[EXO Fanfiction] Special Suho’s Birthday – MY TWINKLE LITTLE STAR

Di ulang tahunnya yang ke-17, keajaiban itu terjadi.

`My Twinkle Little Star`

A fanfiction by AYUSHAFIRAA

`Starring Kim Junmyeon x Lee Hosin as Yoo Ahra, feat. Park Seul as Yoo Ahreum`

|| Fantasy, Romance, Sad ||

// Teen // Oneshot //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[Seoul, Mei 2022]

♫♫ Twinkle, twinkle, little star,

How I wonder what you are.

Up above the world so high,

Like a diamond in the sky.

Twinkle, twinkle, little star,

How I wonder what you are! ♫♫

Gadis kecil yang berada dalam rengkuhan hangat sang ibu di bingkai jendela besar kamarnya tampak tersenyum menatap langit malam yang bertabur bintang. Baru saja, keduanya menyanyikan lagu anak-anak yang sudah diperdengarkan sang ibu pada gadis kecil itu bahkan sejak di dalam kandungan, membuat lagu itu menjadi lagu favorit tersendiri bagi sang putri.

“Ahra-ya…” panggil sang ibu pada putrinya, Yoo Ahra.

“Ya, Ibu?”

Telunjuk sang ibu menunjuk ke arah dua bintang yang paling bersinar di antara bintang-bintang lainnya di atas sana, bintang mereka. “Jika suatu saat nanti ibu harus pergi, Ibu akan menjadi bintang itu dan akan tetap menjaga Ahra dari atas sana.”

“Ibu akan menjadi bintang yang paling dekat dengan bintang kecil Ahra, sehingga Ibu akan selalu berada di samping Ahra kapanpun itu. Ahra tidak perlu khawatir. Ahra mengerti?” lanjutnya.

Hanya tinggal berdua di rumah sederhana bersama sang ibu sejak dilahirkan, Ahra tidak mempunyai siapapun lagi selain ibunya. Walaupun rasanya begitu menyedihkan, gadis kecil itu tak mau menangis di depan sosok wanita yang telah berusaha melahirkannya ke dunia dan merawatnya sampai detik ini. Sebaliknya, gadis manis itu justru menguntai sebuah senyuman yang takkan pernah ibunya lupakan.

.

.

.

[Seoul, Mei 2034]

Meski 12 tahun telah berlalu sejak malam itu, Ahra masih sangat menyukai lagu ‘Twinkle Twinkle Little Star’. Di bingkai jendela kamarnya yang tidak pernah berubah, Ahra terduduk, namun kali ini sendirian. Ibunya telah lama meninggal dunia, menjadikannya sebatangkara untuk bertahun-tahun lamanya.

Setiap kali merasa sedih karena rasa kesepian, gadis kecil yang kini sudah tumbuh menjadi remaja 17 tahun berparas cantik itu selalu ingat perkataan ibunya. Ia percaya, sang ibu pasti telah menjadi bintang dan mengawasinya dari atas sana.

Twinkle, twinkle, little star, how I wonder what you are…” tangannya terangkat ke udara, hendak menggapai bintang di langit sana. Suaranya bergetar seiring dengan tenggorokannya yang tercekat karena menahan tangis.

Up above the world so high… like a… diamond in the sky.

“Ibu, kenapa bintang ibu meredup? Ahra tidak sedih kok! Ibu jangan sedih! Ahra tidak apa-apa, sungguh!”

Lain di mulut lain di hati. Ahra tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Ia kesepian, sangat kesepian. Saat hari berganti tengah malam nanti, ia akan merayakan ulang tahunnya, sendirian lagi.

“Ahra tidak mau sendirian, ibu.”

Tanpa gadis itu ketahui, bintang kecilnya jatuh ke bumi sesaat setelah ia berkata tak mau sendirian lagi.

Wangi masakan bersemerbak dan sampai ke indera penciuman Yoo Ahra. Gadis berambut panjang terurai itu akhirnya turun dari bingkai jendelanya, mengambil langkah menelusuri asal wangi sup rumput laut tersebut.

Gadis itu terpaku di ambang pintu kamarnya yang memiliki akses langsung menuju dapur dan ruang makan. Seorang pria bersurai hitam tampak sibuk mengaduk-aduk masakan dan mencicipinya berkali-kali. Kaos hitam lengan pendek dan celana olahraga berwarna senada yang ia kenakan begitu kontras dengan warna kulitnya yang seputih susu.

