[EXO Fanfiction] Cold Rain Series – Stop It!

`Cold Rain` Series : Stop It!

A fanfiction by AYUSHAFIRAA―

`Starring Park Sooyoung x Suho feat. Kris, Lee Hosin as Yoo Ahra`

|| Angst, Drama, Romance, Sad ||

// PG15 // Oneshot //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

〖PLAYLIST〗

[Irene x Chanyeol] All I Do || [Seulgi x Chen] A Regret || [Wendy x Lay] The Wrong Person || [Joy x Suho] Stop It! || [Yeri x Luhan] The First

© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

.

.

.


What’s so great about love that it makes me cry?

What’s so great about you that you make me struggle and tired?

As much as I miss you, I hate you…

―♫―

Tak terasa, setahun sudah Park Sooyoung dan Kim Junmyeon menjalin kasih asmara. Bertemu dan saling jatuh cinta sejak sama-sama duduk di bangku SMA membuat pasangan muda itu merasa bahwa dunia hanyalah milik mereka berdua.

Di hari minggu yang lumayan sejuk ini, Junmyeon mengajak Sooyoung jalan-jalan ke taman hiburan yang biasa mereka datangi bersama ketika berkencan. Dalam genggaman tangan Junmyeon, Sooyoung bergelayut manja sambil menjilati es krim cokelat kesukaannya.

Oppa, kita naik bianglala yuk? Mumpung cuaca mendukung!” ajak Sooyoung antusias.

Junmyeon mengangguk, setuju. “Baiklah, ayo.”

Setelah mengantri cukup lama untuk bisa naik karena banyaknya pengunjung hari itu, akhirnya Junmyeon dan Sooyoung mendapat giliran mereka naik bianglala. Bianglala tersebut bergerak lambat dengan gerakan berputar ke atas. Sesekali juga, bianglala tersebut berhenti saat pergantian pengunjung yang naik.

“Sooyoung-ah… ada yang ingin kukatakan padamu.”

“Kalau begitu katakan saja! Aku siap mendengarkan, kok!” ucap gadis itu seraya memeluk erat tubuh Junmyeon dari samping.

Lelaki yang dipeluk Sooyoung itu terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya bibirnya mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak siap untuk Sooyoung dengar.

“Aku ingin kita putus.”

“Apa?” tanya Sooyoung yang seakan meminta Junmyeon untuk mengulangi kata-katanya. Ia harap pendengarannya bermasalah saat itu.

Junmyeon menghembuskan nafasnya kasar, “Aku ingin kita putus. Aku, tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi.”

Mata Sooyoung seketika saja berair, tak sanggup lagi menahan cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya. “Ta-tapi kenapa? Memangnya apa salahku sampai Oppa ingin kita putus?”

“Kau tidak salah apa-apa, Sooyoung-ah. Maafkan aku.”

Beberapa saat kemudian, pintu bianglala mereka terbuka. Junmyeon bangkit, keluar lebih dulu meninggalkan Park Sooyoung yang masih begitu terpukul di dalam sana.

“Selamat tinggal, Park Sooyoung.”

.

.

.

Agar bisa melupakan sosok Junmyeon, Sooyoung melakukan berbagai macam cara. Rambutnya yang semula terurai panjang sengaja ia pangkas hingga sependek bahu. Tampilan barunya ini membuat Sooyoung terlihat semakin cantik dan lebih dewasa.

Sebenarnya, sudah banyak lelaki di kampus yang berusaha mendekatinya, berusaha menggantikan posisi Junmyeon yang telah lama terkosongkan. Namun tidaklah mudah bagi Park Sooyoung untuk kembali membuka hati kepada lelaki lain kalau nyatanya dalam hatinya nama Kim Junmyeon tidak pernah bisa benar-benar terhapus begitu saja.

