[K-Actor Fanfiction] 29 DAYS

PicsArt_04-17-08.18.47

Neulyoung tidak tahu bersama siapa ia akan bahagia,

ia hanya tahu; waktunya tak banyak.

‘29 Days’

A fanfiction by AYUSHAFIRAA―

`Starring Lee Jongsuk x Bae Suzy as Lim Neulyoung, feat. Cho Kyuhyun`

|| Angst, Drama, Friendship, Romance, Sad ||

// PG15 // Oneshot //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

[This fiction is specially dedicated to My beloved friend, Alfi Nur Wulandani. Sorry for this late little gift, and I hope you’ll like it as much as i like the result of this fiction. Happy birthday, dear!]

© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

.

.

.

[Day 1]

Di dalam kamarnya siang itu, gadis cantik berambut hitam panjang itu terdiam seribu bahasa ketika sahabatnya yang berkacamata mulai menderanya dengan berbagai pertanyaan sensitif mengenai hasil pemeriksaan kesehatannya di sebuah rumah sakit kemarin lusa.

Jelas-jelas, Jongsuk ―sahabatnya yang berkacamata itu― mendengar langsung pernyataan dokter kalau gadis itu baik-baik saja. Tapi apa kenyataan yang ia dapat sekarang? Sebuah kertas yang menunjukkan kalau gadis itu sama sekali tidak baik-baik saja. Lalu, bagaimana bisa Jongsuk menerimanya begitu saja?

“Jangan diam saja, Neulyoung-ah! Aku butuh penjelasanmu!” rahang Jongsuk mengeras, sementara gadis bernama Neulyoung yang dibentaknya terlihat meremas tangannya sendiri yang gemetar.

“Iya, Jongsuk-ah. Aku memang sakit. tapi, seperti yang kau lihat sekarang, kan? Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.” tangan Neulyoung bergerak menyentuh pipi Jongsuk.

Jongsuk menatap mata basah Neulyoung dalam-dalam, “Bagaimana bisa aku tidak khawatir kalau itu adalah dirimu?”

“Kumohon, Jongsuk-ah. Rahasiakan ini dari Kyuhyun, dia tidak boleh tahu apa-apa tentang hal ini.” pinta gadis itu berlinang airmata.

Sejujurnya, lelaki bermarga Lee itu kembali merasa terluka. Setelah dirinya yang jatuh cinta pada gadis itu tahu bahwa gadis itu menyimpan perasaan pada sahabatnya yang bernama Cho Kyuhyun, sekarang dirinya pun harus ikut andil dalam usaha gadisnya untuk merahasiakan sakit yang gadis itu derita dari Cho Kyuhyun juga.

“Aku tak yakin-”

“Aku yakin kau pandai menjaga rahasia.” Sambar Neulyoung pada ketidakyakinan Jongsuk.

.

.

.

[Day 2]

Neulyoung mengamati bayangan dirinya di cermin panjang yang ada di kamarnya. Perlahan, gadis itu menaikkan ujung kaos putihnya sampai ke dada. Tepat di bagian kanan sebelah atas perutnya, terdapat sebuah benjolan yang sudah lama tak kunjung hilang. Saat disentuh, benjolan itu akan terasa menyakitkan bagi Neulyoung.

Drrrtt… drrttt… sebuah panggilan masuk dari nomor kontak sahabat sekaligus lelaki yang ia cintai, Kyuhyun.

“Halo?”

“Neulyoung-ah, hari ini kau akan masuk kuliah kan?” suara khas di seberang line telepon sana mengingatkan Neulyoung kalau ia harus segera berangkat ke kampus.

Neulyoung mengangguk meski tahu Kyuhyun takkan bisa melihat anggukannya.

“Ya, aku baru saja mau berangkat, Kyuhyun-ah. Apa Jongsuk sudah di sana?”

“Belum, aku belum melihatnya sedaritadi. Dihubungipun, ia tidak mengangkatnya.”

“Ah, ya sudah kalau begitu. Kututup ya?”

“Hmmm, sampai ketemu di kampus.”

Sambungan telepon itupun Neulyoung akhiri. Gadis cantik itu menghembuskan nafasnya kasar. Diliriknya beberapa helai pakaian ketat yang biasa ia kenakan kini tak memungkinkan lagi untuk ia pakai. Setidaknya, ia kini harus terbiasa memakai pakaian sedikit longgar dan menambahkan luaran pada gaya berpakaiannya untuk menyembunyikan benjolannya.

