AU/Alternate Universe, Chaptered, Drama, EXO Fanfiction, Family, Fantasy, Hurt/Comfort, PG-13, R, Romance

[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 05

PicsArt_01-05-12.41.52

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 401 | 02 | 0304 | [NOW] 05


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 05 ― Gadis itu ]

.

.

.

Netra Irene masih enggan untuk menutup meski ia kini tengah berbaring di atas ranjang empuk dan jam dinding di kamarnya telah menunjukkan pukul dua dini hari. Cerita Sehun tentang kemunculan seorang gadis aneh yang memanggilnya ‘paman’ harus Irene dengar sampai selesai dengan sangat terpaksa selama 2 jam tadi. Telinganya masih terasa panas saat ini, seakan masih tak terima Sehun bercerita telah melewati satu hari bersama gadis lain.

Irene ingin marah. Irene ingin sekali menunjukkan ke-overprotektif-annya pada Sehun. Namun nyatanya, ia kembali menjadi Irene yang lemah di hadapan lelaki itu. Alasannya? Tentu saja ia takut. Ia takut Sehun pergi melepaskan tangannya dan ia tak bisa meraih genggaman lelaki itu lagi jika salah dalam bersikap sedikit saja.

“Ayolah! Apa yang kau khawatirkan Bae Irene?! Gadis itu hanya menumpang lewat di kehidupan Sehun, tidak lebih!” ucap Irene mencoba memberi sugesti positif pada dirinya sendiri.

Gadis bersurai pirang itu bangkit, bosan mengingat-ingat cerita sang kekasih. Maniknya bergerak menatap ke sekeliling, tak tahu harus melakukan apa di dini hari seperti sekarang ini. Hingga akhirnya pandangan itu tertuju ke arah tumpukan kado-kado yang baru ia dapatkan dari acara jumpa fans siang tadi.

Untuk menghabiskan waktu, Irene akhirnya memilih untuk membuka satu persatu kado dari penggemarnya. Tas bermerek terkenal, selimut mahal, jam tangan eksklusif, dan lain-lain, telah menjadi hadiah yang sangat membosankan untuk ia terima. Untunglah pada akhirnya, di tengah ketidak-sukaannya pada hadiah-hadiah serba biasa itu, Irene menemukan sebuah kotak kecil berisikan hadiah yang sepertinya tidak terlalu mahal namun meninggalkan kesan tersendiri. Sebuah kotak musik berwarna merah muda dengan peri kecil yang akan menari-nari mengikuti alunan nada lembut jika Irene memutar tuasnya.

‘Kau pernah menjadi bidadari yang menari-nari cantik dengan tongkat ajaibmu. Sementara aku, hanyalah makhluk kerdil yang dengan lancangnya berani menatapmu dari kejauhan.’

“Siapapun yang menulis ini, dia pandai sekali menarik hati wanita.” Irene mengusap dadanya yang berdegup kencang setelah membaca catatan kecil di kotak musik tersebut.

Langkah kaki Irene berhenti di depan sebuah lemari pajangan. Di antara sekian banyak kado yang ia terima, hanya kotak musik itulah yang ingin ia simpan. Entah sejak kapan, tapi pastinya sudah lama sekali ia menyukai hal-hal berbau negeri dongeng. Jadi tak aneh bila lemari pajangan di kamarnya penuh dengan pernak-pernik seperti miniatur rumah peri, tinker bell, dan mainan tongkat ajaib yang tak jauh dari warna favoritnya, merah muda.

“Masa kecilku yang telah kulupakan, seperti apa ya rasanya?”

Karena entah kenapa, semua ingatan masa kecil yang kedua orang tuanya coba tanamkan dalam memorinya, tak ada satupun yang berbekas. Semua ingatan itu… terasa hampa.

♥♥♥

Di dalam kamar kakak perempuan Baekhyun, Yena juga belum mau memejamkan matanya untuk terlelap dalam tidur. Yena takut jika hari yang telah ia lewati tadi hanyalah bagian dari mimpi di mana ia akan segera terbangun nantinya. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam terlewati begitu saja dengan matanya yang masih kuat terbuka lebar.

“Yena tidak boleh tidur! Ah, pokoknya tidak boleh!”

