Chaptered, Drama, EXO Fanfiction, Friendship, Hurt/Comfort, PG-13, Romance, Sad, Slice of Life, Special, T

[EXO Fanfiction] SUNDAY IN SEPTEMBER – 1st Week

wp-1505236245401.jpg

​`SUNDAY IN SEPTEMBER`

 

A fanfiction by AYUSHAFIRAA

`Starring Lee Jieun, Byun Baekhyun, Ji Hyeran`

|| Drama, Friendship, Romance ||

// PG-15 // Mini-Chaptered //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


September List :

 [ Prologue 1st Week ― [Coming Soon] ]


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

.

.

.

[ Sebuah Mimpi ]


Hidupku tidak bahagia. Tuhan telah mengambil kebahagiaanku sejak Dia mengambil ayah dan ibu dari sisiku untuk selamanya. Aku masih 7 tahun saat itu. Masih terlalu kecil tubuhku untuk menopang beban besar sendirian sebagai anak tunggal keluarga Lee, pewaris satu-satunya harta kekayaan peninggalan kedua orang tuaku. Karena semua harta itu, paman dan bibiku berebut untuk mengambil hak asuh atas diriku. Bukan karena mereka benar-benar ingin mengurusku, tapi karena mereka serakah akan hakku.

“Kau tunggu di sini, ya, Jieun? Kami akan segera kembali untuk menjemputmu setelah mengambil uang dari bank. Nanti, Paman dan Bibi akan mengajakmu jalan-jalan ke manapun kau mau.” Begitulah ucapan mereka yang berusaha membodoh-bodohi anak kecil berumur 7 tahun. Dan, mereka berhasil.

Mereka meninggalkanku di depan sebuah panti asuhan. Karena mereka menyuruhku untuk menunggu, maka aku pun menurut. Ayah dan ibuku tidak mendidikku untuk menjadi anak yang tidak penurut. Aku menunggu mereka ―paman dan bibiku― yang nyatanya tak pernah kembali lagi untuk mencari seorang anak bernama Lee Jieun yang mereka tinggalkan saat umur 7 tahun di depan panti asuhan.

Menjadi anak asuh di panti asuhan setidaknya membuatku tidak mati kelaparan di jalanan. Aku menemukan rumah di mana anak-anak seumuranku memiliki nasib yang kurang lebih sama. Tidak punya orang tua, ditelantarkan dan mendapat penyiksaan dari orang tua mereka, bahkan di antara mereka ada yang sengaja di buang oleh orang tua kandungnya sejak lahir.

Hyeran adalah teman pertamaku di panti. Dia adalah anak panti pertama yang menyambut kedatanganku dengan ramah dan menjadikanku temannya tepat di hari pertama aku bergabung menjadi anak asuh. Dialah anak yang termasuk golongan terakhir yang tadi kusebutkan.

“Seandainya mereka datang untuk menemuiku, aku tidak akan mau bertemu mereka. Bagiku, Jieun, orang tuaku sudah mati sejak mereka memutuskan untuk membuangku di tong sampah.” Itu pendapat Hyeran saat aku iseng bertanya tentang latar belakangnya. Meski aku lebih tua 3 tahun darinya, sejak awal aku yang memanggilnya ‘kakak’ karena selain perawakannya yang lebih bongsor, dia sudah menghuni panti asuhan ini lebih dulu daripada aku.

Sometimes I felt so tired, I felt like I was going to fall

Such difficult times…

Sudah 3 tahun aku tinggal di panti ini. Meski aku berteman dengan Hyeran, aku belum sepenuhnya bisa menyesuaikan diriku dengan anak-anak panti yang lain. Seringkali aku mendapati mulutku terkatup rapat tak mengeluarkan sepatah kata pun saat sarapan, makan siang, makan malam, di saat yang lain justru memanfaatkan momen-momen tersebut untuk berbincang hangat dan saling bercanda tawa. Karena sikapku yang seperti itulah, banyak anak panti yang tidak menyukaiku. Banyak diantara mereka yang sering menggunjing hal-hal buruk tentangku saat aku tak ada. Untunglah, aku memiliki Hyeran.

