[IMAGINE] Special D.O’s Birthday – YOUNG MARRIAGE

―Young Marriage―

Written by AYUSHAFIRAA

Starring EXO’s D.O and You as Do Yoojung

Marriage Life, Romance || PG-15 || Oneshot •

Disclaimer

Fanfiksi ini milik dan ditulis sendiri oleh saya. Segala bentuk kesamaan dalam fanfiksi ini merupakan kebetulan belaka dan tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya.

© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved.

//♫♥♫♥♫//

Menikah muda, itu adalah keputusan ternekat yang pernah kau ambil bersama Do Kyungsoo. Kau merelakan beasiswa studimu di salah satu universitas ternama demi membangun keluarga kecil bersama lelaki itu yang tak lain adalah seorang penyanyi muda berbakat kenamaan Korea Selatan.

Pernikahanmu mungkin baru menginjak bulan ke-3, tapi, percaya tidak percaya, saat ini sudah ada si kecil kyungsoo di rahimmu yang masih sangat kecil dan rentan. Di trimester awalmu ini, justru suamimulah yang mengalami mual-mual di pagi hari, ngidam, dan sebagainya. Ckck, kasihan sekali, Kyungsoo-mu itu.

“Hoek… ugh! Ugh! Hoek…”

Suara Kyungsoo yang mulai mual-mual di kamar mandi yang ada di kamar kalian seolah menjadi alarm-mu di setiap pagi sejak 3 minggu lalu. Kau bangkit dari posisi tidurmu, berjalan hati-hati ke arah kamar mandi yang pintunya terkunci dari dalam.

Oppa, apa kau baik-baik saja?” tanyamu, khawatir.

“Ah? Aku baik-baik saja, Sayang.” Sahut Kyungsoo dari dalam. Tak lama setelah itu, lelakimu keluar dari kamar mandi dengan keringat dingin di wajahnya yang terlihat pucat.

Tangan hangatmu menyentuh wajah Kyungsoo, kau menatapnya dengan penuh rasa bersalah.

Oppa yakin baik-baik saja? kau sudah seperti orang sakit sekarang. Seharusnya kau tidak perlu mengalami ini, maafkan aku.”

Chu~

Blush! Pipimu memerah, Kyungsoo baru saja melancarkan aksinya untuk membuatmu tak berkata apapun lagi tentang ‘penyesalan’, dan ia memang selalu sukses melakukannya.

“Aku tidak apa-apa, Sayang. Yang terpenting, kau dan anak kita baik-baik saja.” ujar Kyungsoo. Uuuhhhh, kau benar-benar tersentuh mendengarnya.

“Sekarang, cepatlah mandi! Aku sudah wangi dan tampan seperti ini, lho!”

Kyungsoo menyentuh kedua bahumu, entah tiba-tiba setan apa yang merasukinya di pagi hari seperti ini, lelaki itu tersenyum nakal, “Apa kau mau kumandikan? Atau, kita mandi bersama?!”

Kau memukul manja dada bidang suamimu sambil terus berusaha menyembunyikan pipi merah meronamu, “Apa-apaan sih, ini masih pagi!”

“Ah, kalau begitu saat mandi malam!” dasar Do Kyungsoo! Otaknya pasti sudah geser-_-

“Sayangnya, aku tidak boleh mandi malam!” Kau menjulurkan lidahmu dan langsung meninggalkan Kyungsoo yang tertawa terbahak-bahak karena telah berhasil menggodamu.

 

♥♥♥

 

“Bukankah sudah kubilang?! Istriku sedang hamil dan aku tak mau meninggalkannya lama-lama untuk tur dunia itu!”

“Batalkan saja semua jadwal tur duniaku!”

Kau yang baru melangkah keluar dari kamar mandi mendengar semuanya, mendengar tentang keinginan Kyungsoo untuk membatalkan tur dunianya hanya karena dirimu. Sejujurnya, kau merasa senang. Tapi di sisi lain, kau juga memikirkan bagaimana pentingnya tur dunia itu bagi karir suamimu ke depannya. Tak hanya itu, kau tahu betul kalau tur dunia merupakan salah satu mimpi besar Do Kyungsoo sejak dulu.

Pruk! Kyungsoo melempar ponselnya ke kasur. Saat ia berbalik, ia menemukanmu sedang menatap serius dirinya.

