EXO Fanfiction, Hurt/Comfort, Oneshot, PG-13, Psychology, Romance, School Life, Series, T

[EXO Fanfiction] THE WAR Series – GOING CRAZY

​`​THE WAR`

| A fanfiction by AYUSHAFIRAA |

| Starring EXO’s Chen x I.O.I’s Somi |

| Hurt/Comfort, Psychology, Romance, School-life |

| Teen || Vignette |

Clip List :

[Kai – Diamond] — [Baekhyun – Forever] — [Chanyeol – Chill] — [Sehun – The Eve] — [Suho – What U Do?] — [Xiumin – Touch It] — NOW PLAYING ♪ [Chen – Going Crazy] — [D.O – Walk On Memories] — [All – Ko Ko Bop]

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


♪ Hari mengerikan itu terlintas dalam pikiranku

Aku yakinkan diriku bahwa hari ini tak akan seperti itu ♪


AYUSHAFIRAA©2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

♬♪♬

*Isi cerita bisa jadi tidak sesuai dengan arti/maksud lagu*

 

Somi termasuk tipe siswi yang supel dan mau berteman dengan siapa saja, karena hal itulah ia juga pandai menilai watak seseorang. Menjalani setengah tahun hubungan bersama teman satu angkatannya, Chen, membuat Somi khatam dengan semua sifat-sifatnya. Chen itu lelaki yang bisa dengan mudahnya berubah sikap dalam sekejap karena cemburu buta. Chen bisa saja bersikap sangat baik padanya di pagi hari, namun jika lelaki itu melihatnya dekat dengan lelaki lain, sikap lelaki itu akan berubah di siang harinya.

6 bulan yang mereka lalui sebagai sepasang kekasih ternyata seringkali membuat siswi cantik berambut panjang blasteran Korea – Kanada itu makan hati seorang diri. Somi selalu ingin punya banyak teman, namun Chen malah mengekangnya. Kalau begini terus, apa yang harus dipertahankan dari hubungan tak sehat itu?

“Somi! Somi, dengarkan aku dulu!”

Chen berdiri menghalangi jalan Somi yang hendak kembali masuk ke kelas, tak membiarkan gadisnya itu untuk terus mengambil langkah, menjauhinya. Setelah gadis itu berani mengajaknya putus, Chen seakan langsung kehilangan akalnya.

“Apa lagi? Apa kurang jelas ucapanku tadi?” Tanya Somi, malas meladeni lelaki itu lagi.

“Aku tidak ingin kita putus!” Ucap Chen lantang.

Somi terkekeh pelan sebelum akhirnya menatap mantan kekasihnya itu serius. “Tapi aku ingin.”

Chen menarik Somi, tangannya mencengkram lengan gadis itu kuat-kuat.

“Chen, lepaskan! Kau ini kenapa sih?!”

“Bukankah sudah kukatakan aku mencintaimu, Somi?! Kau tidak bisa memperlakukan aku seperti ini!”

Gadis itu menghela nafasnya panjang. Sudah cukup ia bersabar selama ini menghadapi sikap kekanakkan Chen. 

Kalau dikatakan cinta, ia juga mencintai Chen. Tapi bukan cinta namanya jika salah satu pihak merasa tersakiti. Somi ingin hubungannya dengan Chen bisa bertahan, hubungan yang normal seperti teman-temannya, bukan mempertahankan cinta penuh ambisi seperti ini.

“Aku lelah dengan semua sikap keterlaluanmu, Chen. Kalau saja kau mau berubah, aku pasti akan menerimamu kembali.”

“Baiklah.”

“Huh?” tanya Somi meminta pengulangan.

Chen menggenggam kedua tangan Somi, menatap kedua manik gadis itu dalam-dalam dengan penuh kesungguhan. “Demi dirimu, aku akan berusaha memperbaiki sikapku. Aku tidak ingin kita putus. Aku sangat mencintaimu, kau tahu?”

“Aku mengerti.” Perlahan senyuman tipis terukir di bibir gadis itu. “Ini kesempatan terakhirmu, Chen. Jangan disia-siakan ya?”