Sooyoung tersenyum pahit, “Dasar Kim Junmyeon bodoh! Mau sampai kapan kau terus tersenyum seperti itu di depanku?! Ish!” Sret! Sret! Ia mencoret foto Junmyeon di kamarnya menggunakan lipstik atas dasar kesal, padahal sedetik kemudian…

“Hoh?! Astaga! Lipstikku?! Lipstikku yang mahal?! Oh ya ampun, bagaimana ini?! huwaaa!~”

Gadis itu menelepon sang ibu, meminta jatah bulanannya dilebihkan daripada biasanya. Saat ditanya untuk apa, Sooyoung dengan polosnya mengatakan kalau Kim Junmyeon telah menggerogoti isi lipstiknya. Konyol memang, tapi itulah kenyataannya.

“Kau sih ah! Semua ini gara-gara dirimu! Aku jadi diomeli oleh ibuku!” seperti orang gila, Sooyoung terus berbicara pada foto Junmyeon yang telah dicorat-coretnya seakan-akan foto itu mampu membalas semua umpatannya.

Sooyoung bergegas pergi menjemput bayi barunya. Ah, maksudnya lipstik baru. Ia memang selalu menganggap setiap alat kecantikannya sebagai bayi-bayinya yang harus ia jaga dengan benar dan penuh kasih sayang. Tak aneh bila tadi reaksinya begitu berlebihan saat tak sengaja menyakiti salah satu ‘bayinya’ tersebut.

Gadis itu berlari-lari kecil, terkadang juga bergerak memutar tubuhnya saking senangnya. Cuaca yang baik, suasana hati yang baik, apa lagi yang kurang?

“Sooyoung-ah…”

Langkah Sooyoung terhenti sekitar beberapa langkah dari sosok Kim Junmyeon yang baru saja keluar dari toko alat-alat kecantikan langganan Sooyoung dengan menenteng sebuah tas belanjaan kecil berwarna merah muda di tangan kirinya.

“Sudah lama tidak bertemu.” Sapa Junmyeon hangat sementara gadis itu masih membeku di tempatnya berdiri.

“Bagaimana kabarmu?” Junmyeon melangkah mendekat, namun gadis itu memilih langkah berlawanan, menjauh.

“Maaf, aku ada urusan.” Saat Sooyoung hendak melewati Junmyeon untuk masuk ke dalam toko, Junmyeon menahan lengannya dan berkata kalau kebutuhan Sooyoung ada di dalam tas belanjaan kecil yang sedaritadi Junmyeon jinjing.

Awalnya gadis itu ragu saat Junmyeon mengajaknya makan siang bersama, namun keraguan itu akhirnya ditepisnya karena bagaimanapun hati kecil Sooyoung menginginkan itu, ya, makan siang berdua saja bersama Kim Junmyeon.

“Junmyeon-ssi, kau tahu dari mana kalau aku sedang membutuhkan lipstik baru?” mulut gadis itu akhirnya terbuka juga setelah sekian lama dirinya membungkam di hadapan sang mantan kekasih.

“Panggil aku ‘Oppa’ saja, aku tahu kau lebih nyaman memanggilku dengan panggilan itu.” saran Junmyeon sebelum menjawab pertanyaan gadis yang saat ini duduk berhadapan dengannya di sebuah meja restoran favorit mereka ―dulu.

Sooyoung hanya mengangguk, mengiyakan bahwa dirinya akan memanggil Junmyeon dengan panggilan ‘Oppa’ lagi.

“Ibumu yang meneleponku, katanya kau meminta uang jajan lebih karena lipstikmu digerogoti olehku. Haha, kau ini masih sama saja seperti dulu.” lanjut Junmyeon menjelaskan. “Ibumu… masih menganggap kita berpacaran.”

“Ya, aku memang tidak pernah mengatakan padanya kalau Oppa tiba-tiba memutuskanku tanpa alasan yang jelas dan meninggalkanku yang menangis sendirian di Everland waktu itu. Maafkan aku ya? aku membuatnya menjadi rumit untukmu.”

“Tidak, tidak apa-apa. Aku yang harusnya minta maaf.”

