[EXO Fanfiction] STRAWBERRY KISS -Episode 5 : The Fifth Semester (1/2) B

STRAWBERRY KISS

A fanfiction by AYUSHAFIRAA

`Starring Oh Sehun, Kim Yoojung as Seol HanaPark Chanyeol.`

`Supported by Ryu Sujeong as Shin HeeraByun Baekhyun, Kang Mina as Choi Hyunhae, Kim Dahyun as Lee Haejoo.`

|| Hurt/Comfort, Romance, School-life ||

// Teen // Chaptered //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Judul terinspirasi dari salah satu merek permen :v Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

© AYUSHAFIRAA, 2016. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Special appearance :

Kim Junmyeon as Teacher Kim

|| Playlist : First Kiss (1/2)First Kiss (2/2)Second Chance (1/2)Second Chance (2/2)The Third Person (1/2)The Third Person (2/2)The Fourth Reason (1/2)The Fourth Reason (2/2), The Fifth Semester (1/2) A ||

Now Playing

Episode 5 : The Fifth Semester (1/2) B

♥♥♥

“Aku takkan pernah membiarkanmu terluka, bahkan jika aku harus terluka sendirian.”

“Sudah kukatakan sebelumnya, aku mencintaimu, Seol Hana.”

Di tangga darurat, Hyunhae terduduk sendirian. Airmata mengalir di pipinya tanpa diminta. Masih jelas terngiang di telinganya kata-kata puitis penuh arti dari mulut seseorang yang baru saja datang ke kehidupannya pada seorang gadis yang tak lain merupakan sahabatnya sendiri sejak bertemu di sekolah menengah pertama. Seringkali ia menemukan dirinya membenamkan kepala di antara kedua lututnya yang ia rengkuh dalam pelukan untuk menyembunyikan cairan bening yang seakan tak ada habisnya keluar dari pelupuk mata. Namun sayangnya semua itu tidak bisa mengubah kenyataan yang telah terjadi. Seberapapun ia menangisi kisah cinta tak terbalasnya pada Oh Sehun, kisah itu tidak akan pernah berubah menjadi happy ending bak sebuah dongeng.

Langkah Lee Haejoo akhirnya berhenti juga setelah lelah berlari mencari sosok sahabat yang sudah seperti belahan jiwa baginya. Sebuah pesan bernada putus asa dari Choi Hyunhae jelas membuatnya kalap. Tapi untungnya kini ia bisa bernafas lega, pikiran aneh seperti melakukan percobaan bunuh diri hanya berakhir menjadi pikiran bodohnya belaka. Karena kenyataannya, sahabatnya yang satu itu tak pernah berpikiran pendek.

“Hyunhae-ya…”

“Ah? Haejoo-ya, sejak kapan kau berdiri di sana?” tanya Hyunhae. Gadis itu sibuk mengelap sisa-sisa ingus serta airmatanya.

“Apa yang membuatmu bersedih sampai seperti ini, pabboya?!” Haejoo duduk di samping Hyunhae. Melihat sahabatnya tampak begitu menyedihkan entah karena apa membuat batin Haejoo ikut merasa terluka.

Hyunhae menatap sendu ke arah sahabat kecilnya, “Aku menyukai Sehun, Haejoo-ya… tapi… tapi Sehun menyukai Hana. Apa yang harus kulakukan sekarang, Lee Haejoo?”

“Bodoh!” Haejoo menarik Hyunhae ke dalam pelukannya, mencoba memberikan ketenangan dengan mengusap-usap lembut punggung sahabatnya itu.

“Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa bersahabat dengan Hana lagi? bagaimana kalau nanti aku akan membencinya? Aku jahat sekali, Haejoo-ya. Aku jahat sekali pada Hana. Aku takut aku akan membencinya hanya karena dialah yang Sehun cintai, bukan aku.” tangis Hyunhae pecah. Di saat orang lain mungkin mengutamakan perasaannya sendiri jika berada di posisi Choi Hyunhae saat ini, gadis itu justru lebih mengkhawatirkan masa depan persahabatannya dengan Seol Hana. Ia ketakutan menjadi sosok antagonis yang mungkin akan menyakiti sahabat-sahabatnya sendiri nantinya.

