Chaptered, Drama, EXO Fanfiction, Friendship, Hurt/Comfort, PG-13, Romance, Sad, Slice of Life, Special, T

[EXO Fanfiction] SUNDAY IN SEPTEMBER – Last Week

wp-1505236245401.jpg

`SUNDAY IN SEPTEMBER`

 

A fanfiction by AYUSHAFIRAA

`Starring Lee Jieun, Byun Baekhyun, Ji Hyeran`

|| Drama, Friendship, Romance ||

// PG-15 // Mini-Chaptered //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


September List :

 [ Prologue1st Week2nd Week ― 3rd Week ― Last Week ― [Coming Soon] ]


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

.

.

.

[ Akhir Bahagia yang Tak Diinginkan ]

 

Selama ini, aku hanya mengenang semua kenanganku bersama Baekhyun melalui mimpi. Aku tak pernah memimpikan hal lain selain kenangan. Tapi kali ini, saat aku membenci Baekhyun atas sikapnya yang terus menerus mempermainkan perasaanku, aku memimpikan hal baru, kejadian yang belum pernah terjadi dalam hidupku.

Seorang anak laki-laki memanggilku ibu, berjanji untuk menjadi sumber kebahagiaanku dan menyuruhku untuk bersabar sebentar lagi. Apa maksudnya itu?

Juga, pria yang menggenggam hangat tanganku tanpa bisa kukenali wajahnya karena terhalang oleh seberkas cahaya, siapa dia?

Kedua mataku perlahan terbuka. Buram. Cahaya putih menyilaukan membuatku mengerjapkan mata sesaat hingga semuanya kembali dapat kulihat secara normal. Untuk kedua kalinya dalam bulan ini, aku mendapati diriku terbaring di sebuah ranjang rumah sakit. ‘Robot’ sepertiku akhirnya merasakan tumbang juga untuk kedua kali selama 7 tahun terakhir.

“Ji?”

Baekhyun yang terduduk di sebuah kursi di kiri ranjangku menatapku lega. Dia sendirian. Saat aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, tak kutemukan sosok Hyeran mendampinginya.

“JIEUN! JIEUN!” suara Kyungsoo seketika saja memenuhi ruanganku. Lelaki itu datang dengan raut penuh kekhawatiran. Wajar saja, aku berpamitan padanya dalam keadaan baik-baik saja siang tadi, dan malam ini, dia menemukanku terbaring lemah di rumah sakit.

“Kau baik-baik saja?!” tanya Kyungsoo. Dapat kudengar nafasnya yang masih memburu dan kulihat keringat bercucuran dari dahinya.

“Dia baik-baik saja. Dokter bilang, dia hanya terlalu kelelahan dan stres.” Jelas Baekhyun.

“Hanya?” Kyungsoo berdecih, menatap Baekhyun dengan kebencian yang jelas terpancar dari kedua bola matanya. ”Si brengsek ini benar-benar!” tangannya yang mengepal ia ayunkan ke wajah Baekhyun, memberi Baekhyun sebuah tinjuan kasar di pipi.

“HENTIKAN!” teriakku untuk mencegah perkelahian di antara mereka kian menjadi. Baekhyun yang tadinya akan melayangkan tinjuan balasan ke wajah Kyungsoo kemudian menghentikan gerak tangannya.

Aku bangkit dari posisi berbaringku, “KAU INI APA-APAAN SIH, DO KYUNGSOO?!”

“Aku sudah tahu siapa dia sebenarnya, Jieun! Kau tidak perlu menutup-nutupinya lagi dariku!”

Aku terdiam mendengar ucapan Kyungsoo. Sedetik kemudian aku baru menyadari bahwa keputusanku membiarkan Kyungsoo membersihkan seisi rumahku adalah sebuah kesalahan. Kyungsoo pasti menemukan satu-satunya fotoku dengan Baekhyun di masa lalu yang kupigurai dengan pigura berbentuk hati.

“KAU!” Kyungsoo mengacungkan tangannya secara horizontal ke arah Baekhyun. “KAULAH SATU-SATUNYA PENYEBAB DARI SEMUA INI! KALAU BUKAN KARENA DIRIMU, JIEUN TIDAK AKAN MENJADI ‘ROBOT’ YANG GILA KERJA HANYA UNTUK BERUSAHA MELUPAKAN KENANGANNYA BERSAMAMU! KALAU KAU TIDAK PERNAH MENINGGALKANNYA TANPA SEBUAH KEJELASAN, JIEUN TIDAK AKAN HIDUP MENYEDIHKAN SEPERTI INI!”