“Tidak akan pernah, Somi. Aku berjanji padamu.”

 

♪♬♪

 

Sambil saling merangkul satu sama lain, Chen dan Somi berjalan berdampingan begitu mesra di lorong sekolah saat jam istirahat berbunyi. Kelas mereka yang terhalang oleh tembok pembatas membuat mereka tak bisa sering-sering mencuri-curi pandang seperti pasangan lain saat jam pelajaran masih berlangsung. Jadi, momen-momen seperti jam istirahat dan jam pulang sekolah-lah yang paling dinantikan dua insan itu.

“Apa yang sedang kalian pasang?” Tanya Chen pada mantan ketua OSIS angkatannya yang tampak begitu sibuk menempelkan sebuah poster di mading bersama kekasihnya, Xiumin dan Mina.

“Poster pesta perpisahan. Untuk detailnya bisa kalian baca sendiri.” Jawab Xiumin sebelum akhirnya menggandeng Mina untuk selanjutnya menempelkan poster pemberian Suho ke mading lain.

“Ternyata ada pesta dansanya juga!” Dalam rangkulan Chen, Somi tampak antusias dengan pesta perpisahan itu. Chen yang melihat reaksinya kemudian mengelus puncak kepala kekasihnya, gemas.

“Haruskah kita belajar berdansa bersama?”

Somi menganggukkan kepalanya, menyetujui tawaran Chen. “Hmmm… Kurasa hanya kita yang memikirkan ide itu. Kita pasti akan serasi sekali saat berdansa nanti.” Lanjut gadis itu, menerawang.

Chen mengecup pipi gadisnya, “Tentu saja.”

Gadis blasteran itu tampak tertunduk malu-malu setelah mendapat ciuman kilat di pipinya. Rona merah mudanya semakin terlihat jelas saat sang kekasih menatapnya dari dekat. “Sudah ah, Chen. Aku malu. Kita masih di sekolah.”
Chen tertawa. “Aku mengerti, aku mengerti.”

Kruyuk~ kruyuk~~~

Somi memegangi perutnya. “Ayo kita makan siang!~ Mendapat ciuman darimu tidak akan membuatku merasa kenyang.” Bibir gadis itu mengerucut, manyun.

“Aneh sekali. Padahal kalau kau yang menciumku, aku rasa aku tak perlu makan apapun lagi.”

Somi menampol pipi Chen dengan semburat merah yang tak kunjung hilang dari pipinya, “Dasar gombal!”

Karena cacing-cacing di perut Somi sudah berkonser ria di dalam sana meminta makan, Chen pun menggandeng kekasihnya itu untuk mendapat pertolongan pertama pada kelaparan di kantin.

Seperti biasanya, kalau telat sedikit, meja makan sudah penuh oleh siswa-siswi lain yang datang lebih cepat. Malas untuk mencari-cari tempat duduk di antara banyaknya siswa-siswi sekolah mereka, Somi memutuskan untuk menarik Chen ke luar dari kantin setelah membeli dua burger untuk mereka nikmati di taman sekolah, tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama jika kantin sudah overload.

“Kita makan dulu, baru setelah itu kita berlatih dansa.” Ucap Chen. Somi melotot, sedikit terkejut.

“Kita akan berlatih dansa di sini hari ini juga?!”

Chen mengangguk, meyakinkan sang kekasih. “Seperti katamu, ‘kita pasti akan serasi saat berdansa nanti’. Agar kita ‘serasi’ tentu kita harus berlatih mulai hari ini juga.”

“Hufh!” Gadis itu menghembuskan nafasnya kasar.

“Baiklah! Baiklah! Mari kita bahas itu nanti setelah makan! Lama-lama aku bisa mati kelaparan nih!” Lanjut si gadis dengan bumbu hiperbola di akhirnya.

Mereka berdua duduk di atas rumput hijau taman sekolah di dekat lapangan. Sambil menyaksikan permainan futsal anak-anak kelas 1 yang iseng mengisi waktu istirahat mereka, Somi dan Chen saling menyuapi burger ke mulut satu sama lain. Dengan begini, hubungan mereka bisa terasa hangat lagi setelah putus dalam waktu beberapa menit tadi pagi.