Namun beberapa jam kemudian, gadis itu terlelap dalam tidurnya yang begitu nyenyak. Saking nyenyaknya, suara ketukan pintu dari sang pemilik rumah pun sampai tak didengarnya sama sekali.

“Apa dia masih tidur?” tanya Baekhyun, bingung sendiri. Pasalnya, sudah sekitar 15 menit ia berdiri di depan kamar kakak perempuannya hanya untuk menunggu Yena keluar dan menemaninya sarapan pagi bersama.

“Yena-ya, apa kau di dalam?” lelaki itu mengetuk pintu kamar sedikit lebih keras, tapi tetap saja tak ada jawaban dari dalam sana.

Cklek!

“Yena-ya, kau-”

Baekhyun terpaku setelah langkahnya memutuskan untuk masuk ke kamar di mana Yena tidur semalam. Pandangnya langsung tertuju pada sosok gadis yang detik ini masih tertidur lelap namun dengan posisi yang… ehem… sedikit ekstrem.

Yena tampak memejamkan kedua matanya dengan kaki jenjang yang berdiri tegak menempel ke dinding dan tubuh bagian atas yang bersandar pada satu bantal sedangkan kepalanya dibiarkan tak terganjal satupun bantal, persis seperti siswi yang sedang belajar sikap lilin namun dengan cara yang salah. Mulut Yena pun terbuka lebar lengkap dengan basahan air liur di sprei kesayangan kakak perempuan Baekhyun. Anehnya, Baekhyun tak marah.

“Ya ampun… apa saat di jalanan dia akan tertidur seperti ini juga?” Baekhyun mengedipkan matanya berulang kali, masih tak percaya bahwa gadis secantik Yena pun bisa memiliki sisi ‘mengejutkan’ seperti itu.

Lelaki bermarga Byun itu lantas mengangkat tubuh Yena tanpa sedikitpun berniat mengganggu tidur pulasnya, membenarkan posisi tidur gadis itu layaknya orang normal kebanyakan. Baru saja Baekhyun hendak bangkit dan membiarkan Yena tidur, Yena tiba-tiba menarik kerah bajunya hingga menyisakan jarak antara wajahnya dengan wajah Yena yang tak lebih dari lima sentimeter.

“Chanyeol-ah… aku tidak ingin kembali.” Lirih Yena, mengigau.

Mata Baekhyun menatap kedua mata Yena. Gadis itu pasti bermimpi buruk, hingga bulir airmata pun lolos begitu saja dari sudut matanya yang terpejam kuat.

“Chanyeol itu… siapa?”

Perlahan Yena membuka kedua matanya dan terkejut mendapati tangannya masih meremas kerah Baekhyun dalam jarak sedekat ini.

“A-ah! Maaf, Yena-ya! Tadi aku hanya membantumu mendapatkan posisi tidur yang baik! Itu saja kok!” ujar Baekhyun, salah tingkah.

Mendengar sang ayah berkata seperti itu, Yena tersadar akan kesalahannya. Sang ayah pasti merasa keki sekali setelah melihat gaya tidurnya yang tak bisa diam. “Me-memangnya tadi posisi tidurku seperti apa?”

“Huh?” alis Baekhyun terangkat, sedetik kemudian ia menggeleng cepat. “Sudahlah, tidak usah dipikirkan! Ayo kita sarapan! Aku sudah memesan makanan untuk kita berdua.”

Yena mengangguk. “Baiklah, aku akan mandi dulu.”

♥♥♥

“Kau ada jadwal hari ini?”

Seorang pria paruh baya baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Rambutnya yang tampak beruban menunjukkan usianya yang sudah menginjak senja. Perawakannya yang masih proporsional dan bekas ketampanan di wajahnya rupanya diturunkan pada sang putra tunggal keluarga Oh, Sehun.

Di ruang makan yang cukup besar itu, hanya ada 3 kursi yang terisi dari 12 kursi yang tersedia. Ayah Sehun, ibu Sehun, dan Sehun sendiri. Tidak ada orang lain lagi karena asisten rumah tangga keluarga mereka memiliki ruang makan terpisah.

“Tidak ada, Abeoji,” Jawab Sehun. “karena aku hanya menjadi presenter tamu, aku hanya datang jika presenter utama berhalangan hadir. Selain itu, Manajer Hyung juga belum berbicara apapun terkait ada atau tidaknya tawaran pekerjaan baru untukku.” lanjutnya, sopan.