“Jangan marah-marah seperti itu ah, lihat dahimu…” kau menekan-nekan dahi Kyungsoo yang mengkerut, “Nanti Oppa cepat tua!”

Lelaki itu tersenyum, “Maafkan aku.”

“Aku juga tidak mau melihat Appa marah-marah, Appa menakutkan kalau marah.” Ucapmu dengan suara yang sengaja kau ubah seperti anak kecil, seolah-olah janin yang ada di rahimmu lah yang sedang berbicara pada ayahnya.

Kyungsoo berlutut, mensejajarkan wajahnya dengan perut ratamu. Kedua tangannya memegang pinggangmu, dengan penuh kasih sayang lelaki itu bergerak mencium tempat di mana buah cinta kalian kini hidup.

“Maafkan Appa ya, Sayang? Appa janji tidak akan marah-marah lagi.”

Oppa…”

“Hm?” sahut Kyungsoo menengadahkan kepala ke arahmu.

Kau tersenyum, “Jangan batalkan tur duniamu, ya? Jika kau membatalkannya dan aku tahu itu semua karena kau tak mau meninggalkanku, aku akan merasa sangat sedih dan kecewa.”

“Tapi, Sayang, aku-”

“Aku akan lebih merasa baik-baik saja jika kau tak membatalkannya, sungguh.” Ucapmu yang memotong penolakan Kyungsoo. Kau menatapnya dengan tatapan memohon hingga ia pun tak sanggup lagi berkata ‘tidak’.

“Selama aku pergi, aku akan meminta Eomma menjagamu di sini. Aku akan benar-benar merasa tidak tenang jika harus meninggalkanmu sendirian, Sayang.”

Ne, panggil saja semua anggota keluarga kita sekalian untuk menemaniku agar kau tak merasa khawatir lagi.”

 

♥♥♥

 

Kyungsoo terus terlihat mondar-mandir sesaat setelah dirinya tiba di salah satu bandara besar di Jepang untuk mulai melaksanakan rangkaian tur dunianya. Tangannya menggenggam sebuah ponsel pintar miliknya sambil sesekali memindahkan letak ponsel itu dari telinga kiri ke telinga kanan dan begitu seterusnya.

“Ke mana dia? kenapa tak mengangkat teleponku?”

Sementara itu di Korea, kau baru saja pulang dari minimarket bersama ibunda Kyungsoo. Setelah menyimpan barang belanjaanmu di dapur dan merapikannya, kau meminta izin ibu mertuamu itu untuk beristirahat di kamar.

“Eoh? Oppa menelepon? Sampai 513 kali? Ada apa ya?” gumammu penuh tanya setelah melihat notifikasi di layar ponselmu yang tak sengaja kau tinggalkan di atas kasur sebelum pergi berbelanja.

Drrtt… drrtt…

“Ah,“ kau mengangkat telepon suamimu untuk yang pertama kalinya setelah 514 kali suamimu menelepon. “Ada apa, Oppa?”

“Yak! Kau ini ke mana saja, Sayang?! Daritadi aku meneleponmu, menelepon Eomma juga, tapi tidak ada satupun dari kalian yang mengangkatnya! Aku benar-benar khawatir tahu!”

Kau tersenyum mengerti. Kyungsoo baru saja meninggalkanmu yang masih hamil muda, dia baru saja bepergian jauh tanpamu untuk pertama kalinya sejak kalian menikah. Jadi, bagaimana kau tidak mengerti ke-overprotektifan suamimu?

“Maafkan aku, Oppa. Aku dan Eomma baru saja pulang berbelanja di minimarket dan aku lupa membawa ponselku, mungkin Eomma juga. Aku baik-baik saja kok! Kau tenang saja ya?”

“Ya sudah, tenang sekali rasanya bisa mendengar suaramu dalam keadaan baik-baik saja. Lain kali, aku tidak mau kejadian seperti ini terulang kembali. Arasseo?”

Arasseoyo, Sayangkuuuuu mmmuach!” balasmu, nakal. 

“YAK! BISA-BISANYA KAU NAKAL SAAT AKU TAK ADA DI SAMPINGMU?! AWAS SAJA KAU YA!”