Sebuah kaos putih lengan pendek disertai cardigan berwarna biru navy dan celana pendek sepahalah yang kemudian menjadi pilihan Neulyoung.

Ting! Tanda sebuah pesan baru saja masuk ke nomornya.

―Jongsukkie

Aku sudah di depan rumahmu. Sejak hari di mana kau memintaku untuk menjaga rahasiamu, kau adalah tanggung jawabku sepenuhnya. Dan ingat, aku tidak menerima segala bentuk penolakan.

Neulyoung tersenyum tepat setelah membaca pesan dari Jongsuk. Baik Jongsuk maupun Kyuhyun, Neulyoung tahu ia tidak pernah salah memilih sahabat.

.

.

.

[Day 3]

Sudah menghabiskan waktu bersama-sama selama hampir 14 tahun, membuat kekompakan di antara 3 sekawan itu tak perlu diragukan lagi. Sama-sama mengambil jurusan yang sama, di kampus yang sama. Kyuhyun, lelaki tampan juga pintar idaman semua wanita di kampusnya. Neulyoung, gadis cantik yang menjadi rebutan para mahasiswa namun tetap mempertahankan ke-single-annya. Juga Jongsuk, si lelaki baik hati yang selalu mencintai satu wanita di hidupnya tanpa sedikitpun niat untuk berpaling.

“Ini dia! Makanannya datang!” lelaki berkulit putih susu bermarga Cho itu datang menghampiri Jongsuk dan Neulyoung yang sudah duluan duduk di meja favorit mereka dengan membawa 3 piring makanan pesanan mereka.

“Wah! Wah! Wah! Sepertinya enak sekali! Aku jadi tidak sabar!” ucap Neulyoung antusias.

“Minumannya mana?” tanya Jongsuk yang tak melihat Kyuhyun membawa minuman apapun.

Kyuhyun berdiri dari duduknya dan langsung menggeplak kepala Jongsuk, “Memangnya aku itu babu, huh? Kau saja yang belikan.”

“Neulyoung-ah! Lihat apa yang setan itu lakukan padaku?! Sakit sekali huhu~” adu Jongsuk, manja.

Melihat tingkah dua sahabatnya yang masih saja kekanakkan itu membuat Neulyoung tertawa geli, tangannya kemudian bergerak mengelus lembut bekas geplakan Kyuhyun di kepala Jongsuk.

“Sudah, sudah! Sudah tidak sakitkan?” tanya Neulyoung. Jongsuk menggeleng sambil nyengir.

“Huh!” Kyuhyun melempar kacang goreng yang ada di makanannya tepat ke dahi Jongsuk hingga lelaki itu kembali meringis, “Dasar! Bisa-bisanya mengambil kesempatan dalam kesempitan!”

“Kyuhyun-ah,” Neulyoung menatap Kyuhyun serius.

Kyuhyun menciut, “Aku mengerti! Aku mengerti!”

“Rasakan!” balas Jongsuk yang menertawai Kyuhyun puas.

.

.

.

[Day 4]

Neulyoung sedaritadi tampak mengaduk-aduk bubur pesanannya tanpa sedikitpun mencicipinya. Cuaca pagi ini sejuk-sejuk saja, tapi Neulyoung tampak berkeringat banyak. Kyuhyun yang sedaritadi juga duduk di meja kantin yang sama kemudian menggunakan punggung tangannya untuk mengelap keringat yang bercucuran di dahi gadis itu.

“Kenapa makannya tidak nafsu begitu sih? Tidak biasanya loh Lim Neulyoung tidak nafsu makan!” tanya lelaki itu sambil menatap wajah Neulyoung yang terus menunduk.

“Buburnya tidak enak?” tanya lelaki itu –lagi, setelah tak mendapat jawaban dari orang yang ditanyanya.

“Aku suapi saja ya?”

Kyuhyun mengambil alih mangkuk bubur Neulyoung dan mulai menyuapi gadis itu perlahan-lahan. Neulyoung tersenyum bahagia mendapat perlakuan spesial seperti ini dari seseorang yang sangat berarti untuknya, namun di sisi lain, ia juga ingin menangis di pelukan lelaki itu.