“Hyeran, apa kau bisa melukis?”

Hyeran langsung menggeleng saat anak perempuan yang lebih tua darinya bertanya padanya.

“Aku tidak bisa. Yang bisa melukis itu…” Hyeran terlihat berpikir, sebelum akhirnya tatapan matanya tertuju ke arahku. “Jieun! Jieun jago sekali melukis, Kak!”

“Aku tidak jago kok! A-aku hanya sekedar bisa saja.” ucapku, merendah.

“Memangnya kenapa, Kak?” tanya Hyeran. Aku juga menunggu jawabannya. Berharap aku bisa sedikit mengakrabkan diri dengan membantu kakak itu sebisaku. Namun bukan jawaban yang kudapat, hanya senyuman meremehkan darinya seakan-akan aku adalah makhluk transparan yang dapat ia abaikan.

Pernah suatu hari, ada seorang anak panti yang baru saja diadopsi. Aku dapat melihat dengan jelas bagaimana irinya mereka pada anak itu. Hyeran termasuk, bahkan ia terlihat lebih semangat untuk mengompori yang lainnya. Aku masih tetap pada sikapku yang kaku, dan hanya menyaksikan mereka membuli anak itu habis-habisan tanpa berani ikut campur.

“Hei, Hyeran! Kenapa sih kau itu senang sekali berteman dengan Jieun?”

Aku menghentikan langkahku, mengurungkan niat untuk masuk ke ruang makan. Aku belum siap mendengar pertengkaran anak-anak panti karena Hyeran yang bersikeras membelaku.

“Siapa bilang aku senang berteman dengannya?”

Aku tidak salah dengar, itu memang suara Hyeran. Bukan Hyeran yang bersikeras membelaku, melainkan Hyeran yang mengiyakan dirinya tak senang berteman denganku.

“Kalian pikir kalian saja yang tidak suka dengan Jieun? Aku juga tidak suka. Aku jijik padanya! Karena kalian tahu?” Aku mengintip sedikit, penasaran bagaimana wajah Hyeran saat membicarakanku di belakang.

“Dia pernah diperkosa pamannya!” bisik Hyeran pada telinga anak-anak panti yang mendekat padanya, sedikit terdengar juga oleh telingaku.

Saat itu juga, aku menyadari Hyeran adalah serigala berbulu domba. Dia adalah sahabat yang menusukku dari belakang. Selain dia yang berpura-pura baik padaku, dia juga berani menyebarkan fitnah tak masuk akal itu. Tapi karena aku cukup sadar diri, aku memilih bungkam, untuk melihat seberapa keras usahanya mengasah pedang untuk menusukku dari belakang lagi.

[Minggu, 5 September 2010]

Umurku sudah 17 tahun. Tak terasa sudah 10 tahun lamanya aku tinggal di panti asuhan ini bersama Hyeran. Sinar mentari pagi menelusuk masuk melalui celah-celah gorden kami. Ya, aku dan Hyeran menjadi teman satu kamar sejak 2 tahun yang lalu. Panti yang mengasuh kami kini sudah mengalami banyak perkembangan. Yang paling terlihat adalah dari segi bangunan. Putra dan putri memiliki bangunan yang terpisah, namun jika ada kegiatan penting, panti akan menyatukan kami semuanya di aula.

“Kak Hyeran, bangun! Sudah siang!” aku bangkit dari posisi tidurku sambil meregangkan otot-otot. Kulihat Hyeran masih setia memeluk gulingnya, enggan untuk bangun.

Kulangkahkan kakiku keluar dari kamar, karena percuma juga aku memaksanya bangun, dia akan beralasan kalau hari ini adalah hari libur jadi tak ada yang namanya bangun di pagi hari. Langkah kakiku yang sudah sedikit panjang membawaku menuju deretan 5 pintu kamar mandi yang tertutup. Karena rambutku yang sudah memanjang sepunggung, aku memutuskan untuk mencepol rambutku tinggi-tinggi.

