[EXO Fanfiction] Special Tao’s Birthday – 광화문에서 (At Gwanghwamun)

taobirthday1

Tentang kita yang bertemu, bahagia, terluka, dan berpisah di satu tempat yang sama.

`광화문에서 (At Gwanghwamun)`

A fanfiction by AYUSHAFIRAA―

`Starring Huang Zitao x Yoon Seonyoung as Han Yoeun, feat. Cho Kyuhyun, mentioned!Seohyun`

|| Hurt/Comfort, Romance, Song-Fict ||

// Teen // Oneshot //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

.

.

.

Bagaimana harimu? Masih ada sedikit musim panas yang tersisa.

Untuk beberapa alasan, aku melalui hari yang melelahkan.

Ketika dedaunan berganti warna di tepi jalan Gwanghwamun,

Itulah saat aku akhirnya mengangkat kepalaku.

―♫―

Derap langkah kaki yang berlari mendekat tertangkap oleh sistem pendengaran Zitao. Perlahan, lelaki yang baru menginjak umur ke-22 itu membuka kedua matanya. Pemandangan pertama kali yang ia lihat setelah lelap tertidur di halte bus itu adalah sosok gadis cantik yang tengah berusaha mengatur nafas sementara keringat sudah bercucuran dari dahinya. Rambut pendek sebahunya mungkin sengaja dibiarkan terurai tersibak angin di akhir musim panas ini.

“Permisi,”

“Ya?” tanya Zitao, setengah gugup.

“Apa kau punya air minum?” suaranya begitu lembut saat didengar, sorot mata coklatnya juga begitu tenang. Sungguh, Zitao berani bersumpah kalau dirinya baru percaya ‘cinta pada pandangan pertama’ tepat di hari ini.

“Hello?” gadis itu mengibaskan tangannya di depan wajah Zitao, hingga Zitao tersadar dari lamunan sesaatnya.

“Ah? Iya! Aku punya!”

“Boleh aku minta?”

“Ya, tentu saja.”

Setelah meneguk air minum dalam kemasan botol milik Zitao, gadis itu mendudukkan dirinya di bangku halte. Tangannya tak berhenti mengipas wajah cantiknya yang berkeringat.

“Ini,” Zitao menerima botol minumnya dari sang gadis.

“Terimakasih.” Ucap gadis itu sambil memperlihatkan senyumannya yang seperti gula, manis.

“Sama-sama.”

Selama beberapa saat, tak ada percakapan di antara mereka. Keduanya larut dalam dunia masing-masing. Yang perempuan sibuk mengotak-atik ponselnya, sementara yang lelaki sibuk melatih daya khayalnya sendiri.

“Ah iya, rasanya tidak sopan sekali aku sudah meminta minum padamu padahal kau tidak mengenalku. Namaku Yoeun, Han Yoeun.” Tanpa harus mengajak berkenalan lebih dulu, ternyata Zitao sudah menerima keberuntungan yang melimpah hari ini. Bukannya dia, justru gadis itulah yang memperkenalkan diri terlebih dahulu.

“Namaku Zitao, Huang Zitao.”

Semilir angin yang terasa sejuk di akhir musim panas menyibakkan dedaunan pohon-pohon di tepi jalan. Lalu-lalang manusia serta kendaraan meramaikan suasana di siang hari itu. Setelah saling memperkenalkan diri, Zitao dan Yoeun larut dalam perbincangan ringan mereka sambil menunggu bus yang akan mereka naiki. Sebenarnya bukan begitu, karena pada kenyataannya mereka terus melanjutkan perbincangan meski bus yang mereka tunggu sudah berhenti dan lewat beberapa kali di depan mata mereka sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ‘apa makanan kesukaan mereka’, ‘warna favorit mereka’, ‘buku apa saja yang pernah mereka baca’, hingga ‘lagu apa yang paling sering mereka dengarkan akhir-akhir ini’ bermunculan dari satu sama lain dan berhasil terjawab tanpa ketertutupan sedikitpun. Padahal hari ini adalah pertemuan pertama antara Zitao dan Yoeun, tapi entah kenapa keduanya sudah merasa nyaman mengobrol satu sama lain.

“Ah, apa kau tahu lagu Kyuhyun yang berjudul At Gwanghwamun, Zitao?”

Zitao mengangguk,  “Memangnya kenapa?”

