AU/Alternate Universe, Chaptered, Drama, EXO Fanfiction, Family, Fantasy, Hurt/Comfort, PG-13, R, Romance, Sad

[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 11

BeautyPlus_20180118225630_save

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 401020304 | 0506070809 | 10 | [NOW] 11


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 11 ― Sebelas, Sebelas Menit ]

.

.

.

 

Ladies first,” ucap Sehun, mengulum senyumannya.

Setelah pintu kamar hotel yang dipesannya terbuka, lelaki berkulit putih susu itu mempersilakan Yena untuk melangkah masuk terlebih dahulu. Masih di hotel berbintang lima yang sama, kamar hotel yang seharusnya menjadi tempat pertemuan antara Sehun dan Irene sore hari tadi kini justru beralih fungsi menjadi tempat tinggal sementara si gadis bermanik cokelat sampai beberapa hari ke depan.

“Jadi…” Yena menggantung kalimatnya sebentar sembari mengedarkan pandangan ke seisi kamar yang baginya terlalu mewah untuk ia tinggali atas dasar kebaikan hati orang lain. “Ahjussi menyuruh Yena tinggal di sini?”

Lelaki itu mengangguk. “Kenapa? Apa kamar ini masih terlihat kurang nyaman untukmu?”

Yena spontan merespon pertanyaan Sehun dengan gelengan cepat.

“Bu-bukan begitu!”

Sehun mengangkat sebelah alisnya, seolah bertanya ‘lalu?’.

“Kenapa Ahjussi selalu bersikap baik pada Yena bahkan di saat Ahjussi belum mengetahui siapa diri Yena sebenarnya?” gadis itu melayangkan tatapan seriusnya tepat ke arah Sehun yang seketika saja memperlihatkan barisan gigi-giginya yang rapi, tertawa renyah.

“Memangnya kau siapa, Yena-ssi? Alien? Goblin? Rubah berekor sembilan?”

Gadis yang sedari tadi menginginkan jawaban serius dari Oh Sehun itu akhirnya merengut, menyerah. Paman tampan yang satu itu rupanya memiliki selera humor tersendiri hingga bisa menertawai apa yang menurut orang lain tak lucu sama sekali.

“Ya sudah, aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa, jangan pernah ragu untuk menghubungiku,” ujar Sehun. Yena yang semula sudah ingin berbaring merehatkan tubuh lelahnya seketika kembali bangkit dan menahan tangan Sehun agar tidak pergi.

Ahjussi akan pulang begitu saja meninggalkan Yena sendirian di sini?”

Yena menggembungkan pipinya, matanya sengaja dibuat berkaca-kaca demi mendapat rasa iba seorang Oh Sehun. “Tak bisakah Ahjussi bermalam di sini juga? Kamar ini masih begitu asing dan terlalu besar untuk Yena tempati sendirian.”

“Kau ini sedang mencoba menggoda imanku, ya?” tanya lelaki itu, memberi tatapan curiga penuh selidik.

“Enak saja!” Yena memukul Sehun tepat di bahu kanannya, sementara si empunya bahu hanya bisa berakting kesakitan sedetik kemudian.

“Yena ‘kan cantik, untuk apa menggoda om-om,” sambung si gadis, memberi penekanan khusus pada kata terakhirnya.

Mendengar gadis itu mengkategorikan dirinya sebagai om-om hidung belang, Sehun merasakan ada bunyi retak di hatinya. Omongan Yena terlalu pedas sampai ingin rasanya lelaki itu menyumpal mulutnya dengan satu kilogram cabai.

“Kenapa tak sekalian saja kau menyebutku kakek-kakek?” raut Sehun berubah datar, terlanjur kesal.

“Mustahil ada kakek-kakek setampan Ahjussi,” ucap Yena santai sambil berjalan menjinjit-jinjit kakinya seperti anak kecil ke arah satu-satunya tempat tidur berukuran besar di kamar itu.

Namun ternyata, ucapan santai Yena tadi tak bisa diterima Sehun secara santai juga. Lelaki tinggi itu kini masih mematung di tempatnya berdiri, dengan semburat kemerahan yang mewarnai kedua pipinya. Memalukan memang, seorang Oh Sehun di umur 21-nya malah tersipu malu oleh gombalan gadis yang belum genap berusia 19 tahun.

“Baiklah, aku akan meminta tambahan kasur satu lagi.”

