AU/Alternate Universe, Chaptered, Drama, EXO Fanfiction, Family, Fantasy, Hurt/Comfort, PG-13, R, Romance, Sad

[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 16

newele1aaaaatex1

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 401020304 | 0506070809 | 10 | 11 | 1213 | 14 | 15[NOW] 16


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 16 ― Yang Tak Berharga ]

.

.

.

 

Lagi, lelaki itu tersenyum pahit saat mendapat sebuah pesan berisi permintaan maaf Yena. Hatinya telah terlanjur terluka begitu dalam. Sesungguhnya, maaf saja tak cukup untuk menyembuhkan luka hatinya. Namun, berkebalikan dari apa yang ia rasa, Sehun tetap menyempatkan waktu untuk membalas pesan Yena tanpa menunggu lama.

Di kamar hotel inilah Sehun kini berada. Kamar yang sama, dua tempat tidur yang sama, juga langit-langit yang sama. Kamar hotel itu tidak berubah meski tanpa eksistensi Yena lagi di sana. Itu menyakitkan, menyadari semuanya terus berjalan baik-baik saja sedang jauh di dalam hati, semuanya berbanding terbalik dari kenyataan.

“Dunia tidak pernah adil kepadaku,” gumam Sehun, lirih.

.

.

.

‘Kenapa si anak baru itu bisa mendapat ranking satu?!’

‘Dia ‘kan bule, sudah pasti jago bahasa inggrislah! Tidak seperti mantan ranking satu di kelas kita’

‘Iya, kudengar, budaya sarapan orang barat yang suka makan keju dan minum susu membuat mereka bisa lebih pintar dari kita lho!’

Para siswa kelas 2-1 sedang ramai membahas kepintaran Oh Sehun, siswa yang baru pindah ke sekolah khusus laki-laki mereka dari sekolah menengah pertama ternama di luar negeri. Karena iri, bukannya memuji, mereka malah mengatakan hal-hal buruk yang belum tentu benar dilakukan Sehun selama tinggal di Amerika.

Sebagai seorang siswa baru, Sehun tak banyak memiliki teman. Satu-satunya siswa yang mau berteman baik dengannya tak lain adalah Kim Jongin, si siswa tercerdas di sekolah ―tentunya jauh sebelum Sehun datang dan merebut predikat itu.

Respon siswa lain terhadap berubahnya peraih peringkat satu di sekolah mereka membuat Jongin geram bukan kepalang. Sahabat Sehun itu merasa bahwa Sehun telah menusuknya dari belakang, memanfaatkannya selama ini demi mendapat peringkat tersebut.

“Sehun-ah,” panggil Jongin, menghampiri Sehun yang sedang duduk santai sambil mendengarkan musik melalui headphone di mejanya.

“Hei, Oh Sehun! kau tak mendengarku?!”

Jongin melepas headphone Sehun secara paksa, membuat Sehun balik menatap ke arahnya dengan tatapan tak suka.

“Kau punya masalah denganku, Kim Jongin? tak bisakah kau membuka percakapan baik-baik?”

“Tidak bisa!” tandas Jongin. “Bagaimana bisa aku bicara baik-baik pada seseorang yang telah menjatuhkanku?”

Kening Sehun mengkerut, tak mengerti arah pembicaraan siswa berkulit gelap itu. Lelaki yang berkulit lebih putih lantas memilih bangkit dari posisi duduknya yang tak lagi nyaman.

“Coba katakan apa masalahmu?”

“Kenapa kau harus lebih pintar dariku?” tanya si lelaki Kim, tatapannya terus menyasar tajam tepat ke arah Sehun. “Kenapa nilai ujian bahasa inggrismu harus jauh lebih tinggi daripada aku?”

Sehun memandang Jongin dengan tatapan tak percaya. Bila biasanya seorang sahabat selalu bahagia melihat sahabatnya bahagia, Jongin justru tak pernah melakukan itu. Setiap kali Jongin menemukan kertas ulangan Sehun bernilai lebih tinggi darinya, Jongin akan menunjukkan ketidaksukaannya dengan mendiamkan Sehun sepanjang hari. Sedangkan jika dirinya menemukan nilai Sehun lebih jelek darinya, ia akan terus menyombongkan nilainya pada Sehun seharian pula.

Sejak hari itu, Sehun menyadari… Jongin bukanlah sahabatnya.