Dengan gerakan pasti, Junmyeon menggenggam erat kedua tangan Sooyoung di atas meja, memberi sentuhan-sentuhan hangat nan lembut di punggung tangan gadis itu. Sooyoung menunduk, sedih. Ia seharusnya bisa menolak genggaman Junmyeon dengan tegas, namun lagi-lagi, anggota tubuhnya itu merindukan perlakuan hangat yang Junmyeon berikan.

“Sooyoung-ah, maukah kau menjadi kekasihku lagi?”

Manik Sooyoung berbinar tak percaya, jantungnya berdetak sangat cepat sama seperti saat pertama kali Kim Junmyeon menyatakan cinta padanya di pesta kelulusan 2 tahun lalu.

“Aku ingin memperbaiki semua kesalahanku, aku ingin kita bisa bersama lagi. kaulah satu-satunya gadis yang bisa membuatku kesulitan untuk tidur karena selalu memikirkanmu, namun kau jugalah yang bisa membuat tidurku nyenyak karena memimpikanmu. Kumohon, Sooyoung-ah. Aku benar-benar mencintaimu.” aku Junmyeon dengan tatapan memohon.

“Aku juga. Aku benci keputusanmu waktu itu, tapi jauh di dalam sini, aku tidak bisa menghapus namamu.” Balas Sooyoung seraya menunjuk tepat ke hatinya.

“Ja-jadi? Kau dan aku?” tanya Junmyeon, memastikan jawaban Sooyoung sekali lagi.

Tanpa berkata-kata lagi, Sooyoung bangkit dari duduknya dan mengundang seribu tanya di wajah Junmyeon yang kebingungan.

“Kau mau ke mana?” Junmyeon ikut bangkit.

Sooyoung bergerak menghampiri lelaki itu dan tanpa memberi aba-aba terlebih dulu ia langsung menarik tengkuk Junmyeon dan mencium bibirnya. Junmyeon tak perlu jawaban lagi dari Park Sooyoung. Ciuman lembut di antara bibir keduanya telah menjadi babak baru untuk mengulang hubungan mereka yang sempat terhenti di tengah jalan.

.

.

.

Seberkas sinar sang mentari pagi itu menelusuk masuk melalui celah gorden kamar Kim Junmyeon dan menyilaukan mata lelaki tampan itu, memaksanya untuk terbangun dari mimpi indahnya bersama sang pujaan hati. Semilir wangi masakan masuk ke kedua lubang hidungnya, menggoda sang empunya hidung untuk memilih bangkit dari posisi tidurnya dan mencari asal wangi masakan tersebut.

“Eoh? Sooyoung-ah, kau di sini?” tanya Junmyeon sambil sedikit mengucek matanya yang masih terasa lengket.

Gadisnya tersenyum menyadari kehadiran si tuan rumah. Mengenal Junmyeon sejak SMA membuatnya hafal betul kode untuk membuka pintu rumah minimalis bergaya amerika itu.

Sooyoung menyesap aroma masakannya dengan senyuman yang tak kunjung hilang, “Oppa, kemarilah!”

“Ada apa?” tanya Junmyeon sambil berjalan mendekat.

“Coba cium ini! wangi sekali! Sepertinya enak!”

Breg! Junmyeon mendorong tubuh kekasihnya hingga terhimpit ke dinding di dapur itu. Seringaiannya sempat membuat jantung Sooyoung berdegup kencang.

“Kau benar, wangi sekali.” Ucap Junmyeon yang menghirup aroma parfum Sooyoung. Lelaki itu menyeringai lagi sebelum akhirnya berbisik tepat di telinga gadisnya, “Sepertinya juga enak.”

Junmyeon lebih tertarik mencoba bibir Sooyoung ketimbang mencoba masakannya. Sarapan paginya Junmyeon nikmati dengan sepenuh hati. Dalam ciuman lembut itu, keduanya saling berperang lidah. Junmyeon menyesap bibir atas Sooyoung, sementara Sooyoung melingkarkan tangannya di leher Junmyeon dan ikut menikmati setiap sentuhan yang lelaki itu berikan.

