AU/Alternate Universe, Chaptered, Drama, EXO Fanfiction, Family, Fantasy, Hurt/Comfort, PG-13, R, Romance, Sad

[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 09

BeautyPlus_20180118225630_save

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 401 | 02 | 0304 | 0506 | 0708[NOW] 09


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 09 ― Waktu, Berhentilah ]

.

.

.

 

Sejak hari di mana Baekhyun menyadari perasaan Yena, sikap gadis berambut arang itu berubah. Jika sebelumnya Yena-lah yang selalu bisa mencairkan suasana canggung di antara mereka, kini giliran Baekhyun yang harus memutar otak untuk memperbaiki keadaan seperti sedia kala.

Canggung. Dalam pikiran si lelaki Byun, hanya satu kata itulah yang bisa mendeskripsikan apa yang selalu terjadi ketika mereka berpapasan di dalam rumah, tak sengaja menyentuh kulit punggung tangan satu sama lain saat berebut remot televisi, dan lain sebagainya. Mungkin Yena malu, pikir Byun Baekhyun. Tapi, kenapa gadis itu harus malu?

“Eum, Yena-ya…”

Panggilan ragu-ragu Baekhyun sama sekali tak berhasil membuat si pemilik nama tergugah dari lamunannya. Tanpa lelaki tampan itu ketahui, di antara sekian banyak pikiran yang bersarang dan berkecamuk di pikiran Yena, salah satunya adalah tentang cara bagaimana ia bisa cepat-cepat menyatukan kedua orang tuanya sehingga perasaan semacam apa yang dirasakannya kini tak perlu tumbuh semakin besar. Singkatnya, mungkin itulah jalan keluar satu-satunya bagi Yena untuk kembali.

“Aku akan bersikap seolah-olah aku tidak tahu apapun, jadi bisakah kau bersikap seperti biasa padaku? Suasana canggung seperti ini rasanya aneh.” Lanjut si lelaki bersurai cokelat, tak peduli Yena mau mendengar ucapannya atau tidak.

Mereka terduduk di meja makan untuk menikmati makan siang bersama dengan menu yang sebenarnya memang itu-itu saja setiap harinya; ramen bungkusan berkuah pedas yang khas, sejak sesekon lalu. Akan sangat wajar jika bibir Yena terkatup selama menit berselang dan aktivitas makan siangnya belum usai. Tapi, kali ini gadis itu tak tampak berniat untuk mencicipi kuah ramen dalam mangkuknya barang satu seruput pun dan hanya terus larut dalam diamnya bak pahatan patung yang membisu.

“Aku tahu aku tak seharusnya membiarkan tamuku memakan makanan tak sehat seperti ini setiap hari.”

Baekhyun membuang ramen yang belum tersentuh dari mangkuk mereka ke tempat sampah, melihat itu, Yena tahu ia lagi-lagi melakukan kesalahan namun masih tak memiliki keberanian membuka mulut.

Setelah mendengar Baekhyun mengembuskan napas kasar, Yena merasakan tangan kirinya digenggam oleh tangan hangat lelaki itu. Yena menengadah, mendapati Baekhyun yang tersenyum padanya tanpa sedikitpun amarah.

“Kurasa tidak ada salahnya juga jika kita sesekali makan siang di restoran, Nona Yena.”

♥♥♥

‘Apa dia akan terus seperti itu? muncul setiap kali nama Irene disebut-sebut?’

‘Dasar Oh Sehun tak punya malu!’

‘Kenapa stasiun televisi ini harus menjadikan artis bobrok tak bertalenta macam dia sebagai pembawa acara?’

‘Aku yakin, meskipun mereka mengundang model kelas Asia seperti Bae Irene, rating acara itu akan anjlok seketika setelah si Oh Sehun muncul.’

Di depan layar laptopnya, senyum Oh Sehun tampak terukir tipis. Ia baru saja menonton ulang video acara yang dibawakannya kemarin pagi di situs web khusus berbagi video. Salahkan jarinya sendiri yang tak mau diam hingga harus menggulir layar ke kolom komentar di mana netranya hanya mampu menangkap komentar baik untuknya yang bisa dihitung jari di antara sekian banyak komentar buruk yang masih terus bermunculan hingga detik ini.

Tidak apa-apa, Sehun-ah. Kau sudah terbiasa menerima semua ini. Kau tidak perlu merasa sakit hati.

Begitulah Sehun mensugesti pikirannya sendiri setiap kali hal seperti ini terjadi. Toh, perkataan orang tuanya masih lebih tajam dari hujatan orang-orang yang bersembunyi di dunia maya sana. Lelaki berkulit putih susu itu percaya, ia bisa menjadi seseorang yang lebih kuat demi meraih semua mimpi-mimpinya.

