AU/Alternate Universe, Chaptered, Drama, EXO Fanfiction, Family, Fantasy, Hurt/Comfort, PG-13, R, Romance, Sad

[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 12

BeautyPlus_20180118225630_save

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 401020304 | 0506070809 | 10 | 11 | [NOW] 12


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 12 ― Jangan Kembali ]

.

.

.

 

11:12 AM

“Chanyeol-ah!”

Yena tersentak seiring dengan kesadarannya yang telah pulih sempurna. Matanya terbasahi oleh kristal bening, sedang tubuhnya terasa begitu lelah. Ia sadar telah memanggil Park Chanyeol, namun sosok yang ada di depan kedua matanya bukanlah lelaki itu. Hanya ada Oh Sehun, dan beberapa pegawai toko di sekelilingnya yang juga tampak mengkhawatirkannya.

“Nona baik-baik saja? Ambulans sedang dalam perjalanan menuju kemari,” ujar salah seorang pegawai perempuan.

Untungnya saat Yena kolaps dan mimisan, toko jam itu sedang tak ramai pengunjung sehingga tak begitu menjadi tontonan yang menghebohkan.

Netra Yena bertemu dengan tatapan menyedihkan dari lelaki yang detik ini masih mendekapnya. Ada kekhawatiran terpancar sangat jelas dari kedua manik hazel Oh Sehun yang membuat Yena pun tak kuasa meloloskan airmatanya lagi.

“Yena takut, Ahjussi! Yena benar-benar takut,” lirih Yena tersedu-sedu, sesaat setelah dirinya memeluk tubuh Sehun erat-erat.

“Jangan pernah berkata kalau kau takut,” ucap Sehun. Lelaki itu menghela napas sebelum akhirnya kembali menyambung ucapannya, “karena tak ada yang lebih menakutkan dari ketakutanku kehilanganmu.”

“Apa yang harus Yena lakukan? Yena tidak ingin kembali…”

“Kalau begitu, jangan… jangan pernah kembali,” balas lelaki itu seolah tahu akan maksud ucapan si gadis yang masih menangis di pelukannya.

♥♥♥

‘Bukan Irene, artis tampan Oh Sehun ketahuan berkencan dengan wanita ini.’

Artikel terkait Irene itu menarik perhatian Byun Baekhyun untuk terus menatap ke layar laptopnya. Mungkin itulah yang menjadi alasan sang kakak tampak begitu kesal pagi tadi sampai-sampai harus membuang ponselnya sendiri. Oh Sehun, lelaki yang sering digosipkan memiliki hubungan spesial dengan kakaknya kini telah terbukti menyangkal itu semua lewat skandal kencan bersama wanita lain.

“Teruslah bersama gadis itu, Oh Sehun. Dengan begitu, aku takkan membencimu,” ucap Baekhyun bersamaan dengan jari-jarinya yang menari di atas papan keyboard, mengetik komentar yang sama dengan yang diucapkannya.

“Jangan ganggu kehidupan kakakku lagi,” gumamnya, bernapas lega.

Tak berselang lama setelah Baekhyun bersandar pada kursi yang ia duduki dan menghirup udara penuh ketenangan, bayangan wajah Yena melintas di benaknya. Rumah besar yang ia tinggali kini harus terasa sepi lagi tanpa kehadiran gadis itu. Kemarin, ia sendirilah yang menyuruh Yena agar tak muncul di kehidupannya lagi. Tapi kini, ia sendiri jugalah yang merindukan tawa dan senyuman gadis cantik satu itu.

Iseng, Baekhyun membuka galeri foto di ponselnya. Kemarin, jauh sebelum pertengkaran itu terjadi, Baekhyun sempat mengambil potret Yena dari jarak dekat yang membuat gadis itu sedikit kesal. Bukan kesal karena tak ingin difoto, melainkan karena menurut Yena, hidungnya akan terlihat sangat besar.

images (1)

Baekhyun terkekeh. Hidung gadis itu memang terlihat besar sekali, tapi tetap saja cantik.

“Eh?” telunjuk Baekhyun tak sengaja menggulir layar hingga foto yang ia pandangi tadi tergeser dan memperlihatkan sebuah foto imut Yena yang lainnya.

CUA-bjwXAAAblgw

“Bisa-bisanya dia meninggalkan foto seimut ini tanpa sepengetahuanku.”