“Ada orang di dalam?” tanyaku sambil mengetuk kelima pintu tersebut.

“Tidak ada air, Jieun. Kalau kau mau mandi, pergilah ke kamar mandi laki-laki.” ujar kakak-kakak yang waktu itu pernah meremehkan kemampuan melukisku, Taeyeon. Umurnya sudah 21 tahun tapi tetap saja kejudesannya di masa lalu masih berbekas.

Mulutku sedikit melongo, sedang otakku masih mencoba mencerna ucapannya.

“Kalau begitu, terimakasih, Kak.”

I was afraid by myself

But each time, you held my hand…

Sambil menenteng sebuah gayung berisikan alat-alat mandi, aku berjalan ke bangunan putra yang jaraknya tak jauh dari bangunan putri dengan handuk yang kulilitkan di leher dan sedikit menutupi mulutku untuk mencegah orang-orang melihat bekas ilerku.

Bulu kudukku meremang saat tatapan-tatapan aneh anak laki-laki menusuk indera penglihatanku. Aku memang sedikit pemalu, terutama pada anak laki-laki yang tidak begitu dekat denganku.

“Ji? Sedang apa kau di sini? Kau belum siap-siap ke gereja?”

Aku menoleh ke asal suara. Kudapati Baekhyun yang berdiri beberapa langkah di samping kananku, menatapku dengan tatapan heran.

Ah iya, aku belum memperkenalkannya pada kalian. Lelaki tampan itu memang baru beberapa bulan ini masuk ke panti asuhan kami karena mendapat perlakuan kasar dari ayahnya yang seorang pemabuk. Dia setahun lebih tua dariku. Kepala panti mengijinkannya untuk tinggal di sini karena tak mau melihatnya putus sekolah dan terus tersiksa karena hidup dalam kemiskinan hanya bersama ayahnya. Dia pernah bercerita padaku, ibunya baru saja meninggal saat dia kabur dari rumah karena kanker rahim yang tak terobati. Dia Baekhyun, Byun Baekhyun, sahabat baruku.

“Bagaimana bisa aku siap-siap? Aku kan belum mandi!” jawabku seraya mengecilkan volume suaraku agar hanya Baekhyun saja yang dapat mendengarnya.

“Lalu? Kenapa kau malah berdiri di depan kamar mandi putra?” tanyanya lagi, semakin heran. “Kau mau mengintip kami ya?”

PLETAK!

Aku spontan memukul kepalanya dengan gayung yang ada di tanganku. “Apa-apaan sih kau ini?! Mana mungkin aku mau mengintip ka-”

“AAAAAAAAAAAHH!”

Suara teriakan itu seketika dapat mengejutkan seisi bangunan putra. Aku dan kakak laki-laki bernama Minseok yang berada di dalam kamar mandi yang kutunggui sedaritadi kompakan berteriak sekencang-kencangnya. Bukan karena janjian, melainkan saat pintu yang kutunggui terbuka, sepasang mata polosku langsung ternodai oleh penampakan tubuh kakak itu yang lumayan atletis dengan hanya mengenakan handuk merah untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.

Pagi hariku akhirnya harus berakhir dengan panggilan dari Ibu Kepala Panti. Aku bisa saja di hukum sendirian setelah mendapat fitnah dari Taeyeon yang menjebakku untuk pergi ke bangunan putra itu, namun Baekhyun dengan bodohnya membelaku.

“Aku tahu kau tidak salah, Ji. Aku percaya semua yang kau katakan tadi.” Ucap Baekhyun sembari menggenggam erat tanganku, seolah dengan begitu dia bisa memberiku sedikit kekuatan untuk menghadapi semua ini bersama-sama. “Kalau kau memang tidak salah, kau tidak perlu takut.”

