Chaptered, Drama, EXO Fanfiction, Family, Friendship, Hurt/Comfort, PG-13, Romance, School Life, T

[EXO Fanfiction] STRAWBERRY KISS -Episode 5 : The Fifth Semester (1/2) D

STRAWBERRY KISS

A fanfiction by AYUSHAFIRAA

`Starring Oh Sehun, Kim Yoojung as Seol HanaPark Chanyeol.`

`Supported by Ryu Sujeong as Shin HeeraByun Baekhyun, Kang Mina as Choi Hyunhae, Kim Dahyun as Lee Haejoo.`

|| Hurt/Comfort, Romance, School-life ||

// Teen // Chaptered //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Judul terinspirasi dari salah satu merek permen :v Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

© AYUSHAFIRAA, 2016. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Special appearance :

Kim Junmyeon as Teacher Kim

|| Playlist : First Kiss (1/2)First Kiss (2/2)Second Chance (1/2)Second Chance (2/2)The Third Person (1/2)The Third Person (2/2)The Fourth Reason (1/2)The Fourth Reason (2/2)The Fifth Semester (1/2) AThe Fifth Semester (1/2) B, The Fifth Semester (1/2) C ||

Now Playing

Episode 5 : The Fifth Semester (1/2) D

♥♥♥

Chanyeol mengetuk-ngetuk dahinya dengan sebuah pena. Sorot cahaya lampu belajarnya menerangi lembar buku catatan kecilnya yang masih saja kosong. Sedaritadi otaknya berpikir keras. Ia sudah bertekad bulat untuk memecahkan kasus Heera yang sudah membuat Hana salah paham padanya dengan caranya sendiri.

“Ayo! Ayo berpikirlah, Park Chanyeol!” rutuknya, frustasi. Sedetik kemudian, bohlam di kepalanya menyala.

“Jika seseorang mempunyai masalah, kebanyakan dari mereka pasti akan mencari teman untuk mencurahkan segala permasalahan mereka.”

“Tapi setahuku, Heera tidak punya teman.” Dahi Chanyeol mengkerut, “Itu berarti, Heera tidak punya tempat curhat.”

“Selain teman. Tempat curhat selain teman.” Chanyeol menggigiti kukunya, terus berpikir.

“Orang tua,” lingkari. “Hm, buku harian? Ya, benar.” Buku harian, lingkari.

Otak Chanyeol memutar kembali kejadian kemarin saat ia mendatangi rumah Heera setelah mencari data informasi pribadi gadis itu ke pihak sekolah. Walau sempat tak diijinkan, Chanyeol mencuri-curi kesempatan untuk tetap mendapatkannya, dan alhasil ia berhasil menemui orang tua Heera.

Namun apa yang Chanyeol dapatkan di rumah sederhana bertampak depan warung soju itu sama sekali tak sesuai ekspektasinya. Orang tua Heera terutama ayahnya terlihat tak berduka atas kematian putri mereka. Dengan sogokan beberapa lembar won, ayah Heera akhirnya mau mengatakan alasannya untuk tak berduka.

“Jika dia mati, itu berarti satu beban berat telah hilang dari pundakku. Aku tak lagi harus memberinya makan untuk hidup.”

Chanyeol menggeleng cepat, mengingatnya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding.

“Sepertinya kemungkinannya kecil bagi Heera mencurahkan perasaannya pada orang tua.” Manik Chanyeol bergerak ke kanan, melihat pilihan yang tersisa. “Jadi kalau begitu, kemungkinan terbesarnya adalah…”

“BUKU HARIAN!”

.

♥♥♥

.

Hana menggenggam kuat-kuat buku harian milik Shin Heera yang diberikan Chanyeol padanya. Satu dari seratus lembar halaman buku harian yang ditunjukkan Chanyeol membuat Hana bergemetar hebat setelah membacanya.

Hari ini… aku tidak akan pernah melupakan hari ini. Hari di mana ayah membuatku semakin dekat dengan kehancuran.

Ayah menjualku demi uang yang tak seberapa besar karena tubuhku yang penuh luka bekas siksaannya sendiri. Entah apa lagi yang harus kulakukan sekarang. Aku benar-benar takut.

Mana mau seorang Park Chanyeol yang sempurna menerima gadis miskin sepertiku? Keadaanku bahkan kian diperburuk dengan diriku yang sudah tak perawan lagi. Kalau begini, bagaimana aku bisa mendapatkan hati Chanyeol?

Apa aku juga harus menyerah pada Seol Hana? Tidak! Aku tidak mau menyerah padanya!

