[EXO Fanfiction] Special Christmas – 25 DAYS FOR LIFE (1/2)

25dfl

“Jangan pernah kembali lagi saat natal tahun depan.”

25 DAYS FOR LIFE

―A fanfiction by AYUSHAFIRAA―

`Starring Park Chanyeol, Nanami Sakuraba as Miharu Ayumi, Kim Junmyeon.`

|| Fantasy, Romance, Sad, School-life ||

// Teen // Twoshot //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

© AYUSHAFIRAA, 2016. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Wattpad Kakaostory

WATTPAD VERSION

♫♫ Recommended Song : EXO – FOR LIFE (Repeat mode) ♫♫

.

.

.

[Bagian 1 dari 2Perkenalan Kita yang Berulang]

[Day 1 – December 1, 2016]

Langkah kaki yang sedikit terburu membawa siswa berseragam musim dingin itu masuk ke ruangan seni rupa, ruangan di mana karya-karya seni rupa seperti patung, ukiran kayu, dan lain-lain tersimpan secara rapi. Angin musim dingin yang mulai berhembus di siang awal bulan desember ini membuat ia harus mengusap-usap dua telapak tangannya untuk sejenak menghangatkan diri.

“Huf! Dasar jomblo! Ke mana-mana pasti saja sendiri.” Rutuknya, menyesali statusnya yang tidak pernah berubah sejak ia lahir 16 tahun yang lalu, single.

Siswa ber-name tag ‘Park Chanyeol’ itu sebenarnya sudah sering ‘menembak’ gadis yang disukainya, namun apalah daya, mungkin ia ditakdirkan untuk menjadi jomblo seumur hidupnya.

“Di mana ya Guru Kim menyimpan tinnernya? Aish! Kenapa juga tadi aku tak bertanya?” Chanyeol mulai terlihat frustasi saat barang yang dicarinya tak kunjung ia temukan. ‘Malu bertanya, sesat di jalan’ sepertinya lelaki itu harus banyak belajar dari peribahasa.

HACHIM!

Chanyeol mengedarkan pandangannya, ia yakin ia hanya sendirian di ruangan itu. Lalu, siapa yang tadi bersin?

“Ya Tuhan! Apa itu?!” Chanyeol terkejut bukan main saat satu di antara banyaknya patung di ruangan itu yang tertutupi kain putih yang sedikit berdebu bergerak mendekatinya.

Duk!

Seseorang di dalam kain putih itu menabrak tubuh tinggi Park Chanyeol.

Sret! Chanyeol menyingkirkan kain putih yang menutupi tubuh orang yang menabraknya. Bola matanya membesar, terkejut, kagum, sekaligus tak mengerti. Kenapa seorang gadis cantik berambut pendek sebahu yang saat ini berdiri di hadapannya harus menyembunyikan diri dalam kain putih yang jelas-jelas berdebu di ruangan seni rupa?

“Kau siapa? Siswi kelas berapa?” tanya Chanyeol saat menyadari gadis itu memakai seragam yang sama dengannya.

“Aku?” gadis itu terlihat kebingungan sendiri. Ekspresinya yang begitu polos tak disangka dapat membuat Chanyeol mengulum senyuman, gadis itu benar-benar lucu.

“Jangan berpura-pura bodoh seperti itu, pertanyaanku kan mudah sekali untuk dijawab!”

“Eoh, tunggu!” Chanyeol menyipitkan matanya, memperhatikan secara seksama sebuah kalung ukiran yang menggantung di leher gadis itu. Ukirannya membentuk huruf-huruf yang tersusun dengan sangat indah.

“Mi-ha-ru, a-yu-mi?” ah! Jadi Miharu Ayumi namanya. Chanyeol mengangguk-angguk.

“Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau tidak bisa menjawab pertanyaanku? Lalu, kenapa kau harus bersembunyi di sini? Ah! Kau  pasti kabur dari Guru Jang karena menunggak biaya sekolah ya?”

Gadis yang Chanyeol tebak bernama Ayumi itu menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum kikuk, “Maaf, sebenarnya aku masih bingung dengan pertanyaanmu. Miharu Ayumi itu, namaku? Guru Jang itu siapa?”