Yoeun mengayun-ayun kakinya sambil menerawang ke langit dengan mata berkaca-kaca, “Bagaimana ya? entah kenapa aku merasa lagu itu Kyuhyun nyanyikan untukku. Aku yang ada di posisinya saat menyanyikan lagu itu.”

“Kau mengenal Kyuhyun secara pribadi?” tanya Zitao selanjutnya.

Gadis itu tersenyum pahit,

“Bukan hanya mengenal, tapi kami sangat… sangat dekat.”

Tanpa bertanya lagi, Zitao hanya sanggup memandangi wajah menyedihkan Yoeun yang entah sedang melamunkan apa. Zitao takut, takut kalau pada akhirnya jika ia terus bertanya ia hanya akan membuat Yoeun semakin terluka. Tapi Zitao merasa sedikit aneh sih, ternyata ia bisa langsung sedekat ini dengan gadis yang pernah sangat dekat juga dengan bintang kpop ternama Cho Kyuhyun.

.

.

.

Kita seharusnya bersinar sangat terang bersama.

Tapi sekarang kita seperti orang asing.

Dalam genggamanmu, dunia adalah milikku.

Selamat tinggal untuk hari kekanakkan itu.

―♫―

Berawal dari sebotol air mineral, hubungan pertemanan Zitao dan Yoeun terus berlanjut. Entah disengaja atau tidak, halte bus tempat mereka bertemu pertama kali selalu menjadi tempat di mana mereka bertemu di hari-hari selanjutnya. Hm, mungkin ini yang dinamakan ‘jodoh tak akan lari ke mana’ hehehe.

“Kau mau kopi?” tanya Zitao setelah hening tercipta sesaat antara dirinya dan Yoeun di halte bus.

“Boleh.” Yoeun mengangguk semangat.

Zitao bangkit dari posisinya, tangannya menadah untuk meminta tangan Yoeun menerima uluran tangannya. Yoeun tersenyum dan dengan senang hati meraih tangan lelaki tampan bermata panda itu.

Tak susah mencari coffee shop di sekitar mereka. Buktinya hanya melangkah beberapa menit saja dari halte, langkah Zitao dan Yoeun sudah memasuki sebuah kafe yang terkenal dengan kopi-kopinya yang berkelas.

“Kau mau apa?”

“Americano.”

“2 Americano.” Ucap lelaki itu pada petugas kasir.

Yoeun merogoh isi tasnya, mencari dompet untuk membayar segelas americano-nya. “Ini-“

“Tidak usah, tak apa. Aku yang bayar.” Zitao nyengir, lalu membayarkan 2 gelas americano pesanannya langsung pada sang petugas kasir.

Lelaki itu terlalu senang saat menerima kopi yang dirinya dan Yoeun pesan. Dengan memperlihatkan jinjingan box gelas kopi mereka, Zitao tersenyum lebar, “Kita mau minum di sini atau di halte saja?”

“Di sini saja, Zitao.”

“Baiklah! Ayo kita duduk!”

Hari itu, kafe tak terlalu ramai pengunjung, jadi Zitao dan Yoeun tidak perlu bersusah-susah mencari tempat duduk. Di dekat kaca pembataslah tempat yang mereka pilih, terang dan memiliki akses pandangan langsung ke arah jalan yang ramai kendaraan.

“Yoeun…” Zitao memainkan telunjuk di tepian gelasnya, menggerakan jari panjangnya itu untuk membentuk pola lingkaran.

“Haruskah kita pacaran saja?”

“UHUK!” gadis itu langsung tersedak setelah mendengar pertanyaan Zitao yang rasanya terlalu tiba-tiba.

“Tapi, Zitao, kita-“

“Kenapa?” potong lelaki itu, menatap lurus ke arah mata sang gadis yang tak mau balas menatapnya. “Apa aku hanya merasakan perasaan ini seorang diri?”

Selang beberapa detik, Yoeun akhirnya berani membalas tatapan Zitao.

“Tidak, kau tidak sendirian. Aku juga merasakannya.”

“Be-benarkah?”

Yoeun mengangguk lemah, “Tapi rasanya terlalu cepat bagiku untuk menganggap hubungan kita lebih dari sekedar pertemanan, Zitao. Aku perlu waktu.”

Tangan Zitao bergerak menggenggam erat kedua tangan Yoeun, berusaha meyakinkan gadis itu kalau dirinya bisa menunggu, waktu yang diperlukan Yoeun untuk menerima perasaannya, Zitao pasti akan sabar menantinya.