“Tak bisakah kau menjadi kebanyakan gadis normal di luar sana saja, Hyunhae-ya? setidaknya, dengan menjauh dari sumber sakit hatimu mungkin akan membuatmu merasa lebih baik.”

Hyunhae menggeleng, “Aku tidak bisa! Aku tidak bisa membiarkan diriku menjauh dari Seol Hana begitu saja, Haejoo-ya! sama seperti dirimu, Seol Hana juga masih dan akan tetap selamanya menjadi sahabatku.”

“Kalau begitu, satu-satunya cara yang tersisa adalah kau harus melupakan perasaanmu pada Oh Sehun.” saran Haejoo. Kebetulan sekali saat itu otaknya tidak sengklek seperti biasanya. “Tidak usah terlalu terburu-buru, pelan-pelan saja, Hyunhae-ya. Aku tahu kau pasti bisa melalui ini semua demi persahabatan kita bersama Hana, tiga telur jjang!~”

.

♥♥♥

.

“Apa… aku sudah terlambat?” tatapan sendu Park Chanyeol tertuju pada netra cokelat milik Seol Hana. Tanpa perlu bertanya apa maksudnya, Hana sudah tahu jelas ke mana arah pembicaraan lelaki itu.

Di atap rumah sakit yang bercahayakan sinar rembulan dan sedikit remang-remang lampu penerangan, Hana berdiri di hadapan Chanyeol yang tampak menunggu-nunggu jawaban atas pertanyaannya barusan. Tak secepat itu untuk memberi jawaban tepat dari pertanyaan sulit. Hana setia menanti lelaki itu sejak lama, namun kemudian seseorang dari masa lalunya muncul dan menyatakan cinta lebih dulu padanya, dan sekarang lelaki itu baru bertanya apa lelaki itu sudah terlambat?

“Ya,” Hana mengangguk. Chanyeol terdiam untuk sesaat.

Gadis itu dapat menangkap raut kecewa yang tersirat di wajah lelakinya, matanya berkaca-kaca sementara bibirnya tampak menunjukkan reaksi berlawanan.

“Maafkan aku, Seol Hana.”

“Kenapa Oppa harus selalu berucap maaf padaku?”

“Karena aku tidak pernah bisa menyatakan perasaanku yang sejujurnya.” Chanyeol berusaha keras untuk tetap beradu pandang dengan Hana, namun entah kenapa ia menjadi tak mampu melakukan hal semudah itu lagi. Ia menunduk mengalihkan arah pandangnya ke lantai tempat ia berpijak, namun justru hal itulah yang memicu airmatanya jatuh tak tertahankan. “Aku selalu menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku, tapi saat aku melihat Sehun dengan mudahnya menyatakan perasaannya padamu, aku tersadar, waktu yang tepat tidak akan pernah ada jika bukan kita sendiri yang menciptakannya.”

“Aku mencintaimu, Hana. Sungguh, aku mencintaimu. Aku tahu ini sangatlah terlambat, tapi setidaknya aku berhasil memberitahumu tentang bagaimana perasaanku selama ini terhadapmu.” Ucap lelaki itu selanjutnya sambil berusaha tegar dibalik senyumannya.

Melihat senyuman tulus terukir di bibir Chanyeol saat ini terasa begitu menyakitkan. Sekuat tenaga, Hana membendung airmatanya. Hatinya bagai tercabik-cabik merasa dipermainkan oleh dua lelaki terdekat di hidupnya. Ia harus bagaimana? Tak pernah berpikirkah mereka bagaimana perasaannya berada di posisi seperti ini? sungguh ialah yang paling tersakiti.

“Hana-ya… Apa kau masih ingat akan janjimu saat kita masih kecil dulu?”

“Ciuman pertamaku akan selalu kujaga untukmu.” Tentu saja Hana mengingatnya. Tak ada satupun kenangan yang pantas Hana lupakan sejak bertemu lelaki bermarga Park itu di taman bermain 10 tahun lalu.

“Bolehkah aku mengambilnya sekarang?” tanya lelaki itu kemudian.

Hana terdiam seribu bahasa. Otaknya seolah memutar ulang adegan di mana Oh Sehun merebut ciuman pertama yang telah sepenuhnya ia jaga untuk Park Chanyeol seorang. Sekarang apa yang harus ia katakan pada lelaki itu? Kenapa hari ini datang begitu terlambat? Kenapa hari ini tidak pernah datang ketika hanya ada Park Chanyeol tanpa Sehun maupun Heera di hidupnya?

