[EXO Fanfiction] Cold Rain Series – The Wrong Person

`Cold Rain` Series : The Wrong Person

A fanfiction by AYUSHAFIRAA―

`Starring Son Seungwan x Lay feat. Im Jinah`

|| Drama, Hurt/Comfort, Romance ||

// PG15 // Oneshot //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

〖PLAYLIST〗

[Irene x Chanyeol] All I Do || [Seulgi x Chen] A Regret || [Wendy x Lay] The Wrong Person || [Joy x Suho] Stop It! || [Yeri x Luhan] The First

© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

.

.

.

Because I didn’t know love, I just believed in people.

I became crazier with those warm lies…

―♫―

Siang itu, kafe tak ramai pengunjung. Hanya tampak beberapa yang dapat dengan mudah dihitung oleh jari Son Seungwan. Saking tak ada kerjaan, gadis cantik pekerja paruh waktu di kafe itu hanya sibuk menghabiskan waktunya untuk memperhatikan mahakarya Tuhan berwujud lelaki tampan yang setiap hari selalu datang ke kafenya dan duduk di dekat jendela barisan ke-empat sebelah kiri tangannya.

Namanya Zhang Yixing. Ya, terdengar seperti nama orang Cina sih. Seungwan tahu nama lelaki itu dari kartu kredit yang selalu lelaki itu gunakan ketika membayar minuman-minuman yang telah dipesannya.

“Permisi?”

Seungwan masih asik dengan lamunannya hingga tak menyadari sosok yang ia lamunkan kini tengah berdiri di hadapannya dan mengajaknya bicara.

“Permisi, Nona?”

“Ah iya?! Maafkan saya! Ada yang bisa saya bantu?”

Deg! Deg! Deg!

“Oh ya Tuhan! Kenapa dia tampan sekali?!” gumam Seungwan pelan. Sepelan-pelannya dia bergumam, pendengaran tajam lelaki itu mampu menangkap gumamannya dengan jelas hingga terkekeh.

“Bolehkah kupinjam ponselmu? Ponselku kebetulan lowbatt.” Tanya lelaki bernama Yixing itu.

“A-ten-tentu.”

Seungwan menyerahkan ponselnya. Yixing kemudian terlihat memainkan jemarinya dengan lincah di atas layar ponsel Seungwan yang sensitif. Tak lama, ponsel lain di tangan kiri Yixing yang Seungwan tebak adalah milik lelaki itu tampak menerima sebuah panggilan.

“Oh, jadi ini nomormu. Cantik juga, seperti orangnya.”

Blush! Pipi Seungwan merona. Lelaki itu ternyata diam-diam meminta nomor teleponnya! Jangan-jangan lelaki itu juga sadar kalau selama ini seseorang seperti Seungwan yang hanya seorang pelayan sering menatapi ketampanannya?

“Aku akan meneleponmu nanti malam, jangan sampai ketiduran sebelum aku menelepon ya?!” ucap Yixing sebelum akhirnya melangkah keluar dari kafe itu.

Seungwan berbalik menuju dapur sambil menyentuh pipinya yang panas, ditatapnya nomor ponsel Yixing yang masih tertera jelas di layar ponselnya.

“AAAAAAAAAAAAA! KURASA AKU AKAN MENJADI GILA! SON SEUNGWAN! SADARKAN DIRIMU! INI CUMA MIMPI!” teriak Seungwan seperti orang gila yang membuat para pekerja lainnya memasang wajah horor mereka.

PLAK! PLAK! PLAK!

Seungwan menampar dirinya sendiri berkali-kali.

“INI… INI BUKAN MIMPI! INI SUNGGUHAN! AH SENANGNYA HATIKU!!!”

.

.

.

Sejak saling bertukar nomor telepon hari itu, keduanya menjadi sangat dekat. Tak jarang pula, Yixing berkunjung ke rumah kecil Seungwan dan mengajak Seungwan ke apartemennya. Mereka menjadi dekat, hingga hari di mana Yixing menyatakan perasaannya pada gadis itu dengan penuh keromantisan.

