[EXO Fanfiction] TOGETHER

Ketika cinta tak sanggup mengulang cerita.

`TOGETHER`

A fanfiction by AYUSHAFIRAA

`Starring Byun Baekhyun x Kim Taeyeon`

|| Angst, Drama, Romance, Sad ||

// Teen // Oneshot //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Recommended Song : Taeyeon – If

.

.

.

Seandainya aku datang, aku datang mendekat padamu. Apa yang akan ada di pikiranmu? Aku… tidak berani.

―♥―

Remaja lelaki itu berdiri mematung di depan layar cembung televisi berukuran 14 inchi di ruang tamunya, menatap kagum beberapa gadis berusia sedikit di atasnya yang tak hanya cantik tapi juga tampil ceria dengan gerakan energik dan suara memukau. Salah seorang di antara 9 gadis-gadis itu kemudian menarik perhatiannya. Gadis cantik bertubuh mungil yang memiliki suara bak malaikat.

“Aku suka dia. Aku ingin dia menjadi kekasihku, setelah itu aku akan menikahinya dan mempunyai anak yang lucu bersamanya.” Ucap remaja lelaki itu, menandai gadis yang ia pilih untuk menjadi takdirnya kelak.

“Jangan bermimpi terlalu tinggi, Baekhyun-ah!” ucap pria paruh baya yang tak lain adalah ayahnya sendiri yang saat itu tengah duduk bersila di atas sofa sambil membaca sebuah koran harian. Baekhyun, ya, remaja lelaki itu bernama Baekhyun dengan marga Byun yang ia warisi dari sang ayah.

“Kita ini cuma rakyat biasa, dan gadis itu seorang bintang. Sulit dan butuh banyak usaha untuk meraihnya.” Lanjut sang ayah.

Baekhyun mengangguk, mengiyakan.

“Untuk meraih bintang, maka aku pun harus menjadi bintang! Aku bisa menjadi bintang!” ucapnya penuh percaya diri. “Ayah tinggal tunggu dan lihat saja! Aku pasti bisa meraih bintangku!”

.

Tekad Baekhyun sudah bulat. Ia harus bertemu –tidak, ia harus bisa menjadi lebih dekat dengan idolanya. Gadis bernama Taeyeon yang merupakan seorang leader dari girlgroup terkenal itu harus bisa menjadi kekasihnya. Satu-satunya cara agar ia bisa dekat dengan gadis itu adalah ia juga harus menjadi bintang di agensi yang sama.

Saat kesempatan untuk menjadi bintang di agensi yang menaungi gadisnya itu datang, Baekhyun tidak mungkin menolaknya. Baekhyun menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin dengan banyak berlatih vokal dan juga tarian. Alhasil, ia dinyatakan lolos sebagai trainee salah satu agensi terbesar di Korea tersebut.

Mimpi remaja lelaki itu terwujud. Ia bisa setidaknya sedikit lebih dekat dengan Kim Taeyeon yang kini berstatus sebagai seniornya. Saat ada waktu senggang di sela-sela jadwal latihannya yang sangat padat, ia selalu menyempatkan diri untuk melihat ―lebih pantas dikatakan mengintip― gadisnya berlatih begitu keras di ruang latihan bersama teman-teman segrupnya yang lain.

Dari celah pintu ruang latihan, Baekhyun dapat melihat wajah malaikat sang gadis dibanjiri peluh namun tetap tersenyum tanpa sedikitpun mengeluh. Rasa suka perlahan berubah menjadi cinta, Baekhyun tahu itu seiring jantungnya yang terus berdetak tak terkontrol setiap kali dirinya mendapati Kim Taeyeon tersenyum, meski bukan tersenyum padanya sekalipun.

Pernah suatu hari, Baekhyun tak mendapati wajah gadisnya di ruang latihan. Seberapa jauhpun matanya berusaha memandang, matanya tetap tak menemukan sosok yang ia cari.

“Ekhm, ekhm.”

Baekhyun terkejut luar biasa. Dehaman dari seorang gadis yang tak lain adalah Kim Taeyeon mampu membuatnya terpaku dan tak sanggup berkata-kata. Gadis itu… gadis yang dulu hanya bisa ia lihat di layar kaca televisi, kini ada di hadapannya dengan jarak yang tak lebih dari setengah meter.

“Kau trainee baru ya? apa yang sedang kau lihat di ruangan itu?” tanya Taeyeon, kepalanya sedikit dipermiring dengan tangan melipat di depan dada.

“A-aku… apa ya?” Baekhyun kebingungan sendiri untuk mencari alasan. Terlebih, kegugupannya yang sama sekali tak bisa dikontrol membuatnya berkeringat hebat.

“Daripada kau hanya diam disitu, mengintip anggota grupku yang sedang latihan, lebih baik kau pergi membelikan makanan untuk kami. Mau tidak?”

Baekhyun mengangguk cepat. Tak ada cara yang lebih tepat untuk menghindari kematian mendadak karena gugup selain melarikan diri dari penyebabnya.