Kau terkekeh. Meski saat ini kau berjauhan dengannya, ia masih saja terasa begitu dekat denganmu.

 

♥♥♥

 

Sensitif, itulah satu kata yang menarik perhatianmu setelah membaca hasil penelitian dari beberapa ahli tentang perubahan sifat dan sikap pada wanita hamil di sebuah halaman web internet.

“Tidak! Tidak! Jangan sampai aku mengalaminya!” kau menutup laptopmu.

Kau bangkit dari posisi dudukmu sebelumnya, hendak keluar dari kamarmu namun kemudian langkahmu terhenti di depan sebuah cermin panjang yang menempel di dinding kamarmu itu. Berat badanmu yang kian hari semakin bertambah membuatmu terlihat gemuk dengan perut buncit 5 bulan dan dengan pipi, tangan, serta kaki yang membengkak.

“Kenapa tubuhku jadi sebesar ini sih?” keluhmu yang tak nyaman melihat penampilanmu sendiri.

“Ah iya, Kyungsoo Oppa saat ini pasti masih di lokasi syuting!”

“Bagaimana kalau kita pergi ke tempat Appa sedang bekerja sekarang, Sayang?” kau bertanya pada bayi dalam rahimmu, seolah dia bisa menjawabnya. Entah kau memang bisa merasakan jawaban bayimu atau memang pergi ke lokasi syuting adalah keinginanmu sendiri, tanpa berpikir panjang lagi, kau langsung berangkat menaiki taksi.

Tuuut… teleponmu tersambung ke nomor Kyungsoo.

“Yeoboseyo, Yoojung-ssi?” keningmu mengkerut, menyadari teleponmu tak diangkat langsung oleh suamimu melainkan diangkat oleh manajernya.

“Kyungsoo Oppa di mana?”

“Ah, dia masih melakukan beberapa sesi pemotretan, jadi aku yang memegang ponselnya. Kenapa? Kau sangat rindu padanya ya? Bersabarlah, Yoojung-ssi, pekerjaan Kyungsoo masih banyak sekali!” jelas manajer Kyungsoo yang secara tidak langsung mengatakan agar dirimu berhenti mengganggu Kyungsoo yang sedang bekerja.

Oppa, rahasiakan ini dari Kyungsoo Oppa ya? Aku akan datang ke sana!”

“UHUK!” spontan kau menjauhkan ponsel itu dari telingamu.

“Sekarang kau di mana, Yoojung-ssi?!”

 

♥♥♥

 

Terimakasih sekali. Baru saja kau menginjakkan kakimu di studio pemotretan, pemandangan Kyungsoo yang sedang berpose mesra bersama aktris Kim Sohyun menjadi suguhan pertamamu dari para kru.

“Ah! Yoojung-ssi! Kau terlihat cantik sekali hari ini!” sapa manajer Kyungsoo, berbasa-basi, canggung.

Kau masih memusatkan perhatianmu pada Do Kyungsoo dan gadis di sampingnya, tak mempedulikan kehadiran manajer Kyungsoo sedikitpun.

Manajer Kyungsoo menepuk dahinya, lalu bergumam pelan, “Kenapa aku tidak bisa mencegahnya? Momennya pas sekali lagi! aduh! Apa yang harus kulakukan?!”

“KERJA BAGUS SEMUANYA!”

“Ah, Sayang? Sejak kapan kau di sini? Kenapa tidak memberitahuku dulu?” tanya Kyungsoo setelah menyelesaikan sesi pemotretannya.

“Ayo kita pulang!” pintamu, moodmu sudah berantakan bahkan hingga kau tak memberi senyuman pada Kyungsoo sama sekali.

Oppa! Kau jadi ikut makan siang bersama para staff, kan?!” si Sohyun! Astaga! Tidak tahu malu sekali dia tersenyum di depan suamimu seperti itu!

“Ah, tentu saja! Kita makan siang bersama dulu ya, Sayang?”

“Kalau begitu aku pulang sendiri saja!”

“Lho? Sayang? Sayang, tunggu aku!”

GREP!

Lelaki itu berhasil menahanmu, tangannya menggenggam tanganmu erat-erat agar kau tak bisa pergi darinya.

“Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini?”

“Lepaskan aku! aku ingin pulang!” kau berontak.

Arasseo, arasseo! Ayo kita pulang bersama!”