Tapi apa yang harus kulakukan agar Chanyeol bisa menjadi milikku dengan keadaanku yang menyedihkan seperti ini?

Park Chanyeol… jika saja kau yang membeliku, aku pasti tidak akan pernah merasa menyesal telah dijual oleh ayahku sendiri.

Jika saja… kau yang membeliku, Park Chanyeol.

Chanyeol menatap manik Hana dalam-dalam, berusaha meyakinkan gadis itu kalau dirinya sama sekali tak bertanggung jawab atas kehamilan gadis yang ditemukan meninggal setelah jatuh dari atap sekolah tempo hari.

“Kau lihat ini?! ini buktinya, Hana-ya! tulisan Heera ini menjelaskan semuanya!” ucap Chanyeol menggebu-gebu. Isi buku harian itu ditulis Heera tepat sehari sebelum insiden foto Heera-Chanyeol yang menghebohkan siswa-siswi satu sekolah di media sosial juga video call yang diterima Seol Hana.

“Bagaimana buku harian ini bisa ada padamu, Oppa?” tanya Hana. Tubuh lemasnya kini bersandar pada Sehun yang berdiri tepat di sampingnya.

Setelah mendapat telepon dari Chanyeol, Hana dan Sehun langsung tancap gas menemui senior mereka itu di depan kantor polisi. Sebelum Chanyeol benar-benar menyerahkan bukti tersebut ke polisi, Hana adalah orang pertama yang harus melihatnya.

“Aku mendapatkannya saat Ayah Heera membuang barang-barang Heera ke tempat sampah.”

Chanyeol sendiri tak mengerti, kenapa di dunia ini harus ada orang tua yang tega menjual anaknya sendiri? Kenapa harus ada orang tua yang justru lebih senang melihat anaknya sendiri mati? Ayah Heera dengan mudahnya membuang barang-barang kesayangan putrinya ke tempat sampah seolah itu semua tak berarti lagi. Chanyeol benar-benar menyesal mengetahui kemalangan ini terjadi menimpa Heera ketika semuanya justru sudah terlambat. Meskipun ia tak bisa membalas perasaan Heera padanya, seandainya saja ia tahu lebih awal, ia sangat berharap bisa membantu gadis itu keluar dari segala kesulitan hidup.

“Sehun-ah… apa yang harus kulakukan? Apa aku bisa pergi ke rumah duka sedangkan aku tahu ayah Heera pasti ada di sana tanpa merasa berdosa sedikitpun?! Apa yang harus kulakukan, Sehun-ah?!” ucap Hana meluapkan rasa sesak di dadanya.

Sehun kembali memberi gadisnya sebuah pelukan menenangkan. Jiwa Hana menjadi lebih mudah terguncang sejak Heera pergi untuk selamanya dan masalah yang seolah tak pernah berhenti datang silih berganti ke dalam hidupnya.

“Aku tidak akan membiarkanmu menyiksa dirimu sendiri dengan bertemu ayah Heera, Hana-ya. Sebaiknya kita kembali ke rumah sakit, aku tak bisa melihatmu seperti ini.”

“Kurasa Sehun benar, Hana-ya. Kau terlihat masih belum pulih betul, maafkan aku.” tambah Chanyeol.

Hana menggeleng, “Aku justru berterimakasih padamu, Oppa. Dengan bukti itu, kita bisa membebaskan Guru Kim kan?”

Sehun dan Chanyeol kompak terdiam. Keduanya tahu bukti itu saja tak cukup untuk meringankan hukuman yang akan diterima guru mereka itu namun Hana masih saja berharap lebih.

“Eoh? Hana-ya, Sehun-ah, Chanyeol Sunbae?”

Bersama sang ayah, Hyunhae berjalan menghampiri ketiganya. Hyunhae dan ayahnya tampak baru saja keluar dari kantor polisi dan sedikit terkejut mendapati kehadiran mereka bertiga di sana.

“Ah, Ayah Hyunhae, annyeonghaseyo!”

“Sedang apa kalian di sini?” tanya Ayah Hyunhae setelah menerima salam dari Hana, Sehun, dan Chanyeol.

“Aku membawa bukti yang kurasa bisa meringankan hukuman Guru Kim, Ahjussi. Bukan Guru Kim yang memperkosa Heera hingga hamil, tapi Heera telah dijual oleh ayahnya sendiri.” Jelas Chanyeol.

Mwo?”

Terkejut. Ya, begitulah reaksi yang ditunjukkan oleh ayah dan anak itu. Mereka sama-sama tak habis pikir dengan pemikiran Ayah Heera yang bisa sebegitu keterlaluannya.

