Fluff, Oneshot, PG-13, Romance, School Life, T, Wanna One Fanfiction

[Wanna One Fanfiction] HEAVEN

Heaven1

`Heaven`

 

2018 © AYUSHAFIRAA Art & Storyline | Lee Daehwi x Kim Yoojung | Fluff | PG-15 | 3,22k words

[ Based from Afgan, Isyana, Rendy Pandugo – Heaven ]

 

Sometimes when I’m with you

I just get that feeling inside

Sometimes when I see you

I can’t take you out of my mind

.

.

.

Entah sudah yang ke berapa kali, Daehwi meneguk air liurnya sendiri. Siswa kelas 2 SMA yang masih tergolong anak ingusan itu merasa gugup bukan main saat melihat Guru Kim lah yang mengisi jam pelajaran pertama di kelasnya. Ya, Guru Kim, guru muda yang terkenal sangat cantik namun ketegasannya bisa melebihi siapapun di sekolah itu hingga banyak siswa menyebutnya si ‘singa betina’.

Daehwi terlambat beberapa menit hari ini. Guru cantik itu telah masuk ke kelasnya lebih cepat 5 detik saja darinya yang membuntut di belakang. Kini, ia berdiri di dekat pintu kelas sambil terus berusaha menyembunyikan diri.

“Masuk, tidak, masuk, tidak, masuk, tidak,” gumam Daehwi, bimbang.

Setelah menghela napas dalam-dalam, Daehwi akhirnya memutuskan… apapun yang akan menimpanya setelah melangkahkan kaki ke dalam kelas nanti, ia harus menghadapinya dengan senang hati. Toh, memang salahnya sendiri sudah begadang semalaman hanya demi mendapat poin tertinggi di permainan daring kesukaannya.

Tok! Tok!

“Selamat pagi, Bu,” sapa Daehwi, cengar-cengir menyombongkan barisan giginya yang rapi, putih, dan juga kinclong itu di hadapan 19 murid yang semuanya adalah laki-laki serta di hadapan Guru Kim yang kemudian melayangkan tatapan mematikan padanya.

“Sudah 15 menit berlalu sejak bel masuk berbunyi, Lee Daehwi,” ucap si guru cantik tanpa menerima salam Daehwi barusan. “Kau dari mana saja?”

Daehwi memelototi salah seorang temannya yang memberikan sebuah isyarat ‘memotong leher’ yang memiliki arti bahwa lelaki bermarga Lee itu akan segera mati di tangan si singa betina, Kim Yoojung.

“Kau tidak akan menjawab pertanyaanku?” tanya Yoojung, tersinggung karena Daehwi lebih mementingkan reaksi siswa lain ketimbang menjawab pertanyaannya.

“Ah, maaf, Bu! Semalam itu saya merasa kurang enak badan, jadi-”

“Tetap berdiri di sini, angkat satu kaki dan jewer kedua telingamu sampai pelajaran bahasa inggris ini berakhir,” sela guru berusia 23 tahunan itu tepat sebelum sang murid selesai memberi alasan.

“Ta-tapi, Bu-”

“Kenapa, Lee Daehwi? Kau keberatan?”

Melihat tanda-tanda Kim Yoojung yang sudah naik pitam, akhirnya siswa berwajah tampan itu memilih untuk menggeleng sebagai tanda bahwa dirinya sama sekali tak keberatan melakukan hukuman yang diperintahkan sang guru.

Selama pelajaran bahasa inggris di kelasnya berlangsung, Daehwi harus rela merasakan pegal yang menyerang lutut kanannya. Seperti perintah Guru Kim, ia berdiri dengan satu kaki dan menjewer kedua daun telinganya. Namun, Daehwi yang berdiri tepat di depan kelas itu bisa memperhatikan gerak-gerik mencurigakan dari teman-teman sekelasnya. Saat ia menengok ke arah Yoojung, ia baru menyadari bahwasanya rok yang dikenakan guru muda itu terlalu pendek sehingga mengundang tatapan-tatapan nakal siswa lain. Saking pendeknya, sekali menjinjit saja, semua orang di kelas itu akan tahu warna dalaman yang Yoojung kenakan hari ini.