“Kalau lelaki tampan seperti aku yang menyuapinya, rasa buburnya jadi lebih enak kan?”

PUK!

Neulyoung memukul bahu Kyuhyun dan tertawa. Lelaki itu memang paling bisa membuatnya merasa lebih baik.

Sementara itu, Jongsuk berdiri mematung tak jauh dari meja Kyuhyun dan Neulyoung. Jongsuk terpaku, tak sanggup lagi untuk mengambil langkah. Ia sudah sering sekali melihat pemandangan menyakitkan yang disuguhkan oleh dua sahabatnya itu, tapi kali ini, entah kenapa terasa semakin sulit dan sangat menyakitkan untuknya.

“Yak, Lee Jongsuk! Sedang apa kau disitu?! Cepat kemari!”

Seruan Kyuhyun yang melambaikan tangan ke arah Jongsuk membuat Jongsuk sedikit mengukir senyum di antara kesakitannya, terpaksa.

“Ternyata kau sudah ada di sini, Neulyoung-ah. Padahal tadi aku ke rumahmu untuk menjemput.” Ucap Jongsuk setelah dirinya duduk, bergabung bersama Neulyoung dan Kyuhyun.

“Kalau begitu kau kalah cepat, Jongsuk-ah!”

“Maksudmu?”

Kyuhyun melebarkan senyumannya sambil merangkul Neulyoung, “Tadi Neulyoung berangkat ke kampus bersamaku, aku yang menjemputnya!”

“Ah,” Jongsuk mengangguk, kedua tangan di atas pahanya mengepal kuat. “Begitu ya?”

.

.

.

[Day 5]

Hal yang terluarbiasa bagi Lim Neulyoung adalah memiliki sahabat-sahabat baik di sampingnya. Menjadi yatim piatu sejak kecil membuat Neulyoung lebih dekat dengan Kyuhyun dan Jongsuk karena orang tua masing-masing dari kedua sahabatnya itu mau mengurusnya secara bergantian dengan sepenuh hati layaknya anak sendiri. Tapi setelah menginjak usia remaja, Neulyoung mulai belajar untuk tinggal mandiri di rumahnya. Entah satu atau dua bulan sekali, rumahnya akan mendapat kunjungan baik dari keluarga Jongsuk maupun Kyuhyun.

“Lho? Om? Tante? Kyuhyun?” binar bahagia Neulyoung terpancar saat maniknya mendapati keluarga Kyuhyun kembali mengunjunginya. “Eoh? ada Om dan Tante Lee juga!” tak hanya keluarga Kyuhyun ternyata, keluarga Jongsuk pun datang di waktu yang hampir bersamaan.

“Silakan masuk, Om, Tante!” ucap Neulyoung mempersilakan.

“Oh jadi begitu, ya? Hanya papa dan mama saja yang disuruh masuk? Anaknya tidak sekalian?” Kyuhyun dan Jongsuk hanya mengangguk-anggukan kepala mereka, cukup tahu.

Neulyoung mengulum senyum, “Tidak! Kalian di luar saja! jangan masuk!” balas gadis itu sambil menjulurkan lidahnya.

“Aaahh~ Lim Neulyoung jahat~~~” ucap Jongsuk dan Kyuhyun, kompakan mengeluarkan jurus aegyo andalan mereka yang seketika langsung membuat Neulyoung tertawa geli.

“Ya sudah, masuklah pangeran-pangeranku yang tampan!”

Kyuhyun menatap Jongsuk sambil senyam-senyum sendiri, mentransfer apa yang ada di pikirannya ke pikiran Jongsuk. Jongsuk yang mengerti kemudian memberi anggukan mantap.

“Ayo kita bawa putri cantik masuk ke istana!”

“Yak, astaga! Apa yang kalian lakukan?!” teriak Neulyoung yang tak percaya kalau saat ini tubuh kecilnya tengah diangkat oleh kedua tangan kekar dari masing-masing sahabatnya yang menggandeng kanan kiri tangannya.

.

.

.

[Day 6]

Orang tua Jongsuk tak bisa menginap semalam karena memiliki kepentingan terkait pekerjaan yang tak bisa ditinggal barang sebentar, tapi Jongsuk dan keluarga Kyuhyun tetap menghabiskan malam bersama di rumah Neulyoung.

