[EXO Fanfiction] THE WAR Series – WHAT U DO?

[EXO Fanfiction] THE WAR Series – WHAT U DO?

​`​THE WAR`

| A fanfiction by AYUSHAFIRAA |

| Starring EXO’s Suho x RED VELVET’s Irene |

| Fluff, Romance, School-life |

| Teen || Vignette |

Clip List :

[Kai – Diamond] — [Baekhyun – Forever] — [Chanyeol – Chill] — [Sehun – The Eve] — NOW PLAYING ♪ [Suho – What U Do?] — [Xiumin – Touch It] — [Chen – Going Crazy] — [D.O – Walk On Memories] — [All – Ko Ko Bop]

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


♪ Bagaimana caraku menggambarkanmu? Kau berbeda, kau seperti dirimu ♪


AYUSHAFIRAA©2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

♬♪♬

*Isi cerita bisa jadi tidak sesuai dengan arti/maksud lagu*

 

Irene masih menyesap susu hangat rasa vanilanya di kantin saat teman-temannya yang sesama anak hits asik menggosipkan lelaki-lelaki incaran mereka untuk pergi bersama ke pesta perpisahan.

Gadis cantik itu tertawa tertahan, lucu saja mendengar sebuah fakta mencengangkan tentang Suho yang ia ketahui masih menjomblo kemudian berlagak membuat pesta perpisahan di mana lelaki itu hanya mengundang anak-anak yang memiliki pasangan dan tidak memperbolehkan kaum jomblo untuk ikut serta.

Hei! Apa dia tidak berkaca?

Ya, bebas saja sih. Toh, dialah si pangeran anak ketua komite sekolah yang menyelenggarakan malam pesta perpisahan itu. Tapi, memangnya dia tidak akan malu apa?

“Hei, Irene!” Panggil teman-temannya. Irene menoleh malas.

“Apa kau akan pergi ke pesta perpisahan bersama Suho?”

“Hm, bagaimana ya?” Gadis itu kelihatan sekali berpura-pura berpikir. “Aku tidak tahu. Dia belum memberi tanda-tanda akan mengajakku pergi.”

“Aiii~~ yang benar saja! Kupikir kalian sudah berkencan!”

“Iya! Kenapa sih kalian tidak berkencan saja?! Kalian cocok sekali tahu!”

“Lalu apa kau tidak akan datang ke pesta perpisahan?!”

Irene tertawa garing, “Entahlah.”

Jika Suho adalah pangeran, maka bagi kebanyakan warga SMA itu, Irene-lah yang paling tepat menjadi sang puteri. Tak hanya karena wajah mereka yang sama-sama sempurna, mereka pun diyakini memiliki banyak kecocokan. Sama-sama dari keluarga kaya raya, sama-sama memiliki tingkat intelektualitas tinggi, juga yang terpenting, mereka sama-sama anak populer.

“Irene! Irene! Suho kemari! Suho kemari!”

Manik Irene langsung bertemu dengan tatapan dingin Suho. Pangeran tampan itu baru saja melangkah masuk ke kantin bersama teman se-gengnya sesama flower boy.

“Ciyeee! Ciyeee! Sudah kau ajak saja sekarang! Lama-lama dia bisa diambil orang lain lho!” Seru teman-teman Suho, berusaha mempermalukan lelaki itu di depan sekian banyak penghuni kantin dengan volume yang sengaja dimaksimalkan.

Irene diam-diam tersipu, memperhatikan tingkah laku lelaki yang memang menarik perhatiannya sejak bergabung dalam kepengurusan OSIS.

Suho bukanlah ketua dalam organisasi itu, ia hanya mengambil peran sebagai anggota paling tampan agar seluruh warga sekolah menyadari eksistensinya, atau kasarnya, ia hanya sekedar numpang tenar. Tak jarang Suho menjadikan ketua OSIS sebagai pesuruhnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Meskipun sifat dan sikapnya terlihat buruk, Irene tetap menyukai lelaki itu. Baginya, itulah kodrat mereka sebagai orang kaya, bersikap sombong dan angkuh adalah hal biasa.

 

♪♬♪

 

Saat seorang bapak guru sedang asik bercerita tentang pengalaman masa mudanya di depan kelas, Irene memasang earphonenya dengan volume maksimal tanpa mau mendengarkan gurunya bercerita.