Sepulang sekolah, seperti biasa, kedua orangtua Sehun menjemput Sehun untuk mengikuti les di sebuah tempat bimbingan belajar. Buku-buku pelajaran nan tebal telah menjadi makanan Sehun sehari-hari. Baik di Amerika ataupun di negara ini, tak ada bedanya. Orang tuanya selalu menuntutnya untuk menghabiskan waktu dengan belajar. Tak ada main-main, tak ada pergi bersama teman di hari libur. Begitulah Sehun harus hidup selama 12 tahun pendidikan formalnya.

“Abeoji… Eomma… aku mendapat ranking satu lagi,” ucap Sehun, tersenyum lebar.

“Oh begitu,” balas sang ibu singkat, sementara sang ayah tak menunjukkan ketertarikan sedikitpun pada bahan pembicaraan putranya.

“Itulah sebabnya kami mendidikmu sekeras ini, Sehun-ah. Sebab, orang bodoh takkan mampu bertahan hidup di jaman sekarang,” lanjut ibunya.

Senyuman lebar di wajah Sehun perlahan tapi pasti sirna, kalimat pujian yang diharapkannya akan keluar dari mulut ayah ibunya nyatanya tak pernah terdengar sampai ke telinganya.

.

.

.

“Sekeras apapun aku berusaha menjadi yang terbaik, takkan ada satupun orang yang mau menghargai diriku.”

Dalam hati, Sehun berjanji pada dirinya sendiri, kalau ia memang ditakdirkan untuk hidup menyedihkan, ia tidak boleh tampak menyedihkan sendirian.

♥♥♥

“Paket!”

Teriakan lengkap dengan panggilan dari bunyi bel rumah membuat Yena terpaksa meninggalkan acara televisi kesukaannya untuk sejenak menghampiri tamu yang datang.

“Dengan Nona Yena?” tanya lelaki muda berpakaian kurir, ramah.

“Ya, saya sendiri. Ada perlu apa ya?”

Yena yang saat itu merasa sedikit kegerahan lalu mencepol surai hitam panjangnya asal, tepat di depan sang kurir yang seketika melongo melihat putih mulus leher jenjang Yena. Apalagi saat ini, gadis berparas cantik itu hanya mengenakan tank top ketat berwarna putih juga hotpants berbahan denim yang tak kalah ketatnya.

“Nona, anda cantik sekali hari ini,” puji si kurir, malu-malu.

“Maaf?”

“Ah, ah… maksud saya, saya mau mengantar paket yang dikirimkan oleh Tuan Byun Baekhyun.”

Yena merasa semakin dibuat bingung dengan perkataan sang kurir paket. Jelas-jelas, Byun Baekhyun selalu berada di dekatnya seharian ini, dan pengantar paket itu bilang Byun Baekhyunlah yang mengirim paket untuknya?

“Anda pasti bercanda,” ucap Yena dengan nada bergurau. Tapi memang benar, nama pengirim yang tertulis di paket tersebut ialah Byun Baekhyun, sang ayah tercinta.

Setelah menandatangani tanda terima, gadis itu melangkahkan kaki jenjangnya cepat-cepat kembali ke ruang utama, di mana Baekhyun baru saja terlihat keluar dari kamarnya sehabis tidur siang.

“Baekhyun-ssi, ini apa? Kenapa kau harus mengirimiku paket padahal kita tinggal serumah?” cecar Yena.

“Oh? Paket itu sudah sampai?” tanya si lelaki Byun yang langsung dibalas oleh anggukan tak bersuara dari Yena. “Baguslah. Lebih cepat lebih baik.”

Melihat respon lelaki itu yang memang seperti mengiyakan kalau dirinya adalah sang pengirim paket, Yena lantas membuka paket berbentuk kotak yang tak terlalu besar itu dengan tak sabar.

Sekon berlalu, manik cokelat Yena tampak membesar sesaat. Gadis itu kemudian melayangkan tatapan tak percayanya pada sosok sang ayah yang kini terduduk di sofa dan menonton acara televisi yang sebelumnya ditontonnya.

“Kau membelikanku ponsel baru?”

Yena mengeluarkan ponsel pintar berwarna putih dari kotaknya. Yang Yena tahu, ponsel keluaran terbaru tersebut belumlah dijual secara bebas di pasaran sehingga hanya orang-orang tertentu sajalah yang bisa mendapatkannya dengan sistem pemesanan terlebih dahulu. Selain terasa sangat eksklusif, Yena juga tahu berapa nominal harganya tanpa perlu Baekhyun gembar-gemborkan.

