Adult, Death-fic, Drama, EXO Fanfiction, Gore, Hurt/Comfort, M, Oneshot, Psychology, R, Romance, Series, Special, Suspense

[EXO Fanfiction] Special D.O’s Birthday – DANGDUT SERIES : KEJORA

‘Kejora, temanilah malamku, sampaikan rinduku yang terlarang…’

`KEJORA`

A part of `Dangdut Series` by AYUSHAFIRAA

`Starring EXO’s D.O x LOVELYZ’s Jiae`

|| Friendship, Psychology, Romance||

// PG-17 // Vignette //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata. Inspired by ‘Lesti DA – Kejora’.


Dangdut Playlist :

[Chen Gotik – Tarik Selimut] [Lay Kirana – Melanggar Hukum]  [Kris Citata – Meriang]  [Chanyeol Vallen – Sayang] ― NOW PLAYING ♫ [D.O DA – Kejora] — [ Coming Soon ]


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

 

​Bagi Jiae, memiliki wajah serupa yang hampir tidak ada bedanya sama sekali dengan Jiyoon ―saudara kembarnya― seringkali membuatnya merasa muak. Banyak orang yang sering salah mengenalinya, memanggil dan menyebutnya dengan nama sang kakak yang hanya lebih tua 3 menit saja darinya itu. Well, Jiae bukanlah seorang mahasiswi terkenal, jauh berbanding terbalik dengan Jiyoon yang merupakan seorang mahasiswi dengan segudang bakat dan aktivitas keorganisasian setiap harinya. Gadis 23 tahun itu percaya bahwasanya setiap individu pasti berbeda, dan ia juga yakin hal yang sama berlaku juga bagi ia dan Jiyoon.

“Jiyoon!”

Langkah Jiae terhenti kala mendengar sebuah panggilan berupa teriakan dari seorang lelaki di belakangnya. Meski bukan namanya yang dipanggil oleh lelaki itu, Jiae tahu betul alasannya berhenti melangkah.

“Hai, Kak D.O.” sapa Jiae. Senyuman tipis mulai terukir di wajah ayunya.

Do Kyungsoo atau akrab dipanggil D.O oleh beberapa teman atau sahabatnya, tak lain adalah kakak tingkat Jiae dan Jiyoon. Mungkin dari sekian banyak orang di sekitar kakak-beradik kembar identik itu, hanya D.O lah yang mampu membedakan mereka. Tak peduli semirip apa rupa dan perawakan mereka, setelan pakaian yang mereka kenakan, suara mereka yang lembut, maupun rambut panjang bergelombang mereka yang sama-sama kecokelatan. D.O akan tahu, yang mana Jiae, yang mana Jiyoon. Dari sudut mana ia bisa membedakan keduanya? Itulah yang masih menjadi misteri hingga detik ini.

“Ah, rupanya kau, Jiae!” lelaki tampan bersurai hitam dengan mata bulatnya itu tampak menggaruk tengkuk seraya tersenyum malu-malu.

“Mau ke kantin bersama?” tawar si lelaki.

Jiae menunduk, menyembunyikan senyum. Sudah sejak lama, ia menaruh hati pada sang kakak tingkat. Dan tepat di hari ulang tahunnya kali ini, Tuhan mungkin sedang benar-benar memberinya sebuah keberkatan dengan mendekatkan lelaki yang paling dicintainya itu untuknya.

“Jiae?”

Kibasan tangan D.O akhirnya membuat Jiae tersadar dari lamunan singkatnya.

“Ah, iya! Tentu, Kak!”

♥♥♥

Masih di hari yang sama, karena tak ada kelas lagi, setelah makan siang, D.O mengajak Jiae pergi ke sebuah tempat yang tak pernah Jiae bayangkan sebelumnya. Gadis bermarga Yoo itu kini berpijak di lantai sebuah toko perhiasan terbesar di Korea, bersama D.O yang tersenyum penuh arti di sampingnya.

“Kenapa kita pergi ke sini?” tanya Jiae.

D.O menarik tangan Jiae untuk ikut berjalan bersama dengannya, melihat-lihat begitu banyak emas berlian di toko tersebut yang sangat indah dipandang mata. “Nanti juga kau akan tahu.”

“Saya ingin mengambil pesanan saya.”

Dari samping, struktur wajah D.O tampak begitu sempurna di mata Jiae. Indahnya, mengalahkan keindahan banyaknya perhiasan di sekeliling Jiae hingga pandangan mata Jiae tak mampu untuk berpaling sedikitpun.

“Kemarilah!” titah D.O

Di hadapan sebuah cermin, Jiae berdiri di depan D.O. Saat Jiae sedang berusaha keras mengatur degup jantungnya yang berdetak tak normal, D.O malah semakin membuatnya ingin mati saja karena kemudian lelaki itu mengalungkan sebuah kalung perak berliontin hati ke lehernya.