Chanyeol mengambil langkah lebih dekat, menyisakan sedikit jarak di antara mereka berdua. Hana menggeleng, tak yakin. Hana tak bisa membohongi Chanyeol begitu saja.

Oppa mianhae… aku… ciuman pertamaku… sudah-”

“Ssst!” Lelaki itu menempelkan telunjuknya di bibir Hana. “Aku sudah tahu. Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri, Sehun-lah yang mengambil ciuman pertamamu yang harusnya menjadi milikku itu.”

“Apa?” Hana menatap Chanyeol tak percaya. Lelaki itu sudah mengetahui semuanya, tapi lelaki itu bersikap seolah tak pernah tahu apa-apa saat bersamanya. Kenapa, Park Chanyeol?!

Lelaki tinggi itu membungkukkan sedikit badannya, perlahan tapi pasti permukaan bibirnya menyentuh bibir lembab milik Hana. Hana memejamkan kedua matanya, mencoba merasakan bagaimana bibir tebal Chanyeol yang selama ini ia inginkan memperlakukan bibirnya dengan lembut tanpa terkesan memaksa sedikitpun. Setelah sekian lama ditahan, airmata Hana akhirnya mengalir juga membasahi pipinya. Kehangatan Chanyeol menjalar ke seluruh tubuhnya lewat ciuman malam itu, mengalahkan rasa dingin udara sekitar yang sedaritadi menusuk pori-porinya.

Chanyeol menatap wajah cantik Hana sesaat setelah ia mengakhiri ciuman mereka. Mata gadis itu masih terpejam seolah tak mau melupakan perasaan bergejolak saat bibir Chanyeol menyentuhnya.

“Hana-ya…”

Dua insan itu kini saling bertatap dengan manik mereka yang sama-sama basah oleh airmata.

“Bagaimanapun… bagiku ciuman tadi tetaplah menjadi ciuman pertama kita. Dan aku menyukainya.”

Chanyeol kembali mengecup bibir Hana. “Terimakasih sudah berjanji untukku. Terimakasih sudah mengagumiku selama 10 tahun terakhir ini. Aku mencintaimu.”

Malam itu, Hana dan Chanyeol berciuman untuk yang pertama kalinya, juga berpelukan seerat pelukan yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Malam itu, penantian Hana pada seorang Park Chanyeol berakhir, tapi tidak dengan penantian Chanyeol pada seorang Seol Hana. Hana memilih Sehun, dan mungkin memang sudah seharusnya seperti itu sejak awal.

.

♥♥♥

.

Suasana kantin sekolah di jam istirahat terlihat ramai seperti biasa. Sebagai pajak karena telah resmi memacari sang kapten tiga telur, Hyunhae dan Haejoo menagih traktiran makan siang mereka hari ini pada Oh Sehun. Sambil menunggu pesanan makan siang mereka berempat, Hana terus membuat gadis-gadis di sekitarnya merasa iri dengan cara memperlakukan Sehun semesra mungkin. Maklum saja, menjadi primadona di sekolah itu cukup untuk membuat kabar kencannya menyebar dengan cepat hingga ke seluruh penjuru sekolah. Hebohnya lagi, justru karena siswa baru itulah yang dipilih Hana, bukan si siswa idaman yang sudah menjadi rahasia umum kalau Hana mengaguminya sejak kecil.

“Hana-ya, berhentilah bersikap seperti itu.” ucap Sehun, malu-malu. Beberapa saat sebelumnya, Hana mencoba memanas-manasi para siswi penggemar kekasihnya itu dengan mengusap-usap wajah tampan kekasihnya, mengelap keringatnya, dan bersandar-sandar manja di bahu lebarnya.

“Kenapa aku harus berhenti? Aku kan pacarmu sekarang.” Balas Hana, sedikit sombong.

Aigoo, aigoo! Kurasa aku bisa kenyang duluan melihat tingkah kalian!” nyinyir Hyunhae, merasa mau muntah.