Ayah dan ibu Oh kompakan merespon dengan tawa bernada meremehkan.

“Kau tetap menyukai pekerjaan tak jelas seperti itu?” kini, giliran sang ibunda tercinta yang bertanya.

Lelaki muda itu tersenyum dalam kepahitan. Entah kenapa, setiap perkataan yang keluar dari mulut kedua orang tuanya justru selalu terdengar lebih menyakitkan ketimbang segala hujatan kebencian para pembencinya di luar sana.

“Ya, Eomma. Aku tetap menyukai pekerjaanku sekarang.”

“Terserah kalau begitu. Hidupmu pasti bahagia sekali menjadi seorang artis pengganti.”

Setelah mengatakan itu, ayah Sehun bangkit dari kursinya dan mengenakan jas hitam untuk segera pergi ke pengadilan. Sementara ibu Sehun tampak kembali merapikan penampilannya sebelum akhirnya pergi dengan mobil terpisah untuk mengisi kelas di universitas ternama negeri ini. Ya, ayah Sehun, Oh Jonghun, berprofesi sebagai sosok penting di dunia hukum, yakni seorang hakim ketua. Sedangkan ibu Sehun, Oh Seyoon, atau akrab dipanggil Mrs. Oh adalah seorang dosen kimia biologi di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST). Dan mungkin itulah yang menjadi alasan mereka bersikap acuh tak acuh pada putra semata wayang mereka sendiri, karena menganggap pekerjaan mereka jauh lebih baik dari sang putra.

Sehun pernah ditawari ayahnya untuk belajar tentang hukum dan menjadi jaksa, namun Sehun menolak karena merasa mendalami hukum sangat tidak sesuai dengan jiwanya yang lebih condong ke dunia hiburan. Meski dunia hiburan tak selamanya menjanjikan, Sehun tetap bersikeras ingin menjadi artis terkenal dan tak mempedulikan larangan kedua orang tuanya tersebut.

Lima menit berlalu, Sehun masih setia terduduk sendirian di kursi makannya. Tangannya mengepal, bukan karena membenci orang tuanya, melainkan karena dirinya merasa masih belum sanggup membuat kedua orang tuanya bangga dengan pencapaiannya saat ini. Ah tidak, mungkin selamanya, kedua orang tuanya tidak akan pernah berbangga hati memiliki dirinya sebagai putra tunggal.

‘Hai! Irene sedang sibuk! Silakan tinggalkan pesan suara setelah-‘

PRAK!

Sehun membanting ponsel dalam genggamannya ke lantai.

Bahkan di saat seperti ini, Sehun membutuhkan Irene yang tampaknya juga tak pernah membutuhkannya.

♥♥♥

Setelah isi 3 lemari Joohyun tak mampu memberikan pakaian yang pas untuk Yena kenakan, mau tak mau Baekhyun akhirnya merelakan kaos dan celananya untuk dipakai gadis itu sementara waktu. Terlihat sangat kebesaran di cermin, tapi tak apa, itu lebih baik daripada tidak memakai pakaian sama sekali bukan?

“Biar kupesankan saja setelan pakaian untukmu. Berapa ukuranmu?” Baekhyun yang saat itu sedang menghadap laptop di ruang tengah, menawari Yena yang sedang membersihkan debu untuk membeli baju-bajunya secara online.

Yena menekan tombol power, mematikan fungsi alat penyedot debu yang digunakannya. “Kenapa kita tidak pergi ke pusat perbelanjaan saja? kita kan bisa sekalian jalan-jalan!”

Baekhyun merespon ajakan Yena dengan gelengan cepat. “Tidak. Aku tidak biasa pergi ke luar kalau bukan untuk menghadiri acara jumpa fans Irene.”

Yena berdecih, “Cepat sekali menolaknya.”

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Yena menggenggam tangan kanan Baekhyun yang sibuk mengetik kata kunci di situs jual-beli online dengan senyuman lebar dan penuh semangat.

“Kalau kau tidak biasa, ya harus dibiasakan! Ayo kita pergi belanja!~~~” tegas Yena, di kalimat terakhir ia menyelipkan sedikit jurus aegyo yang akhirnya mampu membuat Baekhyun luluh.