“Apa bukti yang kau bawa, Nak?”

“Buku harian ini, Ahjussi.” Chanyeol menyerahkan buku harian Heera pada Ayah Hyunhae, ia sudah tahu sejak awal kalau Ayah Hyunhae-lah yang menangani kasus ini secara langsung.

Ahjussi, kumohon bebaskan Guru Kim! Aku yakin dia tidak bersalah! Dia pasti telah dikambing hitamkan oleh pelaku aslinya!” ucap Hana.

Hyunhae yang mendengar ucapan Hana itu hanya bisa menahan emosinya yang menggebu, ingin sekali ia membalas ucapan Hana dengan kata-kata ‘Ya, dia memang telah dikambing hitamkan, olehmu dan ayahmu yang berkuasa itu.’

.

♥♥♥

.

Hana kembali memeluk lututnya. Beberapa menit yang lalu, perawat sudah menyuntikkan cairan dan menyuruhnya meminum obat agar dapat beristirahat. Di saat yang sama, Sehun pamit untuk pulang setelah seharian menemaninya. Bagaimanapun, lelaki itu harus sudah siap kembali ke sekolah esok hari.

Dilihatnya, sang ibu yang setia mendampinginya sudah terlelap tidur lebih dulu, sedang sang ayah tercinta sedaritadi tampak sibuk menghadap layar laptopnya, bekerja tak kenal lelah.

Appa… kenapa aku tidak boleh mengunjungi Guru Kim di penjara? Dia sendirian, pasti sangat berat baginya menghadapi semua ini tanpa keluarga di sampingnya.” Ucap Hana.

Appa…” panggil Hana lagi saat dirasa ayahnya tak menghiraukan keinginannya untuk bertemu guru kesiswaannya itu.

“Sayangku, Seol Hana, putriku yang cantik, tak bisakah kau berhenti dulu memikirkan orang lain dan pikirkan kesehatanmu sendiri untuk sekarang ini?” tanya sang ayah tanpa berpaling dari layar laptopnya sedikitpun.

Hana menundukkan kepalanya, berpikir berulang kali bagaimana dirinya bisa tidak peduli pada sosok Kim Junmyeon yang selalu peduli akan dirinya.

Appa… Guru Kim itu… sudah seperti… kakakku sendiri.”

Rupanya obat yang diberi perawat tadi sudah mulai bereaksi. Perlahan tapi pasti, Hana memejamkan matanya, terlelap dalam tidur.

.

♥♥♥

.

[Awal Tahun Pelajaran, 2015]

Masa orientasi siswa-siswi baru SMA itu baru saja usai. Para murid kelas 1 tampak menikmati hari pertama mereka resmi menjadi bagian dari sekolah elite ternama di Korea itu. Hana, Hyunhae, dan Haejoo termasuk ke dalam golongan yang berbahagia karena dipersatukan dalam satu kelas lagi setelah 3 tahun menghabiskan waktu bersama di sekolah menengah pertama.

Masih segar dalam ingatan Hana, semilir aroma angin musim semi yang menerpa kulit wajahnya kala itu. Dengan poni rata yang menutupi dahinya dipadu dengan kunciran buntut kuda membuatnya tampak sangat imut dan menggemaskan. Satu hal yang tak boleh dilupakan di setiap penampilannya agar terlihat semakin sempurna adalah bibirnya yang dipolesi tipis-tipis lipstik merah muda beraroma stroberi.

“Hana-ya!” panggil seseorang yang suaranya sudah teramat sangat familiar di telinganya.

“Chanyeol Sunbae?! Oh tidak, Hana-ya! Chanyeol Sunbae datang menghampiri kita! Aku harus bagaimana?!” ucap Haejoo, heboh.

Hyunhae menebalkan bedaknya, “Masa bodoh Chanyeol hanya memanggil nama Hana, aku harus tetap terlihat cantik kalau-kalau Chanyeol Sunbae melirikku.”

“Annyeong, Oppa!” sapa Hana pada Chanyeol, sedikit malu-malu. Tak sia-sia usahanya selama ini untuk bisa selalu satu sekolah dengan pujaan hatinya, mulai sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga akhirnya berhasil satu sekolah lagi di sekolah menengah atas elite ini.

“Aaah, tak kusangka bisa bertemu denganmu lagi di sekolah yang sama, gadis kecil.” Ungkap Chanyeol yang tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Tangan kanannya bergerak mengelus puncak kepala Hana, sayang.

“Kenapa Hana masih hidup juga?! Kalau aku diperlakukan seperti itu oleh Chanyeol Sunbae, aku pasti sudah mati muda!” ucap Haejoo, masih dengan bumbu hiperbolanya.