Pagi-pagi buta sekali, ibu Kyuhyun yang menginap di kamar Neulyoung tak sengaja menemukan beberapa botol pil obat yang entah obat apa itu saat berniat mencari sisir. Neulyoung yang tampaknya masih tertidur pulas tak tega untuk ibu Kyuhyun bangunkan hanya untuk menanyai masalah obat.

“Jongsuk-ah!” panggil ibu Kyuhyun saat mendapati Jongsuk tengah mengambil segelas air minum di dapur.

“Ya, Tante?”

“Apa akhir-akhir ini Neulyoung terlihat tak sehat?”

DEG! Bola mata Jongsuk membesar seketika.

“Memangnya kenapa ya, Tante? Setahuku, Neulyoung baik-baik saja seperti biasanya.” Jawab Jongsuk ―terpaksa― berbohong.

Raut ibu Kyuhyun terlihat begitu khawatir, tapi apa daya, Jongsuk tetap harus bisa menjaga rahasia Neulyoung dari siapapun itu.

“Tadi tante tak sengaja menemukan beberapa botol obat di meja rias Neulyoung, ya semoga saja kondisi Neulyoung benar-benar baik-baik saja seperti katamu, Jongsuk-ah.”

Jongsuk mengangguk, meng-amin-kan doa ibu Kyuhyun dalam hati. Setidaknya, ia masih berharap gadis yang ia cintai itu mampu bertahan selamanya di sisinya.

“Oh iya, Jongsuk-ah. Kyuhyun sudah bilang pada kalian kalau dia akan segera pergi ke luar negeri untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang sutradara kan?”

Kali ini, Jongsuk terdiam. Kyuhyun-akan-segera-pergi, kata-kata itulah yang mampu dicerna Jongsuk dalam otaknya sementara ia dan Neulyoung tak tahu menahu tentang fakta bahwa Kyuhyun akan meninggalkan mereka.

“Kapan Kyuhyun akan pergi, Tante?”

“Kami sedang mengurus semua yang dibutuhkan Kyuhyun untuk berangkat dan tempat tinggalnya selama ia nanti tinggal di Amerika, Jongsuk-ah. Ya, paling cepatnya sih, dua minggu lagi.” jawab ibu Kyuhyun.

Seketika saja, permintaan Neulyoung kembali terngiang di telinganya, betapa Lim Neulyoung memohon padanya sambil menitikkan airmata untuk menjaga rahasia tentang penyakitnya dari seorang Cho Kyuhyun.

“Kumohon, Jongsuk-ah. Rahasiakan ini dari Kyuhyun, dia tidak boleh tahu apa-apa tentang hal ini.”

Lalu, kalau begini jadinya, apa Jongsuk bisa tetap membiarkan Kyuhyun pergi tanpa tahu kalau ada seseorang yang mencintai sahabatnya itu sedang berjuang keras melawan maut?

Jawabannya, Jongsuk sama sekali tidak bisa.

.

.

.

[Day 7]

“Neulyoung-ah…”

“Hm?” sahut Neulyoung tanpa berpaling saat sahabatnya yang berkacamata itu memanggil namanya yang baru saja masuk ke dalam mobil lelaki itu untuk berangkat ke kampus bersama.

“Aku-“

“Tunggu sebentar, Jongsuk-ah. Aku sedang berbalas pesan dengan Kyuhyun.”

Melihat Neulyoung yang banyak tersenyum hanya karena sedang berbalas pesan dengan lelaki yang juga sahabatnya sendiri membuat hati Jongsuk lagi-lagi berdenyut, sakit. Kyuhyun tak perlu melakukan banyak usaha untuk mendapatkan hati Neulyoung, tak seperti dirinya yang bahkan sudah berjuang sejak lama namun tak pernah sedikitpun gadis itu sadari betapa besar perasaannya. Dalam segala hal yang menyangkut Lim Neulyoung, Jongsuk tak pernah bisa merasakan menjadi seberuntung Cho Kyuhyun.

“Yak! Lee Jongsuk!” kibasan tangan Neulyoung berhasil menyadarkan Jongsuk dari lamunan singkat nan menyakitkannya. “Kenapa melamun? Tadi kau mau bicara apa?”

“Ah tadi itu-”

Uhuk! Uhuk!

“Neulyoung-ah! Kau baik-baik saja? wajahmu pucat!” panik Jongsuk. Kekhawatiran lelaki itu kian menjadi setelah dilihatnya tangan yang digunakan Neulyoung untuk menutupi mulutnya saat ia batuk tadi memperlihatkan sedikit darah merah kehitaman.

