[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 04

PicsArt_10-24-11.37.31

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 401 | 02 | 03 |[NOW] 04


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 04 ― Sebuah Kisah ]

.

.

.

Yena melangkah mundur dengan berlinang airmata, menyisakan raut iba di wajah Byun Baekhyun kala memandangnya. Gadis itu sama sekali tak bisa menahan rasa rindu pada sang ayah yang selama ini begitu menyesakkan dadanya. Hanya 5 tahun… 5 tahun saja Yena bisa merasakan kasih sayang Baekhyun sebagai ayahnya karena setelah itu Baekhyun dengan egoisnya pergi ke surga, meninggalkan ia dan ibunya berdua saja di dunia ini.

Yena menutup mulutnya, berusaha menahan isak tangis yang hampir pecah detik itu juga. Mungkin selamanya, ia tak pernah ingin terbangun dari mimpi ini, mimpi yang telah mempertemukannya dengan orang-orang yang ia cintai.

“Yena-ya… kau baik-baik saja?” tanya Baekhyun, tak tega melihat Yena terus menangis di hadapannya.

Kaki Baekhyun melangkah mendekat, tangan lelaki itu mengelus punggung Yena untuk memberinya sedikit ketenangan. “Kau tidak perlu menahan keinginanmu untuk menangis. Kalau hatimu sudah terlampau sesak, luapkanlah, jangan dipendam.”

“Aku tidak baik-baik saja…” aku Yena, menyedihkan. “Maafkan aku.”

Baekhyun menganggukkan kepalanya, berusaha mengerti apa yang Yena rasakan. Saat Yena memeluknya dan menangis merindukan ayahnya, Baekhyun tahu betul bagaimana perasaan rindu itu mampu meruntuhkan dinding ketegaran seseorang dalam sekejap.

Baekhyun menuntun Yena untuk menempati sebuah kamar kosong yang terletak tepat di samping kamarnya. Kamar yang sesungguhnya masih sangat berdebu karena telah ditinggalkan pemiliknya selama 9 tahun, kamar kakak perempuan Baekhyun, Byun Joohyun.

“Coba kau tenangkan dirimu dulu di sini. Aku akan mengambilkan air minum untukmu.”

Gadis itu duduk di tepi ranjang masih dengan nafas tersedu-sedu. Seperti keinginannya saat masih berada di masa depan, Yena ingin sekali menceritakan kisah hidupnya pada Baekhyun dan Irene. Yena ingin kedua orang tuanya itu tahu bahwa beban yang dipikulnya selama hidup sebagai yatim piatu dari ayah mantan seorang narapidana yang telah dihukum mati sangatlah berat. Yena ingin menceritakan semuanya, agar Baekhyun dan Irene tahu bahwasanya Yena tak bisa hidup tanpa mereka, Yena tak bisa melalui semua cobaan hidup itu sendirian.

“Apa wajahku sebegitu miripnya dengan mendiang ayahmu?” tanya Baekhyun sesaat setelah dirinya kembali dari dapur dengan membawa segelas air mineral untuk Yena.

Yena menggeleng. Bukan, bukan mirip. Tapi memang lelaki yang saat ini bersamanya adalah orang yang sama dengan lelaki yang akan menjadi ayah Yena di masa depan nanti. Ya, Byun Baekhyun-lah yang mewariskan marga Byun pada Yena.

“Ini, minumlah pelan-pelan.”

“Baekhyun-ssi…” panggil Yena setelah meneguk sedikit air yang diberikan Baekhyun.

“Ya?”

“Maukah kau mendengar sedikit cerita tentang hidupku?”

Baekhyun mendudukan diri di samping Yena. “Tentu.”

“Jangan pernah meniru apa yang telah ayahku lakukan, Baekhyun-ssi.”

“Maksudmu?” Baekhyun mendelik. “Memangnya ayahmu melakukan apa?”

Kepala Yena menunduk. “Ayahku menculik seorang gadis yang terlalu ia cintai, menyekapnya selama bertahun- tahun di sebuah kamar mandi, dan memperkosanya hingga aku terlahir ke dunia ini.”