“Kapan ya aku bisa sepertimu, Hana-ya? Sejak kecil dekat dengan Chanyeol, sudah besar berkencan dengan Sehun. Lalu, dengan lelaki tampan mana lagi kau akan menikah? Byun Baek?!” tanya Haejoo yang seketika mampu membuat Hana dan Sehun tersedak bersamaan setelah mendengar nama terakhir yang disebutkannya.

Entah datang dari mana, sosok lelaki tampan yang terakhir disebutkan Haejoo tiba-tiba saja muncul sembari berkacak pinggang. Di sebelahnya, Chanyeol sudah siap-siap menahan tawa.

“YAK, SEOL HANA! SETERKEJUT ITUKAH KAU MENDENGARKU DISEBUT TAMPAN? MEMANGNYA KAU TIDAK MAU MENIKAH DENGANKU?! BIAR TUBUHKU MUNGIL BEGINI, AKU TAK KALAH POPULER DIBANDING CHANYEOL TAHU!”

Hana mengangguk-anggukkan kepalanya. Gadis itu sepertinya mulai menganut kata-kata ‘Iyain aja biar cepet.’. tapi justru karena anggukannya itulah, kini ia mendapat sorotan tajam baik dari netra Sehun maupun Chanyeol.

“JADI KAU MAU MENIKAH DENGANNYA?! LALU AKU BAGAIMANA?!” protes Sehun dan Chanyeol kompak. Baru kali ini mereka terlihat benar-benar sehati.

Hyunhae dan Haejoo hanya sanggup melongo melihat ketiga lelaki tampan itu sibuk memperebutkan sahabat mereka. Padahal mereka adalah dua orang yang sangat menganggur dalam hal percintaan, tapi kenapa tak ada seorangpun di antara ketiga lelaki tampan itu yang melirik mereka?

“Seol Hana benar-benar luar biasa!” puji Hyunhae dan Haejoo, bergeleng ria.

“YAK, BYUN BAEKHYUN! KENAPA KAU JADI IKUT-IKUTAN MEMPEREBUTKAN HANA?!” tanya Chanyeol, merasa dikhianati.

“Habisnya kalian kelihatan seru sekali sih! Jadi aku ikut-ikutan saja, supaya semakin seru, hehe.” Jelas satu-satunya lelaki mungil di antara mereka, nyengir kuda.

“Kalian lanjutkan saja obrolan tidak penting itu, aku mau ke toilet dulu.”

Hana pergi dari keramaian kantin sambil terus bergeleng-geleng kepala, tak begitu percaya kalau hingga saat ini ia masih dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Ini nyata. Ia memiliki teman-teman yang menyenangkan, yang mungkin tidak bisa dimiliki oleh orang lain. Ia patut bersyukur untuk itu.

Ketika Hana baru saja melangkahkan kakinya masuk ke toilet siswi beberapa langkah, kehadiran Heera yang berdiri kurang lebih dua meter di depannya mampu membuat langkah cerianya terhenti.

“Kau sudah sembuh?” mendengar Heera jatuh sakit hingga Chanyeol membopong tubuhnya ke UKS hari itu, Hana tak bisa bersikap seolah tak peduli begitu saja. Meski kenyataan bahwa gadis itu pernah beberapa kali mencoba membuatnya menderita sama sekali tak dapat dipungkiri.

Dibanding menjawab pertanyaan Hana, Heera lebih suka melangkah pergi dari gadis yang selalu membuatnya muak itu. Heera bahkan sengaja menabrakkan bahunya dengan bahu Seol Hana sampai-sampai sebuah benda yang tak diharapkan jatuh ke lantai dan tertangkap jelas oleh indera penglihatan Hana.

“Shin Heera.”

Heera berbalik. Matanya dibuat terbelalak seketika.

“Sepertinya kau tak sengaja menjatuhkan ini? benda ini milikmu?” di tangan kanan Hana, tergenggam sebuah testpack berwarna merah muda. Hasilnya menunjukkan dua garis berwarna merah.

“Kau hamil?”

Gadis bermarga Shin itu menutup pintu toilet dan mengganjalnya dengan alat pel agar tak ada lagi yang bisa masuk untuk mendengar percakapan mereka.

“Apa pedulimu aku hamil atau tidak?” kini, Heera kembali melangkah mendekat. Ia merebut testpack miliknya dari Seol Hana secara kasar. “Aku tidak butuh rasa pedulimu! Jangan pernah sedikitpun berpikir untuk mengasihaniku karena aku tidak butuh belas kasihan darimu!”