Baekhyun suka Yena. Maksudnya, kepribadian Yena yang unik, Baekhyun suka itu. Baekhyun suka saat jantung Yena berdebar sangat kencang untuknya. Baekhyun menyukai dirinya yang salah tingkah setiap kali terlibat kontak mata dengan gadis berparas lembut itu. Intinya, kembali ke kalimat pertama. Baekhyun suka Yena.

“Aku tak seharusnya berkata sekasar itu,” sesal Baekhyun ketika mengingat setiap perkataan kasarnya kemarin.

Lelaki bermarga Byun itu kembali memfokuskan netranya ke layar laptop, hendak mencari titik keberadaan ponsel milik Yena yang telah ia tempeli sebuah alat pelacak berbentuk chip yang sangat kecil. Dan tentu, hal itu dilakukannya tanpa sepengetahuan si gadis pemilik ponsel.

Namun, maksud hati ingin membuka jendela baru, fokusnya malah lebih dulu tertuju pada wajah gadis di foto artikel yang baru ia baca sebelumnya.

BeautyPlus_20180216150132_save

“Yena?”

Perasaan berbeda kemudian menyelimuti Byun Baekhyun. Jika sebelumnya, ia bisa bernapas lega melihat kabar berita Oh Sehun yang mengencani wanita lain selain Irene, kini, rasa itu telah sepenuhnya berubah. Ya, berubah. Jika gadis di foto itu memang Yena, Baekhyun pun tak akan bisa menerimanya begitu saja.

Baekhyun mencari kembali komentar yang baru belasan menit lalu ia kirimkan.

‘Teruslah bersama gadis itu, Oh Sehun. Dengan begitu, aku takkan membencimu.’

Tanpa berpikir dua kali, ia mengklik ikon tong sampah untuk menghapus komentarnya tersebut.

♥♥♥

“Kekasihmu cantik juga,” puji manajer Sehun saat pertama kali Sehun memperkenalkan sosok Yena di ruangan CEO agensinya.

“Yena bukan kekasih Ahjussi kok!” bantah Yena yang malah mengundang tawa dua dari tiga pria di ruangan itu, terkecuali Oh Sehun.

Berkebalikan dari dua pria terhormat di hadapannya, Sehun memberikan tatapan dingin, tak bersahabat. Lelaki tinggi itu seperti telah siap menerima cercaan dari seorang pria paruh baya yang menjabat CEO di agensi besar tempatnya bernaung.

“Kami memang tidak pernah berkencan, para paparazi itu hanya bisa mengambil kesimpulan secara sepihak,” terang Sehun.

Pria sedikit gemuk yang sedari tadi duduk santai bertumpang kaki di sofa kemudian merespon pengakuan Sehun dengan tawa ringan. “Kalau begitu, berkencanlah mulai sekarang.”

“Apa?”

Reaksi Sehun sebenarnya sangatlah klise. Tapi, ia harus akui bahwasanya ia memang terkejut akan beberapa patah kata yang baru saja diucapkan sang CEO. Ucapan CEO agensinya itu sangat berbanding terbalik 180 derajat dari terakhir kali Sehun mengakui hubungannya dengan Irene setahun lalu.

“Kau tahu sendiri ‘kan betapa para penggemar Irene membenci dirimu?”

Percakapan di antara mereka mulai terasa begitu serius. Yena dan manajer Sehun yang tak mau turut ikut campur lantas hanya menutup mulut mereka rapat-rapat.

“Aku tahu alasanmu tetap menjalin hubungan dengan Irene hanya untuk meningkatkan popularitas, bukan? Tapi coba kau pikir ulang alasan itu, kepopuleranmu tidak akan berarti apa-apa kalau para pembencimu nyatanya lebih banyak dari penggemarmu sendiri,” jelas pria paruh baya tersebut.

“Kau sudah melihat respon netizen atas terbitnya artikel kencanmu?”

Sehun mengangguk, mengiyakan.

“Banyak dari mereka yang mendukung hubungan kalian. Manajermu bahkan hafal betul kalau banyak dari akun yang sebelumnya mengaku sebagai pembencimu sekarang beralih menjadi penggemarmu setelah terbitnya artikel itu,” sambungnya. Pria paruh baya itu lantas memberikan instruksi pada manajer Sehun yang dengan sigap langsung memperlihatkan jajaran topik terkini yang paling hangat dibicarakan di internet melalui tabletnya.

