[EXO Fanfiction] Cold Rain Series – A Regret

`Cold Rain` Series : A Regret

A fanfiction by AYUSHAFIRAA―

`Starring Kang Seulgi x Chen feat. Kai`

|| Drama, Friendship, Hurt/Comfort, Romance ||

// Teen // Oneshot //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

〖PLAYLIST〗

[Irene x Chanyeol] All I Do || [Seulgi x Chen] A Regret || [Wendy x Lay] The Wrong Person || [Joy x Suho] Stop It! || [Yeri x Luhan] The First

© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

.

.

.

It’s dripping, the falling rain is soaked with sadness.

It’s dripping,

Welling up in my heart, crying outloud…

―♫―

“Jongdae-ya!~ I’m coming!~” seru Seulgi sambil berlari keluar dari rumahnya. Gadis cantik itu sudah rapi dengan seragam sekolahnya dan tak lupa menguncir rambutnya yang panjang.

Di balik pagar rumahnya, Kim Jongdae, sahabatnya sejak kecil itu sudah siap juga untuk berangkat bersamanya ke sekolah dengan menaiki sepeda.

“Ayo cepat naik! Kita bisa terlambat tahu!” pagi-pagi begini Jongdae sudah emosi saja-_-

“Iya, iya! Dasar cerewet!” Seulgi duduk di jok belakang sepeda Jongdae dengan posisi duduk menyamping seperti biasanya. Seperti biasa pula, gadis itu melingkarkan tangannya di pinggang Jongdae. “Tadi kan aku tidak bisa menahannya, jangan marah-marah dong!”

“Hm.” Sahut Jongdae, malas mendengar penjelasan Seulgi tentang dirinya yang tak bisa menahan hasrat untuk buang air besar sebelum berangkat sekolah tadi.

Lelaki tampan itu mulai mengayuh sepedanya dengan sedikit dipercepat. Sepanjang jalan, Seulgi terus mengoceh, menceritakan kekesalannya yang terpendam pada Kim Jongin, siswa kelas lain yang menjadi incarannya selama 6 bulan terakhir ini.

“Masa iya saat chattingan semalam aku ditinggal tidur olehnya? Kan menyebalkan sekali!”

PUK!

“Yak! Kau kesal padanya tapi kenapa malah memukulku?!” tanya Jongdae, tak terima Seulgi melampiaskan kekesalan pada punggungnya.

“Habisnya…” bibir gadis itu mengerucut, “Jongin kan tidak ada di sini.”

“Cih, sekalipun ada, mana berani kau memukulnya dan berkata kalau kau kesal padanya?” nyinyir Jongdae.

Gadis itu menyandarkan kepalanya di punggung Jongdae, “Makanya aku melampiaskannya padamu. Kau kan sahabatku yang bisa kupukul berkali-kali.” Ujarnya diakhiri cengiran khasnya.

“Enak saja!”

.

.

.

Di taman sekolah, Seulgi duduk bersandar ke bahu Jongdae di bawah sebuah pohon besar. Tak banyak percakapan antara dua sahabat itu, keduanya sibuk dengan urusan masing-masing.

Lelaki dan perempuan tidak bisa hanya bersahabat. Sekalipun mereka bersahabat, pasti ada salah seorang di antara mereka yang memendam rasa.

Seulgi mengerutkan keningnya, Jongin baru saja membuat status di sosial medianya tentang hubungan lelaki dan perempuan yang tidak bisa hanya bersahabat saja. gadis itu kemudian melirik ke arah Jongdae yang sedaritadi duduk di sampingnya sembari membaca sebuah novel romansa.

“Jongdae-ya…”

“Hm?” sahut Jongdae tanpa berpaling sedikitpun dari novelnya.

“Kita ini bersahabat sudah sejak lama sekali bukan?” tanya Seulgi yang menatap Jongdae lekat-lekat.

Jongdae hanya mengangguk. Lelaki itu paling tidak suka Seulgi mengganggunya ketika sedang fokus melakukan sesuatu, suara gadis itu akan selalu bisa membuyarkan konsentrasinya.

“Apa kau memendam rasa padaku?”

Jongdae tersedak ludahnya sendiri. Reaksi tersebut tentunya semakin membuat Seulgi antusias menggodanya.