“Kalau begitu, belikan kami tteokbokki ya! oh iya, jangan bilang pada siapapun kalau aku yang menyuruhmu!” ucap leader bertubuh mungil itu sembari menyerahkan beberapa won kertas dari saku hotpantsnya.

.

Tak butuh waktu lama bagi seorang Byun Baekhyun untuk menjalani masa trainee. Satu tahun saja dirasa cukup bagi agensi yang menaunginya untuk segera mendebutkannya sebagai salah satu personil boygroup berkonsep alien yang memiliki kekuatan super. Khusus bagi Byun Baekhyun, kekuatan super yang ‘dianugerahkan’ kepadanya ialah cahaya. Dengan suara indah yang dimilikinya, Baekhyun ditunjuk menjadi vokal utama dalam grup tersebut bersama rekannya yang lain yang sama-sama memiliki suara luar biasa.

Wajah? Tampan. Suara? Bagus. Menari? Bisa. Apa yang kurang dari seorang Byun Baekhyun untuk menjadi idola yang digilai banyak kaum hawa? Mungkin jawabannya, nyaris tidak ada.

“Aku sudah menjadi bintang. Kekuatanku adalah cahaya. Aku… bintang yang bercahaya.” Gumam lelaki itu di depan meja riasnya tepat sebelum tampil di acara musik untuk debutnya.

Hei^^ Selamat ya untuk debutmu bersama grupmu. Semangat!^^ Kutunggu traktiran tteokbokki darimu~ jangan dianggap bercanda! Ini serius kekekeke~

Lelaki itu tersenyum lebar. Meski pesan tersebut datang dari nomor tak dikenal, ia tahu pasti siapa pengirimnya.

Siapa lagi kalau bukan ‘dia’?

.

.

.

Seandainya kau pergi, kau pergi meninggalkanku. Entah bagaimana aku melepasmu. Aku… selalu khawatir.

―♥―

Pemikiran Baekhyun selama ini benar. Dirinya yang sudah menjadi bintang dapat dengan mudah mendekati bintangnya. Tak lagi melihat gadisnya dari layar cembung televisi, sekarang dirinya bahkan bisa saling bertatap muka dan bertegur sapa secara langsung.

Lelaki itu sangat beruntung. Saat trio subunit grup Taeyeon membuat video klip dari lagu teranyar mereka, ia dan beberapa rekan segrupnya yang lain berkesempatan muncul dalam project video klip tersebut.

Sejak saat itu, Baekhyun menjadi sangat dekat dengan sang idola. Hubungan senior-junior di antara mereka terjalin dengan sangat baik. Meski sudah akrab, perasaan Baekhyun tidak pernah berubah. Itulah yang membuatnya sungkan untuk melangkah lebih dekat setiap kali Taeyeon hadir di depan matanya. Kalau terlalu dekat, mungkin lelaki itu bisa mati karena jantungnya akan bekerja 100 kali lipat dari biasanya.

Siapa yang diajak bicara, siapa yang terpesona hingga kehilangan kata-kata. Memandangi gadisnya yang begitu heboh saat bicara pada leader grupnya ternyata lucu juga. Wajah penuh ekspresi Taeyeon saat bicara, gesturnya, bibir mungilnya, Baekhyun suka semua itu.

“Taeyeon Nuna!” panggil Baekhyun di belakang panggung.

“Ada apa, Baekhyun-ah?”

Baekhyun menggaruk tengkuknya, canggung. “Soal tteokbokki itu…”

Senyum Taeyeon tertahan, kepalanya mengangguk mengerti arah bicara lawannya. “Kau mau mengajakku kencan?”

Lelaki itu menggeleng cepat sembari memperhatikan ke sekelilingnya, “Aku akan mengirim tteokbokkinya ke dorm-mu malam ini.”

“Oh,” Taeyeon mengerucutkan bibirnya. “Kukira kau akan mengajakku berkencan sambil memakan tteokbokki berdua saja.”

Apakah ini sebuah sinyal yang bagus dari Taeyeon untuknya? Membayangkannya saja, Baekhyun tak kuasa untuk tersenyum. Raut wajah Taeyeon terlihat sedikit kecewa, tapi jujur saja Byun Baekhyun masih belum cukup memiliki keberanian untuk mengajak seniornya berkencan. Dunia entertainment di Korea tak sebebas itu untuk mengumumkan kabar berkencan ke publik. Terlebih, ia baru saja debut.

“Kapan-kapan saja ya, Nuna?”

Gadis itu tertawa kecil sambil menepuk-nepuk bahu Baekhyun, “Sudah! Sudah! Tidak usah kau pikirkan, aku hanya bercanda kok!”

.

Baekhyun tak pernah berhenti tersenyum semenjak mengenal sosok Kim Taeyeon dalam hidupnya. Entah itu pada saat latihan, makan, mandi, bahkan tidur pun, bayangan Taeyeon tak pernah hilang dari pikirannya.