“Kalau memang Ibu tidak percaya pada kami, silakan hukum kami berdua, Bu. Saya tahu, Ibu adalah wanita bijaksana yang bisa menilai siapa yang salah dan siapa yang benar tanpa pandang bulu.” Aku terus memandangnya dari samping tanpa berkedip. Airmataku perlahan tak menetes lagi. Baekhyun telah berhasil menguatkanku dan dia juga telah berhasil… membuat jantungku berdebar tak karuan karena pesonanya.

Walking together on the street

All your comforting words, I remember it all

Those warm arms that held me…

Sebagai hukuman, Ibu Panti menyuruh aku dan Baekhyun berbelanja bahan makanan yang sangat banyak untuk memenuhi kebutuhan panti asuhan. Untung saja Ibu Panti kami tidak terlalu jahat sehingga kami tak harus membeli semua itu dengan uang jajan kami sendiri, hihi. Saking banyaknya belanjaan yang harus kami beli, Ibu Panti sampai memberi kami kertas bertuliskan daftar panjang bahan-bahan yang tak boleh kami lupakan. Baekhyun yang mendorong troli, aku yang membaca daftarnya.

Pun saat aku kewalahan membawa dua kantong belanja di kanan kiri yang menurutku berat, dia merebut dan menjinjing keempat kantong belanjaan kami sendirian. Di belakangnya, senyumku mengembang tak lagi dapat kutahan.

“Ji,” panggilnya, aku berlari kecil menyamai gerak langkah kakinya yang lebih panjang dariku.

“Kenapa? Berat ya?” tanyaku, merasa tak enak karena tak membantu.

Baekhyun tertawa kecil, “Bukan itu, Ji.”

“Bisa tolong hapus keringat di wajahku? Keringatku masuk ke mata dan itu perih sekali.” Benar, teriknya matahari siang ini ditambah beban berat yang dibawa kedua tangannya membuat keringat terus menetes dari pelipisnya. “Kau bisa ambil sapu tangan di saku celana bagian depanku.”

“Baiklah, tunggu sebentar.” Aku merogoh saku celana navy jeansnya untuk mengambil sapu tangan, tapi belum sempat aku mengambil sapu tangannya, dia terus tertawa kegelian.

Mataku menyipit, tanganku ku keluarkan lagi dari saku celananya dan kulempar sapu tangan itu tepat ke wajahnya. “Dasar mesum! Sudah, kita istirahat saja dulu!”

“Aku tidak mesum, Ji! Hei!”

Di bawah pohon, kami berdua duduk di sebuah bangku. Aku duduk sembari melipat kedua tanganku di depan dada, berpura-pura marah pada lelaki itu atas kelakuan mesumnya. Kurasakan tangan Baekhyun mengguncang bahuku, merajuk agar aku tidak terus diam dan cemberut.

“Ji? Hei! Maafkan aku! Aku tidak bermaksud berpikiran mesum kok! Kulit pahaku memang sedikit sensitif, jadi tadi aku tak bisa menahan tawaku karena rasa geli itu.” ungkapnya menyesal.

“Sudahlah, urus saja wajahmu yang berkeringat itu.”

Baekhyun menyodorkan sapu tangannya, sedetik kemudian aku berpaling menatap wajah imutnya yang sudah menunggu untuk kuusap. Saat aku menyentuh wajahnya dengan sapu tangan, Baekhyun memejamkan kedua matanya. Perlahan, kuusap semua keringat di wajahnya dengan gerakan lembut. Ketika detik berganti, aku baru menyadari satu hal; Aku benar-benar mengaguminya.

Lelaki itu menyentuh tangan kiriku yang berhenti di pipi kanannya. Sentuhan hangat telapak tangannya di punggung tanganku kemudian berubah menjadi sebuah genggaman erat. Baekhyun kembali membuka kedua matanya dan pandangannya langsung beradu dengan pandanganku. Debar jantungku tak lagi dapat kuatur dengan baik, karena ulahnya.