“Hah? Untuk apa? Kan tempat tidurnya be-” belum sempat Yena menyudahi ucapannya, Sehun bersikap tak mau tahu dengan memotong perkataan si gadis, “Ssst! Aku tidak mau lagi mendengarmu menggoda om-om di luar sana seperti kau menggodaku malam ini! Pokoknya aku akan meminta tambahan kasur pada pihak hotel!”

“Jangan membantah lagi!”

Gadis itu tertawa puas. Rasa bahagia di hatinya tak bisa lagi tergambarkan oleh kata-kata setelah berhasil menahan Sehun untuk tidak meninggalkannya sendirian. Byun Yena jelas tidak mau masa mudanya menjadi sia-sia begitu saja kalau-kalau ia mati ketakutan karena melihat makhluk tak kasat mata seperti hantu.

Setidaknya, dengan kehadiran Oh Sehun di dekatnya, Yena bisa merasa lebih terlindungi.

♥♥♥

Ting!

Eonni Buruk Rupa membagikan sebuah artikel.

Manik Irene melebar dalam sepersekian detik, jantungnya berdebar begitu kencang setelah membaca judul sebuah artikel yang baru saja dibagikan oleh nomor kontak sang manajer.

‘Bukan Irene, artis tampan Oh Sehun ketahuan berkencan dengan wanita ini.’

BeautyPlus_20180216150132_save

Dari judulnya saja, artikel itu sudah menekankan bahwasanya Oh Sehun telah berkencan, tapi… bukan dengan dirinya. Lalu, siapa wanita sialan yang bisa dengan begitu mudah merebut posisinya?, pikir Irene.

Irene membuka kaca mobil dengan tak sabar, tanpa berpikir panjang, ia pun melempar ponselnya sendiri hingga hancur berserakan di jalanan. Sementara itu, Baekhyun hanya tersenyum menyadari sikap buruk Irene yang ternyata sama sekali tak pernah berubah. Jika sudah memendam banyak kekesalan terlalu lama, Irene akan selalu melampiaskannya dengan cara membanting benda apapun yang berada di dekat jangkauannya hingga hancur berkeping-keping.

.

.

.

[Kilas balik, Tahun 2000]

Suara klakson mobil yang telah sangat akrab di telinga anak lelaki 8 tahunan itu membuatnya spontan melangkahkan kakinya cepat, berlari ke luar rumah karena sang ayah baru saja kembali dari menjemput kakak tercintanya.

“Menyingkirlah dari jalanku!” titah sang kakak perempuan, saat merasa jalannya terhalangi. Padahal saat itu, Baekhyun membukakan pintu mobil untuk Joohyun dengan mengukir senyum yang lebar.

“Nuna kenapa?” tanya Baekhyun sambil mengejar langkah Joohyun yang tak santai masuk ke rumah mereka.

Karena tak kunjung mendapat jawaban dari anak gadis satu itu, Baekhyun kecil menarik-narik tangan ayahnya, bertanya penuh rasa penasaran, “Appa, Nuna kenapa sih?”

“Minta maaflah pada kakakmu, Baekhyun-ah.”

“Kenapa aku harus minta maaf? Memangnya aku salah apa?” alis Baekhyun hampir beradu.

Merasa tak bersalah, anak lelaki itu pun melenggang sembarangan masuk ke kamar Joohyun tanpa tahu bahwa dirinya mungkin akan membangunkan singa yang sedang tertidur di dalam jiwa anak gadis itu.

“Yak, Byun Joohyun! Bisa kau katakan apa salahku?! Kenapa Appa menyuruhku meminta maaf padamu?!”

Joohyun membanting tubuhnya yang masih berseragam sekolah ke kasur. “Diamlah, Byun Baekhyun! Aku sedang tak ingin bicara denganmu!”

“Bagaimana bisa aku menyadari kesalahanku kalau kau saja tak mau bicara padaku?!”

Meski Joohyun tak mau meladeninya, Baekhyun tetap bersikukuh meminta penjelasan. Ia terus bercerocos hingga suara lampu tidur yang pecah karena terkena senggolan tangan Joohyun secara sengaja akhirnya mampu membuatnya bungkam seribu bahasa.

“Joohyun-ah! Ada apa ini?” tanya kedua orang tua mereka yang kemudian datang dengan raut terkejut setelah mendengar keributan di dalam kamar anak perempuan mereka.

“Kalau bukan karena kemarin kau menumpahkan jus stroberi di buku tugasku, aku tidak mungkin dipermalukan oleh guruku sendiri di depan kelas!”

