AU/Alternate Universe, Chaptered, Drama, EXO Fanfiction, Family, Fantasy, Hurt/Comfort, PG-13, R, Romance, Sad

[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 10

BeautyPlus_20180118225630_save

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 401020304 | 0506070809 | [NOW] 10


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 10 ― Bukan Irene ]

.

.

.

 

Senja hari itu menuntun langkah Baekhyun untuk terus mengikuti ke mana pun Irene melangkah dengan hati-hati. Rasa penasaran yang sangat kuat memaksanya untuk mencari jawaban sendiri mengingat Irene sudah jelas tidak akan mau secara terang-terangan mengajaknya bicara empat mata dengan keadaan gadis itu yang belum mampu mengingat sedikitpun tentangnya.

Langkah kecil Irene tak seimbang dengan langkah besar Baekhyun yang kini hanya berjarak beberapa langkah darinya. Gadis pirang itu terlalu disibukkan oleh rasa was-was yang menyelimuti perasaannya sendiri hingga tak menyadari seorang pria tampan masih setia mengikutinya di belakang sana.

Sebuah hotel berbintang lima ternyata menjadi tujuan si gadis cantik bersetelan sweater dan celana jeans serba hitam. Derap sepatu ketsnya bahkan tak terdengar menimbulkan suara sedikitpun seolah ikut mendukung pemiliknya untuk tak menjadi pusat perhatian orang-orang.

Netra gadis yang sejak awal menutupi kecantikannya di balik topi dan kacamata itu  tampak melebar seketika setelah melihat sosok yang seharusnya ia temui di salah satu kamar hotel sore ini malah terlihat melangkah keluar dari lobi utama dengan langkah terburu tanpa seizinnya.

Oppa!“ panggil Irene pada Sehun, tapi sialnya, suaranya tak cukup keras untuk bisa sampai ke telinga sang kekasih.

BREG!

Sebuah rengkuhan hangat di bahunya akhirnya mampu membuat ia sejenak mengalihkan pandangan ke arah pemuda lain selain Oh Sehun; pemuda yang tak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan kekasihnya namun tetap terlihat tampan dari sisi kiri. Tapi untuk sekarang, ketampanan pemuda itu bukanlah poin pentingnya.

“Ikut aku.”

“Kau siapa?”

Tanpa menjawab pertanyaan Irene, Byun Baekhyun ―si pemuda yang saat ini masih merangkul erat bahu gadis itu sambil terus berjalan menjauh kemudian hanya memberi alasan tanpa berpaling, “Ada beberapa wartawan yang membuntutinya, ini bukanlah waktu yang tepat bagimu untuk bertemu Oh Sehun.”

“Kalau media melihatmu berada di sisi lelaki itu di depan sebuah hotel, seluruh dunia akan tahu kalau kalian tak hanya sekedar berteman.”

“Apa ada media yang mengikutiku juga?” tanya Irene sembari menatap Baekhyun meski Baekhyun tak balas menatapnya.

“Kurasa tidak,” jawab Baekhyun. Lelaki bersurai cokelat itu menoleh kembali ke belakang, ke sisi kiri dan juga kanannya, untuk memastikan. “Wartawan itu belum menyadari keberadaanmu sehingga mereka lebih tertarik untuk terus memperhatikan setiap gerak-gerik Oh Sehun.”

Irene tahu lelaki di sampingnya ini adalah orang asing, tapi entah kenapa langkah kakinya seperti tak mau berhenti menyeimbangi langkah besar lelaki itu. Ketika si lelaki menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil, ia hanya menurut tanpa sedikitpun berniat untuk menolak.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” ucap Irene setelah si empunya mobil duduk di sebelahnya tepat di depan kendali kemudi.

“Pertanyaan yang mana?”

“Namamu.”

Baekhyun terkekeh pelan sebelum akhirnya melayangkan sebuah pertanyaan seraya menatap Irene lekat-lekat, “Sebenarnya ada berapa banyak orang yang kau temui dalam satu hari, Bae Irene-ssi?”

Kening Irene mengkerut. “Kita pernah bertemu?”

“Aku Baekhyun, marga keluargaku adalah Byun, aku anak bungsu dari dua bersaudara dan memiliki seorang kakak perempuan,” ucap Baekhyun dalam satu kali tarikan napas, memperkenalkan dirinya dengan penuh senyuman.