“Oh ayolah! Kau bercanda kan? Apa kau baru saja terjatuh dan mengalami benturan keras di kepalamu? Masa namamu saja kau tak tahu?! Guru Jang juga sangat terkenal di antara guru-guru lainnya, masa kau tidak mengenalnya?!”

Ayumi menggeleng, pertanda ia benar-benar tak tahu namanya dan juga tak kenal dengan seorang guru bernama Jang.

Chanyeol menghembuskan nafasnya kasar. Grep! Lelaki itu menarik tangan Ayumi dan hendak membawanya keluar dari ruangan seni rupa, namun tepat saat lelaki itu membuka pintu, Ayumi menahan langkah kakinya, tidak mau pergi.

“Ada apa? Kau harus ikut aku bertemu dokter di UKS! Pasti ada yang tidak beres dengan otakmu!”

Ayumi menepis tangan Chanyeol, “Aku tidak mau pergi, ada seseorang yang harus kutunggu di sini.”

Apa katanya? Seseorang yang harus ditunggu? Namanya sendiri saja ia lupa, bagaimana ia bisa ingat kalau ada seseorang yang harus ia tunggu? Batin Chanyeol terus bertanya-tanya dengan kesal.

“Bodohnya aku, bisa percaya kalau gadis ini benar-benar amnesia. Tentu saja kau hanya pura-pura!” ucap Chanyeol jengkel sebelum akhirnya meninggalkan Ayumi di ruangan seni rupa sendirian.

.

.

.

[Day 2 – December 2, 2016]

Karena melupakan tugas dari guru seninya dan malah membolos pelajaran kemarin siang, Chanyeol jelas harus menerima hukuman. Semua ini gara-gara kekesalannya pada gadis yang berpura-pura amnesia di ruangan seni rupa itu. ya, siapa lagi kalau bukan Ayumi? Awas saja kalau sampai Chanyeol bertemu lagi dengannya, dia yang harus menerima hukuman Chanyeol yang disuruh membersihkan seluruh sudut ruangan seni rupa.

“Eoh? Kau lagi?”

Ayumi yang saat itu sedang berdiam diri menghadap jendela besar yang terbuka kemudian berbalik, “Siapa ya?”

“Cih,” Chanyeol memutar bola matanya malas, “Masa baru sehari saja kau sudah lupa?”

Gadis itu terlihat begitu bingung. Tatapan matanya seolah meminta maaf pada Chanyeol karena tak bisa mengingat apapun.

“Ah, sudahlah. Lagipula aku belum memperkenalkan diriku padamu.” Chanyeol menjabat tangan Ayumi dan tersenyum, “Namaku Park Chanyeol.”

Ayumi membalas jabat tangan dan senyuman lelaki tinggi itu, “Namaku…”

“Jangan bilang kau melupakan namamu lagi? aish, berhentilah berpura-pura amnesia!”

“Tapi aku benar-benar tidak ingat, Chanyeol-ssi. Aku pernah bertemu denganmu kemarin saja, aku tidak ingat sama sekali.” Manik mata berwarna coklat itu berkaca-kaca.

Sulit bagi Park Chanyeol untuk mempercayai Ayumi. Memangnya ada ya, orang yang setiap hari ingatannya ter-reset sampai ke-nol?

“Baiklah,” telunjuk Chanyeol bergerak menunjuk ke arah kalung yang menggantung di leher Ayumi. “Kalung itu mengukirkan namamu. Namamu Miharu Ayumi.”

“Miharu… Ayumi?”

Chanyeol mengangguk, “Ya setidaknya itu pemikiran pendekku saja sih. Lagipula untuk apa pula kau memakai kalung nama orang lain? Sepertinya kau memang sengaja dibelikan kalung itu oleh orang tuamu agar kau tidak melupakan namamu sendiri.”

“Orang tua ya?”

“Jangan-jangan kau juga lupa kalau kau punya orang tua atau tidak.” Gumam lelaki itu pelan.