“Kalau itu yang kau dapat, berarti itu juga yang kuberi,” jawab Baekhyun, malas mengungkit hadiah yang telah ia berikan.

“Kenapa? Aku ‘kan masih punya ponsel pemberian Oh Sehun?” tanya Yena lagi, heran. Ponsel dari Oh Sehun saja masih sangat bagus, jadi untuk apa ia mendapat ponsel baru lagi?

“Itu ‘kan pemberian Oh Sehun,” ucap Baekhyun. Lelaki itu bangkit dari posisi duduknya dan mengambil beberapa langkah untuk menghampiri Yena yang masih menatapnya bingung. “Ini pemberianku. Aku tidak mau melihatmu menyimpan nomor lain selain nomorku di ponsel ini. Gunakan ponsel merah mudamu untuk menghubunginya, dan ponsel putih ini untuk menghubungiku. Tidak sulit, ‘kan?” tuturnya, panjang lebar.

Ucapan Baekhyun itu seketika saja mampu membuat bulu kuduk Yena berdiri, merinding. Lelaki itu baru saja terang-terangan menunjukkan sikap overprotektifnya yang justru membuat Yena merasa senang entah kenapa.

“Kau overprotektif sekali rupanya, Byun Baekhyun-ssi,” timpal Yena, terkekeh.

Baekhyun berjalan ke belakang Yena. Leher jenjang gadis itu yang terekspos begitu jelas hampir saja membuatnya menggila. Wangi parfum gadis di depannya kini seolah berusaha mengalihkan konsentrasinya. Baekhyun menjajal aroma wangi di belakang leher Yena sebelum akhirnya berhenti di telinga dan berbisik seduktif, “Semoga kau suka dengan keoverprotektifanku.”

♥♥♥

Untuk pertama kalinya, Sehun mengajak Irene pergi ke luar tanpa mengenakan masker ataupun pakaian serba tertutup seperti biasanya. Irene pun heran dengan sikap Sehun yang terasa begitu berbeda sore ini. Sehun seperti tak takut berjuta pasang mata termasuk media akan melihat mereka pergi berkencan.

“Kita mau ke mana, Oppa?” tanya Irene pada Sehun yang masih memfokuskan pandangannya ke jalanan di depan.

Karena masih harus fokus menyetir, Sehun hanya berpaling sesaat untuk menjawab, “Ke tempat yang akan mengubah takdir kita.”

Mendapat jawaban seperti itu, Irene tentu tak mengerti tempat seperti apa yang kekasihnya itu maksud. Mengubah takdir? Tempat seperti apa di dunia ini yang bisa mengubah takdir mereka?

Tak berselang lama sejak percakapan singkat itu, mobil yang Sehun kemudikan akhirnya berhenti di area parkir sebuah toko perhiasan; tempat yang tak terpikirkan oleh Irene sama sekali. Sehun menggandeng tangan Irene masuk ke toko tersebut dengan senyuman yang terus mengembang.

“Sekarang, coba kau tutup matamu, ya?” pinta Sehun, memohon manja.

Irene tersenyum tertahan melihat tingkah lelaki yang lebih muda 3 tahun darinya itu. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia bisa merasa sebahagia ini bersama Sehun. Tanpa perlu disuruh dua kali, Irene pun menuruti kemauan Sehun untuk menutup matanya rapat-rapat.

Satu menit… dua menit… empat menit berlalu, tapi Irene tak juga mendapat instruksi Sehun untuk membuka mata. Kesabaran Irene hampir saja mencapai batasnya, tapi untunglah, Sehun lebih cepat peka akan hal itu.

“Setelah aku hitung sampai tiga, baru kau boleh membuka mata,” ucap Sehun selanjutnya yang langsung dapat dipahami Irene.

“Satu,”

“Dua,”

“Tiga!”

Irene membuka kedua matanya dan begitu terharu saat mendapati tangan kanan Sehun memperlihatkan sebuah kalung berliontinkan cincin kaca yang siap diisi oleh darah keduanya hari ini.

“Ini apa? Aku ‘kan tidak sedang ulang tahun, ini juga bukan hari anniversary kita,” tanya Irene masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di hidupnya itu.

Tangan kiri Sehun melingkar memeluk leher Irene, dagu tajam lelaki itu bertumpu pada pundak kanan sang gadis dengan nyamannya.