Niat hati ingin membayangkan wajah sang kekasih, justru yang terbayang dalam benaknya sekarang ialah si gadis aneh bernama Yena. Sejak ia mengirimkan sebuah pesan kemarin, Yena tak kunjung memberikan sebuah balasan.

Apa gadis itu menontonnya? Apa gadis itu tidak menontonnya? Apa gadis itu tidak bisa menggunakan ponsel pintar dengan baik sehingga hanya untuk membalas pesannya saja ia kesulitan?

Sehun berdecih, “Kenapa juga aku tiba-tiba memikirkannya?”

“Baru dua hari bergaul dengan gadis aneh itu, aku sudah tertular keanehannya saja.” lelaki itu terkekeh pelan. Terlintas lagi di pikirannya adegan pertemuan mereka pertama kali dalam sebuah kecelakaan.

Tawa itu mereda dalam sekian detik. Saat Sehun mengingat pertemuan itu, teringat pula-lah pengakuan Yena mengenai dirinya yang ‘katanya’ berasal dari masa depan.

Itu jelas tidak masuk akal dan Sehun tahu betul akalnya akan sangat mampu menolak pengakuan tersebut secara mentah-mentah. Tapi, bagaimana jika memang hal-hal tak masuk akal itu bisa terjadi?

​”Ah, tidak mungkin!” Lelaki itu lagi-lagi menggeleng. Namun justru semakin keras ia berusaha tak mempercayai segalanya, keraguan akan jawabannya sendiri kian menumpuk dalam hati.

Hanya Sehun dan Yena yang terlibat dalam kecelakaan itu, tidak ada saksi. Sehun tidak sedang dalam pengaruh alkohol ataupun obat-obatan saat berkendara di hari yang cerah itu. Kalaupun Yena benar datang dari masa depan, Sehun-lah yang seharusnya mempercayai gadis itu untuk pertama kali dibandingkan siapapun.

Aku pikir kita harus bertemu.‘ Ketik Sehun dalam pesannya yang ditujukan pada kontak bernama ‘Gadis Aneh’.

Bunyi tanda sebuah pesan baru telah masuk ke nomornya menginterupsi langkah Sehun yang baru saja menyambar sehelai cardigan berwarna hitam di atas tempat tidur.

Yang Tersayang — 18-06-2015, 04:03 PM

Bisakah kita bertemu? Aku membutuhkanmu, Oh Sehun.’

Meski hanya lewat sebuah pesan tanpa suara, Sehun dapat merasakan kesedihan dalam setiap kata yang berasal dari nomor kontak sang kekasih, Bae Irene.

Adalah sebuah takdir dan tak ada kata lain lagi yang mampu menggambarkan kisah keduanya, seseorang selemah gadis itu dipertemukan dengan sosok sekuat Oh Sehun. Di mana jika mereka bersama, mereka bisa selalu saling menguatkan satu sama lain tanpa perlu salah satu di antaranya merasakan kesendirian hingga memilih untuk mengakhiri hidup.

Pikiran Irene terlalu dangkal. Yang Sehun takutkan sekarang, gadis itu kini sedang kembali berdiri di ujung puncak sebuah gedung pencakar langit hanya karena merasa tak mampu melewati semua masalah yang tengah dihadapinya.

“Kita bertemu sekarang!” Tandas Sehun sesaat setelah nada sambung telepon yang terdengar olehnya tergantikan oleh isakan pelan gadis di seberang sana. “Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal yang tidak-tidak! Kau mengerti?”

♥♥♥

Ahjussi Tampan — 18-06-2015, 04:02 PM

Aku pikir kita harus bertemu.

Pesan tersebut muncul di layar ponsel Yena yang tiba-tiba menyala. Ponsel keluaran terbaru itu tergeletak di atas meja karena ditinggalkan pemiliknya yang sedang pergi ke kamar kecil sebuah restoran ayam. Alhasil, lelaki tampan yang duduk semeja dengan gadis pemilik ponsel tersebutlah yang akhirnya membacanya secara sengaja.

“‘Ahjussi Tampan’? Oh Sehun maksudnya?” Baekhyun menggeleng tak percaya. “Dia menyimpan nomor lelaki lain bukan dengan nama asli dan tak berniat menggantinya bahkan di saat dia menaruh hati padaku?”

“Yang benar saja!”

“Apanya?” Yena berkedip polos, tak mendengar sebagian atau lebih dari ocehan si lelaki bersurai cokelat yang tampak menahan kesal jika dilihat dari raut wajahnya saat ini. Karena tersadar bahwasanya terus membisu di depan sang ayah pun takkan membantu memperbaiki keadaan sama sekali, Yena akhirnya memutuskan untuk bersikap seperti biasa lagi. Ya, bersikap seperti tidak ada apapun yang harus ia khawatirkan, bersikap seperti semuanya akan membaik dengan sendirinya dan seiring berjalannya waktu.