Cara perkenalan Baekhyun tadi ternyata mampu membuat pipi putih mulus gadis pirang itu kini terhiasi oleh semburat kemerahan yang terasa sedikit hangat. Irene bisa dengan mudahnya tertawa dan merasa terhibur hanya karena satu kalimat perkenalan itu.

“Aku hanya bertanya namamu.”

Melihat Joohyun –ah, bukan, melihat Irene bisa tertawa begitu lebar di hadapannya, Baekhyun merasa bersyukur sekali. Biasanya, Baekhyun hanya bisa bercengkrama dengan Irene setiap kali acara jumpa fans berlangsung. Selebihnya, dalam dunia khayalnya saja.

“Ada satu hal lagi yang pasti,” sambung Baekhyun.

“Apa itu?” tanya Irene antusias.

“Aku adalah penggemar beratmu.”

♥♥♥

“Ahjussi… Yena tidak tahu harus menghubungi siapa lagi… Yena sangat membutuhkan Ahjussi… Bisakah Ahjussi menemui Yena sekarang juga? Yena mohon…”

Isakan demi isakan masih terngiang di telinga Sehun yang saat ini fokus mengemudikan mobilnya dalam kecepatan penuh untuk menemui gadis yang beberapa menit lalu menangis terisak dalam sambungan telepon. Sehun tidak bisa berpikir tentang apapun lagi selain Yena. Gadis itu selalu berhasil menguasai pikirannya sampai-sampai ia tak lagi merasa berdosa sama sekali karena telah membatalkan pertemuannya dengan Bae Irene di hotel yang seharusnya terjadi sore ini.

Di sebuah taman kota yang berjarak tak jauh dari hotel, Sehun langsung memarkirkan mobilnya dan bergegas mengayunkan tungkai kakinya; berlari ke sana kemari demi mencari eksistensi sosok seorang gadis yang berhasil membuat pikirannya kacau seperti hampir gila. Raut cemas tergambar begitu jelas di wajah tampannya.

Langkah lebar lelaki berkaki panjang itu akhirnya berhenti setelah netranya menangkap sosok yang ia cari-cari sedari tadi sedang terduduk lesu dengan mata sembab di sebuah ayunan, seorang diri.

“Hai, gadis aneh…”

Gadis cantik itu menengadah menatap sosok Sehun yang kini berdiri tepat di hadapannya. Linangan airmata gadis itu kian menjadi, membanjiri kedua pipinya, tanpa bisa tertahankan lagi.

“Terima kasih, Ahjussi!”

BREG!

Yena memeluk tubuh tinggi Sehun begitu erat. Tangisnya pecah seketika di dada bidang lelaki itu. Yena bersyukur Sehun mau datang menemuinya, karena kalau tidak, sang ayah mungkin akan menjadi saksi pertama pertemuan Sehun dan Irene di sebuah kamar hotel yang akan menjadi jembatan dikonfirmasinya hubungan kedua insan itu di hadapan publik. Tentu saja, Yena tidak mau semua itu terjadi. Tak peduli perasaan apa yang dimilikinya saat ini pada sang ayah, Irene harus tetap menjadi milik ayahnya seorang.

“Siapa yang membuatmu menangis?” tanya Sehun lembut. Lelaki itu juga membalas pelukan erat Yena padanya.

Appa,” jawab Yena masih terisak seperti anak kecil yang tengah mengadu. “Appa jahat sekali…”

Mendengar pengaduan Yena, Sehun mengembuskan napasnya berat. “Haruskah… aku menghukumnya karena telah membuatmu menangis?”

Gadis berambut arang itu melepas pelukannya, membuat Sehun bisa sedikit lebih jelas melihat darah yang telah mengering di sudut bibirnya.

Appamu bersikap kasar? Kenapa bibirmu bisa sampai terluka seperti ini?” ibu jari Sehun mencoba menyentuh sudut bibir Yena, namun gadis itu bergerak sedikit lebih cepat untuk menghindar.

“Jangan disentuh, lukanya masih terasa sakit,” ujarnya kemudian. “Apa… Ahjussi benar-benar sebegitu mencemaskan Yena?”

Sehun berdeham, terlalu gengsi untuk menjawab pertanyaan Yena dengan jujur.

“Hari sudah petang. Kalau aku mengantarmu ke rumah, kau pasti akan bertemu dengan Appamu,” gumam Sehun menimbang-nimbang keputusan apa yang akan ia ambil selanjutnya menyangkut keamanan gadis di hadapannya.