“Bau apa ini?” tanya Junmyeon setelah indera penciumannya menghirup bau yang mengganggu konsentrasinya.

Sooyoung melotot, “Oh tidak! Masakanku!”

Trek! Sooyoung menatap nanar masakannya. Karena keasikan berciuman dengan Junmyeon tadi dan lupa mematikan kompor terlebih dulu, masakannya pun menjadi gosong dan tak layak dimakan lagi.

“Huwaaa!~ apa yang harus kulakukan?! Masakanku yang belum kucicipi~” Sooyoung merengek.

Junmyeon menggaruk tengkuknya, kasihan juga melihat perjuangan sang kekasih yang berniat memasak sarapan untuknya malah berakhir begitu tragis akibat ulah nakalnya.

“Cup, cup, cup, Sayang~”

Puk! Puk! Puk! Sooyoung memukul bahu Junmyeon berkali-kali, kesalnya tak akan hilang hanya dengan kata-kata ‘cup’-_-

“Iya! Iya! Semua gara-gara aku!” tangan Junmyeon menarik tubuh Sooyoung ke dalam pelukannya, merengkuhnya erat. “Maafkan aku, ya? aku janji tak akan mengulanginya lagi.”

“Ciumannya mau diulangi juga tidak apa-apa, asal jangan diulangi bagian masakan gosongnya!” Sooyoung merengut, manja.

Junmyeon pun terkekeh mendengar kalimat pertama Sooyoung tentang ciuman tadi, “Baiklah, baiklah! Akan kuulang ciuman itu berkali-kali hingga kau merasa bosan dengan hal itu.”

“Aku tidak akan merasa bosan jika itu adalah dirimu.”

Uhhh!~ Sooyoung belajar darimana cara menggodanya?

“Kau ini bisa saja!” Chu! Junmyeon mengecup puncak kepala Sooyoung, menyalurkan rasa cinta serta rasa bersyukurnya memiliki kembali gadis itu.

.

.

.

Oppa!” tangan Sooyoung melambai di udara, tersenyum lebar melihat sosok Junmyeon yang berdiri tepat di depan gerbang kampusnya.

Dengan sedikit berlari, gadis itu akhirnya bisa berdiri di hadapan Junmyeon yang sepertinya sudah lama menunggunya hingga terlihat tak mood lagi.

Oppa, maafkan aku. Tadi dosenku memang menyebalkan sekali. Apa kau marah eoh?” Sooyoung bergelayut di lengan Junmyeon, namun tak seperti biasanya, Junmyeon melepas paksa tangan Sooyoung di lengannya.

“Kau sebegitu marahnya ya padaku?”

“Aku tidak mau berlama-lama lagi, Park Sooyoung. Kedatanganku kemari, aku hanya ingin mengatakan padamu kalau aku ingin kita putus.” Ucap Junmyeon dingin.

“A-apa maksudnya itu? aku tak mengerti.” Manik Sooyoung berkaca-kaca, menatap Junmyeon yang masih menatapnya dengan tatapan beku.

“Apa masih kurang jelas? Aku ingin kita putus. Aku tidak mau berpacaran denganmu lagi.”

Gadis itu menyentuh kepalanya, otaknya sedang berusaha keras mencerna kata demi kata yang diucapkan Kim Junmyeon. Namun lagi-lagi, ia menemukan kenyataan pahit bahwa dirinya sama sekali tak salah dengar. Junmyeon, lelaki itu memutuskannya, lagi.

“Bisa kau jelaskan sebenarnya apa salahku sampai kau tega melakukan ini padaku?! Kau datang lalu pergi dari hidupku begitu saja! SEBENARNYA APA YANG KAU INGINKAN, KIM JUNMYEON?!” Sooyoung berteriak di depan Junmyeon dengan airmata yang tak tertahankan. “KAU INGIN MEMPERMAINKAN PERASAANKU HUH?! KAU MEMBUAT AKU JATUH CINTA TAPI KEMUDIAN KAU JUGA YANG MEMAKSAKU UNTUK MEMBENCIMU! KENAPA?! KENAPA HARUS AKU?! KENAPA TIDAK KAU CARI GADIS LAIN SAJA UNTUK KAU PERMAINKAN?! KENAPA HARUS AKU, KIM JUNMYEON?!”