“Jangan!”

Yoojung terkejut mendengar vokal lantang si murid tak disiplin itu. Ia tak tahu kalau Daehwi baru saja mencegahnya memamerkan bokong di depan 20 murid laki-laki.

“Ada masalah apa lagi, Lee Daehwi?” tanya Yoojung, tapi rupanya, Daehwi tak memiliki cukup keberanian untuk membuka mulut dan berkata jujur.

Karena tak mendapat jawaban apapun, Yoojung pun memutuskan untuk tak ambil pusing dan kembali pada aktivitasnya menulis di papan tulis.

Daehwi yang semakin geram pada kelakuan teman-temannya kemudian mengambil jalan nekat yang takkan pernah terpikirkan oleh siapapun kecuali Lee Daehwi seorang.

Bruk!

“Lee Daehwi! Kau ini apa-apaan sih?!” bentak Guru Kim, emosi. Ia baru saja melihat murid yang tengah ia hukum itu secara sengaja menjatuhkan diri dan berlutut tepat di depan anggota tubuh bagian belakangnya.

Plak!

“Dasar murid kurang ajar!”

Yoojung telah salah paham. Gadis itu malah mengira Daehwi secara terang-terangan menunjukkan sikap mesum dengan memandangi bokongnya dari jarak yang begitu dekat. Aksi Daehwi pagi itu yang sebenarnya memiliki niat baik pun harus berakhir di ruang konseling.

♥♥♥

Daehwi tersenyum menatap bulan purnama di atas kepalanya. Alasan di balik senyuman itu tentu bukan karena dirinya menyukai bulan, melainkan karena dirinya menyukai sosok gadis yang telah membawanya ke dalam masalah yang cukup rumit pagi tadi.

Lelaki yang sedang berbaring di atas dipan belakang rumahnya itu tak mau terburu-buru menyebut dirinya sedang jatuh cinta. Ia bahkan belum berulang tahun ke-17, tahu apa ia tentang cinta?

Daehwi pikir, ia hanya sekedar kagum pada sosok tegas Guru Kim. Ya, walaupun tak bisa dibohongi, rasa takut itu tetap ada setiap kali tatapannya harus bertemu dengan tatapan dingin sang guru bahasa inggris.

Tadi pagi, Daehwi hanya mampir sebentar ke ruang konseling. Kenapa? Tentu saja, karena ia tidak bersalah. Ia berhasil membuktikan bahwa hampir sebagian dari jumlah total 20 murid di kelasnya menyimpan foto bokong Guru Kim hari itu di ponsel pintar mereka. Namun, karena pengakuannya pula, sang guru cantik mendapat peringatan dari kepala sekolah secara langsung. Itulah yang kemudian membuat Daehwi merasa sedikit menyesal untuk Kim Yoojung.

Daehwi menyentuh pipi kirinya. Untuk pertama kali dalam hidup Daehwi, ia baru merasakan tamparan yang begitu keras dari seorang wanita. Bukannya menyimpan dendam, lelaki itu malah tertawa kecil seperti orang gila dan berharap mendapat sentuhan tangan Yoojung lagi di pipinya suatu hari nanti.

.

.

.

Everyday from the sun rising up till the night falls

Give my all just for you cause you’re all I’m dreaming of

Nothing else I need you to do

.

.

.

“Selamat pagi, Bu,” sapa Daehwi sambil mengejar langkah Yoojung yang berjalan di depannya. Daehwi yang selalu berangkat sekolah dengan menaiki sepeda kemudian memilih untuk berjalan kaki, bersama Yoojung, sambil menuntun sepedanya.

“Pagi juga, Lee Daehwi,” balas Yoojung, tersenyum.

