AU/Alternate Universe, Chaptered, Drama, EXO Fanfiction, Family, Fantasy, Hurt/Comfort, PG-13, R, Romance, Sad

[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 06

PicsArt_01-05-12.41.52

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 401 | 02 | 0304 | 05[NOW] 06


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 06 ― Si Pencuri Perhatian ]

.

.

.

 

Ahjussi!”

Yena menahan tangan seorang lelaki tinggi yang ia yakini adalah paman berkaki panjangnya, Oh Sehun.

Dengan setelan kaos putih celana jeans dilengkapi topi dan masker yang juga berwarna putih, lelaki tampan itu mungkin bisa menghindar dari sorotan fans, tapi sepertinya ia tidak bisa menghindar dari sorot pandang seorang gadis yang kini menahan tangan kanannya.

“Kau…” Sehun mengerenyitkan dahi, tak asing dengan paras cantik gadis itu. “Gadis aneh yang kemarin, kan?!”

Mendengar Sehun menyebutnya aneh, Yena menggembungkan pipinya bak ikan kembung, didukung oleh ekspresinya yang seketika saja berubah datar.

Sementara itu, si lelaki tinggi tampak mengedarkan pandang dengan raut was-was ke sekeliling. Mungkin takut ada orang lain lagi yang menyadari siapa dirinya dan membuntutinya seperti gadis aneh yang ia ketahui bernama Yena itu.

Yena mengibaskan tangannya di depan wajah Sehun. “Hello? Ahjussi kenapa sih?”

Kali ini, panggilan Yena pada Sehun memberi Sehun sebuah ide. Yena mungkin bisa membantunya hari ini untuk pergi menemaninya berjalan-jalan tanpa khawatir orang lain akan mengenalinya sebagai Oh Sehun. Bagi kebanyakan orang normal pasti mengira Sehun yang masih muda tentu tidak akan mungkin mendapat panggilan ‘paman’ dari gadis seumuran Yena. Dengan begitu, jika Yena terus memanggilnya ‘paman’, orang lain tidak akan mungkin terpikir bahwa dirinya Oh Sehun si artis populer berumur 21 tahun.

“Apa ada sesuatu-“

“Untuk kali ini, aku ijinkan kau memanggilku ‘Ahjussi’,” ucap Sehun mantap. “Apa kau sibuk? Kau bisa menemaniku hari ini?”

“Sebenarnya Yena bersama-” belum sempat Yena menyelesaikan kata-katanya, Sehun kembali memotong. Kali ini dengan tatapan mata yang memohon.

“Bisa kan?”

Setelah berpikir cukup lama, Yena akhirnya memuaskan hati Sehun dengan memberi sebuah anggukan setuju, mengiyakan bahwa dirinya bisa menemani Sehun di hari yang cerah ini. Yena tahu jalan pulang ke rumah sang ayah, tapi bukan itu yang ia khawatirkan. Yena takut sang ayah akan mengira dirinya hilang persis seperti kejadian di hari ulang tahunnya yang ke-4 di masa silam.

Yena menggeleng cepat, mengenyahkan pemikiran tentang Baekhyun yang akan mengkhawatirkannya. Sekarang situasinya sudah berbeda. Bagi Baekhyun, mungkin sekarang Yena hanya sekedar gadis asing yang tak memiliki tempat tinggal saja.

Appa tidak akan mungkin mengkhawatirkan Yena kan?” gadis itu bermonolog tanpa menyadari bahwa lelaki bermasker putih di sampingnya terus memperhatikannya sedaritadi.

“Aku haus, haruskah kita pergi membeli minuman dulu?” tanya Sehun, canggung. Entah sudah berapa kali lelaki itu berdeham demi membuat tenggorokannya nyaman.

“Tapi Yena tak punya uang, Ahjussi.”

“Aish! Sudah kau tenang saja, karena aku yang meminta untuk kau temani, maka aku yang akan bertanggung jawab untukmu hari ini! Aku yang traktir!”

Yena tersenyum lebar,

“Kalau begitu, ayo!” ucap Yena penuh semangat sembari menggandeng lengan Sehun dan berlari-lari kecil mencari kafe terdekat yang bisa mereka jangkau untuk memuaskan dahaga yang kini tengah menyerang tenggorokan masing-masing.

Ditarik-tarik Yena seperti saat ini anehnya tak membuat Sehun merasa kesal ataupun terganggu sama sekali. Pemuda bermarga Oh itu sendiri pun tak mengerti apa yang membuat ia dan gadis bernama Yena ini terasa begitu dekat, seperti bukan baru kemarin mereka dipertemukan oleh sebuah kecelakaan aneh. Cara Yena memanggilnya, cara Yena bertingkah yang selalu bisa membuatnya geleng-geleng kepala. Sehun, seperti sudah mengenal Yena sejak lama.