Setelah ungkapan perasaan itu dapat diutarakan, tak ada percakapan berarti yang terjadi di antara mereka. Yoeun menutup mulutnya rapat-rapat, tak mau bicara. Sedang Zitao hanya berusaha mencairkan suasana meski ia tahu Yoeun tak begitu mempedulikan usahanya.

“Kau mau langsung pulang saja, Yoeun?”

Gadis itu mengangguk setelah cepat-cepat menghabiskan kopinya.

“Aku ikut naik bus, ya?” tanya Zitao dengan penuh harap.

“Aku tidak akan naik bus, Zitao.”

Mereka berjalan menuju halte dengan langkah beriringan namun tanpa saling bercakap-cakap lagi. Atmosfer di antara mereka tetap beku tanpa bisa Zitao cairkan. Mereka, sudah seperti orang asing yang tak saling mengenal satu sama lain.

Sebuah mobil merek ternama berhenti di depan halte tempat Zitao dan Yoeun kini berdiri. Zitao terpaku dengan mata melebar setelah melihat Cho Kyuhyunlah yang menyetir mobil tersebut untuk menjemput gadis di sampingnya.

“Aku pergi dulu, Zitao. Sampai jumpa lagi.”

.

.

.

Hari ini, seperti orang bodoh, aku berdiri di tempat itu.

Terbasahi oleh hujan.

Menunggumu, yang tidak akan datang.

Aku senang.

Kenangan saat berpegangan tangan dan berjalan bersama, aku mengenangnya kembali,

Jika kamu berdiri di sana.

―♫―

Pertemuan di akhir musim panas itu tak pernah terulang lagi. kata-kata ‘Sampai jumpa’ yang Yoeun sampaikan pada Zitao terakhir kali nyatanya bukanlah suatu tanda kalau mereka akan bertemu lagi esok harinya. Berbulan-bulan hingga musim terus silih berganti, Zitao tetap berdiri seperti orang bodoh di tempat di mana ia bertemu pertama kali dengan seorang Han Yoeun.

Hujan yang mengguyur kota dengan derasnya tak membuat Zitao mengurungkan niatnya untuk bertahan. Hingga sekujur tubuhnya basah kuyup, lelaki itu tetap berdiri di tempat yang sama, menanti Yoeun datang padanya dengan berkata ‘ini waktunya aku mengijinkan hubungan kita lebih dari teman’.

Lelaki itu tersenyum, “Akhirnya kau datang juga.”

Bayangan kehadiran Yoeun yang terhapus dalam pandangannya seketika juga membuat senyuman di bibir Zitao ikut terhapus. “Kau tidak datang.”

Jauh di seberang sana, raga Yoeun yang bukan sekedar bayangan khayal Zitao berdiri dengan payung hitam yang melindungi dirinya dari deras air hujan. Selama beberapa saat, Zitao dapat kembali tersenyum melihat sang pujaan hati. Ya, hanya beberapa saat, karena setelah itu senyuman Zitao tergantikan oleh bulir airmata menyedihkan. Di depan kedua matanya, sosok Cho Kyuhyun hadir di samping Yoeun, memeluk dan mengecup bibir gadis pujaannya tanpa sedikitpun merasa berdosa.

Terputar jelas dalam ingatan lelaki itu tentang awal pertemuannya dengan Han Yoeun, tentang suara lembut dan tatapan tenang sang gadis, tentang hal-hal yang mereka sukai dan mereka bagi bersama dalam sebuah perbincangan ringan yang hangat. Semuanya terputar kembali, terputar dengan jelas, bahkan, terlampau jelas.

‘Kau tahu lagu Kyuhyun yang berjudul At Gwanghwamun? Sepertinya lagu itu memang dinyanyikan untukku. Dengan aku sebagai peran utama, yang kau tinggalkan.’ Klik! pesan terkirim ke nomor ‘Cinta pertamaku, Yoeun.’

.

.

.

Aku tidak tahu jika hidup di dunia ini.

Hanya untuk selalu melihat orang lain.

Karena aku datang ke jalan ini, dipenuhi oleh aroma kopi.

Itulah saat aku akhirnya tersenyum.

―♫―

Pemandangan dari balik kaca pembatas kafe dengan hiruk pikuk dunia luar mengisi kekosongan hari-hari Zitao. Secangkir americano panas menemani kesendiriannya di tempat pertama kali ia dan gadis bernama Yoeun duduk sambil menikmati kopi yang sama.

