EXO Fanfiction, Fluff, Oneshot, PG-13, Romance, School Life, Series, T

[EXO Fanfiction] THE WAR Series – TOUCH IT

​`​THE WAR`

| A fanfiction by AYUSHAFIRAA |

| Starring EXO’s Xiumin x GU9UDAN’s Mina |

| Fluff, Romance, School-life |

| Teen || Vignette |

Clip List :

[Kai – Diamond] — [Baekhyun – Forever] — [Chanyeol – Chill] — [Sehun – The Eve] — [Suho – What U Do?] — NOW PLAYING ♪ [Xiumin – Touch It] — [Chen – Going Crazy] — [D.O – Walk On Memories] — [All – Ko Ko Bop]

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


♪ Aku tak butuh yang lain selama aku memilikimu,

(tak ada lagi?) 

Selama aku memilikimu ♪


AYUSHAFIRAA©2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

♪♬♪

*Isi cerita bisa jadi tidak sesuai dengan arti/maksud lagu*

 

Ruang OSIS masih sepi sekali pagi itu. Di sekolah pun baru terlihat segelintir orang yang berjalan menuju kelas masing-masing untuk mengerjakan piket. Berbeda dengan orang lain, gadis berpipi gembul satu itu justru memilih masuk ke kelas kekasihnya dulu yang berjarak lumayan jauh dari kelasnya. Sebuah kotak makan ada dalam genggamannya sedaritadi.

“Selamat pagi, Pacar!” Kejut Mina, gadis berpipi gembul tadi, pada kekasihnya yang masih terduduk sendirian di bangku paling depan, Xiumin.

Sayangnya, meskipun Mina pernah mencoba mengejutkan Xiumin berkali-kali, kekasihnya itu tetap tak merasa terkejut sama sekali.

“Selamat pagi juga, Pacar.”

Dengan bibir mengerucut, Mina duduk di bangku sebelah Xiumin.

“Mengerjakan tugas Suho lagi?”

Xiumin mengangguk, masih serius dengan aktivitasnya mengotret rumus matematika. “Dia akan marah besar jika aku belum menyelesaikan tugas-tugasnya pagi ini.”

“Untuk apa sih semua itu? Kan pelajaran juga sudah selesai semua.”

“Ini tugas dari ayahnya, sebagai syarat jika Suho mau melanjutkan kuliahnya keluar negeri.”

Jari telunjuk Xiumin tiba-tiba menempel di bibir gadisnya, “Tapi jangan bilang pada siapapun tentang hal ini ya? Aku tidak mau mencari gara-gara dengannya.”

Mina sih mengiyakan saja. Kasihan juga kalau Xiumin harus terus berurusan dengan orang kaya sombong macam Suho, tapi kalau Mina berusaha melawannya, yang ada hanya semakin menambah beban penderitaan Xiumin. Terakhir Mina memukul kepala Suho dengan bonekanya, Xiumin harus berakhir menjadi pesuruh Suho selama seminggu. Kasihan sekali bukan, kekasihnya itu?

“Ini sarapan buatanku. Tarraaaa!” Seru Mina membukakan kotak makan yang tadi dibawanya di hadapan Xiumin.

Xiumin menyingkirkan sebentar tugas-tugas Suho, untuk menikmati makanan buatan sang kekasih yang selalu juara di hatinya. Eaaaa.

“Aku suapi saja ya? Biar Pacar bisa sambil mengerjakan tugas Suho juga.” Ujar Mina, memberi saran.

Xiumin menggeleng, sesuap nasi beserta lauknya sudah tercampur dalam mulutnya. “Tidak boleh begitu, Pacar. Kita itu harus fokus pada satu hal. Kalau sedang makan, ya dahulukan makan saja,  jangan dicampur-adukkan dengan kegiatan lain.”

“Unchhhh, Pacar dewasa sekali sih!” Mina mencubit pipi Xiumin, gemas.

“Seharusnya bagian mencubit pipi itu aku, bukan Pacar. Pipi Pacar kan lebih menggemaskan.” Xiumin balik membalas cubitan Mina.