“Kau masih menunggu seseorang di sini? Siapa sih orangnya? Siapa tahu aku bisa membantu mempertemukanmu dengan orang yang kau tunggu itu. Biar begini, aku ini terkenal loh! Ya… terkenal… kejombloannya, hiks.” Lelaki itu mulai melebih-lebihkan ekspresinya.

“Ya! Aku memang sedang menunggu seseorang! Dia biasanya datang… tidak! Dia memang akan selalu datang ke sini untuk bertemu denganku!”

Dengan begitu mudah, Chanyeol bisa melupakan dendamnya pada Ayumi hanya dengan tatapan menyedihkan gadis itu.

.

.

.

[Day 7 – December 7, 2016]

Lelaki bertelinga panjang itu terus memandangi jarum jam yang berputar, menunggu bel istirahat makan siang yang biasanya akan berbunyi sekitar 3 menit lagi. Bukan karena terlalu lapar ia menunggu-nunggu bel istirahat, tapi sebut saja, ia sedang rindu berat sekarang. Yup, rindu! Merindukan saat-saat di mana ia pergi ke ruangan seni rupa dan bertemu dengan Ayumi yang melupakannya setiap hari, berbagi cerita tentang hal-hal menarik apa saja yang telah dilaluinya, termasuk sesi curhat tentang dirinya yang terus menjomblo.

Jujur saja, bertemu seseorang yang unik seperti Ayumi sungguh menyenangkan bagi Chanyeol. Setiap hari, Chanyeol harus mengulang perkenalannya dengan Ayumi, Chanyeol harus terus memberitahu gadis manis itu tentang namanya yang seperti nama orang jepang, Chanyeol juga harus mengungkit kembali pembicaraan apa saja yang pernah mereka perbincangkan di hari-hari sebelumnya. Rasa kesal yang semula selalu ada kini dengan mudahnya tergantikan dengan rasa yang tak dapat lelaki itu jelaskan dengan kata-kata. Aneh sekali, bukan?

Bel istirahat yang ditunggu-tunggu Chanyeol akhirnya berbunyi juga. Dengan semangat, ia mulai membereskan buku-buku dari meja ke tasnya dan bergegas keluar kelas. Teman-teman sekelas Chanyeol yang menyadari perubahan teman mereka itu lantas mulai bergosip ria dan menyusun rencana untuk membuntutinya.

3 dari 8 teman lelaki Chanyeol akhirnya ditugaskan membuntuti ke manapun langkah Chanyeol pergi hingga sampailah mereka di depan pintu ruang seni rupa yang beberapa menit lalu Chanyeol masuki.

“Si jomblo itu sedang berbicara dengan siapa sih?! Kelihatannya seru sekali.” tanya salah seorang di antara mereka yang berhasil mengintip dari celah kecil pintu yang mereka buka pelan-pelan, berbisik.

“Mana?! Mana?! Aku tidak bisa melihatnya, bodoh!” ucap dua temannya yang lain, saling berebut untuk mengintip.

“Jangankan kalian! Aku saja sedaritadi tak bisa melihat lawan bicara si jomblo!”

.

.

.

Chanyeol duduk bersandar di dinding ruang seni rupa sambil terus memberi Ayumi senyuman mautnya. Ayumi duduk di samping Chanyeol, mengalihkan pandangan karena tak bisa menahan rona pipinya setiap kali ditatap seperti itu oleh Park Chanyeol.

“Kau itu tampan, Chanyeol-ah. Kenapa gadis-gadis itu bisa tak menerima pernyataan cintamu?”

“Nah! Benarkan?! Aku ini tampan! Mereka saja yang tak bisa melihat ketampananku dengan baik.” timpal lelaki itu bernada kesal.

Ayumi terkekeh melihatnya.

“Ayumi, apa kau selalu ada di sini?”

“Ya, aku pikir aku selalu ada di sini. Ini tempat kesukaanku.” Jawab Ayumi yang terlihat begitu bahagia.

“Lalu kapan biasanya kau pulang?”

“Pulang? Memangnya aku harus pulang?”

Pertanyaan yang sebenarnya sangat bodoh untuk dijawab. Dalam benak Chanyeol, banyak sekali hal-hal yang ingin ia tanyakan pada gadis itu. Tapi rupanya ia harus selalu menahan rasa penasarannya sendirian, karena pertanyaan mudah sekalipun rasanya sangat sulit bagi Ayumi untuk memberikan jawabannya.