Tatapan dingin Junmyeon tak berubah meski Sooyoung menangis darah di hadapannya. Ia menjadi manusia dingin tak punya hati yang sama sekali tak Park Sooyoung kenal.

“Aku tidak akan memaksamu memaafkanku. Bencilah aku sepuas kau mau.” Balas Junmyeon, tenang, tanpa merasa berdosa.

“Selamat tinggal, Park Sooyoung.”

Lelaki itu pergi menaiki mobilnya. Tepat sebelum lelaki itu benar-benar pergi, Sooyoung samar-samar melihat seorang wanita cantik mengisi tempat duduk di samping Junmyeon. Akhirnya Sooyoung berpikir, Junmyeon benar-benar telah meninggalkannya untuk wanita lain.

“Kim Junmyeon brengsek. Aku benci padamu.” Gumamnya.

Sejak saat itu, Sooyoung berjanji pada dirinya sendiri dalam hati; ia tidak akan pernah jatuh cinta lagi, apalagi mencintai seseorang sedalam ia mencintai lelaki bajingan bernama Kim Junmyeon.

.

.

.

Entah sudah hari keberapa sejak si brengsek Junmyeon meninggalkannya, Sooyoung tak mau keluar rumah. Bahkan untuk sekedar keluar dari kamarpun, ia enggan. Orang tua Sooyoung mulai mengkhawatirkan kesehatan putri semata wayang mereka tanpa tahu apa atau siapa yang telah membuat putri mereka seperti mayat hidup dan kehilangan senyuman cerianya.

Di dalam kamar, Sooyoung menatap benci ke arah foto-foto kenangannya bersama Kim Junmyeon yang telah memenuhi hampir setiap inchi dinding kamarnya. Matanya sembab, lelah menangis untuk waktu yang lama. demi apapun, Sooyoung merindukan lelaki brengsek itu, namun semakin ia merindukannya semakin benci pula ia terhadap si pemilik wajah malaikat tanpa dosa itu.

“Kenapa harus aku yang kau sakiti?”

.

.

.

Tak mau terlalu berlarut dalam keterpurukan, Sooyoung mencoba bangkit. Ia juga memilih pindah ke rumah orang tuanya ketimbang tinggal sendirian, sekaligus, ia ingin melarikan diri dari semua kenangannya bersama Kim Junmyeon.

Akhirnya, orang tua Sooyoung bisa bernafas lega karena putri mereka bisa kembali tersenyum dan ceria seperti sedia kala berkat bantuan Kris, sahabat baik Sooyoung ketika tinggal di Amerika dulu. Kris menyukai Sooyoung sejak lama dan baru-baru ini ia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu. Tapi sebagaimana Sooyoung telah berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan jatuh cinta lagi, meski untuk seseorang yang baik seperti Kris sekalipun.

“Aku mengerti, kau hanya butuh waktu dan aku hanya perlu sedikit bersabar untuk menunggu.” Ucap Kris pada Sooyoung yang tersenyum rapuh di hadapannya.

“Kau mau berjalan-jalan mencari udara segar, hm?”

“Tentu.” Jawab Sooyoung tanpa perlu banyak pertimbangan.

Lelaki berpostur tinggi blasteran Cina-Kanada itu lantas mengajak Sooyoung pergi ke sebuah taman. Setidaknya ia berpikir udara segar dapat membuat Sooyoung menjadi lebih tenang dan dapat melupakan Kim Junmyeon perlahan-lahan. Sayangnya, ia justru salah besar. Di taman itu, Sooyoung harus kembali dipertemukan dengan lelaki yang hampir membuatnya gila karena terluka.

