AU/Alternate Universe, Chaptered, Drama, EXO Fanfiction, Family, Fantasy, Hurt/Comfort, PG-13, R, Romance, Sad

[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 08

PicsArt_01-05-12.41.52

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 401 | 02 | 0304 | 0506 | 07[NOW] 08


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 08 ― Obat ]

.

.

.

 

Butuh beberapa detik bagi Yena untuk kembali fokus pada pertanyaan yang dilontarkan Baekhyun beberapa saat lalu. Lelaki itu masih menatapnya, menunggu jawaban atas rasa penasaran yang selama ini menumpuk dalam dada.

“Apa saat ini kau sedang cemburu?” tanya Yena iseng.

Baekhyun tertawa hampir terjungkal, tak percaya gadis cantik itu akan bertanya seperti itu padanya. Ujung telunjuknya kemudian ia tempelkan di dahi Yena masih dengan tawa renyah yang menghiasi bibirnya. “Kau ini bicara apa sih? kita kan baru bertemu dua hari lalu.”

“Ah,” si gadis tampak mengangguk. Walaupun jawaban Baekhyun tadi kurang to the point, jawaban Baekhyun tersebut cukup jelas bagi Yena dan membuat Yena akhirnya bisa bernafas lega. Entah apa yang harus dilakukan gadis itu selanjutnya jika harus mendapati sang ayah jatuh cinta pada dirinya, anaknya sendiri. Syukurlah, itu tidak mungkin terjadi mengingat hanya sosok Bae Irene seorang lah yang dapat mengisi ruang terdalam di relung hati ayahnya.

“Aku hanya penasaran saja akan hubunganmu dengan si Oh Sehun.” ungkap Baekhyun tanpa ragu.

Lelaki itu mencondongkan tubuhnya menatap Yena penuh selidik, “atau jangan-jangan, sebenarnya kau bukan seorang tunawisma ya?”

“Uk! Uk!” Yena mendadak cegukan saat Baekhyun mengikis jarak di antara mereka hingga terlalu dekat. Mungkin antara terkejut yang bercampur dengan rasa takut. Apa yang harus ia katakan kalau seandainya nanti Baekhyun terus bertanya lebih tentangnya? Haruskah ia mengaku kalau dirinya adalah putri semata wayang Baekhyun di masa depan? Lalu, akankah Baekhyun bisa percaya dengan mudahnya? Haha, tidak mungkin!

“Kenapa kau bisa- uk! -tahu lelaki itu adalah Oh- uk! -Sehun? aku kan tidak pernah menyebutkan- uk! -namanya padamu. Aku selalu memanggilnya- uk! -‘Ahjussi’ bahkan saat bersamamu.” Tanya Yena sambil kepayahan sendiri menghadapi serangan cegukannya.

“Jangan remehkan aku, Yena-ya. Aku akan selalu tahu siapa rivalku.” Jawab Baekhyun. “Dan aku juga tahu, Irene-lah yang kemarin datang saat kita bertiga di toko elektronik.”

Raut lelaki itu kini berubah dingin. Mungkin teringat detik-detik di mana seorang Oh Sehun dengan tak tahu malu menarik Bae Irene menjauh dari sisinya begitu saja tanpa membiarkannya memandang paras cantik sang kakak yang tertutup oleh masker sedikit lebih lama,

“Uk! Uk!”

Perlahan, bayangan menyakitkan itu sirna dari pikiran Baekhyun, tergantikan oleh wajah Yena yang tampak begitu lucu saat cegukan. Biarpun Baekhyun merasa sedikit terhibur, lelaki itu tentu tak bisa membiarkan Yena menderita karena belum bisa mengatasi cegukannya sedari tadi.

Dengan menekan tombol power pada remot televisinya, Baekhyun mematikan tayangan acara yang masih menayangkan talkshow antara Irene dan Sehun. Daripada terus menonton acara tersebut dan makan hati, membantu Yena menghilangkan cegukannya dirasa lebih baik bagi lelaki itu sekarang.

“Kemarilah!”

Baekhyun menuntun Yena kembali ke dapur dan mendudukkan gadis itu di atas kursi makan. Si lelaki Byun lantas memberikan segelas air hangat untuk Yena, berharap air hangat tersebut mampu mengurangi cegukannya.

“Uk! Uk!” meski telah meneguk air hangat yang diberi Baekhyun, cegukan Yena seakan enggan untuk menghilang.