“Ah, Saem! Annyeonghaseyo!” salam Hyunhae pada seorang guru muda nan tampan yang mereka kenal sebagai guru kesiswaan di sekolah itu, Guru Kim. Mengikuti Hyunhae, Hana dan yang lainnya pun ikut memberi salam.

Guru muda itu tampak menatap lurus ke arah Hana untuk beberapa lama dengan tatapan sendu yang tak Hana mengerti. Sedetik kemudian, Guru itu menarik Hana ke dalam pelukan eratnya. Hana yang saat itu tak mau membuat Chanyeol dan sahabat-sahabatnya salah paham lalu berusaha melepas pelukan Guru Kim namun Guru Kim tak begitu saja melepasnya.

“Saem… lepaskan! Saem… ada apa denganmu? Lepaskan aku!” pinta Hana. Benar saja, adegan pelukan itu langsung menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.

“Apa ada yang salah dengan guru ini? aneh sekali.” Cibir Hyunhae dan Haejoo.

“Saem! Dia sudah memintamu melepaskannya! Lepaskan dia!” ucap Chanyeol yang merasa tak nyaman juga melihat pemandangan itu.

“Aku merindukanmu, kumohon jangan lepaskan dulu.”

Manik Hana melebar seketika, “Saem! Kau ini apa-apaan sih?!”

Tak mau tinggal diam, Chanyeol pun menjauhkan Hana dari Guru Kim. Tatapan tajamnya mengarah tepat ke mata guru kesiswaan itu. “Aku bisa mengadukan kelakuan tidak etismu ini ke kepala sekolah dan komite, Saem!”

“Maaf, maafkan aku.”

Perlakuan tak menyenangkan yang didapat Hana hari itu tak serta merta membuatnya membenci Guru Kim. Hana malah merasa senang karena ada seseorang lain selain Chanyeol dan sahabat-sahabatnya yang begitu memperhatikannya. Awalnya, Hana sempat mengira, semua perhatian yang Guru Kim berikan padanya adalah bentuk rasa suka antara pria kepada wanitanya. Hana hampir saja terbawa perasaan, sebelum akhirnya Guru Kim menjelaskan semuanya padanya.

“Saem, aku tahu jarak umur kita lumayan jauh. Aku 16 tahun dan kau 28 tahun. Tapi,” Hana menggantungkan kalimatnya, menatap Guru Kim yang duduk berhadapan dengannya di meja sebuah restoran terkenal. “Aku tidak keberatan kok kalau kau jatuh cinta padaku dan berniat melamarku.”

“OHOK!” Guru Kim tersedak kentang goreng.

“Ya ampun, Saem! Kenapa sampai terkejut begitu sih?” Hana membantu Guru Kim meminum segelas air dan mengelus-elus lembut punggung pria matang itu.

Setelah tersedak hingga meneteskan airmata, Guru Kim tertawa, menertawai betapa polosnya pemikiran gadis belia di depannya.

“Hana-ya…”

“Hm?” sahut Hana seraya tersenyum lebar.

Guru Kim menopang dagunya dengan satu tangan, “Apa kau sebegitu jatuh cintanya padaku eoh?”

“Huh? Ti-tidak kok!” Hana menggeleng, sedang rona pipinya tak bisa diajak kompromi. “A-aku kan hanya menyukai Chanyeol Sunbae! Semua orang tahu itu!”

“Aish!” saking gemasnya, Guru Kim mencubit hidung Hana.

“Aku mengerti! Aku mengerti! Kalau begitu, tetaplah menyukai si Park Chanyeol. Dia memang siswa idaman, tak ada seorangpun guru di sekolah yang tak menyukainya. Dia lelaki yang sangat baik untukmu.”

“Apa-apaan? Saem akan menyerah begitu saja? Saem tidak benar-benar menyukaiku?”

Guru Kim mengelus kepala Hana penuh kasih sayang, menenangkan Hana yang kecewa. “Aku menyukaimu, Seol Hana. Terimakasih karena kau sudah hidup bahagia dan selalu ceria sepanjang waktu. Terimakasih karena telah lahir dari keluarga kaya nan terpandang dan memiliki orang-orang yang begitu menyayangimu di sekelilingmu. Aku seperti… melihat Myunjung-ku kembali.”

Kening Hana mengkerut, “’Myunjung-ku’? Siapa? Kekasihmu, Saem? Atau… istri?!”

“Adikku.” Jawab Guru Kim, matanya berubah sendu. “Kalian seperti kembar identik, hampir tidak ada bedanya.”