BUGH!

Kyungsoo benar. Aku begitu menyedihkan. Hidupku begitu menyedihkan setelah Baekhyun pergi meninggalkanku tanpa mengucapkan salam perpisahan apapun. Dia bilang akulah satu-satunya gadis yang dia cintai, tapi seminggu kemudian dia pergi dan menghilang selama 7 tahun. Saat dia kembali, dia datang tanpa cinta untukku lagi karena cintanya sudah dia berikan untuk orang lain. Ya, untuk Hyeran.

[Minggu, 26 September 2010]

Setelah dua minggu lalu putra mendapat giliran bersih-bersih, siang ini giliran anak-anak putri yang tumpah ruah di halaman untuk bersih-bersih. Saat Taeyeon mengabsen namaku, aku mendapat tugas membersihkan halaman, tapi entah kenapa perintah itu seketika saja dia ubah setelah kulihat Hyeran membisikan sesuatu padanya. Akhirnya, aku mendapat jatah membersihkan seisi bangunan putri bersama Hyeran dan beberapa teman lainnya.

Hyeran yang menyapu, aku yang mengepel. Sesekali, kulihat Hyeran tampak malas melakukan ini. Menurutnya, hari minggu sudah seharusnya menjadi hari yang benar-benar libur tanpa kegiatan apapun yang sifatnya memaksa.

“Ah! Masa bodoh!” gadis itu menjatuhkan dirinya ke lantai, melempar sembarang sapu ijuk yang sedaritadi digunakannya. “Aku lelah!”

“Kak Hyeran ingin dimarahi ibu panti ya?” tanyaku sambil tak berhenti menggerakan alat pel-ku di atas lantai kotor ke kanan dan ke kiri.

“Aku tidak peduli! Toh, aku akan segera diadopsi oleh keluarga kaya.”

Aku terdiam sejenak. Ucapan gadis 14 tahun itu tak lagi terdengar asal-asalan di telingaku. “Kau sudah bertemu keluarga yang akan mengadopsimu, Kak?”

Hyeran mengangguk yakin. Namun setelahnya, dia kembali bangkit untuk mengambil sapunya dan meneruskan pekerjaannya lagi. Kurasa tadi, Hyeran hanya berniat menghirup udara sebentar. Dia tentu tidak mau kalau sampai kelakuannya tersebut sampai ke telinga ibu panti karena teman-temannya yang lain melaporkannya.

“Oh iya, Jieun. Nanti kau mau ya menemaniku belanja ke minimarket? Ibu Panti menyuruhku membeli beberapa stok susu untuk adik-adik kita.”

Aku memberi anggukan sebagai jawaban permintaan Hyeran. Sambil melanjutkan pekerjaanku, aku terus bertanya-tanya dalam hati. Tentang, kapan ada orang tua yang mau mengadopsiku? Kenapa Hyeran bisa lebih beruntung dalam mendapatkan orang tua?

Terbayang lagi di benakku wajah kedua orang tuaku yang sosoknya takkan pernah tergantikan oleh siapapun. Aku mulai mengerti dan mengambil kesimpulan secara sepihak dari pertanyaan ‘kapan ada orang tua yang mau mengadopsiku?’, bahwa mungkin Tuhan hanya tak mau melihatku melupakan kebaikan mereka, ya, orang tua kandungku. Sedangkan, untuk pertanyaan ‘kenapa Hyeran bisa lebih beruntung dalam mendapatkan orang tua?’ sepertinya aku hanya merasa iri. Padahal sebenarnya, aku tak perlu merasakan hal seperti itu pada Hyeran, karena yang malang itu sebenarnya dia, bukan aku.

“Apa kau melihat ponselku, Kak?”

Kegiatan bersih-bersih baru kami selesaikan 30 menit yang lalu. Dan saat aku kembali ke kamar, aku tak menemukan di mana keberadaan benda penting itu. Aku bahkan sampai berulangkali memeriksa kolong tempat tidur, bawah kasur, celah lemari, pokoknya setiap inchi kamar sudah kuperiksa tapi tetap saja hasilnya nihil.

Hyeran mengangkat bahunya, tak tahu menahu. Dia memang pamit padaku pergi ke ruangan ibu panti sebentar untuk meminta uang belanja dan kurasa dia memang baru kembali dari sana.