Daehwi yang baru pertama kali melihat Yoojung dalam mode ramah lantas mengulum senyuman bahagianya, berusaha bersikap senormal mungkin agar Yoojung tak merasa terganggu.

Lelaki itu berdeham, menyamankan tenggorokannya sebelum memulai membuka percakapan ringan dengan si guru cantik. Sepanjang jalan menuju sekolah, suasana hangat dan akrab tercipta antara keduanya; suasana yang sebelumnya bahkan tak pernah Daehwi bayangkan akan terjadi begitu saja.

Si singa betina, Kim Yoojung, tidaklah seperti apa yang dilihat oleh mata orang-orang selama ini. Yoojung memang tegas sebagai seorang guru baru, tapi sebagai wanita, Yoojung tetap memiliki sisi lembut seperti kebanyakan wanita lainnya.

“Hari ini, Ibu tidak mengajar di kelasku, ya?”

Yoojung menggeleng, senyuman ramah tetap tak hilang dari parasnya yang cantik.

“Hm, sayang sekali,” keluh Daehwi dengan bibir cemberut. “Padahal kemarin aku belum sempat belajar bahasa inggris.”

“Kalau kau mau, kau boleh kok berkunjung ke rumahku sesekali jika kau benar-benar sedang ingin memperkaya kosa kata bahasa inggrismu,” tawar Yoojung. “Pintu rumahku selalu terbuka untuk siapapun, termasuk dirimu, Lee Daehwi.”

Mendapat kesempatan emas seperti itu tentu tak akan Daehwi sia-siakan, ia semakin bersemangat mendekati guru bahasa inggrisnya itu lebih-lebih dari sebelumnya. Apalagi sang guru seolah telah memberinya sebuah lampu hijau, kalau tidak bergerak cepat, bisa-bisa lampu itu kembali berubah menjadi merah sebelum Daehwi sempat melakukan hal-hal yang ingin dilakukannya bersama sang guru tersebut.

Tak butuh waktu lama bagi Daehwi untuk bisa mengakrabkan diri dengan gadis bermarga Kim itu. Hampir 3 kali dalam seminggu, Daehwi selalu menyempatkan untuk pergi ke rumah Yoojung setelah pulang sekolah dan melancarkan modusnya. Alih-alih sebagai murid yang sedang ingin belajar bahasa inggris, Daehwi malah terlihat seperti lelaki muda yang datang untuk mengencani Yoojung. Sebelum memulai pelajaran, Daehwi selalu memiliki berjuta cara agar dirinya bisa menghabiskan waktu sedikit lebih lama bersama gadis yang terpaut usia 6 tahun lebih tua darinya itu.

“Kenapa kau lama sekali makan es krimnya? Bisa-bisa, kau pulang kemalaman, lho,” ucap Yoojung, tak sabaran.

“Maaf, Bu,” timpal Daehwi, nyengir. “Maklum, kebiasaan.”

Dalam rumah sewa sederhana itu, Yoojung sudah lama tinggal sendiri, jauh dari kedua orang tuanya yang tinggal di pedesaan. Yoojung pernah bercerita kepada Daehwi, sebulan sekali, ia akan pulang ke desa untuk bertemu orang tuanya yang sudah sangat berjasa membuatnya menjadi seorang guru walaupun hanya dari uang hasil jerih payah sebagai petani di ladang milik orang. Daehwi cukup tersentuh mendengar kisah Yoojung dan mulai merasa bahwa ia tak ada apa-apanya dibandingkan gadis cantik itu. Faktor keluarga Daehwi yang mungkin cukup berada, membuatnya sering kali bersikap malas dan hanya menghabiskan waktu di depan komputer untuk bermain permainan daring kesukaannya.

Daehwi mulai berpikir, kalau masa mudanya ia habiskan untuk berleha-leha, akan seperti apa jadinya ia di masa depan nanti?

“Nah! Sekarang, aku sudah siap untuk belajar! Ayo, kita mulai, Bu!”