“Sayang, kau mau pesan apa?”

“Americano.”

“Dua americano.”

Zitao tertegun. Dalam hatinya, ia bersumpah ingin menjadi buta saja untuk sesaat agar tak bisa melihat apa yang terjadi di depan matanya saat ini. entah disengaja atau tidak, Yoeun kembali ke kafe ini, bersama Kyuhyun di sampingnya. Dan entah disengaja atau tidak, Kyuhyun memilih tempat duduk yang hanya berjarak sedikit di depan tempat duduk Zitao, memungkinkan lelaki bermata panda itu untuk melihat setiap kemesraannya dengan Han Yoeun.

Apa kau sengaja ingin membunuhku perlahan-lahan? Apa kau sengaja ingin menyiksaku dengan kembali hadir dalam hidupku tapi tetap sebagai seseorang yang tak bisa kumiliki? Batin Zitao menangis. Luka dalam hatinya sudah lebih dari cukup untuk membuat tubuhnya menjadi lebih kurus.

Yoeun terpaku memandang Zitao yang juga memandangnya. Sebenarnya, Yoeun pun tak tega membiarkan Zitao melihat kemesraannya bersama Kyuhyun. Namun Kyuhyun, lelaki itu bersikeras ingin memperlihatkan semuanya pada Zitao, berharap agar lelaki itu sedikit lebih ‘tahu diri’ akan posisinya jika dibandingkan seorang Cho Kyuhyun.

“Kita minum di luar saja.” Yoeun hendak beranjak, tapi tangan Kyuhyun sedetik lebih cepat untuk tak membiarkannya pergi dan kembali duduk.

“Kenapa? Habiskan saja di sini, Sayang. Minum itu harus sambil duduk.” Ucap Kyuhyun sedikit dibumbui bumbu nasihat. Tangan besar lelaki berkulit putih susu itu membelai surai berwarna coklat Yoeun yang masih saja sepanjang bahu, tidak berubah seperti saat pertama kali bertemu dengan Zitao.

“Ah, kita juga harus mulai membicarakan masalah pertunangan kita, bukan?”

Pertunangan. Kyuhyun jelas sekali mengucap kata itu. Sangat jelas tanpa perlu pengulangan lagi.

.

.

.

Itu adalah kali pertama seseorang membuatku merasa gugup.

Kamulah satu-satunya.

Kamu lebih dicintai daripada yang lainnya,

Tapi kenapa kamu meninggalkanku?

―♫―

Zitao memilih melangkah keluar dari kafe yang menyesakkan dadanya. Langkahnya kembali melewati halte tempat ia bertemu pertama kali dengan Yoeun. Dasar lelaki cengeng! Airmatanya kembali tumpah tanpa harus menunggu waktu lama. entah sudah keberapa ratus kalinya ingatan tentang pertemuan pertama bersama Han Yoeun kembali melintas di pikirannya.

Saat itu, saat di mana Zitao untuk pertama kali dalam hidupnya percaya akan cinta pada pandangan pertama yang sering orang-orang katakan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, seseorang tiba-tiba datang dan merebut tempat kosong di hatinya. Ia dibuat gugup jika bertatapan langsung atau sekadar berbincang dengan orang itu. setiap hari, terasa seperti jantungnya terus dipaksa untuk berolahraga. Tapi, Zitao menyukai kegugupan itu. Zitao menyukai orang itu. Zitao menyukai Yoeun.

Bagi seorang Huang Zitao, bertemu dengan seseorang yang mampu memikat hatinya sangatlah sulit. Buktinya, baru di umur 22 tahunlah ia merasakan rasanya cinta pertama. Sekarang, sudah setahun berlalu sejak hari itu, tapi tidak pernah ada yang bisa menggantikan posisi Yoeun dalam hatinya. Ya, Yoeun masih ada dalam hatinya bahkan ketika Kyuhyun berbicara tentang pertunangannya dengan gadis itu. Oh, Ya Tuhan! Salah apa Huang Zitao sampai harus terus terjebak dalam pesona gadis yang akan segera dimiliki oleh lelaki lain?

“Aku pergi dulu, Zitao. Sampai jumpa lagi.”

“Iya kau pergi. tapi, sampai jumpa apanya?” gumam lelaki itu sambil tersenyum bodoh disela-sela airmatanya yang belum berhenti menetes.