“Memangnya kau simpan di mana, Jieun?”

“Seingatku, aku menyimpannya di atas meja belajar ini.”

“Tapi?” tanya Hyeran menunggu kelanjutan ucapanku.

“Tidak ada.” Aku membanting tubuhku ke atas kasur, melenguh pasrah. Ponsel yang diberikan ibu panti saat pertama kali aku masuk sekolah menengah atas kini menghilang entah ke mana.

Hyeran berdeham seraya menatap lurus ke arahku. Aku yang tak mengerti arti tatapannya kemudian bangkit, “Apa?”

“Tidak jadi menemaniku belanja?” tanyanya serius.

Aku menepuk jidatku, “Baiklah! Baiklah! Maaf, aku lupa!” ucapku nyengir.

Saat aku dan Hyeran berjalan ke gerbang, aku menyempatkan diriku untuk mencuri-curi pandang ke bangunan putra. Tanda-tanda kehadiran Baekhyun tak kutemukan sejauh mataku memandang. Tumben sekali.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Hyeran berdiri di gerbang panti, menatapku yang beberapa saat tadi tak berjalan mengikutinya.

Sepanjang perjalanan menuju minimarket, aku tak pernah berhenti memikirkan lelaki itu. Hari mingguku seperti ada yang kurang jika tanpanya. Tega sekali dia tak muncul di hari minggu ini dan membiarkanku terjebak menjadi pesuruh Hyeran seharian.

Jika pada saat aku pergi berbelanja bersama Baekhyun, Baekhyun yang mendorong troli dan membawa barang belanjaan kami sendirian, kini aku merasakan bagaimana rasanya menjadi dirinya saat itu. Hyeran terus melenggang di depanku yang kewalahan membawa kantong belanjaan tanpa ada niatan untuk membantu. Aku tak berani memintanya untuk membantuku, aku hanya diam dan menunggunya sadar sendiri. Tapi sayangnya, dia tidak sadar-sadar sampai akhirnya kami kembali ke panti di sore hari menuju petang dengan tubuhku yang banjir keringat sementara dirinya terlihat asik memain-mainkan rambut panjangnya tanpa merasa berdosa.

“Sudah, Jieun, sampai di sini saja. Biar aku yang membawa semuanya ke ruang ibu panti. Kau sudah lelah, bukan?”

Detik itu juga, aku menurunkan barang belanjaan kami. Nafasku terus memburu seiring keringatku yang tak berhenti bercucuran. “Aku mengerti. Ya sudah, aku ke kamar duluan ya?”

Hyeran memberi anggukannya, “Iya. Istirahatlah, Jieun.”

Aku menunggunya berucap terimakasih, namun yang kutangkap oleh indera pendengaranku hanyalah semilir angin musim gugur yang menerbangkan dedaunan hingga berserakan di tanah. Hyeran berlalu menjinjing belanjaan itu tanpa melirik ke arahku lagi.

Tidak apa-apa. Toh, ini memang bukan kali pertama.

“Jieun!”

Aku menyahut saat sebuah panggilan keras menyerupai teriakan dari salah seorang teman mencegahku untuk melangkah masuk ke kamar.

“Ada apa?”

“Aku menemukan ponsel ini di tempat sampah siang tadi. Ini punyamu kan?”

Itu memang ponselku. Terlihat dari stiker huruf berinisialkan namaku, LJE, yang kutempel di belakangnya beserta huruf BBH yang sengaja kutulis kecil menggunakan pulpen saat iseng memikirkan lelaki pemilik inisial itu.

“Saat aku hendak mengembalikannya padamu, kau tidak ada di kamar. Apa kau sengaja membuangnya?” tanya temanku lagi. Aku menggeleng cepat sebagai bantahan.

“Aku justru baru menyadari kalau ponsel milikku ini hilang setelah selesai bersih-bersih siang tadi.” Aku berusaha mengaktifkan ponselku, tapi ponselku enggan untuk menyala. “Bagaimanapun, terimakasih banyak ya sudah mengembalikan ponsel ini padaku.”

“Oh iya, kau tidak mau mengucapkan selamat tinggal pada ‘BBH’-mu itu? Dia akan pergi ke Amerika hari ini, lho!”

“BBH? Maksudmu, Baekhyun? Kenapa? Kenapa dia harus pergi ke Amerika?!” tanyaku bertubi-tubi.