“Ya ampun! Anak SMA jaman sekarang ini ternyata sudah berani bermesra-mesraan di depan umum!” nyinyir seorang bibi paruh baya, petugas kebersihan yang sedang menyapu daun-daun berserakan di dekat kami.

“Ah, Bibi! Kenapa harus merusak momen romantis kami sih?!” kesal Baekhyun, nada bicaranya yang dibuat manja membuat bibi itu tertawa. Diam-diam, akupun menunduk, mengulum senyumku. Aku berani bertaruh, Baekhyun pasti sudah melihat semburat merah di pipiku sedaritadi.

“Aku mengerti! Aku mengerti! Lanjutkan saja kemesraan kalian, Bibi tidak akan mengganggu lagi!”

“Haduh, anak muda… anak muda.” Gumam sang bibi sambil menggeleng-gelengkan kepala, mungkin dia juga langsung larut dalam kenangan masa mudanya.

[Minggu, 3 September 2017]

Aku tersentak, terbangunkan dari mimpi setelah rekan kerja lelakiku di sebuah toko lukisan, Kyungsoo, menepuk-nepuk bahuku. Aku duduk tertidur di atas lantai di dekat gudang alat-alat lukis toko kecil kami semalaman.

“Kau tidak pulang lagi? Rumahmu pasti sudah berdebu karena tak pernah kau tinggali.” Tanyanya sembari menghembuskan nafas kasar. Kurasa dia sudah bosan mendapatiku tertidur di toko berkali-kali saat kebagian jadwal malam.

Umurku sudah 24 tahun, dan ini adalah tahun ke-7 aku merasa nyaman dengan potongan rambut pendek sebahu. Aku bekerja sebagai pekerja paruh waktu di beberapa tempat sekaligus. Di toko lukisan ini, terkadang aku tidak hanya melayani pelanggan yang membeli lukisan, tapi juga sebagai pelukis amatir jika bosku tidak bisa memenuhi pesanan lukisan sendirian.

Di kehidupanku yang sekarang, aku nyaris tak lagi mengenal kata ‘lelah’. Karena kalau aku lelah, aku mungkin tidak akan bisa melanjutkan hidupku lagi. Orang-orang melekatkan imej ‘robot’ padaku saking gilanya aku bekerja. Contohnya seperti hari ini, saat jam kerjaku habis di toko lukisan, aku akan langsung bergegas pergi ke rumah makan cepat saji untuk menjadi pelayan paruh waktu di sana. Sehabis dari sana, tubuhku akan kupaksa lagi untuk bekerja di sebuah toko kue sebagai penghias kue bolu. Aku tidak mau memiliki waktu luang, aku ingin terus bekerja agar aku tak sempat membiarkan khayalku terbang melayang ke mana-mana.

“Hei, Jieun! Bos bilang, dia tidak bisa memenuhi pesanan lukisan besok sore, jadi dia memintamu untuk menggantikannya pergi ke rumah pelanggan. Pelanggan itu memanggil kita untuk melukisnya di rumahnya. Jadi besok sore kau harus sudah siap ya!”

“Baiklah,” Aku mengangguk. “Kebetulan, besok sore aku mendapat jatah libur di toko kue.”

“Tak ada lagi yang mau kau sampaikan?” tanyaku. Berhubung umurnya hanya berselisih beberapa bulan denganku, aku tidak pernah mau memanggilnya ‘kakak’ meski dia lebih tua.

Kyungsoo menggeleng.

“Kalau begitu, aku pergi! Dah!”

“Eh, tunggu, Jieun!”

Untung saja aku baru berjalan beberapa langkah, kalau sudah jauh, aku tidak akan mau menyahutinya lagi. “Ada apa?”

“Makan ini untuk sarapan!”

HAP!

Aku berhasil menangkap lemparan roti dengan penuh gaya yang membuat teman kerjaku itu tertawa, merasa terhibur oleh tingkah konyolku.