Kristal bening kembali menetes dari pelupuk mata Yena. “Ia juga membunuh banyak orang di sekitar gadis pujaan hatinya demi melancarkan aksi jahatnya tersebut. Dan kau tahu? Saat putrinya baru menginjak usia 4 tahun, kejahatannya terbongkar. Dia dipenjara dan mendapat hukuman mati.” Ucap Yena, terisak.

“Tidak perlu kau lanjutkan jika berat untuk kau ceritakan.” Saran Baekhyun yang langsung mendapat respon berupa gelengan cepat dari Yena.

“Kau harus mendengarkan semuanya sampai selesai.”

“Baiklah, lanjutkan ceritamu.”

“Beberapa tahun setelah ayahku dieksekusi, ibuku meninggal. Karena itulah aku menjadi hidup sebatangkara dan tinggal di panti asuhan. Menjadi yatim piatu dengan latar belakang ayah seorang narapidana tidak membuat orang-orang kemudian mengasihaniku. Aku malah sering terhinakan, aku malah… tak bisa hidup bebas dan terlepas dari bayang-bayang masa lalu ayahku.” Ujar Yena selanjutnya. Gadis itu lantas menengadahkan kepalanya, mencoba menahan bulir airmatanya agar tak terjatuh lagi dan lagi.

.

.

.

[Kilas balik, 2026]

Usia Yena belum genap 10 tahun saat itu. Namun sayangnya, gadis sekecil itu harus dihadapkan pada kenyataan pahit, fakta kalau almarhum ayah yang teramat sangat ia cintai selama ini adalah mantan seorang penculik sadis yang telah membunuh banyak orang. Almarhumah sang ibu sampai akhir hayatnya mungkin tak pernah mau membahas fakta tersebut pada Yena karena tak ingin membuat Yena lantas membenci ayah kandungnya sendiri. Tapi percayalah, mendengarnya langsung dari mulut orang lain yang hanya ingin mencercanya ternyata lebih menyakitkan dari apapun.

“Siapa namamu, Cantik?” tanya seorang ibu paruh baya, kepala panti asuhan.

“Nama Yena, Byun Yena.”

Chanyeol kecil diam-diam mengacungkan ibu jarinya ke arah Yena, memberi semangat agar Yena tak perlu malu-malu di depan ibu panti yang menurut Chanyeol sangatlah baik hati.

“Berapa usiamu?”

“Sembilan, bulan depan Yena baru akan berulang tahun ke-sepuluh.” Jelas Yena kini tanpa rasa gugup.

Tak lama, seorang wanita pengurus panti lainnya datang menghampiri sang ibu kepala panti dan membisikkan sesuatu yang tak dapat Yena dan Chanyeol dengar. Dengan saksama, ibu panti memeriksa biodata Yena yang baru saja sampai di tangannya.

“Yena-ya… jadi Appa Yena adalah seorang mantan narapidana?”

“Narapidana?” Yena balik bertanya, tak mengerti.

“Narapidana itu maksudnya, Appa Yena adalah orang jahat.”

Penjelasan sang ibu kepala panti seketika meruntuhkan kepercayaan diri Yena semula. Setelah hari itu, Yena mulai mencari seluk beluk ayahnya di internet. Bersahabat dengan jejaring sosial bukanlah hal yang tabu lagi dilakukan oleh anak kecil seumuran Yena. Di internetlah, semuanya terungkap. Banyak artikel berita menuliskan tentang kejahatan sang ayah yang tak pernah Yena sangkakan sebelumnya.

“Chanyeol-ah…” panggil Yena dengan manik berkaca-kaca.

“Berita-berita itu mungkin saja tidak benar, Yena-ya.” ucap Chanyeol yang tak ingin melihat sahabat perempuannya itu larut dalam kesedihan berkepanjangan.

Yena menggeleng lemah. “Appa Yena memang pernah tinggal di penjara, tapi Yena tak tahu kalau Appa ternyata banyak membunuh orang. Yena tak tahu… kalau ternyata Appa bisa sejahat itu pada orang lain.” Lanjut gadis kecil itu, tersedu.