“Benarkah? Tapi kenapa Saem tiba-tiba terlihat sedih?”

“Sayangnya, Myunjung-ku tidak seberuntung dirimu, Hana-ya. Adikku itu berakhir bunuh diri setelah teman-teman sekelas dan guru-guru di sekolah membulinya habis-habisan hanya karena dia terlahir dari keluarga miskin.”

“Saem…” Hati Hana ikut terluka hanya dengan mendengar sedikit saja kisah pahit Kim Myunjung langsung dari Kim Junmyeon sebagai kakak. Ia bangkit dari duduknya, bergerak memeluk Guru Kim yang menangis. “Aku mengerti. Sudah cukup, jangan paksakan dirimu lagi, Saem.”

Sejak hari itu, Hana memulai semuanya dari awal lagi bersama Guru Kim. Tentunya, tanpa perasaan cinta yang berlebihan lagi. Seperti Guru Kim yang menganggapnya sebagai adik, Hana pun mulai menganggap Guru Kim sebagai kakaknya. Tambahan, hidup sebagai putri semata wayang keluarga Seol membuat Hana haus akan kasih sayang saudara kandung yang memang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun rupanya di awal-awal zona kakak-beradik mereka, Guru Kim seringkali terlalu menuntut dan menyama-nyamakan Hana dengan sosok Myunjung. Dan kadang kala, Hana merasa jengah untuk semua itu. Tak peduli seberapapun miripnya ia dengan Myunjung, ia tetaplah Seol Hana dan takkan pernah bisa menjadi sosok lain seperti Kim Myunjung yang Junmyeon inginkan.

“Kudengar kelasmu baru saja ulangan matematika tadi pagi, bagaimana hasilnya?” tanya Guru Kim pada Hana saat gadis cantik itu baru saja bubar keluar kelas di jam pulang sekolah ini. Mereka memang telah memiliki janji untuk pulang bersama sore ini.

“Ah!” Hana menunduk frustasi. Jujur saja, ia tak ingin membahas masalah seperti itu lagi. Baginya, pulang sekolah adalah akhir dari penderitaannya setelah bertahan berjam-jam berkutat dengan pelajaran-pelajaran yang seakan tak pernah mau masuk ke dalam otaknya itu.

“Ini hasilnya!” Hana menyerahkan selembar kertas putih berisikan jawaban rumus-rumus tak jelas yang bahkan mungkin Albert Einstein pun takkan pernah kepikiran untuk mencoba menuliskannya.

“NOL?!”

“Aish, Saem! Jangan keras-keras! Kau ini mau mempermalukanku ya?!” ucap Hana sembari melotot kesal melihat reaksi Guru Kim atas nilai ulangan matematikanya yang jeblok.

“Yak, bagaimana bisa kau mendapat nilai seperti ini?! Apa saja yang kau lakukan di dalam kelas saat pelajaran berlangsung?! Kau tidur, huh?!” sejak bertemu 5 bulan lalu, ini adalah kali pertama Junmyeon membentak Hana. “Kau tidak biasanya mendapat nilai sejelek ini! Myunjung pasti akan selalu-“

“Myunjung?” Hana berdecih, kantung matanya tampak berusaha membendung genangan air yang hampir tumpah. Seumur hidup, Hana tak pernah merasa sehina ini di depan orang lain. Bahkan Hana berani menjamin, orang tuanya tak pernah membentaknya seperti yang baru saja Junmyeon lakukan meski nilai-nilai sekolahnya sering berada di bawah rata-rata sekalipun.

“BERHENTILAH BERSIKAP SEPERTI KAU YANG LEBIH TAHU AKAN DIRIKU! KAU BUKAN KAKAKKU! KAU BUKAN SIAPA-SIAPA! KAU HANYA SEORANG GURU KESISWAAN YANG DEPRESI KARENA KEMATIAN ADIKMU! DAN AKU, AKU BUKAN ADIKMU YANG BANGKIT DARI KUBUR SETELAH BUNUH DIRI!”

PLAK!

Hana menyentuh pipi kirinya dengan tangan gemetar sesaat setelah Junmyeon mendaratkan tamparan keras dari tangan besarnya setelah mendengar perkataan Hana yang ia rasa sudah keterlaluan. Namun sedetik kemudian, rasa bersalah itu datang saat Junmyeon tersadar atas apa yang baru saja dilakukannya.

“Hana-ya…”

“AKU BENCI KAU, SAEM!”