“Huwaaa! Uk! Bagaimana ini? cegukanku- uk! –tidak mau hilang juga!” Yena mulai merengek frustrasi.

Apa di dunia ini ada sebutan ‘ayah durhaka’? kalau ada, Baekhyun mungkin pantas menyandang sebutan tersebut. Semakin Yena frustrasi dengan cegukannya, semakin lebar pula tawa khas yang menghiasi bibir Baekhyun. Lelaki itu gemas. Baru kali ini, Yena benar-benar memperlihatkan sisi manjanya yang alami tanpa dibuat-buat pada lelaki itu. Kalau mau bersikap jahat, Baekhyun ingin melihat Yena terus cegukan saja sepanjang hari tanpa berhenti.

Untungnya, Baekhyun belum sampai ke taraf sejahat itu untuk melihat Yena tersiksa dan mengeluh akan cegukannya.

“Sekarang, coba pikirkan dulu apa yang biasanya bisa membuatmu cegukan?” sekon berlalu, Baekhyun memilih duduk di sebelah Yena dan menatap gadis itu lekat-lekat.

Masih dengan cegukan yang tak mau berhenti, Yena mencoba mengingat-ingat hal apa yang biasanya membuat ia cegukan. Tapi Yena bukanlah tipe orang yang bisa begitu mudahnya mengalami hal ini, tak peduli ia sering lupa minum setelah makan, atau apapun yang biasanya membuat orang bisa cegukan, tak pernah Yena mengalaminya.

“Ah!” akhirnya setelah berpikir cukup lama, suatu kejadian di masa lalu atau bagi Yena sekarang adalah kejadian di masa depannya nanti, pernah membuatnya cegukan untuk pertama kalinya.

“Kau sudah tahu apa penyebabnya?” tanya Baekhyun.

Yena mengangguk.

“Aku pernah jatuh cinta pada seseorang, dan rasa aneh itulah yang kemudian membuatku cegukan.”

.

.

.

[Kilas balik, 2030]

Tak pernah lepas dari ingatan Byun Yena, hari itu, sosok pemuda yang selalu setia mendampinginya kapanpun dan dalam situasi apapun, sosok lelaki yang hanya memiliki selisih umur lebih tua beberapa bulan saja dengannya, Park Chanyeol, membawanya ke sebuah bukit di malam hari demi melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit cerah.

Telah menjadi trainee di sebuah agensi ternama selama 3 tahun terakhir membuat keduanya sulit sekali untuk menghabiskan waktu bersama lagi seperti sedia kala karena terkendala waktu dan lain sebagainya. Tapi untunglah, hari itu, para trainee diperbolehkan untuk menghibur diri mereka masing-masing selama seharian penuh agar jauh dari kata tertekan. Dan di sinilah, di sebuah bukit kecil yang tak jauh dari asrama, Chanyeol dan Yena menghabiskan waktu mereka menikmati pemandangan kota dari atas sana.

“Kau suka?” tanya remaja tampan bertelinga lebar itu sambil berpaling menatap Yena yang sama-sama terduduk di atas rumput di samping kanannya.

“Aku sangaaat menyukainya!” ucap Yena dengan senyuman lebar. “Bagaimana kau bisa tahu tempat bagus untuk melihat bintang seperti ini?”

Chanyeol mengulum senyumannya, “Rahasia!”

Mendengar sang sahabat tak mau berbagi rahasianya, Yena lantas memukul-mukul bahu Chanyeol sekeras mungkin, menunjukkan kekesalannya dengan bibir mengerucut.

Pukulan kecil namun keras itu terus berlanjut, hingga ke detik di mana Chanyeol yang terus tertawa tak tahan kemudian membanting tubuhnya sendiri sampai berbaring di atas rumput sementara Yena terus memukulnya tanpa henti. Saat itu, dengan gerakan tangan yang pasti, Chanyeol berhasil menarik Yena lebih dekat dan membuat tubuh gadis itu jatuh di atas dadanya yang sedikit bidang.

Hening tercipta sesaat di antara keduanya. Jarak sedekat itu memungkinkan keduanya untuk saling beradu tatap dalam hening. Yena yang jatuh di atas dada Chanyeol dapat dengan mudah merasakan debar jantung si remaja Park yang tak biasa. Entah Chanyeol akan sesensitif itu juga atau tidak pada detak jantungnya yang juga tak normal.

“Uk! Uk!”