.

.

.

You should know by now

That I feel so good somehow inside

Ever since day one

I knew you were the one inside

.

.

.

Di akhir bulan, Daehwi yang sudah merasa cukup dekat dengan Yoojung meminta untuk ikut ke rumah orang tua gadis itu di desa. Alasannya cukup sederhana, Daehwi bilang ia butuh menyegarkan kembali otaknya dengan suasana tenang ala pedesaan sebelum kembali masuk sekolah di hari senin nanti. Walaupun hanya libur di hari minggu, Daehwi merasa tak masalah bepergian jauh demi mengenal kehidupan Yoojung yang sebenarnya.

“Rumahnya masih jauh, Bu?” tanya Daehwi pada Yoojung. Ia rasa, bus yang mereka tumpangi sudah melaju sangat jauh dari pusat kota selama berjam-jam tapi Yoojung tak kunjung meminta sang sopir untuk berhenti.

“Sebentar lagi sampai,” jawab Yoojung. “Kenapa? Kau sudah tak nyaman, ya?” lanjut Yoojung, saat melihat wajah Daehwi basah oleh keringat karena angin yang berembus di tengah teriknya cuaca hari ini seolah tak memberi efek apapun.

Yoojung memberikan sapu tangannya pada Daehwi tanpa berkata apa-apa. Syukurlah, Daehwi tahu apa fungsi kain yang Yoojung berikan itu.

“Terima ka-”

Yoojung menarik lonceng, memberi tanda pada sang sopir bus kalau dirinya dan sang murid akan berhenti di halte pemberhentian depan.

“Ayo, Lee Daehwi! Setelah ini, kita harus berjalan kaki lagi.”

Mendengar ucapan Yoojung barusan membuat manik Daehwi melebar seketika. Kali ini, kesabarannya seperti sedang benar-benar diuji. Demi bertemu calon mertua, ia mau tak mau harus rela merasakan tubuhnya terpapar sinar matahari lebih lama.

Setelah kurang dari 10 menit Daehwi berjalan bersama Yoojung di tengah pemandangan sawah-sawah yang membentang luas di kiri kanannya, Daehwi menghela napas, putus asa.

Yoojung yang merasa ia hanya melangkah seorang diri pun berbalik badan, mendapati Daehwi yang sibuk mengelap keringat di dahi dan lehernya. Wajah Daehwi tampak kemerahan, tak tahan dengan terik matahari yang terlalu panas.

“Kenapa, Lee Daehwi? Kau lelah?”

“Tidak kok,” jawab Daehwi, sok-sokan, padahal wajahnya sudah setengah matang.

“Ini, minumlah,” titah Yoojung sembari menyodorkan sebotol air minum. “’Kan sudah kubilang, rumah orang tuaku itu sangat jauh,” sambung gadis itu, merasa menyesal melihat Daehwi kepayahan meneguk air minumnya.

♥♥♥

Daehwi larut dalam suasana hangat keluarga Kim. Setelah berjalan 15 menit lamanya, Daehwi akhirnya sampai di rumah sederhana orang tua Yoojung. Orang tua gadis itu menyambut kedatangan mereka dengan senyuman merekah di bibir. Bahkan, Daehwi yang sempat mimisan karena kepanasan pun diberi pengobatan tradisional oleh ibu Yoojung untuk menghentikan pendarahannya.

Setelah makan malam dengan lauk seadanya, tibalah waktunya bagi Yoojung dan Daehwi untuk kembali pamit. Pasalnya, besok adalah hari senin dan mereka harus masuk sekolah seperti biasa.

“Kenapa kalian tidak menginap saja sih? Ayah malah takut kalian kemalaman di jalan tanpa ada kendaraan untuk pulang,” saran ayah Yoojung.

“Bukannya saya menolak, Pak. Tapi besok saya harus masuk sekolah, saya tidak mau membolos, supaya bisa sukses seperti putri Bapak,” ucap Daehwi, diakhiri tawa khasnya sambil melirik Yoojung yang tersipu.