.

.

.

Di tempat itu, aku tahu.

Bagaimana aku perlahan berubah setiap hari.

Di hari jauh kedepannya, tersenyumlah untukku.

―♫―

Zitao memejamkan kedua matanya, bersandar di kursi halte dengan memainkan kedua kakinya yang panjang. Semilir angin musim semi menebar wangi bunga yang bermekaran di tepi jalan. Menenangkan sekali rasanya.

“Permisi,”

Lelaki itu tak ambil pusing dengan suara itu, paling-paling ia berhalusinasi lagi tentang Han Yoeun.

“Permisi, Zitao.”

Zitao tersentak dari pejaman matanya dan mendapati Yoeun berdiri di depannya sama seperti kejadian yang sudah lebih dari satu tahun lalu. Ia mengucek kedua matanya, berusaha meyakinkan diri kalau-kalau ia menjadi gila hanya karena Yoeun atau kalau-kalau bayangan Yoeun mudah menghilang dari pandangannya. Tapi nyatanya tidak, ini kenyataan. Yoeun berdiri di depannya, kembali sedekat ini.

“Apa aku mengganggu tidurmu?” tanya sang gadis lalu mendudukkan dirinya tepat di samping lelaki itu. Zitao hanya sanggup menggeleng dengan raut yang masih tidak percaya akan kehadiran Yoeun.

“Apa ini mimpi? Apa aku belum terbangun dari tidur siangku?”

Yoeun terkekeh mendengarnya.

“Maafkan aku, Zitao.” Ucap gadis itu dengan tatapan sendu. “Aku tahu aku telah banyak membuatmu menunggu, aku telah banyak melukai hatimu, jadi aku minta maaf.”

“Bila menunggu adalah cara terbaik untuk dapat memilikimu, aku yakin aku bisa bertahan selama apapun itu.”

“Jangan…” gadis itu mulai mengeluarkan airmata, menangis. “Jangan menunggu lagi, Zitao.”

Zitao menatap Yoeun yang menangis tersedu di hadapannya. Gadis itu menyuruhnya untuk berhenti menunggu setelah meninggalkannya lebih dari setahun? Mana bisa ia mengiyakannya begitu saja?

“Kenapa aku tidak boleh menunggumu lagi?” tanya lelaki itu akhirnya.

“Karena memang aku sudah bukan seseorang yang bisa kau tunggu lagi.” Zitao menatap cincin permata yang melingkar di jari manis Yoeun. Lelaki itu mengangguk mengerti.

Dengan manik berkaca-kaca, Zitao mengalihkan pandangannya, kembali menatap mata gadis bernama Han Yoeun itu. “Jadi, kau sudah menikah?”

Airmata mengalir membasahi pipi Yoeun seolah tanpa henti, perlahan tapi pasti, Yoeun memberikan anggukan lemah untuk menjawab pertanyaan Zitao.

“Kalau begitu… selamat atas pernikahanmu! Jujur saja… aku tidak bisa mengatakan kalau aku ikut senang mendengarnya karena… ya… kau tahulah!” ucap Zitao sok tegar diakhiri tawa garingnya.

“Zitao…”

“Ya?”

“Jika di kehidupan selanjutnya, kita bertemu lagi di tempat ini, bolehkah aku memilih untuk mencintaimu saja?” tanya Yoeun berderai airmata.

“Bagaimana ya?” Zitao kembali memaksakan tawanya, “Sepertinya di kehidupan selanjutnya aku akan lebih memilih untuk menjadikan Seohyun Girls’ Generation sebagai kekasihku.”

Lelaki itu memejamkan matanya kuat-kuat, berusaha mengatur jantungnya yang berdebar menggebu-gebu tak terkontrol.

“Sekali lagi selamat-“

“Yoeun?” Zitao mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari letak keberadaan Han Yoeun yang tadi jelas-jelas masih duduk di sampingnya. “Hei, Han Yoeun! Aku hanya bercanda tentang Seohyun!”

Seberapa keras pun ia berusaha mencari, hasilnya nihil. Gadis itu menghilang tanpa jejak dalam sepersekian detik ia memejamkan mata.

Angin yang berhembus siang itu menerbangkan selembar kertas koran harian tepat di depan kaki Zitao. DEG! Sistem pernafasan lelaki itu seketika berhenti sesaat.