“Jong-Jongsuk-ah… i-ini darah.” Ucap Neulyoung terbata, cairan bening dari pelupuk matanya kembali jatuh. “Jongsuk-ah… a-apa… aku akan segera mati?”

Jongsuk menggeleng cepat, berusaha menguatkan gadisnya meski ia sendiri tak ingin mempercayai apa yang dilihatnya sekarang.

“Tidak! Kau akan baik-baik saja! dengarkan aku, Lim Neulyoung! Kau tidak akan mati! Tidak, tanpa seijinku!” ucap Jongsuk emosional. Lelaki itu lantas menarik tubuh Neulyoung ke dalam pelukan eratnya.

Neulyoung tidak boleh mati. Tidak, tanpa seijin Jongsuk.

.

.

.

[Day 14]

Sejak hari di mana kondisi kesehatan Lim Neulyoung memburuk, Jongsuk seakan membawa lari gadis itu menjauh dari siapapun, termasuk Kyuhyun. Jongsuk membawa Neulyoung ke rumah sakit yang tak diketahui orang tuanya, orang tua Kyuhyun, maupun Kyuhyun. Saat ini, Jongsuk ingin bersikap egois sekali saja dalam hidupnya. Ia ingin memiliki Neulyoung, tapi tidak karena itu terdengar keterlaluan. Ia mungkin lebih ingin menjadi seseorang yang berarti bagi gadis itu dalam menghadapi masa-masa sulitnya sekarang. Itu saja.

“Jongsuk-ah… apa Kyuhyun tidak menanyakan alasan ketidakhadiranku?” tanya Neulyoung yang sedikit menaruh harap kalau Jongsuk akan menjawabnya dengan jawaban yang ia harapkan. Namun kenyataannya tidak, Jongsuk memberikan jawaban yang sama sekali tak ingin ia dengar.

“Kyuhyun tidak pernah menanyakan apapun tentangmu lagi, ia sibuk mengurusi dunianya sendiri.”

Neulyounglah yang mengajari Jongsuk untuk berbohong, jadi jangan salahkan kalau akhirnya Jongsuk juga memilih untuk menggunakan bakat berbohongnya sekarang.

“Jangan pikirkan hal lain lagi, Neulyoung-ah. Pikirkan saja kesehatanmu. Kyuhyun tidak akan pernah tahu hal ini sesuai permintaanmu padaku tempo hari. Aku akan menepati janjiku.”

Neulyoung mengangguk. Memang inilah yang diinginkannya, Kyuhyun yang tidak tahu apa-apa soal penyakitnya. Namun di sisi lain, hatinya tak bisa dibohongi, ia menginginkan Kyuhyun tahu dan hadir di sampingnya hingga hari terakhirnya menghembuskan nafas nanti.

Jongsuk memandangi tubuh kurus gadisnya yang terbaring di ranjang pesakitan. Kulit gadis itu yang semula putih perlahan telah berubah menjadi kekuningan, bahkan perut gadis itu yang semula terlihat rata kini telah membuncit karena penyakit yang dideritanya. Kondisi gadisnya sudah semakin parah, Jongsuk tahu itu.

“Kau harus bertahan, jangan pernah sekalipun kau berpikir kau bisa pergi meninggalkanku begitu saja.” gumam Jongsuk dengan tangan mengepal, berusaha menahan airmatanya agar tidak terjatuh di depan Neulyoung.

Gadis itu tersenyum lemah, “Terimakasih, Jongsuk-ah.”

.

.

.

[Day 21]

“Yak! Lee Jongsuk!” panggilan dari suara khas Kyuhyun membuat Jongsuk berpaling ke arahnya. Lelaki berkulit putih susu itupun berlari mendekati Jongsuk yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya di taman kampus.

“Apa kau sudah bisa menghubungi Neulyoung?”

“Belum, Kyuhyun-ah.” Jawaban Jongsuk lantas membuat Kyuhyun menghembuskan nafasnya kasar.

“Neulyoung juga tak pernah lagi mengangkat teleponku atau membalas pesanku. Sebenarnya ke mana ya dia? tiba-tiba menghilang tanpa kabar, membuat semua orang khawatir saja.”