Suara cegukan Yena tiba-tiba saja menghancurkan momen romantis yang telah tercipta sesaat lalu. Mendengar suara cegukan yang imut tersebut, Chanyeol hanya bisa cekikikan.

Lelaki itu bangkit, kembali ke posisinya semula.

“Kau kedinginan ya?”

Itulah yang pertama kali terpikirkan oleh Chanyeol mengingat mereka berdua memang sedang sama-sama tak memakai jaket atau pakaian hangat lainnya, ya, hanya kaos hitam lengan pendek biasa dan celana training berwarna senada.

“Kalau begitu, sini berikan tanganmu!”

Yena menurut saja. Bagaimanapun, ia ingin cegukannya cepat hilang. Chanyeol menggenggam kedua tangan Yena erat-erat, sesekali juga lelaki itu tampak memberikan elusan lembut dan sedikit tiupan dari mulutnya untuk menghangatkan tangan yang saat ini digenggamnya. Tapi bukannya menghilang, cegukan itu malah seperti bertambah parah.

“Uk! Apa yang harus- uk! –aku lakukan? uk! Bagaimana kalau cegukanku- uk! –ini tidak hilang juga sampai- uk! –besok pagi?” rengek Yena. Sesungguhnya ia memang takut akan dimarahi oleh pihak agensi jika tidak bisa mempertahankan kondisi kesehatannya sendiri, apalagi ini berkaitan dengan vokal yang menjadi kekuatannya selama ini.

Tanpa merasa risih dengan rengekan Yena yang terdengar sangat manja, Chanyeol lagi-lagi terkekeh entah untuk ke berapa kali. Merasa kelewat gemas, Chanyeol pun mencubit hidung mancung Yena hingga si empunya hidung merintih kesakitan.

“Aaah! Sakit! Chanyeol-ah, lepaskan!” pekik gadis itu. Saat Chanyeol melepas cubitannya, ia dapat melihat sendiri hidungnya yang malang kini tampak kemerahan dan berkedut-kedut.

“Kau ini gila ya? Cubitanmu sakit sekali tahu! Nanti kalau hidungku semakin panjang seperti Pinokio, bagaimana? Mau tanggung jawab?!” sementara Yena terus nyerocos, lelaki di depannya diam-diam memperhatikan suara Yena yang ajaibnya tak lagi cegukan.

“Kurasa cubitanku tadi jadi obat mujarab untuk cegukanmu.”

“Huh?”

Sedetik kemudian, Yena akhirnya menyadari cegukannya telah hilang. Mungkin memang berkat bantuan Chanyeol. Chanyeol yang membuatnya cegukan, Chanyeol jugalah yang bisa menyembuhkannya.

[Kilas balik selesai]

.

.

.

Yena mengakhiri ceritanya dengan susah payah. Cegukan yang dialaminya sekarang seakan tak kunjung hilang meski beberapa menit sudah berlalu cukup lama. Akhirnya, dengan air muka sendu, Yena beranjak melangkah meninggalkan dapur.

Dari belakang, Baekhyun mengikuti langkah kaki gadis itu. Mendengar cerita Yena tentang sahabatnya, membuat Baekhyun tampak berpikir keras sedari tadi. Setelah cukup yakin dengan kesimpulan yang ia ambil secara sepihak, Baekhyun mengambil langkah lebih besar dan memposisikan dirinya dengan cepat berdiri tepat di hadapan gadis itu.

“Uk! Ada ap-”

“Aaawh! Aaah!” tanpa memberi aba-aba sedikitpun, Baekhyun mencubit gemas hidung Yena seperti apa yang dilakukan Chanyeol, membuat Yena kemudian memekik keras.

“Kau ini apa-apaan sih? Sakit tahu!” Yena langsung mengelus batang hidungnya yang terasa panas sesaat setelah Baekhyun melepas cubitannya.

“Ya habisnya menurut apa yang kau ceritakan tadi, cegukanmu akan hilang kalau orang yang sudah membuatmu jatuh hati itu mencubit hidungmu!” ujar Baekhyun membela diri.

“Tapi kan aku tidak mungkin jatuh hati padamu! Kenapa kau sembarangan sekali sih?! Hidungku jadi berdenyut, sakit sekali tahu?!”

Mendapati niat baiknya malah terkena semprotan dari gadis itu, Baekhyun berdecih dan memutar bola matanya, tak habis pikir.