Chanyeol menggenggam tangan Yena erat, seolah ingin memberikan Yena kekuatan lebih. “Kau tidak sendirian, masih ada aku. Jangan dengarkan kata orang lain. Yang penting, ayahmu masih yang terbaik bagimu kan?”

Ini masih awalan. Nyatanya, cobaan lebih berat terus berdatangan ke kehidupan Yena sejak menjadi yatim piatu. Di sekolah, teman-teman Yena tak mau kalah memojokkannya sebagai anak pembunuh. Di saat-saat menyedihkan seperti itu, hanya Chanyeol-lah sosok yang selalu setia membelanya apapun yang terjadi.

“Bolehkah Yena ikut bermain?” tanya Yena pada sekumpulan teman-teman kelasnya yang sedang asik bermain lompat tali.

Seorang teman perempuan Yena, Theresa, yang berasal dari keluarga kaya lantas menatap Yena dengan tatapan merendahkan, “Kau pikir jawabannya adalah ‘Ya’? tentu saja tidak! Siapa yang mau bermain dengan anak pembunuh sepertimu?!”

“Apa kau bilang?” Yena mengepal tangannya kuat-kuat.

“Appa-mu itu seorang pembunuh! Dan kami tidak mau bermain dengan-“

“DIAM KAU!” karena tersulut emosi, Yena dan Theresa terlibat pertengkaran kecil. Mereka saling menjambak rambut satu sama lain hingga pada akhirnya pertengkaran itu berakhir setelah Yena tak sengaja mendorong teman perempuannya tersebut hingga terjatuh dan kepalanya membentur batu yang ada di taman sekolah hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

“OH! YA AMPUN, THERESA PUTRIKU!”

“Yena-ya!” Chanyeol berlari menghampiri Yena yang terdiam mematung tak jauh dari ranjang Theresa yang masih mendapat perawatan dokter. Karena berbeda kelas, Chanyeol terlambat mengetahui insiden ini.

“YAK, APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRIKU, HUH?!” teriak ibunda Theresa. Yena gemetar ketakutan mendengar amukannya.

“DASAR ANAK PEMBUNUH TAK TAHU DIRI! SEKARANG KAU BAHKAN MAU MENCOBA MEMBUNUH PUTRIKU?! CIH! MEMANG YA BUAH ITU TIDAK AKAN PERNAH JATUH JAUH DARI POHONNYA! SEKALI PEMBUNUH, TETAPLAH PEMBUNUH!”

Airmata Yena mengalir deras seiring dengan terlontarnya kalimat-kalimat penghakiman itu dari mulut ibunda Theresa. Yena mengepal kuat tangannya, namun tak berani membuka mulut. Yena marah, tidak suka dengan semua penghinaan itu. Tapi apalah daya, sekalipun dirinya menangis darah di hadapan orang-orang, orang-orang tetap tak akan mau peduli dan terus menyalahkannya.

“Yena-ya… jangan menangis.” Ucap Chanyeol, tak tega.

Gadis kecil itu melangkah menghadap ibunda Theresa. Bukan untuk melawan, melainkan untuk berlutut meminta pengampunan.

“Maafkan Yena, Ahjumma. Yena yang salah. Tolong maafkan Yena. Yena berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”

[Kilas balik selesai]

.

.

.

“Lalu, apa kau membenci ayahmu?” tanya Baekhyun yang membuat Yena seketika berpaling menatapnya.

“Bagaimanapun… jangan benci ayahmu, Yena-ya.”

Manik Yena melebar sementara mulutnya terkatup rapat, tak sanggup berkata-kata. Baekhyun di hadapannya itu secara tidak langsung seolah berkata ‘jangan benci aku’. Sebuah permintaan yang sebenarnya tanpa perlu diminta pun Yena sudah melakukannya.

“Yena tidak pernah membenci Appa…” lirih Yena seraya menitikkan airmata. “Appa tidak perlu mengkhawatirkan itu.”