Meski sama-sama disibukkan oleh jadwal masing-masing, keduanya tak pernah lupa untuk sekedar saling menyapa dan bertukar kabar melalui sebuah pesan singkat seolah hal tersebut sudah menjadi suatu kebutuhan. Kedua insan itu merasa nyaman dengan hubungan yang sebenarnya tidak jelas ini. Karena dibilang pertemanan, mereka lebih dari itu. Dibilang berkencan, tidak juga.

Di suatu kesempatan saat konser, Taeyeon mengajak Baekhyun untuk berjalan bersama mengitari panggung mereka yang luas. Awalnya mungkin lelaki itu tampak malu-malu, namun Taeyeon meyakinkannya dengan senyuman lebar agar lelaki itu tak merasa canggung lagi saat bersamanya.

“Apa kunciran rambutku terlihat jelek sampai kau malu seperti itu jalan bersamaku?”

Baekhyun menggeleng sambil menahan tawanya, “Tidak kok! Nuna terlihat cantik sekali malam ini!”

“Lalu kenapa kau harus malu?” Taeyeon mencecar Baekhyun dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting untuk mencairkan suasana di antara mereka. Hingga pada akhirnya pun, Baekhyun larut dalam canda tawa bersamanya.

Dua insan itu berjalan berdampingan menyusuri panggung, terkadang juga berlari-lari kecil sambil menyapa penggemar mereka dengan lambaian tangan dan senyum tiga jari.

“Baekhyun-ah! Kemari! Kemari!” Taeyeon menarik tangan Baekhyun untuk mengikutinya. Keduanya berjajar dengan rapi bersama rekan-rekannya yang lain untuk memberikan salam kepada para penggemar bersama-sama tanda konser telah usai diselenggarakan.

Jantung Baekhyun berdegup kencang seperti biasanya. Seperti biasa setiap kali dirinya berada di dekat sang gadis pujaan hati. Apalagi kali ini, gadis itu menggenggam erat tangannya. Telapak tangan Taeyeon yang lembut bersentuhan langsung dengan tangannya. Sungguh, Baekhyun tak ingin melepaskannya lagi.

.

.

.

Aku seperti orang bodoh. Hanya bisa memandangmu. Dan mungkin, hatimu akan berpaling dariku. Dan karenanya, jarak antara kita semakin melebar.

Sungguh aku seperti orang bodoh. Tak mampu mengucapkan kata cinta dan mungkin takut pada rasa sedih dan pedih yang akan muncul atas pertemuan kita.

―♥―

Baekhyun berjalan menuju ruangan bosnya. Langkahnya terlihat sedikit ragu dan pikirannya dipenuhi tanya. Ada urusan sepenting apa hingga manajernya memintanya untuk datang ke ruangan bosnya seorang diri tanpa satupun rekan segrupnya yang mendampingi.

Saat Baekhyun melangkah masuk ke ruangan, sosok yang pertama kali dilihatnya ialah Kim Taeyeon. Gadis itu duduk di depan bos mereka dengan wajah muram. Karena itu, Baekhyun semakin tak enak hati.

“Duduklah, Byun Baekhyun.”

“Ah, iya. Terimakasih.” Lelaki itu duduk di samping Taeyeon sesaat setelah sang bos mempersilakannya duduk.

“Langsung saja, aku tak mau berlama-lama. Aku sudah membicarakan hal ini pada Taeyeon, namun dia ingin mendengar pendapatmu dulu.” pria paruh baya yang mengenakan setelan jas itu menatap serius ke arah Baekhyun sambil membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit turun. “Aku ingin mengejutkan publik dengan berita kencan kalian.”

“Aku ingin kalian berkencan selama grup Taeyeon dalam masa promosi album. Ya, kasarnya, mari kita buat skenario seolah-olah kalian benar-benar berkencan. Toh, kalian memang saling menyukai satu sama lain kan? Ini tidak akan berat.”

Baekhyun terdiam untuk sesaat. Saat ia berpaling menatap gadis di sampingnya, gadis itu hanya menunduk tanpa sedikitpun bersuara.

“Kencan settingan?”

Bos mereka mengangguk, mengiyakan pertanyaan Baekhyun.

“Bagaimana menurutmu, Byun Baekhyun? Bukankah kau sangat mengidolakan Taeyeon? Kau pasti mau berkencan dengannya meski semua hanya settingan, bukan?”

“Baiklah.”

Taeyeon menatap Baekhyun dengan tatapan tak percaya. Baru saja, lelaki itu menyetujui rencana bos mereka tentang kencan settingan yang sebenarnya hanya bertujuan untuk mendongkrak kembali kepopuleran Taeyeon bersama grupnya. Yang mana bisa saja, skandal ini akan langsung menghancurkan karier seorang Byun Baekhyun.

“Baekhyun-ah… kita masih bisa menolak-“

“Tidak apa-apa, Nuna. Aku sungguh tidak apa-apa.”

.

Malam itu, skenario kencan Baekhyun dan Taeyeon pun dimulai. Taeyeon menjemput Baekhyun dengan mengendarai sebuah mobil berwarna hitam. Masker putih yang awalnya Baekhyun gunakan untuk menutupi wajahnya pun dilepas tepat setelah ia duduk di dalam mobil Taeyeon.