“Terimakasih.”

Selamat pagi. Aku tidak tahu hari ini hari apa. Terakhir kali aku mengingat nama-nama hari adalah saat aku masih bersekolah di SMA. Sengaja, aku tidak mengatur tanggal di ponsel jadulku. Toh, aku memang tidak peduli lagi dengan hari-hari yang kulewati. Sudah lama sekali, hari-hari yang kulewati menjadi sama saja, tak ada yang berbeda.

“Sebaiknya kau polesi wajah pucatmu itu dengan bedak, Jieun. Jangan sampai pelanggan terganggu akan hal itu.” ucap bosku di tempat makan cepat saji.

Kulihat pantulan diriku di cermin wastafel. Entah sejak kapan aku memiliki wajah pucat seperti mayat ini. Kurangnya waktu untuk istirahat membuatku tak bisa lagi tampil sesegar dulu.

“Dada ayam saus keju?” tanyaku pada pelanggan. Pelanggan itu mengangguk, mengiyakan pesanannya adalah pesanan yang saat ini kuantar ke mejanya.

“Selamat menikmati.” Ucapku ramah.

Jika aku bekerja keras semata-mata hanya karena uang, aku tidak akan mungkin mengambil banyak pekerjaan paruh waktu yang gajinya tak seberapa. Aku hanya ingin menyibukkan diriku dengan mengerjakan hal-hal berguna. Segala hal berbau kenangan dan harapan, itu tidak penting lagi buatku. Hidup di dalam angan-angan yang indah hanya akan membuatku terluka pada kenyataannya.

“Ini gajimu untuk seminggu ini, Jieun. Istirahatlah besok. Aku tidak mau melihatmu kembali bekerja dengan wajah yang seperti mayat hidup lagi. Kau mengerti?”

Aku menerima upahku tanpa melihat berapa won yang ia berikan dan berterimakasih. Secara tidak langsung, dia berkata akan memecatku jika wajahku terlihat pucat lagi. Lalu harus ku apakan wajahku? Apa aku harus pergi perawatan hanya untuk bekerja di sebuah rumah makan cepat saji yang menghargaiku murah? Tentu saja tidak, terimakasih. Aku bisa mencari pekerjaan lain selain di tempat yang menuntutku harus selalu tersenyum palsu di depan para pelanggan itu.

“Hai, Jieun! Tumben sekali kau datang lebih cepat dari biasanya.” Sapa bibi pemilik toko kue yang mempekerjakanku. “Apa rumah makan itu sepi hari ini?”

Aku menggeleng, “Sepertinya aku hanya… dipecat, Bibi.” Jawabku, nyengir.

“Dipecat? Kenapa? Kau kan gadis baik, Jieun!” tanya bibi berumur setengah abad itu, sedikit emosi.

Aku melebarkan cengiranku, “Dia bilang wajah cantikku ini seperti mayat hidup, Bibi!”

“Ya ampun! Yang benar saja! Wajahmu cantik begini, keterlaluan sekali mereka!”

“Hahaha sudah ah, Bibi! Aku ingin langsung bekerja saja!”

Bibi pemilik toko kue ini adalah orang baik. Beliau sudah menganggapku seperti keponakannya sendiri. Aku yang dulu pernah ditinggalkan di panti asuhan oleh paman dan bibi kandungku seperti merasa memiliki keluarga baru lagi jika sudah bersamanya. Berkali-kali bibi pernah menawariku untuk tinggal bersama di rumahnya, namun aku menolak. Tentu saja, aku tidak mau membuat orang-orang merasa kerepotan akan kehadiranku. Aku tidak mau merasa terlalu bahagia lagi, karena aku takut Tuhan marah dan mengambil kebahagiaan itu dari sisiku seperti sebelum-sebelumnya.

“Jieun, ini gambar-gambar yang telah dipesan. Beberapa kue akan diambil malam ini juga. Kau bisa mengerjakannya kan?”