“Benarkan?” Seulgi mencolek-colek pipi Jongdae. “Oh ya Tuhan, bagaimana bisa aku tak menyadari kalau selama ini kau menyukaiku, Kim Jongdae?!”

Jongdae melirik ke arah Seulgi, sahabat perempuannya itu tampak begitu senang. “Lalu, kalau aku memang menyukaimu, apa aku bisa mendapatkan balasan perasaan yang sama?”

“Uhhh, kau serius sekali sih! Tadi itu aku hanya bercanda, lupakan! Lupakan!”

“Tapi aku serius, Kang Seulgi.” Ucapan Jongdae seketika membuat Seulgi menatapnya, terkejut. “Aku menyukaimu.”

“Yak! Kang Seulgi!” Seulgi berpaling, menangkap sosok tampan lelaki berkulit tan yang melambaikan tangan ke arahnya. Ya, Kim Jongin.

“Ah, Jongdae-ya, aku pergi dulu. Jongin sudah memanggilku.”

Mungkin waktunya saja yang belum tepat. Seulgi masih menyukai Jongin, dan Jongdae bisa apa lagi selain menunggunya?

“Kalian sedang bicara apa tadi? Sepertinya serius sekali.” Tanya Jongin pada Seulgi yang berjalan di sebelahnya.

“Ah, bukan apa-apa kok.”

Gadis itu menunduk, pengakuan tiba-tiba Jongdae tadi telah menyita fokusnya. Namun tak lama, ia dapat merasakan genggaman hangat tangan Jongin. Lelaki itu hanya tersenyum sambil menatap lurus ke depan, membuat Seulgi juga ikut tersenyum lagi karenanya.

“Jongin-ah…”

“Ya?”

“Aku senang kau menggenggam tanganku seperti ini, jangan dilepas ya?” pinta Seulgi berseri-seri.

Jongin mengangguk kemudian mengelus puncak kepala gadis itu, “Baiklah, baiklah.”

.

.

.

“Seulgi-ya! bangun! Jam pelajaran sudah habis, waktunya kita pulang.” Jongdae mengguncang-guncang tubuh Seulgi. Sejak jam pelajaran terakhir, gadis itu tertidur di atas meja dengan buku paket matematika yang menutupi wajahnya. Sebagai teman sebangku, Jongdae hanya membiarkan Seulgi tertidur karena kasihan melihat wajah kelelahannya.

“Yak! Kang Seulgi! Kau tidak akan pulang?! Aku tinggal ya?!”

“Ah!~ Jongdae!~ gendong aku!~” rengek Seulgi sembari meluruskan kedua tangannya minta digendong. Meski kesal, Jongdae hanya terkekeh pelan. Gadis itu tidak pernah berubah.

Lelaki itu akhirnya menuruti keinginan Kang Seulgi. Sepanjang jalan menuju parkiran sepeda, Jongdae menggendongnya. Walaupun ia dan Seulgi menjadi pusat perhatian siswa-siswi lain, itu tak masalah bagi seorang Kim Jongdae.

“Duduk yang benar!” Jongdae mendudukkan Seulgi yang masih belum sadar sepenuhnya di jok belakang sepedanya, sementara Seulgi hanya meresponnya dengan anggukan meragukan.

Jongdae mendengus, “Kau ini merepotkan sekali!”

Tangan Jongdae menarik kedua tangan Seulgi untuk melingkar di pinggangnya. Melihat keadaan gadis itu yang sepertinya masih sangat mengantuk membuat Jongdae terpaksa mengikat tangan Seulgi yang melingkar di pinggangnya dengan dasi sekolahnya.

“Nah, sekarang… kita pulang!”

.

.

.

Malam ini, Jongdae telah menyiapkan sebuah kejutan untuk Seulgi. Di halaman belakang rumahnya, Jongdae telah menyusun lilin-lilin dengan sedemikian rupa sehingga membentuk kalimat ‘Saranghae, Kang Seulgi’.