BRUK!

Hana jatuh tersungkur ke lantai, Heera yang mendorongnya. Saat langkah kaki Heera menjauhinya, ia dapat melihat begitu banyak bekas luka dan memar kebiruan di kaki jenjang gadis itu. Heera mendapat perlakuan kasar dari ayahnya sendiri, hidupnya miskin, dan sekarang ia hamil?

“Apa ini juga salahku?”

.

♥♥♥

.

Annyeonghaseyo, Sunbaenim. Bisakah aku bertemu dengan Hana Sunbae?”

Hyunhae dan Haejoo sontak berkacak pinggang, raut mereka terus menunjukkan ekspresi tak percaya pada sosok Shin Heera yang mereka anggap sangat tidak tahu malu. Heera dengan wajah polos tanpa dosanya sengaja mendatangi kelas mereka hanya untuk menemui Hana, untuk apa?

“Yak! Kau tidak perlu menunjukkan wajah menjijikkan seperti itu di depan kami! Kami sudah tahu kau ini busuk!” ucap Haejoo saking emosinya.

“Mau apa kau mencari Hana?!” tanya Hyunhae sambil menatapnya tajam.

Siswi junior itu menyunggingkan senyumnya, mencoba mengontrol emosi mengingat ia kini berada di area kelas 2.

“Apa aku harus memberitahu Sunbae sampai se-detail itu? Aku hanya ingin bertemu Hana Sunbae, bukan menghabiskan waktuku bersama orang-orang tidak penting seperti kalian.”

“APA KATAMU?! KAU INI BENAR-BENAR GADIS SIALAN TIDAK TAHU DIRI YA!”

PLAK!

“HANA-YA!”

Tamparan keras dari tangan Lee Haejoo berhasil mendarat di pipi Hana dan melukiskan bekas merah di sana. Hana melindungi Heera lagi. Selain tidak mau melihat sahabat-sahabatnya terkena masalah seperti dirinya dulu, Hana tidak mau Heera tersiksa untuk kesekian kalinya.

“Hana-ya, mianhae! Oh Ya Tuhan! Kenapa kau malah melindunginya sih?! tamparan itu lebih cocok mengenai wajah sok lugunya itu, Hana-ya!”

“Yak, Lee Haejoo!”

Haejoo terdiam, tak berani menegakkan kepalanya untuk menatap Sehun yang menatapnya penuh amarah.

“Sehun-ah, ini bukan salah Haejoo! Kau tidak bisa membentaknya seperti itu!” bela Hyunhae.

“Ada apa, Shin Heera?” tanya Hana yang sudah malas dengan semua keributan ini.

“Aku hanya ingin berbicara empat mata denganmu, Hana Sunbae.”

“Baiklah. Di mana?”

“Di atap sekolah.”

Manik Sehun memicing, “Kenapa harus di atap?”

“Sehun-ah,” Hana menatap mata Sehun, mencoba meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja. “Minta maaflah pada Haejoo. Aku ingin kalian sudah bermaafan ketika aku kembali.”

“Aku akan menemanimu.” Ucap Sehun, masih dengan raut khawatir yang sama. Namun, Hana membalas ucapannya dengan sebuah gelengan kepala.

Heera tertawa begitu lepas setibanya ia dan Hana di atap sekolah yang sepi. Gadis itu menertawai kekonyolan teman-teman Seol Hana yang terlalu berlebihan menanggapi Hana yang menerima permintaannya untuk berbicara empat mata. Langkah keduanya perlahan mendekat ke tepian pembatas. Matahari tak bersinar secerah biasanya siang itu, awan mendung sudah terlihat sejauh mata memandang.

“Kita sudah di sini. Sekarang hal apa yang mau kau bicarakan denganku?” tanya Hana to the point.

“Buru-buru sekali. Lagipula meskipun kau masuk kelas, kerjaanmu hanya tidur tanpa memperhatikan pelajaran kan? Kau tidak akan berguna di sana.”

Hana memutar bola matanya malas. “Kenapa kau tidak langsung berbicara ke intinya saja, Shin Heera?”