Manik Jiae berbinar, ditatapnya dengan penuh harap pantulan diri D.O yang terlihat tersenyum lebar di cermin sana.

“Sudah kuduga, kalung ini cocok sekali untukmu.” Ucap D.O lembut, membuat pipi Jiae semakin merona karenanya.

“Ini hari ulang tahunmu kan?”

Jiae mengangguk.

“Bawalah kalung ini sebagai hadiah ulang tahunmu dariku. Kalau kau suka, pakailah.”

♥♥♥

Kejadian satu tahun yang lalu itu terlintas lagi di pikiran Jiae. Di depan cermin wastafel sebuah hotel tempat D.O menggelar resepsi pernikahannya, Jiae meremas kalung hati pemberian D.O dulu dengan airmata yang berlinangan. Jiae lupa. Jiae terlalu bodoh untuk mengingat bahwasanya di hari yang sama setahun lalu, Jiyoon juga sama-sama menginjak usia baru. Kejutan yang diterima Jiae dari D.O hari itu, masih kalah jika dibandingkan dengan kejutan yang diberikan saudara kembarnya.

Hari itu… Jiyoon berkata pada Jiae bahwa D.O baru saja melamarnya saat mereka berdua menghabiskan waktu bersama untuk makan malam romantis.

Hari itu… tentu saja Jiae tidak percaya. Namun Jiyoon menambahkan bahwasanya ia dan D.O memang sudah berkencan selama 1 tahun terakhir. Entah Jiae yang terlalu buta untuk melihat kedekatan mereka, atau bisa jadi Jiae yang selalu berharap D.O hanya akan menjadi miliknya seorang.

Dan hari ini, semuanya terbukti. Ya, D.O tengah melangsungkan resepsi pernikahannya. Bukan dengan Jiae.

“Terima kasih, adikku.” Ucap Jiyoon yang tersenyum begitu cerah saat Jiae menghampirinya di pelaminan dan memberikannya ucapan selamat.

Ya, Jiyoon lah yang beruntung untuk berdiri di samping D.O, sebagai sang mempelai wanita.

“Matamu kenapa, Jiae? Kau sakit?”

Mendengar pertanyaan tersebut terlontar dari mulut D.O, Jiae justru ingin tertawa menyadari D.O yang ternyata tak pernah sadar akan perasaannya.

“Ya, aku sedang sakit.” jawab Jiae jujur. Ia tentu tidak bisa berbohong kalau di hatinya ada goresan luka yang perlahan tapi pasti kian melebar tanpa bisa terobati.

“Kalau begitu, kau langsung istirahat saja ya. Jangan paksakan dirimu.” Ujar Jiyoon, tak kalah khawatir.

Jiae mengangguk, memutuskan untuk pergi ke salah satu kamar hotel yang memang telah disewa khusus untuk keluarga Do dan Yoo, meninggalkan pasangan pengantin yang tampaknya memang tak membutuhkan kehadirannya sama sekali untuk tersenyum bahagia.

♥♥♥

Malam itu, setelah acara resepsi pernikahannya selesai diselenggarakan, D.O membiarkan sang istri untuk pergi ke kamar mereka terlebih dahulu sedangkan dirinya masih harus menangani beberapa urusan penting bersama rekan bisnis perusahaannya yang kebetulan memang ia undang dengan segala hormat.

Tuxedo hitam masih melekat di tubuhnya, lelaki itu sesekali terdengar menghembuskan nafasnya kasar. Mungkin tubuhnya sudah terlalu lelah menjalani hari yang panjang ini. Dengan langkah pasti, lelaki itu akhirnya menginjakkan kaki di kamar pengantinnya yang telah didekorasi sedemikian rupa.

“Jiyoon? Sayang?”

Suara gemericik air dari dalam kamar mandi membuat D.O berpikir istrinya mungkin sedang membersihkan diri. Pikirannya melayang, sedikit nakal, membayangkan malam pertama yang akan ia habiskan bersama sang kekasih hati malam ini.

D.O melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya. Pemandangan langit berbintang dirasa cukup untuk menjadi pengobat rasa lelahnya untuk sementara.

BREG!

Sepasang lengan yang terlihat sedikit basah dan dingin melingkar memeluk tubuh D.O dari belakang. Lelaki itu tersenyum. Ya, pemandangan malam yang dipenuhi bintang hanya bisa menjadi obat sementara untuk menghilangkan rasa lelahnya karena sesungguhnya obat yang paling mujarab untuk malam ini hanya satu. Bercinta dengan Jiyoon.