“Aku sedang melamarmu,” bisik Sehun yang seketika membuat Irene merasakan banyak kupu-kupu bertebaran di dalam perutnya. Bisikan mesra Sehun itu seolah membuat hidup Irene yang biasanya kelabu kini tampak berwarna-warni.

“Maukah kau menikah denganku, Nona Bae Irene?”

Irene tak kuasa lagi menahan airmata bahagianya. Atas pertanyaan di mana takdir masa depannya ada di dalamnya, Irene senang hati menganggukkan kepala, memberi jawaban ‘iya’, untuk menjadi pendamping seumur hidup seorang Oh Sehun yang telah ia cintai melebihi dirinya sendiri.

“Aku mencintaimu,” ucap Irene, menangis haru.

“Aku jauh lebih mencintaimu, Sayang,” balas Sehun. Lelaki itu lantas memberi kecupan hangat di punggung tangan gadis cantik yang akan segera menjadi miliknya secara sah, tak lama lagi.

♥♥♥

‘Artis tampan Oh Sehun dan model cantik Bae Irene kejutkan publik dengan umumkan rencana pernikahan.’

Kalimat pembuka highlight infotainment itulah yang tertangkap oleh telinga Byun Yena. Kabar menghebohkan itu cukup menjadi alasan di balik emosinya seorang Byun Baekhyun yang meledak-ledak. Jadi, Yena dapat menyimpulkan sendiri, telinganya tak salah dengar.

Oh Sehun, lelaki itu telah menarik kembali keputusannya yang tidak akan menikahi Irene demi Yena.

 “Halo?

Jantung Yena hampir saja loncat dari tempatnya sesaat setelah suara Oh Sehun terdengar di seberang line telepon sana.

Ahjussi! Ahjussi, bisakah Ahjussi menemui Yena sekarang juga?! Ada sesuatu yang-”

Tidak, aku tidak bisa,” tolak Sehun mentah-mentah bahkan sebelum Yena menyelesaikan ucapannya. “Ada banyak hal yang harus ku urus sekarang, jadi aku tidak bisa menemuimu. Maaf, Yena.

“Kenapa Ahjussi melakukan ini pada Yena?”

Sambungan telepon itu masih terhubung, tapi Sehun seperti membutuhkan banyak waktu untuk membalas pertanyaan Yena. Sambil meremas ponsel merah muda yang masih menempel di telinga kanannya, airmata Yena terus menetes, tak menyangka Oh Sehun akan bertindak sejauh ini.

Aku sudah merelakanmu pergi dengan pilihanmu. Sekarang, tak bisakah kau membiarkanku melanjutkan hidup dengan pilihanku sendiri? Aku sudah menghargai pilihanmu, tak bisakah kau menghargai pilihanku juga?

“Banyak yang ingin Yena tanyakan secara langsung pada Ahjussi. Jadi, Yena akan tetap menunggu Ahjussi di taman kota dekat hotel sampai Ahjussi datang,” tutur Yena, tak peduli meski kemungkinan Sehun akan menemuinya sangatlah kecil.

Aku pun tetap tidak akan datang.

“Sampai jumpa di taman, Ahjussi.”

Yena mengakhiri panggilan teleponnya. Tanpa pamit pada Baekhyun terlebih dahulu, Yena langsung bergegas pergi menumpang taksi yang telah ia pesan melalui layanan telepon setelah beberapa menit menunggu. Tanpa berlama-lama, taksi itu pun meluncur ke tempat yang Yena tuju.

Hingga malam menjelang, sosok yang Yena tunggu-tunggu di taman kota itu tak kunjung datang. Yena yang tak mengenakan pakaian hangat perlahan tapi pasti tak bisa merasakan keberadaan tangan dan kakinya. Gadis itu menggigil di bawah langit gelap berawan dan suara petir yang terus bergemuruh.

Jauh dari dalam sebuah mobil, seorang lelaki tampan tampak memandangi Yena dengan perasaan berkecamuk. Setengah hatinya ingin sekali mempertahankan ego untuk membiarkan gadis itu tetap menunggu begitu saja, namun, setengah hatinya lagi seolah ingin membawa langkah kakinya berlari, menghampiri dan memberi Yena sebuah pelukan penghangat, berkata maaf karena terlambat menemuinya.

“Dasar, gadis bodoh. Bukankah sudah kubilang kalau aku tetap tidak akan datang?”

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

Iklan

11 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 16”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s