“Oh? Kau pasti yang bernama Yoo Ahra, benarkan?” tanya pria itu setelah menyadari kehadiran Ahra di belakangnya. “Duduklah! Duduklah! Supnya akan matang sebentar lagi!”

Ahra masih tak sanggup berkata-kata, tak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri. Namun, pria berparas tampan itu kemudian menariknya untuk duduk manis di meja makan.

“Kau siapa? Kenapa kau tahu namaku? Kenapa kau bisa ada di rumahku?”

Pria yang masih berdiri di depan kompor itu terdiam untuk sesaat.

“Aku orang yang diamanatkan oleh ibumu untuk menemanimu. Kau bilang kau tidak mau sendirian bukan? Permintaan itu langsung dikabulkan! Jeng! Jeng! Jeng! Aku ada di sini bersamamu!”

Pria itu menaruh sup buatannya ke meja makan, mempersiapkan mangkuk serta sendok untuk si gadis cantik bernama Yoo Ahra yang sedang berulang tahun tepat ke-17.

Saengil chukhahamnida! Saengil chukhahamnida! Saranghaneun uri Ahra! Saengil chukhahamnida! Yay! Yay! Yay!

Ahra menatap pria tak dikenalnya itu tanpa berkedip. Kedua bola mata milik pria itu terlihat seperti galaksi yang begitu luas dipandang. Bibirnya berwarna merah muda tak kalah dengan bibir milik Ahra. Hidungnya mancung, surai hitamnya memberikan kesan seksi tersendiri.

“Hei! Kau sudah buat permohonan? Ya, walaupun tidak ada kue bolu untuk kita potong dan juga lilin untuk kau tiup, membuat permohonan itu harus!” ujarnya bernada sedikit menggurui.

“Aku tidak mau sendirian lagi…” gumam Ahra. Airmata menggenang di sudut matanya.

Oppa, siapa namamu?”

“Junmyeon! Kim Junmyeon!”
Ibu… terimakasih.

.

.

.

Sinar mentari pagi membangunkan Ahra dari tidur nyenyaknya. Sosok yang pertama kali ia lihat saat matanya terbuka sempurna ialah Kim Junmyeon yang sedang duduk di samping tempat tidurnya sambil bertopang dagu memandanginya.

“Akhirnya kau bangun juga!”

Oppa tidak tidur?” tanya Ahra seraya mengucek mata.

Pria itu menggeleng, “Aku tidak perlu tidur, tidak perlu makan, dan tidak perlu melakukan hal-hal yang biasa manusia lakukan.”

“Ha?! Kenapa begitu?!”

PLETAK! Jitakan hangat berhasil mendarat dengan mulus di kepala Ahra hingga siempunya kepala meringis kesakitan.

“Kau lupa? Aku inikan bintang!”

Tidak mau kena jitak lagi, Ahra mengangguk pasrah. “Jadi itu benar. Kukira Oppa hanya membual.”

“Sudah! Sudah! Bukannya kau harus sekolah ya?”

“Ah iya! Benar juga! Aku bisa kesiangan!”

Junmyeon tertawa melihat Ahra heboh sendiri. Gadis itu berlari ke sana kemari untuk mencari barang-barang keperluan sekolahnya. Dengan rambut yang dibiarkan terurai, gadis itupun akhirnya berangkat ke sekolah. Sepanjang jalan, Ahra menahan tawanya, menyadari kalau Kim Junmyeon mengikutinya dari belakang.

Oppa~” Ahra tak bisa lagi menyembunyikan tawanya. Junmyeon menghampirinya dengan senyuman yang lebar.

“Kenapa mengikutiku diam-diam eoh?” tanya gadis itu dengan tatapan penuh selidik.

“Supaya kau merasa senang dua kali lipat! Kalau aku mengantarmu begitu saja kan akan biasa-biasa saja.”

Pipi Ahra memerah. Ia tak menyangka bahwa memiliki seseorang di sampingnya lagi setelah sekian lama ternyata semembahagiakan ini. Junmyeon menggandengnya, membuat ia tak lagi merasa malu untuk bermanja-manjaan di lengan Junmyeon.

Oppa, aku masuk dulu, ya?”

Junmyeon mengangguk. “Belajar yang benar ya, Yoo Ahra!”