“Untuk sementara, tinggallah di hotel. Setidaknya, sampai amarah Appamu mereda,” usul lelaki itu tanpa kata tanya alias ia tak membutuhkan pendapat Yena sama sekali untuk setuju ataupun tidak. Katakanlah, ia memaksa Yena untuk tinggal di hotel, dengan cara yang lebih halus.

“Tapi, Yena tidak punya uang.”

“Oh ayolah,” Sehun mengusap wajahnya, frustrasi. “Kenapa kau selalu membahas uang?”

“Sejak hari di mana aku menabrakmu, sudah kuputuskan kau adalah bagian dari tanggung jawabku.”

♥♥♥

luxury-home-architectural-photography-naperville-1

“Woah!”

Begitulah reaksi Irene ketika pertama kali menginjakkan kakinya di pekarangan rumah Baekhyun yang sangat luas. Ya, lelaki itu membawanya ke sebuah rumah yang jauh sekali dari hiruk pikuk keramaian kota. Bahkan bisa dibilang, lelaki itu tak punya tetangga sama sekali karena rumahnya berada di lingkungan terpencil. Hanya ada satu rumah; rumah lelaki itu saja.

“Rumahmu bagus juga, Tuan Byun,” puji Irene.

“Ini rumah kita.”

“Huh?” tanya gadis itu, meminta pengulangan karena telinganya tak bisa mendengar gumaman Baekhyun dengan begitu jelas.

Baekhyun menyunggingkan senyuman tipisnya. “Mau bermalam di rumahku?”

Melihat rona pipi sang gadis yang memerah, Baekhyun tertawa tak habis pikir.

“Tenang saja, kamar di rumahku ada banyak. Kau bisa memilih untuk menempati kamar manapun.”

Irene mengangguk, tangannya menggaruk tengkuknya sendiri malu-malu. “Kurasa tidak ada salahnya juga untuk bermalam. Aku akan pulang pagi-pagi sekali karena akan ada banyak pekerjaan yang menungguku besok.”

“Aku akan mengantarmu,” timpal Baekhyun.

Sejurus kemudian, Irene mengulurkan tangan kanannya dengan penuh semangat. “Kalau begitu, selamat!”

Alis Baekhyun hampir saja beradu saking tak mengerti maksud gadis cantik di hadapannya itu. “Untuk?”

Gadis itu melangkah, menghampiri Baekhyun lebih dekat. Karena sedikit tinggi, Irene menjinjit dua kakinya, bibir merah mudanya hampir saja menyentuh bibir si lelaki Byun namun tujuan sebenarnya bukan itu. Bibirnya melengos dari bibir Baekhyun, kemudian menghampiri cuping telinga lelaki itu untuk berbisik, “Selamat! Kau adalah penggemar pertama yang berhasil menculik diriku.”

Bagi Irene yang baru pertama kali masuk ke dalam rumah itu, rasanya aneh karena ia bisa merasakan kenyamanan yang berbeda dari yang ia dapatkan di rumahnya sendiri. Irene sudah mendengar cerita Baekhyun tentang orang tuanya yang meninggal dan kakak perempuannya yang amnesia karena sebuah kecelakaan fatal. Irene mendengarnya bak sebuah cerita dalam drama-drama namun terasa begitu nyata selama dalam perjalanan menuju rumah itu. Gadis itu seolah langsung dibawa ke dalam suasana yang begitu menyedihkan hingga tak sanggup menahan tetes airmatanya sendiri.

“Ini…” Baekhyun membukakan pintu kamar sang kakak tercinta. “Ini kamar kakakku, Byun Joohyun. Kalau kau mau, kau boleh menempatinya.”

Gadis bersurai pirang itu memberanikan diri untuk melangkah masuk ke kamar serba bernuansa merah muda yang sama seperti kamarnya. Tak ada foto kakak Baekhyun di sana, yang ada hanyalah tempat tidur besar dengan lemari pakaian, meja belajar, dan segala pernak-pernik khas anak perempuan yang semuanya serba merah muda.

“Kenapa aku dan kakakmu bisa memiliki banyak kesamaan ya? aku juga suka merah muda, aku suka-”

“Negeri dongeng, peri, tinker bell. Kau selalu suka menjadi pusat perhatian. Menjadi model terkenal adalah impianmu sejak kecil. Kau paling tidak suka jika keinginanmu tak terpenuhi. Kau selalu bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan, tak peduli bagaimanapun caranya.”