“Kalau kau menyimpan nomorku, nama apa yang akan kau simpan dalam daftar kontakmu?” Tanya Baekhyun, masih dengan air muka yang tak berubah.

“‘Appa‘.” Jawab Yena yang langsung membuat Baekhyun tersedak minuman bersoda yang baru diseruputnya dari sedotan.

“Ya ampun! Baekhyun-ssi, kau baik-baik saja?!”

Dahi Baekhyun mengkerut seraya memberi gerakan berupa gelengan kepala, hidungnya memerah menahan perih karena air soda yang diminumnya tadi juga tak sengaja masuk ke hidungnya.

“Haruskah kita pergi ke dokter?” Tanya Yena, khawatir.

“Tidak perlu.”

Meski merasa perih di hidung bagian dalamnya, Baekhyun bersegera mendudukan Yena di kursinya semula dan memberi kode dua jarinya yang ia tunjukkan ke arah mata Yena dan ke matanya yang memiliki arti Yena harus menatap matanya lekat-lekat.

“Kenapa nama kontakku harus ‘Appa‘? Coba berikan alasan yang dapat kuterima!”

Gadis dengan dua bola mata kecokelatan itu menatap Baekhyun tanpa keraguan. “Karena daripada aku menganggapmu sebagai kakak, aku rasa menganggapmu sebagai ayah akan lebih menyenangkan!”

“Tidak dapat diterima!” Baekhyun mengetuk-ngetuk sumpit ke meja sebanyak tiga kali seperti hakim yang mengetuk palu di sebuah persidangan. “Ada alasan lain?”

“Hm, apa ya?” Yena berpikir keras sambil memutar kedua bola matanya.

Ah!

Baekhyun pasti tidak akan menolak alasan gila Yena yang satu ini.

“Setiap lelaki biasanya ingin dipanggil ‘Appa‘ setiap malam. Kau mau kupanggil ‘Appa‘ atau…” Yena bangkit, mencondongkan tubuhnya untuk menjangkau telinga Baekhyun. “‘Daddy‘?”

Semua bulu yang ada di tubuh Byun Baekhyun berdiri seketika, merinding mendengar Yena mendesis tepat di telinganya. Tak ayal, wajah Baekhyun pun kini memerah karena ulah nakal gadis itu yang berani membuat pikirannya melayang ke mana-mana.

“‘Daddy‘ kurasa lebih keren!”

“Apa-apaan sih? Tidak!” Cetus Baekhyun setelah menormalkan kembali indera perabanya.

“Ya sudah, A-Appa saja.” Lanjutnya, tergagap.

Sedetik kemudian, Yena tergelak dalam tawa, tak tahan melihat perubahan ekspresi wajah ayahnya yang berubah sedrastis itu.

“Lupakan soal ‘Daddy‘ itu! Aku hanya bercanda kok!”

“Ba-baguslah kalau begitu!” Baekhyun berdiri dari duduknya dan berdeham sedikit untuk membuat tenggorokannya nyaman. “Sudah sore! Kita pulang saja!”

Baekhyun dan Yena telah menghabiskan banyak waktu di restoran ayam tersebut. Sejak matahari masih berada di atas kepala, hingga kini hendak menenggelamkan diri ke ufuk barat. Baekhyun sengaja tak membawa Yena ke pusat perbelanjaan seperti waktu itu. Alasannya? Baekhyun tak mau kejadian yang sama terulang untuk kedua kalinya, di mana perasaannya diselimuti oleh kecemasan tatkala Yena luput dari pandangannya.

Yena masih memakai setelan pakaian milik Baekhyun; kaos abu-abu lengan pendek dan celana jeans yang kebesaran berwarna hitam. Sedang Byun Baekhyun memakai kaos putih lengan pendek yang dipadu dengan celana jeans hitam yang sama.

Mereka berjalan beriringan, namun punggung tangan keduanya yang terus saling bersentuhan tanpa saling menggenggam dirasa cukup mengganggu si lelaki Byun. Akhirnya, sambil berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain, Byun Baekhyun pun menggenggam tangan kiri gadis di sampingnya erat-erat.

“Baekhyun-ssi…”

“Kenapa?” Baekhyun merespon tanpa sedikitpun menoleh. “Cepatkan langkahmu!”

“Kenapa tadi tak kuparkir saja mobilku di parkiran restoran ya? Kita jadi harus lumayan jauh berjalan kaki.” Sesal lelaki itu kemudian.

Namun tak berselang lama, langkah yang bersemangat itu terhenti sesaat. Otomatis, Yena berpaling menatap Baekhyun seolah bertanya ‘kenapa berhenti?’.

Pandangan Baekhyun menatap lurus pada sebuah objek wanita mungil bersurai pirang yang berpenampilan kasual serba hitam dan sangat tertutup. Bae Irene. Baekhyun jelas mengenalnya tanpa harus berpikir dua kali.