“Jadi, apa kau mau menerima cintaku, Nona Seungwan?” tanya Yixing di hadapan ratusan orang yang menyaksikan proses pernyataan cinta Yixing di sebuah taman hiburan terkenal di Korea Selatan.

Sebuket bunga mawar merah yang Yixing pegang sudah siap untuk diterima gadis cantik itu. Malu-malu tapi mau, akhirnya Seungwan pun menerima pernyataan cinta Yixing. Karena kalau ditahan lama-lama pun, Seungwan sudah tidak kuat!

“Yuhuy! Ciyeee, ciyeee! Cium! Cium! Cium!” para pengunjung taman hiburan yang kebetulan sedang ramai itu pun akhirnya bersorak untuk kedua insan yang baru resmi menjadi sepasang kekasih itu.

Yixing menahan senyumnya, lagi-lagi Seungwan menunjukkan ekspresi malu yang luar biasa padahal dirinya juga sangat menginginkan ciuman itu. ya, bayangkan saja, selama 23 tahun ia hidup, belum pernah ada lelaki yang merebut ciuman pertamanya! Sama sekali! Bibirnya masih suci!

Perlahan, Yixing mendekatkan wajahnya ke wajah Seungwan, mengikis jarak diantara mereka sebelum akhirnya bibir mereka saling bertaut dengan mesranya. Pengunjung yang menjadi saksi kisah cinta mereka pun akhirnya semakin bersorak seru menyaksikan adegan ciuman itu.

“Sudah ah, Yixing-ssi. Di sini terlalu banyak orang.” Ucap Seungwan yang tak sanggup menahan rona pipinya.

“Jadi, kau mau melanjutkannya di tempat sepi?”

“Yak! Apa sih?! Dasar mesum!” Seungwan mencubit pipi Yixing, sementara siempunya pipi hanya berpura-pura merintih dengan kempot di pipinya.

.

.

.

Semenjak menjadi kekasih seorang Zhang Yixing, Seungwan tak mengambil pekerjaan paruh waktu lagi. Segala kebutuhannya sudah terpenuhi oleh sang kekasih yang memang berasal dari keluarga kaya raya. Yixing juga tak jarang mengajak Seungwan berlibur ke resort milik keluarganya yang ada di Pulau Jeju hanya untuk sekedar menghabiskan akhir pekan bersama.

Oppa… kau mau ke mana?” tanya Seungwan yang baru saja terbangun dari tidurnya dan melihat Yixing sudah bersetelan rapi seperti hendak pergi padahal hari ini hari minggu dan masih sangat pagi.

Seungwan menutupi tubuhnya dengan selimut putih, lalu berjalan menghampiri dan memeluk sang kekasih yang sedang bercermin dari belakang.

“Tiba-tiba aku harus menemui ayahku untuk membicarakan masalah perusahaan, Seungwan-ah. Kau di sini saja ya? setelah urusanku selesai, aku pasti akan datang menjemputmu.”

Seungwan mengangguk, “Jangan lama-lama ya?”

“Iya, sayangkuuu!~ aku janji akan segera kembali.” Jawab Yixing yang kemudian mencium kening gadisnya untuk beberapa saat. Seungwan senang, Yixing memang selalu bisa membuatnya dimabuk kepayang.

“Aku pergi dulu.”

“Hati-hati! Jangan lupa kabari aku jika sudah sampai di sana ya?”

Seungwan kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur setelah mengantar kepergian Yixing. Tubuhnya benar-benar lelah, tapi mengingat betapa semalam Yixing memperlakukannya bak seorang ratu, ‘lelah’ itu tak lagi menjadi masalah.

Saat tengah tersenyum-senyum sendiri, ponsel Seungwan bergetar tanda pesan masuk. Senyumannya semakin melebar setelah ia melihat nama kontak pengirim pesan itu.

―Lelaki tampanku, Yixing.

―Aku sedang dalam perjalanan, Hayoung-ah. Sabar ya({})

“Hayoung?”

.

.

.

“Kau mau ke mana lagi setelah ini, Na?”