Irene terperangah mendengar ucapan Baekhyun yang baru saja memotong kata-katanya. Semua yang disebutkan Baekhyun tadi… itu benar, terlalu benar bahkan untuk seseorang yang menyebut dirinya sebagai penggemar berat. Irene tak pernah membahas minatnya pada negeri dongeng di saat momen wawancara apapun, bahkan ia sendiri berani menjamin kekasihnya pun tidak akan tahu hal itu jika tidak menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya.

“Apa kau penganut ilmu hitam?”

“Apa?”

Irene menggeleng sambil tertawa malu, berharap bisa menarik pertanyaannya kembali yang tadi sempat keluar begitu saja dari mulutnya dengan sekonyong-konyong. “Lupakan!”

“Tuan Byun, kau tidak sopan sekali,” lanjut Irene, membuka percakapan baru. “Bukankah seharusnya kau menawarkan tamu istimewamu ini makan malam?”

♥♥♥

Seperti yang dikatakan Irene tadi malam, ia harus lekas pergi pagi-pagi sekali karena masih banyak pekerjaan yang menantinya. Meskipun terasa begitu singkat, waktu yang dihabiskannya bersama Byun Baekhyun telah berhasil membuatnya melupakan segala permasalahan yang seharusnya ia bagi dengan Oh Sehun. Kini ia bisa menghirup udara sedikit lebih nyaman tanpa rasa sesak yang begitu menumpuk seperti sebelum-sebelumnya. Baekhyun dan rumahnya benar-benar ajaib, tak sia-sia gadis berumur 24 tahun itu masih percaya akan negeri dongeng hingga detik ini.

“Kalau kemarin kau tidak mencegahku, mungkin namaku dan nama Oh Sehun sudah ada di trending topic internet sekarang,” ujar Irene, memandang si lelaki Byun yang masih memfokuskan diri menyetir di pagi buta seperti sekarang ini demi dirinya. “Terima kasih, Tuan Byun.”

“Kenapa kau selalu memanggilku ‘Tuan Byun’? Aku belum setua itu, Bae Irene-ssi,” protes Baekhyun. Bibirnya mengerucut, bertingkah sok imut.

“Kenapa kau harus bertingkah seperti itu?” tanya Irene dengan mulut menganga tak percaya. “Kau ingin aku terlihat lebih tua, huh?”

“Kalau memang kau tak keberatan, aku ingin sekali memanggilmu ‘Nuna’,” aku Baekhyun, membawa suasana menjadi lebih serius dalam sekejap.

“Hm, ya, ya, ya.” Irene mengangguk malas. “Karena kau telah menyelamatkan hidupku dari para awak media, panggillah aku sesuka hatimu.”

Pantaskah Baekhyun merasa senang untuk hal itu? Pantaskah Byun Baekhyun merasa bahwa hari yang telah dilewatinya bersama Bae Irene merupakan anugerah sedangkan Irene saja tak pernah menyadari bahwa status mereka sama sekali bukanlah ‘orang lain’?

Jujur saja, Baekhyun lelah bersikap seperti orang lain setiap kali berjumpa dengan Bae Irene, ah, lebih tepatnya Byun Joohyun, sang kakak. Ada rasa seperti ia ingin menahan Joohyun untuk terus bersamanya di rumah peninggalan orang tua mereka, selamanya.

Drrrtt… drrtttt…

“Halo?” kalimat itu terlontar dari mulut Irene, bernada dingin. Tampaknya gadis itu malas menerima telepon yang entah datang dari siapa.

Irene-ah, apa kau sudah putus dengan Oh Sehun?

Irene menegakkan duduknya, kekesalan tersirat sudah dari ekspresi wajahnya.

Eonni! Apa kau baru saja menyumpahiku?!”

Baekhyun berpaling sekilas untuk melihat wajah gadis yang baru saja membuatnya terkejut sebelum akhirnya kembali fokus pada kemudinya. “Ada apa, Nuna?”

“Aku tidak tahu,” jawab Irene acuh tak acuh setelah mematikan sambungan telepon. “Manajerku memang selalu bisa membuatku berkeinginan untuk memecatnya.”

Ting!

Eonni Buruk Rupa membagikan sebuah artikel.

Manik Irene melebar dalam sepersekian detik, jantungnya berdebar begitu kencang setelah membaca judul sebuah artikel yang baru saja dibagikan oleh nomor kontak sang manajer.

‘Bukan Irene, artis tampan Oh Sehun ketahuan berkencan dengan wanita ini.’

BeautyPlus_20180216150132_save

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

Iklan

11 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 10”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s