“Lagipula, kami masih bisa mengejar jadwal kereta terakhir kalau kami berangkat sekarang,” lanjut Daehwi.

Malam itu, akhirnya Daehwi dan Yoojung kembali ke kota dengan menumpang bus dan menaiki kereta jurusan Seoul yang terakhir. Saking kelelahan, selama perjalanan, Daehwi terlelap dalam tidur hingga tak menyadari kalau sang gadis yang sedari tadi bersamanya kini tak lagi ada di sampingnya.

Daehwi terbangun dari tidur saat kepalanya membentur dinding kereta. Baru pada saat itulah, Daehwi tersadar, Yoojung menghilang dari jangkauannya entah sejak kapan. Kereta masih melaju di tengah gelapnya malam, sedang di dalam, Daehwi mencoba mencari keberadaan Yoojung dengan tenang.

“Huft!” Setelah beberapa menit mencari, Daehwi akhirnya bisa bernapas lega juga. “Syukurlah Ibu ada di sini, aku pikir Ibu turun di stasiun lain dan meninggalkanku sendirian di kereta,” ujar Daehwi. Dilihat dari raut wajahnya pun, tersirat jelas kalau lelaki bermarga Lee itu sempat merasakan cemas.

“Aku selalu suka melihat pemandangan melalui jendela di pintu ini,” ucap Yoojung, santai. Senyumnya merekah sempurna, memandangi indahnya pemandangan di luar sana.

Rupanya, sesaat setelah Daehwi terlelap, Yoojung pergi ke pintu kereta yang tertutup di dekat gerbong ke-5. Tempat itu seperti sudah menjadi tempat kesukaan Yoojung untuk melihat setiap pemandangan yang dilewati kereta tersebut.

Hening cukup lama mengisi detik per detik yang terus bergulir. Sementara Yoojung terus tersenyum melihat pemandangan, Daehwi juga terus tersenyum… melihat Yoojung. Hatinya begitu tenang melihat paras ayu gadis itu yang penuh kedamaian.

Daehwi mendekat satu langkah ke depan Yoojung. “Ini bukanlah hari ulang tahunku, tapi hari yang telah kulalui bersamamu ini sungguh membuatku bahagia bagai di surga.”

“Tak bisakah aku memanggilmu ‘Nuna’ selagi kita berada di luar sekolah? Bisakah aku mendekatkan diriku padamu lebih dari ini?” tanya Daehwi serius.

Yoojung menatap sang murid yang lebih tinggi darinya itu sambil sedikit mendongak. Daehwi sedang tidak main-main dengan ucapannya. Ia tertawa kecil, sadar betul status mereka yang berbeda juga selisih umur di antara mereka. Andai saja, Daehwi terlahir lebih dulu ke dunia ini sebelum dirinya, pasti rasanya tidak akan sesulit ini untuk mengambil keputusan.

.

.

.

Every kiss, every touch

Makes my heart feel so fine

I’m in heaven

.

.

.

“Kalau sudah maju satu langkah, jangan mundur lagi,” ucap Yoojung, lembut.

“Aku tidak ingin mundur lagi,” balas Daehwi tak kalah lembut. “Aku ingin mencium bibirmu. Kalau kau tak suka, kau boleh menghindar dan melupakannya.”

Jantung Yoojung berdegup kencang kala wajah Daehwi semakin bergerak mendekati wajahnya. Jari jemarinya meremas ujung rok yang ia kenakan tepat saat bibir tebal Daehwi menepi di bibirnya. Rasanya lembut dan basah. Yoojung sangat suka sentuhan bibir Daehwi tanpa ada sedikitpun niatan untuk menghindar dan melupakan ciuman pertama dalam hidupnya itu.

Ketika bibir mereka tak lagi saling bertaut, Daehwi menatap manik Yoojung dalam-dalam sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, “Kenapa kau tidak menghindar, Nuna?”