Ahra dan Junmyeon terpisah di gerbang sekolah. Ahra masuk ke sekolahnya dan menjalani kesibukan sekolahnya seperti biasa. Tapi yang tak biasa dari seorang Yoo Ahra hari ini adalah senyuman yang tak pernah pudar dari wajah cantiknya. Padahal belum tepat sehari ia memiliki Junmyeon di sampingnya, tapi rasanya ia sudah mengenal Junmyeon sejak lama sekali.

Gadis itu berlari-lari semangat keluar kelas saat bel pulang akhirnya berbunyi. Rupanya ia sudah sangat tidak sabar untuk bertemu pria berlensa mata galaksi tersebut.

“Yak! Yoo Ahra!”

Oppa!” Ahra melambaikan tangannya di udara. Junmyeon masih di tempatnya, menunggu tanpa sedikitpun berniat jauh dari radar Yoo Ahra.

“Kita pulang sekarang?” tanya Junmyeon.

Ahra menggeleng sembari mengulum senyum. “Ayo kita pergi jalan-jalan ke banyak tempat! Sudah lama sekali sejak ibu meninggal, aku tidak pernah menghabiskan waktuku di luar rumah lagi.”

Oppa mau kan menemaniku?”

Pria itu mengangguk setuju, “Ayo kita pergi ke manapun kau mau!”

Ahra dan Junmyeon menghabiskan waktu mereka dengan berjalan-jalan ke berbagai tempat di pusat kota. Jika dilihat dari sudut pandang orang lain, mereka akan terlihat seperti pasangan muda yang sedang berkencan. Setiap detiknya tak pernah mereka lewatkan untuk tertawa bersama sambil saling menggenggam erat.

“Ahra-ya… apa kau punya uang? Ada barang yang ingin sekali kubeli. Aku inikan bintang, jadi aku tak memiliki uang sepeserpun hehe.” Ucap Junmyeon malu-malu.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya. Benar juga, ia dan Junmyeon bukan pasangan yang sedang berkencan, karena jika mereka berkencan, seharusnya Junmyeonlah yang paling banyak mengeluarkan uang.

Oppa, katanya kau ini bintang? Kenapa saat siang hari kau tidak menghilang? Bintang kan tidak pernah muncul di siang hari.”

“Memangnya siapa yang mengatakan bintang bisa menghilang di siang hari?”

“Huh?”

“Bintang itu tidak pernah menghilang dari langit bahkan jika langit tak lagi gelap, Ahra-ya. Mereka terus ada jauh di atas sana. Itulah mengapa ibumu tidak pernah absen menjagamu.” Jelas Junmyeon, serius.

Ahra meremas ujung rok seragamnya, “Kalau begitu, Oppa tidak akan pernah menghilang dariku kan?”

“Tentu saja!” jawab pria itu cepat. Tangannya mulai menadah, “Sekarang, mana?”

Raut Ahra seketika berubah datar. Pria itu tidak lupa urusan uang ternyata.

“Tunggu di sini! Aku akan segera kembali!” Pria itu langsung berlari setelah Ahra memberinya  beberapa lembar won.

.

.

.

“Ternyata benar, bintang kecilku tidak ada di atas sana.”

Dalam rengkuhan hangat Junmyeon, Ahra bersandar begitu nyaman di dada pria itu.

“Tapi bintang kecilmu ada di sini.” Balas Junmyeon lembut.

Ahra menoleh menatap Junmyeon, sementara yang ditatap hanya tersenyum lemah. Raut wajah pria itu kentara sekali menunjukkan ekspresi lelah yang entah apa penyebabnya. Padahal saat bermain kejar-kejaran di tepi Sungai Han sore tadi, ia tak terlihat ngos-ngosan sama sekali.

Oppa, apa kau sakit?” tanya Ahra, khawatir.

Bukannya menjawab, pria itu malah tertawa.

“Ih! Aku serius!”

“Aku tidak mungkin sakit, Ahra-ya. Aku inikan hanya sebuah bintang.”

Ahra masih mengerutkan keningnya, tak yakin. Namun Junmyeon kemudian menekan-nekan kening Ahra dengan telunjuknya agar tak berkerut lagi.

“Mungkin aku hanya kehilangan energiku.”

“Kehilangan… energi?”

Pria itu mulai menjelaskan bagaimana bintang bisa kehilangan energinya. Dalam kasus Junmyeon, pria itu melarang keras Ahra untuk jatuh cinta padanya. Alasannya karena tak lain perasaan Ahra pada Junmyeon akan membuat Junmyeon kehilangan banyak energi. Semakin dalam perasaan Ahra pada Junmyeon, maka akan semakin besar energi yang diserap Ahra dari tubuh Junmyeon.