Baekhyun tersenyum menahan tawa menyadari Yena lagi lagi memanggilnya ‘ayah’. “Sebenarnya berapa usiamu, Yena-ya?”

“Hm?” Yena tersadar dari lamunan sesaatnya. “Ah, maaf.”

“Usiaku baru akan menginjak 19 tahun desember nanti.” Jawab Yena sambil menghapus sisa-sisa linangan airmatanya.

“Kalau begitu, anggap saja aku sebagai kakakmu mulai sekarang. Aku 4 tahun lebih tua darimu.” Lelaki itu merangkul Yena dengan tatapan hangat. “Mulai sekarang, mari kita saling mengakrabkan diri dan berbagi susah senang layaknya kakak-adik.”

♥♥♥

“Irene-ah, kado-kado ini mau kau simpan di mana?”

Gadis cantik bersurai pirang itu baru saja melangkah keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya dari keringat-keringat hasil aktivitasnya sepanjang hari ini. Saat pandangan mata Irene menangkap sosok asistennya kewalahan membawa banyak kado, gadis itu langsung mengalihkan pandangnya ke arah lain tanpa ada niatan untuk membantu.

“Kenapa hal sepele macam itu saja kau harus bertanya dulu padaku?” Irene membaringkan tubuh lelahnya di kasur empuk kamarnya yang bernuansa serba merah muda. Sebelumnya, Irene tampak tak bersemangat. Namun setelah layar ponsel pintar yang tergeletak di atas kasurnya menyala memperlihatkan nomor kontak sang kekasih, ia pun langsung beringsut untuk menerima panggilan video tersebut.

17933853_1643832808963504_5016584950632153088_n

“Hai, Sayang. Bagaimana harimu? Apa cukup melelahkan?” tanya lelaki tampan di seberang sana, Oh Sehun.

Irene sedikit cemberut, kecewa. “Tentu saja melelahkan, Oppa! Kenapa tadi kau tak jadi datang, hm?”

“Oh iya, ada yang ingin kuceritakan padamu! Kau mau dengar?”

Gadis itu menghela nafasnya. Rupanya Sehun sudah pandai mengalihkan topik pembicaraan.

“Cerita apa?” jika dilihat dari ekspresi antusias Sehun sekarang di layar ponsel Irene, sepertinya Sehun baru saja mengalami kejadian seru.

“Sebelumnya aku ingin bertanya, apa wajahku ini sudah terlihat cocok untuk disebut ‘Ahjussi’?”

“Apa?” Irene tertawa kecil. “Kalau kau saja memaksaku untuk memanggilmu ‘Oppa’, itu berarti kau sudah siap untuk terlihat lebih tua daripada umurmu sebenarnya.” Lanjut Irene.

Sehun tampak memanyunkan bibirnya. “Jadi kau setuju jika ada seorang gadis memanggilku ‘Ahjussi’?”

“Hah? Gadis?” Irene bangkit dari posisinya semula, mencoba menatap Sehun serius. “Kau baru bertemu seorang gadis?”

Sehun mengangguk tanpa ragu. “Dia gadis yang aneh. Aku tak sengaja menabraknya saat dalam perjalanan menuju lokasi acaramu. Karena itu, aku harus bertanggung jawab membawanya ke rumah sakit.”

Mendapat penjelasan panjang lebar seperti itu dari sang kekasih tak serta merta membuat Irene mengangguk mengerti. Tanpa sepengetahuan Sehun, genggaman Irene pada ponselnya menguat saking menahan kesal. Bagaimana bisa Sehun lebih mementingkan gadis lain ketimbang dirinya yang jelas-jelas sudah menjadi kekasih lelaki itu sejak 2 tahun terakhir?

“Begitu ya.” balas Irene kemudian.

“Aku jadi penasaran siapa gadis yang kau tabrak itu.” ah tidak, mungkin lebih tepatnya, Irene ingin sekali mengatakan bahwa dirinya penasaran akan sosok gadis yang telah berani-beraninya mencuri waktu Oh Sehun yang seharusnya hanyalah untuk dirinya seorang.

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

Iklan

28 respons untuk ‘[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 04

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s