“Ya, aku memang hamil.” Ucap Heera memulai pembicaraan seriusnya. “Tapi aku tidak menyesal. Kau jelas sangat tahu siapa ayah dari bayiku.”

“Apa maksudmu?”

“Siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol?”

“Apa kau bilang?” tangan Hana mengepal, gemetar. Ia ingin sekali menampar keras-keras pipi gadis di hadapannya itu tapi akal sehatnya terus membujuknya untuk menahan diri.

Heera tersenyum palsu. “Kenapa kau harus terkejut? Bukankah kau juga pernah melihat videoku di kamar Park Chanyeol sehabis kami bercinta?”

“Berhentilah!” pinta Hana. Semakin Heera mengungkit-ungkit luka lama itu, semakin Hana menyakiti dirinya sendiri dengan mengingat hal-hal menyakitkan yang tak seharusnya ia ingat. Chanyeol yang hanya mengenakan baju handuk dan Heera yang kemudian ada di samping lelaki itu dengan hanya mengenakan kemeja yang kebesaran di tubuhnya, semua itu melukai Hana walaupun Chanyeol sudah memberi penjelasan padanya berkali-kali sejak hari itu.

“Kenapa? Apa kau pikir itu adalah yang pertama kalinya bagi kami? Tentu saja tidak, Seol Hana!”

“Berhenti! Kumohon berhentilah!”

GREP!

“Ohok ohok! Hee…Hee ohk! Heera…” Kedua tangan Heera mencekik leher Hana kuat-kuat hingga si pemilik leher berontak karena kehabisan nafas.

“KENAPA KAU TIDAK MATI SAJA, SEOL HANA?! KENAPA KAU SELALU MENJADI SAKSI PERTAMA PENDERITAANKU?! KENAPA KAU HARUS MENGHANCURKAN HIDUPKU?! KENAP-AKH?!”

Hana balas mencekik Heera. Kedua siswi itu saling mencekik leher satu sama lain tanpa tahu bahwa seorang siswa berkacamata tebal menyaksikan pertengkaran mereka dengan tubuh gemetar sebelum akhirnya berlari secepat yang ia bisa untuk mencari guru sebelum semuanya terlambat.

“KIM SEONSAENG! KIM SEONSAENG!”

“Ada apa? Ada apa? Kenapa kau-“

“SEOL HANA SUNBAENIM TERLIBAT PERTENGKARAN HEBAT DI ATAP! KAU HARUS SEGERA MEMISAHKAN MEREKA, SAEM!”

Tanpa ba-bi-bu lagi, Guru Kim berlari menaiki satu persatu anak tangga secepat mungkin demi mencapai lantai teratas di sekolah itu.

“SEOL HANA! SHIN HEERA! HENTIKAN!”

Namun sayangnya, teriakan Guru Kim tak mampu melerai dua siswi yang wajahnya sudah sama-sama merah padam karena masih saling mencekik itu.

Hana melepaskan cengkramannya pada leher Heera, tenaganya sudah melemah, pandangannya kabur. Dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa, gadis itu mencoba melepas cengkraman Heera pada lehernya dan mendorong tubuh Heera menjauh darinya.

GREP!

BRUK! Tanpa tahu apa yang terjadi setelahnya, Hana jatuh tergeletak tak berdaya di lantai atap. Sementara itu, Heera berpegangan erat-erat pada uluran tangan Guru Kim yang berhasil meraih tangannya.

SAEM! OHK SAEM TOLO..NGH AKU!”

“HEERA! PEGANG TANGANKU! JANGAN LEPASKAN! AKU AKAN MENARIKMU!”

Kehilangan oksigen terlalu lama membuat kepalanya terasa berputar, perlahan tapi pasti gadis itu kehilangan fokus pandangannya dan…

“HEERA!!!”

BRUK!

Guru Kim jatuh terduduk di lantai atap. Melihat muridnya sendiri terkapar dengan kepala bocor setelah jatuh dari ketinggian membuat kakinya tak mampu lagi untuk menopang berat tubuhnya. Pria itu menatap nanar tangan kanannya yang kini bergemetar hebat karena tak sanggup menyelamatkan nyawa anak didiknya sendiri.

Saem…” siswa berkacamata tebal itu melangkah menghampirinya. “Itu bukan salahmu. Hana Sunbaenim-lah yang mendorongnya. Aku melihat semuanya.”