Kedua insan yang harusnya berstatus sebagai ayah dan anak itu kini lebih terlihat seperti pasangan muda yang sedang dimabuk cinta. Terdengar aneh, namun ini memanglah kenyataannya. Yena dan sang ayah kini hanya berselisih umur 4 tahun saja. Siapa yang akan berpikir mereka adalah ayah dan anak? Yena? Tentu, itu pasti. Tapi Baekhyun?

Saat berjalan-jalan menyusuri pusat perbelanjaan, tangan Yena tak pernah melepas genggamannya pada tangan Baekhyun. Gadis cantik itu menarik-narik Baekhyun ke sana ke mari, mengabsen setiap toko yang ada tak peduli niat awal mereka asalnya hanya untuk membeli baju baru. Dari mulai toko aksesoris, toko alat olahraga, toko sepatu, toko alat elektronik dan lain-lain hingga akhirnya mereka masuk ke sebuah pasar swalayan yang ada di pusat perbelanjaan tersebut untuk membeli beberapa bahan makanan dan minuman.

Setiap Yena memasukkan barang-barang yang tak perlu ke troli yang didorong Baekhyun, Baekhyun akan selalu menaruh kembali barang-barang tersebut tanpa sepengetahuan Yena. Kejadian seperti itu terus berulang tanpa Yena sadari sedikitpun. Meski merasa sedikit berdosa, itu lebih baik ketimbang Baekhyun harus membayar semuanya dan mengoleksi barang yang sama sekali tak ia perlukan itu di rumah.

Ahjumma, tolong bungkuskan 5 kilogram ikan segar untuk kami ya?” pesan Yena setelah melihat-lihat berbagai macam ikan yang tersedia di mesin pendingin.

Sambil membungkuskan pesanan Yena, Bibi yang saat itu melayani pun senyam-senyum sendiri melihat kedua insan di hadapannya yang tampak begitu serasi.

“Sepertinya kekasih Nona lupa menyiapkan pakaian ganti untuk Nona ya? Sampai-sampai, Nona harus memakai pakaiannya yang kebesaran.” Ucapan Bibi itu seketika saja membuat Baekhyun tersedak ludahnya sendiri, sementara Yena mengedip-ngedipkan matanya tak mengerti.

“Ini tidak seperti yang Ahjumma pikirkan.” Bantah Baekhyun, berusaha mencegah pikiran Bibi itu melayang ke mana-mana.

“Sudahlah, tidak usah mengelak. Biar begini, aku juga pernah muda. Semua pasangan muda pasti pernah mengalami momen yang kalian alami sekarang ini.”

“Maksud Ahjumma?” tanya Yena, memasang wajah bingung.

Baekhyun yang kesal akhirnya menangkup puncak kepala Yena dan memaksa gadis itu untuk segera pergi dari tempat itu bersamanya, membatalkan pesanan mereka yang tak kunjung diberikan oleh sang bibi. Lelaki itu mendengus sebal. Pakaiannya yang melekat di tubuh Yena sepertinya akan membuat banyak orang salah paham akan hubungan mereka seperti bibi tadi yang mengira mereka sudah menghabiskan malam dengan bercinta.

Sedetik kemudian, lelaki bermarga Byun itu tersadar dari lamunan sesaatnya, menyadari ada sesuatu yang hilang dan luput dari pengawasannya selama berpikir keras tadi.

“Yena-ya!” panggil Baekhyun seraya mengedarkan pandangan ke setiap penjuru pusat perbelanjaan tersebut. Namun sialnya, sosok yang ia cari tak kunjung menampakkan diri.

“Oh, ya ampun! Pergi ke mana dia?!”

♥♥♥

Ahjussi!”

Yena menahan tangan seorang lelaki tinggi yang ia yakini adalah paman berkaki panjangnya, Oh Sehun.

Dengan setelan kaos putih celana jeans dilengkapi topi dan masker yang juga berwarna putih, lelaki tampan itu mungkin bisa menghindar dari sorotan fans, tapi sepertinya ia tidak bisa menghindar dari sorot pandang seorang gadis yang kini menahan tangan kanannya.

“Kau…” Sehun mengerenyitkan dahi, tak asing dengan paras cantik gadis itu. “Gadis aneh yang kemarin, kan?!”

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

Iklan

24 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 05”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s