Mobil itu tak bergerak lagi, hanya diam di tempat Baekhyun menunggu. Tak ada percakapan apapun di antara keduanya. Mereka berdua larut dalam diam dan pikiran mereka sendiri atas kencan settingan ini. Baekhyun yang sedaritadi terlihat sibuk mengotak-atik ponselnya kemudian membaca sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

“Sekarang waktunya…” ucap Baekhyun, bergumam pelan.

“Waktunya apa?” tanya Taeyeon yang masih belum mengerti maksud lawan bicaranya.

Nuna harus menciumku.” Jawab Baekhyun. Jemarinya terlihat gemetar saat menggenggam ponselnya. “Mereka sudah mengambil beberapa foto. Saat Nuna menciumku, mereka akan mengambil foto kita lagi.”

Taeyeon mengangguk, “Baiklah.”

Gadis yang lebih tua 3 tahun dari Baekhyun itu mengambil posisinya, menghadap ke arah Baekhyun masih dengan mimik tak yakin. Perlahan tangan Taeyeon bergerak menyentuh pundak Baekhyun dan tanpa butuh waktu lama Taeyeon menarik tengkuk lelaki itu untuk mendaratkan ciumannya di pipi. Ya, hanya di pipi. Tidak lebih dari itu.

“Apa… kau pikir mereka sudah mengambil foto kita yang ini?” tanya Taeyeon masih di posisi yang sama. Tenggorokannya tercekat, menahan tangis sekuat tenaga.

“Sepertinya sudah.” Tenggorokan Baekhyun sama tercekatnya dengan Taeyeon. Bukan kencan paksaan seperti ini yang Baekhyun ―mungkin Taeyeon juga― inginkan. Bukan kencan di mana paparazzi sudah bersiap dengan kamera untuk memotret kemesraan yang sudah diatur sebelumnya untuk mereka lakukan.

“Baekhyun-ah… maafkan aku.”

“Maaf untuk apa, Nuna?” tanya lelaki itu dengan tangan yang bergerak membelai lembut pipi gadisnya.

“Maaf karena harus melibatkanmu dalam rencana konyol ini. Seharusnya kuminta saja Bos kita untuk memanggil orang lain, bukan kau.”

Lelaki itu membisu. Bahkan, di saat seperti ini pun, ia merasa bodoh karena tak mampu mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada Kim Taeyeon. Kata-kata manis seperti cinta yang sudah ada di ujung lidahnya seolah tertelan kembali. Semua ini terlalu rumit.

.

Seperti yang sudah diperkirakan oleh pihak agensi, terkuaknya hubungan antara Taeyeon dan Baekhyun berhasil menghebohkan jagat dunia hiburan Korea Selatan. Penjualan album grup Taeyeon meningkat dan memberi keuntungan tersendiri bagi agensi besar yang menaungi mereka.

Namun respon sebaliknya ditunjukkan oleh penggemar Byun Baekhyun. Banyak dari mereka yang tak merestui hubungan Baekhyun dan Taeyeon. Bahkan tak sedikit juga di antara mereka yang melontarkan kata-kata kasar pada pasangan itu di sosial media saking merasa dikhianati. Orang yang mengikuti keduanya di sosial media juga berkurang drastis seiring dengan kabar kencan mereka yang menyebar luas hingga ke penjuru dunia.

Semenjak kabar kencan tersebut beredar, hanya Baekhyun yang tak pernah terlihat muncul. Saat Taeyeon terlihat baik-baik saja di layar kaca, Baekhyun hanya bisa mengukir senyum tipis di bibirnya. Di pojok kamarnyalah, Baekhyun menyendiri. Mengurung diri tanpa siapapun boleh mengganggu dirinya.

Lagi-lagi, Baekhyun menemukan dirinya menggenggam ponsel untuk kembali dengan bodohnya membaca komentar-komentar buruk di sosial medianya. Tak hanya itu, ia bahkan seolah-olah melukai dirinya sendiri dengan menggulir berita-berita terhangat tentang dirinya dan Taeyeon.

Taeyeon menangis minta maaf di Bandara.

Sebuah judul artikel menarik perhatian Baekhyun. Artikel tersebut menyebutkan bahwa ‘kekasihnya’ yang suatu saat terlihat tengah berada di Bandara kemudian menghampiri beberapa orang untuk meminta maaf atas skandal hubungan mereka dengan berlinang airmata.

DEG!

Airmata Baekhyun menetes. Lelaki itu menangis tersedu dalam diamnya. Segala rasa benci pada diri sendiri berkecamuk dalam hatinya.

PRAK!

Ponsel itu hancur dalam sekejap mata setelah pemiliknya melempar ponsel tersebut ke dinding. Baekhyun memeluk lututnya, membenamkan wajahnya agar tak seorang pun dapat melihat airmatanya.

‘Dasar pembohong!’