Tepat di pergantian malam ini, gadis itu akan berulang tahun yang ke-18. Jongdae berharap, momen ulang tahun ini juga akan menjadi awal yang baik untuk hubungannya dengan Seulgi. 5 tahun sudah lelaki itu menunggu Seulgi, ia rasa, sudah cukup baginya untuk menghentikan penantiannya selama ini.

“Jongdae-ya~ Seulgi dan orang tuanya sudah datang!~ bersiap-siaplah!~” ucap kedua orang tuanya, berbisik.

“Oh? Apa ini?” takjub gadis yang sudah berdandan sangat cantik dengan gaun merah selutut yang melekat di tubuhnya ketika melihat rangkaian lilin yang sudah matang dipersiapkan Jongdae.

It’s feel like I’m walking in warm sunshine. To me, you are warm and cozy just like a warm comforter. So, I want to talk to you… can you listen to me once? Now, I want to confess…

Baru saja Jongdae hendak melanjutkan kata-katanya, Seulgi menggeleng cepat.

“Jongdae-ya~ kau ini ingin mempermalukanku ya?! aku ini tidak mengerti apa yang barusan kau katakan! Pakai bahasa korea saja kenapa sih?!” kesal gadis itu yang membuat orang-orang di sekitarnya tertawa termasuk Jongdae.

Niga joha neomu joha, nae modeungeol jugo sipeo~ neoege maneun nae maeum nan kkumigo sipji anha~ eonjekkaji~ neowa hamkke isseulkkeoya ye~ (Aku menyukaimu, sangat menyukaimu. Aku ingin memberimu segala yang kupunya~ Kau satu-satunya yang ada di pikiranku, aku tidak mau mengubahnya~ selamanya~ aku akan selalu bersamamu~)” dengan menyanyikan sebuah lagu cinta populer, Jongdae berhasil membuat pipi seorang Kang Seulgi merona sempurna.

“Ah, ya Tuhan! Itukan lagu kesukaanku! Jongdae-ku keren sekali!” Seulgi mengacungkan dua jempolnya untuk kejutan yang diberikan Jongdae.

“Jadi… bagaimana?” tanya Jongdae malu-malu.

“Bagaimana apanya?”

“Se-setidaknya kau harus memberiku jawaban, Kang Seulgi.” Lelaki itu mulai sedikit gugup.

Seulgi menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali, “Jawaban untuk apa? Bukankah tadi kau hanya bernyanyi? Apanya yang harus kujawab?”

“Ya Tuhan, Kang Seulgi anakku! Kau ini sedang ‘ditembak’, masa kau tidak mengerti juga sih?” sang ibu gereget sendiri.

Ah, gadis itu baru mengerti sekarang. Perlahan tapi pasti, ia berjalan menghampiri Jongdae yang tampan dengan setelan jas berwarna hitam. Malam ini, sahabat setianya itu benar-benar sangat tampan.

“Jongdae-ya… Kau tahu sendiri aku menyukai siapa bukan? Untuk saat ini, mungkin itu bukan dirimu. Maafkan aku.”

Seulgi memeluk erat tubuh Jongdae, sementara Kim Jongdae sedang berusaha menguatkan dirinya di hadapan kedua orang tuanya, kedua orang tua Seulgi, dan tentunya di depan Kang Seulgi dengan sebuah senyuman.

“Tidak apa-apa, aku mengerti. Selamat ulang tahun, Seulgi-ya. Aku mencintaimu.”

.

.

.

“Kang Seulgi! Selamat ulang tahun!” Jongin bersorak sorai tepat setelah seharian dirinya sukses membuat gadis itu bermanyun ria karena diabaikan di sekolah.

“Kim Jongin bodoh! Kupikir kau benar-benar mengabaikanku!”

“Oh ya ampun, sebegitu takutnya ya kau diabaikan olehku? Haha, sini kupeluk!” Seulgi benar-benar menikmati pelukan hangat Jongin. Namun, kebahagiaan yang dirasakannya tak berlangsung lama, karena setelah itu, Jongin memperkenalkan siswi cantik yang sedaritadi berdiri di sampingnya.

“Kenalkan, dia Soojung, kekasihku.”

“Ye?”

Siswi yang diperkenalkan Jongin pun mengulurkan tangannya, “Hai, namaku Jung Soojung. Selamat ulang tahun, Seulgi-ssi.”