“Kau tidak tahu? Dia sudah resmi diadopsi oleh keluarga kaya raya, makanya-“

Aku tak memiliki waktu lagi untuk mendengar penjelasan temanku. Aku berlari secepat yang kubisa, berharap Baekhyun masih mau menungguku sebelum dia pergi. Karena tak pandai berlari, beberapa kali aku terjatuh. Aku tak peduli berapa banyak luka lecet yang berdarah di lututku, yang pasti adalah rasa sakitnya tak mampu mengalahkan rasa sakitku yang baru mengetahui rencana kepergian Baekhyun seterlambat ini. Itupun, aku mendengarnya dari temanku, bukan dari diri lelaki itu secara langsung.

Tanpa kusadari airmataku mulai menetes deras entah sejak kapan. Kulihat dari jauh beberapa anak panti yang memiliki kedekatan dengan Baekhyun sudah berkumpul di dekat sebuah mobil. Samar, aku melihat Baekhyun masih di sana.

BRUK!

Lagi-lagi, aku terjatuh untuk kesekian kalinya.

Sedikit lagi… berlari sedikit lagi saja…. kumohon….

Rasa sesakku meledak-ledak di dalam dada tatkala aku menyaksikan kepergian Baekhyun berlangsung begitu saja di depan kedua mataku tanpa mampu mencegahnya. Sungguh, aku ingin sekali meneriakkan namanya saat itu juga. Namun, suaraku lenyap dalam sekejap. Aku tak bisa berteriak memanggil namanya, sekedar menggumam namanya pun aku tak bisa.

Baekhyun pergi tanpa berpaling ke arahku. Tanpa berucap selamat tinggal. Tanpa mengukir sebuah senyuman. Juga tanpa berjanji akan kembali.

[Minggu, 24 September 2017]

[Baekhyun ― 26-09-2010, 12:13]

‘Selamat hari minggu, Ji^^ Aku ingin bertemu denganmu di taman belakang bangunan putri, bisakah kau luangkan waktumu sebentar?’

[Baekhyun ― 26-09-2010, 13:40]

‘Ji? Apa kau menerima pesanku? Kalau iya, aku masih menunggumu di taman belakang bangunan putri.’

[Baekhyun ― 26-09-2010, 15:00]

‘Ji, kau di mana? Kumohon temui aku sekarang juga.’

[Baekhyun ― 26-09-2010, 17:00]

‘Ji, aku pergi. Maaf karena tak bisa menunggumu lebih lama lagi. Semoga hari minggumu menyenangkan tanpa aku.’

Senyum penuh airmataku kembali terukir saat membaca pesan-pesan lama itu lagi di ponsel jadulku.

Sejak Baekhyun pergi meninggalkanku begitu saja tanpa berucap apapun hari itu, aku kehilangan suaraku untuk beberapa hari. Hal itu juga pernah menimpaku saat kedua orang tuaku meninggal dalam kecelakaan pesawat dulu, aku mengalami kebisuan untuk beberapa lama yang diakibatkan oleh guncangan psikis.

Setelah suaraku kembali, aku memutuskan untuk pergi dari panti asuhan dan bekerja keras untuk membeli sebuah rumah kecil yang masih layak untuk kutinggali yang ditambah dengan uang hasil menabungku selama 10 tahun tinggal di panti tersebut. Beberapa hari sebelum kepergianku, Hyeran sudah pergi duluan karena telah resmi diadopsi oleh keluarga kaya seperti yang pernah dia katakan sebelumnya.

Aku tidak melanjutkan pendidikan SMA-ku. Untuk menutupinya, aku mengambil ujian paket C. Hidupku semakin goyah sesaat setelah aku memutuskan untuk menyervis ponsel lamaku dengan gaji pertama yang kuterima. Data-data pesan di hari terakhir ponselku hidup masih bisa diselamatkan. Karena itulah, hingga detik ini aku masih bisa membaca pesan-pesan yang Baekhyun kirimkan di hari minggu terakhir aku melihatnya pergi.

Baekhyun menungguku berjam-jam di tempat itu… namun aku tak datang. Baekhyun terus menghubungiku… namun aku yang tak bisa dihubungi. Baekhyun mungkin ingin mengucapkan salam perpisahan padaku saat itu… namun aku yang tak bisa menyadarinya lebih awal.