“Jika itu terjadi, mungkin aku tidak akan pernah bisa bersinar lagi.” lanjut pria itu.

Ahra masih terdiam dengan menundukkan kepala. Perlahan tapi pasti, kedua bahunya bergetar. Gadis itu menangis di depan Junmyeon yang jelas tahu alasan dibalik linangan airmatanya.

“Jadi… aku tidak bisa mencintaimu?” tanya Ahra di sela-sela airmatanya yang terus berderai, sementara kepalanya masih enggan untuk kembali tegak.

“Kenapa harus ada cerita menyedihkan seperti itu? tak bisakah… tak bisakah kita membuat akhir yang berbeda saja? Kita yang saling mencintai tanpa takut salah satu dari kita akan menghilang, tak bisakah seperti itu saja?”

Junmyeon tersenyum getir. Sayangnya ia bukan Tuhan yang mampu menentukan segalanya. Ia hanya seorang manusia yang pernah hidup lalu meninggal dan menjadi sebuah bintang. Ia tidak memiliki daya apa-apa untuk mengubah takdir.

Ahra akhirnya menegakkan kepalanya, menatap Junmyeon. “Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak tahu kalau ternyata bersamamu sebentar saja bisa membuatku langsung jatuh cinta. Katakan apa yang harus kulakukan, Kim Junmyeon!”

“Aku juga.”

“Huh?”

“Apa yang harus kulakukan kalau nyatanya aku juga mencintaimu?”

.

.

.

♫♫ Twinkle, twinkle, little star,

How I wonder what you are.

Up above the world so high,

Like a diamond in the sky.

Twinkle, twinkle, little star,

How I wonder what you are! ♫♫

Di bawah langit malam, Ahra duduk di atas hamparan rumput halaman belakang rumahnya, bersenandung seorang diri. Tak jauh di belakangnya, tanpa ia sadari, Junmyeon tampak menggenggam sebuah headphone berwarna putih dengan gambar bintang berwarna merah muda.

Twinkle, twinkle, little star, how I wonder what you are…” Junmyeon melangkah perlahan mendekati Ahra yang masih terdiam di posisinya. Suara mereka berpadu menjadi satu dengan merdunya.

Up above the world so high, like a diamond in the sky.

Saat Junmyeon tepat berada di belakang Ahra, pria itu memasangkan headphone yang dibelinya tadi siang ke telinga Ahra. Ahra menenggakkan kepalanya untuk melihat wajah Junmyeon, dan di saat itu pula, Junmyeon mencium bibir gadis itu.

♫♫ Twinkle, twinkle, little star,

How I wonder what you are.

Up above the world so high,

Like a diamond in the sky.

Twinkle, twinkle, little star,

How I wonder what you are! ♫♫

Ciuman Junmyeon membawa Ahra ke dalam bayangan masa lalu di mana dirinya bahkan belum terlahir ke dunia ini. Dalam bayangannya, Ahra melihat Junmyeon bersama sosok familiar dalam hidupnya sedang berkencan di sebuah taman. Gadis cantik berambut panjang yang terkuncir rapi itu, Ahra yakini dengan sangat sebagai sang ibu di usia yang masih sangat muda, Yoo Ahreum.

[Seoul, November 2016]

“Junmyeon-ah, aku punya sesuatu untukmu.” Ahreum memberikan kotak kecil berwarna merah muda yang sejak tadi digenggamnya pada Junmyeon.

“Apa ini?”

Ahreum mengulum senyumannya, “Buka saja.”

Sesuai perintah Ahreum, pria itu membuka kotak tersebut. Sebuah testpack bergaris dua yang menunjukkan bahwa pemiliknya positif hamil. Binar bahagia yang dinantikan Ahreum akhirnya muncul juga di wajah sang kekasih.

“Kau hamil?” tanya Junmyeon. Pria itu masih berusaha mengontrol rasa bahagianya.

Ahreum mengangguk, mengiyakan pertanyaan pria itu. “Sudah 3 bulan!”

Junmyeon menarik tubuh Ahreum ke dalam pelukan eratnya. Mereka larut dalam kebahagiaan yang tak dapat lagi diungkapkan dengan kata-kata. Namun ternyata kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Keluarga Junmyeon yang kaya raya menentang rencana pernikahan mereka. Bagi keluarga Junmyeon, menikahkan putera semata wayang mereka dengan seorang gadis miskin yang hidup sebatangkara hanya akan membuat keluarga terhormat mereka menanggung malu.