‘Keluar saja kau dari grup!’

‘Kami tidak membutuhkan seorang pembohong!’

‘Ke mana kau saat kekasihmu justru menangis meminta maaf di luar sana?’

‘Dasar pengecut!’

“Apa mencintai seseorang adalah sebuah kesalahan?” gumam Baekhyun, menyedihkan. Kalau kencan settingan saja, ia sudah banyak dibenci. Lalu bagaimana kalau kencan ini kencan sungguhan? Apa ia harus mati saja?

.

.

.

Seandainya kau datang, kau datang mendekat padaku. Entah apa yang harus kulakukan. Sungguh aku tak tahu.

―♥―

Setelah Taeyeon, kini giliran Baekhyun yang meminta maaf atas skandal kencan mereka.

Pria paruh baya itu memperbesar volume televisi baru berlayar datar di ruang tamunya. Baru saja sebuah acara gosip menayangkan highlight kabar terbaru mengenai skandal putranya. Ya, pria paruh baya itu ialah ayah Byun Baekhyun yang menyaksikan sendiri bagaimana usaha keras putranya dalam meraih bintang yang dulu rasanya sangat tidak mungkin untuk digapai.

Hati Ayah Baekhyun terasa seperti diiris perlahan-lahan, sakit dan menyesakkan. Ia tidak menyangka kalau impian bahagia sang putra untuk memiliki Kim Taeyeon yang baru saja terwujud ternyata telah melukai hati banyak orang. Percayalah, orang tua mana yang tega melihat anaknya rela mengorbankan kebahagiaan demi membuat orang lain bahagia? Jika akan tahu seperti ini jadinya, pria paruh baya itu mungkin takkan pernah mengijinkan sang putra meraih bintangnya. Karena untuk apa putranya mampu meraih bintang kalau hanya untuk menggantikan posisi bintang itu saat tak mampu lagi bersinar dan terjatuh?

“Jangan paksakan dirimu, Nak. Jika hal terbaik yang dapat kau lakukan sekarang adalah berhenti mencintainya, maka berhentilah.” ucap Ayah Baekhyun dalam hati.

.

Keadaan tak pernah membaik sejak malam itu. Meski Taeyeon dan Baekhyun sudah meminta maaf pada publik di tempat dan waktu yang berbeda, pembenci mereka terus bermunculan. Tak dapat dipungkiri tak semua orang membenci hubungan mereka. Ada juga penggemar-penggemar yang justru memberi dukungan penuh pada mereka dan mendoakan hubungan mereka agar tetap berlanjut bahkan kalau perlu sampai ke jenjang pernikahan. Namun bagi keduanya, itu bukanlah sebuah angin segar.

Hubungan Baekhyun dan Taeyeon tak lagi sedekat dulu. Baekhyunlah yang lebih sering menghindar dari gadis itu. Padahal, mereka berdua sangat dibenci karena skandal berkencan, namun mereka malah menyakiti diri mereka sendiri dengan membuang kesempatan untuk bisa benar-benar merasa saling memiliki satu sama lain.

Biasanya dulu, saat keduanya saling berpapasan di gedung agensi, mereka akan saling berbalas senyuman. Namun kini, pemandangan seperti itu tak pernah ada lagi. Senyuman yang diberikan Taeyeon hanya akan berakhir hambar karena Baekhyun akan selalu berpura-pura tak melihatnya.

“Baekhyun-ah…”

Lelaki itu terus berlalu, menghindar.

“Baekhyun-ah, tunggu sebentar!” cegah Taeyeon yang berhasil menghalangi jalan Baekhyun.

“Ada apa, Nuna?” tanya Baekhyun dingin.

Seberapa lama pun Taeyeon menunggu Baekhyun untuk tersenyum, lelaki itu hanya mampu membuat harapannya pupus dalam sekejap.

“Bisakah kau luangkan waktumu sebentar? Ada yang ha-“

“Tidak bisa. Maafkan aku, Nuna. Kami sedang sibuk menyiapkan album terbaru kami. ‘Aku tidak mau mengecewakan penggemarku lagi’.” jawab Baekhyun dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.

“Sebentar saja,” lirih gadis itu yang kini sedang berusaha menahan mendung di matanya. “Kumohon.”

.

.

.

Aku seperti orang bodoh. Tak mampu mengucapkan kata cinta dan mungkin takut pada rasa sedih dan pedih yang akan muncul atas pertemuan kita.

―♥―

Taeyeon membawa Baekhyun kabur dari jadwal latihannya. Mereka pergi dengan pakaian hitam yang serba tertutup agar tak seorang pun dapat mengenali mereka berdua. Hal pertama yang membuat mereka menjadi dekat adalah tteokbokki, Taeyeon masih ingat dengan jelas saat-saat awal mereka bertemu waktu itu. Mengingatnya saja, ingin rasanya saat itu juga ia menumpahkan rasa sesaknya lewat airmata.

“Kami pesan tteokbokki.” Ucap Taeyeon pada pelayan restoran yang menghampiri.