“Aku ke toilet dulu ya? Kau mau kutinggal atau ikut?” Tanya Chen, menyeringai, yang langsung dibalas dengan pukulan keras Somi pada kepalanya.

“Aku tunggu di sini saja. Jangan lama-lama, nanti aku diambil orang lho!” Ujar Somi, sedang Chen hanya menanggapi candaannya dengan tawa lepas.

Gadis itu melanjutkan makan siangnya seorang diri sambil menunggu Chen kembali. Sesekali, ia terdengar bersenandung dengan suara seadanya demi mengalahkan rasa sepi ditinggal Chen. Padahal hanya ditinggal pergi ke toilet, tapi karena ditinggal sendiri tanpa hiburan, rasanya seperti ditinggal om-om idola wamil 2 tahun. Hiks.

DUK! DUK!

Sebuah bola datang menggelinding menghampiri kaki Somi yang sedang selonjoran santai. Gadis itu hendak mengambilnya, namun kemudian seorang siswa kelas 1 bergerak lebih cepat dalam merebutnya.

“Ah, maaf, Kak! Kami tak sengaja menendang bolanya kemari.” Siswa itu tampak sedikit salah tingkah saat menatap mata Somi.

“Sepertinya bola ini tahu mana gadis yang cantik, jadinya bola ini menghampiri Kakak deh.”

Somi sedikit terkejut mendapat gombalan seperti itu dari seorang adik kelas yang tak ia kenal. Gadis yang dibilang cantik itu lantas berdiri dari posisinya, tinggi badannya mampu mengalahkan tinggi siswa yang menggombalinya tadi beberapa sentimeter.

“Kalau kau mau menggombaliku, tunggulah sampai tinggimu mampu melebihiku ya, Adik Kelas!” Ucap Somi, memberi nasihat tersembunyi agar siswa itu fokus dulu pada pelajaran-pelajarannya di kelas ketimbang merayu gadis yang lebih tua dari dirinya. Somi lantas memberi elusan sayang pada kepala adik kelasnya itu.

“Apa kau bilang? Dia berani menggombalimu?!”

Chen berdiri tak jauh dari keduanya.

“HEI, KAU! KEMARI!” Lelaki itu menarik kerah adik kelasnya, emosinya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun apalagi setelah melihat sang kekasih mengelus kepala adik kelasnya dengan tatapan yang menurutnya ‘berbeda’.

“Chen! Hentikan, Chen! Kau ini apa-apaan sih?!”

“Ma-maaf, Kak! Saya hanya berniat mengambil bola ini saja kok!” Jawab siswa itu, ketakutan.

Chen merebut bola sepak dalam genggaman adik kelasnya dan memukul wajah si adik kelas menggunakan bola tersebut berkali-kali hingga siempunya wajah babak belur karenanya.

“KUBILANG HENTIKAN, CHEN!” teriak Somi, akhirnya, yang seketika menyadarkan Chen atas apa yang baru saja dilakukannya.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Somi dengan raut penuh kekhawatiran pada adik kelasnya itu. Darah tampak keluar dari sudut bibir dan hidungnya.

“Somi… Maafkan aku.”

Tatapan tajam gadis itu lantas mengarah pada sosok sang kekasih. Perbuatan keterlaluannya kali ini tak bisa lagi dimaafkan. ‘Salah paham’ yang selalu menjadi permasalahan utama mereka tampaknya tak pernah membuat Chen berintrospeksi diri sama sekali.

“SUDAH KUKATAKAN SEBELUMNYA KALAU INI ADALAH KESEMPATAN TERAKHIRMU, TAPI….” Somi menggantung kalimatnya. Dirinya sedang berusaha keras menahan agar airmata tak mendesak keluar dari pelupuknya secara memalukan di hadapan Chen.

“KAU TELAH MENYIA-NYIAKANNYA!”

 

To be continued…

wp-1502389176008.png

Iklan

8 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] THE WAR Series – GOING CRAZY”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s