“Kau mau pesan apa?” tanya Sehun saat mereka sampai di sebuah kafe yang menawarkan banyak aneka minuman panas dan dingin dengan beberapa menu kue andalan. Kafe tersebut masih berlokasi di pusat perbelanjaan yang sama.

“Susu cokelat panas saja, Ahjussi.” jawab Yena.

Sementara menunggu Sehun membelikannya susu cokelat, Yena memilih duduk di sofa urutan ketiga dari lima pasang sofa yang disediakan dekat jendela. Namun tak lama setelah ia duduk, beberapa orang terutama lelaki banyak yang mengarahkan pandangan mereka dan tersenyum ke arahnya. Yena yang tidak tahu alasan kenapa dirinya bisa menjadi pusat perhatian para lelaki lantas merapikan penampilannya dengan canggung.

Gadis yang masih memakai pakaian Baekhyun itu pun semakin terkejut saat tiga orang siswa yang masih berseragam SMA kemudian duduk di sofa kosong di hadapannya dan mulai menggodanya meski terlihat sedikit malu-malu.

“Hai, Nuna! Nuna cantik sekali, kenapa duduk sendirian?”

“Apa Nuna sudah punya pacar?”

Nuna cantik sekali seperti Irene,” puji satu dari ketiga siswa bau kencur tersebut. “Eh, tapi kurasa Nuna lebih cantik!”

Mendapat pertanyaan dan pujian beruntun seperti itu membuat Yena seketika kikuk. Gadis yang memang mewarisi kecantikan dari Bae Irene sebagai ibunya itu pun hanya mampu tersenyum tanpa berniat meladeni.

“Permisi!”

Brak!

Lelaki bermasker putih yang tak lain adalah Sehun membuat ketiga siswa sekaligus Yena terkejut setelah lelaki itu dengan sengaja menaruh nampan kopi dan susu cokelat panas pesanannya secara kasar di atas meja.

“Hei, anak sekolah! Dengar ya, Nuna yang satu ini tidak sendirian, dia sudah punya pacar, dan pacarnya tidak ingin kalian mengganggu Nuna ini.” jelas Sehun bernada garang, membuat nyali ketiga siswa itu seketika ciut.

“Me-memangnya pacar Nuna ini siapa, Hyung?” tanya salah seorang siswa itu yang kemudian langsung dibalas oleh temannya.

“Dasar bodoh! Tentu saja Hyung tinggi ini pacarnya! Ayo cepat kita pergi saja!”

Yena tertawa geli melihat aksi Sehun yang bisa dengan mudahnya membuat ketiga siswa itu kabur, berlari terbirit-birit keluar kafe demi menyelamatkan diri dari amukannya.

“Anak sekolah sekarang seperti tidak punya banyak tugas saja. Berkumpul di kafe bukannya sambil belajar, malah menggoda gadis cantik sepertimu.” Sehun kesal sendiri.

“Ini susu cokelatmu.”

“Terima kasih, Ahjussi.” ucap Yena seraya menerima susu cokelat panasnya.

Sejenak, Yena larut dalam kenangan masa kecilnya. Bersama Sehun, Yena juga pernah meminum secangkir susu cokelat panas tepat di hari ulang tahunnya yang ke-4. Gadis itu sesekali tampak mencuri-curi pandang ke arah paman berkaki panjangnya dengan senyuman tertahan.

“Kenapa?” tanya Sehun.

Yena mengulum senyumnya. “Yena hanya teringat akan pertemuan pertama Yena dengan Ahjussi.”

“Saat aku menabrakmu kemarin? Maaf aku-“

“Hm? Bukan!” jawab Yena memotong. “Saat Yena masih kecil dulu.”

“Memangnya saat kita kecil, kita berdua pernah bertemu?” Sehun menyingkirkan gelas kopinya yang sudah kosong, bersiap mendengarkan penuturan Yena akan kisah pertemuan pertama mereka ‘dulu’.

Gadis itu menggeleng. “Saat Yena kecil, Ahjussi sudah dewasa. Itulah kenapa Yena memanggil Ahjussi dengan panggilan ‘Ahjussi’.”

“Coba jawab aku. Berapa usiamu sekarang?” tanya Sehun dengan nada menginterogasi.

“Hampir 19 tahun.” Jawab Yena enteng.

Sehun memutar bola matanya, malas. “Itu berarti yang kau temui jelas bukanlah aku. Kau dan aku kan hanya berbeda 2 tahun! Usiaku baru 21, Yena-ssi.” Sehun bertutur penuh penekanan, namun Yena lagi-lagi menggeleng seolah tak setuju dengan kesimpulan Sehun.