Semuanya… adalah kesalahanku.

“Jadi apa keputusanmu, Jieun?”

Aku berbalik dan mendapati Kyungsoo berdiri di ambang pintu rumahku dengan tatapan tajamnya.

Lelaki baik itu sudah tahu permintaan apa yang Baekhyun ajukan padaku minggu lalu di momen pertemuan sengaja kami di Giant Hotel. Aku yang bercerita padanya untuk mendengar pendapatnya mengenai hal itu.

Saat itu, Kyungsoo marah besar. Dia tak terima aku mendapat perlakuan seperti itu dari seorang Byun Baekhyun yang kini sudah berganti marga menjadi Hwang. Dia secara tegas akan menolak jika aku nekat mengambil keputusan bodoh yang jelas-jelas akan lebih menguntungkan pria itu dalam hal apapun.

“SETELAH DIA MENCAMPAKANMU BERTAHUN-TAHUN, KAU AKAN MEMBIARKANNYA MENYENTUH TUBUHMU?! JIKA MEMANG DIA HANYA MENGINGINKAN KETURUNAN, KENAPA HARUS KAU?! TIDAK, KENAPA SEJAK AWAL DIA HARUS MENIKAHI WANITA YANG TAK MAMPU MEMBERINYA KETURUNAN?! KENAPA DIA TAK MENIKAHIMU SAJA SEJAK AWAL?!”

Kyungsoo melangkah lebih dekat lagi. Tangan besarnya menggenggam tanganku begitu hangat. “Seseorang yang pernah menjadi masa lalu, bukanlah bagian dari masa depan.”

Ada kilatan amarah dan ketulusan yang menjadi satu dalam tatapan Kyungsoo padaku. Amarah yang terpendam pada Baekhyun, dan ketulusan yang dia berikan untukku. Aku sangat menghargainya, menghargai setiap upaya yang telah dia lakukan untuk melindungiku.

“Terimakasih untuk semuanya, Kyungsoo.” Ucapku. Dapat kurasakan mataku menghangat karena berkaca-kaca.

Senyum Kyungsoo perlahan mengembang. “Aku tahu kau sudah memikirkan matang-matang dan memilih pilihan yang terbaik. Sekarang, kau tidak perlu memaksakan dirimu lagi.”

I can’t change it for anything else in the world

Thank you for your heart and your thoughts for me…

Aku berdiri menatap langit sore di depan sebuah hotel bintang lima yang masih berada dalam naungan Giant Group, Giant Hotel. Menanti Baekhyun kembali selama 7 tahun lamanya membuatku terbiasa untuk menunggu. Aku ingin bertemu dengan lelaki itu untuk menyelesaikan rasa rindu dan penantianku. Aku tak mau… kami berakhir seperti dua orang asing yang tak saling mengenal.

Lelah terus menenggak, aku mengubah arah pandangku ke aspal tempatku berpijak. Beberapa guguran daun berwarna kecokelatan jatuh ke dekat kakiku. Aku jadi teringat akan kisah musim gugur yang pernah diceritakan Baekhyun sebelum akhirnya dia mencuri ciuman pertamaku.

Daun rela mati demi melihat si pohon tetap hidup. Padahal bagi pohon, daun hanyalah bagian kecil dari dirinya yang akan dengan mudah tergantikan oleh yang baru. Itu kesimpulanku yang berbeda dengan kesimpulan Baekhyun. Jujur saja, aku lebih menyukai versiku sendiri.

“Selamat hari minggu, Ji.”

Entah sejak kapan lelaki itu berdiri di sampingku. Saking terlalu larut dalam duniaku sendiri, aku jadi tak menyadari kehadirannya.

“Selamat hari minggu, Baekhyun.” aku berdiri menghadap tubuh tingginya. Dia tampak sedikit terkejut saat mendengarku membalas ucapan ‘selamat hari minggu’nya untuk pertama kali sejak kami saling mengenal.

Cih, aku cengeng sekali. Baru beberapa menit kuhabiskan waktu untuk menatapnya saja, mataku sudah basah.

Meetingmu sudah selesai?” tanyaku sambil berdeham sedikit, menyamankan tenggorokanku yang tadi sedikit tercekat.

“Sudah.” Jawabnya. “Ayo masuk! Aku sudah memesan meja khusus untuk kita berdua.”