“Ayumi… jika seandainya nanti, kedekatanku denganmu membuat aku jatuh cinta, apa kau mau menerima perasaanku?”

Gadis itu mengangguk tanpa ragu, mengundang senyum sumringah lelaki yang menanyainya.

“Tentu saja! Kau kelihatannya orang yang baik.”

“Apa kau benar-benar yakin dengan kata-katamu, eoh? Kau mau menjadi kekasihku?” tanya Chanyeol sekali lagi.

“Memangnya apa yang harus aku ragukan?”

Tatapan meyakinkan dari Ayumi membuat bunga-bunga di hati Chanyeol bermekaran dengan kupu-kupu yang terbang saling berdesak-desakan. Lelaki itu tak bisa lagi menahan rasa bahagianya. Meski bukan cinta pertama, perasaan bahagia seperti ini hanya bisa Chanyeol dapatkan dari sosok Miharu Ayumi seorang.

.

.

.

[Day 8 – December 8, 2016]

PLUK!

Sebuah gulungan kertas mengenai kepala Chanyeol yang sedang tersenyam-senyum sendiri, duduk di bangkunya yang ada di barisan paling belakang, menikmati hari barunya sebagai kekasih Ayumi. Gulungan kertas itu jelas mengganggu khayalan Chanyeol tentang Ayumi, tentang mereka yang menghabiskan waktu bersama di taman bermain sambil menjilat-jilat es krim cokelat.

“Siapa ya yang barusan melempar kertas ini ke kepalaku?”

Salah satu siswa paling berpengaruh di kelas itu kemudian berdiri, tersenyum meremehkan seolah berkata ‘Aku, memangnya kenapa?’

“Kau pikir kepalaku ini tempat sampah?” tanya Chanyeol tak terima.

“Bukan begitu, aku hanya tidak suka melihatmu menjadi gila karena terlalu lama menjomblo. Aku baik bukan? Menyadarkanmu dari fantasi yang sudah kelewat batas.”

“Apa maksudmu?” ah, pasti karena kabar tentang dirinya yang sudah memiliki kekasih sudah sampai ke telinga siswa sok ganteng itu. “Kau tidak senang ya mendengar aku kini memiliki kekasih? bahkan kekasihku lebih cantik daripada gadis-gadis murahan yang kau miliki?”

“Kau bilang apa? Gadis-gadis murahan?” siswa itu mengepal tangannya, siap menghajar Chanyeol hingga babak belur kapanpun ia mau. Tapi…

“Kalau begitu, ayo kita pastikan bersama-sama. Apa ‘kekasihmu’ itu benar-benar ada dan lebih cantik dari gadis-gadisku.” Tantangnya.

.

.

.

Pria muda yang dikenal sebagai guru seni, Kim Junmyeon, terlihat membagikan beberapa surat undangan yang ada di tangannya kepada rekan-rekan sesama gurunya yang lain yang ada di ruang guru. Rekan-rekan gurunya itu kemudian bersorak girang, memberi selamat pada Junmyeon yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. Ya, surat itu, surat undangan pernikahannya.

“Selamat ya, Guru Kim!”

“Huaaa! Akhirnya kau menikah juga, Guru Kim! Aku ikut senang! Rajin-rajinlah konsultasi padaku agar kau bisa punya banyak anak!” ujar salah seorang guru laki-laki paruh baya yang Junmyeon ketahui memiliki 12 orang anak. Junmyeon tertawa mendengar ucapannya.

“Terimakasih! Terimakasih! Jangan lupa datang ya semuanya!”

“Guru Kim! Satu undangan lagi untuk siapa?” tanya yang lainnya.

Junmyeon menatap satu lagi surat undangan yang tersisa di tangannya, hatinya bagai teriris pisau tajam. Ia menggenggam kuat surat undangan tersebut, surat undangan yang ia tujukan untuk…

christmas-background-for-powerpoint

.

.

.

I’m staying near you,

Because the one person who loves you is me. ― Chanyeol, For Life.

To be continued…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s