.

♥♥♥

.

Sehun menatap wajah pucat kekasihnya yang terbaring lemah di ranjang UKS. Dokter di sekolah mereka telah memberikan upaya terbaiknya. Memar keunguan masih membekas di leher gadis itu, seolah memperlihatkan pada Sehun dan orang-orang di sekitarnya betapa keras usaha Shin Heera untuk menyingkirkannya dari dunia ini. Lelaki itu merasa benar-benar menyesal karena tak pernah tahu masalah sebesar apa yang sebenarnya dihadapi Hana selama ini.

“Heera… hentikanh… Heera…” Hana mengigau. Keringat dinginnya bercucuran. Sehun mengelap keringat dingin Hana dengan kain yang basah oleh air hangat. Perlahan, gadis itu membuka kedua matanya dan melihat airmata Sehun menetes lagi karena dirinya.

“Sehun-ah…”

“Kau tidak boleh seperti ini lagi.” lelaki itu menggenggam erat tangan Hana seakan tak mau melepaskannya untuk selamanya. “Aku tidak mau kehilanganmu.”

“Aku pikir aku akan mati. Aku pikir aku tidak akan pernah bisa melihatmu lagi. aku pikir-“

Sehun menyumpal mulut Hana dengan bibirnya, tak mau membiarkan Hana terus berucap yang tidak-tidak. Kali ini bukan ciuman 3 detik lagi. Lelaki itu mencium bibir gadisnya begitu rakus hingga gadisnya berpikir mungkin lelaki itulah yang akan membuatnya mati kehabisan oksigen.

Pipi dua insan itu merona. Baru kali ini Oh Sehun berani mengambil langkah sejauh itu untuk berciuman panas dengan Seol Hana setelah mengambil ciuman pertama gadis itu dulu hanya dengan sebuah kecupan berdurasi 3 detik.

“Sehun-ah,” Hana mengedarkan pandangannya ke sekitar UKS. “Di mana Heera?”

“Kau tidak usah mencarinya lagi, dia takkan pernah mengganggu hidupmu lagi sekarang.”

Sehun tak mau menatapnya, Hana tahu pasti ada yang janggal. “Apa yang terjadi padanya?”

“Yak, Oh Sehun! Jawab aku!”

“Yang kudengar, Guru Kim tak sengaja mendorongnya hingga jatuh dari atap. Dia meninggal dan polisi sedang memeriksa TKP-nya.”

Bagai petir di siang bolong, Hana berharap indera pendengarannya bermasalah saat itu juga. Guru-Kim-tak-sengaja-mendorongnya. Dia-meninggal. Heera? Shin Heera meninggal? Karena Guru Kim?

Hana menggeleng cepat, “Tidak! Ini tidak benar, Sehun-ah! Guru Kim tidak mungkin melakukan itu! Dia tidak bersalah!”

“Hana! Hana, tenanglah! Kumohon!”

Hana mencabut selang infus di tangannya tanpa membiarkan sang kekasih mencegahnya pergi dari ruangan tersebut. Dengan sedikit tertatih, gadis itu berlari semampunya, mencari-cari sosok Kim Junmyeon yang ia yakini tak patut disalahkan atas meninggalnya Shin Heera. Sehun tak bisa mencegah Hana karena Hana pasti akan terus memberontak jika ia tak mengijinkannya pergi. Untuk itu, Sehun mengikuti setiap langkah kekasihnya tak jauh di belakangnya.

“Eoh? Hana-ya! Syukurlah kau sudah sadar! Oh Ya Tuhan, terimakasih!” Hyunhae dan Haejoo menghambur memeluk sahabat mereka erat. Dua gadis itu bahkan menitikkan airmata mereka saking terlampau mengkhawatirkan Seol Hana.

“Hyunhae-ya, Haejoo-ya… Guru Kim? Guru Kim di mana?”

“Seol Hana?” Chanyeol mendekat hendak memeluk tubuh gadis kecilnya, namun niatnya pupus kala ia menyadari Sehun berada di belakang gadis kecilnya sebagai seorang kekasih yang menjaga gadis kecilnya dengan baik. “Senang bisa melihatmu kembali.”