“Namamu sudah menjadi trending topic di semua media sosial dan mesin pencari,” ujar sang manajer.

“Kau lebih suka yang mana? Sangat populer dengan banyak antifans, atau tetap populer dengan banyak loyalfans?” tawar CEO-nya, memberikan kesempatan pada Oh Sehun untuk memilih.

Sejujurnya, tak ada alasan bagi Sehun untuk bimbang. CEO agensi yang dulu lebih sering memberinya umpatan, kini telah berpihak sepenuhnya padanya. Mencintai Yena? Itu jelas bukan suatu ide yang buruk. Meski berkali-kali sempat ingin mengabaikan perasaannya sendiri, Sehun tak dapat memungkiri, Yena-lah yang selalu memenuhi seluruh dunianya.

“Yena tak mengerti maksud pembahasan kalian tadi,” tutur Yena.

Saat ini, dua insan yang baru terlibat dalam sebuah skandal percintaan itu tengah berjalan di koridor gedung. Sehun memilih untuk menunda keputusannya sampai hari esok, sebagai penentu langkah apa yang selanjutnya akan agensinya ambil mengenai artikel yang telah beredar; mengkonfirmasi hubungan mereka atau membantahnya.

“Kenapa Yena harus berpacaran dengan Ahjussi?”

“Irene-ah…”

Yena mengalihkan pandangan pada sosok sang ibu yang baru saja datang bersama seorang gadis yang tampak lebih tua. Mungkin manajernya, pikir Yena.

Eomma…”

Irene spontan mengernyitkan dahi saat mendengar kalimat panggilan berbentuk gumaman dari mulut gadis yang tak lagi terlihat asing di samping Sehun.

“Apa kau bilang?”

Setelah sedikit banyak mendengar pertanyaan polos Yena pada Sehun, Irene harus menelan pil pahit bulat-bulat bahwa dirinya yang masih suci kini telah mendapat panggilan ‘ibu’ dari gadis yang bahkan baru ia temui untuk kedua kali.

“Ye-Yena tidak bilang apa-apa kok!” bohong Yena, gemetaran setengah mati.

“Irene-ah, kau pasti sudah membaca berita itu,” ucap Sehun yang seketika dapat mengalihkan fokus si gadis pirang.

Tatapan tajam Irene tertuju pada satu arah, ekspresinya tampak tak percaya bercampur kecewa. “‘Irene’? Kau sungguh mau mulai memanggil namaku bahkan saat tak ada kamera yang sedang merekam kita?”

Oppa!” vokal lantang Irene terdengar ke seisi penjuru koridor, matanya berkaca-kaca. “Kalau kau memang ingin hubungan percintaanmu terbongkar, kenapa bukan bersamaku?! Kenapa kau malah membiarkan gadis ini merebut posisiku, hah?!”

“Tenang, Irene-ah! Suara kerasmu bisa mengganggu orang lain!” ucap manajer Irene, mengingatkan.

“PERSETAN DENGAN ORANG LAIN!” sergah Irene, airmata sudah terlanjur menetes di hadapan Oh Sehun. “Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Oppa. AKU TIDAK BISA TERUS MEMBIARKAN ORANG LAIN MENDUKUNG HUBUNGAN KALIAN DAN MELUPAKANKU!”

“AKU TAHU! AKU PAHAM PERASAANMU!” kini giliran suara Oh Sehun yang meninggi. Ia juga merasa sama frustrasinya, tapi sikap kekasihnya itu malah semakin membuat pikirannya bertambah runyam. “Tapi kumohon… tolong biarkan aku berpikir dulu apa yang terbaik untuk hubungan kita,” pinta Sehun.

Dari raut wajahnya, Yena tahu Sehun sudah lelah menghadapi masalah ini. Ibunya mencintai sang paman berkaki panjang terlalu dalam, tapi dengan cara yang juga sama salahnya. Itu semua obsesi ingin memiliki, bukan cinta.

Di depan kedua mata Yena, Irene memeluk tubuh tinggi Sehun seakan enggan melepasnya untuk orang lain. Ibunya terisak di dada bidang lelaki itu, mencoba memperlihatkan betapa rapuhnya ia jika sebentar saja kehilangan kasih sayang Sehun.

“Jangan pergi… aku membutuhkanmu,” lirih Irene dalam isakannya.