“Terserah! Kau cari saja obatnya sendiri!”

Detik itu juga Yena terdiam, menyadari Baekhyun yang berlalu dari hadapannya dengan raut kesal yang tak lagi dapat disembunyikan. Yena sadar, tak seharusnya juga ia bersikap seperti itu pada ayahnya sendiri. Ia sadar, ucapan bernada kasarnya terlalu berlebihan. Dengan mengesampingkan fakta kalau Baekhyun adalah ayah kandungnya pun, memberi reaksi seperti itu pada orang yang telah memperbolehkannya tinggal menetap untuk sementara waktu dengan segala bentuk kebaikan lainnya yang telah ia terima, itu jelas sudah keterlaluan.

“Baekhyun-ssi…” panggil Yena ragu-ragu pada lelaki yang kini tengah membaringkan tubuh di atas sofa dengan posisi lengan kiri yang sengaja menutupi kedua matanya.

“Hm?” balas Baekhyun acuh tak acuh. Lelaki itu memutar tubuhnya, membelakangi Yena.

Melihat Baekhyun balas meresponnya dengan cara yang sama-sama tak mengenakkan, Yena semakin diliputi rasa bersalah. Saat Yena kecil dulu, Baekhyun tak pernah sedikit pun marah padanya dan bahkan semakin menyayanginya setelah sempat menjadi anak nakal dan hilang dari jangkauan Baekhyun di hari ulang tahunnya yang ke-4 tahun 2020.

“Maafkan aku, Baekhyun-ssi.” Ucap Yena. “Aku menyesali sikapku tadi. Aku salah, maafkan aku. Kumohon jangan marah padaku, Baekhyun-ssi.”

Detik demi detik berlalu, tapi Baekhyun enggan membalas apapun lagi. Hening menyelimuti keduanya. Hanya terdengar suara jarum jam di dinding ruangan utama yang terus berdetak saking tak ada lagi di antara dua insan itu yang mau bersuara.

Baekhyun sama sekali tidak tidur. Ia rupanya sedang menanti Yena cegukan lagi. Sejak ia mencubit hidung gadis itu, hingga detik ini, telinganya tak lagi menangkap suara cegukan gadis cantik itu.

“Kurasa kau memang telah jatuh hati padaku, Nona Yena.”

“Apa?”

Si lelaki Byun bangun dari posisi berbaringnya, menatap gadis yang kini mengerutkan kening di depannya dengan senyuman tertahan.

“Aku tidak pernah menyangka, wajahku ternyata cukup tampan juga untuk menarik hati wanita yang baru dua hari tinggal bersamaku.” Ujar lelaki itu yang kemudian beranjak masuk ke kamarnya seraya tertawa tanpa dosa.

Baekhyun mungkin bisa tertawa selebar itu, tapi tidak dengan Yena. Kalau saja Baekhyun tak mengatakan apapun lagi, Yena mungkin tidak akan pernah menyadari kalau cegukannya telah menghilang.

Tangan Yena bergerak menyentuh bagian kiri dadanya yang memang mulai berdetak tak biasa setelah berhari-hari tinggal di dekat Baekhyun. Gadis itu tak pernah menyadari bahwasanya kejadian yang sama telah terulang kembali. Kali ini bukan pada Chanyeol ataupun orang lain, tapi pada… ayahnya sendiri.

Eomma…” wajah Bae Irene sebagai seorang ibu yang begitu menyayanginya perlahan membayangi Yena. Bulir airmatanya tak kuasa lagi untuk ditahan. “Apa yang harus Yena lakukan?”

Kembali.

Ya, sebelum semuanya terlambat dan cinta terlarang yang ada di dalam hatinya terus mengakar kuat… Byun Yena harus kembali.

Tapi

Manik gadis itu melebar seketika. Sudah dua hari berlalu sejak kecelakaan yang menimpanya di masa depan berhasil membawanya ke masa lalu, Yena baru menyadari bahwa benda terpenting yang mungkin bisa membawanya kembali ke masa depan tak lagi melekat di pergelangan tangan kirinya.

Ya, jam tangan berwarna silver pemberian anak lelaki tak dikenal itu…

Telah menghilang.

 

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

Iklan

24 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 08”

  1. wahduhhh jemnya ilang !! masa yena klo mw balik ke masa dia skrng mesti ketabrak lgi?
    btw ceritanya seru trs menantang., saya suka saya suka

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s