Keduanya memang pasangan kekasih yang begitu romantis sejak setahun terakhir.  Awal kisah cinta siswi berperawakan sedikit berisi dengan mantan ketua OSIS sekolah itu dimulai saat Mina menolong Xiumin yang menjadi bahan bulian Suho dan teman-temannya. Dengan keberanian maksimal, Mina memukul keras-keras punggung teman-teman Suho sekuat tenaga. Sebagai lelaki gentle, tentu saja Suho dan teman-temannya takkan mau menyakiti seorang gadis.

“Sudah selesai?” Tanya Mina sambil terus bergelayut manja di lengan kekasihnya.

“Sudah. Pacar tidak mau ke kelas dulu untuk menyimpan tas?” Xiumin terlihat merapikan kertas-kertas hasil kotretannya untuk segera ia berikan pada Suho di ruang OSIS sebelum bel masuk berbunyi.

Mina menggeleng cepat, “Nanti saja setelah mengantar Pacar ke ruang OSIS.”

Lelaki itu lantas menggandeng kekasihnya sepanjang koridor menuju ruang OSIS. Suasana sekolah kini sudah lumayan ramai. Berhubung Suho adalah orang kaya, lelaki itu tidak akan terlihat berkeliaran di sekitar sekolah jauh sebelum bel masuk, baru setelah bel berbunyi, mobil mewah yang mengantarnya akan menjadi mobil terakhir yang diperbolehkan masuk melewati gerbang sekolah.

“Ehem!”

Tapi rupanya, hari ini berbeda. Suho sudah duduk bertumpang kaki di meja ruang OSIS, raut kesalnya menunjukkan bahwa lelaki itu telah lama menunggu si babu, eh, maksudnya si mantan ketua OSIS periode lalu.

“Suho? Tumben sekali kau sudah ada di sini.”

Suho mengangguk-anggukan kepalanya, tatapannya terus tertuju ke pemandangan di mana Xiumin masih menggandeng mesra kekasihnya di depan kedua mata Suho. Sebagai lelaki yang termasuk high quality jomblo, pemandangan mesra seperti itu adalah bibit-bibit dari penyakit mata.

“Mana tugasku?” Tagih Suho.

Setelah Xiumin menyerahkan hasil kotretannya pada Suho, Suho berlalu pergi tanpa berucap terimakasih sama sekali.

“IH! DASAR LELAKI MENYEBALKAN! UNTUNG SAJA DIA BUKAN KEKASIHKU!” teriak Mina meluapkan kekesalannya.

Xiumin menghela nafasnya, “Sudahlah, tidak apa-apa, Pacar.”

Ketua OSIS baru yang tak lain merupakan adik kelas mereka masuk ke ruang OSIS sambil terus menggerutu. Beberapa lembar poster ada di tangannya. Saat Xiumin bertanya kenapa adik kelasnya itu tampak kesal, adik kelasnya bercerita bahwa Suho melempar beberapa poster itu ke wajahnya dan menyuruhnya untuk segera menempelkan poster itu di seluruh mading.

“Poster apa itu, Pacar?” Tanya Mina, penasaran.

“Suho mengadakan pesta perpisahan di ballroom hotel milik keluarganya malam minggu nanti.” Jelas Xiumin.

Mata Mina melotot, “Apa-apaan ini?! ‘Pesta ini bukan untuk jomblo’? Dia sendiri kan jomblo! Dasar tidak tahu malu!”

Xiumin memperhatikan kekasihnya yang terus nyerocos mengumpati Suho, sementara ia sendiri hanya sanggup menertawakan kekesalan sang kekasih yang justru membuatnya terlihat semakin menggemaskan.

“Ya sudah, nanti kau akan kubantu menempelkan poster-poster ini.” Ucap Xiumin tanpa ragu pada adik kelasnya itu.