Melihat Kyuhyun yang sepertinya begitu frustasi mencari keberadaan Neulyoung, Jongsuk merasa menjadi orang paling jahat di dunia.

“Kalau hari ini kau bisa menghubunginya, tolong katakan padanya kalau aku akan menunggunya di Sungai Han setiap hari sampai ia mau menemuiku. Ada hal penting yang harus kukatakan padanya secepat mungkin. Jongsuk-ah, aku mengandalkanmu!” ucap Kyuhyun sebelum akhirnya menepuk bahu Jongsuk dan melangkah pergi.

Lelaki berkacamata itu merogoh saku celananya, mengambil sebuah benda canggih berukuran 5 inchi milik Lim Neulyoung. Tampak jelas dari layar ponsel tersebut berapa banyak pemberitahuan yang akan diterima Neulyoung jika Neulyoung selama ini memegang ponsel itu.

1207 panggilan tak terjawab dari Cho Kyuhyun dan 1059 pesan diterima yang juga dari nomor kontak yang sama.

Digenggamnya kuat-kuat ponsel Neulyoung dengan bulir airmata yang perlahan tapi pasti jatuh dari pelupuk matanya dan membasahi pipinya. Jongsuk sudah lebih dari sadar kalau dirinya telah benar-benar berlaku egois pada kedua sahabatnya yang diam-diam saling mencintai itu. Dipikir bagaimanapun, ia sudah benar-benar menjadi seseorang yang jahat kalau terus menerus memisahkan keduanya untuk kepentingan perasaan dirinya sendiri.

“Neulyoung-ah…” panggil Jongsuk sesaat setelah dirinya menginjakkan kaki di ruang rawat gadis cantik itu.

“Ada apa, Jongsuk-ah?” tanya Neulyoung ketika melihat Jongsuk seperti orang yang sedang terburu-buru.

“Kau harus pergi menemui Kyuhyun di Sungai Han. Kau kuat kan?”

Mendengar itu, Neulyoung tak bisa menyembunyikan raut bahagianya. Ia pun mengangguk semangat.

“Bantu aku berdandan, Jongsuk-ah. Aku tidak boleh terlihat menyeramkan seperti ini di depan Kyuhyun.”

Jongsuk tanpa ragu memberi anggukan dan tersenyum,

“Ya, kau tidak boleh terlihat sakit di depan lelaki itu.”

Dan benar, Jongsuk membantu Neulyoung untuk terlihat lebih baik di depan Kyuhyun. Untuk menyembunyikan kulit Neulyoung yang menguning, lelaki itu membantu Neulyoung mengolesi bedak di hampir seluruh tubuhnya yang terlihat. Untuk menyembunyikan perubahan bentuk tubuh gadis itu, Jongsuk memakaikan pakaian tebal agar tak begitu kentara. Hingga pada sentuhan terakhir di wajah, gadis itu benar-benar tak terlihat lagi seperti orang yang sedang sakit parah.

.

.

.

“Oh, Ya Tuhan!”

BREG!

Kyuhyun memeluk tubuh sosok yang dirindukannya itu begitu erat seakan tak mau melepaskannya lagi.

“Kupikir aku tidak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi! Kau ke mana saja sih?! Semua orang mengkhawatirkanmu, kau tahu?! Kupikir kau benar-benar telah hilang ditelan bumi!”

Dalam pelukan hangat Kyuhyun, Neulyoung hanya tertawa sambil terus berusaha menahan rasa sakit karena benjolan di tubuhnya waktu itu secara tak sengaja tertekan oleh tubuh Kyuhyun.

“Kau tidak sedang melawan penyakit berbahaya dan akan mati seperti yang ada di film-film kan?” tanya Kyuhyun sedikit kasar, tapi untungnya Neulyoung sudah lebih dari paham akan gaya bicara lelaki itu.

“Tidak kok, lagipula aku kan bukan seorang aktris.”

Kyuhyun mengusap lembut puncak kepala gadis itu, namun beberapa helai rambut kemudian didapatkannya tanpa ringis kesakitan gadis itu. Kyuhyun percaya pada gadisnya dan tak mau berpikir apalagi membayangkan hal yang aneh-aneh, gadisnya pasti baik-baik saja.

Sambil menapaki jalanan dan menikmati udara segar yang berhembus di tepian Sungai Han, lelaki itupun memulai percakapan seriusnya.