Saat ini, mereka tengah berada di sebuah restoran yang menyediakan ruang privat bagi beberapa orang yang tak mau menikmati makanan seperti di restoran-restoran pada umumnya. Taeyeon memesan satu ruangan, di mana hanya akan ada dirinya dan seorang Byun Baekhyun saja.

Baekhyun duduk berhadapan dengan Taeyeon di sebuah meja makan, masih dengan pandangan yang tak mau melihat ke arah gadisnya dan memilih untuk membisu. Meskipun rasanya menyakitkan, Taeyeon tetap memaksakan senyumannya. Mereka sekarang benar-benar sedang berkencan, tanpa skenario.

“Aku menunggumu mengajakku makan tteokbokki berdua saja suatu hari, tapi tampaknya aku tidak sabaran menunggu. Maka dari itu, aku mengajakmu ke tempat ini.” ujar gadis itu tanpa menunggu ditanya.

Ragu, Taeyeon menggenggam ujung jemari Baekhyun. Tatapan sendu terpancar dari kedua manik matanya. “Kita sedang berkencan. Anggap saja, kau sedang memenuhi janjimu.”

Nuna…” lelaki itu akhirnya membuka mulutnya juga.

“Hm?”

Lelaki itu perlahan melepas genggaman Taeyeon pada jemarinya, “Kita tidak bisa seperti ini.”

“Kenapa?”

“Aku tidak pantas untukmu, tidak akan pernah pantas.” Jawab Baekhyun, tersenyum miris.

“Kenapa kau berpikir seperti itu, Baekhyun-ah?”

“KARENA BUKTINYA SEMUA ORANG BERKATA BEGITU!”

Tubuh Taeyeon gemetar. Baru kali ini ia mendengar Baekhyun berbicara dengan nada meninggi padanya.

“AKU INI PENGECUT, KIM TAEYEON! AKU LELAKI PENGECUT! AKU MEMBIARKANMU MEMINTA MAAF SENDIRIAN SEMENTARA AKU MENGURUNG DIRIKU KARENA TAKUT MENGHADAPI SEMUA KENYATAAN INI. KENYATAAN KALAU KITA TIDAK AKAN PERNAH DIRESTUI! KENYATAAN KALAU… KEBAHAGIAAN KITA HANYA AKAN MEMBUAT BANYAK ORANG SEMAKIN TERLUKA!”

Gadis itu membiarkan kedua matanya terpejam untuk sesaat. Mencoba mendengarkan kata-kata menyakitkan soal kenyataan yang dilontarkan lelaki yang telah berdiri dari duduknya beberapa saat yang lalu. Tidak ada yang salah dari apa yang telah dikatakan Baekhyun, kecuali bagian tentang Baekhyun yang menganggap dirinya sendiri seorang pengecut. Menurut Taeyeon, akan lebih pengecut lagi jika Baekhyun tak mampu mengambil risiko lebih besar dengan memanfaatkan momen skandal kencan mereka ini untuk semakin mencintainya.

“AKU BOSAN, KIM TAEYEON! AKU LELAH! AKU LELAH MENGHADAPI PARA PENGGEMARMU YANG TERUS MENGHAKIMIKU! AKU LELAH MENGHADAPI PARA PENGGEMARKU SENDIRI YANG MEMBENCI KEBERSAMAAN KITA! AKU LELAH DENGAN SEMUA ITU!” airmata lelaki itu tumpah seiring emosinya yang meluap tak tertahankan lagi.

“MUNGKIN AKAN LEBIH BAIK JIKA KITA PUTUS SAJA!”

“Baiklah.” Balas Taeyeon cepat.

“Apa?” lelaki itu menatap ke arah gadisnya yang masih terduduk menunduk dengan bahu yang gemetar. Bukan kata ‘Baiklah’ yang ingin didengar Baekhyun dari mulut Taeyeon. Bukan, sungguh bukan itu.

“Tak ada satupun dari kita yang menginginkan hubungan ini, bukan? Mungkin benar katamu, mungkin memang akan lebih baik jika kita putus. Baik kau maupun aku, tak ada satupun dari kita yang bahagia karena hubungan ini.”

Taeyeon bangkit dari posisinya. Airmata yang sudah membanjiri pipinya sedaritadi tak luput dari penglihatan Byun Baekhyun yang terus menatapnya tak percaya. Gadis itu menguai seutas senyum di antara usahanya menahan perih putus cinta.

“Selamat tinggal, Byun Baekhyun.”

.

Baekhyun dan Taeyeon dikabarkan putus.

Agensi mengkonfirmasi kabar putus Baekhyun dan Taeyeon.

Skenario itu akhirnya berakhir seiring dengan perasaan di antara mereka yang juga berakhir. Tak ada lagi sosok lelaki yang mengintip ruang latihan melalui celah pintu, tak ada lagi sosok perempuan yang mengirim pesan untuk memberi semangat. Semuanya sudah berubah 180 derajat.