Rasa sesakmu belum berhenti sampai disitu. Kau menahannya sampai kalian berdua tiba di rumah di mana hanya ada kalian berdua tanpa siapapun yang akan mengganggu.

“Kau masih belum mau menjelaskannya padaku?” tanya Kyungsoo lagi.

“Aku ingin Oppa berhenti!” jawabmu, akhirnya.

Mwo? Berhenti? Dari apa?”

“YA BERHENTI SAJA! BERHENTI BEKERJA BERSAMA GADIS-GADIS GENIT DI LUARAN SANA! BERHENTI BEKERJA DENGAN SI SOHYUN YANG SOK KECANTIKAN ITU! BERHENTI BERURUSAN DENGANNYA!!!” emosimu meluap saat itu juga. Airmatamu pun ikut menetes seiring dengan meluapnya semua kesesakan di dadamu.

“Baiklah, aku mengerti. Tapi sayang, kontrakku masih belum selesai dengannya, aku tidak mungkin membatalkan kontrakku begitu saja tanpa alasan yang jelas.” Bukannya membuatmu tenang, jawaban Kyungsoo justru semakin membuatmu ingin melempar semua barang di dekatmu ke wajahnya.

Kau mengepal tanganmu, menahannya.

“Kau yang lebih tahu seberapa keras usahanya dulu untuk membuatmu tertarik padanya! Tapi dulu kau memilihku dan mengabaikannya! Sekarang, lihat aku!”

“Aku gemuk! wajahku melebar! Tangan dan kakiku bengkak! Aku tidak cantik lagi jika dibandingkan dengannya sekarang! Dan kau lihat tadi? Dia masih berusaha mendekatimu! Bagaimana bisa aku duduk diam saja dan bersikap seolah-olah aku tidak takut kau akan berpaling padanya?!”

Kyungsoo tampak memijat dahinya, kau telah membuat pikirannya menjadi kacau.

“Kau istirahatlah dulu, aku yakin kau butuh istirahat.” Ucap Kyungsoo yang kemudian memilih berbalik, berjalan menjauhimu.

PRAK!

Kau melempar pigura foto kalian hingga mengenai punggung Kyungsoo sebelum akhirnya terjatuh ke lantai dan pecah.

“Lelaki jahat.”

 

Menikah itu… tidak mudah.

 

♥♥♥

 

Malam itu kau tidur membelakangi Kyungsoo, ceritanya, kau masih marah padanya atas kejadian tadi siang. Sementara itu, kau yang saat itu belum bisa terlelap tak lama kemudian merasakan telunjuk Kyungsoo yang mencolek-colek bahumu.

“Sayang… kau sudah tidur?”

Kau tak menjawab.

“Hei, kalau kau masih bisa mendengarku tolong dengarkan kata-kataku baik-baik ya?” pinta Kyungsoo, kau pun mendengarkannya.

“Aku janji akan melakukan apapun yang kau mau, termasuk jika kau menyuruhku untuk berhenti bekerja sekalipun. Tapi untuk kali ini saja, aku mohon pengertianmu, Sayang. Aku bekerja juga bukan untuk kesenanganku sendiri, aku bekerja begitu keras tak lain untuk memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang suami.”

“Sebentar lagi kita juga akan punya anak, biaya hidup kita akan bertambah seiring berjalannya waktu. Aku tidak ingin membuat masa depan anak dan istriku suram. Kau mengerti, kan?”

Kau berbalik, Kyungsoo yang sebelumnya mengira kau sudah tertidur lelap seketika terbelalak.

“Aku mengerti, Maafkan aku. Aku sangat kekanakkan sekali tadi.” Ucapmu menyesal.

“Tapi…”

“Apa?” tanya Kyungsoo.

“Aku benar-benar cemburu pada si Sohyun tahu! Awas saja kalau dia masih genit-genit padamu!” kau menggigit ujung selimutmu saking kesalnya mengingat sosok aktris Kim Sohyun.

“Tak diragukan lagi, aku memang tampan.” Ucapanmu tadi rupanya berhasil memancing kenarsisan Do Kyungsoo.

“Ish! Dasar menyebalkan!”

Suamimu hanya terkekeh. Akhirnya kalian berhasil menyatukan cinta kalian kembali meski sempat merasa ingin menyerah, tapi lihat? Kalian tidak menyerah dan mulai berniat menghadapi semuanya bersama.