Tentu saja aku menjawab dengan anggukan yakin atas pertanyaan rekan kerja perempuanku di toko kue ini. Urusan gambar-menggambar, apapun medianya, aku bisa mengerjakannya dengan mudah. Ayah ibuku di surga telah mewariskan kemampuan menggambar mereka yang profesional pada anak mereka satu-satunya ini. Ya, meskipun begitu, aku tidak mau menyamakan kemampuan standarku ini dengan kemampuan mereka.

Beberapa kue bolu yang kuhias sore ini kebanyakan di antaranya adalah kue pernikahan. Aku suka dengan pekerjaan ini. Bibi tidak memaksaku untuk terlalu banyak tersenyum jika memang aku tidak ingin, tidak seperti bos rumah makan itu. Lagipula di sini, aku tidak diharuskan untuk bertatap muka langsung dengan para pelanggan yang datang.

HappyAnniversary.” Mulutku terkadang ikut komat-kamit saat menulis kata-kata di kue bolu yang kuhias.

Ah! Akhirnya kue terakhir yang akan diambil malam ini selesai juga. Sekarang, aku tinggal menghias kue-kue yang akan diambil esok hari.

Pandanganku seketika saja memburam untuk beberapa detik. Pemandangan sekelilingku terasa seperti berputar.

“Jieun! Jieun, kau baik-baik saja?!” tanya teman kerja perempuanku tadi, sepertinya ia khawatir.

Dengan tangan yang masih memegangi kepala, aku mengangguk, berusaha membuatnya tak mengkhawatirkanku.

“Sungguh? Tadinya aku mau meminta tolong padamu untuk menggantikanku sebentar di kasir, tapi tampaknya kau sedang tidak sehat.”

“Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing saja kok! Kalau memang kau hanya pergi sebentar, aku bisa menanganinya dulu.” ucapku. Rasa pusing seperti ini bukanlah apa-apa bagiku.

“Ah, benarkah? Terimakasih, ya, Jieun! Aku janji akan cepat kembali! 15… tidak! 10 menit!” ujarnya yang terus berusaha meyakinkanku. Padahal dia tidak harus seperti itu juga di depanku.

“Di depan sudah ada pelanggan yang ingin mengambil pesanannya! Kode bolunya 056B! Tolong ya!”

Setelah perempuan cerewet itu pergi, aku langsung memasukkan kue yang baru kuhias tadi ke dalam kotak karton yang seukuran karena kebetulan kue itulah yang dimaksudnya.

Langkah kakiku tak sanggup untuk kembali melangkah. Aku terpaku di ambang pintu yang langsung mengarahkanku ke ruang depan toko. Seorang pria bersetelan jas rapi yang saat ini menatap ke arahku terlihat mirip sekali dengan anak SMA yang pernah kukenal 7 tahun lalu.

“Ji?”

Airmataku menetes sebagai respon dari panggilannya. Lelaki itu bukan sekedar ‘mirip’ dengan kenalanku, tapi… memang dialah orangnya. Satu-satunya orang di dunia ini yang memanggilku hanya dengan ‘Ji’, dari ‘Ji-Eun’.

BRUK!

“Ya ampun! Jieun! Jieun sadarlah, Sayang!”

Sebelum kehilangan kesadaran, aku hanya bisa mendengar suara bibi pemilik toko yang terdengar begitu mencemaskan keadaanku. Tidak ada suara orang lain lagi.

 Ya.

Aku pasti…

Bermimpi lagi.

 

[ To Be Continued ]


Wattpad | WordPress

Iklan

9 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] SUNDAY IN SEPTEMBER – 1st Week”

    1. Baekhyun bukan yaa baekhyun bukan yaa hmmm 😆 /plak😂🔪/ iya, daripada bunuh diri kan yaa galau2an mending menyibukkan diri :’v tapi ini juga tidak untuk ditiru, masa hidup kayak robot hiks hiks 😭

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s