Sudah cukup rasanya ia melakukan pencitraan selama 3 tahun masa SMA-nya ini untuk mendapat perhatian dari semua guru dan dikenal sebagai siswi teladan. Keuntungan menjadi ‘siswi teladan’ adalah meskipun kau mendapat nilai 100 karena mencontek, guru-guru akan tetap mempercayaimu kalau nilai itu adalah murni dari otakmu sendiri. Sedangkan jika kau dikenal sebagai ‘anak nakal’, sekalinya kau mendapat nilai 100, guru-guru akan mencurigaimu melakukan kecurangan meskipun nyatanya nilai 100 itu berasal dari otakmu sendiri yang ingin berubah menjadi lebih baik. Percayalah, ini adalah pengalaman Irene sendiri.

Karena keasikan mendengarkan musik, gadis itu jadi tak menyadari kalau pintu kelasnya yang terbuka lebar baru saja diketuk oleh seorang siswa yang tak lain adalah Suho.

“Ada apa, Suho?” Tanya bapak guru, berusaha ramah walau sebenarnya merasa terganggu. Kalau tidak bersikap seperti itu pada seorang putra komite sekolah, tentu saja ia akan dipecat.

Gadis yang duduk di sebelah Irene lalu menyiku lengan gadis itu agar melihat ke arah pintu.

“Suho?” Gumam Irene pelan. Dalam hati, Irene mungkin sudah berteriak-teriak tak jelas saking senangnya melihat sang pangeran mendatangi kelasnya.

“Saya tidak ada perlu dengan Bapak, saya hanya ada perlu dengan Irene.”

Siswa-siswi lain di kelas itu langsung bersorak sorai karena akhirnya pasangan ideal yang mereka sering perbincangkan kini mulai secara buka-bukaan menunjukkan kedekatan.

Dari sejak 1 SMA mereka memang sudah sering dijodoh-jodohkan, tapi dulu mereka masih malu-malu kucing. Setiap kali mereka berjalan di koridor yang sama secara tak sengaja, mereka akan langsung berbalik arah untuk mencegah perasaan aneh itu tumbuh. Namun seiring berjalannya waktu, perasaan aneh yang mereka hindari dulu kini tumbuh juga semakin besar, besar, hingga terlihat begitu jelas.

Suho melangkah masuk ke kelas dan menghampiri meja Irene yang berada di depan dengan menjinjing sebuah tas belanjaan dari butik desainer ternama Korea Selatan.

“Ini. Jangan lupa dipakai.” Ucap Suho tanpa menatap Irene sedikitpun. Biasalah, sok cool.

Tak perlu berlama-lama, Suho melanjutkan langkahnya untuk keluar dari pintu belakang kelas. Tepat sebelum Suho melangkahkan satu kakinya keluar, Irene berdiri dari duduknya.

“Hei, Suho!” Panggil Irene dengan ekspresi datar, pura-pura tak peduli.

Suho berpaling malas, “Apa?”

“Ini apa?”

“Kenapa harus bertanya? Kau kan tinggal melihatnya sendiri.”

Beginilah jadinya kalau sesama orang kaya sombong sedang jatuh cinta, sama-sama berusaha menjaga imej masing-masing.

“Gaun?” Irene membeberkan gaun merah selutut yang baru saja diberikan Suho padanya.

Seisi kelas seketika heboh, menyadari Suho baru saja mengajak Irene untuk pergi ke pesta perpisahan bersamanya dengan cara berbeda dari kebanyakan laki-laki.

Suho berdeham. “Kalau tidak suka dengan pilihanku, buang saja. Pakai ini untuk membeli gaun yang kau suka.”

Suho menyuruh siswa-siswi lain untuk memberi kartu kreditnya pada Irene secara estafet.

“Sudah ya? Aku sibuk.”

Irene berdecih sesaat setelah lelaki itu berlalu pergi dari kelasnya, “Sibuk apanya? Paling-paling, dia hanya tidak mau terlalu lama berada di dekatku. Dia lelaki atau bukan sih?”

Gadis itu menyimpan gaunnya di atas meja tanpa memasukkannya lagi ke dalam tas. Semburat senyum tak kunjung hilang dari wajahnya setiap kali ia menyadari gaun di depannya adalah pemberian Suho. TOLONG KAPITALKAN ITU. PEMBERIAN SUHO.

BRUK!

Bola mata Irene hampir saja loncat dari tempatnya setelah gaun pemberian Suho yang ia nikmati keindahannya sedaritadi tiba-tiba saja tertumpahi oleh susu vanila milik Kei. Saking terlalu menikmati waktu bercandanya dengan Sehun, Kei akhirnya tak sengaja menabrak meja Irene dan menumpahkan susu vanila dalam genggamannya ke gaun merah teman sekelasnya itu.

“Ah! Maaf, Irene! Maafkan aku! Sungguh aku tidak sengaja!”