Ahjussi mau tahu suatu rahasia?”

“Rahasia apa?”

Yena berdiri, berusaha mencondongkan tubuhnya agar bisa menjangkau telinga Sehun. “Yena datang dari masa depan,” bisik Yena yang seketika mampu membuat bulu kuduk Sehun merinding.

“Haha, apa-apaan sih kau ini?” Sehun tertawa paksa. Akalnya tak bisa menerima pengakuan Yena begitu saja.

“Ya sudah kalau memang Ahjussi tidak mau percaya.” Gadis itu kembali duduk, tapi kali ini dengan raut wajah yang menyebalkan di mata Sehun.

“Kalau memang kau datang dari masa depan, apa kau tahu aku akan menikah dengan siapa nantinya?”

“UHUK UHUK!”

Baru saja Yena membasahi tenggorokannya dengan meneguk susu cokelat pemberian Sehun dalam satu teguk, Sehun yang terlanjur penasaran kemudian tak sengaja mengejutkan Yena hingga gadis itu tersedak.

“Yena-ssi, kau baik-baik saja?!”

Sebenarnya pertanyaan yang diajukan Sehun sangatlah wajar. Sehun hanya ingin tahu siapa yang akan menjadi jodohnya nanti. Namun, karena Yena tahu bahwa paman berkaki panjangnya itu meninggal sebelum sempat berkeluarga dengan wanita manapun, Yena jadi tak tahu harus menjawab apa.

Sehun mendekati Yena, mengusap lembut punggung gadis itu.

Ahjussi sudah tidak haus kan? Mau pergi ke mana lagi?” tanya Yena, mengalihkan pembicaraan.

Tak mau memaksa, Sehun membiarkan Yena tak menjawab pertanyaannya.

“Aku baru saja merusak ponselku. Antar aku membeli yang baru, ya?”

♥♥♥

Baekhyun berhenti melangkah. Rasanya sia-sia saja ia berkeliling menelusuri setiap area, mencari Yena di sekeliling pusat perbelanjaan yang begitu besar itu selama 3 jam lamanya. Baru terpikirkan olehnya bahwa Yena adalah seorang tunawisma, seharusnya ia membelikan ponsel baru lebih awal untuk digunakan gadis itu sehingga kejadian seperti ini tidak perlu terjadi. Padahal mudah saja, jika Baekhyun ingin, ia bisa pergi ke pusat informasi dan meminta bantuan untuk melakukan panggilan pada seorang gadis bernama Yena. Tapi, Baekhyun juga tahu, pihak pusat informasi pasti akan menertawakannya karena mencari seorang gadis dewasa yang tak memiliki kekurangan suatu apapun.

Seharusnya Baekhyun tidak perlu sekhawatir ini pada Yena. Yena adalah orang lain yang baru ditemuinya kemarin sore. Tambahan, gadis itu juga bukan anak kecil lagi. Jika Yena benar-benar pergi, mungkin gadis itu memang tak betah tinggal bersamanya. Tapi, bagaimana kalau Yena nanti hidup di jalanan yang terkenal keras dengan menjadi gelandangan?

“Aku tetap harus mencarinya.” Tekad Baekhyun bulat. Jika bukan di pusat perbelanjaan itu, ia harus bisa menemukan Yena di manapun tempatnya.

♥♥♥

Tak jauh dari pusat perbelanjaan, terdapat sebuah toko alat elektronik besar yang biasa menjadi tempat Sehun membeli ponsel sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dan di tempat tersebutlah, Sehun dan Yena berada sekarang. Tanpa melihat-lihat barang elektronik lainnya, Sehun membawa Yena langsung ke galeri ponsel keluaran terbaru.

Sementara Sehun terlihat sibuk bertanya tentang fitur canggih apa saja yang dimiliki oleh ponsel terbaru incarannya, Yena tampak asik mencoba fitur kamera dari banyak ponsel pintar berbeda yang memang disediakan untuk dicoba oleh para calon pembeli. Kelakuan Yena yang sebenarnya sedikit memalukan itu akhirnya diketahui juga oleh Sehun. Namun, Sehun hanya tertawa dibalik masker putihnya saat melihat kelakuan gadis itu yang benar-benar seperti anak kecil saat sedang bersamanya.

“Aku ambil yang ini.” ucap Sehun pada pelayan toko elektronik bagian ponsel yang sedaritadi melayaninya dengan baik. Pilihannya jatuh pada produk ponsel pintar terbaru bermerek terkenal berwarna hitam.

“Yena-ssi, kemarilah!” panggil Sehun.