‘Mempelai wanita meninggal karena kecelakaan, Cho Kyuhyun alami stres parah.’

.

.

.

Aku bahagia,

Karena hari ini, tempat ini seindah saat itu.

―♫―

Kehilangan seorang gadis yang teramat sangat dicintai tentu meninggalkan duka yang teramat dalam. Bagi Zitao saja, yang notabenenya bukan orang yang beruntung mendapat timbal balik perasaan dari Han Yoeun, seperti hampir gila. Lalu apa kabar Cho Kyuhyun yang hampir saja, selangkah lagi, akan dipersatukan dalam ikatan pernikahan bersama gadis itu? bagaimana perasaannya? Banyak yang bilang, Kyuhyun terus menghabiskan waktu untuk bernyanyi, mengenang sosok mempelai wanitanya dalam sebuah lagu yang memang sengaja ia ciptakan sendiri untuk sang wanita.

Yoeun itu spesial. Pantas jika lelaki yang terpikat padanya begitu kehilangan sosoknya. Meski tak dapat dipungkiri, gadis itu pernah melukai hati Zitao untuk waktu yang lama, Zitao tak menyesal pernah mengenalnya.

“Hei! Kalau kau melihatnya dari atas sana, kau pasti tahu betapa indahnya hari ini. Daun-daun di tepi jalan berganti warna, sama, seperti di hari saat kita pertama bertemu waktu itu.” gumam Zitao seraya menatap ke arah langit yang cerah.

.

.

.

Tanpa alasan, seperti orang bodoh, aku berdiri di tempat ini.

Terbasahi oleh hujan.

Menunggumu, yang tidak akan datang.

Aku senang.

Aku melihat kembali sekali lagi di jalanan di Gwanghwamun ini.

Jika kamu berdiri di sana.

―♫―

Sekali lagi, untuk terakhir kalinya, Zitao berdiri di tempat pemberhentian bus yang menjadi tempat penuh cerita tentang dirinya bersama seorang gadis cantik berambut pendek sebahu bernama Han Yoeun. Di samping kanannya, sebuah koper besar berwarna merah berdiri tegak. Zitao akan meninggalkan Republik Korea dan menetap di Cina. Jadi untuk terakhir kali, lelaki itu benar-benar ingin kembali bernostalgia.

Pemuda berambut coklat itu mulai menapaki satu persatu jalan yang pernah dilewatinya bersama Yoeun menuju kafe tempat mereka meminum secangkir americano. Sambil menggenggam tangannya sendiri, Zitao membayangkan tangan Yoeun ada dalam genggaman tangannya. Dalam bayangan Zitao tentu saja, Yoeun tersenyum di sampingnya, menunjukkan pesona kecantikan yang tak terbantahkan oleh siapapun.

“Apa kau percaya ada cinta pada pandangan pertama, Zitao?” tanya Yoeun pada Zitao waktu itu.

Zitao menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “Hm, bagaimana ya?” Zitao baru merasakannya dan itu hanya pada Han Yoeun seorang.

“Kau percaya?” Zitao bertanya balik, padahal pertanyaan Yoeun belum benar-benar ia jawab.

“Aku percaya.”

Langkah mereka terhenti. Zitao berpaling menatap dalam-dalam mata Yoeun, berusaha mencari jawaban dari pertanyaan yang masih ada dalam benaknya.

“Kau pernah merasakannya?”

Gadis itu mengangguk, “Ya, pada Cho Kyuhyun.”

Binar Zitao meredup, berubah menjadi tatapan sendu dengan senyuman pahit yang terukir di bibirnya. Kejadian dua tahun yang lalu itu biarlah berlalu dan menjadi kenangan tersendiri baginya.

Lelaki itu kembali menatap ke arah langit yang cerah, membayangkan wajah Yoeun yang tersenyum padanya tanpa paksaan. Mungkin memang di kehidupan sekarang, ia tak berjodoh dengan Han Yoeun, tapi siapa yang tahu kalau di kehidupan selanjutnya takdir mereka berdua akan berakhir bahagia?

“Jika di kehidupan selanjutnya, kita bertemu lagi di tempat ini, bolehkah aku memilih untuk mencintaimu saja?”

“Tentu saja, Han Yoeun.” Gumam Zitao tersenyum, “Di kehidupan selanjutnya, ayo kita memilih untuk saling mencintai tanpa harus ada yang tersakiti lagi.”

At Gwanghwamun ―end.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s