 

♬♪♬

 

Di taman sekolah, Xiumin dan Mina tampak duduk bersandar di bawah sebuah pohon. Taman sekolah ini memang menjadi tempat favorit siswa-siswi satu sekolah berpacaran.

Mina mencabut sebuah rumput untuk melancarkan ide jahilnya mengerjai sang kekasih. Kelemahan Xiumin ada pada lehernya yang sensitif. Diberi sentuhan sedikit saja, lelaki tampan itu pasti akan spontan tertawa kegelian.

“Fufufu!~” siulan sumbang Mina menarik perhatian Xiumin untuk menatap ke arahnya. Gadis itu tersenyum lebar sebelum akhirnya memilin rumput yang dicabutnya tadi ke leher Xiumin.

“AKKK! HAHAHA HENTIKAN! AKH! GELI SEKALI, PACAR! KUMOHON HENTIKAN! AHAHAHAH!” saking tersiksanya dengan kegelian itu, Xiumin sampai menitikkan airmatanya saat tertawa.

Mina tertawa puas. Namun, saat pertahanan gadis itu lengah, Xiumin menarik Mina ke dalam pelukan eratnya.

“Kena! Sekarang Pacar tidak bisa menghindar dari hukuman!”

“Huwaaa! Jangan hukum Mina, Pacar! Mina tidak mau dihukum Pacar!” Rengek gadis itu penuh keimutan.

Xiumin menggelengkan kepala, “Eng! Eng! Pacar harus tetap dihukum karena berani menjahili Umin!”

“Hukumannya……”

Mina menutup matanya rapat-rapat, siap untuk menerima jitakan Xiumin.

“Cubit! Cubit! Cubit!” Xiumin mencubiti pipi gembul kekasihnya tanpa ampun. “Unch unch unch! Menggemaskan sekali pacar Umin!”

“Huwaaaa! Sudah! Pipi Mina sakit! Huhuhu!”

“Sakit?” Tanya Xiumin. Mina mengangguk pasrah. Kedua pipinya sudah memerah saking senangnya Xiumin mencubiti dua pipi bakpau itu.

“Uhhh sayang~” Xiumin mengelus lembut kedua pipi Mina penuh kasih sayang. Perbuatannya itu justru semakin membuat warna pipi Mina memerah seperti kepiting rebus sekarang.

“Mina ingin dicium Pacar.”

“Eh?” Lelaki itu terkejut saat kekasihnya menunjuk pipi gembul sebelah kanan miliknya, kode keras meminta sebuah ciuman di pipi.

“Pacar tidak mau cium pipi Mina ya?!” Mina merengut, manja. Bibirnya mengerucut seperti minta dicium juga.

“Aish! Jangan minta yang begitu dulu dong, Pacar!” Senyum Xiumin tak hilang dari wajah tampannya. Ia mengerti kekasihnya yang polos itu sudah termakan oleh adegan-adegan dalam drama romantis yang ditontonnya.  Sedangkan, selama satu tahun hubungan mereka, Xiumin tak pernah berani melangkah sejauh itu untuk mencium Mina meski hanya di pipi saja. Gadisnya pasti kecewa.

“Kenapa? Teman-temanku yang lain dicium kekasihnya setiap hari! Mereka bilang, karena mereka saling mencintai, makanya mereka selalu berciuman!” Ujar Mina, yang sepertinya iri dengan hubungan teman-temannya. “Pacar tidak mencintaiku ya?!”

Xiumin menghembuskan nafasnya kasar. “Bagiku, Pacar… Cinta itu tidak harus ditunjukkan dengan sebuah ciuman, terlebih kita masih anak SMA. Ya, meskipun sebentar lagi kita tidak akan menjadi anak SMA lagi, tetap saja berciuman itu harus melewati satu syarat dulu.”

“Apa syaratnya?”

Xiumin mengusap puncak kepala Mina, “Kita harus menikah dulu! Pacar jadi istriku, dan aku jadi suami Pacar.”

 

To be continued….

wp-1502389176008.png

Iklan

10 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] THE WAR Series – TOUCH IT”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s