Karena sifatnya yang selalu ceria dan bersemangat, Hana tidak pernah bisa terlalu lama memendam kebencian kepada orang lain dan mendiamkan orang yang mempunyai salah padanya begitu saja. Hana justru akan menerima permintaan maaf mereka dengan senang hati tanpa mengungkit kembali yang telah berlalu. Hal baik itu juga berlaku bagi Guru Kim, tanpa terkecuali.

“Hana-ya…”

“Ya, Saem?”

Saat itu Hana baru saja hendak memijakkan kakinya di pekarangan rumahnya, namun panggilan lembut dari Guru Kim membuat langkahnya tertahan dan berpaling ke asal suara.

“Bolehkah aku memelukmu sebentar saja?” tanya Guru Kim dengan semburat merah di pipinya, malu-malu.

Hana mengangguk tanpa ragu, dan tanpa aba-aba ia pun langsung berlari menghambur memeluk tubuh pria 28 tahun itu erat-erat. Senyuman lebar terukir di wajah tampan Junmyeon, berpelukan dengan Seol Hana sepertinya sudah masuk ke dalam daftar hal-hal yang paling disukainya selama ia hidup.

“Jangankan sebentar, lama pun tidak masalah.” Ujar Hana cengengesan, tangannya masih melingkar di leher Junmyeon.

“EHEM!” suara dehaman sang ayah langsung membuat Hana dan Guru Kim spontan melepaskan pelukan mereka.

“Annyeonghaseyo, Tuan Seol. Apa kabar?” ucap Guru Kim, berbasa-basi.

“Kalian berkencan?” tanya Ayah Hana tanpa membalas sapaan Guru Kim. Pertanyaan itu langsung saja mendapat gelengan kompak dari Hana dan Guru Kim.

“Yah, sayang sekali. Padahal kalian berdua tampaknya sudah… unch.”

“APA-APAAN SIH, APPA!”

.

♥♥♥

.

[Beberapa bulan kemudian, Tahun ajaran baru 2017]

Di depan guci abu mendiang Shin Heera hanya terdapat sebuah bingkai foto tanpa bunga ataupun barang-barang kesayangan si pemilik abu. Hana berani berdiri untuk pertama kalinya di depan guci Heera. Tak ada yang datang lagi selain Sehun, Chanyeol, dan Haejoo yang mendampingi Hana.

Annyeong, Heera-ya. Maaf aku baru datang mengunjungimu sekarang.” Ucap Hana, berbicara pada potret Heera yang tersenyum mengenakan seragam kebanggaan sekolah mereka. “Aku mungkin terlalu pengecut untuk mengingat hari di mana kau menjatuhkan dirimu sendiri dari atap sekolah adalah hari terakhir kau mengajakku berbicara. Aku tidak tahu beban berat apa saja yang kau tanggung selama hidupmu sampai kau berpikir untuk mengakhiri semuanya dengan bunuh diri, maafkan aku, Heera-ya.”

Ya, kasus Shin Heera memang telah lama ditutup tanpa penyelidikan lebih lanjut. Keputusannya, Heera tidak dibunuh oleh siapapun. Heera bunuh diri, dengan alasan tak sanggup lagi menanggung beban hidup dan dirinya yang hamil di luar nikah akibat pergaulan bebas.

Lalu bagaimana dengan Kim Junmyeon? Bagaimana nasibnya?

Tentu saja Guru Kim langsung dibebaskan karena telah terbebas dari segala tuntutan jaksa. Pernyataannya yang mengaku telah memperkosa Heera hingga hamil dan mendorong Heera hingga terjatuh dari atap dianggap sebagai kegugupannya yang tak sanggup melihat anak didiknya bunuh diri di depan kedua matanya sendiri. CCTV pun sangat mendukung kebenaran kasus yang awalnya ‘pembunuhan’ menjadi ‘bunuh diri’ tersebut. Namun, setelah bebas dari penjara, Guru Kim memilih hidup di luar negeri, entah di belahan dunia bagian mana.

Bagaimana dengan nasib Ayah Heera yang telah menjual anaknya sendiri?

Saat hari pertama dilakukannya penyelidikan berdasarkan bukti buku harian Heera, sang ayah mengalami kecelakaan tabrak lari dan meninggal dunia. Dengan tidak adanya bukti yang lebih menguatkan kasus itu lagi, akhirnya polisi pun memutuskan menutup kasus tersebut. Lagipula, tak ada media apapun yang tertarik untuk membahas kedua kasus itu lagi.

Ponsel Sehun bergetar, sebuah pesan datang dari nomor kontak Choi Hyunhae yang memang kebetulan sedang tak bersama mereka.

‘Apa kalian jadi menemani Hana mengunjungi Heera? Maaf, seharian ini aku sibuk dengan les privatku jadi ponselku ku matikan.’