Irene bangkit lagi dari duduknya, namun kali ini dengan tangan mengepal kuat dan gigi bergertak saking kesalnya.

“APA KAU BUTA, HUH?! KAU TIDAK MELIHAT ADA GAUN DI MEJAKU?! AH, ATAU KAU SENGAJA YA MENGOTORI GAUNKU?! KAU TIDAK SUKA MELIHATKU AKAN PERGI BERSAMA SUHO, IYA KAN?!” Bentak Irene pada Kei. Kei yang menyadari kesalahannya hanya bisa tertunduk, menyesal.

Sehun berdiri di depan Kei, menghadap Irene yang ia anggap sudah keterlaluan.

“Kau tuli? Kau tidak mendengar dia sudah meminta maaf padamu?”

“Kau tidak perlu ikut campur! Ini urusanku dengan si bodoh itu!”

BRAK!

Sehun menggebrak keras-keras meja Irene. Lelaki itu bahkan berani menyingkirkan gaun merah Irene hingga jatuh ke lantai.

“Hanya karena kau selalu mendapat peringkat terbaik, kau sudah merasa pintar, huh? Cepat-cepat berkacalah, dan lihat siapa yang sebenarnya ‘bodoh’ di sini!”

Kepalan tangan Irene semakin menguat, dadanya terasa kian sesak.

“AWAS SAJA KALAU KALIAN BERANI DATANG KE PESTA PERPISAHAN! KALIAN PASTI AKAN MENERIMA AKIBATNYA!”

 

♬♪♬

 

Mood Irene benar-benar sudah tak karuan. Setelah teman sekelasnya membuat onar hingga rasanya hampir membuat pembuluh darah di otaknya pecah, Irene tak bisa lagi mengontrol emosi. Teman-teman sekelasnya yang lain juga bapak guru yang tadi menumpang bercerita di kelasnya tak berani lagi mengusik apalagi mencari gara-gara dengannya. Bisa-bisa, semua murid di kelas itu masuk ke dalam daftar hitam nama-nama yang tak bisa masuk ke perguruan tinggi, mengingat ayah Irene adalah seorang menteri pendidikan.

‘Hei, paman! Kau di mana?! Aku sudah menunggu lebih dari 15 menit!’ Ketik Irene dalam pesannya yang ia tujukan pada sopir pribadinya.

Tanpa sepengetahuan Irene, Suho diam-diam mengendap-endap di belakangnya untuk mengintip sedang bersama siapa gadis itu berbalas pesan.

‘Maaf, Nona. Paman terjebak macet, jadi kemungkinan akan sangat terlambat menjemput Nona. Nona bisa naik taksi jika memang sudah tidak bisa bersabar untuk pulang.’ Balasan panjang dari sang sopir seketika saja membuat Irene melotot, tak percaya. Irene itu tipe gadis yang paling anti menaiki kendaraan umum, tak peduli itu taksi kelas eksekutif atau apapun.

Saat bulu kuduknya merasa sedikit merinding karena hembusan nafas seseorang, Irene langsung berpaling dan mendapati sosok pujaan hati yang sedang berpura-pura melihat ke arah lain.

“Kau mengintipku?!”

“Apa?” Tanya Suho, santai.

Tak lama berselang, mobil mewah yang siap menjemput Suho sudah ada di hadapan mata kedua insan yang sedaritadi berdiri di depan gerbang sekolah itu.

“Kau mau menumpang mobilku? Aku tahu sopir pribadimu tak bisa datang untuk menjemputmu segera karena macet.” Ucap Suho sesaat setelah dirinya masuk ke dalam mobilnya. Lelaki itu sengaja tak membiarkan sopirnya menutup pintu mobil, menunggu respon Irene.

Irene melongo melihat ekspresi senyum Suho yang begitu terkesan meledeknya. Lagi-lagi, demi menjaga imejnya, Irene tentu harus jual mahal dulu.

“Tidak perlu! Sopirku akan menjemput kok! Kau duluan saja!”

Suho mengangguk tanpa ragu, “Ya sudah kalau begitu, aku duluan. Bye!”

“Lho? Lho? Lho?!” Gadis itu tak menyangka Suho akan menganggap penolakannya seserius itu. Padahal ia berharap Suho akan terus membujuknya hingga mau pulang dan semobil bersama lelaki itu.

“HEI! SUHO! KEMBALI, DASAR LELAKI BODOH! AKU HANYA BERCANDA! HEI, SUHOOOOOO!”

 

To be continued….

wp-1502389176008.png

12 respons untuk ‘[EXO Fanfiction] THE WAR Series – WHAT U DO?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s