Oppa… apa kau… apa kau melihat Guru Kim?” tanya Hana berlinang airmata. Netranya membulat sempurna ketika sosok yang dicarinya muncul dari balik pintu ruang guru bersama dua orang polisi di sampingnya dengan kedua tangan yang diborgol.

Saem…” cairan bening itu seakan tak pernah lelah jatuh dan membasahi pipi Hana. Guru Kim mencoba tersenyum pada Hana meski airmatanya juga ikut mengalir sama tak tertahankannya.

“Ini tidak benar! Kau sama sekali tidak bersalah! Bukan kau orangnya, Saem! Aku yakin itu!” ujar Hana bersikeras.

“Lalu siapa orangnya? Apa kau punya bukti kalau bukan aku pelakunya? Tidak kan?”

Entah kenapa, gadis itu ingin merobek mulutnya sendiri karena tak sanggup membalas pertanyaan Kim Junmyeon padanya. Polisi-polisi itu melanjutkan langkah mereka, menggiring Kim Junmyeon jauh-jauh dari hadapan Seol Hana. Siswa-siswi lain yang tidak tahu apa-apa soal hubungannya dengan Kim Junmyeon kemudian mulai menatapnya penuh kebencian.

‘Lihat itu! dia masih saja membela guru mesum si pembunuh itu!’

‘Aku tak heran kalau pernah ada gosip dia dan guru mesum itu pernah tidur bersama.’

‘Cih, dasar murahan!’

‘Kurasa jika dia hamil, dia akan bernasib sama seperti Shin Heera.’

Sehun memasangkan earphone bervolume maksimal ke telinga Hana, berusaha menghindarkan gadisnya dari omongan-omongan jahat siswa-siswi lain yang begitu menyakitkan hati. Namun kali ini, Hana melepas earphone tersebut dari kedua telinganya.

“YAK! KENAPA TAK ADA SEORANGPUN DARI KALIAN YANG MAU MEMBELANYA? DIA ITU GURU KITA! KALIAN JUGA TAHU DIA TIDAK MUNGKIN MELAKUKAN ITU! DIA MENYAYANGI KITA, KENAPA KITA TIDAK BISA MENYAYANGINYA JUGA?”

“Hana-ya, sudahlah. Semuanya pasti akan terbukti. Jika Guru Kim tidak bersalah, ia pun akan dibebaskan nantinya.” Ucap Chanyeol, menenangkan Hana.

“Tapi aku tidak menyesal. Kau jelas sangat tahu siapa ayah dari bayiku.”

“Siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol?”

“Kau…” gumam Hana.

“Ye?”

“Jelas-jelas Heera menyebut namamu sebelum dia meninggal! Bukan Kim Junmyeon, tapi Park Chanyeol! Bukan Guru Kim, tapi itu kau kan?!”

“Hana-ya…” baik Sehun, Hyunhae, Haejoo, maupun Baekhyun, mereka sama-sama tak percaya dengan apa yang baru saja gadis bermarga Seol itu katakan. Gadis itu sudah tak bisa lagi berpikir jernih hingga tak bisa menyaring perkataannya sendiri.

Mendengar Hana menuduhnya untuk hal yang tak pernah ia lakukan seumur hidup seketika mampu membuat dada Chanyeol terasa sesak. “Jadi… kau pikir akulah orangnya?”

Hana kembali terdiam. Kali ini karena dirinya tersadar bahwa perkataannya pada lelaki itu sudah kelewat batas. Anehnya, ia tak sanggup berucap maaf.

“Aku tidak tahu.”

“Hana-ya! Seol Hana!”

Sehun menahan Chanyeol untuk tidak mendekati gadisnya. “Jiwanya sedang terguncang karena kejadian tak diinginkan ini. Beri dia waktu. Dia perlu menenangkan dirinya. Aku harap kau mengerti.”

.

.

To be continued

Iklan

2 pemikiran pada “[EXO Fanfiction] STRAWBERRY KISS -Episode 5 : The Fifth Semester (1/2) B

  1. Ping balik: [EXO Fanfiction] STRAWBERRY KISS -Episode 5 : The Fifth Semester (1/2) C | AYUSHAFIRAA's Channel

  2. Ping balik: [EXO Fanfiction] STRAWBERRY KISS -Episode 5 : The Fifth Semester (1/2) D | AYUSHAFIRAA's Channel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s