“Kalau aku menghindar, aku takut tak bisa tidur karena terus menyesalinya,” jawab si gadis bermarga Kim, menuai senyuman lebar terukir di bibir Lee Daehwi.

“Haruskah aku mencium Nuna lagi agar tidur Nuna nanti semakin nyenyak?”

Yoojung tertawa renyah mendengar pertanyaan terakhir Daehwi di malam itu yang terdengar sangat menggelikan di telinganya. “Kalau kau sudah pintar bahasa inggris, baru kau boleh menciumku lagi, Lee Daehwi.”

I wanna feel your soft kiss, can you give me a kiss on my lips for the second time?

Daehwi baru saja sukses mencuri hati seorang Kim Yoojung. Bagaimana tidak? Kemampuan bahasa inggris Daehwi ternyata sudah melebihi ekspektasi Yoojung terhadapnya. Kalau Daehwi sudah bisa bicara bahasa inggris selancar itu, waktu yang Yoojung berikan untuk mengajari Daehwi selama ini itu… untuk apa?

“Kau terkejut, Bu Guru?”

Daehwi lagi-lagi mendekatkan wajahnya pada Yoojung, membuat Yoojung spontan memejamkan kedua matanya. Lelaki nakal itu terkekeh sebelum akhirnya mengecup pipi sang guru bahasa inggris secepat kilat.

I just want to spend my time more with you, all day… and, all night, maybe?

.

.

.

Come over baby, just lay here with me

You know that I’ll be the first thing you see

Cause you’re the reason I breathe easily

.

.

.

Percayalah, Lee Daehwi sudah benar-benar seperti orang gila sekarang. Seharian ini, ia hanya terduduk di bangkunya sambil bertopang dagu, senyam-senyum sendiri, bahkan sesekali tertawa kecil hingga membuat teman-temannya yang lain merasa ngeri berada di dekatnya.

Alasan dibalik kebahagiaan Daehwi hari ini tak lain adalah karena ia terus mengingat kejadian semalam di gerbong kereta nomor 5 sepulangnya ia dari rumah orang tua Guru Kim. Lagi, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia berani mencium seorang wanita selain ibunya yang tersayang. Kali ini, bukan menyalurkan rasa sayang saja, melainkan juga rasa cinta; rasa yang lebih dari sekedar sayang.

“Hei, Daehwi! Kau diminta Guru Kim untuk segera menemuinya di ruang guru,” ujar salah seorang teman Daehwi.

Mendengar informasi tersebut, Daehwi buru-buru mengambil langkah secepat yang ia bisa. Murid laki-laki itu bahkan sempat-sempatnya hampir terjatuh karena tersandung beberapa kali. Mungkin, ia kadung terlalu gembira untuk menemui gadis yang dicintainya untuk pertama kali setelah malam tadi terlewati begitu saja.

“Selamat siang, Bu-”

Langkah Daehwi terhenti tepat setelah ia membuka pintu ruang guru. Sapaannya terputus, tenggorokannya tercekat bersamaan dengan bibirnya yang tak lagi tersenyum. Yoojung ―ah tidak, maksud Daehwi, Guru Kim. Guru cantik itu kini tengah duduk berduaan dengan seorang pengajar bahasa inggris kelas 3 yang juga tampak memberi elusan lembut di tangan kirinya.

“Ah, Lee Daehwi, kau sudah datang,” ucap Yoojung yang kemudian bangkit dari duduknya. Yoojung tersenyum menyadari kehadiran Daehwi, namun melihat Daehwi dengan raut kecewa ternyata menyakitkan hati Yoojung juga.

“Terima kasih, Guru Hwang.”

Yoojung membungkuk, berterima kasih pada Hwang Minhyun secara sopan. Mengerti akan keadaan yang mulai terasa aneh, guru tampan itu pun memilih menjauh dan menyibukkan dirinya sendiri.