Baekhyun melepas genggamannya pada tangan Yena dan mengambil langkah cepat mendekat pada gadis yang ia yakini seratus persen sebagai kakak -ah tidak, model cantik, idolanya.

“Kau Bae Irene, kan?” tanya Baekhyun seraya tersenyum lebar pada gadis itu. Si gadis lantas tampak terkejut, lalu melihat ke kanan kirinya sebelum akhirnya mulai berjalan menunduk menjauhi Baekhyun.

“Yena-ya, kau tunggu di sini. Aku harus memastikan-“

Yena menggenggam erat tangan lelaki di depannya, tak mengijinkan Baekhyun untuk melangkah pergi mengikuti si gadis pirang yang sama-sama ia yakini juga sebagai Irene, sang ibu.

“Jangan pergi… jangan ikuti dia.” Pinta Yena tanpa menatap Baekhyun yang sedang balik menatapnya dengan tatapan tak mengerti.

“Lihat?! Kau juga tahu dia Bae Irene kan?! Maka dari itu aku harus-“

“Justru karena aku tahu dia Bae Irene, Byun Baekhyun! Justru karena aku tahu…” Yena menghela nafasnya. “Berhentilah…”

“Apa?”

“Berhentilah mengganggunya! Jangan biarkan dirimu terlalu mencintainya sampai-sampai kau gila dan haus akan cintanya hingga kau berani menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkannya!” Nada bicara Yena-lah yang pertama kali meninggi, membuat beberapa orang lantas memperhatikan pertengkaran mereka yang akan semakin besar setelah ini.

“TAHU APA KAU TENTANG HIDUPKU, HUH?! KAU TIDAK TAHU APA-APA! JUSTRU KAULAH YANG SEHARUSNYA BERHENTI! BERHENTILAH BERSIKAP KAU TAHU SEGALANYA TENTANGKU! KAU BUKAN SIAPA-SIAPA! KAU HANYA SEORANG GADIS GELANDANGAN YANG KUBIARKAN TINGGAL DI RUMAHKU! HANYA ITU! JADI BERHENTILAH IKUT CAMPUR DALAM MASALAH HIDUPKU DAN BANGUNLAH DARI MIMPIMU!” Sergah Baekhyun yang detik itu juga mampu melukai perasaan Yena hingga tubuhnya gemetar dan menitikkan airmata.

“Ya,” Yena mengangguk dengan airmata berlinang. “Kalau begitu lanjutkanlah… LANJUTKAN APA YANG INGIN KAU LAKUKAN DAN BUATLAH SEMUA USAHAKU MENJADI SIA-SIA! LANJUTKAN APA YANG MENURUTMU BENAR DAN HANCURKANLAH NASIB KELUARGA KECILMU DI MASA DEPAN!”

PLAK!

Yena menyentuh pipi kirinya yang seketika terasa panas setelah mendapat tamparan keras dari tangan besar Byun Baekhyun, ayahnya sendiri, dengan tangan bergemetar hebat.

“Jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di hadapanku!” Baekhyun lagi-lagi membentak Yena, tapi kali ini dengan volume yang lebih rendah dari sebelumnya. Raut wajahnya tak menunjukkan rasa penyesalan sama sekali setelah membuat sudut bibir Yena berdarah akibat tamparannya. “Kau mau mati kedinginan di jalanan? Aku sudah tidak peduli lagi!”

Tanpa menunggu detik berganti menit, Baekhyun berlalu meninggalkan Yena demi mengejar gadisnya yang kini sudah berjarak semakin jauh.

Sementara itu, jiwa Yena masih terguncang. Tangisnya pecah hampir tanpa suara. Gadis belia itu kemudian terduduk lemas di tengah lalu-lalang orang yang melihatnya dengan tatapan iba. Sebisa mungkin, Yena menutup mulutnya, berpikir untuk tidak mengganggu orang lain dengan jeritan hatinya saat ini.

Kenapa Appa harus membuat usaha Yena sia-sia? Kenapa Appa tak mau mendengarkan Yena untuk kali ini saja? Yena tidak bisa… Yena tidak mau menjadi yatim piatu, Yena tidak mau… membiarkan Appa dihukum mati. Kenapa Appa harus membuat semuanya terasa semakin sulit untuk Yena lalui?, batin Yena menjerit.

Tapi kemudian, Yena kembali tersadar. Menangis saja tak akan mampu merubah keadaan. Kembali ke tekadnya semula, ia harus bisa mengubah takdirnya bagaimanapun caranya.

Satu-satunya pemeran lelaki dalam kisah ini yang bisa membantunya keluar dari masalah adalah…

‘— Memanggil, Ahjussi Tampan.’

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

Iklan

15 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 09”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s