♥♥♥

“Aku akan menikahi Irene,” ucap Sehun setelah terdiam cukup lama. Uap kopi panas di depannya yang semula mengepul kini telah mendingin. 3 jam sudah Sehun habiskan bersama Yena di sebuah kafe, 5 menit untuk mengobrol dan memesan minuman, dan sisanya lelaki itu habiskan untuk berpikir keras sendirian.

“Jangan,” timpal Yena pada keputusan Sehun. Tangannya tampak menggenggam kuat-kuat cangkir susu cokelatnya yang telah habis diminum.

“Maksudmu?”

Yena menatap lurus ke arah Sehun, ada sedikit airmata menggenang di pelupuknya. “Ahjussi tidak boleh menikahi Irene.”

Sehun menyeruput kopinya yang telah dingin sebelum akhirnya berani bertanya, “Kenapa?”

“Apa kau menyukaiku?”

Netra Yena membulat sempurna, terkejut mendengar pertanyaan seperti itu keluar dari mulut seorang Oh Sehun. Tak butuh waktu lama, Yena akhirnya memberikan jawaban berupa gelengan lemah.

“Kalau kau memang tak menyukaiku, lantas kenapa kau harus melarangku menikahi kekasihku sendiri?” Sehun kembali bertanya, kali ini dengan tatapan tak percaya.

“Hanya…” Yena menggantung kata-katanya. Berat bagi Yena untuk menyampaikan alasan kuat yang ia miliki pada lelaki itu. Alasan kuat yang dimiliki Yena pasti tidak akan dianggap masuk akal bagi Sehun untuk berhenti mencintai Irene.  “Tidak bisa saja.”

Sehun berdecih sembari bangkit dari duduknya. Dilihatnya, Yena yang masih menunduk bisu, tak mampu memberi alasan apapun.

“Aku pamit.”

Melihat Sehun berlalu dari hadapannya, Yena memutuskan untuk ikut bangkit, mengejar langkah panjang lelaki tinggi itu yang baru saja melangkah keluar kafe.

“Yena mohon, Ahjussi!” teriak Yena yang seketika dapat menghentikan langkah si lelaki Oh.

Butuh beberapa sekon bagi Sehun untuk terdiam di tempatnya berdiri. Setelah sekian detik berlalu, ia memutar poros tubuhnya, menghadap Yena dan menyisakan jarak satu langkah saja.

“Kalau bukan karena kau menyukaiku, tak bisakah kau memberiku satu saja alasan mengapa aku tidak boleh menikahi Irene?”

Sehun kecewa, Yena jelas bisa menangkap kekecewaan itu dari cara Sehun menatapnya detik ini.

“Yena… Yena menyukai Ahjussi,” ucap gadis itu. “Tapi dalam arti yang berbeda.”

Detik itu juga, Sehun merasa menjadi seseorang yang begitu menyedihkan di hadapan Yena. Ingin  rasanya Sehun mencecar gadis itu dengan ribuan pertanyaan yang mengganjal di benaknya, namun airmata yang tak diharapkan untuk jatuh itu malah membasahi pipi Yena dan membuatnya seketika ikut merasa terluka.

“Yena tidak bisa membiarkan Ahjussi menikahi Eomma… kalau Ahjussi menikahi Eomma, takdir akan berubah dan Yena mungkin tidak akan pernah terlahir kembali di masa depan,” jelas Yena susah payah. Yena menangis, tak sanggup membayangkan takdirnya akan berubah menjadi seperti apa di kemudian hari kalau sang paman baik hati tetap bersikeras menikahi ibunya.

“Yena mohon, Ahjussi… berhentilah mencintai Bae Irene.”

“Kenapa… bahkan di saat kau mengatakan hal-hal di luar nalarku, aku selalu ingin mempercayaimu?”

Dari dalam sebuah mobil di seberang jalan, sedari tadi, sepasang mata seorang pemuda bersurai cokelat tampak memperhatikan dua insan yang kini tengah berpelukan di depan kafe dengan hati terpukul. Ada rasa yang tak dapat dipercaya, yang ia rasakan pada gadis di seberang sana. Terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa rasa itu bernama ‘cinta’, lalu apa?

Alat pelacak lokasi di ponselnya masih menyala, memperlihatkan titik lokasi pemilik ponsel yang dicarinya memang berada tak jauh lagi darinya.

“Bagaimana bisa… kau menerima pelukan lelaki lain seerat itu saat hatimu justru berdebar untukku?”

 

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

Iklan

16 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 12”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s