‘Aku mengerti. Belajarlah yang pintar :*’ balas Sehun, iseng menambahkan emotikon cium di akhir kalimatnya.

Haejoo gantian berdiri di depan guci abu Heera, berdoa sebentar sebelum akhirnya menyesali sikap kasarnya selama ini pada gadis itu.

“Huhuhu! Aku kan tidak tahu kau semenderita itu, Shin Heera! Habisnya kau kan tidak pernah mencoba bersahabat dengan kami! Dan juga, wajah sok polosmu itu seringkali membuatku jijik!”

“YAK!” Chanyeol menoyor kepala Haejoo pelan. “Kau ini niat minta maaf atau tidak sih?”

“Iya! Iya! Niat kok, Sunbaenim-ku yang tampan!” meski telah ditoyor, Haejoo tetap menunjukkan rona pipinya yang memerah setelah kulit ujung telunjuk juga jari tengah Chanyeol menempel ke dahinya tadi.

“Yak, Oh Sehun! Sedang berbalas pesan dengan siapa kau sampai senyam-senyum seperti itu?!” Hana merebut benda canggih dalam genggaman Sehun tersebut dan langsung menunjukkan tanduk merah di kepalanya saat melihat isi percakapan Sehun dan Hyunhae yang penuh emotikon nista. “AH! KAU MAU MENCOBA SELINGKUH DARIKU YA?! KAU MAU MATI, HUH?!”

“AHHH! AHH! TIDAK KOK, SAYANGKU CINTAKU! MANA MUNGKIN AKU MELAKUKAN ITU?! AH! AHHH!” bantah Sehun diiringi rintihan kesakitannya karena saat ini jari jemari sang kekasih masih setia menjewer daun telinganya.

“YAK! KALIAN BERDUA INI! HENTIKAN, HENTIKAN! KALIAN TIDAK MALU APA BERTERIAK DI DEPAN ORANG-ORANG YANG SUDAH MENDAHULUI KITA?” ucap Chanyeol sok bijak yang langsung mendapat tatapan menyipit Haejoo yang memang sudah sipit sejak lahir.

“Bukannya kau juga baru saja berteriak, Sunbaenim-ku yang tampan?”

Chanyeol berdeham, tenggorokannya tiba-tiba saja menjadi gatal saat Haejoo bicara.

“Bagaimana kalau kita pulang saja? aku sudah gerah di sini.” Ucapan lelaki bertelinga caplang itu justru kembali mengundang Haejoo untuk semakin menggodanya.

Haejoo berdiri tepat di hadapan Chanyeol, menyentuh dada bidang lelaki di depannya dengan menggigit bibir bawah, menciptakan kesan seseksi mungkin yang membuat Chanyeol bergidik. “Oppa, kau gerah? Sini biar kubukakan bajumu.”

“YAK! AIIII YANG BENAR SAJA! KURASA AKU AKAN GILA JIKA LAMA-LAMA DI SINI! AKU PULANG!”

OPPANGG~~~ TUNGGU HAECHUUU!~~~”

Chanyeol dan Baekhyun sudah menjadi kakak-kakak alumni. Karena kecerdasan otak Chanyeol dan kepintaran Baekhyun dalam hal menyogok, mereka berada di satu kampus yang sama lagi dengan jurusan yang sama pula yakni manajemen. Seperti pengalaman yang sudah-sudah, Chanyeol bisa dengan mudahnya menjadi bintang kampus karena terkenal pintar, tampan, dan kaya. Sedangkan Baekhyun sepertinya tengah mengalami kemunduran dalam gaya hidupnya karena kini ia lebih dikenal sebagai playboy ketimbang sebagai mahasiswa baik-baik layaknya Park Chanyeol. Jika Chanyeol sudah menjadi alumni, lantas siapa yang menggantikan posisi ‘siswa idaman’ yang telah ditinggalkan lelaki itu? tentu saja, Oh Sehun jawabannya.

Sementara Chanyeol dan Haejoo sedang berkejar-kejaran bak film india, Sehun dan Hana tertawa begitu puas, merasa terhibur. Setelah Hana resmi menjadi kekasih Sehun, Haejoo memang gencar sekali mendekati mantan gebetan Hana yang satu itu. Tidak apa-apa, tidak ada salahnya. Toh, Hana sudah memiliki Sehun. Satu lelaki tampan yang terkadang nakal ini saja sudah cukup membuat Hana naik darah, tidak perlu ditambah lagi. Tidak, terimakasih.

“Tapi kau benar tidak ada niatan untuk selingkuh dariku kan?” tanya Hana lagi, memastikan.