Seulgi tertawa garing, “Jongin-ah! Cukup bercandanya! Mentang-mentang ini hari ulang tahunku, kau mau menjahiliku berapa kali sih?!”

“Apanya yang bercanda, Seulgi-ya? dia memang kekasihku kok!” ucap Jongin seraya merangkul kekasihnya di depan kedua mata Seulgi yang masih menatap tak percaya. “Hubungan kami sudah hampir satu tahun, hanya saja aku baru sempat mengenalkannya padamu.”

Seulgi baru mengincar Jongin sejak 6 bulan lalu, dan sekarang Jongin mengaku sudah hampir setahun berpacaran dengan Soojung? Yang benar saja!

“Ah, kalau begitu terimakasih, Jongin-ah, Soojung-ah. Aku pamit pulang dulu.”

Sungguh, Seulgi ingin sekali menangis, namun ia berusaha keras untuk menahannya. Seulgi berlalu meninggalkan Jongin sambil berusaha melupakan kenangan-kenangan manis yang pernah dibuat lelaki itu untuk membahagiakannya. Jongin itu jahat, bisa-bisanya Jongin memberi perhatian pada gadis lain saat dirinya sendiri sudah memiliki kekasih yang nyatanya lebih cantik dari seorang Kang Seulgi! Tunggu! Jongin yang jahat, apa Kang Seulgi yang bodoh sih?!

“Huwaaa!~ Kim Jongdae! Di mana kau?! Aku sedang butuh pelukan!~” rengek Seulgi saat maniknya tak menemukan keberadaan Jongdae di parkiran sepeda. “Sepedanya ada, kenapa orangnya tidak ada?! Masa aku harus menangis di depan sepeda?!”

“Seulgi-ya?”

Gadis itu berpaling ke asal suara, melihat Jongdae yang menatapnya dengan raut bingung.

“Huwaaaa!~ Kim Jongdae! Ke mana saja kau?! Ayo cepat antarkan aku pulang!~” pinta Seulgi menyedihkan.

“Tapi Seulgi-ya, aku tidak bisa pulang bersamamu.”

“Lho? Kenapa memangnya? Argh! Jangan bilang kau mau mengerjaiku juga?!”

“Tidak! Tidak begitu! Aku harus mengantar Minah pulang, jadi aku tidak bisa memboncengmu lagi.” ucap Jongdae. Bang Minah, yang juga teman sekelas Seulgi dan Jongdae pun menunjukkan batang hidungnya sesaat setelah Jongdae mengakhiri kalimatnya.

Seulgi meremas ujung rok seragamnya, “Ah, kalau begitu hati-hati, Jongdae-ya. Minah-ya! kau harus pegangan erat-erat! Jongdae terkadang suka sekali mengebut! Berbahaya!” balas Seulgi bersikap sok tegar.

“Kami duluan ya, Seulgi!” Minah melambaikan tangannya sebelum akhirnya meninggalkan Seulgi sendirian di parkiran sepeda itu.

Lagi-lagi, Seulgi mencoba tersenyum, namun kali ini airmatanya benar-benar mendesak keluar dari pelupuk matanya. Untunglah tak berapa lama, hujan turun hingga menyamarkan bulir airmata di pipinya. Ia menyesal, sangat menyesal. Melepas sosok baik dan tulus seperti Kim Jongdae hanya karena lebih memilih Kim Jongin yang nyatanya tak pernah ada untuk dirinya. Kini ia menyadari, ia tidak akan pernah bisa memutarbalikkan waktu untuk mendapatkan Kim Jongdae kembali.
A Regret – End.

Iklan

8 thoughts on “[EXO Fanfiction] Cold Rain Series – A Regret

  1. huwaa seulgi kasian T_T lagian dikasi harapan sama chen dia malah nolak dan nyari yg ga pastiii :”)) wkwkwk but ini good, salut sama ff nya yg bahasanya keren tapi gampang dimengertii :’D

    Suka

    1. Yaa namanya juga gak cinta, masa harus maksain jatuh cinta :’) kan kasian juga nanti Chennya :’) makasih hehe^^ yaampun, bahasanya gak keren kok masih perlu banyak belajar diriku wkwk 😂

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s