Mendengar Sehun memanggilnya, Yena pun harus rela meninggalkan ponsel-ponsel cantik yang baru dicobanya untuk berfoto sekian puluh kali.

“Berapa nomor ponselmu?”

“Hah?” balas Yena, meminta pengulangan.

“Nomor ponselmu berapa? Aku akan menyimpannya sebagai nomor pertama di ponsel baruku.” Sehun sudah siap mengetik nomor ponsel Yena, namun bukannya menyebutkan nomor ponselnya, Yena malah terlihat menggeleng dengan raut sedih.

“Jangan bilang kau tak punya ponsel?” tanya Sehun, lagi.

Tak seperti tadi, Yena kini mengangguk.

Sehun tampak menghembuskan nafas kasar di balik maskernya. Manik hazel lelaki itu kemudian mengarah ke pelayan toko yang tadi melayaninya. “Aku ambil ponsel ini satu lagi.”

“Oh ya, kau suka warna apa?” tanya lelaki itu pada Yena.

“Merah muda.”

“Warna merah muda ya.” pinta Sehun pada si pelayan.

Yena mengedipkan matanya polos, masih belum mengerti mengapa Sehun harus memesan sebuah ponsel lagi dengan pilihan warna yang sangat ia sukai.

Setelah melakukan sebuah panggilan ke nomornya dan mendapat nomor Yena, Sehun menyodorkan ponsel merah muda dalam genggamannya pada gadis cantik itu.

“Ini untukmu, ambillah!”

Dahi Yena mengerenyit. “Untuk Yena?”

Sehun mengangguk, malas mengulangi ucapannya. “Dengan syarat, kau tidak boleh mengganti nomormu. Kalau kau ingin menghubungiku, tekan saja nomor satu. Jangan biarkan siapapun mengubahnya! Mengerti?”

Manik Yena berbinar. Setelah peristiwa kecelakaan di masa depan yang membuatnya terlempar ke masa ini berhasil menghilangkan ponselnya, akhirnya ponsel yang hilang ―atau mungkin tertinggal di masa depan― itu tergantikan juga dengan yang baru.

BREG!

Yena memeluk tubuh Sehun erat tanpa memberi sinyal terlebih dulu, membuat Sehun seketika menunjukkan mimik terkejut di balik masker putihnya karena pelukan erat yang tiba-tiba itu.

“Terima kasih, Ahjussi! Yena pasti akan menggunakannya!” ucap Yena masih dengan posisi memeluk si lelaki tinggi bermarga Oh.

“Yena?”

Yena berpaling ke asal suara yang menyebut namanya dan mendapati Baekhyun berdiri tak jauh dari tempat ia dan Sehun berdiri saat ini dengan keringat yang sedikit membasahi wajah tampan ayahnya tersebut.

Appa?”

Mengingat detik-detik di mana Yena memeluk lelaki lain di depan kedua matanya tadi, membuat Baekhyun kini mengukir sebuah senyuman tipis di bibirnya. “Aku sudah mencarimu ke mana-mana. Syukurlah, aku bisa menemukanmu dalam keadaan baik-baik saja.”

Ketika detik berganti, Yena hanyut dalam kebisuan. Pemikirannya tentang Baekhyun yang tak akan mungkin mengkhawatirkan dirinya ternyata merupakan suatu kesalahan.

Dilihat dari dada bidangnya yang naik turun, nafasnya yang terengah-engah, juga wajahnya yang berpeluh, Baekhyun… pasti benar-benar berusaha keras untuk mencarinya.

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

Iklan

23 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 06”

  1. Seru banget sih ff ini. Asikkkkk ceritanya beda!!!! Suka banget, sayang banget kak kurang panjang wkwkwk:((((
    Gabisa nerka nerka kira kira endingnya gimana… Masalahnya ini bapak anak, huffttt gapapa lah ya mereka pacaran dan nikah…. Ayo lah woiii happy ending. Ditunggu ya kak kelanjutannya

    Suka

    1. Alhamdulillah, syukurlah kalo kamu menganggap cerita ini seru^^ hihi maafkan yaa, niatnya dibuat pendek itu biar bisa tetep update walaupun otak lagi stuck / banyak kesibukan jadi harap maklum yaa :”))) hihi masih jauh banget ke ending, ini mah masih awal banget hehe 😂😂😂 waduh gimana tuh kasusnya kalo begitu, bapak sama anak kan gak boleh hahaha 😅😅😅 hmmm semoga aja kamu bisa tetep suka dengan alur yg udah ada di kepalaku ya hehe^^ siip siip, akan update setiap minggu kalo gak ada kendala :”))) ditunggu aja yaa😘😘😘

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s