“Jiae?!” D.O spontan melepas pelukan gadis cantik yang memiliki wajah mirip istrinya itu. “Kenapa kau bisa ada di sini? Kau pasti salah masuk kamar!”

“Aku Jiyoon.” Ucap si gadis, berusaha meyakinkan D.O. Namun D.O dengan cepat memberi respon berupa gelengan tak percaya.

“Tidak, Jiae. Kau bukan Jiyoon. Aku tahu, kau pasti Jiae!”

“Aku Jiyoon! Kenapa kau malah mengiraku sebagai Jiae di malam pertama kita ini, huh?!” si gadis yang bersikeras mengaku sebagai Jiyoon itu akhirnya mengambil langkah agresif dengan mencium kasar bibir D.O. entah dari mana asal kekuatan itu, si gadis berhasil mendorong D.O yang memang sedang kelelahan hingga terlentang di atas ranjang. Tapi tentunya, D.O tidak tinggal diam. Setelah gadis itu menindih tubuhnya, D.O membalikkan posisi tersebut hingga ia lah yang berada di atas tubuh gadis itu.

“Di mana Jiyoon?! Cepat katakan padaku di mana Jiyoon, Yoo Jiae?!” bentak D.O sambil mencengkram leher gadis yang ia yakini sebagai Jiae, kembaran dari istrinya sendiri.

Sebelum mendapat jawaban, D.O lebih dulu menangkap tawa kecil yang keluar dari mulut gadis cantik yang ia kenal baik dan sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu justru membuat wajah cantiknya dipenuhi aura menyeramkan yang membuat D.O merinding.

“Dia sudah mati.” Jawabnya dengan senyuman lebar tanpa rasa bersalah.

“Apa?!”

“Aku sudah membunuhnya, Kak. Tadinya aku hanya berniat untuk merombak wajahnya agar kami berdua tak lagi mempunyai wajah yang sama, tapi-“

D.O berlari menuju kamar mandi yang sepertinya memang sengaja dikunci Jiae dari luar. Tangannya yang gemetar mencoba membuka kamar mandi tersebut dengan kunci cadangan hingga pada akhirnya ia berhasil membuka tempat di mana dalam bayangannya beberapa saat lalu Jiyoon masih membersihkan dirinya di sana.

Gemericik air yang keluar dari pemancar air hangat masih terdengar. Bau anyir menyengat salah satu dari ke lima indera yang dimiliki D.O. lelaki itu seperti melayang, tak bisa merasakan keberadaan kakinya yang kian melemas ketika netranya mendapati sang istri sudah tergeletak tak berdaya bersimbah darah dengan kulit wajah yang rusak terkelupas memperlihatkan daging-daging merah serta sedikit tulang pipinya.

“YOO JIAE!!!!”

D.O mengambil pisau dapur yang tergeletak di dekat tubuh tak bernyawa sang istri dengan berapi-api, berniat melakukan hal yang sama dengan apa yang telah Jiae lakukan pada belahan jiwanya.

Lelaki itu mengedarkan pandangannya ke sekitar, tak menemukan keberadaan Jiae di sekitar kamar. Baru pada saat ia hendak mencari Jiae keluar kamar, suara ketukan pintu dari luar terdengar tak sabar.

“Selamat malam, Pak! Seorang wanita baru saja bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari balkon kamar ini, ia tewas dan-“

Kedua petugas polisi patroli tersebut terdiam saat melihat tangan D.O yang dipenuhi darah tampak memegang sebuah pisau dapur yang juga meneteskan cairan kental berwarna merah ke lantai.

 

 

Kenapa kau bisa jatuh cinta padanya, sedangkan aku dan dia memiliki wajah yang sama? Kenapa kau bisa menikahi seorang wanita, sedangkan seorang lagi yang berwajah sama dengan wanita yang kau nikahi itu merasa terluka sendirian?

 

 

Ku berkhayal angankan dirimu, seakan hadir di sini

Temaniku, memelukmu, indah dalam belai kasih sayang…

 

Selesai.

 

 

Pertama, maaf banget pada pemilik lagu 😂 lagu ini sebenernya gak ada unsur menyeramkannya sama sekali, justru galau-galau gimanaaa gitu. Cuma akunya aja yang ngayalnya kebablasan maafkan wkwkwk 😂😂😂

Happy birthday, Kyungchu 👄👄👄 Wish you all the best hehe /mainstreambangetdoaluyu/plak😂

Wajahmu menginspirasiku untuk menjadikanmu tersangka di ff ini bang, lagi-lagi maafkan aku 😂😂😂

Pokoknya aylupyu bang unch unch 😗😗😗

7763323801aefc7d7618436bb89e0ad319a75178_hq

unnamed

PicsArt_03-25-01.05.27

Iklan

Satu tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] Special D.O’s Birthday – DANGDUT SERIES : KEJORA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s