Sooyoung menggenggam erat tangan Kris, menyiapkan hati kalau-kalau lelaki yang hari ini memakai kacamata hitam itu menyapanya lagi dengan wajah tak berdosanya. Namun pada kenyataannya, saat berpapasan, mereka seperti dua orang yang tak saling mengenal. Sooyoung yang bersama Kris dan Junmyeon yang sudah menggandeng wanita lain bersamanya. Tak ada senyum yang tercipta, sama sekali. Bagi Sooyoung, semuanya perlahan mulai terasa asing.

.

.

.

“Halo, Oppa? Aku sudah sampai di rumah sakit. bagaimana keadaannya? Apakah sudah membaik?” tanya Sooyoung melalui sambungan telepon yang terhubung ke nomor Kris.

Kris bilang, ia tidak bisa menjemput Sooyoung pulang dari kampus karena temannya baru saja masuk ke rumah sakit. sebagai bentuk rasa simpati, Sooyoung pun memutuskan untuk datang menjenguk dengan membawa sebuket bunga dan buah-buahan segar.

“Oh ya Tuhan! Kenapa harus mati sekarang?” ponsel Sooyoung kehabisan baterai dan sialnya ia lupa membawa powerbank. Sialnya lagi, denah rumah sakit besar itu menurut Sooyoung sangat sulit untuk dimengerti. Ia ingin bertanya pada pihak rumah sakit, semuanya sibuk dengan urusan masing-masing hingga hanya sempat menjelaskan di mana letak kamar yang dimaksud Sooyoung secara singkat tanpa bertanya lagi apakah Sooyoung sudah mengerti atau belum.

“Cukup lihat garis berwarna kuning saja kok, Park Sooyoung!” ucapnya mengambil kesimpulan seenak jidat. “Kau pasti bisa menemukan kamarnya!”

Gadis itupun mulai mengambil langkah mengikuti petunjuk-petunjuk yang ia ingat dari beberapa pihak rumah sakit untuk sampai di kamar teman Kris. Namun saat dirinya telah begitu yakin dengan ruangan mana yang ia masuki, ia terpaku di ambang pintu, melihat sosok yang terbaring lemah di ranjang pesakitan itu bukanlah teman Kris ataupun orang lain. Dialah Kim Junmyeon, dengan kain perban yang membalut kedua matanya.

Oppa…” tanpa sadar Sooyoung kembali memanggil Junmyeon senyaman ia dulu memanggil lelaki itu.

“Soo-Sooyoung-ah? Kaukah itu?”

Airmata Sooyoung seketika saja tumpah membanjiri kedua pipi tembamnya. Jauh dalam lubuk hatinya, ia sempat berdoa berharap lelaki itu bukanlah Junmyeon, namun Tuhan sepertinya memiliki rencana lain untuknya.

“Kenapa kau bisa terbaring di sini? Dan… apa-apaan kain perban itu?!” tanya Sooyoung merasa sedikit emosi melihat kondisi Junmyeon yang menyedihkan. Berbagai macam alat medis terhubung ke tubuhnya, entah untuk apa.

“Pergilah, Sooyoung-ah.” Pinta Junmyeon lirih.

“Setelah kau datang dan pergi sesuka hatimu di hidupku, sekarang kau memintaku untuk pergi? lalu kau pikir aku akan dengan mudahnya menuruti keinginanmu lagi?! tidak, Oppa!”

Sooyoung memutuskan untuk menemui dokter yang merawat Junmyeon. Setelah memaksa dokter itu untuk menjelaskan keadaan Junmyeon sebenarnya, jiwa Sooyoung terguncang. Cairan bening dari pelupuk matanya berlinangan seakan tanpa henti. Kanker mata stadium akhir katanya?

“Dia sudah menjalani berbagai perawatan radioterapi, kemo, hingga operasi. Tapi kami tak menyangka sel kankernya ternyata telah lebih cepat menjalar ke otaknya. Kami sudah berusaha yang terbaik, sekarang kau hanya perlu banyak berdoa untuk meminta keajaiban dari sang maha pencipta.”