Baekhyun dan Taeyeon mulai menjalani kehidupan mereka masing-masing tanpa ada niat mengusik kehidupan satu sama lain lagi. Walaupun pihak agensi mereka mengatakan kalau mereka kini lebih nyaman berteman, itu tak lebih dari sekedar omong kosong. Karena pada kenyataannya, hanya untuk saling bertegur sapa sekalipun mereka enggan. Keduanya seperti telah bersepakat untuk bersikap seolah-olah tidak saling mengenal. Saat bertemu, Baekhyun tak akan menganggap Taeyeon ada, dan Taeyeon pun sama, tak akan menganggap Baekhyun ada.

Cinta telah merubah segalanya yang ada pada diri mereka. Bukan menjadi lebih baik. Cinta justru telah membuat keduanya tak mampu lagi menikmati kebersamaan mereka seperti dulu. Cinta… tak sanggup mengulang cerita mereka yang pernah ada.

.

Gadis belia itu berdiri mematung di depan layar datar televisi berukuran 32 inchi di ruang tamunya, menatap kagum beberapa pemuda berusia sedikit di atasnya yang tak hanya berwajah tampan tapi juga memiliki kemampuan menari dan bernyanyi yang patut diacungi jempol. Salah seorang di antara beberapa pemuda itu kemudian menarik perhatiannya. Pemuda bertubuh proporsional yang memiliki suara bak malaikat.

“Aku suka dia. Aku ingin dia menjadi kekasihku, setelah itu aku akan menikah dengannya dan mempunyai anak yang lucu bersamanya.” Ucap gadis itu, menandai pemuda yang ia pilih untuk menjadi takdirnya kelak.

“Jangan bermimpi terlalu tinggi, Hyuna-ya!” ucap pria berusia 40 tahunan yang tak lain adalah ayahnya sendiri yang saat itu tengah duduk di atas sofa sambil membaca sebuah koran harian. Hyuna, ya, gadis belia itu bernama Hyuna dengan marga Byun yang ia warisi dari sang ayah, Byun Baekhyun.

“Berhentilah bermimpi untuk menggapai sesuatu yang jauh dari kita, Sayang. Tak ada yang bisa menjamin, dengan siapa kita akan bahagia nantinya.” Lanjut Baekhyun, meletakkan koran hariannya untuk menatap ke arah sang putri.

Hyuna mengangguk, menurut saja.

“Ayah pernah bermimpi sepertiku tidak? Bermimpi meraih bintang yang sangat Ayah inginkan?” tanya Hyuna kemudian.

Pria itu menyentuh dadanya yang berdenyut sakit setelah mendengar pertanyaan putrinya. “Tentu saja pernah, Sayang. Ayah pernah berhasil meraih bintang itu, namun bodohnya, Ayah melepaskannya lagi dengan begitu mudahnya.”

“Sayang! Bisa ke gudang sebentar?!” panggilan berupa sedikit teriakan dari istrinya membuat Baekhyun kemudian beranjak, meninggalkan putrinya sejenak untuk menghampiri sang istri ke ruangan di mana segala benda tak terpakai ada di sana.

“Ada apa, Sayang?”

Baekhyun tertawa kecil setelah melihat wajah cantik sang istri terkotori debu. Tangannya refleks membersihkan wajah sang istri, membuat pipi sang istri memerah karenanya.

“Ini… aku menemukan sebuah surat untukmu saat memilah barang-barang layak pakai di gudang ini, sepertinya belum kau baca. Lihat saja, masih rapat sekali amplopnya. Ya, walaupun kelihatannya sudah lama sekali tapi tak ada salahnya kalau kau lihat dulu, kan?” ucap sang istri sembari menyerahkan amplop putih yang sudah terlihat usang padanya.

“Ya sudah, akan kubaca nanti saja. Sekarang, mau kubantu?”

Istrinya menggeleng, “Tidak! Tidak perlu! Sudah selesai kok!”

.

Langkah Baekhyun yang hendak keluar dari kamarnya terhenti saat maniknya tak sengaja menatap ke arah sebuah amplop usang yang masih saja belum dibukanya sejak kemarin sore. Rasa penasaran pun akhirnya mendorongnya untuk membuka amplop tersebut.

‘Untuk : Byun Baekhyun’

Pluk!

Sebuah kertas selebaran warung tteokbokki jatuh ke lantai. Sebuah selebaran dari warung di mana pria itu dulu pernah membeli tteokbokki pertama kalinya untuk seorang gadis yang amat ia sukai. Meski sudah puluhan tahun berlalu, ingatan itu tak pernah terhapus barang sedetikpun dari otaknya. Perasaan berdebar itu, senyuman dan tawa lebar gadis itu, genggaman hangat tangannya, ciuman lembut darinya malam itu, semuanya, masih Baekhyun ingat dengan begitu jelas.

.

Penyanyi ballad senior, Kim Taeyeon, meninggal dunia.

Jatuh pingsan saat manggung, penyanyi senior ini tutup usia.

Inilah lagu ‘If’, lagu persembahan terakhir Taeyeon untuk mantan kekasihnya.