Kening Seungwan mengkerut, “Na? Na siapa?”

“Na? Kau salah dengar, Sayang. Tadi aku mengatakan ‘Seungwan-ah’, mungkin jalanan terlalu berisik ya jadi kedengarannya seperti ‘Na’?” Yixing tertawa.

Mungkin iya juga, pikir Seungwan. saat ini dirinya sedang berada di dalam mobil Yixing dan jalanan saat itu sedang ramai-ramainya dengan kendaraan. Ia mungkin, hanya salah dengar.

“Aku ingin ke apartemenmu saja, Oppa. Akhir-akhir ini kita kan jadi lebih sering menghabiskan waktu di Pulau Jeju ketimbang di apartemenmu. Bagaimana?”

Sure! Apa yang tidak untukmu, Seungwan-ah.” Ujar Yixing seraya mengecup punggung tangan Seungwan yang sedaritadi digenggamnya.

Apartemen yang terletak di daerah Gangnam itu tak perlu lagi dipertanyakan seberapa elitnya. Kalau itu milik Yixing, pastilah tak jauh dari kata ‘mewah’.

“Eoh? lampu apartemenmu menyala? Siapa yang datang?” tanya Seungwan setelah melihat jendela apartemen Yixing lebih terang daripada biasanya.

“Ah, mungkin ada pembantu suruhan orang tuaku yang sedang membersihkan apartemen.”

“Tapi kenapa malam-malam ya?” Seungwan kembali bertanya, heran.

Yixing membuka bagasi mobilnya, mengambil barang-barang belanjaan Seungwan tadi sore. “Ya, mungkin pembantu itu memilih untuk menginap?”

Seungwan akhirnya mengangguk, mencoba mengerti.

“Ayo, Sayang.”

Saat memasuki apartemen Yixing, Seungwan disambut oleh kehadiran seorang gadis cantik nan seksi yang tak dikenalnya. Gadis cantik itu diperkenalkan Yixing sebagai adik sepupunya, Nana.

“Jadi, Seungwan-ssi ini kekasih Yixing Oppa?” tanya Nana pada Seungwan dengan nada mengintrogasi.

“Ya, begitulah.” Jawab Seungwan canggung.

Nana yang dapat membaca raut ketidaknyamanan Seungwan pun akhirnya pamit pada Yixing untuk pulang.

“Kedatanganku tidak tepat sekali ya? kukira kau akan datang sendiri, ternyata kau juga membawa serta kekasihmu.” Gadis cantik bernama Nana itu pun pergi dengan diantar Yixing sampai pintu apartemen.

Saat Yixing kembali, wajah Seungwan sudah menunjukkan sedikit kekecewaan.

“’Na’ itu… Nana?”

“Kau ini bicara apa sih? Sudah kubilang kau hanya salah dengar kan? Nana itu hanya adik sepupuku. Jangan cemburu seperti itu dong.” Yixing mencubit hidung Seungwan, padahal Seungwan jelas sedang tidak mood bercanda.

“Kau lelah kan? Ayo kita tidur saja supaya kau juga tidak berpikir yang aneh-aneh.”

.

.

.

Pagi itu, Seungwan baru saja keluar dari kamar mandi. Dilihatnya sang pria masih terlelap dalam tidurnya. Wajah polos lelaki itu saat tertidur benar-benar lucu, mengundang Seungwan untuk melancarkan aksi jahilnya.

Ikon kamera, tombol rekam, klik!

“Dia Zhang Yixing, lelaki tampanku. Dia lucu sekali ya ketika tertidur? Aku jadi ingin menciumnya hehe…”

“Jiyoung-ah, jangan ganggu aku… aku lelah sekali.”

Gerakan Seungwan yang mencoba mencium bibir Yixing seketika terhenti. Yixing mengigau, entah menyebut nama siapa lagi. Setelah Hayoung dan Nana, sekarang Jiyoung? Sebenarnya siapa mereka?

Tes! Airmata itu tanpa permisi jatuh dari pelupuk mata Seungwan. Ia ingin sekali berbaik sangka pada sang kekasih, tapi kenapa, rasanya justru berat sekali?