Langkah gontay Sooyoung membawanya kembali ke ruang rawat Junmyeon. Saat itu, seorang wanita yang wajahnya tak asing di mata Sooyoung tampak menyuapi Junmyeon dengan penuh perhatian. Keduanya sama-sama terlihat telah nyaman satu sama lain, melihatnya, Sooyoung seperti dipukul.

“Eoh? Kau, Park Sooyoung-ssi kan?” tanya wanita itu setelah menyadari kehadiran Sooyoung. Junmyeon yang tak bisa melihat kemudian hanya mampu mempertahankan kepalanya agar tak berpaling ke arah gadis itu.

“Namaku Yoo Ahra, aku suster pribadi Junmyeon semenjak ia jatuh sakit. Aku telah banyak mendengar tentangmu dari Junmyeon, Sooyoung-ssi.”

“Ah,” Sooyoung hanya mengangguk, tak mau mendengar lebih jauh perkataan wanita yang mengaku sebagai seorang suster itu.

“Sepertinya akan lebih baik jika Sooyoung-ssi lah yang banyak memberi perhatian pada Junmyeon sekarang ini. Saya akan pergi jika Sooyoung-ssi mau menggantikan saya menyuapi Junmyeon.”

“Jangan bercanda, Ahra-ya.” ucap Junmyeon tak suka.

Meskipun lelaki itu tak menyukai kehadirannya, Sooyoung memilih untuk tetap berada di samping Junmyeon. Mengesampingkan kemungkinan kalau Kris kini tengah khawatir setengah mati mencari-cari keberadaannya.

Sekarang ia baru ingat. Wanita yang ada di dalam mobil Junmyeon saat hari di mana Junmyeon memutuskan untuk meninggalkannya, dan juga wanita yang berjalan bersama Junmyeon di taman tempo hari adalah wanita yang sama. Dan Suster Yoo lah sosok wanita itu.

Saat Junmyeon sudah beristirahat, Sooyoung diam-diam mendera Suster Yoo dengan berbagai pertanyaan. Mulai dari kenapa Suster Yoo bisa mengenal Junmyeon dan menjadi suster pribadi lelaki itu, tentang kenapa saat momen Junmyeon meninggalkan Sooyoung untuk kedua kalinya Suster Yoo ada di mobil lelaki itu, dan juga kenapa Junmyeon dan Suster Yoo bisa terlihat begitu serasi saat berjalan-jalan di taman waktu itu.

Jawabannya adalah karena Yoo Ahra seperti Kris. Yoo Ahra adalah sahabat baik Junmyeon yang diam-diam menyimpan perasaan pada lelaki itu. namun Ahra dengan lapang dada berkata kalau Junmyeon hanya mencintai Park Sooyoung seorang. Ahra bisa ada di mobil lelaki itu di hari di mana lelaki itu meninggalkan Sooyoung dan hari di mana ia menemani Junmyeon berjalan-jalan di taman, tak lain karena Junmyeon sudah jatuh sakit. Ahralah yang membantu Junmyeon untuk menyetir saat penglihatannya mulai memburam, dan Ahralah yang bertindak sebagai penunjuk jalan bagi Junmyeon, menggantikan posisi tongkat ketika Junmyeon benar-benar telah kehilangan penglihatannya akibat kanker mata. Semua itu Ahra, tapi hati Junmyeon tak pernah memilihnya.

.

.

.

“Ke mana Ahra?” tanya Junmyeon lemah, menyadari yang datang ke kamarnya bukanlah Yoo Ahra melainkan Park Sooyoung dari wangi parfum yang dipakai gadis itu.

“Suster Yoo? Aku bilang padanya untuk mengambil libur? Jadi untuk menggantikan pekerjaannya, aku akan menjadi suster untukmu.” Jawab Sooyoung tanpa basa-basi.