“Baekhyun-ah!” sang ibu menghampiri Baekhyun yang hampir terisak dalam diam sebelum akhirnya berkata, “Minta maaflah sekarang juga.”

Baekhyun meremas ujung kaosnya sendiri, menahan tangannya agar tak terus gemetar. “Maafkan aku, Nuna. Aku janji tidak akan bercanda kelewatan lagi.”

[Kilas balik selesai]

.

.

.

“Siapa yang berani membuat Nuna-ku sangat kesal di pagi buta begini?” tanya Baekhyun lembut.

“Diamlah,” pinta Irene, frustrasi. “Aku sedang tak ingin menjawab apapun.”

Dan tentu saja, lelaki itu memilih diam, tak ingin kejadian Irene yang memarahinya di masa lalu kembali terulang untuk kesekian kali.

“Kita sudah sampai. Ini rumah Nuna, ‘kan?”

Irene berdecak-decak sembari menyipitkan mata ke arah lelaki tampan di sampingnya. “Kau memang stalker!”

“Untukmu, aku bersedia menjadi apapun,” balas Baekhyun lagi-lagi dengan suara lembut, membuat Irene harus merasakan efek samping dari pipinya yang terasa hangat tiba-tiba.

Tak tahan terus berlama-lama dalam keheningan yang aneh, Irene pun mengajak si penggemar beruntung itu untuk singgah di rumahnya barang sebentar saja sebelum kembali pulang. 

Baekhyun akui kalau dirinya memang pantas mendapat julukan stalker. Bagaimana tidak? Ia bahkan sudah tahu letak kediaman baru Irene bersama orang tua palsunya sejak pertama kali gadis itu muncul di televisi sebagai orang lain.

“Ah, Baekhyun-ssi, ini kedua orang tuaku.”

Lelaki itu berdiri dari posisi duduknya semula di sofa ruang tamu Irene. Pasangan paruh baya yang saat ini ada di hadapannya dengan masih memakai setelan piyama kotak-kotak berwarna cokelat itu, Baekhyun sudah mengenal mereka tanpa perlu menunggu Irene angkat bicara.

Ayah Irene, seorang pria bule mantan detektif senior yang telah berkebangsaan Korea sejak lama. Sementara ibu Irene, hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sempat masuk ke rumah sakit jiwa setelah putri kandungnya meninggal dunia.

“Selamat pagi, Tuan Terrance dan Nyonya Cathrine Bae,” sapa Baekhyun, sopan.

“Kau sudah tahu nama kami rupanya?” sepasang suami istri itu menunjukkan reaksi yang juga sudah dapat Baekhyun duga. Mereka… terkejut.

“Dia ini memang penggemar sejatiku, Appa! Kurasa, warna pakaian dalam yang sering kupakai pun dia tahu!” celoteh Irene yang langsung mendapat hadiah cubitan hangat dari sang ibu.

Di tengah kehangatan keluarga Bae, Baekhyun tertawa kaku.

“Terima kasih sudah merawat gadis pujaanku hingga bisa tumbuh secantik ini.”

♥♥♥

Tatapan Sehun masih tertuju ke layar ponselnya. Sesaat setelah ponselnya tersebut dinon-aktifkan dari mode pesawat, Sehun dihujani ribuan notifikasi. Entah itu berbentuk pesan di aplikasi percakapan, pun ribuan komentar di akun media sosial pribadinya tak luput ikut mempeningkan seisi kepalanya.

‘Aku bersyukur kalau dia tak berkencan dengan Irene’

‘Artikel berita macam apa ini?! Sehun yang berkencan, kenapa Irene yang tidak ada sangkut-pautnya harus disebut juga dalam judul?’

‘Sehun! Jika artikel ini benar, aku akan sangat mendukungmu! Cepatlah menikah dengan gadis itu!’

‘Aku juga pernah melihat rekaman video saat mereka bersama di sebuah rumah sakit! Astaga! Jangan-jangan gadis itu sudah dihamili Sehun?!’

Berita tentang dirinya yang mengencani seorang gadis telah tersebar luas di internet. Pasalnya, gadis dalam foto itu ialah Yena, bukan Irene. Gadis polos yang masih tertidur lelap itu pasti tidak tahu kalau dirinya baru saja terseret ke dalam masalah kehidupan pribadi Sehun yang selalu hangat dibicarakan oleh banyak orang.