“Aku akan tetap menikahimu! Tidak peduli keluargaku menentangnya atau tidak! Aku tidak akan membiarkanmu menggugurkan anak kita!” ucap Junmyeon sembari memegang kuat kedua bahu Ahreum.

Gelengan lemah Ahreum seketika meruntuhkan kepercayaan diri pria itu. Mungkin ia sudah terlalu lelah menghadapi caci maki keluarga Kim padanya.

“Tidak ada alasan bagiku untuk menggugurkannya. Tapi bagimu, kau memiliki berjuta alasan untuk meninggalkanku. Pernikahan itu… mari kita lupakan saja.” 

[Seoul, Mei 2017]

Rencana Ahreum dan Junmyeon menghabiskan malam pergantian tanggal 21 menjadi 22 yang tak lain adalah tanggal ulang tahun Junmyeon harus pupus saat itu juga. Tepat saat Ahreum menanti kedatangan Junmyeon di tepi jalan di taman kota, kontraksi mendera perut besarnya. Wanita hamil itu langsung dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani proses persalinan.

Junmyeon yang mendapat kabar tersebut sedikit terlambat pun kemudian mengambil langkah seribu, berlari secepat ia bisa dari taman kota menuju rumah sakit tempat Ahreum kini tengah berjuang melahirkan bayi mereka.

Namun rupanya, takdir tak pernah berpihak pada dua insan itu. Tak berapa lama setelah dilahirkan di tanggal 22, bayi Ahreum harus rela menjadi yatim bahkan sebelum ia dapat bertemu dengan ayahnya. Junmyeon meninggal karena kecelakaan, tubuh pria itu terlempar beberapa meter setelah dihantam sebuah truk yang melaju kencang. Kabar duka itu seketika mampu membuat Yoo Ahreum merasa dirinya hampir gila dan ingin mati juga. Tapi tangisan keras bayinya kemudian menyadarkan Ahreum kalau dirinya tak boleh bersikap egois. Setelah menjadi yatim, apa ia tega membiarkan bayinya menjadi yatim piatu?

“Bayi anda cantik sekali. Mau diberinama siapa?” tanya seorang suster pada Ahreum yang tengah bersandar di ranjangnya.

“Kim…”

Cukup lama suster itu menunggu kelanjutan nama yang diberikan ibu dari bayi itu. “Kim? Kim apa?”

Ahreum menggelengkan kepalanya cepat, “Yoo… Yoo Ahra.”

Airmata Ahra mengalir deras dari pelupuk matanya. Lagu ‘Twinkle Twinkle Little Star’ masih terputar berulang-ulang di headphone pemberian Junmyeon. Suara Junmyeon yang awalnya bersatu padu dengan suaranya kini tak terdengar lagi. Ahra membuka matanya, kepalanya yang masih menengadah ke atas membuatnya bisa melihat jelas kalau bintangnya telah kembali ke atas sana berdampingan dengan bintang sang ibu.

“Ibu… jadi Ibu mengirimkan Ayah pada Ahra?” Ahra menatap bintang ibunya. Tatapannya kemudian beralih ke bintang kecilnya, bintang sang ayah.

“Ayah… maafkan Ahra! Ahra janji Ahra tidak akan jatuh cinta pada Ayah, sungguh Ayah! Ayah, Ahra mohon jangan tinggalkan Ahra lagi! Ahra mohon, Ayah…”

Mungkin itulah alasan mengapa Ahra dan Junmyeon tidak bisa saling mencintai. Ahra adalah putri Ahreum, dan Junmyeon adalah ayahnya. Mungkin itulah alasan mengapa Junmyeon hadir di hari ulang tahun Ahra. Momen Junmyeon yang tak dapat menemui Ahra saat baru lahir ke dunia kemudian terganti dengan dipertemukannya mereka kembali di ulang tahun Ahra yang ke-17. Baik Ahra maupun Junmyeon, keduanya sama-sama tak tahu kalau ternyata mereka terikat seerat itu. Baik Ahra maupun Junmyeon, keduanya tidak bisa membuat akhir cerita mereka sendiri.

“Maafkan Ahra, Ayah…”

MY TWINKLE LITTLE STAR –END.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s