Junmyeon berdiri di ambang pintu ruang seni, menatap Ayumi yang juga menatapnya penuh rasa rindu.

“Junmyeon Oppa!”

DEG!

Panggilan Ayumi pada Guru Kim seakan memberi efek henti jantung bagi Park Chanyeol. Ayumi melupakannya setiap hari, tapi gadis itu dengan mudahnya bisa menyebut nama orang lain dengan benar.

“Tidak mungkin…” gumam Chanyeol.

Aku tidak mau pergi, ada seseorang yang harus kutunggu di sini.

Kata-kata Ayumi seketika terngiang lagi di telinganya. Orang yang harus Ayumi tunggu di tempat ini adalah… Guru Kim?

Nafas Junmyeon masih terengah-engah. Dirinya berlari secepat mungkin ke ruangan seni setelah memastikan bahwa Ayumi benar-benar tertangkap CCTV di ruang khusus keamanan sekolah tersebut.

“Ayumi… jangan pernah kembali lagi saat natal tahun depan.” Ucap Junmyeon dengan airmata yang mulai berlinang di kedua pipi putih mulusnya.

“Kenapa? A-aku bisa kembali 2 tahun kemudian kalau kau tak menginginkanku kembali di tahun depan.” Ayumi berkaca-kaca.

Chanyeol semakin tak mengerti. Jangan kembali? Bisa kembali? Apa maksudnya itu?

“Tidak, jangan pernah datang lagi. Aku… akan segera menikah. Aku harus melupakanmu. Aku harus menghapus namamu di hatiku dan mulai menuliskan nama orang lain. Begitu juga dirimu. Kau harus melupakan aku, Ayumi.”

Oppa…” jika Ayumi bisa memilih menjadi tuli untuk sesaat, ia ingin sekali menjadi tuli saat Junmyeon menyuruhnya untuk melupakan apa yang tidak ingin ia lupakan. Airmata gadis itu mengalir begitu saja membanjiri pipinya.

Junmyeon mengikis jarak antara dirinya dengan Ayumi, mengabaikan kehadiran Chanyeol yang masih berusaha memahami apa yang mereka berdua katakan.

“Kau harus pergi ke tempat di mana seharusnya kau berada.”

Pruk! Bunga yang semula disembunyikan Chanyeol di balik punggungnya seketika jatuh ke lantai. Junmyeon mencium bibir Ayumi, dua insan itu sama-sama menangis. Ya, menangisi takdir yang tak berpihak pada mereka.

Pukul 12 malam lewat satu detik, hari sudah berganti tanggal.

[Day 25 – December 25, 2016]

Perlahan tapi pasti, tubuh Ayumi mulai mengeras. Di mulai dari kaki, hingga menjalar ke seluruh tubuh. Bibir Ayumi yang awalnya terasa hangat di bibir Junmyeon, kini berubah menjadi dingin.

“Maaf… maafkan aku! Aku mohon maafkan aku, Ayumi! Maaf…” Junmyeon menangis histeris, sama seperti saat pertama kali ia harus melepas kepergian Miharu Ayumi untuk selamanya.

“A-apa yang terjadi?” Chanyeol bergerak menyentuh bahu gadis itu, keras dan dingin.

“Pak guru! Apa yang terjadi sebenarnya?! Kenapa… Ayumi…”

“Dia patung buatanku, aku membuatnya 6 tahun yang lalu.”

Chanyeol kehabisan kata-kata. Patung? Mana mungkin?!

“Kau pasti berpikir aku ini gila? Ya, aku memang gila. Aku kehilangannya dalam kecelakaan bus 7 tahun yang lalu. Bus yang seharusnya mengantarkannya pulang, malah mengantarkannya pulang ke alam keabadian.”

“Entah bagaimana caranya, Ayumi selalu datang, dia selalu menungguku di ruangan ini. Mungkin, karena janjiku padanya yang tak pernah terlaksana karena Tuhan lebih dulu menyuruhnya meninggalkanku. Mengajaknya menghabiskan malam natal bersama-sama, itulah yang kujanjikan padanya.” Jelas Junmyeon pada Chanyeol.

“Jangan pernah kembali lagi, Ayumi.”

BRUK! Junmyeon mendorong patung Ayumi hingga jatuh dan hancur menjadi beberapa kepingan di lantai. Airmatanya terus menetes.

“YAK! APA YANG KAU LAKUKAN?! KENAPA KAU MENGHANCURKANNYA?! DIA KEKASIHKU!” teriak Chanyeol, tak mampu menahan emosi saat melihat tubuh gadisnya dihancurkan begitu saja.

“Tidak, tidak pernah ada yang menjadi kekasihnya. BAHKAN AKU SAJA! AKU… BELUM SEMPAT MENJADIKANNYA KEKASIHKU!”

“KAU BERSIKAP SEOLAH KAU MENCINTAINYA! TAPI KENAPA-“

“JUSTRU KARENA AKU MENCINTAINYA, PARK CHANYEOL!” Junmyeon menepuk-nepuk dadanya yang sesak, “Justru karena aku mencintainya… aku harus mampu melepasnya pergi. Aku harus mampu membiarkannya tenang di alam sana. Kalau aku terus menginginkannya berada di sisiku setiap tahunnya, berarti aku lelaki paling egois di dunia ini.”

Chanyeol terdiam seribu bahasa. Sang guru telah membuat ia tersadar, kalau cinta tidak hanya tentang mempertahankan, tapi juga tentang bagaimana melepaskan.

Chanyeol mencintai Ayumi, Ayumi juga pernah mencintainya. Tapi di balik itu, cerita Ayumi bersama Guru Kim sungguh membuatnya malu untuk tidak belajar mengikhlaskan kepergian Ayumi untuk selamanya. Satu-satunya orang yang tak pernah Ayumi lupakan mungkin adalah Kim Junmyeon, tapi Park Chanyeol sama sekali tak menyesal pernah menjadi cinta Ayumi meski hanya untuk sekejap saja.

.

.

.

Even if i’m born again,

It’s the reason I can’t go on if it’s not you,

All my life, I only wanna look at you. Suho, For Life.

 

END.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s