“Kau… tidak seharusnya di sini, Sooyoung-ah.” Gumam Junmyeon yang masih terbaring di ranjangnya. Semakin hari, kondisi lelaki itu memang semakin lemah. Bahkan untuk bicara seperti tadi saja, Junmyeon harus bersusah payah.

“Kau tidak lihat ya? aku sedang mendengarkan lagu melalui earphone, jadi aku tidak mendengarmu.” Itu hanya akal-akalan Sooyoung saja, padahal ia jelas mendengar Junmyeon tak menginginkan kehadirannya.

“Sudah ya, sekarang jangan banyak bicara! Waktunya aku mengelap tubuhmu sekarang!~ bagaimanapun, Kim Junmyeon-ku harus terlihat bersih dan tampan.”

“Aku hanya membutuhkan Ahra… Sooyoung-ah.”

Ahra lagi… Ahra lagi.

Sooyoung menghempas kain basah yang semula akan ia gunakan untuk mengelap tubuh lelaki itu ke lantai. Ia sudah berusaha menguatkan hati, namun justru lelaki itu sendiri yang meruntuhkan kepercayaan dirinya.

“Terserah apa maumu! Kau menginginkan Yoo Ahra, huh?! Baik! aku akan pergi sekarang juga!” ucap Sooyoung yang langsung menyambar cardigannya di sandaran kursi. “Kenapa tak sekalian saja kau jadikan dia istrimu?!”

“Karena aku mencintaimu…”

Langkah Sooyoung yang sudah sampai di ambang pintu terhenti, ia lalu berpaling ke arah Junmyeon. Ia sadar, ia tak seharusnya terlalu emosian menyikapi setiap perkataan lelaki itu.

“Karena… kau adalah satu-satunya…”

Oppa… kau baik-baik saja kan?” gadis itu kembali mendekat ke ranjang Junmyeon, menyadari Junmyeon yang tersenyum begitu lemah. Saat gadis itu menggenggam tangan Junmyeon, tangan itu sangat panas.

“Tunggu sebentar! Aku akan segera memanggil dokter!”

“Tidak, Sooyoung-ah… kemarilah, jangan pergi…” pinta lelaki itu lirih.

“Baiklah, aku mengerti! Aku mengerti! Kau akan baik-baik saja!” ucap Sooyoung berusaha menenangkan diri.

“Sooyoung-ah…”

“Hm?”

“Maafkan aku. aku datang dan pergi sesuka hatiku, dan melukaimu… aku pikir, hari itu adalah hari terakhir aku akan menyakitimu. Tapi, Tuhan malah mengantarkanmu pada diriku yang akan segera meninggalkanmu lagi…”

Sooyoung menggeleng cepat seraya menyeka airmatanya yang terus merembes keluar, “Tidak! Oppa tidak akan meninggalkanku lagi! memangnya siapa yang akan mengijinkanmu pergi, huh?!”

“Maafkan aku, Sooyoung-ah… aku harus meninggalkanmu untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini… kumohon, jangan benci aku.”

Tenggorokan Sooyoung tercekat saat itu juga. Tidak! Ini bukan akhir yang Sooyoung inginkan untuk dirinya dan Kim Junmyeon!

“Selamat tinggal-“

Chu! Sooyoung mengecup bibir Junmyeon tepat sebelum Junmyeon menyelesaikan kalimat perpisahannya. Gadis itu lantas berbisik ke telinga Junmyeon, “Berhentilah berucap selamat tinggal, karena aku yakin kita pasti akan dipertemukan lagi. Katakanlah, ‘Sampai jumpa lagi’… itu, kata-kata yang paling tepat untuk kita.”

Junmyeon mengukir senyum di bibirnya, senyuman terakhir yang bisa ia berikan untuk satu-satunya gadis yang ia cintai.

“Sampai jumpa lagi, Park Sooyoung…”
Stop it! –End.

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXO Fanfiction] Cold Rain Series – Stop It!

  1. Ping balik: [EXO Fanfiction] Cold Rain Series – The First | AYUSHAFIRAA's Channel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s