“Neulyoung-ah…”

“Ya?”

“Aku… akan segera pergi.”

Langkah Neulyoung terhenti. “Pergi? Ke mana?”

“Ke luar negeri.” Jawab Kyuhyun cepat. “Kau tahukan kalau menjadi sutradara hebat adalah impianku sejak kecil? Kupikir, ini adalah jalan terbaik bagiku untuk bisa mewujudkan hal itu.”

Neulyoung menggigit bibirnya, mencoba tak menangis di depan lelaki itu. “Tentu, kau harus pergi mewujudkan mimpimu.”

“Kau… sungguh tak apa, kan?” tanya Kyuhyun khawatir. Kebiasaan Neulyoung yang menggigiti bibirnya sendiri setiap kali menahan tangis sudah khatam ia pahami. Namun ia juga tahu, kalau Neulyoung kemudian akan mengangguk dan berkata ia baik-baik saja meski kenyataannya tidak sama sekali.

“Kyuhyun-ah…”

“Hm?”

“Apa esok hari, aku masih bisa menghabiskan hari-hari seperti ini lagi bersamamu? Apa aku masih memiliki kesempatan untuk merasakan rasa seperti ini esok hari?” bahkan untuk berharap bisa melihat matahari terbit di ufuk timur hingga terbenam lagi di ufuk barat saja rasanya mustahil bagi Lim Neulyoung.

“Hei! Dengarkan aku!” Kyuhyun menangkup kedua pipi gadisnya, menatap sepasang manik malaikat gadis itu yang mulai basah oleh airmata. “Selagi kau tak berusaha menghilang dari duniaku, kau dan aku akan tetap bisa bersama-sama lagi suatu hari nanti.”

Suatu hari? Lalu, apa masih ada kata-kata ‘Suatu hari’ bagi Neulyoung yang akan segera mati ini?

“Berjanjilah kau tak akan pernah menghilang lagi dari duniaku, Lim Neulyoung.”

Kyuhyun mencium bibir hangat Neulyoung, menyalurkan rasa rindu serta salam perpisahannya untuk gadis itu. Neulyoung meremas kaos yang dikenakan Kyuhyun yang secara tak langsung mengisyaratkan agar lelaki itu tak pergi di saat-saat terakhirnya hidupnya ini.

Namun pada hari itu, Kyuhyun benar-benar pergi ke Amerika dengan tanpa mengetahui kondisi Neulyoung yang semakin memburuk setelah ditinggalkan olehnya.

.

.

.

[Day 28]

Dokter yang selama ini memberi perawatan pada Neulyoung akhirnya menyerah. Dokter itu mengatakan sudah tak ada lagi harapan bagi Neulyoung untuk hidup, kanker hatinya sudah mencapai tingkat stadium akhir dan selama perawatan diberikan, kesehatan Neulyoung tidak pernah menunjukkan perubahan yang signifikan. Tapi Jongsuk mana peduli dengan omongan dokter itu? Jongsuk akan terus percaya kalau Neulyoung bisa terus bertahan di sisinya. Jongsuk percaya kalau Neulyoung juga tak ingin mati, Neulyoung masih ingin hidup bersamanya dan… bersama Kyuhyun juga sampai kapanpun itu.

Di pagi hari, Neulyoung akan selalu mengalami demam tinggi, dan malam harinya, Neulyoung akan menggigil hebat. Jongsuk tahu benar dirinya sudah menjadi pribadi yang egois sejak berniat memiliki Neulyoung seutuhnya, tapi Jongsuk tak bisa menghilangkan keegoisannya hanya untuk membiarkan Neulyoung berhenti berjuang. Jongsuk… tidak bisa kehilangan Neulyoung sekarang atau kapanpun itu. Jongsuk… tidak akan pernah siap kehilangan satu-satunya gadis yang ia cintai.

“Aku di sini… aku di sini, Neulyoung-ah.” Ucap Jongsuk sembari bergerak sigap menyelimuti dan memberi pelukan pada tubuh menggigil Neulyoung. “Tenanglah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tapi… kau juga harus berjanji, jangan pernah tinggalkan aku, kau mengerti?” lanjut Jongsuk yang sudah tak sanggup lagi menahan bulir airmatanya.

“Di-dingin… di-dingin sekali.” Lirih Neulyoung yang sudah tak memiliki kekuatan bahkan hanya untuk sekedar membuka mata.