Tangan Baekhyun hampir saja menggenggam tanganku, namun kurasa kesadaran akan statusnya yang kini sudah beristri membuatnya sedikit lebih cepat untuk mengurungkan niat.

Kami melangkah masuk ke restoran hotel tanpa berpegangan tangan. Aku tidak kecewa kok. Aku percaya, sejahat-jahatnya Baekhyun padaku, Baekhyun tidak akan sejahat itu pada Hyeran.

“Terakhir kali, aku meninggalkan kesan yang begitu buruk di restoran ini. Maafkan aku.”

Aku dan Baekhyun duduk di sebuah meja khusus dua orang di dekat jendela yang mengarah langsung ke pemandangan jalanan kota yang ramai. Di meja ini, kami dapat secara langsung merasakan semilir udara segar yang dapat menenangkan pikiran siapapun.

“Aku mengerti. Kau tidak perlu meminta maaf, Ji.”

“Baekhyun…” dia menatap lurus ke arahku, menunggu bibirku untuk menyelesaikan kalimatku dulu. “Aku sekarang tahu alasanmu menyukai hari minggu. Aku juga tahu, kenapa kau selalu memperlakukanku begitu spesial di hari minggu. Aku sudah tahu alasannya.”

“Karena Tuhan mempertemukan kita untuk pertama kalinya di hari minggu, tepatnya bulan Mei, 7 tahun yang lalu.” Ujarku berkaca-kaca. Kulihat dia tersenyum dan mengangguk setuju.

“Akhirnya kau tahu juga apa yang kurahasiakan selama ini. Aku memang sengaja tak memberitahumu, agar kau bisa mencari tahu sendiri alasan itu. Aku merasa sangat beruntung sekali bisa dipertemukan denganmu hari itu.” Baekhyun tertawa ringan, tanpa beban.

Beberapa makanan yang sudah lebih dulu dipesankan Baekhyun datang ke meja kami. Semuanya adalah makanan mahal yang sudah lama tak pernah kunikmati kelezatannya lagi sejak 17 tahun meninggalnya orang tuaku.

“Aku minta maaf, Baekhyun.”

“Untuk?”

“Karena aku tidak sempat menemuimu di hari kau pergi ke Amerika.”

Baekhyun langsung terdiam tak menyentuh makanannya. Senyuman yang terukir di bibirnya menunjukkan keterpaksaan. Aku tahu, dia kecewa.

“Tidak apa-apa. Aku senang kau mendapat seseorang yang bisa menggantikan posisiku di hari itu juga.”

Keningku mengkerut, bingung atas perkataannya. “Maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Kau tidak bisa menemuiku hari itu karena kau pergi berkencan dengan Kak Minseok. Aku mungkin kecewa saat itu, tapi saat aku memikirkannya lagi, itu memang akan lebih baik untukmu.”

“Aku tidak pernah pergi berkencan dengan Kak Minseok, Baekhyun.” ucapku, mematahkan penjelasannya barusan.

“Tapi Kak Taeyeon bilang…“ Baekhyun terdiam lagi untuk beberapa saat.

Taeyeon? Untuk apa Taeyeon berbohong seperti itu pada Baekhyun?

“Hari itu, aku tiba-tiba saja kehilangan ponselku. Aku sudah berusaha mencarinya namun aku tetap tak bisa menemukannya. Lalu, Hyeran meminta tolong untuk diantar ke minimarket. Hyeran mengajakku berlama-lama di sana padahal kami hanya membeli beberapa kaleng-“

“Itu tidak ada hubungannya dengan Hyeran.” Ucapnya, memotong penjelasanku.

Aku kehabisan kata-kata. Sekalipun aku bercerita tentang keburukan Hyeran dan tingkah mencurigakannya yang kurasa terkait dengan kesalahpahaman di antara kami hingga mulutku berbusa, Baekhyun tidak akan mempercayai semua kata-kataku. Baekhyun mempercayai Hyeran. Baginya, aku bukanlah siapa-siapa lagi.

“Aku terluka, Baekhyun.”

“Kau terluka?! Di mana?!” Lelaki itu sudah siap-siap mengeluarkan sebuah plester dari dompetnya. Aku tersenyum pahit.

“Sayangnya, luka di hatiku tak mempan kau obati dengan plester merah muda bergambar hati itu.”

Rasanya sakit sekali, Baekhyun. Kau sudah jelas dimiliki oleh orang lain namun hatiku tetap menginginkanmu. Batinku sangatlah tersiksa, kau tahu?