“Tentu saja tidak, Hana, My Honey!~” Sehun mengecup kening Hana sambil menggandengnya mesra keluar dari gedung. “Tidak kalau itu adalah sahabatmu sendiri.”

“APA?! JADI KALAU HYUNHAE BUKAN SAHABATKU, KAU AKAN SELINGKUH DENGANNYA?!”

“TIDAK! TIDAK! AAAHH AMPUN, HONEY! AHH!”

Satu saja sudah sangat menyebalkan bukan? Hihi.

.

♥♥♥

.

Appa! Eomma! Hana pulang!”

Hana berlari-lari kecil sembari menjinjing tas belanjaannya. Karena keusilan Sehun yang berhasil membuat Hana darah tinggi, Sehun harus bertanggung jawab membangun mood Hana kembali. Dan pergi belanja adalah salah satu dari seribu cara Oh Sehun memanjakan kekasihnya itu. Alhasil, wajah Hana tak lagi kusut saat pulang ke rumah, malah berbinar penuh cahaya karena telah lebih dulu mendapat perawatan di salon kecantikan. Bisa mati dimakan calon mertua kalau sampai Sehun ketahuan membuat Hana kesal dan hampir menangis.

“Huwaaaaa ternyata anak Appa yang cantik ini sudah pulang dari jalan-jalannya bersama Sehun!” Ayah Hana mengejutkan sang putri yang baru saja merebahkan diri di sofa empuk ruang tamu mereka.

Omo! Appa tahu dari mana eoh?”

“Tentu saja dari Sehun!” jelas sang ayah. “Sejak dia kembali dari Amerika untuk menjadi teman sekelasmu, Appa sudah memberinya tugas untuk melaporkan apa saja yang kau lakukan seharian karena Appa yang tidak bisa secara langsung menjagamu!”

Hana bangkit dari rebahannya, matanya menyipit, “Jadi selama ini Sehun adalah sekutu Appa?”

“Tentu saja!” jawab ayahnya tanpa ragu. “Sebagai calon menantu, Sehun jelas harus menjadi sekutu Appa! Appa tidak mau kalau sampai suamimu nanti durhaka pada Appa dan merebutmu dari sisi Appa.”

“Unchhh so sweet!” ucap Hana, terharu. Gadis cantik yang baru mewarnai rambutnya menjadi kecoklatan tersebut lantas memeluk tubuh kurus lelaki paruh baya yang teramat sangat ia sayangi melebihi apapun di dunia itu.

“Hana sayang Appa. Terimakasih sudah membuat hidup Hana bahagia hingga detik ini. Appa memang yang terbaik!”

“Apapun, Hana-ya. Apapun akan Appa lakukan demi melihatmu bahagia.”

Ya, apapun. Termasuk menyuap banyak orang untuk membebaskan Kim Junmyeon dari segala tuntutan, membiayai hidup Kim Junmyeon dan keluarga Lee Jeno di luar negeri, menyuruh para bawahannya untuk menghilangkan bukti asli dan memanipulasi CCTV, juga mendanai penuh sekolah Hana dan beberapa media agar tak seorangpun di antara mereka berani memperbesar masalah yang menyangkut putri semata wayangnya.

“Tak ada seorangpun yang boleh menyakiti putri Appa. Kalau mereka mau, mereka harus melangkahi mayat Appa lebih dulu.”

Dengan uang, Ayah Hana memiliki kuasa penuh untuk itu. Semuanya Ayah Hana lakukan hanya demi mencapai satu tujuan; melihat putrinya kembali tersenyum ceria tanpa harus merasa terluka. Karena sejatinya, Hana tidak dilahirkan untuk hidup menderita.

*Say to say :

HELLO!^^ AKHIRNYA SETELAH SAYA TIDAK BERTANGGUNG JAWAB PADA FF SEHUN YANG SATU INI, SAYA AKHIRNYA MENERBITKAN CHAPTER BARU SETELAH MEMBUAT KALIAN MENUNGGU(/MENUNGGUTIDAYA?) SELAMA 2 BULAN WKWK MAAFIN :’) SESUNGGUHNYA WRITERSBLOCK + MAGER ITU DILUAR KUASA SAYA HIKS :’) OKAY KE DEPANNYA INSYAALLAH SAYA AKAN UPDATE LEBIH TEPAT WAKTU LAGI, SO, MOHON DUKUNGANNYA DENGAN REVIEW KALIAN YAA AYLAFYU 😘

 

Iklan

5 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] STRAWBERRY KISS -Episode 5 : The Fifth Semester (1/2) D”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s