“Kau tidak boleh menyerah…” bisik Jongsuk dengan airmata yang tak kunjung berhenti berlinangan.

“Jongsuk-ah… aku… mencintai Kyuhyun…”

Jongsuk mengangguk cepat, mengerti. “Iya, aku tahu itu. Maka dari itu kau harus bertahan! Kau tidak boleh meninggalkan Kyuhyun! Kau tidak boleh meninggalkan… aku.”

Malam itu berlalu begitu cepat, dan hari sudah mulai berganti lagi.

[Day 29]

“Peluk aku… lebih erat, Jongsuk-ah. Dingin sekali.” Pinta Neulyoung dan Jongsuk langsung mengabulkannya.

“Untuk hari-hari… yang terasa luar biasa bagiku selama ini… te-terimakasih, Jongsuk-ah.”

“Berhentilah bicara seolah-olah kau akan meninggalkanku!” kini giliran Jongsuk yang memohon. “Kau adalah hal terluarbiasa yang pernah hadir di hidupku, jadi kumohon jangan pergi…”

“Maafkan aku… yang tak bisa mencintaimu…”

“Masa bodoh dengan perasaan! Aku tidak peduli kau tidak membalas perasaanku, lupakan perasaan itu! kau ingin hidup bersama Kyuhyun kan? Hiduplah bahagia bersamanya! Asal jangan kau tinggalkan aku dengan cara seperti ini…”

Gadis dalam pelukannya itu terdiam, tak berkata-kata lagi. Sementara itu, alat pendeteksi detak jantung mulai mendengungkan bunyi yang sama sekali tak ingin Jongsuk dengar. Separuh jiwa Jongsuk telah hilang seiring dengan kepergian gadis yang teramat sangat ia cintai ke alam keabadian.

.

.

.

“Neulyoung-ah… a-aku menyukaimu. Sebenarnya sudah sejak lama aku memendam perasaan ini dan berusaha mengumpulkan keberanianku untuk menyatakannya padamu. Dan kurasa ini adalah saat yang paling tepat.” Jongsuk membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit turun. “Maukah kau menjadi kekasihku?”

Neulyoung tersenyum, namun rautnya menunjukkan rasa penyesalan yang teramat dalam.

“Terimakasih sudah mau menyukai gadis yatim piatu seperti aku, Jongsuk-ah. Aku juga menyukaimu, kau adalah lelaki terbaik yang pernah kutemui. Tapi aku minta maaf, aku tidak bisa menjadi kekasihmu.”

“Ke-kenapa tidak bisa?”

“Karena aku…” Neulyoung mengambil nafas dalam-dalam sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya. “Aku mencintai Kyuhyun.”

.

.

.

“Hey, bro!”

Kyuhyun merangkul paksa Jongsuk yang terlihat sedang tidak mood menghadapi keusilannya.

“Masa tadi di taman, saat aku bertemu si tuan puteri, aku merasa ada yang aneh pada diriku sendiri!” ucap Kyuhyun memulai ceritanya, padahal Jongsuk sama sekali tak memintanya bercerita.

“Aneh bagaimana?”

Kyuhyun cengar-cengir sendiri, “Sepertinya aku menyukai Neulyoung, Jongsuk-ah! Akhir-akhir ini aku selalu gugup saat bertemu dengannya, dan lagi dia selalu ada dalam bayanganku! Aku jadi merasa seperti orang gila!”

Jongsuk hanya terdiam, menyadari dua sahabatnya itu ternyata saling mencintai satu sama lain namun tak pernah saling mengungkapkan perasaan mereka secara langsung.

“Eits! Pokoknya kau jangan bilang-bilang pada Neulyoung, ya? cukup ini menjadi rahasia untuk kita berdua!”

.

.

.

Jongsuk selalu dipercaya memegang rahasia orang lain, dan terbukti, Jongsuk tak pernah mengecewakan kedua sahabatnya yang telah memberinya kepercayaan penuh. Baik rahasia Neulyoung maupun Kyuhyun, Jongsuk akan selalu menyimpannya sendirian meski ia harus terluka sekalipun. Karena memang itukan gunanya sahabat?

“Seperti Kyuhyun yang juga mencintaimu, aku mencintaimu, Neulyoung-ah…”

.

.

.

29 Days –End.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s