 

♥♥♥

 

Setelah mendapat telepon dari ibundanya, Kyungsoo langsung berlari tergesa-gesa meninggalkan jadwalnya di sebuah acara musik. Kau akan melahirkan dan sekarang sedang berjuang melawan kesakitanmu itu di sebuah ruang bersalin di rumah sakit terdekat yang bisa dicapai dari rumahmu.

Lelaki itu berlari secepat yang ia bisa di antara banyaknya orang-orang yang berlalu lalang di rumah sakit dengan ponselnya yang terhubung via telepon dengan ponsel ibunya, menanyakan kabar terbarumu setiap detik ia melangkah.

“Oh ya tuhan! Do Kyungsoo! Tunggu aku!” seru manajer Kyungsoo yang kehabisan nafas setelah ikut berlari mengejar Kyungsoo.

Eomma! Eomma! Bagaimana keadaannya?! Apa anakku sudah lahir?! Apa mereka baik-baik saja?!” tanya Kyungsoo bertubi-tubi.

“Yak! Kau ini! tenanglah!” ujar sang ibu sedikit mengomel.

“Dia masih di dalam. Sebelum aku dilarang masuk oleh perawat-perawat itu, dia sempat mengatakan kalau dia akan menunggumu sampai kau datang-”

MWO?! JADI DIA MASIH BELUM MAU MELAHIRKAN?!”

“DASAR WANITA BODOH!” hardik Kyungsoo sebelum akhirnya memaksa masuk ke ruangan bersalin untuk menemanimu melahirkan.

Sebelumnya, kau memang sudah meminta Kyungsoo untuk berjanji akan menemanimu saat melahirkan, dan Kyungsoo sudah berjanji. Jadi, kau hanya ingin membuktikan apa suamimu itu akan menepati janjinya atau tidak, meskipun pilihanmu untuk menahan kelahiran bayimu itu sebenarnya merupakan hal yang bodoh dan membahayakan.

Buktinya, tak lama setelah Kyungsoo hadir di sampingmu dan memberimu kekuatan lebih, anak kalian akhirnya terlahir ke dunia ini. Seorang putra yang sangat mirip dengan suamimu. Saking miripnya, orang tuamu dan orang tua Kyungsoo sepakat kalau Kyungsoo lah yang jauh lebih mencintaimu ketimbang dirimu yang mencintai Kyungsoo. Haha, konyol sekali!

“Lihat saja nanti! Pasti dia akan mirip denganku!” Kau terus merungut ketika orang-orang di sekitarmu mengatakan hal yang sama seolah tidak ada kata-kata lain yang bisa mereka ucapkan.

‘Wah, dia mirip sekali ayahnya!’, ‘Dia benar-benar menggemaskan seperti ayahnya dulu!’ blah blah blah-_- kau yang hamil dan kau yang melahirkannya, masa dengan begitu mudahnya orang-orang itu bilang anakmu mirip Kyungsoo?! Tidak adil!

“Jangan cemberut begitu, Sayang. Biar saja putra kita ini mirip denganku, aku kan tampan!” ucap Kyungsoo kembali narsis. Kau hanya membalasnya dengan mendengus kesal.

“Yak! Memangnya kau mau putra kita ini jadi cantik sepertimu nantinya?!”

“Ah!” otak Kyungsoo mulai encer, sebuah ide tercetus kemudian.

“Bagaimana kalau kita ‘buat’ lagi saja? kita ‘buat’ anak perempuan agar dia bisa mirip denganmu? Jadinya kan kau tidak akan cemberut-cemberut lagi seperti sekarang!”

“YAK! OPPA PIKIR HAMIL ITU MUDAH?! MELAHIRKAN ITU TIDAK SAKIT, HUH?! KAU SAJA YANG HAMIL DAN MELAHIRKAN KALAU BEGITU! MAU ENAKNYA SAJA!”

Kau meninggalkan Kyungsoo dengan membawa serta putramu. Kyungsoo nyengir tanpa dosa, memikirkan betapa serunya dan betapa ramainya rumah kalian nanti jika kalian punya banyak anak. Toh, kalian masih muda, kan?

 

―Young Marriage End―

Iklan