“Oh ya Tuhan! Ternyata harum ini berasal dari kekasihku yang baru saja mandi!” Yixing terbangun dari tidurnya dengan wajah tanpa dosa. Lagipula, siapa yang akan ingat kalau dia mengigau menyebut nama gadis lain saat tertidur? Toh Seungwan juga ingin melupakannya cepat-cepat.

“Ya sudah, Oppa cepat mandi! Hari sudah mulai siang, lho! Oppa kan harus bekerja?”

“Oh iya, benar juga. Ah, kekasihku ini sudah sangat pintar rupanya! Sepertinya sudah cocok menjadi Nyonya Zhang!” ujar Yixing sembari mencubit gemas pipi sang gadis. Mendengar itu, Seungwan jadi semakin tidak sabar memberi kabar gembira bagi Zhang Yixing.

Oppa… ada yang ingin kukatakan.”

“Apa, hm?”

Namun, Seungwan mengurungkan niatnya dan menggeleng.

“Tidak! Tidak jadi!” balas Seungwan nyengir kuda.

.

.

.

Di bawah terik matahari siang itu, Seungwan dengan percaya diri keluar dari toko aksesoris. Ia baru saja membungkuskan sebuah kado untuk ‘lelaki tampan’nya. Ya, siapa lagi kalau bukan Yixing?

Sebuah kotak kecil berwarna merah dengan pita berwarna putih yang mengikatnya. Pokoknya lucu sekali.

“Eoh? Op…pa.” niat Seungwan untuk berteriak memanggil Yixing ia urungkan tepat setelah maniknya menangkap adegan mesra Zhang Yixing dengan Nana. Yixing dan Nana yang sepertinya baru berjanji untuk bertemu kemudian mengganti kalimat sapaan mereka dengan sebuah ciuman.

“Jadi… Nana itu hanya adik sepupu ya?”

Seungwan menepuk dadanya yang terasa sesak tatkala ia hanya bisa melihat pertemuan Yixing dan Nana dari jarak jauh. Langkahnya tak sanggup untuk mendekat, takut kalau prasangka buruknya selama ini menjadi kenyataan.

―memanggil, ‘Lelaki tampanku, Yixing.’

“Halo, Oppa? Kau sedang ada di mana sekarang?” tanya Seungwan dalam sambungan telepon, menguji kejujuran sang kekasih.

Oh, halo, Sayang. Aku sekarang sedang rapat bersama ayahku, biasalah, membahas perusahaan yang akan diberikan atas namaku-

PRAK!

Seungwan membanting ponselnya hingga tak berbentuk lagi. airmatanya sudah berlinangan membasahi pipinya entah sejak kapan dan ia pun tak luput dari perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.

‘Aku sedang dalam perjalanan, Hayoung-ah. Sabar ya({})’

“Kau mau ke mana lagi setelah ini, Na?”

“Jiyoung-ah, jangan ganggu aku… aku lelah sekali.”

Seungwan jatuh terduduk di atas trotoar. Perlahan ia mulai sadar, bahwa selama ini dirinya telah banyak dibodohi oleh lelaki bernama Zhang Yixing itu.

“DASAR LAKI-LAKI PEMBOHONG!”

“BODOHNYA AKU BISA SELALU PERCAYA PADA SETIAP KATA-KATAMU! BODOHNYA AKU… ASTAGA! KENAPA AKU BISA SEBODOH INI?!” teriak Seungwan frustasi.

PRAK!

Bungkusan kado berwarna merah yang tadinya hendak ia berikan pada Yixing pun hancur dan memperlihatkan isinya. Sebuah testpack bergaris dua yang menunjukkan bahwa pemiliknya positif hamil. Gadis itu kemudian hanya mampu tersenyum pahit, ternyata selama ini ia sudah memberikan kepercayaan dan cintanya pada orang yang salah.
The Wrong Person – End.

Iklan

3 thoughts on “[EXO Fanfiction] Cold Rain Series – The Wrong Person

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s