“Lee Daehwi-”

Netra Yoojung membulat, tak percaya Daehwi akan menepis sentuhan tangannya yang menyentuh bahu lelaki muda itu.

“Ibu memanggilku kemari untuk melihat semuanya? Begitu?” tanya Daehwi, tatapan tajamnya terus melirik ke arah Guru Hwang yang sedang pura-pura sibuk.

“Kembalilah ke kelasmu, Lee Daehwi. Aku tak mau bicara pada orang yang sedang tak bisa berpikir jernih,” titah Yoojung, menghela napasnya berat.

Daehwi mengangguk. “Baiklah.”

♥♥♥

“Eh?” Yoojung sedikit terkejut saat melihat Daehwi datang ke rumahnya malam-malam sambil menuntun sepeda. Tak ada senyum di bibir Daehwi. Bibir tebal yang pernah mengecupnya itu malah terlihat melengkung ke bawah, sedih.

“Ada apa, Daehwi?” tanya Yoojung, khawatir. Pastinya, ada sesuatu yang amat mendesak lelaki itu hingga berani keluar rumah hanya untuk menemuinya di pukul 1 malam ini.

Lelaki itu mengusap matanya sendiri berkali-kali demi menahan rasa kantuk.

“Aku sudah mencoba melupakan kejadian di ruang guru tadi siang, tapi rasanya sia-sia saja. Aku terus memikirkannya sampai-sampai aku tidak bisa tidur dengan tenang,” tutur Daehwi, sedikit mengeluh manja.

Yoojung mengangguk, mengerti. Gadis itu lantas menarik Daehwi yang sudah sangat mengantuk untuk masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan sepeda Daehwi tergeletak di luar begitu saja.

Di dalam kamar, si gadis Kim membiarkan murid ―atau yang sekarang sudah boleh disebut sebagai kekasihnya itu, berbaring di atas ranjang kecilnya. Saat hendak meninggalkan kamar, Daehwi menahan tangannya untuk tidak pergi.

“Aku akan mimpi indah kalau kau tidur di sini bersamaku, Nona Kim,” pinta Daehwi seperti anak kecil yang takut ditinggal tidur sendirian.

“Tapi ranjangku kecil, Daehwi.”

Lelaki itu semakin menunjukkan sikap manjanya dengan menggelengkan kepala sambil cemberut. “Kita bisa berbagi tempat, kok.”

Tak tahan lagi melihat imutnya sang kekasih, Yoojung pun akhirnya menyanggupi. Gadis itu membaringkan tubuhnya di sebelah Daehwi dan membiarkan Daehwi memeluk tubuhnya erat-erat agar tak ada seorangpun di antara mereka yang terjatuh dari ranjang kecil itu.

I’m not cheating on you at all. Please, do not think about it too seriously. You should trust me, that I just have one love and I’ve given it to you, Mr. Lee,” bisik Yoojung pada Daehwi. Tak peduli apakah lelakinya itu telah terlelap dalam mimpi ataupun belum.

♥♥♥

Daehwi mendengar semuanya; semua yang dibisikkan Yoojung padanya tadi malam. Gadis yang masih tertidur dalam pelukannya itu rupanya sangat mengerti akan kecemburuannya pada Guru Hwang. Gadis itu sangat memahami ketakutan Daehwi dan berusaha menanganinya dengan cara dewasa tanpa banyak menegangkan urat leher.

Kekasihnya itu sudah dewasa, dan sudah sepatutnya seorang Lee Daehwi pun berpikiran dewasa pada setiap kerikil-kerikil kecil lain yang mungkin akan mengganggu jalan hubungannya dengan sang kekasih tercinta di masa depan.

Good morning, Sweetie. Let’s wake up right now, or I will attack you with millions of kisses,” bisik Daehwi, menyeringai nakal.

Namun sepertinya, Yoojung lebih suka mendapat berjuta ciuman dari Daehwi ketimbang membuka kedua matanya untuk bangun pagi. Hehe.

.

.

.

Heaven. Fin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s