Sebuah panggilan dari sang manajer mengharuskan Sehun untuk menghela napasnya kasar, sebelum akhirnya menjawab, “Halo?”

Hei, Oh Sehun! Sialan sekali kau baru mengangkat teleponku! Kau sudah membaca beritanya, ‘kan? Aku…

Manajer memintanya untuk membahas skandal tersebut. Entah sudah tak terhitung lagi banyaknya Sehun menghardik kebodohannya sendiri yang bisa begitu sembrono saat berkeliaran bersama Yena. Benar ada atau tidaknya perasaan lelaki itu untuk Yena, karier keartisan yang sudah susah payah ia bangun dari nol hingga sampai di titik ini, dirasa jauh lebih penting.

♥♥♥

“Kita mau ke mana, Ahjussi?”

Sekitar sepuluh menit sudah Yena duduk di sebelah Sehun yang sejak tadi tampak serius mengemudikan mobilnya. Air muka Sehun benar-benar kusut sejak pagi tanpa Yena ketahui apa sebabnya. Pun Sehun seperti tak mengijinkan Yena untuk bertanya kenapa.

“Aku harus membeli sesuatu untuk menyogok manajerku,” jawab Sehun tanpa berpaling sedikitpun ke arah Yena.

Jawaban Sehun itu kemudian hanya dibalas anggukan hampa Yena. Yena tidak tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya hingga sang paman berkaki panjang tiba-tiba berubah sikap menjadi sedingin ini.

Sehun memarkirkan mobilnya tepat di lahan parkir sebuah toko jam bermerek terkenal. Lelaki tinggi itu berjalan cepat, masuk ke dalam toko tersebut dengan setelan hitam serba tertutup sedang Yena dibiarkan mengekor di belakangnya.

Yena ikut mendampingi Sehun dalam menentukan arloji mana yang cocok untuk diberikan Sehun pada pria berusia sedikit lebih tua darinya itu. Namun entah kenapa, suara decakan dari sekian banyak jarum jam di toko tersebut seketika memenuhi sistem pendengaran Yena hingga membuat gadis itu merasa fungsi jantungnya tak bekerja dengan baik.

Sesak. Keringat dingin bahkan telah bercucuran di pelipis Yena tanpa si lelaki sadari. Yena memukul dadanya sendiri berkali-kali, berharap jantungnya bisa kembali berfungsi secara normal seperti sedia kala.

.

.

11:09 AM

.

.

BRUK!

Yena yang sudah tak mampu lagi menahan bobot tubuhnya lebih lama seketika ambruk.

“YENA-SSI!”

.

.

11:10 AM

.

.

Seluruh dunia Yena berputar. Cairan kental berwarna merah keluar begitu saja dari kedua lubang hidungnya. Gadis itu masih bisa sedikit banyak mendengar suara serta merasakan dekapan Sehun yang sangat mengkhawatirkannya. Tapi anehnya, ia juga dapat mendengar suara familiar dari seseorang yang ternyata selalu menunggunya di masa depan.

“Chanyeol-ah… Park Chanyeol…” Yena terus meracau memanggil nama lelaki itu; lelaki yang dengan setia menunggunya untuk kembali.

.

.

11:11 AM

.

.

“Yena-ya… cepatlah buka matamu. Kumohon,” bisik Chanyeol tepat di telinga gadis yang tak kunjung mau membuka matanya. Airmata lelaki itu berlinang hingga jatuh ke pipi sang gadis yang telah terbaring di atas ranjang pesakitan berhari-hari lamanya.

Peralatan medis tercanggih pun sebenarnya sudah terpasang hampir di setiap organ vital gadis itu, namun ternyata itu saja tak cukup untuk membuat seorang Byun Yena tersadar dari tidur panjangnya.

“Jangan pernah sekalipun berpikir untuk meninggalkanku, atau aku akan benar-benar membenci dirimu!”

“Kau harus bangun sekarang juga, Byun Yena!” teriak lelaki itu, seperti orang yang kehilangan harapan. Asanya kian pupus dari hari ke hari karena dokter selalu mengatakan tak ada perkembangan yang signifikan pada kondisi sahabat tercintanya itu.

“Kumohon, Yena-ya… jangan menyerah… jangan buat mereka menyerah terhadap dirimu…”

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

Iklan

7 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 11”

  1. waaahh udah lama ga baca ff ini dan akhirnya ada eps 11.
    dan akhirnya yena balik lagi ke masa dia, kesian terjebak di masa lalu mulu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s