“Aku datang ke sini untuk menyelesaikan kisah yang pernah ada di antara kita.” ujarku mengungkapkan tujuanku yang sebenarnya. “Jujur, aku tak bisa menahan semua perasaan rindu ini seorang diri.”

“Aku merindukanmu, Byun Baekhyun. 7 tahun ini aku melewati hari-hari yang begitu berat tanpamu. Aku sudah berusaha melupakanmu, tapi aku hanya berakhir dengan membohongi diriku sendiri. Aku tidak bisa melupakanmu. Bahkan dalam mimpi pun, aku selalu mengingat semua kenangan kita.” tangisku pecah, namun hatiku mulai lega. Aku sudah meluapkan semuanya. Terserah bagaimana respon lelaki itu setelahnya, yang terpenting hatiku tak lagi terbebani oleh perasaan apapun hingga aku bisa meninggalkan semua kisahku bersama Baekhyun dan menguburnya dalam-dalam sebagai sebuah kenangan masa lalu.

“Jika 7 tahun lalu, kau pergi tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal padaku, kali ini giliran aku yang pergi. Tapi aku tidak mau pergi tanpa mengucap sepatah katapun. Aku akan pergi dan mengucapkan selamat tinggal padamu, setidaknya, agar kau tak perlu menungguku untuk kembali seperti apa yang pernah kulakukan dulu saat menantimu.” Ucapku berlinang airmata.

“Aku mencintaimu, Baekhyun. Tapi seseorang kemudian menyadarkanku akan satu hal, ‘Seseorang yang pernah menjadi masa lalu, bukanlah bagian dari masa depan’. Aku adalah masa lalumu, dan Hyeran adalah masa depanmu. Kau masa laluku, dan aku akan berusaha menemukan masa depanku sendiri.”

Baekhyun masih menatapku dalam kebisuannya. Aku takkan memintanya untuk menghapus bulir airmataku ataupun menenangkanku dalam pelukannya, aku juga takkan memintanya untuk menahanku agar tidak pergi. Aku hanya ingin mendengarnya mengatakan kalau dia masih mencintaiku, untuk yang terakhir kalinya. Namun kurasa, sudah tidak ada lagi celah di hatinya untukku.

“Terimakasih untuk semua kenangan yang telah kau bagi bersamaku. Aku pamit. Selamat tinggal, Baekhyun.”

Aku bangkit dari dudukku dan berlalu meninggalkannya. Kuhapus semua linangan airmata yang membasahi pipiku. Saat pintu masuk hotel terbuka, kulihat sosok Kyungsoo berdiri menyandarkan tubuhnya pada badan taksi yang terparkir tepat di depan hotel dan melambaikan tangannya dengan senyuman lebar.

Mungkin Kyungsoo benar. Sudah saatnya aku bahagia dengan masa depanku sendiri.

Aku tersenyum membalas lambaian tangannya, namun tiba-tiba kurasakan genggaman hangat seseorang pada tangan kananku, mencegahku untuk pergi ke sisi Kyungsoo. Genggaman itu mengingatkanku pada mimpiku sebelumnya, genggaman hangat seorang pria yang menarikku ke tengah-tengah sumber kebahagiaanku yang baru. Pria yang tak kukenali dalam mimpiku itu…

“Jangan pergi, Ji. Aku juga masih sangat mencintaimu. Tak sehari pun dalam 7 tahun itu aku tak mengingatmu. Aku menikahi Hyeran, semata-mata hanya untuk bisa bertemu denganmu lagi. Karena pertemuan yang kebetulan itu, tidak pernah ada.”

Baekhyun pun berurai airmata di depanku. Genggaman tangannya seakan tak mau melepasku lagi. Lelaki itu lalu menarikku ke dalam pelukannya yang tak kalah hangat. Sekelebat bayangan anak lelaki yang memanggilku ibu dalam mimpi itu kini terlintas lagi di pikiranku. Perlahan tapi pasti, aku menyambut pelukan erat lelaki itu, lelaki yang selamanya akan kuyakini sebagai sumber kekuatanku.

Kyungsoo… bisakah aku menentukan seseorang yang pernah menjadi masa lalu bisa menjadi bagian dari masa depanku juga?


[ To Be Continued ]

Wattpad | WordPress

Iklan

2 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] SUNDAY IN SEPTEMBER – Last Week”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s