Cairan bening tak henti-hentinya membasahi pipi Byun Baekhyun. Ditatapnya sebuah guci berfotokan seorang penyanyi senior ternama Korea, Kim Taeyeon, di sebuah ruang pemakaman. Melalui sambungan earphone yang terhubung ke pemutar musik di ponselnya, Baekhyun mendengarkan sebuah lagu berjudul ‘If’ yang Taeyeon ciptakan untuknya dengan bersimbah airmata.

Taeyeon masih mencintainya. Taeyeon masih memikirkannya meskipun waktu terus berlalu. Wanita itu tidak pernah dikabarkan menjalin hubungan lagi dengan siapapun sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya. Baekhyun dirundung duka mendalam yang sekaligus diliputi rasa bersalah. Baekhyun bisa-bisanya berpura-pura jatuh cinta pada wanita lain di saat hatinya masih dimiliki Taeyeon, menikah dan punya anak bersama wanita yang tak pernah sepenuhnya ia cintai. Byun Baekhyunlah yang paling patut merasa bersalah di sini.

“Hatiku juga masih memilihmu, hatiku masih milikmu. Aku mencintaimu, Nuna. Maafkan aku, sungguh maafkan aku.”

 

―Teruntuk remaja lelaki yang setiap hari mengintipku di ruang latihan…

 Hai, apa kabar?

Aku tidak tahu apakah suratku ini akan sampai atau tidak padamu, tapi aku harap, surat ini akan sampai secepat tteokbokki pesananmu sampai di dormku waktu itu.

Apa saat kau membaca surat ini, kau masih sering mengintipku di ruang latihan tanpa aku ketahui?

Hei! Keluarlah! Aku tahu kau ada di sana dan memperhatikanku hehe. Jangan sembunyi lagi! Aku ini tidak menggigit kok! Keluarlah… Baekhyun-ah… Jangan menghilang… Aku ingin kau terus ada di balik pintu itu, jangan pergi…

―Teruntuk remaja lelaki yang mengirimiku tteokbokki karena ketahuan mengintip…

Apa kau juga makan tteokbokki?

Aku tak pernah melihatmu memakannya. Rasanya enak sekali, lho! Kau akan menyesal kalau tidak pernah mencoba tteokbokki yang kau pesan sendiri!

Terakhir kali, setelah aku berlalu pergi dari restoran, apa kau memakan tteokbokki pesananku? Bagaimana rasanya? Apa rasanya sama dengan yang kau kirimkan padaku? Aku… penasaran sekali. Bagaimana ya, rasanya memakan tteokbokki berdua saja bersamamu? Kapan-kapan, kalau kau dan aku dipertemukan lagi, mau ya makan tteokbokki bersamaku?^^

―Teruntuk lelaki yang selalu terlihat gugup saat aku menatapnya…

Hei! Apa kau menyukaiku? Jujur saja! kau menyukaiku, kan?!

Aku juga.

Kau mungkin tak tahu seberapa keras usahaku untuk menyembunyikan kegugupanku saat bertemu denganmu. Rasanya seperti ingin mati. Tapi melihatmu berkeringat dingin, aku jadi tak ingin mati karena gugup. Aku ingin hidup saja, menertawai kegugupanmu setiap hari hahaha.

Ternyata… sudah lama juga ya aku tak melihat kegugupanmu? Apa… kau sudah tak menyukaiku lagi? benarkah begitu? Sayang sekali… padahal aku masih menyukaimu dan berharap kau masih merasakan kegugupan yang sama.

―Teruntuk lelaki yang rela melakukan kencan penuh kepura-puraan bersamaku…

Ketahuilah, Baekhyun-ah… perasaanku tak pernah sedikitpun berpura-pura.

Aku mencintaimu, bukan karena kencan pura-pura itu. Aku sungguh mencintaimu.

Aku tidak peduli meski seluruh dunia menyalahkanku karena telah jatuh cinta padamu, aku tidak peduli meski dunia mengusirku sekalipun. Hatiku memilihmu, hatiku milikmu.

Tidakkah kau merasakan perasaan yang sama padaku, Baekhyun-ah?

Rasanya tidak adil. Dunia menyuruh kita menyerah di saat kita bahkan belum berjuang sama sekali. Sejak saat kita berdua benar-benar menyerah, kita tidak pernah saling bertatap lagi. Kau mengalihkan pandanganmu dariku, begitu juga aku. Itu menyakitkan sekali, kau tahu?

Seandainya saja, kita tidak pernah bersama… kau pasti akan tetap menyukaiku dan aku akan tetap menyukaimu. Tidak seperti sekarang, kita yang sama-sama tidak peduli satu sama lain lagi. Kita memang lebih baik tidak pernah bersama, kita memang lebih baik tidak pernah disatukan oleh cinta. Karena akan ada saatnya, ketika cinta tak sanggup mengulang cerita.

Dari gadis yang pernah hadir di hidupmu, ya… walaupun sebentar hehe. Aku merindukanmu.

Kim Taeyeon.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s